Jumat, 12 Februari 2016

200. Tuhan



Di alam raya ini hanya ada satu yang berkuasa, yang menciptakan, memelihara dan mengawasi ciptaan-Nya yaitu Tuhan, sedangkan yang lainnya ada hasil ciptaan yang disebut dengan makhluk, termasuk didalamnya adalah manusia. Kepercayaan manusia kepada Tuhan beragam keyakinan, ada yang menjadikan hewan, benda-benda dan sesuatu yang ghaib  sebagai tuhannya, ada pula yang menjelmakan tuhanya dalam bentuk patung dari batu dan kayu, tidak sedikit pula yang menjadikan tuhan itu sebagai sahabatnya sehingga dianggap tuhan itu telah menyatu dalam dirinya.

            Kalau kita telusuri sejarah kehidupan manusia, sejak penciptaan Adam As telah diinformasikan tentang eksistensi Tuhan melalui ayat-ayat-Nya pada beberapa Kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul, karena panjangnya perjalanan sejarah sehingga terjadi penyimpangan keyakinan pada manusia, inilah yang menjadikan adanya manusia menyembah patung, batu, gunung, pohon, jin, malaikat dan benda-benda lainnya, sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim ketika dia masih muda beliau, melihat masyarakat sekitarnya bahkan orangtuanya sendiri membuat dan menyembah berhala.

Beliau menganggap mustahil bahawa patung-patung yang terbuat dari kayu-kayu dan batu- batuan itu menjadi tuhan bagi kaumnya.Ibrahim keluar dari rumahnya menuju ke gunung.Beliau berjalan sendirian di tengah kegelapan.Beliau memilih salah satu gua di gunung, lalu beliau rnenyandarkan punggungnya dalam keadaan duduk termenung.Beliau memperhatikan langit.Beliau mulai bosan memandang bumi yang dipenuhi dengan suasana jahiliah yang bersandarkan kepada berhala.

Tidak lama setelah Nabi Ibrahim memperhatikan langit kemudian beliau melihat-lihat berbagai bintang yang disembah di bumi. Saat itu hati Nabi Ibrahim - sebagai pemuda yang masih belia -  merasakan kesedihan yang luar biasa. Lalu beliau melihat apa yang di belakang bulan dan bintang. Hal itu sangat mengagumkannya.Mengapa manusia justru menyembah ciptaan Tuhan?Bukankah semua itu muncul dan tenggelam dengan izin- Nya. Nabi Ibrahim mengalami dialog internal dalam dirinya. Allah SWT menceritakan keadaan ini dalam surah al-An'am:

"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.'Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda- tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan Kami (memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam.'" (QS. al-An'am: 74-76) 

Al-Quran tidak menceritakan kepada kita peristiwa atau suasana yang dialami Ibrahim saat menyatakan sikapnya dalam hal itu, tapi kita merasa dari konteks ayat tersebut bahawa pengumuman ini terjadi di antara kaumnya.Dan tampak bahawa kaumnya merasa puas dengan hal tersebut.Mereka mengira bahawa Ibrahim menolak penyembahan berhala dan cenderung pada penyembahan bintang.Kita ketahui bahawa di zaman Nabi Ibrahim manusia menjadi tiga bahagian. Sebahagian mereka menyembah berhala sebahagian lagi menyembah bintang, dan sebahagian yang lain menyembah para raja. Namun di saat pagi, Nabi Ibrahim mengingatkan kaumnya dan membikin mereka terkejut di mana bintang-bintang yang diyakininya kelmarin kini telah tenggelam. Ibrahim mengatakan bahawa ia tidak menyukai yang tenggelam. Allah SWT berfirman: "Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku.'" (QS. al-An'am: 76)

Ibrahim kembali merenung dan memberitahukan kaumnya pada malam kedua bahawa bulan adalah tuhannnya. Kaum Nabi Ibrahim tidak mengetahui atau tidak memiliki kapasiti logik yang cukup atau kecerdasan yang cukup, bahawa sebenarnya Ibrahim ingin menyedarkan dengan cara sangat lembut dan penuh cinta. Bagaimana mereka menyembah tuhan yang terkadang tersembunyi dan terkadang muncul atau terkadang terbit dan terkadang tenggelam.Mula-mula kaum Nabi Ibrahim tidak mengetahui yang demikian itu. Pertama-tama Ibrahim menyanjung bulan tetapi ternyata bulan seperti bintang yang lain, ia pun muncul dan tenggelam: Allah SWT berfirman: "Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'" (QS. al-An'am: 77)

Kita perhatikan di sini bahawa beliau berbicara dengan kaumnya tentang penolakan penyembahan terhadap bulan.Ibrahim berhasil "merobek" keyakinan terhadap penyembahan bulan dengan penuh kelembutan dan ketenangan.Bagaimana manusia menyembah tuhan yang terkadang tersembunyi dan terkadang muncul. Sungguh, kata Ibrahim, betapa aku membayangkan apa yang terjadi padaku jika Tuhan tidak membimbingku. Nabi Ibrahim mengisyaratkan kepada mereka bahawa beliau memiliki Tuhan, bukan seperti tuhan-tuhan yang mereka sembah.Namun lagi-lagi mereka belum mampu menangkap isyarat Nabi Ibrahim.Beliau pun kembali menggunakan argumentasi untuk menundukkan kelompok pertama dari kaumnya, yaitu penyembah bintang. Allah SWT berfirman: "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'" (QS. al-An'am: 78-79)

Ibrahim berdialog dengan penyembah matahari.Beliau memberitahukan bahawa matahari adalah tuhannya kerana dia yang terbesar.Lagi-lagi Ibrahim memainkan peran yang penting dalam rangka menggugah fikiran mereka.Para penyembah matahari tidak mengetahui bahawa mereka menyembah makhluk. Jika mereka mengira bahawa ia adalah besar, maka Allah SWT Maha Besar.

Setelah Ibrahim memberitahukan bahawa matahari adalah tuhannya, beliau menunggu saat yang tepat sehingga matahari itu tenggelam dan ternyata benar dia bagaikan sembahan-sembahan yang lain yang suatu saat akan tenggelam. Setelah itu Ibrahim memploklamirkan bahawa beliau terbebas dari penyembahan bintang.

Ibrahim mulai memandang dan memberikan pengarahan kepada kaumnya bahawa di sana ada Pencipta langit dan bumi. Argumentasi Ibrahim mampu memunculkan kebenaran, tetapi sebagaimana biasa kebatilan tidak tunduk begitu saja.Mereka mulai menampakkan taringnya dan mulai menggugat keberadaan dan kenekatan Ibrahim as.Mereka mulai menentang Nabi Ibrahim dan mulai mendebatnya dan bahkan mengancamnya. Allah SWT berfirman:

"Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu.Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah) padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya.Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui)?'" (QS. al-An'am: 80-81)

Kita tidak mengetahui sampai sejauh mana ketajaman pergelutan antara Nabi Ibrahim dan kaumnya, dan bagaimana cara mereka menakut-nakuti Nabi Ibrahim. Al-Quran tidak menyinggung hal tersebut.Namun yang jelas, tempat mereka yang penuh kebatilan itu mampu dilumpuhkan oleh Al-Quran.Dari cerita tersebut, Al-Quran mengemukakan Nabi bahawa Ibrahim menggunakan logik seorang yang berfikir sehat.Menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dari kaumnya, Nabi Ibrahim justru mendapatkan kedamaian dan tidak takut kepada mereka. Allah SWT berfirman: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. " (QS. al-An'am: 82)

Allah SWT selalu memberikan hujah atau argumentasi yang kuat kepada Nabi Ibrahim sehingga beliau mampu menghadapi kaumnya. Allah SWT berfirman: "Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa darjat.Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. al-An'am: 83)

Ibrahim didukung oleh Allah SWT dan diperlihatkan kerajaan langit dan bumi. Demikianlah Nabi Ibrahim terus melanjutkan penentangan pada penyembahan berhala.[Pak Ndak, Nabi Ibrahim, - Kisah Nabi-nabi Allah].

Tuhan bagi seorang muslim disebut dengan Allah, yang merupakan keyakinan dasar untuk meyakini asfek-asfek keimanan lainnya, kata Tuhan adalah kata yang digunakan secara umum,  ada yang menyebutnya dewa da nada juga yang menyebutnya Bapa yang ditujukan kepada Tuhan, walaupun demikian sebenarnya kata Tuhan tidak layak untuk Allah, karena Allah itu bukan hanya sebagai Pencipta dan Pemelihara alam raya ini saja tapi juga yang disembah, dicintai, ditaati bagi makhluk-Nya.

Hizbullah Mahmud dalam tulisannya mengungkapkan kejahilan kelompok Liberal yang menyamakan Allah dengan Tuhan-tuhan yang lain, sebagaimana disebutkan dibawahini;
Website Islamlib.com menerjemahkan Bismillahirrohmanirrohim menjadi "Dengan nama Allah Tuhan pengasih Tuhan penyayang Tuhan segala agama.  Tulisan ini mendiskusikan lagi makna "Tuhan"

Saya cukup tercenggang takkala membuka website islamlib.com, ketika akan memasuki website tersebut menemukan terjemahan Bismillahirrohmanirrohim diterjemahkan menjadi "Dengan nama Allah Tuhan pengasih Tuhan penyayang Tuhan segala agama. Hanya saja 3 kata terakhirnya tidak termasuk dalam terjemahan kata Basmallah diatas (Tuhan segala agama).

Secara sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa makna Allah disamakan dengan makna tuhan.yang membedakan antara tuhan-tuhan yang lain dengan Allah hanyalah huruf T besar diawalnya. Bila T nya huruf besar maka itu maknanya sama dengan Allah dan bila t nya kecil maka itu maknanya tuhan-tuhan selain Allah. Dalam penulisan mungkin bisa dilihat perbedaannya tapi dalam pengucapan nyaris tak ada beda.

Pencetus makna Allah juga dimaknai dengan Tuhan, adalah Almarhum Prof. Dr Nurcholis Majid . Pada waktu itu beliau menterjemahkan kalimat "la ilahaillallah" dengan tidak ada tuhan selain Tuhan atau dalam Bahasa Inggrisnya there is not any god but the God.

Terjemah seperti ini selain tidak benar, juga membuat kekacauan, membuat kebingungan, mendangkalkan aqidah dan menghancurkan tauhid.Terjemah tersebut seperti yang dilakukan oleh kaum orientalis dan ahli injil.

Terjemah ala Prof. Dr Nurcholis Majid tersebut mengundang perhatian para pakar muslim dan ulama, selain janggal dan aneh juga menunjukkan adanya berbagai kelemahan dari berbagai segi yang berarti banyak kesalahannya. Khususnya dilihat dari segi bahasa dan Aqidah Islamiyah.

Lebih jauh dia mengungkapkan pendapat Abul A’la Al Maududi yang menerjemahkan kata Tuhan dengan Ilah.

Pakar dan ulama besar dari Pakistan Abul A'la Maududi menyebut ma'rifah (definite article) dari kata ilah yang berarti tuhan dengan al ilah jadi bukan dengan sebutan Allah tegasnya.Ma'rifah dari ilah itu al illah dan bukan Allah.hal ini banyak ditemukan dalam kitab Musthalahatul Fil Qur'an.

Kata Allah dalam Alqur'an disebut ulang oleh Allah sebanyak 2679 kali semuanya dalam bentuk tunggal, karena memang tidak memiliki bentuk tatsniyah dan jama' sesuai dengan firman-Nya "Allahu ahad" yang berarti Allah maha Tunggal/Esa. Hal ini akan berbeda dengan kata ilah yang berarti tuhan. Didalam Al-Qur'an oleh Allah kata ilah disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrod, ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali dan aalihah dalam bentuk jama' disebut ulang sebanyak 34 kali.
Berdasarkan disiplin ilmu dalam bahasa Arab, apabila isim nakiroh (indefinite article) dapat ditatsniyahkan dan dijama'kan, maka isim ma'rifaah (definite article) juga demikian.

Kita telah mengetahui bahwa dalam Alqur'an tatsniyah dan jama' dari kata ilah masing-masing disebut 2 kali dan 34 kali.Tetapi tidak ditemukan satupun tatsniyah dan jama' dari kata Allah.

Berdasarkan pengertian tersebut maka kelemahan Prof. Dr Nurkholis dari segi bahasa diantaranya, menterjemahkan Allah diartikan Tuhan, menyamakan arti ilah dengan Allah, memandang alif dan lam pada kata Allah ma'rifah dari isim nakiroh ilah, terjemah hanya memperhatikan etimologinya, standar terjemah menggunakan bahasa inggris.

Sebagai akibat dari terjemah yang hanya memperhatikan dari segi etimologinya dan adanya kesalahan Allah diartikan yang sama dengan ilah yang berarti tuhan, maka dari segi makna nilai tauhid menjadi kabur dan hancur.

Karena Allah yang Maha Esa dengan terjemah tersebut menjadi tidak diakui keesaannya lagi.Sebab setiap kata ilah yang berarti tuhan dapat dijadikan Allah dengan menambah al sebagai ma'rifahnya. Hal ini jelas akan merusak dan bertentangan dengan firman Allah.

Untuk itu dalam memahami kalimat tauhid tersebut harus diperhatikan empat kata yang diterjemahkan, berikut disiplin ilmu dan berbagai dalil yang terkait.Agar hasil terjemahnya tidak ada kesan merusak dan dalam memahami kalimat tauhid tersebut dapat tepat. Selain karena tidak akan bertentangan dengan dalil lain, juga akan selalu mendukung dengan dalil lain yang terkait.

Para ulama dalam memahami Al-Qur'an dan Assunnah yang menegakkan displin ilmu, hasilnya selalu dikontrol.Hal itu dilakukan agar kemungkinan terjadi kesalahan segera dapat diralat dan dibetulkan.

Standar nilai benar yang dijadikan tolak ukur adalah dalilAl-Qur'an dan Assunnah juga khususnya dalil yang sejenis. Apakah dari berbagai dalil sejenis tersebut sesuai dan memberi dukungan, ataukah bertentangan yang berarti tidak benar.[Mengkritisi Kembali Makna "Tuhan"Hidayatullah.com.Jumat, 21 Oktober 2005].

Bahkan agama Kristenpun menyebut Tuhannya dengan nama Allah, hal ini selain keyakinan mendasar tapi lebih tepat adalah memberikan kerancuan terhadap ummat islam sebagai upaya melajukan Kristenisasi di seantero dunia, sebagaimana yagn terjadi di Malaysia yang diungkap oleh Hidayatullah.com.

Dalam sebuah pernyataan kepada media, Uskup Paul Tan Chee Ing, Ketua Malaysian Christian Federation, mengaku bahwa kata "Allah" digunakan oleh Arab-Kristen sebelum Islam didirikan dan mengatakan larangan itu melanggar kebebasan beragama yang digariskan konstitusi.

"Kata 'Allah' adalah kata pra-Islam yang digunakan Arab Kristiani sebelum Islam ada," kata Ing."Kami mempertahankan dan kami selalu mengatakan kepada pemerintah bahwa kami mempunyai hak untuk menggunakan kata 'Allah' dalam publikasi baik itu dalam Bahasa Malaysia atasu sebaliknya."

Perdebatan mengenai penggunaan kata "Allah" dimulai saat pemerintah Malaysia mengancam untuk mencabut izin penerbitan sebuah tabloid Katolik lokal. Sebagai responnya, The Herald, koran mingguan Gereja Katolik di Malaysia, melayangkan gugatan kepada pemerintah bulan lalu, mengklaim bahwa larangan tersebut tidak konstitusional dan melanggar kebebasan beragama.

Tidak lama setelah Herald melayangkan gugatannya, pemerintah mundur, dan mengirimkan fax kepada editor Herald yang menyatakan koran itu akan mendapatkan izin 2008 tanpa syarat apapun, demikian kutip BBC.Akan tetapi, posisi pemerintah nampaknya berubah lagi saat menteri untuk urusan Islam, Abdullah Zin, mengatakan kepada pers bahwa kabinet telah menyetujui bahwa kata itu hanya boleh digunakan oleh Muslim.

Zin berkata kabinet menyepakati bahwa kata "Allah", mengacu pada Tuhan MUslim dan hanya bisa digunakan oleh umat Muslim, yang terdiri dari 60 persen dalam populasi Malaysia.

Awal bulan ini, Zin telah menjelaskan bahwa penggunaan Kata "Allah" oleh agama lain kita dapat menimbulkan sensitivitas dan menyebabkan kekacauan diantara umat Islam.

Desember lalu, sebuah majalah Katolik di Malaysia, mengatakan pemerintah Malaysiatelah memperbarui keputusannya dengan pelarangan penggunaan kata ''Allah'' dalam tulisan media Kristen.Pemerintah sendiri mengeluarkan larangan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya konflik rasial di Negara Jiran itu. [Umat Kristen Malaysia mempertahankan kata "Allah". ktp/www.hidatullah.com15 Jan 08 - 2:13 pm]

Pencarian manusia kepada Tuhan merupakan fithrahnya karena bagaimanapun juga manusia itu adalah makhluk yang membutuhkan sesuatu yang lebih dari dirinya yang dapat melindungi, memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pribadi dan keluarganya, Cuma pencarian terhadap Tuhan tadi tanpa didasari oleh ilmu, lebih kepada perasaan dan rasio saja sehingga apasaja yang dianggap luar biasa, itulah Tuhan.Tidak jarang manusia juga menjadikan Tuhan itu dapat bersatu ke dalam dirinya, selain Tuhan juga mengejewantahkan diri-Nya kepada alam ini, demikian pendapat wihdatul wujud dari kalangan para pengikut tarekat.

IbnuArabi seorang sufi sekaligus filosof menggambarkan alam ini sebagai cerminan (tajalli) dari Tuhan. Di kala Ia ingin melihat dirinya maka Dia melihat alam. Pada setiap benda (makhluk) terdapat unsur atau sifat ketuhanan.Dari sinilah muncul faham kesatuan.Yang ada dalam ini kelihatannya banyak tetapi sebenarnya satu.Ibarat seseorang melihat dirinya dalam beberapa cermin.Kelihatannya banyak tetapi obyek sesungguhnya hanya satu.Penjelasan lainnya, manusia ibarat melihat ke dalam cermin. Hakekat wujud sesungguhnya bukan yang terdapat di dalam cermin itu, meskipun sama persis dengan apa adanya di dalam cermin itu. Hakekat wujud yang sesungguhnya ialah yang di depan cemin itu. Kita atau para makhluk itulah yang di dalam cermin tetapi yang di depan cermin itulah hakekat wujud yang sebenarnya.

Mirip yang dikatakan oleh filosof Parmenides: Yang ada itu satu, yang banyak itu tidak ada. Yang berwujud selain Tuhan adalah wujud ilusi (palsu).Wujud yang sebenarnya atau wujud hakiki ialah Tuhan.Jika manusia ingin berjumpa dengan Tuhannya cukup menghayati secara mendalam alam raya ini. Siapa yang memahami dirinya maka ia akan memahami Tuhannya (man arafa nafsahu fa qad arafa Rabbahu).
(Nasaruddin Umar,Bersahabat dengan Tuhan, Harian Pelita).

Bagi seorang muslim, kepercayaan kepada Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah adalah keyakinan tauhid, yang tidak boleh dicampurkan dengan keyakinan lain, bila bercampur dengan keyakinan kepada Tuhan lain maka itu syirik, keyakinan syirik menjadikan keyakinan kepada Allah tidak diterima, seorang muslim meyakini Allah pasti Tuhan tapi Tuhan belum tentu Allah,  wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 03 Muharam 1433.H/ 29 November 2011.M].   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar