Jumat, 19 Februari 2016

260. Mukhlis



Dalam agama Islam, iman seseorang tidaklah sama, sesuai dengan kefahaman masing-masing. Bahkan ada ummat Islam itu yang nifaq; imannya hanya di bibir saja sementara hatinya menentang, fasiq artinya mengakui kebenaran ajaran Islam, tetapi dia enggan mengamalkannya, dan syirik maksudnya beriman kepada Allah tetapi dikotori oleh noda-noda yang merusak ketauhidan aqidah. Ulama membagi level iman seseorang menjadi lima yaitu muslim, mukmin, muhsin, mukhlis dan muttaqin.

Mukhlis adalah tingkatan yang keempat setelah menjalani berbagai training dalam kehidupan ini. Hidupnya ikhlas hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah sebagai apapun profesi dan prestasinya. Jabatan apapun yang dia sandang; sebagai Bupati, anggota dewan, kepala bagian atau entah jabatan lainnya, tetapi dia tidak merasa tinggi dan sombong dengan itu. Sebab dia tahu bahwa semua itu adalah titipan  yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah. Atau mungkin dia seorang yang rendah sekalipun statusnya di tengah masyarakat, dengan posisi ini sedikitpun dia tidak merasa hina.

"Ikhlas itu adalah rahasia dari semua rahasia dan Aku menempatkannya di hati hamba yang menjadi kekasih-Ku," demikian firman Allah SWT sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan hal itu, cucu Nabi Muhammad, Ja'far bin Muhammad Al-Shadiq, memberikan penjelasan bunyi surah 67 ayat 2. "Dia akan menguji siapa di antaramu yang paling baik amalnya.''

Menurut Al-Shadiq, yang dimaksud surah dan ayat tersebut bukanlah siapa yang paling 'banyak' amalnya, melainkan siapa yang paling bermutu (ahsan) dalam tindakannya. Ahsan merupakan kedekatan kepada Allah dan niat.Jelas, ahsan adalah kualitas, bukan kuantitas.Al-Shadiq lalu menambahkan, lebih sulit bertahan dalam keadaan selalu ikhlas dalam bertindak daripada melakukan tindakan itu sendiri.Keikhlasan bergantung apakah Anda menginginkan seseorang memuji atau hanya bertindak untuk Allah semata.

Begitu pentingnya niat, membuat beliau mengatakan, "Sesungguhnya niat itu lebih penting daripada tindakan itu sendiri."Ia kemudian membaca ayat ini, "Katakan setiap amal itu bergantung kepada niatnya-shakilatihi (QS 17:84), dan menambahkan, "Shakilah itu artinya niat." (Baca juga Q.S. 39:2). Kita rupanya harus berhati-hati sebab ada kalanya yang sudah beramal secara sempurna tanpa ria atau ujub pada awalnya, setelah beberapa waktu, terperosok sehingga amalnya dicemari ria.

Ayah Al-Shadiq, Muhammad Al-Bagir, mengatakan, "Bertahan dalam niat baik untuk sebuah amal lebih baik daripada amal itu sendiri." Ketika ditanya, apa maksudnya bertahan dalam niat baik, beliau menjawab, "Seseorang melakukan amal baik kepada familinya atau memberi demi mencari rida Allah. Ia mendapat ganjaran yang dicatatkan baginya. Belakangan, ia menceritakan hal itu kepada orang lain maka apa yang sudah dicatat itu dihapuskan sehingga ia tidak lagi punya catatan ganjaran amal itu. Kemudian, ketika ia kembali menyebutkan soal amal itu lagi (untuk kedua kalinya), ia dicatat sebagai melakukan ria-sementara catatan amal baiknya malah sudah tidak ada sama sekali."

Dengan demikian, ikhlas merupakan tahapan tertinggi cinta dan pengabdian kepada Allah. Menurut Abdullah Al-Ansawi, ikhlas berarti menggugurkan semua ketidakmurnian. Dan ketidakmurnian itu adalah keinginan menyenangkan diri sendiri atau orang (makhluk) lain. "Jika orang masih berada di habitat rasa suka diri, ia belumlah masuk golongan 'yang menuju kepada Allah' (musafir ilaa Allah) dan termasuk yang masih ingin langgeng di bumi (mukhalladun ilaa al-'Ardh)."[Syafiq Basri Assegaff,Hikmah: Shakilah, Republika.co.di. Tuesday, 22 March 2011 08:17 WIB].

            Amal yang dilakukan seorang mukhlis jauh dari riya’ yaitu beramal ingin dilihat orang lain dan sum’ah yaitu beramal supaya didengar orang lain. Baginya biarlah orang tidak melihat dan menyebut dirinya tetapi Allah tahu siapa dia. Allah memperingatkan kita  dalam surat Al Bayyinah agar kita jadi orang yang ikhlas dalam beragama ini. Mukhlis lebih cepat masuk syurga daripada muhsin. Lebih jauh AA Gym menyebutkan tentang ikhlas itu dalam komentarnya dibawah ini;

Ikhlas, terletak pada niat hati.Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal.Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas.Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.Bisa dipertanggungjawabkan artinya.Selebihnya terserah Allah.Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.

Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak?Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan.Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu.Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman.Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.  [Ikhlas,K.H. Abdullah Gymnastiar].

Secara sistimatis AA Gym menuliskan tentang rumus ikhlas yang harus diketahui oleh mukmin agar ibadah yang dilakukannya bernilai pahala disisi Allah;

Dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT ini, jangan sampai diabaikan perhatian kita terhadap niat di hati atas segala amal perbuatan.Benar-benar harus disertai dengan keikhlasan yang tulus.Mengapa demikian? Karena Allah SWT hanya akan menerima amal seorang hamba jika amal itu disertai ikhlas karena Allah SWT. Berikut ini rumus yang bisa kita jalankan untuk meraih keikhlasan:

1. Jangan ingin dilihat orang lain.
Seringkali ketika ada yang melihat maka ibadahnya lebih khusyuk, namun jika tidak ada maka ibadah biasa saja.Inilah salah satu penyakit riya.

2. Jangan ingin diketahui.
Bila beramal, cukuplah Allah saja yang mengetahui, orang lain tidak perlu tahu. Orang-orang tidak tertarik dengan apa yang kita ceritakan tentang pribadi kita. Buat apa segala diceritakan, lalu mau apa? Mari belajar untuk menahan diri dari amal-amal yang lebih baik dirahasiakan saja.

3. Jangan ingin dipuji.
Dipuji semangat, tidak dipuji patah semangat.Orang yang ikhlas tidak berefek ketika adanya pujian atau cacian.Suatu saat di Malaysia, ada seorang ibu rumah tangga yang tengah shalat dhuha, lalu ada telepon yang masuk, dan yang menerima anaknya. Ibu yang shalat dhuha merasa bangga disampaikan oleh anaknya bahwa ia tengah dhuha. Namun, di sore harinya, ia shalat ashar sangat telat hingga menjelang maghrib, ketika ada telepon masuk, ia pun merasa malu, karena takut dicibir orang karena telat shalat.

Allah Maha Tahu hati kita ke mana-mana, orang yang ikhlas dipuji akan merasa malu, dan ketika ada yang mencaci tidak merasa sedih, karena ia tahu caciannya masih lebih baik daripada dirinya sesungguhnya. Nafsu saja yang membuat senang pujian.Padahal pujian hanya sebatas suara.

4. Jangan ingin dihargai.
Diperlakukan istimewa bisa membuat diri lebih sengsara.Biasanya hal ini terjadi pada mereka yang memiliki jabatan yang tinggi.Padahal, sebaiknya kita tidak sibuk mencari pengakuan orang lain, namun lebih sibuk berusaha mendapatkan penerimaan terhadap kebaikan yang kita lakukan dari Allah.

Keinginan diperlakukan istimewa itu bisa menjadi ketagihan seperti narkoba.Ia tidak mau kehilangan kekuasaannya. Takut kehilangan penghormatan, maka ketika sudah pensiun, muncullah post power syindrome. Rasul saw yang sempurna ingin diperlukan biasa-biasa saja. Rasul saw masuk ke mesjid, tidak ada sahabatnya yang berdiri. Rasulullah saw saat penakulukkan kota Mekah terlihat merunduk kepala beliau, tidak merasa sudah menang, sehingga berlaku sombong. Kalau kita di kantor berlagak sombong, bisa jadi karyawan lain akan mendoakan dirinya dimutasi.

5. Jangan ingin dibalas budi
Tidak perlu kita berbuat kebaikan kemudian ingin mendapat balas budi, walau hanya ucapan terima kasih.Allah SWT pasti membalas dengan sempurna.Siapa yang menjadi jalan, itu merupakan ujian dari Allah SWT. Tidak bisa berbohong di hadapan Allah, tidak boleh tertarik dari apa pun yang ada di makhluk, mesti lillahita’ala.

Sesungguhnya barang siapa yang benar-benar murni tulus pasti tidak akan membutuhkan pengakuan atau penilaian apapun dari selain Allah SWT. Bila kita puas hanya dengan penilaian Allah SWT, niscaya akan sangat tentram hatinya.[KH Abdullah Gymnastia, Rumus Meraih Ikhlas, August 18, 2011].

Rabi’ah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan terkenal menegaskan, “Bahwa orang memang haus ikhlas ketika beramal, artinya, tidak boleh mengharapkan sesuatu balasan selain rida Allah SWT. Dalam tataran yang sangat tinggi, beribadah dengan mengharap surga dan takut neraka, hal itu tidaklah tepat.Dikatakan bahwa surga dan neraka adalah benda, ciptaan Allah.Jadi beribadah harus karena mengharap rida Allah semata-mata.”

Lalu timbul pertanyaan, kalau begitu salahkah jika kita beribadah karena mengharap surga atau takut neraka?Rabi’ah Al Adawiyah, mungkin saja bisa salah.Kalaupun hal itu dilakukan, tetap ada benarnya sepanjang kita menganggap bahwa surga dan neraka bukan tujuan hakiki dari ibadah kita, tetapi merupakan simbol dari mardhotilahi dan ghadhabillah.

Ibn Taimiyyah menyatakan hal serupa.Jika seseorang bekerja, mengharap uang (apalagi jika korupsi), maka uang dan hasil korupsi, hanyalah benda mati. Padahal dalam QS Ali Imran:139, Allah berfirman bahwa: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia…” Maka adalah menyalahi firman Allah jika sebagai khoiru ummah (mahkluk Allah yang paling mulia) “disuruh bekerja” oleh benda (uang, korupsi). Kalau seseorang itu bekerja untuk manusia (mungkin ia mendapatkan reward atau punishment), itu agak lebih baik. Tetapi, jika ia bekerja digerakkan atau diperintah oleh dirinya sendiri, seperti misalnya bekerja sambil berkorupsi, namanya mempertuhankan hawa nafsu. Lalu kalau mendapatkan uang korupsi, kemudian dia menyebut “Alhamdulillah” maka, namanya ia berkhianat kepada Allah SWT.

 Baik Rabi’ah Al Adawiyah maupun Ibn Taimiyyah, tampaknya menghendaki agar setiap muslim dalam bekerja benar-benar ikhlas karena Allah. Surga atau neraka itu merupakan akibat semata.Hal itu tidak boleh dijadikan tujuan pokok.Tujuan utamanya adalah rida Allah.

Banyak orang mengaitkan arti ikhlas dengan tidak mengharapkan sesuatu, khususnya dalam amal-amal yang tampak secara langsung berhubungan dengan agama.Selain contoh di atas, maka ceramah agama, mengajar ngaji, berkhutbah dan semacamnya dapat dijadikan rujukan.Dalam urusan di atas, orang tidak boleh mengharap imbalan, apalagi menuntut upah, terkecuali diberi.

Dalam hal demikian timbul pertanyaan, apa beda ceramah agama atau guru ngaji di masjid dengan guru agama di sekolah-sekolah? Mengapa ketika seseorang diangkat menjadi guru agama di sekolah non formal, ia boleh menuntut gaji? Bahkan seorang petinggi negara sekalipun, tidak salah menuntut tambahan gaji, sedang khatib Jumat tidak? Alasannya jelas, dalam hal ini, seseorang memang harus ikhlas menjadi khatib atau mengajar ngaji di masjid-masjid, tanpa imbalan apa pun. Jika anda menjadi penceramah di masjid atau jadi khatib Jumat, lalu menuntut bayaran, berarti anda telah menyalahi prinsip-prinsip ikhlas karena Allah.Tegasnya anda menjalankan pekerjaan dengan tidak ikhlas.Kalau mengharap upah, mestinya menjadi pengajar resmi di sekolah-sekolah Islam atau mengajar materi yang lainnya, yang gajinya jelas lebih besar. Maka jelaslah, jika anda mengajar ngaji di masjid/surau, anda tidak boleh menuntut imbalan apa pun, tetapi jika mengajar bahasa Arab di sekolah Islam, silahkan nego soal bayaran.[H Badjoeri Widagdo, Keikhlasan Spiritual, Harianpelita.com.Rabu 23 Maret 2011 | 18:22].

Menjadi seorang yang mukhlis yaitu orang yang ikhlas bukanlah urusan pribadi saja tapi seharusnya mukhlis juga menjadikan orang lain sama dengan dia artinya adalah keikhlasan kolektif atau menjadi orang-orang yang mukhlisin, tidak mukhlis bila sifat keikhlasan hanya untuk dirinya saja, dia harus pula menjadikan orang lain bisa ikhlas seperti dia, keikhlasan kolektif adalah keniscayaan karena kita hidup dalam sebuah komunitas yaitu ummat islam.

Ayat 5 surat Al-Bayyinah tidak asing bagi kita, Allah berfirman:“Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya secara lurus .” (Al-Bayyinah: 4)

Kata “umiru” dan kata “mukhlishin” pada ayat di atas menggunakan bentuk jama’, sehingga secara zhahir ayat tersebut memerintahkan terealisasikannya keikhlasan secara kolektif.

Al-Qur’an menghendaki keikhlasan terlaksana dalam komunitas orang-orang beriman, sebagaimana dalam surat al-Fatihah setiap muslim selalu mengatakan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), bukan “iyyaka a’budu wa iyyaka asta’in” (hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan).

Lebih jauh lagi bahkan tidak teralisasinya keikhlasan kolektif dalam suatu komunitas mengakibatkan bencana dan kekalahan bagi seluruh personal komunitas tersebut. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ketika mengomentari kekalahan umat Islam di perang Uhud:          Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka (orang-orang musyrik Quraisy) dengan izin-Nya, sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (yaitu terhamparnya ghanimah). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu.dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 152)

Ayat tersebut mengungkapkan bahwa ketika keikhlasan sebagian kaum mukminin tercoreng dan motivasi sudah bercampur, kekalahan dan kegagalan perjuangan adalah suatu keniscayaan.[Fahmi Islam Jiwanto, MA,Keikhlasan Kolektif, Syarat Kemenangan Dakwah, dakwatuna.com 11/5/2009 | 17 Jumadil Awal 1430 H].

Menjadi seorang yang mukhlis tidaklah mudah, banyak waktu yang dibutuhkan untuk menggembleng diri, tidak sedikit latihan ruhaniyah yang harus dilalui, awalnya memang sulit tapi akhirnya akan terbiasa sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al Gazali agar kita bisa ikhlas, berbuatlah dengan amal-amal shaleh kita, waktu ada orang banyak ataupun ketika sendiri, beramallah jika dilihat orang ataupun tidak, beribadahlah dikala menerima pujian dan disaat mendapat celaan, berikanlah sesuatu kepada orang yang tidak pernah memberi, berbuat baiklah kepada orang yang tidak pernah berbuat baik niscaya ikhlas akan terbiasa menghiasi diri kita sehingga layak menjadi seorang Mukhlis yaitu level iman yang akan diperoleh setelah menapaki tingkatan Muhsin, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14 Desember 2011.M/ 18 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar