Senin, 15 Februari 2016

213. Minagkabau



Ketika saya melancong ke Malaysia tahun 2009 dan 2011, banyak bertemu dengan warga asli Malaysia disana seperti di Kuantan Pahang, Kuala Lumpur dan Malaka,  mereka senang berdialoq apalagi mereka dahulu nenek moyangnya berasal dari Indonesia yaitu Pagaruyung Batu Sangkar. Saat bicara tentang Indonesia mereka tidak begitu antusias tapi mereka lebih senang ketika kita bicara tentang Minangkabau, merekapun tidak begitu mengenal Sumatera Barat apalagi Padang, yang lebih dikenal disana adalah Minangkabau dan Pagaruyung Batu Sangkar.

            Dan memang sejak zaman dahulu sudah ada hubungan kerajaan Malaysia dengan Pagaruyung di Batu Sangkar bahkan  Negeri Sembilan dan Bukit Tinggi menyebut diri dengan kesatuan Negeri Serumpun, kita juga mengenal hubungan budaya Indonesia dan Malaysia dalam acara Titian Muhibbah yang ditayangkan oleh TVRI beberapa tahun yang lalu dan ini merupakan agenda rutin setiap bulan. Orang sudah mengenal Minangkabau sejak dahulu sebelum Indonesia merdeka, hal ini karena keberadaan suku Minang yang suka merantau hingga ke pelosok negeri, tidak terkecuali Malaysia.

Suatu kebiasaan orang Minangkabau yang tidak mudah dilepaskan begitu saja yaitu merantau dalam rangka membenahi diri dengan berbagai pengalaman di daerah lain. Kebiasaan meninggalkan kampung untuk merantau guna menuntut ilmu atau untuk mencari kerja berprestasi di negeri orang untuk perbaikan hidupnya, disamping untuk pertimbangan kepentingan kampung halaman. Pandangan hidup yang demikian itu diungkapkan dalam pepatah yang berbunyi, ”Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun, satinggi tabang bangau,baliak juo ka kubangan, sanang bana hiduik di rantau, takana juo kampuang halaman”.

Ini berarti bahwa selain adanya budaya pengembangan sumber daya manusia dan usaha perbaikan kehidupannya sendiri, terkandung pula keterkaitan dan keterikatan para perantau itu untuk turut memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup sanak famili dan kampung halamannya seperti diperkuat oleh pepatah, ”Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan”. Dengan demikian peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan budaya merantau itu masih tetap dapat dipertahankan dan dikembangkan sejauh hal itu mengandung unsur manfaat bagi kehidupan dan pembangunan di kampung halaman.
            Merantau itu sudah menjadi darah daging, tidak saja sekarang malahan sejak nenek moyang kita dahulu. Kita tidak perlu terlena kalau ditengok di berbagai kota besar dan kecil di seluruh persada nusantara ini, bahkan sampai keluar negeri, pokoknya setiap sudut ada orang Minang.

Konon kabarnya, kalau orang Minang pergi merantau, bodoh atau bingungnya hanya satu minggu. Hal tersebut dapat kita buktikan, seperti di Kota Jakarta atau lainnya, banyak kita jumpai orang Minang berdagang di kaki lima, pepatah Minang juga mengatakan,”Bialah  tanduak takubang, asalkan sungu ka makan”[biarlah suara habis bersorak, asalkan perut kenyang], setelah bersorak di kaki lima agak seminggu   sampai sebulan akhirnya membuka kios, dari kios menjadi toko, bahkan sampai pedagang besar.

Tidak hanya masalah pedagang, kendatikan di rantau mereka bekerja di suatu instansi pemerintah, lama kelamaan akhirnya kembali ke daerah, ilmu yang didapat dirantau mereka terapkan di ranah minang. Berbagai faktor pendorong yang menjadi urang awak pergi merantau, disamping menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan ada juga panggilan rohani atau bakatnya untuk melanglang buana. Faktor meningkatkan nilai diri salah satunya dengan merantau, bahwa orang yang tidak pernah merantau bagi masyarakat pada umumnya dianggap rendah dan hina, disini faktor harga diri yang banyak menghanyutkan putra Minang ke rantau.

Pada saat di awal keberangkatan atau katakanlah pada saat persiapan segala sesuatunya untuk bekal di negeri  orang, maka tidak jarang pula para orangtua dan mamak di Minang memberikan petuah atau nasehatnya seperti sebait pantun ini, ”Elok-elok manyubarang, jan sampai titian patah, elok-elok di rantau urang, jan sampai babuek salah”.

Pantun di atas sarat dengan nilai adat dan agama sebagai bekal seorang calon perantau melangkahkan kakinya meninggalkan kampung halaman. Sikap berhati-hati di rantau harus dijaga jangan sampai melakukan kesalahan. Kesalahan seorang Minang di rantau sama artinya merusak nama seluruh Minangkabau,sebait pantun lain berbunyi, ”Hiu beli belanak beli, ikan panjang beli dahulu, kawan cara sanakpun cari, induk semang cari dahulu”.

Artinya sesampai di rantau seorang Minang berprinsip famili bukan satu tujuan, lebih diutamakan ialah majikan atau pekerjaan. Boleh jadi keluarga tempat menetap tapi hanya dalam waktu sementara, untuk itulah pemuda Minangkabau mau dan mampu bekerja apa saja asal jangan membebani keluarga di rantau.

Bagi seorang pemuda Minang yang mewarisi sifat perantau nenek moyangnya itu, sangat memperhatikan petuah-petuah tersebut, sehingga malam dibuat untuk bantal dan siang dibuat untuk tongkat, maksudnya segala macam nasehat baik itu akan tetap dipegang teguh pada setiap saat baik siang maupun malam hari.
Bekal lain yang diberikan orangtua atau mamak ketika melepas anak atau kemenakannya merantau adalah sebuah ungkapan manis yang padat dengan nilai-nilai yang harus dijadikan suluh dalam perjalanan yaitu,”Laut sati rantau batuah” dari ungkapan ini mengandung arti yang dalam. 

”Laut sati” adalah bahwa kadangkala daerah atau rantau yang ditempuh itu bukanlah  kota bebas, namun ada beberapa aturan atau pantangan yang harus dihindari atau batasan yang tidak boleh dilanggar. Sedangkan ”Rantau batuah” itu hampir mirip pengertiannya bahwa rantau/negeri orang itu selalu mempunyai keistimewaan buat daerahnya. Jadi antara saru daerah/negeri itu tidaklah sama adat kebiasaannya dengan daerah lainnya, sehingga kalau memasuki daerah orang, kita harus mempelajari terlebih dahulu adat kebiasaan masyarakatnya dan tidak berbuat sekehendak hati saja.

Setiap perantau yang berada jauh di negeri orang, meninggalkan sanak keluarganya dan kampung halaman,walaupun demikian warnanya sebagai orang Minang tidak akan berubah. Dimana dan kemanapun putra Minang merantau, berinteraksi dengan suku apapun dan berbaur dengan berbagai lapisan sosial masyarakat, dalam perputaran zaman dan pengaruh situasi maka warna Minang tidak pernah luntur. Seorang putra Minang boleh saja lahir di rantau, dibesarkan dan dididik di lingkungan perantauan, pun halal saja menemukan kehidupan di negeri lain, tapi orang Minang tetap Minang. Bilapun ada bangau yang tidak pulang ke kubangan dan lupa dengan asalnya, ada orang Minang yang luntur ke-Minangannya, itu sungguh suatu pengecualian, sulit mencarinya, barangkali dalam 10.000 perantau Minang hanya seorang yang warna Minangnya jadi luntur, mereka boleh dicap sosok Malin Kundang.

Sehingga wajar kalau orang Minang pada hari-hari baik, kalau ada kesempatan dan rezeki lapang berusaha pulang kampung melepas kerinduan dengan teman bermain dan tepian mandi, setelah itu kembali lagi ke  rantau merambah kehidupan.

Di rantau apapun jabatan dan pekerjaan dilakukan dengan berhati-hati tak ubahnya di kampung sendiri karena prinsip ”Dimana bumi dipijak disinan langik dijunjuang” telah melembaga sejak dahulu yang diwarisi dari tradisi nenek moyang.

Sepanjang sejarah kehidupan manusia selama itu pula akan silih berganti putra-putra Minang meninggalkan kampungnya mencari pengalaman, ilmu dan penghidupan di rantau orang. Dimanapun berada yang dianggap baik tempat menetap oleh seseorang sama saja, karena bumi Allah ini luas, lakukanlah sesuatu untuk menuju kemajuan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, entah di Solok atau di Solo, entah di Lampung atau di Kampung, entah di Merauke atau di Maroko, bukan jadi penghalang bagi orang Minang untuk berkiprah [Mukhlis Denros, Apa dan Mengapa Orang Minang Merantau, Harian Umum Singgalang Padang, 03101999].  

Ketika kita membicarakan tentang Minangkabau maka banyak keistimewaan yang dapat ditampilkan dari masyarakatnya, diantaranya adalahfalsafah, “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”, bila falsafah ini telah mengkristal, telah menyatu dalam pribadi seorang anak nagari maka insya Allah dalam bentuk apapun corak pemerintahan kita tidak jadi soal, namun sayang falsafah ini baru sekedar bahasa filosofis dan politis bahkan lebih jauh hanya sebagai lips service semata.

            Yang selama ini kita ketahui bahwa orang-orang yang terdidik oleh adat istiadat Minangkabau lebih banyak memperjuangkan dan membicarakan masalah adat saja dan dianggap Islam telah menyatu didalamnya, bagi anak nagari yang dididik oleh ajaran Syariat Islam murni merasa  prihatin dengan kondisi kita ini, adat berjalan sendiri yang dipelopori oleh ninik mamak dan pemangku adat sementara Islam sebagai agama universal juga berjalan sendiri yang dipandu oleh para ulama.

            Buya Hamka dalam bukunya, “Islam dan Adat Minangkabau” mengupas dengan jelas dan tegas bahwa adat dan syara’ berjalan berseberangan, dia hanya sebatas bahasa politis untuk meredam konflik yang berkepanjangan ketika itu antara kaum adat dan kaum agama di Minangkabau yang dikenal dengan perjanjian Bukit Muarapalam.

            Seorang sarjana tamatan Universitas Indonesia delapan tahun yang lalu diangat menjadi guru pada sebuah SMU di Sumatera Barat, sang sarjana ini di Pulau Jawa mendengar  falsafah  adat Minangkabau dengan agung dan bagusnya dia merasa senang, sebab selama di kampus sang guru bergelut dan berkutat  dengan kajian-kajian Islam, dia membayankan betapa indahnya tinggal di Sumatera Barat, kehidupan yang Islami akan dijalani bersama masyarakatnya disana. Tapi alangkah kecewanya sang guru  tadi setelah hadir di Sumatera Barat sebagai pendidik, di lingkungan sekolah saja sulit membedakan guru muslim dan non muslim, karena ciri khas muslim dan muslimah tidak nampak kecuali sedang shalat. Nilai-nilai Islam tidak tampak melekat pada dalam kehidupan sehari-hari baik dari tutur kata, pakaian ataupun tindak tanduk masyarakatnya, ironi dan menyedihkan memang antara idealita dan realita yang disaksikannya. Karena tugaslah guru tersebut mampu bertahan di Sumatera Barat.[Mukhlis Denros, Kembali Ke Nagari Sebuah Momen, Buletin Suluah Nagari Koto Baru, Edisi nomor 2/ Maret 2002].

            Sebuah canda dari teman saya orang Malaysia ketika datang ke Minangkabau dia mengatakan,” di Minangkabau tak kita temukan rumah makan Padang, tapi di Jakarta bahkan di Kuala Lumpur banyak rumah makan Padang”, kekhasan masakan Padang inilah yang membuat Minangkabau terkenal, menu khasnya yaitu Rendang Padang, semua orang suka dengan rendang termasuk bule.

Nasi goreng selalu disebut-sebut sebagai makanan khas Indonesia yang paling populer di dunia.Tetapi, siapa sangka, nasi goreng ternyata masih kalah populer dari hidangan khas Indonesia lainnya, yaitu rendang.Makanan khas Sumatera Barat ini bahkan menempati peringkat pertama dari 50 makanan yang dinilai paling lezat di dunia.

Fakta ini diperoleh setelah situs CNNGo.com merilis daftar 50 makanan terlezat di dunia (World's 50 Most Delicious Foods) pada Juli lalu, dan meminta pembaca untuk memberikan voting di Facebook. Hasil dari pemungutan suara tersebut menghasilkan 10 makanan terlezat di dunia, yang urutannya 1 adalah Rendang, Indonesia;
Makanan ini menggunakan bahan dasar santan dan daging sapi, yang direbus perlahan dengan campuran bumbu serai, lengkuas, bawang putih, kunyit, jahe, dan cabai.Setelah mendidih, apinya dikecilkan dan terus diaduk hingga santan mengental dan menjadi kering. Rendang biasa ditemukan di rumah makan Minang dan sering kali disajikan dalam acara-acara seremonial.[Rendang, Peringkat I Hidangan Terlezat di Dunia, Dini | Kompas.com.Sabtu, 10 September 2011 | 20:39 WIB].

Tidak sulit untuk mendapatkan Rendang atau "Randang" di Sumatera Barat.  Sebab makanan daging yang diolah dengan bumbu khas rempah-rempah akan hampir tersaji di seluruh restoran dan rumah makan Padang yang ada di Sumatera Barat maupun diluar Sumatera Barat. Makanan yang dinobatkan sebagai makanan terlezat di Bumi saat ini menurut versi CNN itu, merupakan makanan yang telah dikenal ratusan tahun oleh masyarakat Minangkabau Sumatera Barat.

Randang Daging merupakan makanan adat dan kebesaran bagi warga Minangkabau, sebab pada setiap kegiatan atau upacara adat di negeri Rumah Bagonjong ini wajib tersedia makanan yang namanya Randang. Konon menurut ceritanya randang sudah ada sejak ratusan tahun lalu sebagai makanan kebesaran petinggi-petinggi adat pada sukubangsa Minangkabau.

Saat ini makanan khas dari daging sapi atau kerbau itu, selain sebagai makanan yang disajikan saat upacara-upacara beradat di Minangkabau, juga menjadi makanan wajib setiap keluarga Minangkabau ketika lebaran Idulfitri, Idul Adha dan ketika akan memasuki bulan Suci Ramadhan. 

Tentunya untuk mengolah daging sapi atau kerbau menjadi Rendang butuh proses pemasakan yang khusus agar dagingnya empuk dan rasanya lezat. Meski pembuatannya sedikit rumit dibandingkan masakan-masakan lainya. Namun hampir seluruh ibu rumah tangga mengenal cara pembuatan Rendang secara turun temurun dari generasi kegenerasi. [Rendang Makanan ,Kebesaran Adat Minangkabau, Padangtoday.com.Senin, 12/09/2011 - 06:44 WIB].

Makanan khas lainnya selain rendang adalah lemang, bahkan ada waktu-waktu tertentu masyarakat membuat lemang, tradisi itu disebut dengan Malamang, kegiatan malamang ini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau yang tersebar luas pada setiap Nagari seperti di Padang Pariaman.

Tradisi malamang bagi masyarakat Padangpariaman memang sudah Menjadi tradisi sejak dulu. Hingga hari inipun tradisi yang telah berlangsung sejak zaman Syekh Burhanuddin itu masih tetap bertahan.Termasuk saat akan memasuki bulan suci Ramadhan pada tahun ini.

Secara umum, tradisi malamang di Padangpariaman tidak hanya dijumpai beberapa hari menjelang masuknya bulan Ramadhan saja, namun juga sering dijumpai pada momen momen tertentu. Seperti saat peringatan maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, begitu pula saat 27 Ramadhan atau saat acara penting lainnya seperti  memperingati dan mendoakan anggota keluarga yang meninggal dunia.

Hanya saja khusus kegiatan malamang menjelang masuknya bulan Ramadhan, itu biasa dimaksudkan untuk menjamu urang siak atau tuanku yang diundang mendoa ke rumah. Di samping untuk menjamu keluiarga atau kerabat dekat lainnya.[Malamang Jelang Ramdhan Masih Jadi Tradisi, Padangtoday.com.Sabtu, 30/07/2011 - 18:02 WIB].

Lemang dibuat dengan cara dipanggang di tungku tegak. Bahan pembuat lemang terdiri dari beras ketan, irisan bawang, santan, garam dan sesekali disisipkan potongan pisang masak.Sementara untuk alat yang digunakan adalah tungku pemanggang, ruas talang dan pucuk daun pisang.

Cara membuatnya, terlebih dahulu beras ketan dicuci dan direndam sampai semalam hingga menjadi sedikit lunak.Kemudian pagi harinya, beras ketan tersebut dikeringkan.Kemudian dicampurkan dengan saripati santan dan irisan bawang.Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke talang (bambu tipis, red) yang bagian dalamnya telah dilapisi dengan pucuk daun pisang.
Lalu dipanggang di tunggu tegak yang apinya berasal dari sabut kelapa dan kayu. Waktu pemanggangan bisa berlangsung hingga setengah hari, atau tergantung besarnya api. Satu tungku pemanggangan biasanya digunakan oleh tiga atau empat keluarga.[Malamang, Tradisi Jelang Ramadhan yang hampir Punah, Padangtoday.com 21/07/2011 - 13:17 WIB].

Seratus persen orang Minangkabau untuk hari ini masih beragama islam, artinya bagaimanapun juga seorang yang bersuku Minang beragama islam karena sejak dahulu islam sudah menjadi agama nenek moyangnya walaupun dalam praktek islam pada sector kehidupan sehari-hari banyak diantara mereka yang belum mengamalkan islam dengan baik, kita masih melihat masih banyak anak-anak muda Minangkabau yang belum menunaikan shalat, bahkan di Ranah Minang sendiri praktek perdukunan, syirik, bid’ah dan kurafat hidup subur bahkan mereka anggap  semua itu marupakan adat, padahal adat Minangkabau yang bersendikan syara’ tidak mengajarkan hal itu.wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 24 Zulhijjah 1432.H/ 20 November 2011.M].   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar