Jumat, 12 Februari 2016

196. Ishlah



Tidak selamanya perselisihan, gesekan dan pemusuhan dipertahankan dalam kehidupan seorang muslim, hidup rukun damai, saling menghargai, menyambut saudara dengan salam dan senyum suatu keharusan yang menyenangkan, sehingga segala yang dapat merenggangkan hubungan bahkan memutuskan silaturahim sebaiknya dihindari, andaikatapun terjadi maka perlu dilakukan ishlah atau perbaikan, seribu kawan itu sangat sedikit dan satu musuh terlalu banyak, hanya tiga hari dispensasi untuk tidak saling bertegur sapa, selam tiga hari itu lakukanlah introsfeksi diri masing-masing, benahi segala kesalahan, sadari segala kekhilafan, saling memaafkan jadikan sebagai agenda pokok, hari keempat tidak juga saling sapa maka haram hukumnya.

Rasulullah menyampaikan risalah kebenaran kepada ummat manusia pada satu sisi agar ummat hidup dalam perdamaian, saling tolong menolong dan hidup harmonis ukhuwah islamiyyah karena permusuhan bukanlah ummat yang terbaik. Dalam  surat Ali Imran ayat 103 Allah berfirman, ”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah ketika kamu dahulu masa jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hati kamu. Lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara...”

            Suatu hal yang lumrah kalau manusia diciptakan Allah dalam keadaan bersuku-suku dan berbangsa bangsa serta berlainan partai serta golongan. Itu semua realitas kejadian manusia sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat 49;13 yang artinya,”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa an bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa...”

            Allah berfirman dalam Al Hujurat ayat 10,”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu tidak lain dan tidak bukan adalah satu saudara. Sebab itu damaikanlah diantara dua saudaramu yang bertikai....”
Sesama manusia saja kita dituntut untuk menegakkan ukhuwah basyariyyah apalagi sesama muslim kita harus merajut tali ukhuwah yaitu ukhuwah islamiyyah dan ukhuwah imaniyyah karena ikatan berdasarkan iman akan mampu merajut ukhuwah itu, adapun langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang muslim agar ukhuwah tidak hanya tinggal konsep sehingga konflik dapat dihindari maka perlu adanya penampilan yang baik dan sikap yang menarik simpati.

Karena ukhuwah tidak sebatas retorika dan dekorasi, dia harus dijaga dengan sikap-sikap muslim melalui kepribadiannya yaitu;

1.'Adamus sukriyah; tidak mengolok-olok
Agar ukhuwah terjaga dengan baik maka masing-masing muslim tidak mengolok-olok sebagai mana firman Allah memperingatkan;

''Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim''[Al Hujurat 49;11]

2.'Adamul Lamz; tidak mencela
Perbuatan suka mencela dapat memicu kerusakan ukhuwah, untuk itulah seorang muslim dengan muslim lainnya tidak mencela saudaranya yang intinya mencela diri sendiri. "dan janganlah suka mencela dirimu sendiri"

3.Tarkut Tanabutz ; meninggalkan panggilan buruk
Nabi Muhammad memberikan nama panggilan yang  baik kepada sahabatnya seperti kepada Abu Bakar dengan panggilan Ash Shiddiq artinya orang yang dapat dipercaya, kepada Khalid bin Walid beliau menyebutnya Saifullah artinya pedang Allah karena Khalid sangat jago memainkan pedangnya dalam peperangan, untuk itulah maka kita harus  meninggalkan panggilan buruk kepada saudara kita. "dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman "

4.Husnudzon; berbaik sangka
            Menjadi orang yang berbaik sangka adalah salah satu sikap untuk memelihara ukhuwah, bila  sikap buruk sangka yang tertanam dalam hati maka akan mencurigai semua orang.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. [Al Hujurat 49;12]

5.'Adamut Tajasus; tidak mencari kesalahan
            Kita punya lima jari pada tangan, dikala kita  menunjuk orang dengan satu telunjuk maka empat jari berikutnya menunjuk diri kita sendiri, demikian sebuah ungkapan yang disampaikan agar kita tidak mudah menunjuk kesalahan orang lain. "dan janganlah mencari-cari keburukan orang"

6.Ijtinalul ghibah; meninggalkan gunjingan
            Rasulullah menyatakan bahwa seorang muslim harus meninggalkan gunjingan, sahabat bertanya,"Kalau benar apa yang digunjingkan bagaimana ya Rasulullah?", beliau menjawab,"itulah gunjing, kalau salah maka itulah fitnah".
  "dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Selain hal diatas ukhuwah akan terujud dengan baik bila kita berupaya untuk mengabadikannya dengan beberapa hal yaitu;

1.At Tasrih/ berterus terang
            Berterus terang dengan saudara seiman sangat dianjurkan dalam rangka memupuk ukhuwah islamiyyah apalagi yang berkaitan dengan isi hati tentang kecintaan kepada saudara kita, sebagaimana Rasulullah bersabda, "Apabila seorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukan kepada saudaranya bahwa ia mencintainya".[HR. Abu Daud].

            Satu ketika Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri?", nabi bersabda,"Belum lagi sempurna keimananmu ya Umar, seharusnya kau mencintaiku lebih dari mencintai dirimu dan keluargamu sendiri", lansung Umar menjawab,"Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri dan keluargaku".
           
2.Al Mushafahah/ berjabat tangan
            Ukhuwah islamiyyah juga dirajut melalui pertemuan yang hangat antara sesamanya dan saling berjabat tangan antara satu dengan lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah,"Tidalah dua orang muslim bertemu, kemudian keduanya berjabatan tangan, kecuali Allah akan mengampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah" [HR. Abu Daud]

            Bahkan jabat tangan juga dianjurkan dalam islam setiap pertemuan, andaikata dalam perjalanan kita berpisah dengan teman karena dipisahkan oleh sebatang pohon apalagi bukit maka sebaiknya ketika bertemu lagi juga berjabat tangan.

3.Basyasyatul wajh/ menampakkan wajah yang cerah
Dalam berinteraksi dengan ikhwah fillah yaitu saudara seiman kita harus  menyiapkan hati yang bersih dengan jalan memuliakannya sesuai dengan kapasitasnya apalagi sahabat yang datang mengunjungi kita tentu sikap memuliakan perlu dilakukan

Rasulullah bersabda, ”Janganlah kamu menganggap hina sedikitpun dari suatu kebaikan, meskipun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan muka manis” [HR. Muslim].

4.Attazawur/ saling berziarah
Berziarah dalam rangka bersilaturrahim, mengunjungi tetangga dan kerabat dalam rangka memupuk dan merajut ukhuwah islamiyyah merupakan sunnah Rasulullah bahkan diberikan kabar gembira bagi yang melakukannya sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW

            "Siapa yang ingin rezekinya dipanjangkan Allah atau ingin usahanya dipanjangkan, maka hendaklah ia menghubungkan silaturrahim". [HR. Muslim]

Dalam hadits Qudsi dinyatakan,"Wajib mendapat kecintaan-Ku orang yang saling mencintai karena Aku, orang yang duduk berkumpul karena Aku, dan orang yang saling membantu karena aku".

5.Saling mendoakan atau minta dido'akan
            Kedekatan persaudaraan sesama muslim nampak dalam saling mendoakan atau minta didoakan dalam waktu-waktu tertentu apalagi ketika mendapat kesulitan atau mendapat musibah. Ketika Umar bin Khattab permisi kepada Rasulullah hendak melakukan umarh, pesan Rasul adalah, "Jangan lupa engkau mendo'akan aku ketika engkau berdoa ya saudarakau".

            Dalam surat Ibrahim 14;41 untaian doa tergambar;"Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".

6.Tahni'ah dan ta'ziyyah
            Berilah ucapan tahni'ah yaitu ucapan selama ketika melangsungkan pernikahan, ketika dikaruniai anak, ketika berpakaian baru, saat pulang dari berjihad, ketika pulang dari menunaikan ibadah haji, kepulangan dari bepergian yang cukup jauh dan lama.  Demikian pula tunjukkan sikap dengan ucapan kata belasungkawa ketika dia sakit atau  ketika ditimpa musibah apapun.

7.Membantu keperluannya
Ujud ukhuwah itu bila kita  ringan tangan memberikan bantuan kepada siapa saja yang layak dibantu apalagi ketika ada musibah di daerah tersebut, berupa banjir, kebakaran, kelaparan yang menyusahkan masyarakat apalagai saudara kita seiman yang mengalami kemalangan itu.

”Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah bertolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah” [5;2]

”Barangsiapa yang melepaskan kesulitan untuk seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat, barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akherat. Allah selalu menolong hamba-Nya yang selalu menolong saudaranya” [HR. Muslim].

Rasulpun menyabdakan, ”Barangsiapa yang tidak peduli dengan ummat Islam maka dia bukanlah ummatku”.

8.Saling memberi hadiah
            Benang-benang ukhuwah akan terajut kembali bila ada upaya untuk merajutnya diantaranya melalui saling memberi hadiah, tidaklah diukur harga dan bentuknya tapi ada oleh-oleh atau buah tangan yang dibawa ke rumah saudara ketika berkunjung kepadanya dan ini merupakan sunnah Rasulullah,"Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai, saling memberi hadiahlah  kalian, karena sesungguhnya hal itu akan menghilangkan kebencian".

9.Saling berkomunikasi
            Untuk merekat ukhuwah islamiyyah kepada saudara kita yang jauh dapat dilakukan dengan telefon atau surat menyurat, apalagi pada zaman sekarang tidak ada daerah yang tidak bisa diakses komunikasi dalam waktu yang relatif singkat.

Ukhuwah islamiyyah hingga menjadi ukhuwah imaniyyah tidaklah datang dengan sendirinya tapi harus diupayakan dengan sikap-sikap terpuji diatas, semuanya berlansung kalau kedua belah pihak melakukan hal yang sama yaitu saling merajut benang-benang ukhuwah, selain untuk meningkatkan kualitas iman juga meningkatkan jalinan silaturahim yang semakin erat.

Begitu indahnya islam menuntun ummatnya agar hidup penuh dengan keharmonisan melalui jalinan ukhuwah sehingga dapat dipastikan tidak akan terjadi konflik yang mengundang malapetaka. Namun dikala terpaksa juga terjadinya konflik sehingga mengundang permusuhan maka usaha terakhir adalah diadakannya ishlah yaitu usaha perbaikan dan merakit kembali tali silaturahim. Langkah yang perlu dilakukan adalah;

1.Menyiapkan hati yang jernih
Siapkan hati yang bersih untuk menerima kembali saudara kita dalam hidup bersama tanpa adanya perselisihan, segala kesalahan dan perselisihan yang ada habislah dikala masing-masing hati ingin untuk memperbaiki hubungan, sungguh sangat tersiksa bila seseorang ingin untuk ishlah tapi tidak ditanggapi oleh yang lain.
Dalam berinteraksi dengan masyarakat kita harus  menyiapkan hati yang bersih dengan jalan memuliakan siapapun sesuai dengan kapasitasnya masing-masing Seseorang akan mudah diterima oleh masyarakat bila penampilannya penuh dengan kejernihan hati, keceriaan, tidak kusut dan kaku tapi luwes sehingga mudah bergaul dengan siapapun, namun demikian tetap menjaga diri dengan adab-adab islam, kehadirannya disana boleh beda tapi istimewa dibandingkan yang lain, sebagaimana pendapat lama, bila masuk ke kandang kambing mengembek, jangan ketika masuk ke kandang kambing jadi kambing atau masuk ke kandang kerbau jadi kerbau, ibarat orang orang memancing, tukang pancing yang dilarikan ikan, Rasulullah bersabda, ”Janganlah kamu menganggap hina sedikitpun dari suatu kebaikan, meskipun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan muka manis” [HR. Muslim]

2.Berbuat baik
            Sebagai bukti bahwa ishlah sedang berlansung adalah melakukan kebaikan kepadanya, apalagi orang tersebut tetangga sendiri.Orang yang pertama sekali memberikan bantuan kepada kita dalam keadaan suka dan duka ialah tetangga. Walaupun saudara kita banyak dan orang-orang yang berada, tapi mereka berada di tempat yang jauh maka sulit baginya untuk membantu kita, tetanggalah yang terlebih dahulu memperdulikan keadaan kita, maka sikap baik kepada tetangga adalah terpuji menurut islam. Rasulullah bersabda; "Apabila engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya dan sisihkan untuk tetangga" [HR. Muslim]
Kita akan dicintai masyarakat  bila ringan tangan memberikan bantuan kepada siapa saja yang layak dibantu apalagi ketika ada musibah di daerah tersebut, berupa banjir, kebakaran, kelaparan yang menyusahkan masyarakat. Maka dengan kejadian ini mereka mencari sang pahlawan yang siap memberikan bantuan untuk  meringankan beban penderitaan berupa sandang, obat-obatan ataupun pangan yang lansung dapat mereka rasakan. Biasanya disaat beginilah tampil pahlawan-pahlawan untuk menarik simpati rakyat terlepas apapun motivasinya yang penting sebuah kebajikan telah terujud;
”Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah
bertolong menolong dalam dosa dan permusuhan” [Al Maidah 5;2]

”Barangsiapa yang melepaskan kesulitan untuk seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat, barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akherat. Allah selalu menolong hamba-Nya yang selalu menolong saudaranya” [HR. Muslim].
Rasul menyabdakan, ”Barangsiapa yang tidak peduli dengan ummat Islam maka dia bukanlah ummatku”.

3.Mengunjungi yang sakit
            Bukti ishlah dari perselisihan adalah mengunjungi yang sakit karena ini merupakan haknya.Hak muslim terhadap muslim lainnya adalah mengunjungi ketika dia sakit, Rasulullah bersabda,"Siapa mengunjungi orang sakit, maka ia senantiasa berada dalam sebuah tanam syurga yang penuh buah-buahan yang dapat dipetik sampai ia pulang" [HR. Muslim]
            Sangat berkesan sekali bagi si sakit bila dia dikunjungi oleh tetangga dan teman-temannya bahkan serasa hal itu seperti sugesti membuat hati senang, hati tenang dan memotivasi untuk sembuh segera.
Sebuah penyesalan bagi tetangga yang baik bila dia  tidak sempat mengunjungi temannya yang sedang terbaring sakit baik di rumah ataupun di rumah sakit bila si sakit akhirnya meninggal terlebih dahulu.

4.Bertegur sapa
            Ishlah tidak hanya dengan ucapan tapi dibuktikan dengan saling bertegur sapa, anggap segala persoalan yang terjadi tidak ada lagi, memang berat untuk mengawalinya bila sedang terjadi perselisihan tapi jiwa besar dan kelapangan hati harus dimiliki.Bertegur sapa sesama muslim menambah keharmonisan ukhuwah islamiyyah, bahkan dikala terpaksa sehingga tidak bisa untuk saling tegur sapa maka Rasulullah hanya memberi dispensasi selama tiga hari maka hari keempat haram hukumnya bila tidak bertegur sapa. Rasulullah bersabda;"Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada pejalan kaki, orang yang berjalan kepada yang duduk dan orang yang sedikit kepada orang yang banyak" [HR. Muslim]
Dilain kesempatan Rasulullah bersabda,"Janganlah kalian duduk-duduk di jalanan", jawab para sahabat,"Kami di jalanan hanya sekadar bercakap-cakap ya Rasulullah", "Jika kalian keberatan meninggalkan jalanan, maka penuhilah hak jalan", kata Rasulullah,"Apakah hak jalan itu ya Rasulullah?" tanya para sahabat, Rasulullah menjawab,"hak jalan itu adalah; ghadhul bashar/ picingkan mata, jangan mengganggu orang lewat, jawab salam orang yang lewat, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar" [HR. Muslim]
           

5.Bersilaturrahim
            Ishlah akan terasa buktinya bila dilanjutkan dengan bersilturahim pada saat-saat tertentu apalagi ada momen penting seperti pesta pernikahan, undangan makan bersama, targetnya untuk mencairkan kembali hubungan yang sudah retak.
Bersilaturrahim, mengunjungi tetangga dan kerabat dalam rangka memupuk dan merajut ukhuwah islamiyyah merupakan sunnah Rasulullah bahkan diberikan kabar gembira bagi yang melakukannya sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW "Siapa yang ingin rezekinya dipanjangkan Allah atau ingin usahanya dipanjangkan, maka hendaklah ia menghubungkan silaturrahim". [HR. Muslim]
Secara pribadi segala perselisihan dan kesalahfahaman mudah diselesaikan bila dimediasi oleh sahabat yang mengerti dengan ukhuwah dan silaturahim bukan teman yang malah membakar permusuhan sehingga perselisihan jadi pertengkaran dan pemusuhan hingga sekian generasi, tidak ada benang yang tidak kusut tapi dapat diselesaikan dengan baik, tidak ada air yang tidak akan keruh tapi segera untuk dijernihkan, silaturahim itu mendatangkan rezeki dan panjang umur, memutuskan silaturahim ini mendatangkan kerugian dan bencana, wallahu a’lam wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 15 Agustus 2011.M/ 15 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar