Pada manusia ada dua sifat yang tampil
berlawanan,yaitu sifat negative dan sifat positif, kedua sifat ini merupakan
fithrah yang diberikan Allah, yang negative tentu dikurangi bahkan sebaiknya
dihilangkan dan sebaliknya sifat positif selayaknya dikembangkan sehingga akan
berdampak positif pula untuk kehidupannya, sifat benci misalnya yang ada pada
manusia sangat berbahaya bila dipelihara terus menerus, apalagi kebencian itu
kadangkala tidak timbul karena ego dan nafsu belaka.
Benci dan sayang sangat tipis
pembatasnya tapi bisa pula sangat dalam jurangnya dan luar biasa akibatnya
terhadap kehidupan, itulah salah satu pesan yang diberikan Allah kepada kita
agar selalu memupuk sayang dan menghilangkan benci dalam kehidupan ini agar
hidup kita berguna bagi masyarakat dan selamat dalam menapaki kehidupan menuju akherat.
Sebenarnya sifat bencipun tidak
dilarang asal ditempatkan pada porsi yang sebenarnya dalam istilah agama
disebut dengan benci karena Allah.Dalam Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain,
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena
Allah.” (HR.At Tirmidzi) Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:“Barangsiapa yang mencintai karena Allah,
membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah,
maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia
mengatakan hadits hasan)
Dari
dua hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan kecintaan
dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap
sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla
kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah,
memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah
Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak
memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia diberi.
Dalam
pengertian menurut syariat, dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai karena
Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang –orang yang
beriman dan taat kepada Allah ta’ala karena keimanan dan ketaatan yang mereka
lakukan.Sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah)
adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang
mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya
dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan
kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan
dengan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)
“Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)
Jadi,
para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta pengikut mereka di seluruh penjuru
dunia adalah orang-orang yang lebih berhak untuk kita cintai (meskipun kita
tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka), dari pada orang-orang yang dekat
dengan kita seperti tetangga kita, orang tua kita, anak-anak kita sendiri,
saudara-saudara kita, ataupun saudara kita yang lain, apabila mereka itu
membenci, memusuhi dan menentang Allah dan RasulNya dan tidak melakukan
ketaatan kepada Allah dan RasulNya maka kita tidak berhak untuk mencintai
melebihi orang-orang yang berjalan di atas al-haq dan orang yang selalu taat
kepada Allah dan rasulNya. Demikian juga kecintaan dan kebencian yang tidak
disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada kitabullah dan sunnah Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam. Dan hal ini bermacam-macam jenisnya di antaranya
adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh harta kekayaan, derajat
dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran, kekeluargaan dan lain-lain,
tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah berkata “Bahwasannya
seorang mukmin wajib dicurahkan kepadanya kecintaan dan kasih sayang meskipun
mendhalimi dan menganggu kamu, dan seorang kafir wajib dicurahkan kepadanya
kebencian dan permusuhan meskipun selalu memberi dan berbuat baik kepadamu.”
Sesuai
dengan apa yang di katakan oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyah, marilah kita
berlindung kepada Dzat yang membolak-balikkan hati, supaya hati kita dipatri
dengan kecintaan dan kebencian yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya.
Karena kadang orang-orang yang menentang Allah di sekitar kita lebih baik
sikapnya terhadap kita dari pada orang-orang yang beriman kepada Allah,
sehingga kita lupa dan lebih mencintai orang-orang kafir dari pada orang-orang
yang beriman.Naudzubilla min dzalik.[Ramaisha Ummu Hafidz,Cinta Dan Benci Karena Allah,www.alsofwah.or.id/khutbah].
Sebagai kilas balik daRi apa yang teRjadi akhiR-akhiR ini,
baik yang teRjadi di sekitaR kita khususnya atau dunia Islam pada umumnya peRlu
mendapat peRhatian dan intROpeksi daRi kaum Muslimin secaRa khusus. AgaR kemudian
kita bisa mengambil pelajaRan daRi sekian peRistiwa yang ada.
Adanya tudingan bahwa kekeRasan,
kedhaliman, aksi teROR dan pengRusakan bahkan pembunuhan seRta peRmusuhan
secaRa bRutal teRhadap ORang-ORang kafiR daRi kalangan yahudi dan nashaRa
pelakunya adalah kaum muslimin adalah meRupakan bencana dan ujian bagi kita……teRlepas
benaR dan tidaknya asumsi ini kitapun haRus pRihatin dan mawas diRi, kaRena
pada dasaRnya Islam tidak mencOntOhkan caRa-caRa yang demikian.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman: “Dan janganlah kamu beRbuat keRusakan di muka bumi sesudah Allah mempeRbaiki-nya” (Al-A’Raf: 56).
Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman: “Dan janganlah kamu beRbuat keRusakan di muka bumi sesudah Allah mempeRbaiki-nya” (Al-A’Raf: 56).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala beRfiRman:“Sesungguhnya Allah menyuRuh (kamu) beRlaku
adil dan beRbuat kebajikan, membeRi kepada kaum keRabat, dan Allah melaRang
(kamu) daRi peRbuatan keji, kemungkaRan dan peRmusuhan. Dia membeRi pengajaRan
kepadamu agaR kamu dapat mengambil pelajaRan.” (An-Nahl: 90).
Di sisi yang lain, sekaRang kitapun
disibukkan dengan adanya sekian banyak peRgeRakan yang mengatasnakan Islam yang
ingin mengOtak-atik dan memOdOfikasi ajaRan Islam yang telah sempuRna ini
dengan alasan bahwa ajaRan yang ada sudah tidak sesuai lagi dengan kOndisi,
tempat dan zaman…sehingga muncullah geRakan wihdatul adyan (semua agama adalah
sama), geRakan islam libeRal yang menghendaki kebebasan di dalam melaksanakan
ajaRan yang mulia, disusul geRakan fiqh lintas agama, sehingga muncul lOyalitas
teRhadap nOn muslim secaRa membabi buta. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala
telah beRfiRman:“Pada haRi ini telah
KusempuRnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-Ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka baRangsiapa teRpaksa kaRena
kelapaRan tanpa sengaja beRbuat dOsa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (al-Maidah:3)
Apakah sebetulnya pangkal pOkOk
peRmasalahan ini mulai muncul dan beRkembang dalam sisi kehidupan kaum muslimin
secaRa umum……………………… Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman:“Telah nampak keRusakan di daRat dan di laut disebabkan kaRena
peRbuatan tangan manusia, supaya Allah meRasakan kepada meReka sebahagian daRi
(akibat) peRbuatan meReka, agaR meReka kembali (ke jalan yang benaR). (QS.
30:41)
Pada dasaRnya salah satu sebab daRi
sekian sebab teRjadinya fitnah dan ujian bagi kaum Muslimin ini adalah adanya
kesalahfahaman dan salah pResepsi peRihal kepada siapakah kecintaan, lOyalitas,
kesetiakawanan kita beRikan dan sebaliknya kepada siapakah kebencian, dan
peRmusuhan haRus kita tunjukka dan beRlepas diRi teRhadapnya.
Maka peRlu diketahui bahwa al-Wala’ dan
al-BaRa’ adalah meRupakan dua pRinsip daRi pRinsip-pRinsip iman, tidak akan
sempuRna peRkaRa seORang mukmin kecuali dengan keduanya dan tidak akan nampak
kemulyaan islam melainkan dengan menegakkan keduanya, dan kaum muslimmin tidak
akan mendapatkan peRlindungan dan penjagaan kecuali dengan keduanya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman:“KaRena itu baRangsiapa yang ingkaR kepada Taghut dan beRiman kepada Allah, maka sesunguhnya ia tela beRpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (al-BaqaRah:256)
Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman:“KaRena itu baRangsiapa yang ingkaR kepada Taghut dan beRiman kepada Allah, maka sesunguhnya ia tela beRpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (al-BaqaRah:256)
“Dan ORang-ORang yang beRiman,
lelaki dan peRempuan, sebagian meReka (adalah) menjadi penOlOng sebagian yang
lain.” (al-Taubah:71)
“Janganlah
ORang-ORang mu'min mengambil ORang-ORang kafiR menjadi wali dengan meninggalkan
ORang-ORang mu'min. BaRangsiapa beRbuat demikian,niscaya lepaslah ia daRi
peRtOlOngan Allah.” (Ali ImRan:28)
Rasulullah beRsabda:“Ada tiga peRkaRa, yang apabila ketiganya
ada pada diRi seseORang maka ia akan mendapatkan Rasa manisnya iman. Yaitu
apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daRipada yang selain keduanya,
apabila ia menyintai seseORang, namun ia tidak menyintainya kecuali kaRena
Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiRan sesuadah Allah
menyelamatkannya daRi kekafiRan itu, sepeRti halnya ia membenci jika ia
dilempaRkan ke dalam api.” (HR. al-BukhaRi dan Muslim)
Tiga ayat
dan sabda Rasulullah di atas telah membeRikan tuntunan dan pelajaRan bagi kita
bahwa al-Wala’ (kecintaaan, lOyalitas dan kesetiaan) haRus kita beRikan secaRa
muthlaq kepada Allah dan Rasulnya dengan menyeRahkan diRi kita sepenuhnya
dengan caRa mentauhidkannya dalam setiap bentuk peRibadatan, melaksanakannya
dengan ketaatan, dan beRlepas diRi daRi segala bentuk kesyiRikan dan ahlinya
dan yang demikian juga kita beRikan kepada kaum Mu’minin kaRena Allah sesuai
dengan kadaR kebaikannya dan ketaatannya. Sebaliknya al-BaRa’ (kebencian,
peRmusuhan, danm beRlepas diRi) haRus kita beRika kepada ORang-ORang kafiR daRi
kalangan yahudi dan nashaRO dan selain meReka dengan segala Ragamnya. SementaRa
teRhadap kaum Muslimin maka al-wala’ dan al-baRa’ haRus kita beRikan kepada
meReka sesuai dengan kadaR keimanannya dan kemaksiatannya teRhadap Allah dan
Rasul-Nya. DaRi sinilah maka peneRapan al-Wala’ dan al-BaRak semakin sempuRna,
manakala ukuRan dan standaRtnya hanyalah semata-mata kaRena Allah, sesuai
dengan adab-adab yang digaRiskan Oleh Allah dan Rasul-Nya.[Kecintaan dan Kebencian,Ust. Abu
FaRwah:: Compiled by
oRiDo™ ::].
Kalaulah
bukan karena ukhuwah islamiyyah di kalangan ummat ini maka mudah sekali
tersebarnya kebencian antara satu dengan lainnya, akan selalu ada permusuhan
dan kebencian, salah satu factor pemicu kebencian itu adalah adanya saling
gunjing dikalangan masyarakat, itulah makanya islam sangat melarang perbuatan
ini dalam rangka mengantisipasi kebencian yang bisa saja timbul karenanya.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengungkapkan
keharusan kita meninggalkan gunjingan di tengah masyarakat untuk menghindari
munculnya kebencian.
Menggunjing
hukumnya haram dan termasuk berdosa besar, baik aib yang digunjingkan itu
benar-benar ada pada diri seseorang maupun tidak ada, hal ini berdasarkan
ketetapan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika beliau ditanya
tentang menggunjing beliau bersabda.“
Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak suka (bila itu
dibicarakan)”Ada yang bertanya, “Bagaimana bila yang aku katakan itu memang
benar ada pada saudaranya ?” Beliau menjawab.“Jika memang benar bahwa yang kau
katakan itu ada padanya, berarti engkau telah menggunjingnya, jika itu tidak
ada padanya, berarti engkau telah berdusta tentangnnya” [Hadits Riwayat Muslim].
Didirwayatkan
pula dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pada malam Isra beliau
melihat suatu kaum dengan kuku-kuku yang terbuat dari kuningan, mereka
mencakar-cakar wajah dan dada mereka dengan kuku-kuku tersebut, lalu beliau
menanyakan tentang mereka, kemudian dijawab bahwa mereka itu adalah orang-orang
yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan sesama manusia [Hadits
Riwayat Abu Daud].
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Hujurat : 12]
Maka setiap
muslim dan muslimah hendaknya waspada terhadap gunjingan dan saling menasehati
untuk meninggalkannya, hal ini sebagai bentuk ketaatan terhadap Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lain dari itu hendaknya
pula berambisi untuk menutupi aib saudaranya sesama muslim dan tidak
menyingkapkan aib mereka, karena gunjingan itu termasuk faktor kebencian,
permusuhan dan perpecahan masyarakat. Semoga Allah menunjukkan kaum muslimin
kepada kebaikan.[Syaikh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,
gunjing termasuk factor permusuhan dan kebencian, Almanhaj.or.id,Sabtu,
15 Oktober 2005 06:20:33 WIB].
Sesama
muslim tidak boleh saling membenci apalagi hanya masalah sepele yang tidak
prinsip, bila terpaksa membenci, itupun dibolehkan benci karena Allah, bukan
benci karena nafsu dan ego, bahkan islam berupaya agar ummatnya selalu hidup
dalam kasih sayang, menghilangkan benci dan menjauhkan dendam, hal itu dapat
dilakukan dengan memupuk persaudaraan salah satu diantaranya dengan
silaturahim.
Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah
Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan
rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya
dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)1)maka
hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul
Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415)
- Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya
dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung
silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir
Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415)
Dalam
dua hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan
bertambahnya usia.
Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh mahluk
Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barangsiapa menginginkan
dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. [Dr. Fadhl Ilahi,Silaturrahim, Assunnah ML online,10 Agustus 2002].
Silaturahim merupakan hak sesama muslim agar mencintainya
dan tidak menyakitinya sehingga tersebarlah kasih sayang dan terpupuknya
ukhuwah islamiyyah maka berkah dan rahmat Allah akan kita rasakan.Rasulullah
menyatakan dalam haditsnya ;"seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu
bagaikan sebuah bangunan, sebagian mengokohkan
sebagian yang lainnya" [HR. Muslim].
Ujud cinta kepada saudaranya melalui
sikap siap membantu dalam segala kebaikan dan tidak membiarkan saudaranya dalam
kesusahan apalagi dalam kesesatan, resfonsip dan perhatian perlu diberikan
kepada sesama muslim apalagi dalam keadaan duka cita yang sedang dialami;
''Dan tolong
menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah bertolong menolong
dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah” [5;2]
”Barangsiapa yang melepaskan kesulitan untuk seorang
mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat,
barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya
di dunia dan di akherat. Allah selalu menolong hamba-Nya yang selalu menolong
saudaranya” [HR. Muslim].
Rasulpun
menyabdakan, ”Barangsiapa yang tidak
peduli dengan ummat Islam maka dia bukanlah ummatku”.
Sesama manusia saja tidak tidak
boleh saling menyakiti apalagi sesama muslim, seharusnya sehadiran kita di
dekat muslim lainnya kalaulah tidak bisa memberikan obat maka paling tidak
jangan menyakitinya dengan lisan, sikap ataupun tindakan, Rasululllah bersabda;
''Orang Islam itu adalah orang yang orang islam lainnya merasa aman atau
selamat dari lidah dan tangannya".
Hadits dari Ibnu Mubarak menyatakan;
"Tidak halal seorang muslim itu membuat ketakutan kepada orang muslim
lainnya".
Lebih indahnya pergaulan sesama
muslim itu adalah ibarat lebah, ummat islam itu ibarat lebah kata Rasulullah,
apabila dia hinggap di ranting yang
rapuh sekalipun maka tidaklah patah, dan apabila lebah itu mengeluarkan sesuatu
maka dia akan mengeluarkan yang bermanfaat bagi manusia. Ummat islam tidak
boleh seperti lalat, lalat bila hinggap dimanapun dia selalu meninggalkan
penyakit dan bila mengeluarkan sesuatu maka sesuatu itu berupa bibit penyakit.
Rasa sakit hati, tersinggung, merasa
dilecehkan, tidak dihargai dan sebab-sebab lainnya yang mengawali timbulnya
rasa benci merupakan hal yang manusiawi tapi seharusnya kebencian itu tidak
berlarut-larut hingga tujuh keturunan, berilah tenggang waktu hanya sampai tiga
hari, lewat tiga hari maka selesaikan secara bijaksana dan secara kekeluargaan,
rasa benci jangan dibunuh tapi dikendalikan dengan keimanan, rasa sayang dan
keikhlasan agar benci itu bermakna, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar