Jumat, 26 Februari 2016

278. Benci



Pada manusia ada dua sifat yang tampil berlawanan,yaitu sifat negative dan sifat positif, kedua sifat ini merupakan fithrah yang diberikan Allah, yang negative tentu dikurangi bahkan sebaiknya dihilangkan dan sebaliknya sifat positif selayaknya dikembangkan sehingga akan berdampak positif pula untuk kehidupannya, sifat benci misalnya yang ada pada manusia sangat berbahaya bila dipelihara terus menerus, apalagi kebencian itu kadangkala tidak timbul karena ego dan nafsu belaka. 

            Benci dan sayang sangat tipis pembatasnya tapi bisa pula sangat dalam jurangnya dan luar biasa akibatnya terhadap kehidupan, itulah salah satu pesan yang diberikan Allah kepada kita agar selalu memupuk sayang dan menghilangkan benci dalam kehidupan ini agar hidup kita berguna bagi masyarakat dan selamat dalam menapaki kehidupan menuju akherat.

            Sebenarnya sifat bencipun tidak dilarang asal ditempatkan pada porsi yang sebenarnya dalam istilah agama disebut dengan benci karena Allah.Dalam Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi) Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)

Dari dua hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia diberi.

Dalam pengertian menurut syariat, dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang –orang yang beriman dan taat kepada Allah ta’ala karena keimanan dan ketaatan yang mereka lakukan.Sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan dengan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)

Jadi, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta pengikut mereka di seluruh penjuru dunia adalah orang-orang yang lebih berhak untuk kita cintai (meskipun kita tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka), dari pada orang-orang yang dekat dengan kita seperti tetangga kita, orang tua kita, anak-anak kita sendiri, saudara-saudara kita, ataupun saudara kita yang lain, apabila mereka itu membenci, memusuhi dan menentang Allah dan RasulNya dan tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan RasulNya maka kita tidak berhak untuk mencintai melebihi orang-orang yang berjalan di atas al-haq dan orang yang selalu taat kepada Allah dan rasulNya. Demikian juga kecintaan dan kebencian yang tidak disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Dan hal ini bermacam-macam jenisnya di antaranya adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh harta kekayaan, derajat dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran, kekeluargaan dan lain-lain, tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Bahwasannya seorang mukmin wajib dicurahkan kepadanya kecintaan dan kasih sayang meskipun mendhalimi dan menganggu kamu, dan seorang kafir wajib dicurahkan kepadanya kebencian dan permusuhan meskipun selalu memberi dan berbuat baik kepadamu.”

Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyah, marilah kita berlindung kepada Dzat yang membolak-balikkan hati, supaya hati kita dipatri dengan kecintaan dan kebencian yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Karena kadang orang-orang yang menentang Allah di sekitar kita lebih baik sikapnya terhadap kita dari pada orang-orang yang beriman kepada Allah, sehingga kita lupa dan lebih mencintai orang-orang kafir dari pada orang-orang yang beriman.Naudzubilla min dzalik.[Ramaisha Ummu Hafidz,Cinta Dan Benci Karena Allah,www.alsofwah.or.id/khutbah].

Sebagai kilas balik daRi apa yang teRjadi akhiR-akhiR ini, baik yang teRjadi di sekitaR kita khususnya atau dunia Islam pada umumnya peRlu mendapat peRhatian dan intROpeksi daRi kaum Muslimin secaRa khusus. AgaR kemudian kita bisa mengambil pelajaRan daRi sekian peRistiwa yang ada. 

Adanya tudingan bahwa kekeRasan, kedhaliman, aksi teROR dan pengRusakan bahkan pembunuhan seRta peRmusuhan secaRa bRutal teRhadap ORang-ORang kafiR daRi kalangan yahudi dan nashaRa pelakunya adalah kaum muslimin adalah meRupakan bencana dan ujian bagi kita……teRlepas benaR dan tidaknya asumsi ini kitapun haRus pRihatin dan mawas diRi, kaRena pada dasaRnya Islam tidak mencOntOhkan caRa-caRa yang demikian.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman: “Dan janganlah kamu beRbuat keRusakan di muka bumi sesudah Allah mempeRbaiki-nya” (Al-A’Raf: 56). 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala beRfiRman:“Sesungguhnya Allah menyuRuh (kamu) beRlaku adil dan beRbuat kebajikan, membeRi kepada kaum keRabat, dan Allah melaRang (kamu) daRi peRbuatan keji, kemungkaRan dan peRmusuhan. Dia membeRi pengajaRan kepadamu agaR kamu dapat mengambil pelajaRan.” (An-Nahl: 90). 

Di sisi yang lain, sekaRang kitapun disibukkan dengan adanya sekian banyak peRgeRakan yang mengatasnakan Islam yang ingin mengOtak-atik dan memOdOfikasi ajaRan Islam yang telah sempuRna ini dengan alasan bahwa ajaRan yang ada sudah tidak sesuai lagi dengan kOndisi, tempat dan zaman…sehingga muncullah geRakan wihdatul adyan (semua agama adalah sama), geRakan islam libeRal yang menghendaki kebebasan di dalam melaksanakan ajaRan yang mulia, disusul geRakan fiqh lintas agama, sehingga muncul lOyalitas teRhadap nOn muslim secaRa membabi buta. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah beRfiRman:“Pada haRi ini telah KusempuRnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-Ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka baRangsiapa teRpaksa kaRena kelapaRan tanpa sengaja beRbuat dOsa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Maidah:3)

Apakah sebetulnya pangkal pOkOk peRmasalahan ini mulai muncul dan beRkembang dalam sisi kehidupan kaum muslimin secaRa umum……………………… Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman:“Telah nampak keRusakan di daRat dan di laut disebabkan kaRena peRbuatan tangan manusia, supaya Allah meRasakan kepada meReka sebahagian daRi (akibat) peRbuatan meReka, agaR meReka kembali (ke jalan yang benaR). (QS. 30:41) 

Pada dasaRnya salah satu sebab daRi sekian sebab teRjadinya fitnah dan ujian bagi kaum Muslimin ini adalah adanya kesalahfahaman dan salah pResepsi peRihal kepada siapakah kecintaan, lOyalitas, kesetiakawanan kita beRikan dan sebaliknya kepada siapakah kebencian, dan peRmusuhan haRus kita tunjukka dan beRlepas diRi teRhadapnya. 

Maka peRlu diketahui bahwa al-Wala’ dan al-BaRa’ adalah meRupakan dua pRinsip daRi pRinsip-pRinsip iman, tidak akan sempuRna peRkaRa seORang mukmin kecuali dengan keduanya dan tidak akan nampak kemulyaan islam melainkan dengan menegakkan keduanya, dan kaum muslimmin tidak akan mendapatkan peRlindungan dan penjagaan kecuali dengan keduanya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala beRfiRman:“KaRena itu baRangsiapa yang ingkaR kepada Taghut dan beRiman kepada Allah, maka sesunguhnya ia tela beRpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (al-BaqaRah:256)

“Dan ORang-ORang yang beRiman, lelaki dan peRempuan, sebagian meReka (adalah) menjadi penOlOng sebagian yang lain.” (al-Taubah:71)
“Janganlah ORang-ORang mu'min mengambil ORang-ORang kafiR menjadi wali dengan meninggalkan ORang-ORang mu'min. BaRangsiapa beRbuat demikian,niscaya lepaslah ia daRi peRtOlOngan Allah.” (Ali ImRan:28) 

Rasulullah beRsabda:“Ada tiga peRkaRa, yang apabila ketiganya ada pada diRi seseORang maka ia akan mendapatkan Rasa manisnya iman. Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daRipada yang selain keduanya, apabila ia menyintai seseORang, namun ia tidak menyintainya kecuali kaRena Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiRan sesuadah Allah menyelamatkannya daRi kekafiRan itu, sepeRti halnya ia membenci jika ia dilempaRkan ke dalam api.” (HR. al-BukhaRi dan Muslim) 

Tiga ayat dan sabda Rasulullah di atas telah membeRikan tuntunan dan pelajaRan bagi kita bahwa al-Wala’ (kecintaaan, lOyalitas dan kesetiaan) haRus kita beRikan secaRa muthlaq kepada Allah dan Rasulnya dengan menyeRahkan diRi kita sepenuhnya dengan caRa mentauhidkannya dalam setiap bentuk peRibadatan, melaksanakannya dengan ketaatan, dan beRlepas diRi daRi segala bentuk kesyiRikan dan ahlinya dan yang demikian juga kita beRikan kepada kaum Mu’minin kaRena Allah sesuai dengan kadaR kebaikannya dan ketaatannya. Sebaliknya al-BaRa’ (kebencian, peRmusuhan, danm beRlepas diRi) haRus kita beRika kepada ORang-ORang kafiR daRi kalangan yahudi dan nashaRO dan selain meReka dengan segala Ragamnya. SementaRa teRhadap kaum Muslimin maka al-wala’ dan al-baRa’ haRus kita beRikan kepada meReka sesuai dengan kadaR keimanannya dan kemaksiatannya teRhadap Allah dan Rasul-Nya. DaRi sinilah maka peneRapan al-Wala’ dan al-BaRak semakin sempuRna, manakala ukuRan dan standaRtnya hanyalah semata-mata kaRena Allah, sesuai dengan adab-adab yang digaRiskan Oleh Allah dan Rasul-Nya.[Kecintaan dan Kebencian,Ust. Abu FaRwah:: Compiled by oRiDo™ ::].

Kalaulah bukan karena ukhuwah islamiyyah di kalangan ummat ini maka mudah sekali tersebarnya kebencian antara satu dengan lainnya, akan selalu ada permusuhan dan kebencian, salah satu factor pemicu kebencian itu adalah adanya saling gunjing dikalangan masyarakat, itulah makanya islam sangat melarang perbuatan ini dalam rangka mengantisipasi kebencian yang bisa saja timbul karenanya. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengungkapkan keharusan kita meninggalkan gunjingan di tengah masyarakat untuk menghindari munculnya kebencian.

Menggunjing hukumnya haram dan termasuk berdosa besar, baik aib yang digunjingkan itu benar-benar ada pada diri seseorang maupun tidak ada, hal ini berdasarkan ketetapan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika beliau ditanya tentang menggunjing beliau bersabda.“ Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak suka (bila itu dibicarakan)”Ada yang bertanya, “Bagaimana bila yang aku katakan itu memang benar ada pada saudaranya ?” Beliau menjawab.“Jika memang benar bahwa yang kau katakan itu ada padanya, berarti engkau telah menggunjingnya, jika itu tidak ada padanya, berarti engkau telah berdusta tentangnnya” [Hadits Riwayat Muslim].

Didirwayatkan pula dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pada malam Isra beliau melihat suatu kaum dengan kuku-kuku yang terbuat dari kuningan, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka dengan kuku-kuku tersebut, lalu beliau menanyakan tentang mereka, kemudian dijawab bahwa mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan sesama manusia [Hadits Riwayat Abu Daud]. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Hujurat : 12]

Maka setiap muslim dan muslimah hendaknya waspada terhadap gunjingan dan saling menasehati untuk meninggalkannya, hal ini sebagai bentuk ketaatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lain dari itu hendaknya pula berambisi untuk menutupi aib saudaranya sesama muslim dan tidak menyingkapkan aib mereka, karena gunjingan itu termasuk faktor kebencian, permusuhan dan perpecahan masyarakat. Semoga Allah menunjukkan kaum muslimin kepada kebaikan.[Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, gunjing termasuk factor permusuhan dan kebencian, Almanhaj.or.id,Sabtu, 15 Oktober 2005 06:20:33 WIB].

Sesama muslim tidak boleh saling membenci apalagi hanya masalah sepele yang tidak prinsip, bila terpaksa membenci, itupun dibolehkan benci karena Allah, bukan benci karena nafsu dan ego, bahkan islam berupaya agar ummatnya selalu hidup dalam kasih sayang, menghilangkan benci dan menjauhkan dendam, hal itu dapat dilakukan dengan memupuk persaudaraan salah satu diantaranya dengan silaturahim.

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:
  1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)1)maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415)
  1. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415)

Dalam dua hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia. 

Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh mahluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. [Dr. Fadhl Ilahi,Silaturrahim, Assunnah ML online,10 Agustus 2002].

Silaturahim merupakan hak sesama muslim agar mencintainya dan tidak menyakitinya sehingga tersebarlah kasih sayang dan terpupuknya ukhuwah islamiyyah maka berkah dan rahmat Allah akan kita rasakan.Rasulullah menyatakan dalam haditsnya ;"seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu bagaikan sebuah bangunan, sebagian mengokohkan  sebagian yang lainnya" [HR. Muslim].

            Ujud cinta kepada saudaranya melalui sikap siap membantu dalam segala kebaikan dan tidak membiarkan saudaranya dalam kesusahan apalagi dalam kesesatan, resfonsip dan perhatian perlu diberikan kepada sesama muslim apalagi dalam keadaan duka cita yang sedang dialami;
     
''Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah bertolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah” [5;2]

”Barangsiapa yang melepaskan kesulitan untuk seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat, barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akherat. Allah selalu menolong hamba-Nya yang selalu menolong saudaranya” [HR. Muslim].

Rasulpun menyabdakan, ”Barangsiapa yang tidak peduli dengan ummat Islam maka dia bukanlah ummatku”.

            Sesama manusia saja tidak tidak boleh saling menyakiti apalagi sesama muslim, seharusnya sehadiran kita di dekat muslim lainnya kalaulah tidak bisa memberikan obat maka paling tidak jangan menyakitinya dengan lisan, sikap ataupun tindakan, Rasululllah bersabda; ''Orang Islam itu adalah orang yang orang islam lainnya merasa aman atau selamat dari lidah dan tangannya".

            Hadits dari Ibnu Mubarak menyatakan; "Tidak halal seorang muslim itu membuat ketakutan kepada orang muslim lainnya".

            Lebih indahnya pergaulan sesama muslim itu adalah ibarat lebah, ummat islam itu ibarat lebah kata Rasulullah, apabila dia hinggap di  ranting yang rapuh sekalipun maka tidaklah patah, dan apabila lebah itu mengeluarkan sesuatu maka dia akan mengeluarkan yang bermanfaat bagi manusia. Ummat islam tidak boleh seperti lalat, lalat bila hinggap dimanapun dia selalu meninggalkan penyakit dan bila mengeluarkan sesuatu maka sesuatu itu berupa bibit penyakit.

            Rasa sakit hati, tersinggung, merasa dilecehkan, tidak dihargai dan sebab-sebab lainnya yang mengawali timbulnya rasa benci merupakan hal yang manusiawi tapi seharusnya kebencian itu tidak berlarut-larut hingga tujuh keturunan, berilah tenggang waktu hanya sampai tiga hari, lewat tiga hari maka selesaikan secara bijaksana dan secara kekeluargaan, rasa benci jangan dibunuh tapi dikendalikan dengan keimanan, rasa sayang dan keikhlasan agar benci itu bermakna,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar