Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhari, Rasulullah menyampaikan tiga hal kunci bahagia hidup di dunia
yaitu isteri yang shalehah, rumah yang lapang, tetangga yang baik dan kendaraan
yang lancar.Sudah banyak bahasan yang berkaitan dengan isteri shalehah dan
tetangga yang baik, sedangkan tentang dua fasilitas yang juga mendatangkan
kebahagiaan adalah rumah yang lapang dan kendaraan yang lancar.
Kendaraan merupakan kebutuhan hidup
manusia sebagai sarana transportasi sehingga jarak yang jauh terasa dekat
dan beban yang berat dapat diangkat
dengan ringannya. Sejak dahulu kendaraan
sudah dikenal manusia dengan memanfaatkan hewan seperti kuda, onta dan gajah
serta hewan apa saja yang mungkin dapat digunakan untuk memudahkan hidup
manusia.
Para nabi dan rasul dalam
mengembangkan dakwahnya juga memakai kendaeraan, lihatlah bagaimana nabi Musa
bersama kaumnya dengan mengendarai kuda dan onta menyeberangi laut Merah yang
sudah terbelah karena mukjizat yang Allah berikan kepadanya. Nabi Sulaimanpun
yang sekaligus sebagai Raja beliau dengan gagahnya mengendarai kendaraan yang
begitu banyak sehingga semut-semut ketakutan akan diporakporandakan oleh
pasukan Sulaiman.
Nabi
Sulaiman bukan hanya mengetahui masalah tenteranya dari kalangan manusia dan
tenteranya dari kalangan burung, namun ia juga menunjukkan kasih sayangnya
terhadap semut di mana beliau mendengar bisikannya dan tidak suka untuk
menginjaknya. Nabi Sulaiman selalu menundukkan kepalanya ke bumi sebagai bentuk
rasa rendah diri dan syukur kepada Allah s.w.t. Pada suatu hari ia berjalan di
depan tenteranya dan tiba-tiba ia mendengar suara semut yang berkata kepada
temannya dari kalangan semut:
"Hingga
apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: 'Hai
semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak terinjak oleh
Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari';, maka dia tersenyum
kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, berilah
aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada ke dua orang ibu dan bapakku dan untuk mengerjakan amal
soleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." (QS. an-Naml: 18-19)
Sulaiman
mendengarkan pembicaraan semut itu lalu beliau tersenyum kerana mendengar
pembicaraannya.Apa yang dibayangkan oleh semut kecil itu? Meskipun Sulaiman
mendapatkan kekuasaan dan memiliki tentera yang besar, namun beliau menunjukkan
kasih sayang terhadap semut.Beliau mendengar bisikannya dan melihat semut yang
di depannya. Oleh kerana itu, tak mungkin baginya untuk menginjaknya.[Pak
Ndak - Kisah Nabi-nabi Allah].
Kendaraan
selain kebutuhan transportasi bagi masyarakat, sejak dari pesawat terbang,
kapal laut, mobil, motor hingga sepeda, juga merupakan sebuah kebanggaan dan
prestise hidup, apalagi mereka yang terbilang sebagai pejabat tentu
kendaraannya dengan jenis dan harga yang berbeda dari masyarakat kebanyakan.
H.Muh.Nur
Abdurrahman dalam tulisannya yang berjudul Mobil Bagi Anggota DPRDmengungkapkan sedikit pengalamannya tentang
kendaraan pribadi dan sikap para anggota dewan di daerahnya.
Di
luar hujan deras bersinergi dengan banjir kiriman.Itu menghasilkan luaran yang
berwujud air selokan kecil melimpah menggenangi pekarangan rumah menyapu-nyapu
pelataran teras.Juga melimpah mengisi jalan di muka rumah. Untunglah loper
telah sempat mengantar Harian "FAJAR" edisi Minggu, 19 Desember '99,
sebelum jalan di depan rumah menganak sungai. Saya telah bersiap-siap dan
sedang menunggu taksi panggilan untuk menghadiri musyawarah Penyusunan Program
Kerja Pesantren IMMIM Putera.Karena hari hujan saya rencanakan pergi ke
pesantren dengan taksi. Sebab untuk naik pete'-pete' (oplet) harus mengarungi
anak sungai untuk sampai ke jalur pete'-pete'. Stasiun becak yang dekat rumah
pagi itu sunyi dari becak, jadi saya tidak dapat naik becak ke jalur
pete'-pete'. Seperti saya pernah tulis dalam Seri 383, bahwa "sejak
keadaan fisik saya tidak memungkinkan menyetir jauh-jauh, sedangkan saya tidak
dapat menggaji sopir pribadi, lagi pula anak-anak yang dapat menyetir sudah
mempunyai kesibukan sendiri-sendiri, ditambah pula sewa taksi yang mahal, maka
kalau bepergian di dalam kota saya naik kendaraan umum pete'-pete'. Saya dapat
belajar dan merasakan hidup berdemokrasi dengan naik pete'-pete' ini."
Demikian yang telah saya tulis dalam Seri 383 tersebut.Mengapa saya tulis
tetek-bengek berkendaraan ini, oleh karena ada relevansinya dengan judul di
atas.
Sambil menunggu taksi, saya baca halaman 2 Harian "FAJAR" edisi Minggu, 19 Desember '99 tentang Laporan Utama yang berkisar di sekitar ribut-ribut soal mobil DPRD. Ini beberapa komentar yang telah saya baca:
"Itu sebagai tanda bahwa anggota DPRD Sulsel sekarang ini masih punya pola pikir Orde Baru. Saya kira tidak harus jalannya pemerintahan dikontrol dari atas mobil.Mereka memperlihatkan perilaku priyai dan tidak punya sence of crisis.Mereka itu manja dan tidak ikut merasakan krisis yang dialami oleh masyarakat yang diwakilinya.Sebagai wakil rakyat sebaiknya mereka itu menjadi teladan di tengah-tangah masyarakat.Jangan justru memperlihatkan pola hidup yang konsumeristik.Ngototnya mereka minta jatah mobil berarti tidak mempertimbangkan kemampuan pendapatan daerah yang terperosok akibat krisis yang berkepanjangan. Untuk datang dan pergi ke kantor, karena memang belum punya mobil sendiri, ya, gunakan dululah yang ada, maksudnya kendaraan umum becak dan pete'-pete'. Ini baru bertugas 3-4 bulan.Bagaimana kalau masa kerja dewan sudah 1 tahun.Mungkin bukan lagi permintaan mobil, tetapi sudah memelas lagi untuk mendapatkan rumah pribadi."Demikianlah penilaian miring dari beberapa orang yang saya baca pada halaman 2. [Makassar, 26 Desember 1999].
Tahun 2009
Anggota DPR pernah ribut tentang anggaran pengadaan kendaraan bagi para menteri
yang memunculkan angka senilai Rp 63,99 milyar untuk pembelian 79 kendaraan
bagi para pembantu presiden. Ditambah lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 19
Oktober 2009 pernah mengajukan anggaran senilai Rp 62,805 milyar untuk
pajak mobil para menteri
Di
Aceh, fasilitas rumah dinas yang bisa dinikmati anggota DPR Aceh adalah rumah
tipe 150 dengan nilai fisiknya mencapai Rp 551 juta. Tiga orang wakil ketua dan
sekretaris dewan akan tinggal di rumah tipe 300 seharga Rp 669 juta. Dari 69
unit rumah, 54 diantaranya kini sudah selesai dibangun di Desa Meunasah Papeun,
Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Rumah-rumah ini juga dilengkapi Air Conditioner
(AC) merek LG, per unitnya seharga Rp 3,5 juta lebih - masing-masing rumah
terpasang tiga unit. Kemudian TV LG seharga Rp 4,5 juta per unit. Dilengkapi
pula sofa, meja makan, spring bed dan double bed, kulkas dua pintu, dispenser,
rak piring, lemari pakaian, jaringan air ledeng hingga jasa cleaning service. Untuk
memastikan komplek DPR Aceh tetap terang, telah disediakan mesin diesel genset
900 KVA yang dibeli seharga Rp 3,2 miliar. Kijang Inova siap menjadi
tunggangan.Tiga orang Wakil Ketua menunggangi Toyota Fortuner. Sementara ketua
dewan, akan diantar jemput dengan Toyota Camry. Sebanyak 276 stel – per stelnya
seharga 2,7 juta - pakaian dinas disediakan untuk para wakil rakyat.
Bagaimana
dengan cerita di DPR RI? KPU menganggarkan dana sekitar Rp 11 miliar untuk
pelaksanaan kegiatan pelantikan anggota DPR dan DPD terpilih pada 1 Oktober
2009 lalu. Menurut Sekjen DPR Suripto, anggaran tersebut di antaranya untuk
membiayai penginapan, transportasi pulang dan pergi ke Jakarta, uang saku,
perlengkapan seperti tas, dan seragam bagi panitia. Dana sebesar itu, paling
besar diserap untuk transportasi, hotel dan uang saku.Kata, itulah yang
diamanahkan Undang-undang No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif.
Sebesar
Rp 2,87 miliar peruntukan biaya akomodasi, konsumsi, dan hotel, pengadaan tas
Rp 115,5 juta, penyediaan jasa kendaraan bus AC dan ambulans Rp 251,9 juta,
penyediaan jasa, jaket, baju batik, dan hem Rp 149,9 juta, serta uang saku Rp 2
juta per orang.[Lain Dulu, Lain
Sekarang!,Cybersabili.Senin, 03 Mei 2010 07:03 Herry nurdi].
Tahun
2009 dan 2011 saya berkunjung ke Negeri Jiran yaitu Malaysia dalam rangka
silaturahim dengan pihak keluarga isteri yang ada di Pahang, Kuala Lumpur dan
Malaka. Banyak keluarga isteri yang meninggalkan kampung halamannya yaitu di
Cubadak Pianggu Kabupaten Solok Sumatera Barat merantau untuk mencari kehidupan
yang lebih baik, ketika di kampong mereka adalah orang-orang yang susah dari
segi ekonomi, jangankan untuk punya kendaraan sedangkan untuk makan dan sekolah
anak sulit sekali, tapi kini mereka rata-rata sudah punya rumah dan kendaraan
pribadi, mobil dengan ukuran standard masyarakat Malaysia, uniknya kalau kita
di Indonesia, punya mobil setiap pulang dari mengendarai kita masukkan ke dalam
garase,dikunci sekuat mungkin agar tidak dijamah maling, mobil itu tidak akan dikeluarkan kalau tidak perlu
sekali, dia masih barang mahal bagi pemiliknya.
Tapi
bagi masyarakat Malaysia, mobil bukan kemewahan lagi tapi kebutuhan sehingga
dalam sebuah rumah itu ada dua, tiga dan empat kendaraan tersebut bahkan
letaknyapun serabutan, terkesan kendaraan itu terserak begitu saja di depan
rumah. Di Malaysia hidup masyarakatnya diperhatikan benar oleh pemimpinnya
sehingga target sejahtera bukan sebagai omong kosong. Sepanjang perjalanan saya
dari Pahang, Kuala Lumpur hingga Malaka tidak mengeluarkan dana sedikitpun
karena keluarga siap mengantarkan kemana saja bila kami ingin pusing-pusing
[keliling] kota di Malaysia. Dapat dibayangkan berapa dana yang harus saya
keluarkan untuk transportasi bila keluarga di Malaysia tidak punya kendaraan.
Sebenarnya
di Indonesia masalah kendaraan dengan merk dan harga apapun sudah dimiliki oleh
masyarakat kita, lihatlah ketika musim mudik dikala lebaran kita bisa melihat
berbagai merk kendaraan yang diliki oleh masyarakat kita, apalagi saat macet
terjadi, dalam perjalanan di Singapure melanjutkan perlancongan dari
Malaysia,di sebuah taksi, supir taksi menanyakan saya dan isteri asal negara
kami, dengan bangga kami kenalkan bahwa kami dari Indonesia, rupanya supir
taksi sudah pernah ke Jakarta, dia menilai bahwa Jakarta itu hanya pada dua hal
yaitu Kotor dan Macet, tentang macet ini Majalah Sabili membahasnya dalam
rubric sekitar kita;
Kemacetan
adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas
yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas
jalan.Kemacetan terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai
transportasi public yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya
kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk.
Berita
macet di Jakarta memang bukan berita lagi, karena memang sudah menjadi
rutinitas. Sekarang kemacetan itu sudah menular ke daerah-daerah lain. Macet
terjadi tak hanya sekedar di kota-kota besar di Jawa, seperti Bandung, Yogya,
Solo atau Surabaya.Macet juga sudah merambah ke luar Jawa, seperti Medan dan
penyeberangan antara Jawa dan Sumatera.Inipun sudah menjadi rutinitas.
Terlebih
dalam mudik lebaran.Macet sungguh luar biasa. Jalan bebas hambatan hanya
sekedar nama. Di jalan tol ini macet bisa berjam-jam.Para puncak mudik lebaran
kali ini [Jum’at dan Sabtu] jarak tempuh ke kampung halaman bisa tiga kali
lipat lamanya.
Cerita
macetpun masih berlanjut di kampong halaman.Sekedar untuk silaturahim ke sanak
familipun menjadi tak mudah.Macet tak hanya terjadi di pasar atau tempat wisata
saja.Macetpun terjadi di jalan-jalan alternative.
Kalau
dihitung-hitung jarak Jakarta-Cirebon sekitar 300 Km panjangnya. Anda bayangkan kemacetan ada
sepanjang itu. Kalau dipukul rata harga mobil 90 juta [saja] dan masing-masing
di mobil itu ada uang 10 juta [saja], artinya ada uang 100 juta berderet
sepanjang 300 km.[Sabili No. 26 September 2011].
Sebenarnya
seseorang memiliki kendaraan berbeda merk dan harga dengan orang lain tidaklah
masalah apalagi kendaraan itu untuk kepentingan ummat dan masyarakat atau
sebagai sarana untuk mobilitas dakwah, tentu sangat diharapkan, Rasulullah
dalam dakwahnyapun mempunyai empat kendaraan yang luar biasa hebat dan
pentingnya.Ketika Hijrah beliau mengendarai seekor unta yang besar dan kuat,
dengan itulah beliau menyelusuri perjalanan dari Mekkah ke Madinah, sesampai di
Madinah, unta itu berputar-putar mencari tempat berhentinya, sementara sahabat
berharap agar untuk yang dikendarai Rasul berhenti di pekarangan mereka, Rasul
bersabda,”Biarkan unta itu mencari tempat istirahatnya karena dia ada yang
mengendalikan”.
Tiba-tiba
sang unta duduk di halaman rumah milik anak yatim, Rasul menyatakan kepada
sahabat bahwa tanah itu dibeli kemudian dibangun masjid diatasnya, yang kita
kenal dengan masjid Nabawi.
Dalam
sebuah jihad, malam itu Rasulullah memerintahkan dua orang sahabat untuk ronda
sedangkan yang lain beristirahat secara bergantian, di tengah malam, dari
perbatasan terdengar ada hal-hal yang mencurigakan, salah seorang dari sahabat
yang piket segera mengejar untuk melacak apa yang mencurigakan itu, tapi
sahabat itu kalah cepat dengan Rasulullah yang terlebih dahulu sampai di
lokasi. Rasulullah mengendarai kuda yang kualitasnya bagus sehingga dalam waktu
singkat sampai ke sasaran.
Unta
ini sering dipakai dalam rangka melakukan perjalanan panjang yang membutuhkan
waktu cukup lama termasuk dalam rangka melakukan perjalanan dakwah membuka
wilayah baru dan melakukan perjalanan dagang ke luar daerah.
Disuatu
hari, saat Rasulullah memasuki pasar dalam suasana santai dan senggang, beliau
mengendarai seekor keledai, membonceng seorang anak muda mengelilingi pasar
itu, dengan tenang sang keledaipun menyelusuri pasar menuruti kehendak Rasulnya
hingga selesai urusan yang dimaksud beliaupun pulang.
Dari
kisah diatas tergambar bahwa Rasulullah punya tiga kendaraan untuk kepentingan
pribadi dan keluarga beliau, sehingga menepis pendapat orientalsi yang
menyatakan bahwa Muhammad hidup dalam keadaan miskin dan bersahaja, tidak punya
apa-apa sabagai sarana mobilitas dan transportasi.
Tahun
1998 dua orang da’i dari Kuwait datang ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan
dakwahnya ke Kota Padang, saya lupa namanya, di Masjid Al Madany sang da’i
menyampaikan taujihnya menyatakan bahwa kalau tahun ini mereka datang ke
Indonesia dengan menumpang pesawat, insya Allah tahun depan mereka akan datang
kembali ke Indonesia dengan pesawat sendiri, sehingga begitu dekatnya
perjalanan yang dilakukan karena mempunyai kendaraan dan begitu pentingnya
kendaraan itu bagi kelancaran dakwah.
Kendaraan
apapun jenis, merk dan harganya termasuk harta yang perlu disyukuri oleh
seorang muslim karena dengan karunia Allah dia bisa mendapatkan kendaraan yang
memadai untuk kelancaran usaha, dakwah dan kepentingan masyarakat luas bukan
untuk dibangga-banggakan atau dijadikan sebagai sarana untuk bermaksiat kepada
Allah, ketika sebuah kendaraan ada di tangan orang yang shaleh maka kendaraan
itu akan banyak mengantarkannya untuk beribadah kepada Allah, setiap waktu
kendaraan itu dengan setia parkir di masjid atau mushalla karena tuannya
menegakkan shalat.
Sebaliknya
bila kendaraan di tangan orang yang ahli maksiat, maka kendaraan itu akan
sering berada di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat hiburan bahkan tempat
pelacuran karena tuannya sedang bergelimang dengan dosa dan maksiat, tapi
apalah daya sebuah kendaraan, dia akan dimanfaatkan untuk kepentingan baik atau
buruk tergantung orang yang mengendarainya,
wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November
2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar