Bangunan yang berbentuk kubus yang menjadi kiblat bagi ummat islam,
terdapat di Masjidil Haram disebut dengan Ka’bah, semua ummat Islam sudah
mengenalnya apalagi mereka yang sudah menunaikan ibadah haji, Ka’bah bukan lagi
sekedar gambar yang pernah Nampak tapi bentuk fisiknya sudah dikenal. Kita
hanya menjadikan Ka’bah itu sebagai simbul untuk menyatukan kiblat ummat islam
di seluruh dunia, dia merupakan pedoman arah menghadap ketika melaksanakan
shalat, dalam sejarah kiblat ummat islam pernah ke Masjidil Aqsha karena ketika
itu dalam Ka’bah masih terdapat berhala orang kafir ratusan jumlahnya.
Ka’bah
awalnya dibangun oleh Adam dan kemudian anak Adam, Syist, melanjutkannya. Saat
terjadi banjir Nabi Nuh, Kabah ikut musnah dan Allah memerintahkan Nabi Ibrahim
membangun kembali.Al-Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir mencatat riwayat itu berasal
dari ahli kitab (Bani Israil), bukan dari Nabi Muhammad.
Ka’bah
yang dibangun Ibrahim pernah rusak pada masa kekuasaan Kabilah Amaliq.Kabah
dibangun kembali sesuai rancangan yang dibuat Ibrahim tanpa ada penambahan
ataupun pengurangan.Saat dikuasai Kabilah Jurhum, Kabah juga mengalami
kerusakan dan dibangun kembali dengan meninggikan fondasi.Pintu dibuat berdaun
dua dan dikunci.[Siapa yang
Membangun Kabah?Republika.co.id.Sabtu,
08 Januari 2011, 18:27 WIB].
Riwayat lain
menyatakan bahwa pembangunan awal Ka’bah dilakukan oleh Nabi Ibrahim As bukan
Nabi Adam, hal itu berdasarkan kepada sumber hadits yang shaheh.Hal ini dijelaskan di dalam al Qur`an dan hadits-hadits.
Bahkan riwayat-riwayat tersebut menjelaskan, bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail
adalah orang yang pertama mendirikan dan membangun Ka’bah, walaupun tempat
Ka’bah, yaitu satu dataran yang tinggi dan menonjol dibandingkan dengan
sekitarnya telah dikenal oleh para malaikat dan para nabi sebelum Ibrahim.
Tempat yang tinggi dan menonjol inilah yang ditinggikan dan dimuliakan, sejak
zaman dahulu sampai datangnya Nabi Ibrahim, yang kemudian membuat pondasi dan
bangunannya bersama anaknya, Ismail.
Adapun riwayat yang menunjukkan bahwa sebelumnya Ka’bah telah dibangun, riwayat-riwayat tersebut hampir semuanya mauquf kepada para sahabat atau tabi’in, dan hanya diriwayatkan oleh pakar sejarah, seperti al Azraqiy, al Fakihaniy, dan sebagian ahli tafsir serta ahli hadits. Yang mereka itu tidak berpegang teguh dalam meriwayatkannya syarat-syarat keotentikannya. Ibnu Katsir, setelah memastikan bahwa orang pertama yang membangun Ka’bah adalah Ibrahim dan Ismail, maka dia berkata : "Tidak ada satupun riwayat yang sah dari al Ma’shum (Nabi) yang menjelaskan bahwa Ka’bah telah dibangun sebelum al Khalil (yaitu Ibrahim.)[Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi, Pembangunan Ka’bah,almanhaj.or.idSenin, 23 Nopember 2009].
Adapun riwayat yang menunjukkan bahwa sebelumnya Ka’bah telah dibangun, riwayat-riwayat tersebut hampir semuanya mauquf kepada para sahabat atau tabi’in, dan hanya diriwayatkan oleh pakar sejarah, seperti al Azraqiy, al Fakihaniy, dan sebagian ahli tafsir serta ahli hadits. Yang mereka itu tidak berpegang teguh dalam meriwayatkannya syarat-syarat keotentikannya. Ibnu Katsir, setelah memastikan bahwa orang pertama yang membangun Ka’bah adalah Ibrahim dan Ismail, maka dia berkata : "Tidak ada satupun riwayat yang sah dari al Ma’shum (Nabi) yang menjelaskan bahwa Ka’bah telah dibangun sebelum al Khalil (yaitu Ibrahim.)[Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi, Pembangunan Ka’bah,almanhaj.or.idSenin, 23 Nopember 2009].
Bahkan lebih jauh lagi pendapat yang
mengatakan bahwa Ka’bah memang sudah ada sejak dahulu sebelum Adam diciptakan
hal ini diungkapkan oleh swaramuslim.com.Redaksi
28 Dec 2004;
Sejarah ka’bah adalah sejarah sebelum peradaban manusia ini
diciptakan Allah SWT dan sebelum mereka turun ke bumi.Adalah para malaikat yang
diperintahkan Allah SWT untuk turun ke bumi dan mendirikan ka’bah lalu mereka
diperintahkan untuk bertawaf di sekelilingnya.
Hingga datang masa penciptaan Nabi Adam dan singkat cerita
beliau diturunkan ke bumi di wilayah yang sekarang bernama India.Selanjutnya
beliau berjalan mencari istrinya Hawwa dan ternyata di sekitar rumah Allah
inilah beliau bertemu dan kemudian tinggal lalu beranak pinak.Rumah Allah
(ka’bah) ini menjadi tempat untuk beribadah kepada-Nya sepanjang masa, baik
masa Nabi Nuh, Ibrahim atau nabi-nabi lainnya.
Di masa
Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin
Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa
Quraisy yang mengelola Ka'bah selepas Nabi Ibrahim.Di masa Qusai ini, tinggi
Ka'bah ditambah menjadi 25 hasta dan diberi atap.Setelah Hajar Aswad ditemukan,
kemudian disimpan oleh Qusai, hingga masa Ka'bah dikuasai oleh Quraisy pada
masa Nabi Muhammad.Nabi Muhammad membantu memasangkan Hajar Aswad itu pada
tempat semestinya.
Dari
masa Nabi Ibrahim hingga ke bangsa Quraisy terhitung ada 2.645 tahun.Pada masa
Quraisy, ada perempuan yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka'bah.Kiswah
Ka'bah pun terbakar karenanya sehingga juga merusak bangunan Ka'bah.Kemudian,
terjadi pula banjir yang juga menambah kerusakan Ka'bah.Peristiwa kebakaran ini
yang diduga membuat warna Hajar Aswad yang semula putih permukaannya menjadi
hitam.
Untuk
membangun kembali Kabah, bangsa Quraisy membeli kayu bekas kapal yang terdampar
di pelabuhan Jeddah, kapal milik bangsa Rum.Kayu kapal itu kemudian digunakan
untuk atap Kabah dan tiga pilar Kabah.Pilar Kabah dari kayu kapal ini tercatat
dipakai hingga 65 H. Potongan pilarnya tersimpan juga di museum.
Empat
puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11
Hijriah), Ka'bah juga terbakar. Kejadiannya saat tentara dari Syam menyerbu
Makkah pada 681 Masehi, yaitu di masa penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu
Bakar, yang berarti juga keponakan Aisyah.Kebakaran pada masa ini mengakibatkan
Hajar Aswad yang berdiameter 30 cm itu terpecah jadi tiga.
Untuk
membangun kembali, seperti masa-masa sebelumnya, Kabah diruntuhkan terlebih
dulu.Abdullah AzZubair membangun Ka'bah dengan dua pintu.Satu pintu dekat Hajar
Aswad, satu pintu lagi dekat sudut Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar
Aswad. Abdullah bin Az-Zubair memasang pecahan Hajar Aswad itu dengan diberi
penahan perak. Yang terpasang sekarang adalah delapan pecahan kecil Hajar Aswad
bercampur dengan bahan lilin, kasturi, dan ambar.
Jumlah pecahan Hajar Aswad diperkirakan mencapai 50 butir.
Jumlah pecahan Hajar Aswad diperkirakan mencapai 50 butir.
Pada
693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi berkirim surat ke Khalifah Abdul Malik
bin Marwan (khalifah kelima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada
692 Masehi), memberitahukan bahwa Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu
untuk Ka'bah dan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bangunan Ka'bah.Hajjaj ingin
mengembalikan Kabah seperti di masa Quraisy; satu pintu dan Hijir Ismail berada
di luar bangunan Ka'bah. Maka, oleh Hajjaj, pintu kedua--yang berada di sebelah
barat dekat Rukun Yamani--ditutup kembali dan Hijir Ismail dikembalikan seperti
semula, yakni berada di luar bangunan Ka'bah.
Akan
tetapi, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal setelah mengetahui Ka'bah di
masa Abdullah bin AzZubair dibangun berdasarkan hadis riwayat Aisyah.Di masa
berikutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid hendak mengembalikan bangunan Ka'bah
serupa dengan yang dibangun Abdullah bin Az-Zubair karena sesuai dengan
keinginan Nabi.Namun, Imam Malik menasihatinya agar tidak menjadikan Ka'bah
sebagai bangunan yang selalu diubah sesuai kehendak setiap pemimpin. Jika itu
terjadi, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati kaum Mukmin.
Pada
1630 Masehi, Kabah rusak akibat diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV
membangun kembali, sesuai bangunan Hajjaj bin Yusuf hingga bertahan 400 tahun
lamanya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang
memulai proyek pertama pelebaran Masjidil Haram.[Siapa yang
Membangun Kabah?Republika.co.id.Sabtu,
08 Januari 2011, 18:27 WIB].
Ka’bah adalah sebuah rumah, bukan sesembahan apalagi tuhan.
Shalat menghadap ka’bah tidak sama dengan menyembah ka’bah. Di dalam Al-Quran
Al-Karim, secara tegas Allah SWT menetapkan bahwa ka’bah adalah rumah yang
pertama didirikan di muka bumi untuk menyembah Allah SWT disitu. Kemudian
manusia di seluruh dunia bila hendak menyembah Allah SWT dengan cara sholat
diwajibkan menghadapkan diri mereka ke arah ka’bah itu.”Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah
yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
(QS. Ali Imran : 96)
“Dan dari mana saja kamu , maka
palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka
palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu,
kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. (QS. Al-Baqarah : 150)
Sejak zaman Nabi Adam as manusia tahu bahwa ka’bah bukanlah
berhala yang disembah.Bahkan hingga masa kehidupan bangsa Quraisy yang terkenal
sebagai penyembah berhala dan telah meletakkan tidak kurang dari 360 berhala di
seputar ka’bah, mereka pun tidak terpikir untuk menyembah ka’bah.
Bahkan orang arab di masa itu sering membuat tuhan dari
makanan seperti roti, kurma dan apapun yang menurut khayal mereka bisa dianggap
menjadi tuhan. Tapi tidak dengan ka’bah, karena dalam keyakinan mereka ka’bah
memang bukan tuhan atau berhala.
Mereka hanya melakukan ibadah dan tawaf di
sekelilingnya.Ka’bah bagi para penyembah berhala itu bukanlah berhala yang disembah,
ka’bah bagi mereka adalah rumah Allah SWT untuk melaksanakan ibadah.
Hal
itu bisa menjadi lebih jelas ketika raja Abrahah dari Habasyah menyerbu ka’bah
dengan tentara bergajah. Orang-orang Quraisy saat itu tidak merasa takut ka’bah
mereka akan hilang, karena dalam diri mereka ada keyakinan bahwa ka’bah itu
bukan tuhan, tapi ka’bah adalah rumah Allah, tentu saja Sang Pemilik yang akan
menjaganya. Abdul Muttalib justru sibuk mengurus kambing-kambing miliknya yang
dirampas sang raja. Sedangkan masalah ka’bah, beliau yakin sekali pasti ada
Yang Menjaganya.
Di dalam Al-Quran Al-Karim, peristiwa itu diabadikan dalam
sebuah surat pendek :Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah
bertindak terhadap tentara bergajah ? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya
mereka itu sia-sia?, dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang
berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar,
lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan . (QS. Al-Fiil : 1-5)
Jadi hanya kalangan orientalis barat
yang bodoh dan kurang bacaan saja yang dengan pandirnya menafsirkan bahwa orang
arab jahiliyah dulu menyembah ka’bah. Sungguh sebuah analisa yang menelanjangi
kedangkalan ilmu mereka dan justru menjelaskan bagaimana ketelatan-berpikir mereka
atas kajian yang mereka tulis.
Apalagi bila sampai kepada
kesimpulan bahwa orang Islam menyembah ka’bah.Wah, sungguh betul-betul nampak
jelas betapa terkucilnya mereka dari dunia ilmu pengetahuan dan sejarah.[Sholat Menghadap Ka'bah, Menyembah Ka'bah ?,
swaramuslim.com.Redaksi 28 Dec 2004].
Kini, setiap hari, minimal lima kali umat Islam di seluruh
penjuru bumi menghadapkan wajah mereka ke satu arah, yaitu kiblat atau Ka’bah.
Ia bahkan menjadi salah satu rukun shalat. Ternyata bangunan istimewa ini punya
arti penting di hati umat Islam dan juga beberapa umat lainnya. Betapa tidak,
ia menjadi ‘perwakilan’ kehadiran Ilahi di bumi dan di dalam benak kaum
Muslimin. Ia sangat unik karena sebagai representasi imajinatif dari Ilahi Yang
Maha Agung, Ka’bah ternyata terlalu miskin. Ia tidak lebih dari sebuah bangunan
kuno berbentuk kubus, bersahaja, dan isinya pun kosong, tanpa ornamen dan
dekorasi. Jauh dari kesan ‘wah’.Yang membuatnya terlihat lebih gagah hanya lah
kiswah mahal yang membalutnya. Munkin saja di sanubari para peziarah itgu
timbul pertanyaan: Mengapa demikian?
Jawabannya adalah bahwa “Ka’bah bukanlah tujuan terakhirmu,
ia hanyalah sebuah tanda agar engkau tidak salah jalan.Ka’bah hanya menunjukimu
arah,” kata Ali Syari’ati dalam bukunya, Hajj.Ka’bah menjadi saksi
betapa segala gambaran manusia tentang Tuhannya hanyalah sebatas usaha untuk
mencerap transendensi Tuhan.
Setiap manusia mengatakan itulah Tuhan, maka Ia bukan itu.
Namun, Ka’bah bisa dijadikan petunjuk guna memahami Tuhan.Kesedarhanaan Ka’bah
ingin mengungkapkan kefakiran alam dan manusia dibandingkan dengan
Tuhannya.Kekosongan Ka’bah menegaskan bahwa manusia tidak punya apa-apa untuk
dibandingkan dengan Yang Maha Kuasa.
“Ka’bah mewakili rahasia Tuhan di alam semesta, tidak
berbentuk, tidak berwarna, tidak bermirip, tidak serupa dengan apa pun yang
dibayangkan manusia tentang-Nya,” lanjut Syari’ati. Kemampuan manusia terlalu
naif untuk menggambarkan Tuhannya, sebersahaja Ka’bah “mewakili” kehadiran Sang
Pencipta.[Abdul Muid Nawawi, MA, Ka'bah Yang Kosong, nuansa islam,Kamis, 18
November 2010 14:38]
Ka’bah yang kita tahu dilapisi dengan
kain selubung atau disebut dengan kiswah, biaya pembuatan kiswah ini tidak
sedikit sebagaimana yang diungkapkan oleh pejabat yang bertanggungjawab
terhadap itu yang dipublikasikan oleh Republika, -"Dalam setahun, hanya
satu kiswah dibuat, dengan melibatkan 220 pekerja," ujar Kepala Humas
Masna' Kiswah, Khamis Al-Zahrani.
Sebelumnya, kiswah dibuat di beberapa
negara, seperti India dan Mesir.Kiswah luar berwarna hitam dengan lapisan
berwarna putih di bagian dalamnya.Kiswah di dalam Ka'bah berwarna hijau.Itu
benang sutra yang telah diberi warna.Aslinya, tentu saja berwarna
putih."Dibutuhkan 670 kilogram benang sutra asli untuk membuat
kiswah," ujar Al-Zahrani. Total dana yang dikeluarkan bila dirupiahkan
sekitar Rp 50 miliar.
Pembuatan kiswah kini telah melibatkan
mesin dengan kemampuan 9.986 benang per meternya.Alat tenun yang dulu dipakai
membuat kain kini disimpan di ruang pe mintalan benang."Tiga puluh tahun
lalu, kita terakhir kali memakai alat tenun ini.Bertahun-tahun sebelumnya, kain
kiswah dibuat dengan alat tenun, bukan mesin," ujar Ismail Abdullah
Mahmadi, kepala Bagian Pemintalan Benang Masna' Kiswah.
Kini, alat tenun bukan mesin itu masih dipakai untuk membuat kain yang akan dipasang di bagian dalam Ka'bah. Kain untuk ruang Kabah ini berwarna hijau.Dengan alat bukan mesin, pembuatan kiswah memakan waktu delapan bulan. Setelah memakai mesin, cukup lima bulan.Replika ruang dalam Kabah juga dihaudirkan di ruang pintal ini. "Ini kiswah bagian dalam Kabah," ujar Ismail, seraya menunjuk kain berwarna hijau yang menu tupi dinding bagian dalam replika ruang Kabah itu.
Kini, alat tenun bukan mesin itu masih dipakai untuk membuat kain yang akan dipasang di bagian dalam Ka'bah. Kain untuk ruang Kabah ini berwarna hijau.Dengan alat bukan mesin, pembuatan kiswah memakan waktu delapan bulan. Setelah memakai mesin, cukup lima bulan.Replika ruang dalam Kabah juga dihaudirkan di ruang pintal ini. "Ini kiswah bagian dalam Kabah," ujar Ismail, seraya menunjuk kain berwarna hijau yang menu tupi dinding bagian dalam replika ruang Kabah itu.
Di ruang penyulaman, replika pintu Kabah
juga dipasang, ditutup dengan kiswah bersulam berbagai ayat suci.Yang dipasang
adalah replika pintu zaman Sultan Murad Khan IV (1410 Hijriyah).Di sini, para
pekerja menyulamkan benang emas dan perak ke potongan-potongan kiswah membentuk
kaligrafi ayat-ayat Alquran.
Lokasi Masna' Kiswah berdampingan dengan Museum Haramain.Di Masna' Kiswah pula, tiap 1 Dzulhijah diadakan upacara secara simbolis penyerahan kiswah kepada kepala urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.Imam Masjidil Haram biasanya juga menghadiri acara penyerahan kiswah ini.Pada acara penyerahan 1 Dzulhijah 1431 H bakda Isya itu, yang hadir adalah imam Syekh Mahir AlMu'aykali.
Lokasi Masna' Kiswah berdampingan dengan Museum Haramain.Di Masna' Kiswah pula, tiap 1 Dzulhijah diadakan upacara secara simbolis penyerahan kiswah kepada kepala urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.Imam Masjidil Haram biasanya juga menghadiri acara penyerahan kiswah ini.Pada acara penyerahan 1 Dzulhijah 1431 H bakda Isya itu, yang hadir adalah imam Syekh Mahir AlMu'aykali.
Pada acara itu dilakukan pula penyerahan
simbolis kunci pintu Ka'bah kepada Dr Saleh Al-Saiby, ahli waris pemegang kunci
pintu Ka'bah.Pemegang kunci sebelumnya, Abdul Aziz Al-Saiby, meninggal di pagi
harinya.Keluarga Al-Saiby telah menjadi pemegang kunci pintu Ka'bah sejak zaman
Quraisy, sebelum Muhammad diangkat sebagai nabi.[Tahukah
Anda: Butuh Dana Rp 50 Miliar untuk Membuat Satu Kiswah, Republika.com.Sabtu,
08 Januari 2011, 18:57 WIB].
Sepanjang sejarah kehidupan manusia maka
sepanjang itu pula perubahan bentuk yang
terjadi di Mekkah Al Mukarramah, tentu juga melibatkan Ka’bah yang berada
didalamnya, orientalis seperti Snouck Hurgronje mengungkapkan wajah Mekkah
sepanjang perjalanannya, mendokumentasikan lokasi bersejarah itu dalam beberapa
gambar, yang juga dilakukan oleh oreintalis lainnya.
Ahli Islamologi
asal Belanda, Snouck Hurgronje, sempat mengabadikan kota suci Makkah saat ia
belajar tentang Islam. Kala itu imperialisme barat kewalahan menghadapi
perjuangan umat Islam di Pasai (Aceh), zaman Hindia Belanda. Dengan menggunakan
kamera buatan Thomas Edison, dia sedikit memberikan gambaran kota Makkah kala
itu dalam secarik foto hitam-putih.
Dalam foto itu
tergambar, suasana kota Makkah yang ramai dipadati para jamaah. Bangunan yang
ada tidaklah menjamur seperti sekarang. Tampak para jamaah masih menggunakan
tenda di dataran berdebu di luar kota. Hurgronje pun sempat mengabadikan Kabah,
bangunan suci bagi Umat Islam.
kElit Domit, direktur
Kreatif Empty Quarter Gallery, mengatakan ada pula hasil jepretan yang
menggambarkan suasana Makkah yang mengangumkan. "Saat itu, mungkin
masyarakat melupakan pentingnya mengabadikan situasi karena keterbatasan
kemampuan kamera.Bayangkan saja, Hurgronje saja harus mengangkat kamera seberat
40 kg untuk mengabadikan satu jepretan kota makkah," kata dia.
Wajah Makkah
kini telah tersentuh modernisasi.Awal Ramadhan lalu, pemerintah Arab Saudi
sukses menyelesaikan menara jam terbesar di dunia.Proyek itu dikembangkan oleh
dua insinyur dari Jerman dan Swiss yang membawahi para ahli dari berbagai
negara di Eropa dan dunia.
Seperti
yang diberitakan Saudi Press Agency, 4 Agustus lalu, menara jam Makkah
mengalahkan menara jam legendaris Big Ben di Inggris. Menara di Makkah
berukuran setinggi 601 meter dengan tinggi jam hingga 251 meter. Melalui
menara ini, kelak penduduk Makkah bisa melihat pemandangan kota tersebut hingga
7 km.[Wow..Inilah
Wajah Makkah Abad ke 19, Republika OnLine,Selasa, 14
Desember 2010, 12:00 WIB].
Setiap
tahun bahkan setiap waktu ummat islam mendambakan untuk menunaikan ibadah haji
atau umrah dalam rangka memenuhi panggilan Allah memenuhi rukun Islam yang
kelima, dengan segala pengorbanan semuanya itu bisa dilakukan, pada saat itu
ummat islam merindukan beribadah, sujud dan rukuk serta berdiam diri dengan doa
dan munajatnya di depan Ka’bah tempat yang pernah dilakukan oleh Nabi dan Rasul
sebelumnya, ibadah shalat yang dilakukan didalamnya bernilai 1000 shalat
dibandingkan di tempat lain,wallahu a’lam [Takziyah Ibuk
Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 16 Agustus 2011.M/ 16 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar