Dalam agama Islam,
iman seseorang tidaklah sama, sesuai dengan kefahaman masing-masing. Bahkan ada
ummat Islam itu yang nifaq; imannya hanya di bibir saja sementara hatinya
menentang, fasiq artinya mengakui kebenaran ajaran Islam, tetapi dia enggan
mengamalkannya, dan syirik maksudnya beriman kepada Allah tetapi dikotori oleh
noda-noda yang merusak ketauhidan aqidah. Ulama membagi level iman seseorang
menjadi lima yaitu muslim, mukmin, muhsin, mukhlis dan muttaqin.
Mukhlis
adalah tingkatan yang keempat setelah menjalani berbagai training dalam
kehidupan ini. Hidupnya ikhlas hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah
sebagai apapun profesi dan prestasinya. Jabatan apapun yang dia sandang;
sebagai Bupati, anggota dewan, kepala bagian atau entah jabatan lainnya, tetapi
dia tidak merasa tinggi dan sombong dengan itu. Sebab dia tahu bahwa semua itu
adalah titipan yang akan diminta
pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah. Atau mungkin dia seorang yang
rendah sekalipun statusnya di tengah masyarakat, dengan posisi ini sedikitpun
dia tidak merasa hina.
"Ikhlas itu adalah rahasia dari
semua rahasia dan Aku menempatkannya di hati hamba yang menjadi
kekasih-Ku," demikian firman Allah SWT sebagaimana disabdakan Nabi
Muhammad SAW. Berkaitan dengan hal itu, cucu Nabi Muhammad, Ja'far bin Muhammad
Al-Shadiq, memberikan penjelasan bunyi surah 67 ayat 2. "Dia akan menguji
siapa di antaramu yang paling baik amalnya.''
Menurut Al-Shadiq, yang dimaksud surah
dan ayat tersebut bukanlah siapa yang paling 'banyak' amalnya, melainkan siapa
yang paling bermutu (ahsan) dalam tindakannya. Ahsan merupakan kedekatan kepada
Allah dan niat.Jelas, ahsan adalah kualitas, bukan kuantitas.Al-Shadiq lalu
menambahkan, lebih sulit bertahan dalam keadaan selalu ikhlas dalam bertindak
daripada melakukan tindakan itu sendiri.Keikhlasan bergantung apakah Anda
menginginkan seseorang memuji atau hanya bertindak untuk Allah semata.
Begitu pentingnya niat, membuat beliau
mengatakan, "Sesungguhnya niat itu lebih penting daripada tindakan itu
sendiri."Ia kemudian membaca ayat ini, "Katakan setiap amal itu
bergantung kepada niatnya-shakilatihi (QS 17:84), dan menambahkan, "Shakilah
itu artinya niat." (Baca juga Q.S. 39:2). Kita rupanya harus berhati-hati
sebab ada kalanya yang sudah beramal secara sempurna tanpa ria atau ujub pada
awalnya, setelah beberapa waktu, terperosok sehingga amalnya dicemari ria.
Ayah Al-Shadiq, Muhammad Al-Bagir,
mengatakan, "Bertahan dalam niat baik untuk sebuah amal lebih baik
daripada amal itu sendiri." Ketika ditanya, apa maksudnya bertahan dalam
niat baik, beliau menjawab, "Seseorang melakukan amal baik kepada
familinya atau memberi demi mencari rida Allah. Ia mendapat ganjaran yang
dicatatkan baginya. Belakangan, ia menceritakan hal itu kepada orang lain maka
apa yang sudah dicatat itu dihapuskan sehingga ia tidak lagi punya catatan
ganjaran amal itu. Kemudian, ketika ia kembali menyebutkan soal amal itu lagi
(untuk kedua kalinya), ia dicatat sebagai melakukan ria-sementara catatan amal
baiknya malah sudah tidak ada sama sekali."
Dengan demikian, ikhlas merupakan
tahapan tertinggi cinta dan pengabdian kepada Allah. Menurut Abdullah
Al-Ansawi, ikhlas berarti menggugurkan semua ketidakmurnian. Dan ketidakmurnian
itu adalah keinginan menyenangkan diri sendiri atau orang (makhluk) lain.
"Jika orang masih berada di habitat rasa suka diri, ia belumlah masuk
golongan 'yang menuju kepada Allah' (musafir ilaa Allah) dan termasuk yang
masih ingin langgeng di bumi (mukhalladun ilaa al-'Ardh)."[Syafiq Basri
Assegaff,Hikmah:
Shakilah, Republika.co.di.
Tuesday, 22 March 2011 08:17 WIB].
Amal yang dilakukan seorang mukhlis jauh dari riya’ yaitu
beramal ingin dilihat orang lain dan sum’ah yaitu beramal supaya didengar orang
lain. Baginya biarlah orang tidak melihat dan menyebut dirinya tetapi Allah
tahu siapa dia. Allah memperingatkan kita
dalam surat Al Bayyinah agar kita jadi orang yang ikhlas dalam beragama
ini. Mukhlis lebih cepat masuk syurga daripada muhsin. Lebih jauh AA Gym
menyebutkan tentang ikhlas itu dalam komentarnya dibawah ini;
Ikhlas, terletak pada niat hati.Luar biasa sekali pentingnya
niat ini, karena niat adalah pengikat amal.Orang-orang yang tidak pernah
memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang
waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar
menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh
lebih bermakna.
Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak
menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia
lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang
dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke
dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi
pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi
Allah.
Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada
Allah, itulah ikhlas.Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas
adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh
Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh
pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar
menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya.Bisa dipertanggungjawabkan artinya.Selebihnya terserah Allah.Kalau
ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya
kepada setiap qalbu.
Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa.
Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah
Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih,
semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong
segalanya.
Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu?
Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin.
Betapa tidak?Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan
pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal
yang tidak menyenangkan.Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi
sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata
tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.
Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah
mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari
mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara
mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau
nanti yang datang justru malah cibiran.
Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak
kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan
terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah
kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu.Kita titipkan saja di
sisi Allah yang pasti aman.Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah
berkurang pahalanya. [Ikhlas,K.H.
Abdullah Gymnastiar].
Secara sistimatis AA Gym menuliskan tentang rumus ikhlas
yang harus diketahui oleh mukmin agar ibadah yang dilakukannya bernilai pahala
disisi Allah;
Dalam upaya mendekatkan diri
kepada Allah SWT ini, jangan sampai diabaikan perhatian kita terhadap niat di
hati atas segala amal perbuatan.Benar-benar harus disertai dengan keikhlasan
yang tulus.Mengapa demikian? Karena Allah SWT hanya akan menerima amal seorang
hamba jika amal itu disertai ikhlas karena Allah SWT. Berikut ini rumus yang
bisa kita jalankan untuk meraih keikhlasan:
1. Jangan ingin dilihat orang lain.
Seringkali ketika ada yang
melihat maka ibadahnya lebih khusyuk, namun jika tidak ada maka ibadah biasa
saja.Inilah salah satu penyakit riya.
2. Jangan ingin diketahui.
Bila beramal, cukuplah Allah
saja yang mengetahui, orang lain tidak perlu tahu. Orang-orang tidak tertarik
dengan apa yang kita ceritakan tentang pribadi kita. Buat apa segala
diceritakan, lalu mau apa? Mari belajar untuk menahan diri dari amal-amal yang
lebih baik dirahasiakan saja.
3. Jangan ingin dipuji.
Dipuji semangat, tidak dipuji
patah semangat.Orang yang ikhlas tidak berefek ketika adanya pujian atau
cacian.Suatu saat di Malaysia, ada seorang ibu rumah tangga yang tengah shalat
dhuha, lalu ada telepon yang masuk, dan yang menerima anaknya. Ibu yang shalat
dhuha merasa bangga disampaikan oleh anaknya bahwa ia tengah dhuha. Namun, di
sore harinya, ia shalat ashar sangat telat hingga menjelang maghrib, ketika ada
telepon masuk, ia pun merasa malu, karena takut dicibir orang karena telat
shalat.
Allah Maha Tahu hati kita ke
mana-mana, orang yang ikhlas dipuji akan merasa malu, dan ketika ada yang
mencaci tidak merasa sedih, karena ia tahu caciannya masih lebih baik daripada
dirinya sesungguhnya. Nafsu saja yang membuat senang pujian.Padahal pujian
hanya sebatas suara.
4. Jangan ingin dihargai.
Diperlakukan istimewa bisa
membuat diri lebih sengsara.Biasanya hal ini terjadi pada mereka yang memiliki
jabatan yang tinggi.Padahal, sebaiknya kita tidak sibuk mencari pengakuan orang
lain, namun lebih sibuk berusaha mendapatkan penerimaan terhadap kebaikan yang
kita lakukan dari Allah.
Keinginan diperlakukan
istimewa itu bisa menjadi ketagihan seperti narkoba.Ia tidak mau kehilangan kekuasaannya.
Takut kehilangan penghormatan, maka ketika sudah pensiun, muncullah post
power syindrome. Rasul saw yang sempurna ingin diperlukan
biasa-biasa saja. Rasul saw masuk ke mesjid, tidak ada sahabatnya yang berdiri.
Rasulullah saw saat penakulukkan kota Mekah terlihat merunduk kepala beliau,
tidak merasa sudah menang, sehingga berlaku sombong. Kalau kita di kantor
berlagak sombong, bisa jadi karyawan lain akan mendoakan dirinya dimutasi.
5. Jangan ingin dibalas budi
Tidak perlu kita berbuat
kebaikan kemudian ingin mendapat balas budi, walau hanya ucapan terima
kasih.Allah SWT pasti membalas dengan sempurna.Siapa yang menjadi jalan, itu
merupakan ujian dari Allah SWT. Tidak bisa berbohong di hadapan Allah, tidak
boleh tertarik dari apa pun yang ada di makhluk, mesti lillahita’ala.
Sesungguhnya barang siapa yang
benar-benar murni tulus pasti tidak akan membutuhkan pengakuan atau penilaian
apapun dari selain Allah SWT. Bila kita puas hanya dengan penilaian Allah SWT,
niscaya akan sangat tentram hatinya.[KH Abdullah Gymnastia, Rumus Meraih
Ikhlas, August 18, 2011].
Rabi’ah Al
Adawiyah, seorang sufi perempuan terkenal menegaskan, “Bahwa orang memang haus
ikhlas ketika beramal, artinya, tidak boleh mengharapkan sesuatu balasan selain
rida Allah SWT. Dalam tataran yang sangat tinggi, beribadah dengan mengharap
surga dan takut neraka, hal itu tidaklah tepat.Dikatakan bahwa surga dan neraka
adalah benda, ciptaan Allah.Jadi beribadah harus karena mengharap rida Allah
semata-mata.”
Lalu
timbul pertanyaan, kalau begitu salahkah jika kita beribadah karena mengharap
surga atau takut neraka?Rabi’ah Al Adawiyah, mungkin saja bisa salah.Kalaupun
hal itu dilakukan, tetap ada benarnya sepanjang kita menganggap bahwa surga dan
neraka bukan tujuan hakiki dari ibadah kita, tetapi merupakan simbol dari
mardhotilahi dan ghadhabillah.
Ibn
Taimiyyah menyatakan hal serupa.Jika seseorang bekerja, mengharap uang (apalagi
jika korupsi), maka uang dan hasil korupsi, hanyalah benda mati. Padahal dalam
QS Ali Imran:139, Allah berfirman bahwa: “Kamu adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk umat manusia…” Maka adalah menyalahi firman Allah jika sebagai
khoiru ummah (mahkluk Allah yang paling mulia) “disuruh bekerja” oleh benda
(uang, korupsi). Kalau seseorang itu bekerja untuk manusia (mungkin ia
mendapatkan reward atau punishment), itu agak lebih baik. Tetapi, jika ia
bekerja digerakkan atau diperintah oleh dirinya sendiri, seperti misalnya
bekerja sambil berkorupsi, namanya mempertuhankan hawa nafsu. Lalu kalau
mendapatkan uang korupsi, kemudian dia menyebut “Alhamdulillah” maka, namanya
ia berkhianat kepada Allah SWT.
Baik Rabi’ah Al Adawiyah maupun Ibn Taimiyyah,
tampaknya menghendaki agar setiap muslim dalam bekerja benar-benar ikhlas
karena Allah. Surga atau neraka itu merupakan akibat semata.Hal itu tidak boleh
dijadikan tujuan pokok.Tujuan utamanya adalah rida Allah.
Banyak
orang mengaitkan arti ikhlas dengan tidak mengharapkan sesuatu, khususnya dalam
amal-amal yang tampak secara langsung berhubungan dengan agama.Selain contoh di
atas, maka ceramah agama, mengajar ngaji, berkhutbah dan semacamnya dapat
dijadikan rujukan.Dalam urusan di atas, orang tidak boleh mengharap imbalan,
apalagi menuntut upah, terkecuali diberi.
Dalam hal
demikian timbul pertanyaan, apa beda ceramah agama atau guru ngaji di masjid
dengan guru agama di sekolah-sekolah? Mengapa ketika seseorang diangkat menjadi
guru agama di sekolah non formal, ia boleh menuntut gaji? Bahkan seorang
petinggi negara sekalipun, tidak salah menuntut tambahan gaji, sedang khatib Jumat
tidak? Alasannya jelas, dalam hal ini, seseorang memang harus ikhlas menjadi
khatib atau mengajar ngaji di masjid-masjid, tanpa imbalan apa pun. Jika anda
menjadi penceramah di masjid atau jadi khatib Jumat, lalu menuntut bayaran,
berarti anda telah menyalahi prinsip-prinsip ikhlas karena Allah.Tegasnya anda
menjalankan pekerjaan dengan tidak ikhlas.Kalau mengharap upah, mestinya
menjadi pengajar resmi di sekolah-sekolah Islam atau mengajar materi yang
lainnya, yang gajinya jelas lebih besar. Maka jelaslah, jika anda mengajar
ngaji di masjid/surau, anda tidak boleh menuntut imbalan apa pun, tetapi jika
mengajar bahasa Arab di sekolah Islam, silahkan nego soal bayaran.[H Badjoeri
Widagdo, Keikhlasan Spiritual, Harianpelita.com.Rabu
23 Maret 2011 | 18:22].
Menjadi
seorang yang mukhlis yaitu orang yang ikhlas bukanlah urusan pribadi saja tapi
seharusnya mukhlis juga menjadikan orang lain sama dengan dia artinya adalah
keikhlasan kolektif atau menjadi orang-orang yang mukhlisin, tidak mukhlis bila
sifat keikhlasan hanya untuk dirinya saja, dia harus pula menjadikan orang lain
bisa ikhlas seperti dia, keikhlasan kolektif adalah keniscayaan karena kita
hidup dalam sebuah komunitas yaitu ummat islam.
Ayat 5 surat Al-Bayyinah tidak
asing bagi kita, Allah berfirman:“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya secara lurus .”
(Al-Bayyinah: 4)
Kata “umiru” dan kata
“mukhlishin” pada ayat di atas menggunakan bentuk jama’, sehingga secara zhahir
ayat tersebut memerintahkan terealisasikannya keikhlasan secara kolektif.
Al-Qur’an menghendaki
keikhlasan terlaksana dalam komunitas orang-orang beriman, sebagaimana dalam
surat al-Fatihah setiap muslim selalu mengatakan “iyyaka na’budu wa
iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami
memohon pertolongan), bukan “iyyaka a’budu wa
iyyaka asta’in” (hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku
memohon pertolongan).
Lebih jauh lagi bahkan tidak
teralisasinya keikhlasan kolektif dalam suatu komunitas mengakibatkan bencana
dan kekalahan bagi seluruh personal komunitas tersebut. Allah berfirman
dalam surat Ali Imran ketika mengomentari kekalahan umat Islam di perang Uhud: Dan Sesungguhnya Allah
telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka (orang-orang
musyrik Quraisy) dengan izin-Nya, sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih
dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan
kepadamu apa yang kamu sukai (yaitu terhamparnya ghanimah). Di antaramu ada
orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki
akhirat.Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan
sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu.dan Allah mempunyai karunia (yang
dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 152)
Ayat tersebut mengungkapkan
bahwa ketika keikhlasan sebagian kaum mukminin tercoreng dan motivasi sudah
bercampur, kekalahan dan kegagalan perjuangan adalah suatu keniscayaan.[Fahmi Islam Jiwanto, MA,Keikhlasan Kolektif, Syarat Kemenangan Dakwah, dakwatuna.com 11/5/2009
| 17 Jumadil Awal 1430 H].
Menjadi seorang yang mukhlis
tidaklah mudah, banyak waktu yang dibutuhkan untuk menggembleng diri, tidak
sedikit latihan ruhaniyah yang harus dilalui, awalnya memang sulit tapi
akhirnya akan terbiasa sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al Gazali agar
kita bisa ikhlas, berbuatlah dengan amal-amal shaleh kita, waktu ada orang
banyak ataupun ketika sendiri, beramallah jika dilihat orang ataupun tidak,
beribadahlah dikala menerima pujian dan disaat mendapat celaan, berikanlah
sesuatu kepada orang yang tidak pernah memberi, berbuat baiklah kepada orang
yang tidak pernah berbuat baik niscaya ikhlas akan terbiasa menghiasi diri kita
sehingga layak menjadi seorang Mukhlis yaitu level iman yang akan diperoleh
setelah menapaki tingkatan Muhsin, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14 Desember 2011.M/ 18 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar