Ramadhan punya makna
tersendiri di hati umat Islam.Bulan ini adalah bulan rihlah ruhaniyah
(wisata rohani).Umat Islam melepas belenggu materialisme dunia dengan
menghidupkan dunia ruhiyah. Sebulan penuh umat Islam menjalani proses tadzkiyatun
nafs (pembersihan jiwa). Sebulan penuh umat Islam melakukan riyadhatur
ruhiyah (olah rohani).
Sebulan penuh umat Islam bagai
ulat dalam kepompong Ramadhan.Diharapkan di akhir Ramadhan kondisi rohani mereka
secantik kupu-kupu.“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2):
183][Mochamad Bugi,Amal-amal
Selama Di Bulan Ramadhan, eramuslim.com.12/9/2007 | 29 Sya'ban 1428 H].
Kupu-kupu adalah hewan yang
sangat indah dan menarik. Sayapnya yang berwarna-warni dengan motif yang sangat
rapi serta kelincahannya terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, menjadi
daya tarik bagi setiap orang untuk mengagumi makhluk ini.
Kupu-kupu tak hadir begitu
saja ke muka bumi, tapi melalui proses metaformosis dari binatang yang bernama
ulat. Menyebut namanya, mungkin ada sebagian orang yang jijik, geli, takut,
penyebab kulit gatal, perusak tanaman, dan sebagainya.Ia begitu identik dengan
sifat yang tidak baik. Hampir tak ada orang yang mau menyentuhnya.
Namun, ketika seekor ulat
berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, semua orang pun berusaha memilikinya
dan bahkan mengaguminya.Mereka tak merasa takut dengan seekor kupu-kupu yang
sesungguhnya berasal dari ulat.Itulah kupu-kupu.Hewan yang indah dan menarik.
Makanannya pun bahan pilihan, dan selalu membantu proses penyerbukan tanaman.
Untuk menjadi kupu-kupu, ulat
terlebih dahulu menjadi kepompong.Itulah sebuah metamorfosis, yang dalam bahasa
manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan dan minum,
menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia.Ia begitu mirip dengan cara
kita beriktikaf, yaitu merenung diri dan melakukan pertobatan, sehingga keluar
menjadi kupu-kupu yang indah, disayang semua orang dan mempunyai nilai ekonomi
yang tinggi.
Itulah barangkali gambaran
puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang
beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dandosa, hendaknya biasa
belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang bertakwa dan disayang
Allah SWT.[H Jatiman Karim, Belajar dari Puasanya Kupu-kupu, Republika.co.id.Rabu, 25 Agustus
2010, 10:47 WIB].
Aktivitas pada bulan Ramadhan
selain puasa yang diwajibkan Allah seharusnya untuk mencapai kemenangan
Ramadhan itu harus diisi dengan berbagai aktivitas lainnya seperti shalat
tarawih, qiyamullail, mengajak orang lain untuk berbuka puasa dan membaca Al
Qur’an secara pribadi atau dengan tadarus, karena Ramadhan merupakan syahrut
tarbiyyah bulan pendidikan, maka jadikanlah Ramadhan itu sebagai madrasah yang
akan menggembleng diri kita untuk mencapai derajat taqwa.
Dari ayat diatas [2;183]
ibadah puasa adalah suatu sarana untuk meraih ketaqwaan kepada Allah, karena
ketika seseorang melaksanakan ibadah puasa dia akan mersa sangat dekat dengan
Allah, perutnya yang kosong akan membuat jantungnya menjadi jernih dan hatinya
yang kehausan akan membuat matanya menjadi basah oleh air matanya.
Dan adalah sebuah kekeliruan
yang sangat besar apabila ada sebagian orang yang beranggaapan bahwa puasa
hanyalah sekedar menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan mulai dari
terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.sehingga Rasulullahpun mewarning
orang berpuasa dengan sabdanya:” betapa banyak orang yang berpuasa yang mereka
dapatkan hanyalah rasa haus dan lapar.”
Apabila kita kita mampu memamfaatkan momentum
Ramadhan yang mulia ini semaksimal mungkin dengan menghidupkan siang dan
malamnya dengan mendekatkan diri kepada Allah, tentunya dengan perencanaan dan
persiapan yang matang untuk menyambut kedatangannya, niscaya kita akan meraih
sukses bersamanya.
Diantara persiapan yang harus kita lakukan adalah dengan membaca buku-buku tentang ramadhan dan sekaligus bertanya kepada para ulama-ulama kita, sehingga kita memiliki pengetahuan yang benar tentang amal-amal utama yang akan kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Membiasakan diri untuk menghadiri majlis-majlis ta’lim, shalat berjamaah dan membaca Alquran juga akan menjadi kekuatan kita untuk menjadikan ramadhan menjadi bulan terbaik dan istimewa dari kita sebagai muslim.[H.NasrullahNukman,Meraih Sukses Bersama Ramadhan, Korandigital.com.Mon, 9 Aug 2010].
Diantara persiapan yang harus kita lakukan adalah dengan membaca buku-buku tentang ramadhan dan sekaligus bertanya kepada para ulama-ulama kita, sehingga kita memiliki pengetahuan yang benar tentang amal-amal utama yang akan kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Membiasakan diri untuk menghadiri majlis-majlis ta’lim, shalat berjamaah dan membaca Alquran juga akan menjadi kekuatan kita untuk menjadikan ramadhan menjadi bulan terbaik dan istimewa dari kita sebagai muslim.[H.NasrullahNukman,Meraih Sukses Bersama Ramadhan, Korandigital.com.Mon, 9 Aug 2010].
Bulan
Ramadhan merupakan salah satu bulan pilihan, bulan yang dikeramatkan (di
muliakan) karena pada setiap waktunya mengandung barakah, jika
diibaratkan dengan kemajuan teknolgi-informasi sekarang ini, bulan
Ramadhan merupakan daerah yang padat dengan sinyal-sinyal komunikasi sehingga
untuk melakukan komunikasi begitu jelas, tidak terputus-putus. Dengan demikian,
bulan ramadhan merupakan bulan yang cocok untuk melakukan komunikasi
(bermuhajahah) dengan Allah, karena sepanjang bulan itu (baik siang maupun
malamnya) Allah membuka lebar pintu rahmat-Nya.Serta di sediakan jalur khusus
untuk menggapai kenikmatan, jalur ini hanya diperuntukkan untuk orang-orang
yang melakukan puasa, jalur tersebut di kenal dengan "ar-Rayyan".
Meskipun
disepanjang waktunya, Allah telah menyebarkan rahmat-Nya akan tetapi Allah
masih memberikan hari-hari yang penuh berkah, hari tersebut biasa di sebut
dengan "lailatul qodar". Menurut Sa’id bin Mansar-mengutip
mujahid-bahwa malam itu (lailatul qodar) adalah malam keselamatan. Syetan tidak
akan mampu melakukan keburukan didalamnya, atau melakukan suatu tipu daya.
Sementara Qotada berkata, "(pada malam itu) perkara-perkara kehidupan
ditetapkan, ajal dan rizeki diputuskan, sebagaimana firman-Nya, "pada
malam itu di jelaskan segala urusan yang penuh hikmah".( ad-Dukhan: 4).
Itulah
alasannya, mengapa Allah memilih bulan ramadhan sebagai bulan untuk
melaksanakan puasa. Puasa Ramadhan bukanlah puasa seperti yang dilakukan oleh
masyarakat jawa yang dikenal dengan "puasa tirakatan". Meskipun
sama-sama melakukan puasa tetapi banyak perbedaannya antara lain: puasa
"kejawen" ( untuk memudahkan penyebutan bagi penulis) aturannya
biasanya dibuat sendiri sehingga puasanya itu banyak macamnya seperti puasa
"ngrowot", puasa "mutih", puasa "ngebleng", puasa
"pati geni", dan lain sebagainya. Sedangkan puasa Ramadhan syarat dan
ketentuan telah ditetapkan oleh Allah, meskipun keduanya mempunyai persamaan
dalam hal tujuan, yakni memperoleh ridlo Illahi.
Bulan
Ramadhan merupakan bulan yang cocok untuk dijadikan madrasah rabbaniyyah.
Madrasah ini merupakan institusi khusus yang Allah berikan kapada manusia agar
dalam kehidupannya mencapai kesatuan karsa dengan sang Kholik.[Khoirul Anwar, Ramadhan Sebagai Madarasah Rabbaniyyah, 21-08-2009].
Muhammad Iqbal pernah berkisah
tentang dirinyaayahnya dan al-Qur’an.“Saya biasa membaca al-Qur’an selepas
shalat subuh.Dan ayah, selalu mengawasi,” tuturnya.
Tidak
saja mengawasi, sang ayah juga bertanya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya sang
ayah. Padahal jelas-jelas sang ayah melihat anaknya sedang mengaji.
“Aku
menjawabnya, sedang membaca al-Qur’an,” kenang Muhammad Iqbal. Pertanyaan itu
diulang-ulang oleh sang ayah setiap pagi, selepas subuh, selama tiga tahun
penuh. Jawaban yang diberikan juga sama, setiap pagi, selepas subuh, setahun
penuh, Muhammad Iqbal menjawab sedang mengaji al-Qur’an.
Lalu,
suatu hari Muhammad Iqbal memberanikan diri bertanya kepada sang ayah. “Mengapa
ayah selalu menanyakan pertanyaan yang sama, padahal jawaban saya juga selalu
sama?”
“Nak,
bacalah al-Qur’an itu seolah-olah diturunkan langsung kepadamu.” Dan sejak saat
itu, Muhammad Iqbal mengetahui apa pesan di balik pertanyaan ayahnya. Sejak
saat itu pula, Muhammad Iqbal senantiasa membangun atmosfir di dalam dirinya,
seolah-olah al-Qur’an itu turun langsung untuknya.Muhammad Iqbal tidak saja
membaca, tapi juga mencoba mengerti.Tidak saja mampu mengerti, tapi juga
memahami.Tidak sebatas memahami, tapi juga mengejawantah.Tidak saja
mengejawantah, tapi juga mencoba untuk menyampaikan kembali isi al-Qur’an
seperti yang dipahaminya.
Maka
hari ini kita mengenang nama Muhammad Iqbal sebagai salah satu tokoh besar
dalam dunia Islam. Bahkan beberapa kalangan menyebutnya sebagai salah satu
mujaddid atau pembaharu dalam sejarah Islam. Muhammad Iqbal pantas dan layak
menjadi besar, sebab yang ia baca, mengerti, pahami, serta ejawantah dan yang
ia sampaikan adalah hal yang sangat besar: al-Qur’an.
Dan
lebih dari segalanya, ia mampu membangun sesuatu yang sangat besar: perasaan
bahwa al-Qur’an diturunkan langsung untuk dirinya.[Belajar dalam Madrasah Ramadhan, Cybersabili.com.Kamis, 05 Agustus
2010 01:41 Herry nurdi].
Ketika
kita memahami bahwa Al Qur’an yang diwahyukan Allah itu rasanya diturunkan
kepada kita, maka hal itu akan lain kita petik hikmahnya bulan Ramadhan ini
yang bukan hanya sebatas Syahrul Qur’an dan Syahrut Tarbiyyah, tapi Ramadhan
juga akan menjadi Syahrul Ghufran yaitu bulan ampunan, maka perlu kita ambil
momentum Ramadhan ini untuk memperbaiki diri, menjadikan al qur’an itu ada pada
setiap gerak hidup kita.
Memang,
proses menjadi baik itu panjang.Tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik
hanya memerlukan waktu beberapa saat.Ya, perbaikan diri memang tidak kenal
henti.Tetapi kemauan dan kemantapan untuk memulai perbaikan diri itu hanya
perlu waktu sebentar.Hanya dibutuhkan kejujuran di dasar hati. Agar
fitrah manusia berbicara apa adanya. Saat itu jawabannya akan langsung ada,
bahwa setiap kita harus menjadi baik, memulai menjadi baik atau setidaknya
memilih untuk menjadi baik.
Memasuki
bulan Ramadhan adalah moment yang tepat untuk meningkatkan dan memperbaiki
kualitas diri. Karena memang di bulan Ramadhan ada pensyariatan ibadah dengan
target yang telah Allah canangkan buat hamba-Nya, dan dari dua belas bulan yang
ada dalam setahun Allah swt memilih Bulan Ramadhan sebagai waktu turunnya
Al-Qur'an "Bulan Ramadhan, bulan
yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak
dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah/2 :185)
ini
memberi kesan bahwa Ramadhan yang Allah pilih sebagai momentum turunya
Al-Qur'an adalah juga menjadi momentum yang sangat pas bagi kita semua untuk
membumikan nilai-nilai Al-Qur'an kedalam diri kita –dan inilah hakekat
perbaikan diri-. Apalagi di awal Ramadhan ini sedang terkumpul semangat membara
di kebanyakan umat islam untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Memasuki
bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan tarbiyah dan mujahadah, ada
beberapa aspek perbaikan diri yang perlu kita canangkan dan kita sadari agar
membuahkan hasil yang maksimal, yang pada akhirnya keberkahan bulan Ramadhan
tahun ini dapat kita gapai dengan gemilang.[Saat Mubarak,
Lc,www.nuansaislam,com,Kamis, 29 Juli 2010 04:58].
Ibarat sebuah perjuangan, hal itu memang tepat bahwa Ramadhan
disebut juga dengan Syahrul Jihad, maka perjuangan yang diharapkan adalah
perjuangan yang mencapai kemenangan, bila Ramadhan disebut sebagai ajang
madrasah maka yang diharapkan akhirnya adalah lulus dengan nilai terbaik.
DR. Amir Faishol Fathdalam taujihnya yang dipublikasikan melalui dakwatuna yang kita
kutip beberapa point-point penting didalamnya mengungkapkan setidaknya
ada tujuh spirit kemenangan Ramadhan yang bisa diangkat dalam tulisan ini:
Pertama,
Kemenangan Atas Nafsu
Dalam
kata ashiyam pada ayat di atas terkandung makna alhabsu
artinya menahan.Seorang yang berpuasa pasti sedang menahan nafsu dengan segala dimensinya.Bukan
hanya nafsu makan dan minum, melainkan juga nafsu hubungan seks dan nafsu
memandang yang haram.Perhatikan diri anda ketika sedang berpuasa.Apa yang anda
tahan? Bukankah anda sedang menahan diri dari yang halal?Makan dan minum itu
halal bagi anda.Berhubungan seks dengan istri anda itu juga halal.Tetapi anda
tahan.Dan anda mampu menahannya.Apa makna semua ini? Di sini nampak bahwa anda
sedang bertarung dengan nafsu anda.Anda sedang berusaha mengendalikannya.
Sekalipun nafsu itu meronta-ronta memanggil anda untuk makan di siang hari yang
panas, anda tetap mengendalikannya sampai tiba adzan maghrib. Bila ternyata
anda mampu melakukan ini, sungguh tidak ada alasan bagi anda untuk terjatuh
kepada yang haram, hanya karena godaan nafsu.
Kedua,
Kemenangan Atas Setan
Dalam
sebuah riwayat dikatakan bahwa ketika tiba Ramdhan, syetan-syetan diikat. Nabi
saw. bersabda: “Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga
dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara syetan-syetan diikat.”
(HR. Bukhari-Muslim). Ini menunjukkan bahwa iman umat Islam di bulan Ramadhan
harus meningkat.Karena itu kita selalu menemukan suasana yang berbeda di bulan
Ramadhan. Orang yang tadinya malas shalat berjemaah di masjid, selama Ramadhan
ia rajin ke masjid. Orang yang tadinya tidak pernah membaca Al Qur’an, selama
Ramadhan selalu membacanya.Orang yang tadinya kikir bersedekah, selama Ramadhan
menjadi dermawan.Orang yang tadinya tidak pernah bangun waktu fajar, selama
Ramadhan selalu bangun fajar dan shalat subuh berjemaah di masjid.Orang yang
tadinya tidak pernah shalat malam, selama Ramadhan rajib shalat malam.Orang
yang tadinya mempertontonkan aurtanya, selama Ramadhan menjadi wanita anggun di
balik jilbab yang indah.
Ketiga,
Pahala Dilipatgandakan
Dalam
sebuah hadist Rasulullah saw. bersabda: “Setiap amal anak Adam
-selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai
tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan
Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya.” (HR. Muslim).
Maksudnya bahwa pahala puasa bukan hanya dilipatgandakan melainkan lebih dari
itu, Allah swt berjanji akan memberikan pahala tanpa batas. Bayangkan berapa
pahala yang akan didapat seseorang sepanjang hari berpuasa, bersedekah,
menegakkan amal-amal wajib lalu dilanjutkan dengan amal-amal sunnah. Di mana
semua itu dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat.
Keempat,
Dosa-Dosa Diampuni
Minimal
ada tiga ibadah dalam Ramadhan yang secara tegas Rasulullah saw. mengkaitkan
dengan ampunan dosa-dosa terdahulu: Pertama,
ibadah puasa. Nabi saw. bersabda: “Man shaama Ramadhaan
iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi. (Siapa yang
berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan
diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Kedua,
ibadah shalat malam (baca: tarawih). Nabi saw. bersabda: “Man
qaama Ramadhana iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi.
(Siapa yang menegakkan shalat malam Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh
harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR.
Bukhari-Muslim). Ketiga, Ibadah shalat malam
lailatul qadr. Nabi saw. bersabda: “Man qaama lailatal
qadri iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi. (Siapa
yang menegakkan shalat malam pada malam lailatul qadr dengan kesadaran iman dan
penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.”
(HR. Bukhari-Muslim).
Perhatikan ketiga hadits di atas,
betapa ibadah Ramadhan yang akan menjadi penyebab ampunan dosa bukan hanya
puasa, melainkan ada juga ibadah shalat malam sepanjang Ramadhan termasuk pada
malam lailatul qadr.
Kelima,
Doa-doa Dikabulkan
Seorang
yang sedang berpuasa doanya mustajab. Sebab ia sedang dalam kondisi menahan
nafsu. Syetan-syetan tidak mendekatinya. Karenanya ia lebih dekat kepada Allah
swt. Ketika ia dalam kondisi sangat dekat kepada Allahswt., maka doanya akan
mudah diterima. Karena itu Nabi saw. menganjurkan agar orang-orang yang sadang
berpuasa banyak-banyak berdoa. Para ulama mengatakan: Disunnahkan bagi orang
yang sedang berpuasa selalu mengucapkan dzikir, memanjatkan doa, sepanjang hari
selama berpuasa. Sebab puasa membuat pelakunya semakin dekat kepada Allah
swt.Orang-orang yang dekat kepada Allah swt.doanya mustajab.
Imam
At Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Tiga
orang yang doanya tidak pernah ditolak: Pemimpin yang adil, seorang yang sedang
berpuasa sampai ia berbuka, orang yang dizholimi.”Jelasnya bahwa
selama puasa Ramadhan iman hamba-hamba Allah swt. sedang naik, mereka selalu
bangun malam menegakkan shalat, mereka selalu membaca Al Qur’an, mereka selalu
bersedekah, mereka jauh dari dosa-dosa, mereka bertobat minta ampunan kepada
Allah swt. dan sebagianya. Semua itu merupakan suasana yang dukung-dukung membuat
turunnya keberkahan dari Allah swt. Semakin banyak keberkahan yang turun
semakin mudah doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah swt.
Keenam,
Raih Lailatul Qadr
Dalam
surah Al Qadr: 3-5 Allah swt. menerangkan keagungan malam lailatul
qadr: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan
izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan
sampai terbit fajar.”Inilah malam yang sangat Allah swt.agungkan.
Pada malam lailatul qadr ini Allah
swt.pernah menurunkan Al Qur’an. Bukan hanya itu, setiap malam lailatul
qadr Allah memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk
menutupi kekurangan masa lalunya dengan beribadah menegakkan shalat, berdzikir
dan membaca Al Qur’an.Bayangkan pahalanya khusus dan luar biasa.Tidak bisa
dibandingkan dengan pahala beribadah selama 1000 bulan. Kata khirun
pada ayat di atas menunjukkan makna lebih baik, bukan sama. Perhatikan betapa
keutamaan ibadah pada malam lailatul qadr hendaklah
diraih dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah saw.
memberikan tuntunan agar lailatul qadr itu diburu pada
sepuluh malam terakhir Ramadhan. Terutama malam-malam ganjil: 21, 23, 25, 27,
29. Banyak para sahabat dan para ulama yang menekankan secara khusus malam
tangga 27 Ramadhan.Tetapi demikian, mereka menganjurkan agar tidak mencukupkan
hanya dengan malam tanggal 27 saja. Sebab tidak mustahil malam lailatul
qadr itu akan terjadi pada malam-malam lainnya. Karena itu
handaknya seorang hamba Allah swt.selalu bangun setiap malam. Karena tidak ada
yang tahu pasti kapan dan tanggal berapa sebenarnya lailatul qadr
itu terjadi. Karena itu sebagian sahabat mengatakan: Siapa yang yang bangun
menegakkan shalat setiap malam sepanjang tahun ia pasti dapat keistimewaan lailatul
qadr.
Ketujuh,
Kejar Level Taqwa
Ayat
tentang puasa di atas, ditutup dengan la’allakum tattaquun
(agar kamu bertaqwa). Artinya bahwa tujuan utama puasa Ramadhan adalah untuk
membangun kesadaran taqwa dalam pribadi seorang muslim. Taqwa seperti yang
dikatakan Ubay bin Ka’ab ra. kepada Umar bin Khaththab adalah:
“Bahwa orang yang betaqwa itu seperti orang berjalan di tempat yang banyak
durinya. Kanan-kiri, bawah-atas ada duri.” Bayangkan apa yang dia
lakukan? Tentu ia sangat berhat-hati, jangan sampai duri itu menggores
tubuhnya. Begitu juga taqwa.Anda berhati-hati dari pandangan yang haram seperti
anda berhati-hati dari duri, itu taqwa.Anda berhat-hati dari harta haram,
jangan sampai barang itu masuk ke perut anda, atau ke perut istri dan anak
anda, seperti anda berhati-hati dari duri, itu takwa. Anda berhati-hati dari
dosa-dosa kecil apalagi besar seperti anda berhat-hati dari duri, itu taqwa.[7
Spirit Kemenangan Ramadhan, dakwatuna.com 9/9/2008 |
08 Ramadhan 1429].
Begitu
luar biasanya kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya agar menggunakan
Ramadhan sebagai sarana untuk memperbaiki diri, mentarbiyah diri untuk mencapai
level tertinggi dalam keimanan sehingga tidak ada balasan yang layak untuk
mereka selain kemenangan Ramadhan di dunia dan syurga-Nya kelak di akherat, wallahu
a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar