Di alam raya ini
hanya ada satu yang berkuasa, yang menciptakan, memelihara dan mengawasi
ciptaan-Nya yaitu Tuhan, sedangkan yang lainnya ada hasil ciptaan yang disebut
dengan makhluk, termasuk didalamnya adalah manusia. Kepercayaan manusia kepada
Tuhan beragam keyakinan, ada yang menjadikan hewan, benda-benda dan sesuatu
yang ghaib sebagai tuhannya, ada pula
yang menjelmakan tuhanya dalam bentuk patung dari batu dan kayu, tidak sedikit
pula yang menjadikan tuhan itu sebagai sahabatnya sehingga dianggap tuhan itu
telah menyatu dalam dirinya.
Kalau kita telusuri sejarah
kehidupan manusia, sejak penciptaan Adam As telah diinformasikan tentang
eksistensi Tuhan melalui ayat-ayat-Nya pada beberapa Kitab yang diturunkan
kepada para nabi dan rasul, karena panjangnya perjalanan sejarah sehingga
terjadi penyimpangan keyakinan pada manusia, inilah yang menjadikan adanya
manusia menyembah patung, batu, gunung, pohon, jin, malaikat dan benda-benda
lainnya, sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim ketika dia masih muda beliau,
melihat masyarakat sekitarnya bahkan orangtuanya sendiri membuat dan menyembah
berhala.
Beliau
menganggap mustahil bahawa patung-patung yang terbuat dari kayu-kayu dan batu-
batuan itu menjadi tuhan bagi kaumnya.Ibrahim keluar dari rumahnya menuju ke
gunung.Beliau berjalan sendirian di tengah kegelapan.Beliau memilih salah satu
gua di gunung, lalu beliau rnenyandarkan punggungnya dalam keadaan duduk
termenung.Beliau memperhatikan langit.Beliau mulai bosan memandang bumi yang
dipenuhi dengan suasana jahiliah yang bersandarkan kepada berhala.
Tidak
lama setelah Nabi Ibrahim memperhatikan langit kemudian beliau melihat-lihat
berbagai bintang yang disembah di bumi. Saat itu hati Nabi Ibrahim - sebagai
pemuda yang masih belia - merasakan kesedihan yang luar biasa. Lalu
beliau melihat apa yang di belakang bulan dan bintang. Hal itu sangat
mengagumkannya.Mengapa manusia justru menyembah ciptaan Tuhan?Bukankah semua
itu muncul dan tenggelam dengan izin- Nya. Nabi Ibrahim mengalami dialog
internal dalam dirinya. Allah SWT menceritakan keadaan ini dalam surah
al-An'am:
"Dan
(ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: 'Pantaskah kamu
menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu
dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.'Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada
Ibrahim tanda- tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan
Kami (memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang
yakin.Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia
berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata:
'Saya tidak suka kepada yang tenggelam.'" (QS. al-An'am: 74-76)
Al-Quran
tidak menceritakan kepada kita peristiwa atau suasana yang dialami Ibrahim saat
menyatakan sikapnya dalam hal itu, tapi kita merasa dari konteks ayat tersebut
bahawa pengumuman ini terjadi di antara kaumnya.Dan tampak bahawa kaumnya
merasa puas dengan hal tersebut.Mereka mengira bahawa Ibrahim menolak penyembahan
berhala dan cenderung pada penyembahan bintang.Kita ketahui bahawa di zaman
Nabi Ibrahim manusia menjadi tiga bahagian. Sebahagian mereka menyembah berhala
sebahagian lagi menyembah bintang, dan sebahagian yang lain menyembah para
raja. Namun di saat pagi, Nabi Ibrahim mengingatkan kaumnya dan membikin mereka
terkejut di mana bintang-bintang yang diyakininya kelmarin kini telah
tenggelam. Ibrahim mengatakan bahawa ia tidak menyukai yang tenggelam. Allah
SWT berfirman: "Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu)
dia berkata: 'Inilah Tuhanku.'" (QS. al-An'am: 76)
Ibrahim
kembali merenung dan memberitahukan kaumnya pada malam kedua bahawa bulan
adalah tuhannnya. Kaum Nabi Ibrahim tidak mengetahui atau tidak memiliki
kapasiti logik yang cukup atau kecerdasan yang cukup, bahawa sebenarnya Ibrahim
ingin menyedarkan dengan cara sangat lembut dan penuh cinta. Bagaimana mereka
menyembah tuhan yang terkadang tersembunyi dan terkadang muncul atau terkadang
terbit dan terkadang tenggelam.Mula-mula kaum Nabi Ibrahim tidak mengetahui
yang demikian itu. Pertama-tama Ibrahim menyanjung bulan tetapi ternyata bulan
seperti bintang yang lain, ia pun muncul dan tenggelam: Allah SWT berfirman: "Kemudian
tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi
setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak
memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'" (QS. al-An'am: 77)
Kita
perhatikan di sini bahawa beliau berbicara dengan kaumnya tentang penolakan
penyembahan terhadap bulan.Ibrahim berhasil "merobek" keyakinan
terhadap penyembahan bulan dengan penuh kelembutan dan ketenangan.Bagaimana
manusia menyembah tuhan yang terkadang tersembunyi dan terkadang muncul. Sungguh,
kata Ibrahim, betapa aku membayangkan apa yang terjadi padaku jika Tuhan tidak
membimbingku. Nabi Ibrahim mengisyaratkan kepada mereka bahawa beliau memiliki
Tuhan, bukan seperti tuhan-tuhan yang mereka sembah.Namun lagi-lagi mereka
belum mampu menangkap isyarat Nabi Ibrahim.Beliau pun kembali menggunakan
argumentasi untuk menundukkan kelompok pertama dari kaumnya, yaitu penyembah
bintang. Allah SWT berfirman: "Kemudian tatkala dia melihat matahari
terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala
matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri
dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang
benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'" (QS. al-An'am: 78-79)
Ibrahim
berdialog dengan penyembah matahari.Beliau memberitahukan bahawa matahari
adalah tuhannya kerana dia yang terbesar.Lagi-lagi Ibrahim memainkan peran yang
penting dalam rangka menggugah fikiran mereka.Para penyembah matahari tidak
mengetahui bahawa mereka menyembah makhluk. Jika mereka mengira bahawa ia
adalah besar, maka Allah SWT Maha Besar.
Setelah
Ibrahim memberitahukan bahawa matahari adalah tuhannya, beliau menunggu saat
yang tepat sehingga matahari itu tenggelam dan ternyata benar dia bagaikan
sembahan-sembahan yang lain yang suatu saat akan tenggelam. Setelah itu Ibrahim
memploklamirkan bahawa beliau terbebas dari penyembahan bintang.
Ibrahim
mulai memandang dan memberikan pengarahan kepada kaumnya bahawa di sana ada
Pencipta langit dan bumi. Argumentasi Ibrahim mampu memunculkan kebenaran,
tetapi sebagaimana biasa kebatilan tidak tunduk begitu saja.Mereka mulai
menampakkan taringnya dan mulai menggugat keberadaan dan kenekatan Ibrahim
as.Mereka mulai menentang Nabi Ibrahim dan mulai mendebatnya dan bahkan
mengancamnya. Allah SWT berfirman:
"Dan
dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku
tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan
aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu
persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka)
itu.Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu
tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya) ? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu
persekutukan (dengan Allah) padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan
sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk
mempersekutukan-Nya.Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak
mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui)?'" (QS. al-An'am: 80-81)
Kita
tidak mengetahui sampai sejauh mana ketajaman pergelutan antara Nabi Ibrahim
dan kaumnya, dan bagaimana cara mereka menakut-nakuti Nabi Ibrahim. Al-Quran
tidak menyinggung hal tersebut.Namun yang jelas, tempat mereka yang penuh
kebatilan itu mampu dilumpuhkan oleh Al-Quran.Dari cerita tersebut, Al-Quran
mengemukakan Nabi bahawa Ibrahim menggunakan logik seorang yang berfikir
sehat.Menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dari kaumnya, Nabi Ibrahim
justru mendapatkan kedamaian dan tidak takut kepada mereka. Allah SWT
berfirman: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan
kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka
itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. " (QS. al-An'am: 82)
Allah
SWT selalu memberikan hujah atau argumentasi yang kuat kepada Nabi Ibrahim
sehingga beliau mampu menghadapi kaumnya. Allah SWT berfirman: "Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan
kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami
kehendaki beberapa darjat.Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui." (QS. al-An'am: 83)
Ibrahim
didukung oleh Allah SWT dan diperlihatkan kerajaan langit dan bumi. Demikianlah
Nabi Ibrahim terus melanjutkan penentangan pada penyembahan berhala.[Pak Ndak, Nabi Ibrahim, - Kisah Nabi-nabi
Allah].
Tuhan
bagi seorang muslim disebut dengan Allah, yang merupakan keyakinan dasar untuk
meyakini asfek-asfek keimanan lainnya, kata Tuhan adalah kata yang digunakan
secara umum, ada yang menyebutnya dewa
da nada juga yang menyebutnya Bapa yang ditujukan kepada Tuhan, walaupun
demikian sebenarnya kata Tuhan tidak layak untuk Allah, karena Allah itu bukan
hanya sebagai Pencipta dan Pemelihara alam raya ini saja tapi juga yang disembah,
dicintai, ditaati bagi makhluk-Nya.
Hizbullah
Mahmud dalam tulisannya mengungkapkan kejahilan kelompok Liberal yang
menyamakan Allah dengan Tuhan-tuhan yang lain, sebagaimana disebutkan dibawahini;
Website
Islamlib.com menerjemahkan Bismillahirrohmanirrohim menjadi "Dengan
nama Allah Tuhan pengasih Tuhan penyayang Tuhan segala agama. Tulisan
ini mendiskusikan lagi makna "Tuhan"
Saya
cukup tercenggang takkala membuka website islamlib.com, ketika akan
memasuki website tersebut menemukan terjemahan Bismillahirrohmanirrohim diterjemahkan
menjadi "Dengan nama Allah Tuhan pengasih Tuhan penyayang Tuhan segala
agama. Hanya saja 3 kata terakhirnya tidak termasuk dalam terjemahan kata Basmallah
diatas (Tuhan segala agama).
Secara
sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa makna Allah disamakan dengan makna
tuhan.yang membedakan antara tuhan-tuhan yang lain dengan Allah hanyalah huruf
T besar diawalnya. Bila T nya huruf besar maka itu maknanya sama dengan Allah
dan bila t nya kecil maka itu maknanya tuhan-tuhan selain Allah. Dalam
penulisan mungkin bisa dilihat perbedaannya tapi dalam pengucapan nyaris tak
ada beda.
Pencetus
makna Allah juga dimaknai dengan Tuhan, adalah Almarhum Prof. Dr Nurcholis
Majid . Pada waktu itu beliau menterjemahkan kalimat "la ilahaillallah"
dengan tidak ada tuhan selain Tuhan atau dalam Bahasa Inggrisnya there
is not any god but the God.
Terjemah
seperti ini selain tidak benar, juga membuat kekacauan, membuat kebingungan,
mendangkalkan aqidah dan menghancurkan tauhid.Terjemah tersebut seperti yang
dilakukan oleh kaum orientalis dan ahli injil.
Terjemah
ala Prof. Dr Nurcholis Majid tersebut mengundang perhatian para pakar muslim
dan ulama, selain janggal dan aneh juga menunjukkan adanya berbagai kelemahan
dari berbagai segi yang berarti banyak kesalahannya. Khususnya dilihat dari
segi bahasa dan Aqidah Islamiyah.
Lebih
jauh dia mengungkapkan pendapat Abul A’la Al Maududi yang menerjemahkan kata
Tuhan dengan Ilah.
Pakar
dan ulama besar dari Pakistan Abul A'la Maududi menyebut ma'rifah (definite
article) dari kata ilah yang berarti tuhan dengan al ilah jadi bukan dengan
sebutan Allah tegasnya.Ma'rifah dari ilah itu al illah dan
bukan Allah.hal ini banyak ditemukan dalam kitab Musthalahatul Fil Qur'an.
Kata
Allah dalam Alqur'an disebut ulang oleh Allah sebanyak 2679 kali semuanya dalam
bentuk tunggal, karena memang tidak memiliki bentuk tatsniyah dan jama' sesuai
dengan firman-Nya "Allahu ahad" yang berarti Allah maha Tunggal/Esa.
Hal ini akan berbeda dengan kata ilah yang berarti tuhan. Didalam Al-Qur'an
oleh Allah kata ilah disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrod,
ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali dan aalihah dalam bentuk jama' disebut
ulang sebanyak 34 kali.
Berdasarkan
disiplin ilmu dalam bahasa Arab, apabila isim nakiroh (indefinite
article) dapat ditatsniyahkan dan dijama'kan, maka isim ma'rifaah (definite
article) juga demikian.
Kita
telah mengetahui bahwa dalam Alqur'an tatsniyah dan jama' dari kata ilah
masing-masing disebut 2 kali dan 34 kali.Tetapi tidak ditemukan satupun tatsniyah
dan jama' dari kata Allah.
Berdasarkan
pengertian tersebut maka kelemahan Prof. Dr Nurkholis dari segi bahasa
diantaranya, menterjemahkan Allah diartikan Tuhan, menyamakan arti ilah dengan
Allah, memandang alif dan lam pada kata Allah ma'rifah dari isim nakiroh ilah,
terjemah hanya memperhatikan etimologinya, standar terjemah menggunakan bahasa
inggris.
Sebagai
akibat dari terjemah yang hanya memperhatikan dari segi etimologinya dan adanya
kesalahan Allah diartikan yang sama dengan ilah yang berarti tuhan, maka dari
segi makna nilai tauhid menjadi kabur dan hancur.
Karena
Allah yang Maha Esa dengan terjemah tersebut menjadi tidak diakui keesaannya
lagi.Sebab setiap kata ilah yang berarti tuhan dapat dijadikan Allah dengan
menambah al sebagai ma'rifahnya. Hal ini jelas akan merusak dan bertentangan
dengan firman Allah.
Untuk
itu dalam memahami kalimat tauhid tersebut harus diperhatikan empat kata yang
diterjemahkan, berikut disiplin ilmu dan berbagai dalil yang terkait.Agar hasil
terjemahnya tidak ada kesan merusak dan dalam memahami kalimat tauhid tersebut
dapat tepat. Selain karena tidak akan bertentangan dengan dalil lain, juga akan
selalu mendukung dengan dalil lain yang terkait.
Para
ulama dalam memahami Al-Qur'an dan Assunnah yang menegakkan displin ilmu,
hasilnya selalu dikontrol.Hal itu dilakukan agar kemungkinan terjadi kesalahan
segera dapat diralat dan dibetulkan.
Standar
nilai benar yang dijadikan tolak ukur adalah dalilAl-Qur'an dan Assunnah juga
khususnya dalil yang sejenis. Apakah dari berbagai dalil sejenis tersebut
sesuai dan memberi dukungan, ataukah bertentangan yang berarti tidak benar.[Mengkritisi
Kembali Makna "Tuhan"Hidayatullah.com.Jumat, 21 Oktober 2005].
Bahkan agama Kristenpun menyebut Tuhannya dengan
nama Allah, hal ini selain keyakinan mendasar tapi lebih tepat adalah
memberikan kerancuan terhadap ummat islam sebagai upaya melajukan Kristenisasi
di seantero dunia, sebagaimana yagn terjadi di Malaysia yang diungkap oleh
Hidayatullah.com.
Dalam sebuah pernyataan kepada
media, Uskup Paul Tan Chee Ing, Ketua Malaysian Christian Federation, mengaku
bahwa kata "Allah" digunakan oleh Arab-Kristen sebelum Islam
didirikan dan mengatakan larangan itu melanggar kebebasan beragama yang
digariskan konstitusi.
"Kata 'Allah' adalah kata
pra-Islam yang digunakan Arab Kristiani sebelum Islam ada," kata Ing."Kami
mempertahankan dan kami selalu mengatakan kepada pemerintah bahwa kami
mempunyai hak untuk menggunakan kata 'Allah' dalam publikasi baik itu dalam
Bahasa Malaysia atasu sebaliknya."
Perdebatan mengenai penggunaan kata
"Allah" dimulai saat pemerintah Malaysia mengancam untuk mencabut
izin penerbitan sebuah tabloid Katolik lokal. Sebagai responnya, The Herald,
koran mingguan Gereja Katolik di Malaysia, melayangkan gugatan kepada
pemerintah bulan lalu, mengklaim bahwa larangan tersebut tidak konstitusional
dan melanggar kebebasan beragama.
Tidak lama setelah Herald
melayangkan gugatannya, pemerintah mundur, dan mengirimkan fax kepada editor
Herald yang menyatakan koran itu akan mendapatkan izin 2008 tanpa syarat
apapun, demikian kutip BBC.Akan tetapi, posisi pemerintah nampaknya berubah
lagi saat menteri untuk urusan Islam, Abdullah Zin, mengatakan kepada pers
bahwa kabinet telah menyetujui bahwa kata itu hanya boleh digunakan oleh
Muslim.
Zin berkata kabinet menyepakati
bahwa kata "Allah", mengacu pada Tuhan MUslim dan hanya bisa
digunakan oleh umat Muslim, yang terdiri dari 60 persen dalam populasi
Malaysia.
Awal bulan ini, Zin telah
menjelaskan bahwa penggunaan Kata "Allah" oleh agama lain kita dapat
menimbulkan sensitivitas dan menyebabkan kekacauan diantara umat Islam.
Desember lalu, sebuah majalah
Katolik di Malaysia, mengatakan pemerintah Malaysiatelah memperbarui
keputusannya dengan pelarangan penggunaan kata ''Allah'' dalam tulisan media
Kristen.Pemerintah sendiri mengeluarkan larangan ini dimaksudkan untuk
menghindari terjadinya konflik rasial di Negara Jiran itu. [Umat Kristen
Malaysia mempertahankan kata "Allah". ktp/www.hidatullah.com15 Jan 08
- 2:13 pm]
Pencarian manusia kepada Tuhan merupakan fithrahnya
karena bagaimanapun juga manusia itu adalah makhluk yang membutuhkan sesuatu
yang lebih dari dirinya yang dapat melindungi, memberikan kenyamanan dan
keamanan bagi pribadi dan keluarganya, Cuma pencarian terhadap Tuhan tadi tanpa
didasari oleh ilmu, lebih kepada perasaan dan rasio saja sehingga apasaja yang
dianggap luar biasa, itulah Tuhan.Tidak jarang manusia juga menjadikan Tuhan
itu dapat bersatu ke dalam dirinya, selain Tuhan juga mengejewantahkan diri-Nya
kepada alam ini, demikian pendapat wihdatul wujud dari kalangan para pengikut
tarekat.
IbnuArabi
seorang sufi sekaligus filosof menggambarkan alam ini sebagai cerminan
(tajalli) dari Tuhan. Di kala Ia ingin melihat dirinya maka Dia melihat alam.
Pada setiap benda (makhluk) terdapat unsur atau sifat ketuhanan.Dari sinilah
muncul faham kesatuan.Yang ada dalam ini kelihatannya banyak tetapi sebenarnya
satu.Ibarat seseorang melihat dirinya dalam beberapa cermin.Kelihatannya banyak
tetapi obyek sesungguhnya hanya satu.Penjelasan lainnya, manusia ibarat melihat
ke dalam cermin. Hakekat wujud sesungguhnya bukan yang terdapat di dalam cermin
itu, meskipun sama persis dengan apa adanya di dalam cermin itu. Hakekat wujud
yang sesungguhnya ialah yang di depan cemin itu. Kita atau para makhluk itulah
yang di dalam cermin tetapi yang di depan cermin itulah hakekat wujud yang
sebenarnya.
Mirip yang dikatakan oleh filosof Parmenides: Yang ada itu satu, yang banyak itu tidak ada. Yang berwujud selain Tuhan adalah wujud ilusi (palsu).Wujud yang sebenarnya atau wujud hakiki ialah Tuhan.Jika manusia ingin berjumpa dengan Tuhannya cukup menghayati secara mendalam alam raya ini. Siapa yang memahami dirinya maka ia akan memahami Tuhannya (man arafa nafsahu fa qad arafa Rabbahu).
(Nasaruddin Umar,Bersahabat dengan Tuhan, Harian Pelita).
Bagi seorang muslim, kepercayaan kepada Allah
sebagai Tuhan yang wajib disembah adalah keyakinan tauhid, yang tidak boleh
dicampurkan dengan keyakinan lain, bila bercampur dengan keyakinan kepada Tuhan
lain maka itu syirik, keyakinan syirik menjadikan keyakinan kepada Allah tidak
diterima, seorang muslim meyakini Allah pasti Tuhan tapi Tuhan belum tentu
Allah, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 03 Muharam
1433.H/ 29 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar