Selasa, 16 Februari 2016

223. Kepedulian



Islam bukan hanya agama ritual pribadi yang menenggelamkan ummatnya dalam mihrab untuk beribadah dan bukan pula agama sebatas seremonial yang hanya menampilkan berbagai aktifitas sacral, tapi islam merupakan agama yang mementingkan hidup pribadi dengan tidak melupakan kehidupan social, hal yang nyata adalah bagaimana membangun hubungan yang baik dengan tetangga dan  lingkungan sekitarnya.

            Kepedulian kepada orang lain dalam islam dapat diujudkan dalam pemberian santunan, pembayaran zakat, infaq dan shadaqah serta kebaikan lainnya bahkan juga memikirkan orang lain asfek lainnya, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan lainnya. 
Dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.” (HR At-Tabrani) 

Hadits ini banyak diriwayatkan oleh ahli hadits dengan lafadz dan sanad yang berbeda.Dan dari semua sanad yang berbeda, para ulama hadits mempermasalahkan keshahihannya.Tetapi para ulama sepakat bahwa secara lafadz dan makna hadits ini adalah benar dan tidak bertentangan dengan nilai Islam yang universal.Secara makna hadits ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang terkait dengan ukhuwah Islamiyah, baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits.Allah swt.berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al-Hujuraat: 10)

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota tidak dapat istirahat dan sakit panas.”(Muttafaqun ‘alaihi)

Ihtimam atau kepedulian, perhatian dan keprihatian kepada nasib umat Islam adalah kata kunci dari ukhuwah Islam. Kepedulian menunjukkan kepekaan hati dan jiwa yang hidup sehingga ketika melihat saudaranya menderita, terzhalimi dan sakit, maka ia akan merasakan apa yang dialami saudaranya. Kemudian berupaya sekuat tenaga memberikan bantuan yang bisa dilakukan.

Tiada ukhuwah tanpa kepedulian.Dan ukhuwah merupakan bukti dari keimanan seseorang. “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara….” (Al-Hujuraat 10).

Kepedulian juga merupakan titik tolak dan langkah awal dari dakwah. Seorang yang tidak peduli dan prihatin dengan kondisi umatnya tidak akan mungkin bergerak dan melangkah melakukan dakwah. Oleh karena itu ketika Abbas As-Sisi sedang berjalan dengan gurunya Imam Syahid Hasan Al-Banna, Abbas As-Sisi mendengar informasi bahwa Bosnia jatuh ke tangan orang kafir. Ia berkata, ”Saya prihatin dan sedih akan nasib umat Islam di Bosnia.” Maka dengan spontan Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan:” Anda telah mulai wahai Abbas”.

Sebelumnya pemimpin para nabi dan pemimpin seluruh umat manusia, Rasulullah Muhammad saw., ketika pertama mendapat risalah dakwah, beliau mengatakan, ”Habis sudah waktu untuk tidur, wahai Khadijah.” Habis sudah waktu untuk bermain-main dan senda gurau. Habis sudah waktu untuk bersenang-senang di tengah umat Islam yang sedang ditindas dan dibantai, di tengah umat Islam yang terbelakang, miskin, dan bodoh, di tengah umat Islam yang lalai dan larut dengan kemaksiatan. Habis sudah waktu untuk istirahat, rekreasi, dan tertawa-tawa di tengah umat Islam Palestina yang disembelih dan ditumpas habis oleh Zionis Yahudi.Habis sudah waktu untuk santai di tengah umat Islam Irak yang sedang dijajah dan diadu domba oleh Amerika Serikat dan sekutunya.Demikianlah sikap yang mesti dimiliki oleh para pemimpin umat.

Dan ciri khas pemimpin sangat terkait dengan kepedulian terhadap umatnya.Kepedulian para pemimpin Islam terrefleksikan pada keinginan yang kuat untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan, bukan hanya di dunia, tetapi di dunia dan akhirat.Ketika rakyatnya menderita, miskin, tertindas, maka sikap seorang pemimpin adalah bagaimana bisa menyelamatkan rakyat dan bangsanya, bukan mencari kesempatan di atas kesempitan. Dan contoh kepedulian telah dipraktikan oleh Rasulullah saw. dengan sempurna. Rasulullah saw. adalah manusia yang paling peduli, perhatian dan paling banyak berkorban untuk umatnya, sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 128.[Tate Qomaruddin, Lc.Kepedulian,dakwatuna,25/6/2007 | 10 Jumadil Akhir 1428 H].

“sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”.[At-Taubah 9;128].

Begitu sikap Rasulullah terhadap ummatnya, beliau menghendaki agar ummatnya semuanya berada dalam islam dengan keselamatan, fikiran demikian terbukti hingga Rasulullah wafat, bahwa ketika beliau wafat yang beliau sebut hanya tiga saja yaitu ash shalah, an nisa’ dan ummati, Rasul mengingatkan kepada ummatnya jangan sampai meninggalkan shalat, memperhatikan hak-hak terhadap wanita dan mengkhawatirkan keadaan ummatnya.

Sebuah kisah disampaikan Abu Khubaisy kepada murid-muridnya. Suatu hari Abdullah bin Umar, khalifah yang terkenal sebagai pembangun Bait al Maqdis, terserang penyakit. Para asistennya sangat mengkhawatirkan umur khalifah karena penyakitnya itu.Ternyata, Allah SWT belum berkenan memanggil Abdullah ke haribaan-Nya.Khalifah berangsur-angsur pulih.

Setelah kondisi kesehatannya membaik, sang khalifah berkeinginan untuk menyantap ikan panggang. Mendengar keinginan itu, para pembantunya langsung mencari ikan dan memanggangnya.Hidangan ikan panggang yang aromanya begitu memikat meningkatkan selera makan khalifah.Ia ingin segera menyantapnya.

Pada saat khalifah akan memulai makan, tiba-tiba muncul seorang musafir yang tampak sangat kelaparan. Serta-merta, Khalifah Abdullah bin Umar menyuruh pembantunya segera mengangkat hidangan yang ada di hadapannya dan memberikannya kepada si musafir. Perintah itu membuat para pembantunya protes sebab merasa jerih payahnya tak dinikmati khalifah.

Mereka keberatan kalau makanan tersebut diberikan kepada musafir tadi. "Hidangan ini dengan sengaja kami buatkan untuk tuan dan sesuai dengan pesanan tuan. Namun, mengapa diberikan kepada musafir itu?" Khalifah menyampaikan penjelasan kepada pembantunya mengapa ia urung menyantap hidangan itu.

"Wahai pembantuku, tahukah kamu bila aku memakan makanan ini, maka sebetulnya itu aku lakukan karena aku menginginkan dan menyukainya. Tetapi, bila musafir itu memakannya, itu karena ia benar-benar membutuhkannya. Jadi, sesungguhnya makanan itu lebih berharga bagi dia daripada untukku," katanya.

Khalifah kemudian menyampaikan firman Allah, "Kalian sekali-kali tidaklah memperoleh kebajikan sehingga kalian menyedekahkan apa-apa yang kalian senangi." Kisah di atas sejatinya mengandung hikmah tertinggi di mana seharusnya kita memiliki rasa peduli terhadap sesama apalagi dalam situasi darurat dan mendesak.[Sholehudin A Aziz,Peduli Sesama, Republika.co.id.Senin, 04 April 2011 09:38 WIB].

Kepedulian bukan hanya sebatas diucapkan tapi harus diujudkan dengan kebaikan, banyak kebaikan yang dapat diberikan kepada orang yang membutuhkannya, kebaikan itu akan bermanfaat bagi yang menerima juga akan mendapatkan pahala dari Allah bila dilakukan dengan optimal.

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengungkapkan dalam tulisannya tentang optimalisasi dalam kebaikan, inilah tuturnya;

Optimalisasi dalam berbuat baik (ihsan) merupakan salah satu watak dan karakter utama orang-orang yang beriman.Artinya, ketika berbuat kebaikan, dilakukannya penuh dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, pelaksanaan yang terukur, serta evaluasi yang terarah.Tidak asal mengerjakan atau asal terpenuhi tugas dan kewajibannya.

Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa shalat yang akan diterima itu adalah shalat yang diawali dengan wudhu yang baik, terpenuhi syarat dan rukunnya, berdiri, ruku, dan sujud yang dilakukannya secara sempurna dan tuma'ninah. Bahkan, ketika hal ini dilakukan, shalat pun berdoa kepada Allah SWT: "Ya Allah peliharalah orang ini dengan sebaik-baiknya karena ia telah memelihara aku dengan penuh kesungguhan." (HR Imam Bukhari).

Sejalan dengan hal tersebut, para ulama telah menetapkan tiga syarat utama di dalam beribadah.
Pertama, dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya semata mengharapkan rida Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman-Nya QS al-Bayyinah (98): 5. "Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.Dan yang demikian itulah agama yang lurus."

Kedua, dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan syariah.Tidak semata-mata berdasarkan pada perasaan atau mungkin tradisi dan kebiasaan saja.Dan yang ketiga adalah pelaksanaannya senantiasa dilakukan dengan penuh kesungguhan (mujahadah).

Tentu saja, kesungguhan ini bukan hanya pada ibadah mahdah (wajib), tetapi pada semua pekerjaan, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan publik. Seorang pejabat dinilai bukan ditentukan oleh banyaknya pekerjaan yang dilakukan ataupun lamanya ia menduduki jabatan tersebut, tetapi oleh upaya dan kerja yang dilakukannya dengan penuh kesungguhan mengabdi pada kepentingan bersama.

Misalnya, ia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri maupun kelompoknya. Sebab, jabatan itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan pada masyarakat dan juga kepada Allah SWT di hari kiamat nanti. Karena itu, dalam menghadapi situasi politik dan ekonomi sekarang ini yang sering menghadapi gejolak, maka konsistensi dan optimalisasi para pejabat di dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya merupakan sebuah keniscayaan sekaligus kebutuhan.[Optimal dalam Kebaikan,Republika.co.id.Jumat, 30 September 2011 15:33 WIB].

Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya.Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.

Maka jika Allah memerintahkan kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu.

Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat :46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”

Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach out,  mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang tersebut.Tetapi, dalam perenungan yang lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan yang luas,lapang dan penuh harapan (Nurcholis Madjid, 1999 : 186-187)

Inilah salah satu makna janji Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al-Zumar : 10   “Katakanlah (Muhammad), “wahai-wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas.Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pehalanya tanpa batas.”

Drs H Hamzah Ya’kub menyebutkan ada beberapa faktor penting dalam membentuk etika atau akhlak yang baik yang akan menghasilkan amal shalih. Dalam bahasa sekarang diistilahkan dengan pembentukan karakter (character building). Beberapa faktor tersebut antara lain : manusia (subjek), instink (naluri), Kebiasaan (habit), Keturunan (hereditas/nasab), lingkungan, ‘Azzam (tekad/motivasi kuat), Suara batin, dan pendidikan (tarbiyah). [Ihsan Faisal Mag, Hikmah: Keshalihan Sosial, Republika OnLineRabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].

Salah satu aktualisasi kepedulian dalam islam adalah pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan setiap tahun oleh ummat islam yang mampu untuk melakukannya. Nilai kemanusiaan dalam ibadah qurban sudah sangat jelasa dan gambling.Aktualisasi taqwa yang memberikan manfaat dan kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya.
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.  Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. Al Hajj;36-37].

Solidaritas dan soliditas sosial begitu kuat bagi umat ini ketika bencana itu datang.Perhatian dan empati kepada sesama datang dari semua arah dan sisi.Satu fakta yang menegaskan bahwa harmoni kehidupan itu dalam solidaritas dan soliditas.Berbagi dan berempati adalah bukti kemanusiaan.Tolong menolong adalah pilar peradaban. Sifat egois, tidak peduli kepada orang lain adalah cacat peradaban.

Inilah poin penting yang perlu kita garis bawahi, kepedulian kepada sesama, tidak melakukan perbuatan yang membuat celaka dan bahaya bagi orang lain.
Ketika menjadi anak ia pandai membahagiakan orang tua, tidak membuatnya susah dan menderita, menjadi kebanggaan dan pelita hati mereka.

Jika manusia wafat, terputus semua amalnya kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya

Ketika menjadi suami, pandai membahagiakan istri dan anak-anaknya, tidak melakukan perbuatan yang mengganggu perasaan dan eksistensinya, demikian juga ketika menjadi istri, ia pandai membahagiakan suami, dan anak-anaknya, menyayangi mereka dengan penuh cinta.

Orang beriman yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik baik keluarganya.

Ketika menjadi tetangga, ia adalah tetanga yang baik yang tidak menjadi ancaman bagi tetangga lainnya, mampu menghadirkan rasa aman dan kehormatan bagi tetangga di sekitarnya. Menjauhi segala tindakan dan perbuatan yang mengganggu apalagi melukainya

Tidak hentinya Jibril mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sehingga saya menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.

Ketika menjadi pejabat ia berguna bagi rakyatnya, tidak melakukan perbuatan yang merugikan, memberatkan, apalagi mendzaliminya.[H. Muhith Muhammad Ishaq, Lc. MPdI,Khutbah Idul Adha 1431 H: Tauhid dan Kepedulian ,Dakwatuna.com.4/11/2010 | 27 Zulqaedah 1431 H].

Karena demikian pentingnya sikap peduli kepada sesame sampai Rasulullah cukup menyatakan,”Bukan ummatku yang tidak memperhatikan ummat islam lainnya”, apalagi ummat islam yang perlu diperhatikan itu termasuk dari keluarga dan kerabat kita tentu tidak boleh diabaikan, sampai-sampai kepedulian kepada orang lain itu termasuk kepada anak yatim,  Rasul menggambarkan mereka kelak di syurga berdekatan dengan beliau, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar