Selasa, 16 Februari 2016

224. Kendaraan



Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah menyampaikan tiga hal kunci bahagia hidup di dunia yaitu isteri yang shalehah, rumah yang lapang, tetangga yang baik dan kendaraan yang lancar.Sudah banyak bahasan yang berkaitan dengan isteri shalehah dan tetangga yang baik, sedangkan tentang dua fasilitas yang juga mendatangkan kebahagiaan adalah rumah yang lapang dan kendaraan yang lancar.
            Kendaraan merupakan kebutuhan hidup manusia sebagai sarana transportasi sehingga jarak yang jauh terasa dekat dan  beban yang berat dapat diangkat dengan  ringannya. Sejak dahulu kendaraan sudah dikenal manusia dengan memanfaatkan hewan seperti kuda, onta dan gajah serta hewan apa saja yang mungkin dapat digunakan untuk memudahkan hidup manusia.

            Para nabi dan rasul dalam mengembangkan dakwahnya juga memakai kendaeraan, lihatlah bagaimana nabi Musa bersama kaumnya dengan mengendarai kuda dan onta menyeberangi laut Merah yang sudah terbelah karena mukjizat yang Allah berikan kepadanya. Nabi Sulaimanpun yang sekaligus sebagai Raja beliau dengan gagahnya mengendarai kendaraan yang begitu banyak sehingga semut-semut ketakutan akan diporakporandakan oleh pasukan Sulaiman.

Nabi Sulaiman bukan hanya mengetahui masalah tenteranya dari kalangan manusia dan tenteranya dari kalangan burung, namun ia juga menunjukkan kasih sayangnya terhadap semut di mana beliau mendengar bisikannya dan tidak suka untuk menginjaknya. Nabi Sulaiman selalu menundukkan kepalanya ke bumi sebagai bentuk rasa rendah diri dan syukur kepada Allah s.w.t. Pada suatu hari ia berjalan di depan tenteranya dan tiba-tiba ia mendengar suara semut yang berkata kepada temannya dari kalangan semut:

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: 'Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak terinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari';, maka dia tersenyum kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ke dua orang ibu dan bapakku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." (QS. an-Naml: 18-19)

Sulaiman mendengarkan pembicaraan semut itu lalu beliau tersenyum kerana mendengar pembicaraannya.Apa yang dibayangkan oleh semut kecil itu? Meskipun Sulaiman mendapatkan kekuasaan dan memiliki tentera yang besar, namun beliau menunjukkan kasih sayang terhadap semut.Beliau mendengar bisikannya dan melihat semut yang di depannya. Oleh kerana itu, tak mungkin baginya untuk menginjaknya.[Pak Ndak - Kisah Nabi-nabi Allah].

Kendaraan selain kebutuhan transportasi bagi masyarakat, sejak dari pesawat terbang, kapal laut, mobil, motor hingga sepeda, juga merupakan sebuah kebanggaan dan prestise hidup, apalagi mereka yang terbilang sebagai pejabat tentu kendaraannya dengan jenis dan harga yang berbeda dari masyarakat kebanyakan.

H.Muh.Nur Abdurrahman dalam tulisannya yang berjudul Mobil Bagi Anggota DPRDmengungkapkan sedikit pengalamannya tentang kendaraan pribadi dan sikap para anggota dewan di daerahnya.

Di luar hujan deras bersinergi dengan banjir kiriman.Itu menghasilkan luaran yang berwujud air selokan kecil melimpah menggenangi pekarangan rumah menyapu-nyapu pelataran teras.Juga melimpah mengisi jalan di muka rumah. Untunglah loper telah sempat mengantar Harian "FAJAR" edisi Minggu, 19 Desember '99, sebelum jalan di depan rumah menganak sungai. Saya telah bersiap-siap dan sedang menunggu taksi panggilan untuk menghadiri musyawarah Penyusunan Program Kerja Pesantren IMMIM Putera.Karena hari hujan saya rencanakan pergi ke pesantren dengan taksi. Sebab untuk naik pete'-pete' (oplet) harus mengarungi anak sungai untuk sampai ke jalur pete'-pete'. Stasiun becak yang dekat rumah pagi itu sunyi dari becak, jadi saya tidak dapat naik becak ke jalur pete'-pete'. Seperti saya pernah tulis dalam Seri 383, bahwa "sejak keadaan fisik saya tidak memungkinkan menyetir jauh-jauh, sedangkan saya tidak dapat menggaji sopir pribadi, lagi pula anak-anak yang dapat menyetir sudah mempunyai kesibukan sendiri-sendiri, ditambah pula sewa taksi yang mahal, maka kalau bepergian di dalam kota saya naik kendaraan umum pete'-pete'. Saya dapat belajar dan merasakan hidup berdemokrasi dengan naik pete'-pete' ini." Demikian yang telah saya tulis dalam Seri 383 tersebut.Mengapa saya tulis tetek-bengek berkendaraan ini, oleh karena ada relevansinya dengan judul di atas.

Sambil menunggu taksi, saya baca halaman 2 Harian "FAJAR" edisi Minggu, 19 Desember '99 tentang Laporan Utama yang berkisar di sekitar ribut-ribut soal mobil DPRD. Ini beberapa komentar yang telah saya baca:
"Itu sebagai tanda bahwa anggota DPRD Sulsel sekarang ini masih punya pola pikir Orde Baru. Saya kira tidak harus jalannya pemerintahan dikontrol dari atas mobil.Mereka memperlihatkan perilaku priyai dan tidak punya sence of crisis.Mereka itu manja dan tidak ikut merasakan krisis yang dialami oleh masyarakat yang diwakilinya.Sebagai wakil rakyat sebaiknya mereka itu menjadi teladan di tengah-tangah masyarakat.Jangan justru memperlihatkan pola hidup yang konsumeristik.Ngototnya mereka minta jatah mobil berarti tidak mempertimbangkan kemampuan pendapatan daerah yang terperosok akibat krisis yang berkepanjangan. Untuk datang dan pergi ke kantor, karena memang belum punya mobil sendiri, ya, gunakan dululah yang ada, maksudnya kendaraan umum becak dan pete'-pete'. Ini baru bertugas 3-4 bulan.Bagaimana kalau masa kerja dewan sudah 1 tahun.Mungkin bukan lagi permintaan mobil, tetapi sudah memelas lagi untuk mendapatkan rumah pribadi."Demikianlah penilaian miring dari beberapa orang yang saya baca pada halaman 2.  [Makassar, 26 Desember 1999].

            Tahun 2009 Anggota DPR pernah ribut tentang anggaran pengadaan kendaraan bagi para menteri yang memunculkan angka senilai Rp 63,99 milyar untuk pembelian 79 kendaraan bagi para pembantu presiden. Ditambah lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 19 Oktober  2009 pernah mengajukan anggaran senilai Rp 62,805 milyar untuk pajak mobil para menteri

Di Aceh, fasilitas rumah dinas yang bisa dinikmati anggota DPR Aceh adalah rumah tipe 150 dengan nilai fisiknya mencapai Rp 551 juta. Tiga orang wakil ketua dan sekretaris dewan akan tinggal di rumah tipe 300 seharga Rp 669 juta. Dari 69 unit rumah, 54 diantaranya kini sudah selesai dibangun di Desa Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Rumah-rumah ini juga dilengkapi Air Conditioner (AC) merek LG, per unitnya seharga Rp 3,5 juta lebih - masing-masing rumah terpasang tiga unit. Kemudian TV LG seharga Rp 4,5 juta per unit. Dilengkapi pula sofa, meja makan, spring bed dan double bed, kulkas dua pintu, dispenser, rak piring, lemari pakaian, jaringan air ledeng hingga jasa cleaning service. Untuk memastikan komplek DPR Aceh tetap terang, telah disediakan mesin diesel genset 900 KVA yang dibeli seharga Rp 3,2 miliar. Kijang Inova siap menjadi tunggangan.Tiga orang Wakil Ketua menunggangi Toyota Fortuner. Sementara ketua dewan, akan diantar jemput dengan Toyota Camry. Sebanyak 276 stel – per stelnya seharga 2,7 juta - pakaian dinas disediakan untuk para wakil rakyat.

Bagaimana dengan cerita di DPR RI? KPU menganggarkan dana sekitar Rp 11 miliar untuk pelaksanaan kegiatan pelantikan anggota DPR dan DPD terpilih pada 1 Oktober 2009 lalu. Menurut Sekjen DPR Suripto, anggaran tersebut di antaranya untuk membiayai penginapan, transportasi pulang dan pergi ke Jakarta, uang saku, perlengkapan seperti tas, dan seragam bagi panitia. Dana sebesar itu, paling besar diserap untuk transportasi, hotel dan uang saku.Kata, itulah yang diamanahkan Undang-undang No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif.

Sebesar Rp 2,87 miliar peruntukan biaya akomodasi, konsumsi, dan hotel, pengadaan tas Rp 115,5 juta, penyediaan jasa kendaraan bus AC dan ambulans Rp 251,9 juta, penyediaan jasa, jaket, baju batik, dan hem Rp 149,9 juta, serta uang saku Rp 2 juta per orang.[Lain Dulu, Lain Sekarang!,Cybersabili.Senin, 03 Mei 2010 07:03 Herry nurdi].

Tahun 2009 dan 2011 saya berkunjung ke Negeri Jiran yaitu Malaysia dalam rangka silaturahim dengan pihak keluarga isteri yang ada di Pahang, Kuala Lumpur dan Malaka. Banyak keluarga isteri yang meninggalkan kampung halamannya yaitu di Cubadak Pianggu Kabupaten Solok Sumatera Barat merantau untuk mencari kehidupan yang lebih baik, ketika di kampong mereka adalah orang-orang yang susah dari segi ekonomi, jangankan untuk punya kendaraan sedangkan untuk makan dan sekolah anak sulit sekali, tapi kini mereka rata-rata sudah punya rumah dan kendaraan pribadi, mobil dengan ukuran standard masyarakat Malaysia, uniknya kalau kita di Indonesia, punya mobil setiap pulang dari mengendarai kita masukkan ke dalam garase,dikunci sekuat mungkin agar tidak dijamah maling, mobil itu  tidak akan dikeluarkan kalau tidak perlu sekali, dia masih barang mahal bagi pemiliknya.

Tapi bagi masyarakat Malaysia, mobil bukan kemewahan lagi tapi kebutuhan sehingga dalam sebuah rumah itu ada dua, tiga dan empat kendaraan tersebut bahkan letaknyapun serabutan, terkesan kendaraan itu terserak begitu saja di depan rumah. Di Malaysia hidup masyarakatnya diperhatikan benar oleh pemimpinnya sehingga target sejahtera bukan sebagai omong kosong. Sepanjang perjalanan saya dari Pahang, Kuala Lumpur hingga Malaka tidak mengeluarkan dana sedikitpun karena keluarga siap mengantarkan kemana saja bila kami ingin pusing-pusing [keliling] kota di Malaysia. Dapat dibayangkan berapa dana yang harus saya keluarkan untuk transportasi bila keluarga di Malaysia tidak punya kendaraan.

Sebenarnya di Indonesia masalah kendaraan dengan merk dan harga apapun sudah dimiliki oleh masyarakat kita, lihatlah ketika musim mudik dikala lebaran kita bisa melihat berbagai merk kendaraan yang diliki oleh masyarakat kita, apalagi saat macet terjadi, dalam perjalanan di Singapure melanjutkan perlancongan dari Malaysia,di sebuah taksi, supir taksi menanyakan saya dan isteri asal negara kami, dengan bangga kami kenalkan bahwa kami dari Indonesia, rupanya supir taksi sudah pernah ke Jakarta, dia menilai bahwa Jakarta itu hanya pada dua hal yaitu Kotor dan Macet, tentang macet ini Majalah Sabili membahasnya dalam rubric sekitar kita;

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.Kemacetan terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi public yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk.

Berita macet di Jakarta memang bukan berita lagi, karena memang sudah menjadi rutinitas. Sekarang kemacetan itu sudah menular ke daerah-daerah lain. Macet terjadi tak hanya sekedar di kota-kota besar di Jawa, seperti Bandung, Yogya, Solo atau Surabaya.Macet juga sudah merambah ke luar Jawa, seperti Medan dan penyeberangan antara Jawa dan Sumatera.Inipun sudah menjadi rutinitas.

Terlebih dalam mudik lebaran.Macet sungguh luar biasa. Jalan bebas hambatan hanya sekedar nama. Di jalan tol ini macet bisa berjam-jam.Para puncak mudik lebaran kali ini [Jum’at dan Sabtu] jarak tempuh ke kampung halaman bisa tiga kali lipat lamanya.

Cerita macetpun masih berlanjut di kampong halaman.Sekedar untuk silaturahim ke sanak familipun menjadi tak mudah.Macet tak hanya terjadi di pasar atau tempat wisata saja.Macetpun terjadi di jalan-jalan alternative.
Kalau dihitung-hitung jarak Jakarta-Cirebon sekitar 300 Km  panjangnya. Anda bayangkan kemacetan ada sepanjang itu. Kalau dipukul rata harga mobil 90 juta [saja] dan masing-masing di mobil itu ada uang 10 juta [saja], artinya ada uang 100 juta berderet sepanjang 300 km.[Sabili No. 26 September 2011].
Sebenarnya seseorang memiliki kendaraan berbeda merk dan harga dengan orang lain tidaklah masalah apalagi kendaraan itu untuk kepentingan ummat dan masyarakat atau sebagai sarana untuk mobilitas dakwah, tentu sangat diharapkan, Rasulullah dalam dakwahnyapun mempunyai empat kendaraan yang luar biasa hebat dan pentingnya.Ketika Hijrah beliau mengendarai seekor unta yang besar dan kuat, dengan itulah beliau menyelusuri perjalanan dari Mekkah ke Madinah, sesampai di Madinah, unta itu berputar-putar mencari tempat berhentinya, sementara sahabat berharap agar untuk yang dikendarai Rasul berhenti di pekarangan mereka, Rasul bersabda,”Biarkan unta itu mencari tempat istirahatnya karena dia ada yang mengendalikan”.

Tiba-tiba sang unta duduk di halaman rumah milik anak yatim, Rasul menyatakan kepada sahabat bahwa tanah itu dibeli kemudian dibangun masjid diatasnya, yang kita kenal dengan masjid Nabawi.

Dalam sebuah jihad, malam itu Rasulullah memerintahkan dua orang sahabat untuk ronda sedangkan yang lain beristirahat secara bergantian, di tengah malam, dari perbatasan terdengar ada hal-hal yang mencurigakan, salah seorang dari sahabat yang piket segera mengejar untuk melacak apa yang mencurigakan itu, tapi sahabat itu kalah cepat dengan Rasulullah yang terlebih dahulu sampai di lokasi. Rasulullah mengendarai kuda yang kualitasnya bagus sehingga dalam waktu singkat sampai ke sasaran.

Unta ini sering dipakai dalam rangka melakukan perjalanan panjang yang membutuhkan waktu cukup lama termasuk dalam rangka melakukan perjalanan dakwah membuka wilayah baru dan melakukan perjalanan dagang ke luar daerah.

Disuatu hari, saat Rasulullah memasuki pasar dalam suasana santai dan senggang, beliau mengendarai seekor keledai, membonceng seorang anak muda mengelilingi pasar itu, dengan tenang sang keledaipun menyelusuri pasar menuruti kehendak Rasulnya hingga selesai urusan yang dimaksud beliaupun pulang.

Dari kisah diatas tergambar bahwa Rasulullah punya tiga kendaraan untuk kepentingan pribadi dan keluarga beliau, sehingga menepis pendapat orientalsi yang menyatakan bahwa Muhammad hidup dalam keadaan miskin dan bersahaja, tidak punya apa-apa sabagai sarana mobilitas dan transportasi.

Tahun 1998 dua orang da’i dari Kuwait datang ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Kota Padang, saya lupa namanya, di Masjid Al Madany sang da’i menyampaikan taujihnya menyatakan bahwa kalau tahun ini mereka datang ke Indonesia dengan menumpang pesawat, insya Allah tahun depan mereka akan datang kembali ke Indonesia dengan pesawat sendiri, sehingga begitu dekatnya perjalanan yang dilakukan karena mempunyai kendaraan dan begitu pentingnya kendaraan itu bagi kelancaran dakwah.

Kendaraan apapun jenis, merk dan harganya termasuk harta yang perlu disyukuri oleh seorang muslim karena dengan karunia Allah dia bisa mendapatkan kendaraan yang memadai untuk kelancaran usaha, dakwah dan kepentingan masyarakat luas bukan untuk dibangga-banggakan atau dijadikan sebagai sarana untuk bermaksiat kepada Allah, ketika sebuah kendaraan ada di tangan orang yang shaleh maka kendaraan itu akan banyak mengantarkannya untuk beribadah kepada Allah, setiap waktu kendaraan itu dengan setia parkir di masjid atau mushalla karena tuannya menegakkan shalat.

Sebaliknya bila kendaraan di tangan orang yang ahli maksiat, maka kendaraan itu akan sering berada di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat hiburan bahkan tempat pelacuran karena tuannya sedang bergelimang dengan dosa dan maksiat, tapi apalah daya sebuah kendaraan, dia akan dimanfaatkan untuk kepentingan baik atau buruk tergantung orang yang mengendarainya,  wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar