Semua orang
menghendakihidupamandandamaitanpaadagangguandantidakakanmengganggu orang lain,
kehidupan yang
amandandamaiakanmenghasilkankaryaterbaiksesuaidenganbidangmasing-masing,
tapibilakondisirumah, tempatkerjadanlingkungantidakkondusif, ada yang
mengganggumakadapatdilihattidakadanya yang bisadibuatdaripelakunya yang
lebihberarti. Kegagalandankehancuran yang dialamiadalahperjalananhidup,
karenamemanghidupinimengalamipasangdannaik, ada orang yang hariinihidupnya kaya
rayatapiduaharikemudiansudahhinadanmiskindantidaksedikit pula yang
dipujadisanjungsekiantingginyatapikemudiandihina, dicacimakisejadi-jadinya.
Agar hidupamanpadasebuah kampong,
amanpadasebuahrumah, amanpadatempatkerja, yang bisadilakukanadalahmenolaksegalasesuatu
yang dapatmendatangkanbala, istilahinidinyatakandengantolakbala,
tentuperbuataninimelibatkanjindansyaitan yang dikomandoiolehparadukun,
Indonesia
adalahtempat yang suburuntukperdukunan.Negara
iniseolahterbelenggudenganperdukunan.Jualtanahsajaharuspergikedukun,
mauusahanyalancar, maujabatannyabertahan,
maupunyawibawadanditakutibawahanharuspergikedukun.Walaupunmungkinsebutandukunsekarangkalahpopulerdengan
paranormal ataupensehat spiritual, ditambahlagiolehmitos-mitos yang berkembang
di nusantaraini, seperti orang hamilharusmembawagunting, angka 13
adalahangkasial, diperparahlagiolehtayanganmistikdanklenik yang berkembangpesat
di duniapertelevisiankita, danironinyamendapatsambutan yang
luarbiasadarimasyarakat.
Konsekwensi
iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [An Najm
53;62];
"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)".
Menjadikan Allah yang ditaati segala aturan
yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [Ali
Imran 3;32]
" Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu
berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".
dan hanya
mencintai Allah semata [At Taubah 9;24].
" Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah
lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".
Bila tiga
hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan
iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman.Iman yang
istiqamah bila tidak dipelihara dengan mengadakan pembaharuan setiap waktu
serta tidak pula terjaganya hati mudah sekali dimasuki oleh syaitan untuk
menggelincirkannya dengan berbagai sikap, sifat dan aktifitas syirik.
Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi
syirik yang tinggi yaitu mencari Tuhan
lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar
bagi ummat ini, diantaranya banyaknya bencana dan musibah akan dirasakan,
disadari ataupun tidak hal itu diawali dari sikap yang menserikatkan Allah.
Karenanya musibah yang datang di negeri ini, kemarau yang panjang sehingga
sulitnya mendapatkan air, banyak pertanian yang tidak jadi, tumbuh-tumbuhan dan
hewan yang mati, kebakaran hutan dimana-mana, yang otomatis musim paceklik
datang, harga barang-barang kebutuhan naik, sehingga masyarakat dalam keadaan
panik dan susah mencari penghidupan, bila kemarau panjang Nabi menyarankan agar
kita melaksanakan shalat minta hujan sebagai solusinya, minta pertolongan
kepada Allah. Begitu juga ketiga
musim hujan yang lama juga mendatangkan
kesengsaraan kepada manusia, banjir terjadi dimana-mana merendam sekian daerah
yang menyebabkan areal pertanian tidak dapat digarap, dengan curah hujan yang
lebat kemungkinan longsor akan terjadi, jalan sebagai urat nadi transportasi
terputus dan banyak aktivitas yang tidak optimal dilakukan.
Bencana lain seperti gagalnya panen, gempa bumi yang
diiringi dengan tsunami juga akan menelan korban tidak sedikit, kerugian harta
benda sulit diperkirakan ditambah lagi dengan susahnya kehidupan manusia. Hal
itu hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran dan introsfeksi diri karena
segala musibah selain merupakan gejala alam dia juga berkaitan erat dengan
tingkah polah manusia, sikap hidup yang jauh dari agama Allah, ketaatan yang
kamuflasi, kefanatikan yang sebenarnya kemunafikan dalam beragama, aqidah yang
dikotori dengan syirik dan kemaksiatan;
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena
perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Ar
Ruum 30;41].
Dengan
datangnya bala atau bencana, ada upaya yang seharusnya dilakukan seorang
manusia, baik yang berkaitan dengan gejala alam yaitu menserasikan alam ini
sesuai dengan fithrahnya, dijauhkan dari segala yang dapat mendatangkan bencana
seperti tidak melakukan penebangan dan perambahan hutan sembarangan dan menjaga
keseimbangannya, sedangkan yang berkaitan dengan sikap kepribadian manusia maka
harus kembali kepada konsep ketuhanan yaitu meningkatkan kualitas iman menjadi
taqwa, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman;
”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa
disebabkan perbuatannya”.
Tradisi yang
berlansung di negeri yang rawan bencana ini adalah, dikala bencana datang atau
dalam rangka untuk melepaskan negeri dari marabahaya dilakukanlah ritual tolak
bala yang dihiasi pula dengan atribut islam seperti membaca Shalawat, membaca
Barzanji yang terkesan memang demikian yang diajarkan oleh Rasulullah. Pada
sebuah tempat dibawalah sebuah perahu yang sarat dengan bahan makanan diadakan
ritual khusus dibawah pimpinan seorang pawang atau dukun, diantarkan ke tengah
lautan dengan maksud agar penghuni laut tidak murka, bencana yang berasal dari
laut tidak datang.
Ada pula
pada sebuah tempat masyarakat datang beramai-ramai, dilakukan penyembelihan
hewan di bukit dengan bacaaan tahlil sekian ribu kali untuk mengusir kemarau
panjang yang telah menelantarkan areal pertanian masyarakat, sehingga bukit itu
semerbak dengan kemenyan dan berkabut karena asap yang beterbangan, ada kesan
puas dan penuh harap dari yang datang supaya Allah melepaskan mereka dari
musibah.
Pada
waktu-waktu tertentupun dilakukan penyerahan hasil panen ke tempat-tempat
tertentu seperti gunung, bukit, gua dan tempat-tempat keramat lainya sebagai
tanda bersyukur atas panen yang sudah dilaksanakan, harapannya supaya hasil
panen yang akan datang lebih dari hasil sekarang. Bila hal ini tidak dilakukan
maka rasa takut kalau panen yang akan datang tidak baik, penyakit tanaman
menyerang sehingga menyengsarakan kehidupan yang akan datang. Itulah tradisi
masyarakat kita yang masih berlansung hingga kini, walaupun ada membawa-bawa
simbul islam sebenarnya ritual itu jauh sekali dari ajaran islam, banyak
hal-hal syirik yang mereka lakukan, maksud hati ingin menolak bala, menolak
bencana dan musibah tapi dengan cara demikian malah akan mendatangkan bala.
Harapan seorang mukmin hanya boleh ditujukan kepada Allah
bukan kepada yang lain, istilah tauhid disebut dengan tafaul. Tafa'ul artinya
perkataan atau perbuatan yang dipergunakan untuk menggembirakan atau berupa
sugesti, contoh tafa'ul yang dibolehkan yaitu memberi nama anak
"Sugiharto" agar anaknyu jujur dan banyak harta. Memberi nama anak
"Selamat" agar anak selamat hidupnya di dunia dan akherat, memberi
nama anak Mukhlis agar kelak menjadi anak yang ikhlas dalam beribadah.
Sedangkan tafaul yang dilarang seperti pesta panen dengan
acara tradisi, supaya panen yang akan datang cepat dan lebih meningkat. Membaca
sajak al Barzanji agar selamat dalam
perjalanan, orang hamil dilarang membunuh lipan agar tidak lahir anak yang
cacat, orang hamil tidak boleh memancing agar nanti anaknya tidak sumbing,
jangan berangkat hari tertentu supaya tidak mendapat kecelakaan.
Selayaknya
seorang mukmin punya tauhid yang bersih tanpa tercemar oleh faham lainnya,
sifat optimis menatap masa depan dibenarkan dalam islam selama tidak ada unsur
tahayul dan syiriknya. Mengusir bala atau bencana boleh tapi jangan menyebabkan
bencana pula karena salahnya sikap yang dilakukan, tidak boleh menyerahkan
sesuatu berupa kurban ataupun sesajian kepada arwah, jin atau yang dianggap
mendatangkan bencana karena hal itu tidak sesuai dengan keimanan seorang
mukmin, sehingga wajar bila bencana dan musibah selalu datang di negeri ini
karena ummatnya tenggelam dalam kesesatan aqidah walaupun shalat mereka
lakukan, puasa dilaksanakan dan zakat ditunaikan.
Ironinya yang mengajak untuk menolak bala itu adalah para ulama atau
ustadz yang disegani oleh masyarakat sehingga tertanam pada figurnya sikap
pengkultus individuan untuk taqlid atau fanatik buta menerima segala apa yang
diajarkan oleh sang ulama itu.
Fanatikbutaterhadappemikiran orang-orang
tertentuakanmemisahkanantaraseorangmuslimdaridalildanal-haq. Inilahkeadaan
orang-orang yang fanatikbutapadazamankitasekarangini,
Mayoritasterdiridaripengikutsebagianmadzhab-madzab, sufiyyahdanquburiyyun
(penyembah-penyembahkuburan), yang apabilamerekadiseruuntukmengikuti
Al-Kitabdan As-Sunnah, merekamenolaknya.Dan merekajugamenolakapa-apa yang
menyelisihipendapatmereka.Merekaberhujahdenganmadzab-madzab, syaikh-syaikh,
kiyai-kiyai,
bapak-bapaknenekmoyangmereka.Iniadalahpintudarisekianbanyakpintu-pintumasuknyabid’ahkedalam
agama Islam ini.
Setiap kali zamanberjalandanmanusiabertambahjauhdariilmu
yang haq, makasemakinsedikitilmudantersebarlahkebodohan. Makatidakada yang
mampuuntukmenentangdanmelawanbi’dahkecualiilmudanulama.Apabilailmudanulamatelahtiadadenganwafatnyamereka,
bi’dahakanmendapatkankesempatandanberpeluangbesaruntukmunculdanberjayadantokoh-tokohbid’ahbertebaranmenyeretumatkejalansesat.
[IwanSutedi, AntaraSunnah, Bidah Dan Taklid,www.alsofwah.or.id/khutbah]
Untukmeluruskandanmengajakummatkejalan yang
benaradalahparakiyai, tapisayangparakiyaikitapunbergelimangdengansyirik,
kurafatdantahyulsehinggatolakbaladijadikansebuah ritual yang mengandungmagis
yang jauhdarinilai-nilaiislamwalaupundalamacaraituada kata-kata shalawatdanpujiankepada
Allah. Ternyatatidaksemuakiyaiituulama, bahkantidaksemuaulamaitu yang
warasatulanbiya’, adajugakiyaidanulama yang rusakpemikirannya, yang
tercemartauhidnyadengankesyirikan.
Di kalanganmasyarakatJawa,
adadikenalsebutanataugelarkehormatan yang ditujukankepadaulama,
yaituKyai.Namundemikian, gelarKyaibukansatu-satunyasebutanpenghormatan yang
diberikanmasyarakatJawakepadakaumulama.Masihadabeberapasebutan lain
misalnyaWali, Sunan (Susuhunan) danPanembahan.Seiringberjalannyawaktu,
terutamaketikaterjadinasionalisasiistilah-istilahjawa di masaOrdeBaru,
sebutanKyaijugaditempelkankepadaulama non Jawa, padahal di setiapdaerah,
sebelumnyasudaheksissebutankhasuntukparaulamasepertiAjenganuntukmasyarakatJawa
Barat, Buyauntukmasyarakat Sumatera Barat, Tengkuuntukmasyarakat Aceh.
Sedangkan di kalanganmasyarakat Sulawesi Selatan
gelarkehormatan yang diberikankepadakaumulamanyaadalahTofanrita.Untukmasyarakat
Madura dikenalsebutan Nun atauBendara (biasadisingkat Ra).Di
kalanganmasyarakatNusatenggaraseperti Lombok dikenalsebutan Tuan
Guru.Hampirmiripdengan di Lombok,
masyarakatBetawibiasamenyebutulamanyadengansebutan Guru,
tapisebutaninipadaakhirnyakalahpamordibandingkandengansebutanKyaidanHabaib.
Faktanya, sebutanKyaitidakselalumenunjukkepadaseseorang (atausekelompok orang) yang benar-benartelahmengerti Agama Islam dengansegalacabangnya; ataumenunjukkepada Guru Agama Islam yang luaspandangannya.Ada sebutanKyai yang ditujukankepadakalanganpendidiktingkatnasional (sekuler) –biasanyadisingkatmenjadi Ki– misalnya Ki HajarDewantara.Ada jugasebutanKyaiatau Ki yang ditujukankepadasekelompok orang yang mahirmendalang, seperti Ki Dalang.BahkanmaknaKyaiatau Ki jugamenunjukkepadasekelompok orang yang menjalankanprofesiperdukunan yang tergolongmusyrik.Jadi, maknaKyaimemangtidakselalutertujukepadaulama agama Islam yang luasilmupengetahuannya.
Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dansekitarnya), sebutanKyaipadamasasebelumperangkemerdekaanmenunjukkepadaseseorang yang mendudukijabatansetingkatWedana (District-hoofd).DalamistilahsekarangWedanasetaradenganWalikota.Sedangkan di Padang, jugapadamasasebelumperangkemerdekaan, sebutanKyaiberartiCinoTuo, yaitu orang Cina yang telahberusialanjut.
SesungguhnyasebutanKyaitidakdikenal
di dalamterminologi Islam.Bahkansiapa yang
berwenangmemberikangelarKyaikepadaseseorang pun tidakjelasaturanmainnya.Sakingtidakjelasnya,
kinitumbuhfenomena: keturunanKyai yang kemudianmengimami masjid
ataumemimpinpesantren, kepada yang bersangkutansecaraotomatisdisebutKyai pula.
Padahal, ketikabapaknyamasihhidup, sang anakKyaiinitidakpernahdisebutKyaimuda.
Tetapibegitubapaknyameninggal,
makadialangsungdipanggilatausukadipanggildengansebutanKyai,
walaupundarisegikeilmuanmaupunkegiatannyaberjama’ahke masjid
tidaksebandingdenganbapaknya.
Keadaan di
atassangatkontrasbiladisandingkandenganfaktalaintentang orang-orang yang istiqomahdantidakmaudisebutataumenyebutdirinyaKyai.
Antaralain, HAMKA, Prof Dr H Mahmud Yunusdan lain-lain,
padahalmerekaadalahulamaterkemukadanmenulistafsirsertakitab-kitab Islam,
secarakeilmuanmaupunakhlaqnya, merekaadalahulama, alim agama.
Nampaknya, perludiadakangerakan total untukmendudukkanmasalahpadaproporsinya. Istilah-istilah yang tidakjelas, sepertihalnyaKyai, perludibersihkan, dankalauperludienyahkandariterminologi Islam, supaya Islam tidakdikotoridenganpemahaman-pemahaman yang tidakjelas.[KyaiBelumTentuUlama, nahimunkar.com, 6 April 2008].
Nampaknya, perludiadakangerakan total untukmendudukkanmasalahpadaproporsinya. Istilah-istilah yang tidakjelas, sepertihalnyaKyai, perludibersihkan, dankalauperludienyahkandariterminologi Islam, supaya Islam tidakdikotoridenganpemahaman-pemahaman yang tidakjelas.[KyaiBelumTentuUlama, nahimunkar.com, 6 April 2008].
Dari status sajatidakjelastentangkiyaiitusehinggawajarbilaajaran
yang dibawatermasukdalammenolakbaladengancara yang
salahsepertimemberikansesajiankesebuahbukit,
mencampakkanhasilpanenkesebuahlautdangunung agar segalamusibahdanbencanatidakdatangkepadakita,
adajuga yang mendarahibangunanrumah yang
akandibangundengandarahayamdansapisupayapenghunirumahkelakdalamkeadaanrukundandamai,
tukang yang bekerjarumahitudalamkeadaansehatdanamandarigangguanrohjahat,
untukmengatasisemuanyaituadalahiman yang bersihdarinodasyirikdanibadah yang
shalihsertapemikiran yang tidakterkontaminasifaham-faham yang merusakislam, wallahua’lam
[CubadakSolok, 30 Agustus 2011.M/ 01 Syawal 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar