Selasa, 09 Februari 2016

164. Tolak Bala



Semua orang menghendakihidupamandandamaitanpaadagangguandantidakakanmengganggu orang lain, kehidupan yang amandandamaiakanmenghasilkankaryaterbaiksesuaidenganbidangmasing-masing, tapibilakondisirumah, tempatkerjadanlingkungantidakkondusif, ada yang mengganggumakadapatdilihattidakadanya yang bisadibuatdaripelakunya yang lebihberarti. Kegagalandankehancuran yang dialamiadalahperjalananhidup, karenamemanghidupinimengalamipasangdannaik, ada orang yang hariinihidupnya kaya rayatapiduaharikemudiansudahhinadanmiskindantidaksedikit pula yang dipujadisanjungsekiantingginyatapikemudiandihina, dicacimakisejadi-jadinya.

Agar hidupamanpadasebuah kampong, amanpadasebuahrumah, amanpadatempatkerja, yang bisadilakukanadalahmenolaksegalasesuatu yang dapatmendatangkanbala, istilahinidinyatakandengantolakbala, tentuperbuataninimelibatkanjindansyaitan yang dikomandoiolehparadukun,

Indonesia adalahtempat yang suburuntukperdukunan.Negara iniseolahterbelenggudenganperdukunan.Jualtanahsajaharuspergikedukun, mauusahanyalancar, maujabatannyabertahan, maupunyawibawadanditakutibawahanharuspergikedukun.Walaupunmungkinsebutandukunsekarangkalahpopulerdengan paranormal ataupensehat spiritual, ditambahlagiolehmitos-mitos yang berkembang di nusantaraini, seperti orang hamilharusmembawagunting, angka 13 adalahangkasial, diperparahlagiolehtayanganmistikdanklenik yang berkembangpesat di duniapertelevisiankita, danironinyamendapatsambutan yang luarbiasadarimasyarakat.

Konsekwensi iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [An Najm 53;62];
"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)".

 Menjadikan Allah yang ditaati segala aturan yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [Ali Imran 3;32]
" Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

dan hanya mencintai Allah semata [At Taubah 9;24].

" Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".

Bila tiga hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman.Iman yang istiqamah bila tidak dipelihara dengan mengadakan pembaharuan setiap waktu serta tidak pula terjaganya hati mudah sekali dimasuki oleh syaitan untuk menggelincirkannya dengan berbagai sikap, sifat dan aktifitas syirik.

            Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi syirik yang  tinggi yaitu mencari Tuhan lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar bagi ummat ini, diantaranya banyaknya bencana dan musibah akan dirasakan, disadari ataupun tidak hal itu diawali dari sikap yang menserikatkan Allah. Karenanya musibah yang datang di negeri ini, kemarau yang panjang sehingga sulitnya mendapatkan air, banyak pertanian yang tidak jadi, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati, kebakaran hutan dimana-mana, yang otomatis musim paceklik datang, harga barang-barang kebutuhan naik, sehingga masyarakat dalam keadaan panik dan susah mencari penghidupan, bila kemarau panjang Nabi menyarankan agar kita melaksanakan shalat minta hujan sebagai solusinya, minta pertolongan kepada Allah.  Begitu juga ketiga musim  hujan yang lama juga mendatangkan kesengsaraan kepada manusia, banjir terjadi dimana-mana merendam sekian daerah yang menyebabkan areal pertanian tidak dapat digarap, dengan curah hujan yang lebat kemungkinan longsor akan terjadi, jalan sebagai urat nadi transportasi terputus dan banyak aktivitas yang tidak optimal dilakukan.

            Bencana lain seperti gagalnya panen, gempa bumi yang diiringi dengan tsunami juga akan menelan korban tidak sedikit, kerugian harta benda sulit diperkirakan ditambah lagi dengan susahnya kehidupan manusia. Hal itu hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran dan introsfeksi diri karena segala musibah selain merupakan gejala alam dia juga berkaitan erat dengan tingkah polah manusia, sikap hidup yang jauh dari agama Allah, ketaatan yang kamuflasi, kefanatikan yang sebenarnya kemunafikan dalam beragama, aqidah yang dikotori dengan syirik dan kemaksiatan;

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Ar Ruum 30;41].

Dengan datangnya bala atau bencana, ada upaya yang seharusnya dilakukan seorang manusia, baik yang berkaitan dengan gejala alam yaitu menserasikan alam ini sesuai dengan fithrahnya, dijauhkan dari segala yang dapat mendatangkan bencana seperti tidak melakukan penebangan dan perambahan hutan sembarangan dan menjaga keseimbangannya, sedangkan yang berkaitan dengan sikap kepribadian manusia maka harus kembali kepada konsep ketuhanan yaitu meningkatkan kualitas iman menjadi taqwa, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman;

”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.
Tradisi yang berlansung di negeri yang rawan bencana ini adalah, dikala bencana datang atau dalam rangka untuk melepaskan negeri dari marabahaya dilakukanlah ritual tolak bala yang dihiasi pula dengan atribut islam seperti membaca Shalawat, membaca Barzanji yang terkesan memang demikian yang diajarkan oleh Rasulullah. Pada sebuah tempat dibawalah sebuah perahu yang sarat dengan bahan makanan diadakan ritual khusus dibawah pimpinan seorang pawang atau dukun, diantarkan ke tengah lautan dengan maksud agar penghuni laut tidak murka, bencana yang berasal dari laut tidak datang.

Ada pula pada sebuah tempat masyarakat datang beramai-ramai, dilakukan penyembelihan hewan di bukit dengan bacaaan tahlil sekian ribu kali untuk mengusir kemarau panjang yang telah menelantarkan areal pertanian masyarakat, sehingga bukit itu semerbak dengan kemenyan dan berkabut karena asap yang beterbangan, ada kesan puas dan penuh harap dari yang datang supaya Allah melepaskan mereka dari musibah.

Pada waktu-waktu tertentupun dilakukan penyerahan hasil panen ke tempat-tempat tertentu seperti gunung, bukit, gua dan tempat-tempat keramat lainya sebagai tanda bersyukur atas panen yang sudah dilaksanakan, harapannya supaya hasil panen yang akan datang lebih dari hasil sekarang. Bila hal ini tidak dilakukan maka rasa takut kalau panen yang akan datang tidak baik, penyakit tanaman menyerang sehingga menyengsarakan kehidupan yang akan datang. Itulah tradisi masyarakat kita yang masih berlansung hingga kini, walaupun ada membawa-bawa simbul islam sebenarnya ritual itu jauh sekali dari ajaran islam, banyak hal-hal syirik yang mereka lakukan, maksud hati ingin menolak bala, menolak bencana dan musibah tapi dengan cara demikian malah akan mendatangkan bala.

Harapan seorang mukmin hanya boleh ditujukan kepada Allah bukan kepada yang lain, istilah tauhid disebut dengan tafaul. Tafa'ul artinya perkataan atau perbuatan yang dipergunakan untuk menggembirakan atau berupa sugesti, contoh tafa'ul yang dibolehkan yaitu memberi nama anak "Sugiharto" agar anaknyu jujur dan banyak harta. Memberi nama anak "Selamat" agar anak selamat hidupnya di dunia dan akherat, memberi nama anak Mukhlis agar kelak menjadi anak yang ikhlas dalam beribadah.

Sedangkan tafaul yang dilarang seperti pesta panen dengan acara tradisi, supaya panen yang akan datang cepat dan lebih meningkat. Membaca sajak al Barzanji  agar selamat dalam perjalanan, orang hamil dilarang membunuh lipan agar tidak lahir anak yang cacat, orang hamil tidak boleh memancing agar nanti anaknya tidak sumbing, jangan berangkat hari tertentu supaya tidak mendapat kecelakaan.

Selayaknya seorang mukmin punya tauhid yang bersih tanpa tercemar oleh faham lainnya, sifat optimis menatap masa depan dibenarkan dalam islam selama tidak ada unsur tahayul dan syiriknya. Mengusir bala atau bencana boleh tapi jangan menyebabkan bencana pula karena salahnya sikap yang dilakukan, tidak boleh menyerahkan sesuatu berupa kurban ataupun sesajian kepada arwah, jin atau yang dianggap mendatangkan bencana karena hal itu tidak sesuai dengan keimanan seorang mukmin, sehingga wajar bila bencana dan musibah selalu datang di negeri ini karena ummatnya tenggelam dalam kesesatan aqidah walaupun shalat mereka lakukan, puasa dilaksanakan dan zakat ditunaikan.
Ironinya yang mengajak untuk menolak bala itu adalah para ulama atau ustadz yang disegani oleh masyarakat sehingga tertanam pada figurnya sikap pengkultus individuan untuk taqlid atau fanatik buta menerima segala apa yang diajarkan oleh sang ulama itu.
          Fanatikbutaterhadappemikiran orang-orang tertentuakanmemisahkanantaraseorangmuslimdaridalildanal-haq. Inilahkeadaan orang-orang yang fanatikbutapadazamankitasekarangini, Mayoritasterdiridaripengikutsebagianmadzhab-madzab, sufiyyahdanquburiyyun (penyembah-penyembahkuburan), yang apabilamerekadiseruuntukmengikuti Al-Kitabdan As-Sunnah, merekamenolaknya.Dan merekajugamenolakapa-apa yang menyelisihipendapatmereka.Merekaberhujahdenganmadzab-madzab, syaikh-syaikh, kiyai-kiyai, bapak-bapaknenekmoyangmereka.Iniadalahpintudarisekianbanyakpintu-pintumasuknyabid’ahkedalam agama Islam ini.
Setiap kali  zamanberjalandanmanusiabertambahjauhdariilmu yang haq, makasemakinsedikitilmudantersebarlahkebodohan. Makatidakada yang mampuuntukmenentangdanmelawanbi’dahkecualiilmudanulama.Apabilailmudanulamatelahtiadadenganwafatnyamereka, bi’dahakanmendapatkankesempatandanberpeluangbesaruntukmunculdanberjayadantokoh-tokohbid’ahbertebaranmenyeretumatkejalansesat. [IwanSutedi, AntaraSunnah, Bidah Dan Taklid,www.alsofwah.or.id/khutbah]
            Untukmeluruskandanmengajakummatkejalan yang benaradalahparakiyai, tapisayangparakiyaikitapunbergelimangdengansyirik, kurafatdantahyulsehinggatolakbaladijadikansebuah ritual yang mengandungmagis yang jauhdarinilai-nilaiislamwalaupundalamacaraituada kata-kata shalawatdanpujiankepada Allah. Ternyatatidaksemuakiyaiituulama, bahkantidaksemuaulamaitu yang warasatulanbiya’, adajugakiyaidanulama yang rusakpemikirannya, yang tercemartauhidnyadengankesyirikan.
Di kalanganmasyarakatJawa, adadikenalsebutanataugelarkehormatan yang ditujukankepadaulama, yaituKyai.Namundemikian, gelarKyaibukansatu-satunyasebutanpenghormatan yang diberikanmasyarakatJawakepadakaumulama.Masihadabeberapasebutan lain misalnyaWali, Sunan (Susuhunan) danPanembahan.Seiringberjalannyawaktu, terutamaketikaterjadinasionalisasiistilah-istilahjawa di masaOrdeBaru, sebutanKyaijugaditempelkankepadaulama non Jawa, padahal di setiapdaerah, sebelumnyasudaheksissebutankhasuntukparaulamasepertiAjenganuntukmasyarakatJawa Barat, Buyauntukmasyarakat Sumatera Barat, Tengkuuntukmasyarakat Aceh.
Sedangkan di kalanganmasyarakat Sulawesi Selatan gelarkehormatan yang diberikankepadakaumulamanyaadalahTofanrita.Untukmasyarakat Madura dikenalsebutan Nun atauBendara (biasadisingkat Ra).Di kalanganmasyarakatNusatenggaraseperti Lombok dikenalsebutan Tuan Guru.Hampirmiripdengan di Lombok, masyarakatBetawibiasamenyebutulamanyadengansebutan Guru, tapisebutaninipadaakhirnyakalahpamordibandingkandengansebutanKyaidanHabaib.

Faktanya, sebutanKyaitidakselalumenunjukkepadaseseorang (atausekelompok orang) yang benar-benartelahmengerti Agama Islam dengansegalacabangnya; ataumenunjukkepada Guru Agama Islam yang luaspandangannya.Ada sebutanKyai yang ditujukankepadakalanganpendidiktingkatnasional (sekuler) –biasanyadisingkatmenjadi Ki– misalnya Ki HajarDewantara.Ada jugasebutanKyaiatau Ki yang ditujukankepadasekelompok orang yang mahirmendalang, seperti Ki Dalang.BahkanmaknaKyaiatau Ki jugamenunjukkepadasekelompok orang yang menjalankanprofesiperdukunan yang tergolongmusyrik.Jadi, maknaKyaimemangtidakselalutertujukepadaulama agama Islam yang luasilmupengetahuannya.
Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dansekitarnya), sebutanKyaipadamasasebelumperangkemerdekaanmenunjukkepadaseseorang yang mendudukijabatansetingkatWedana (District-hoofd).DalamistilahsekarangWedanasetaradenganWalikota.Sedangkan di Padang, jugapadamasasebelumperangkemerdekaan, sebutanKyaiberartiCinoTuo, yaitu orang Cina yang telahberusialanjut.
SesungguhnyasebutanKyaitidakdikenal di dalamterminologi Islam.Bahkansiapa yang berwenangmemberikangelarKyaikepadaseseorang pun tidakjelasaturanmainnya.Sakingtidakjelasnya, kinitumbuhfenomena: keturunanKyai yang kemudianmengimami masjid ataumemimpinpesantren, kepada yang bersangkutansecaraotomatisdisebutKyai pula. Padahal, ketikabapaknyamasihhidup, sang anakKyaiinitidakpernahdisebutKyaimuda. Tetapibegitubapaknyameninggal, makadialangsungdipanggilatausukadipanggildengansebutanKyai, walaupundarisegikeilmuanmaupunkegiatannyaberjama’ahke masjid tidaksebandingdenganbapaknya.
Keadaan di atassangatkontrasbiladisandingkandenganfaktalaintentang orang-orang yang istiqomahdantidakmaudisebutataumenyebutdirinyaKyai. Antaralain, HAMKA, Prof Dr H Mahmud Yunusdan lain-lain, padahalmerekaadalahulamaterkemukadanmenulistafsirsertakitab-kitab Islam, secarakeilmuanmaupunakhlaqnya, merekaadalahulama, alim agama.
Nampaknya, perludiadakangerakan total untukmendudukkanmasalahpadaproporsinya. Istilah-istilah yang tidakjelas, sepertihalnyaKyai, perludibersihkan, dankalauperludienyahkandariterminologi Islam, supaya Islam tidakdikotoridenganpemahaman-pemahaman yang tidakjelas.[KyaiBelumTentuUlama, nahimunkar.com, 6 April 2008].
Dari status sajatidakjelastentangkiyaiitusehinggawajarbilaajaran yang dibawatermasukdalammenolakbaladengancara yang salahsepertimemberikansesajiankesebuahbukit, mencampakkanhasilpanenkesebuahlautdangunung agar segalamusibahdanbencanatidakdatangkepadakita, adajuga yang mendarahibangunanrumah yang akandibangundengandarahayamdansapisupayapenghunirumahkelakdalamkeadaanrukundandamai, tukang yang bekerjarumahitudalamkeadaansehatdanamandarigangguanrohjahat, untukmengatasisemuanyaituadalahiman yang bersihdarinodasyirikdanibadah yang shalihsertapemikiran yang tidakterkontaminasifaham-faham yang merusakislam, wallahua’lam [CubadakSolok, 30 Agustus 2011.M/ 01 Syawal 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar