Islam bukan hanya
agama ritual pribadi yang menenggelamkan ummatnya dalam mihrab untuk beribadah
dan bukan pula agama sebatas seremonial yang hanya menampilkan berbagai
aktifitas sacral, tapi islam merupakan agama yang mementingkan hidup pribadi
dengan tidak melupakan kehidupan social, hal yang nyata adalah bagaimana
membangun hubungan yang baik dengan tetangga dan lingkungan sekitarnya.
Kepedulian kepada orang lain dalam
islam dapat diujudkan dalam pemberian santunan, pembayaran zakat, infaq dan
shadaqah serta kebaikan lainnya bahkan juga memikirkan orang lain asfek
lainnya, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan lainnya.
Dari Hudzaifah Bin
Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang tidak ihtimam
(peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.” (HR
At-Tabrani)
Hadits ini banyak diriwayatkan
oleh ahli hadits dengan lafadz dan sanad yang berbeda.Dan dari semua sanad yang
berbeda, para ulama hadits mempermasalahkan keshahihannya.Tetapi para ulama
sepakat bahwa secara lafadz dan makna hadits ini adalah benar dan tidak
bertentangan dengan nilai Islam yang universal.Secara makna hadits ini sesuai
dengan nilai-nilai Islam yang terkait dengan ukhuwah Islamiyah, baik yang
disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits.Allah swt.berfirman: “Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al-Hujuraat:
10)
Rasulullah saw. bersabda,
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan
emosional ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan
seluruh anggota tidak dapat istirahat dan sakit panas.”(Muttafaqun
‘alaihi)
Ihtimam
atau kepedulian, perhatian dan keprihatian kepada nasib umat Islam adalah kata
kunci dari ukhuwah Islam. Kepedulian menunjukkan kepekaan hati dan jiwa yang
hidup sehingga ketika melihat saudaranya menderita, terzhalimi dan sakit, maka
ia akan merasakan apa yang dialami saudaranya. Kemudian berupaya sekuat tenaga
memberikan bantuan yang bisa dilakukan.
Tiada ukhuwah tanpa
kepedulian.Dan ukhuwah merupakan bukti dari keimanan seseorang. “Orang-orang
beriman itu Sesungguhnya bersaudara….” (Al-Hujuraat 10).
Kepedulian juga merupakan titik
tolak dan langkah awal dari dakwah. Seorang yang tidak peduli dan prihatin
dengan kondisi umatnya tidak akan mungkin bergerak dan melangkah melakukan
dakwah. Oleh karena itu ketika Abbas As-Sisi sedang berjalan dengan gurunya
Imam Syahid Hasan Al-Banna, Abbas As-Sisi mendengar informasi bahwa Bosnia
jatuh ke tangan orang kafir. Ia berkata, ”Saya prihatin dan sedih akan nasib
umat Islam di Bosnia.” Maka dengan spontan Imam Syahid Hasan Al-Banna
mengatakan:” Anda telah mulai wahai Abbas”.
Sebelumnya pemimpin para nabi
dan pemimpin seluruh umat manusia, Rasulullah Muhammad saw., ketika pertama
mendapat risalah dakwah, beliau mengatakan, ”Habis sudah waktu untuk tidur,
wahai Khadijah.” Habis sudah waktu untuk bermain-main dan senda gurau. Habis
sudah waktu untuk bersenang-senang di tengah umat Islam yang sedang ditindas
dan dibantai, di tengah umat Islam yang terbelakang, miskin, dan bodoh, di
tengah umat Islam yang lalai dan larut dengan kemaksiatan. Habis sudah waktu
untuk istirahat, rekreasi, dan tertawa-tawa di tengah umat Islam Palestina yang
disembelih dan ditumpas habis oleh Zionis Yahudi.Habis sudah waktu untuk santai
di tengah umat Islam Irak yang sedang dijajah dan diadu domba oleh Amerika
Serikat dan sekutunya.Demikianlah sikap yang mesti dimiliki oleh para pemimpin
umat.
Dan ciri khas pemimpin sangat
terkait dengan kepedulian terhadap umatnya.Kepedulian para pemimpin Islam
terrefleksikan pada keinginan yang kuat untuk menyelamatkan manusia dari
penderitaan, bukan hanya di dunia, tetapi di dunia dan akhirat.Ketika rakyatnya
menderita, miskin, tertindas, maka sikap seorang pemimpin adalah bagaimana bisa
menyelamatkan rakyat dan bangsanya, bukan mencari kesempatan di atas
kesempitan. Dan contoh kepedulian telah dipraktikan oleh Rasulullah saw. dengan
sempurna. Rasulullah saw. adalah manusia yang paling peduli, perhatian dan
paling banyak berkorban untuk umatnya, sebagaimana disebutkan dalam surat
At-Taubah ayat 128.[Tate Qomaruddin, Lc.Kepedulian,dakwatuna,25/6/2007
| 10 Jumadil Akhir 1428 H].
“sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat
terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)
bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”.[At-Taubah
9;128].
Begitu sikap Rasulullah
terhadap ummatnya, beliau menghendaki agar ummatnya semuanya berada dalam islam
dengan keselamatan, fikiran demikian terbukti hingga Rasulullah wafat, bahwa
ketika beliau wafat yang beliau sebut hanya tiga saja yaitu ash shalah, an
nisa’ dan ummati, Rasul mengingatkan kepada ummatnya jangan sampai meninggalkan
shalat, memperhatikan hak-hak terhadap wanita dan mengkhawatirkan keadaan
ummatnya.
Sebuah kisah disampaikan Abu
Khubaisy kepada murid-muridnya. Suatu hari Abdullah bin Umar, khalifah yang
terkenal sebagai pembangun Bait al Maqdis, terserang penyakit. Para asistennya
sangat mengkhawatirkan umur khalifah karena penyakitnya itu.Ternyata, Allah SWT
belum berkenan memanggil Abdullah ke haribaan-Nya.Khalifah berangsur-angsur
pulih.
Setelah kondisi kesehatannya
membaik, sang khalifah berkeinginan untuk menyantap ikan panggang. Mendengar
keinginan itu, para pembantunya langsung mencari ikan dan
memanggangnya.Hidangan ikan panggang yang aromanya begitu memikat meningkatkan
selera makan khalifah.Ia ingin segera menyantapnya.
Pada saat khalifah akan
memulai makan, tiba-tiba muncul seorang musafir yang tampak sangat kelaparan.
Serta-merta, Khalifah Abdullah bin Umar menyuruh pembantunya segera mengangkat
hidangan yang ada di hadapannya dan memberikannya kepada si musafir. Perintah
itu membuat para pembantunya protes sebab merasa jerih payahnya tak dinikmati
khalifah.
Mereka keberatan kalau makanan
tersebut diberikan kepada musafir tadi. "Hidangan ini dengan sengaja kami
buatkan untuk tuan dan sesuai dengan pesanan tuan. Namun, mengapa diberikan
kepada musafir itu?" Khalifah menyampaikan penjelasan kepada pembantunya
mengapa ia urung menyantap hidangan itu.
"Wahai pembantuku,
tahukah kamu bila aku memakan makanan ini, maka sebetulnya itu aku lakukan
karena aku menginginkan dan menyukainya. Tetapi, bila musafir itu memakannya,
itu karena ia benar-benar membutuhkannya. Jadi, sesungguhnya makanan itu lebih
berharga bagi dia daripada untukku," katanya.
Khalifah kemudian menyampaikan
firman Allah, "Kalian sekali-kali tidaklah memperoleh kebajikan sehingga
kalian menyedekahkan apa-apa yang kalian senangi." Kisah di atas sejatinya
mengandung hikmah tertinggi di mana seharusnya kita memiliki rasa peduli
terhadap sesama apalagi dalam situasi darurat dan mendesak.[Sholehudin A Aziz,Peduli
Sesama, Republika.co.id.Senin, 04 April 2011 09:38 WIB].
Kepedulian bukan hanya sebatas diucapkan tapi harus diujudkan dengan
kebaikan, banyak kebaikan yang dapat diberikan kepada orang yang
membutuhkannya, kebaikan itu akan bermanfaat bagi yang menerima juga akan
mendapatkan pahala dari Allah bila dilakukan dengan optimal.
Prof Dr KH Didin
Hafidhuddin mengungkapkan dalam tulisannya tentang optimalisasi dalam kebaikan,
inilah tuturnya;
Optimalisasi dalam berbuat
baik (ihsan) merupakan salah satu watak dan karakter utama orang-orang yang
beriman.Artinya, ketika berbuat kebaikan, dilakukannya penuh dengan
kesungguhan, perencanaan yang matang, pelaksanaan yang terukur, serta evaluasi
yang terarah.Tidak asal mengerjakan atau asal terpenuhi tugas dan kewajibannya.
Rasulullah SAW memberikan
contoh bahwa shalat yang akan diterima itu adalah shalat yang diawali dengan
wudhu yang baik, terpenuhi syarat dan rukunnya, berdiri, ruku, dan sujud yang
dilakukannya secara sempurna dan tuma'ninah. Bahkan, ketika hal ini dilakukan,
shalat pun berdoa kepada Allah SWT: "Ya Allah peliharalah orang ini dengan
sebaik-baiknya karena ia telah memelihara aku dengan penuh kesungguhan."
(HR Imam Bukhari).
Sejalan dengan hal tersebut,
para ulama telah menetapkan tiga syarat utama di dalam beribadah.
Pertama, dilakukan dengan
penuh keikhlasan hanya semata mengharapkan rida Allah SWT. Hal ini sejalan
dengan firman-Nya QS al-Bayyinah (98): 5. "Padahal, mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat.Dan yang demikian itulah agama yang lurus."
Kedua, dalam pelaksanaannya
harus sesuai dengan ketentuan syariah.Tidak semata-mata berdasarkan pada
perasaan atau mungkin tradisi dan kebiasaan saja.Dan yang ketiga adalah
pelaksanaannya senantiasa dilakukan dengan penuh kesungguhan (mujahadah).
Tentu saja, kesungguhan ini
bukan hanya pada ibadah mahdah (wajib), tetapi pada semua pekerjaan, apalagi
yang berkaitan dengan kepentingan publik. Seorang pejabat dinilai bukan
ditentukan oleh banyaknya pekerjaan yang dilakukan ataupun lamanya ia menduduki
jabatan tersebut, tetapi oleh upaya dan kerja yang dilakukannya dengan penuh
kesungguhan mengabdi pada kepentingan bersama.
Misalnya, ia tidak
memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri maupun kelompoknya.
Sebab, jabatan itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan pada
masyarakat dan juga kepada Allah SWT di hari kiamat nanti. Karena itu, dalam
menghadapi situasi politik dan ekonomi sekarang ini yang sering menghadapi
gejolak, maka konsistensi dan optimalisasi para pejabat di dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya merupakan sebuah keniscayaan sekaligus kebutuhan.[Optimal
dalam Kebaikan,Republika.co.id.Jumat, 30 September 2011 15:33 WIB].
Perintah agama untuk berbuat
kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada
derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik
itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya.Namun sesungguhnya dorongan
kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari
hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada
manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau
alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya
sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.
Maka jika Allah memerintahkan
kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada
kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain,
berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat
dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan
kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu.
Karena itu, dari perspektif
ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita
bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak
membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan
baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu
sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat :46, “Barang siapa
berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat
jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”
Berbagai kajian ilmiah
mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach out, mengulurkan
tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali
kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kemudian kita
menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk
kepentingan orang tersebut.Tetapi, dalam perenungan yang lebih mendalam,
seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan
bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena
perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas
untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. Kita dibimbing
oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan yang
luas,lapang dan penuh harapan (Nurcholis Madjid, 1999 : 186-187)
Inilah salah satu makna janji
Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al-Zumar : 10 “Katakanlah
(Muhammad), “wahai-wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.”
Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan
bumi Allah itu luas.Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan
pehalanya tanpa batas.”
Drs H Hamzah Ya’kub
menyebutkan ada beberapa faktor penting dalam membentuk etika atau akhlak yang
baik yang akan menghasilkan amal shalih. Dalam bahasa sekarang diistilahkan
dengan pembentukan karakter (character building). Beberapa faktor tersebut
antara lain : manusia (subjek), instink (naluri), Kebiasaan (habit), Keturunan
(hereditas/nasab), lingkungan, ‘Azzam (tekad/motivasi kuat), Suara batin, dan
pendidikan (tarbiyah). [Ihsan Faisal Mag, Hikmah: Keshalihan Sosial, Republika
OnLineRabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].
Salah satu aktualisasi
kepedulian dalam islam adalah pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan setiap
tahun oleh ummat islam yang mampu untuk melakukannya. Nilai kemanusiaan dalam
ibadah qurban sudah sangat jelasa dan gambling.Aktualisasi taqwa yang memberikan
manfaat dan kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya.
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar
Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama
Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat).
kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri
makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)
dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu
kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan
darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.Demikianlah Allah telah
menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya
kepada kamu.dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
QS. Al Hajj;36-37].
Solidaritas dan soliditas
sosial begitu kuat bagi umat ini ketika bencana itu datang.Perhatian dan empati
kepada sesama datang dari semua arah dan sisi.Satu fakta yang menegaskan bahwa
harmoni kehidupan itu dalam solidaritas dan soliditas.Berbagi dan berempati
adalah bukti kemanusiaan.Tolong menolong adalah pilar peradaban. Sifat egois,
tidak peduli kepada orang lain adalah cacat peradaban.
Inilah poin penting yang perlu
kita garis bawahi, kepedulian kepada sesama, tidak melakukan perbuatan yang
membuat celaka dan bahaya bagi orang lain.
Ketika menjadi anak ia pandai
membahagiakan orang tua, tidak membuatnya susah dan menderita, menjadi
kebanggaan dan pelita hati mereka.
Jika manusia wafat, terputus
semua amalnya kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat
atau anak shalih yang mendoakannya
Ketika menjadi suami, pandai
membahagiakan istri dan anak-anaknya, tidak melakukan perbuatan yang mengganggu
perasaan dan eksistensinya, demikian juga ketika menjadi istri, ia pandai
membahagiakan suami, dan anak-anaknya, menyayangi mereka dengan penuh cinta.
Orang beriman yang paling
sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian
adalah yang terbaik baik keluarganya.
Ketika menjadi tetangga, ia
adalah tetanga yang baik yang tidak menjadi ancaman bagi tetangga lainnya,
mampu menghadirkan rasa aman dan kehormatan bagi tetangga di sekitarnya.
Menjauhi segala tindakan dan perbuatan yang mengganggu apalagi melukainya
Tidak hentinya Jibril
mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sehingga saya menduga bahwa ia akan
memberikan warisan kepadanya.
Ketika menjadi pejabat ia
berguna bagi rakyatnya, tidak melakukan perbuatan yang merugikan, memberatkan,
apalagi mendzaliminya.[H. Muhith Muhammad Ishaq, Lc. MPdI,Khutbah Idul Adha 1431 H:
Tauhid dan Kepedulian ,Dakwatuna.com.4/11/2010 | 27 Zulqaedah 1431 H].
Karena demikian pentingnya sikap peduli kepada sesame sampai Rasulullah
cukup menyatakan,”Bukan ummatku yang tidak memperhatikan ummat islam lainnya”,
apalagi ummat islam yang perlu diperhatikan itu termasuk dari keluarga dan
kerabat kita tentu tidak boleh diabaikan, sampai-sampai kepedulian kepada orang
lain itu termasuk kepada anak yatim,
Rasul menggambarkan mereka kelak di syurga berdekatan dengan beliau, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November
2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar