Selasa, 16 Februari 2016

225. Kemenangan Ramadhan



Ramadhan punya makna tersendiri di hati umat Islam.Bulan ini adalah bulan rihlah ruhaniyah (wisata rohani).Umat Islam melepas belenggu materialisme dunia dengan menghidupkan dunia ruhiyah. Sebulan penuh umat Islam menjalani proses tadzkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sebulan penuh umat Islam melakukan riyadhatur ruhiyah (olah rohani).

Sebulan penuh umat Islam bagai ulat dalam kepompong Ramadhan.Diharapkan di akhir Ramadhan kondisi rohani mereka secantik kupu-kupu.“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183][Mochamad Bugi,Amal-amal Selama Di Bulan Ramadhan, eramuslim.com.12/9/2007 | 29 Sya'ban 1428 H].

Kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah dan menarik. Sayapnya yang berwarna-warni dengan motif yang sangat rapi serta kelincahannya terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, menjadi daya tarik bagi setiap orang untuk mengagumi makhluk ini.

Kupu-kupu tak hadir begitu saja ke muka bumi, tapi melalui proses metaformosis dari binatang yang bernama ulat. Menyebut namanya, mungkin ada sebagian orang yang jijik, geli, takut, penyebab kulit gatal, perusak tanaman, dan sebagainya.Ia begitu identik dengan sifat yang tidak baik. Hampir tak ada orang yang mau menyentuhnya.

Namun, ketika seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, semua orang pun berusaha memilikinya dan bahkan mengaguminya.Mereka tak merasa takut dengan seekor kupu-kupu yang sesungguhnya berasal dari ulat.Itulah kupu-kupu.Hewan yang indah dan menarik. Makanannya pun bahan pilihan, dan selalu membantu proses penyerbukan tanaman.

Untuk menjadi kupu-kupu, ulat terlebih dahulu menjadi kepompong.Itulah sebuah metamorfosis, yang dalam bahasa manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan dan minum, menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia.Ia begitu mirip dengan cara kita beriktikaf, yaitu merenung diri dan melakukan pertobatan, sehingga keluar menjadi kupu-kupu yang indah, disayang semua orang dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Itulah barangkali gambaran puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dandosa, hendaknya biasa belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang bertakwa dan disayang Allah SWT.[H Jatiman Karim, Belajar dari Puasanya Kupu-kupu, Republika.co.id.Rabu, 25 Agustus 2010, 10:47 WIB].

Aktivitas pada bulan Ramadhan selain puasa yang diwajibkan Allah seharusnya untuk mencapai kemenangan Ramadhan itu harus diisi dengan berbagai aktivitas lainnya seperti shalat tarawih, qiyamullail, mengajak orang lain untuk berbuka puasa dan membaca Al Qur’an secara pribadi atau dengan tadarus, karena Ramadhan merupakan syahrut tarbiyyah bulan pendidikan, maka jadikanlah Ramadhan itu sebagai madrasah yang akan menggembleng diri kita untuk mencapai derajat taqwa.

Dari ayat diatas [2;183] ibadah puasa adalah suatu sarana untuk meraih ketaqwaan kepada Allah, karena ketika seseorang melaksanakan ibadah puasa dia akan mersa sangat dekat dengan Allah, perutnya yang kosong akan membuat jantungnya menjadi jernih dan hatinya yang kehausan akan membuat matanya menjadi basah oleh air matanya.

Dan adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar apabila ada sebagian orang yang beranggaapan bahwa puasa hanyalah sekedar menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.sehingga Rasulullahpun mewarning orang berpuasa dengan sabdanya:” betapa banyak orang yang berpuasa yang mereka dapatkan hanyalah rasa haus dan lapar.”

Apabila kita kita mampu memamfaatkan momentum Ramadhan yang mulia ini semaksimal mungkin dengan menghidupkan siang dan malamnya dengan mendekatkan diri kepada Allah, tentunya dengan perencanaan dan persiapan yang matang untuk menyambut kedatangannya, niscaya kita akan meraih sukses bersamanya. 

Diantara persiapan yang harus kita lakukan adalah dengan membaca buku-buku tentang ramadhan dan sekaligus bertanya kepada para ulama-ulama kita, sehingga kita memiliki pengetahuan yang benar tentang amal-amal utama yang akan kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Membiasakan diri untuk menghadiri majlis-majlis ta’lim, shalat berjamaah dan membaca Alquran juga akan menjadi kekuatan kita untuk menjadikan ramadhan menjadi bulan terbaik dan istimewa dari kita sebagai muslim.[H.NasrullahNukman,Meraih Sukses Bersama Ramadhan, Korandigital.com.Mon, 9 Aug 2010].

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan pilihan, bulan yang dikeramatkan (di muliakan) karena pada setiap waktunya mengandung barakah, jika diibaratkan  dengan kemajuan teknolgi-informasi sekarang ini, bulan Ramadhan merupakan daerah yang padat dengan sinyal-sinyal komunikasi sehingga untuk melakukan komunikasi begitu jelas, tidak terputus-putus. Dengan demikian, bulan ramadhan merupakan bulan yang cocok untuk melakukan komunikasi (bermuhajahah) dengan Allah, karena sepanjang bulan itu (baik siang maupun malamnya) Allah membuka lebar pintu rahmat-Nya.Serta di sediakan jalur khusus untuk menggapai kenikmatan, jalur ini hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang melakukan puasa, jalur tersebut di kenal dengan "ar-Rayyan".

Meskipun disepanjang waktunya, Allah telah menyebarkan rahmat-Nya akan tetapi Allah masih memberikan hari-hari yang penuh berkah, hari tersebut biasa di sebut dengan "lailatul qodar". Menurut Sa’id bin Mansar-mengutip mujahid-bahwa malam itu (lailatul qodar) adalah malam keselamatan. Syetan tidak akan mampu melakukan keburukan didalamnya, atau melakukan suatu tipu daya. Sementara Qotada berkata, "(pada malam itu) perkara-perkara kehidupan ditetapkan, ajal dan rizeki diputuskan, sebagaimana firman-Nya, "pada malam itu di jelaskan segala urusan yang penuh hikmah".( ad-Dukhan: 4).

Itulah alasannya, mengapa Allah memilih bulan ramadhan sebagai bulan untuk melaksanakan puasa. Puasa Ramadhan bukanlah puasa seperti yang dilakukan oleh masyarakat jawa yang dikenal dengan "puasa tirakatan". Meskipun sama-sama melakukan puasa tetapi banyak perbedaannya antara lain: puasa "kejawen" ( untuk memudahkan penyebutan bagi penulis) aturannya biasanya dibuat sendiri sehingga puasanya itu banyak macamnya seperti puasa "ngrowot", puasa "mutih", puasa "ngebleng", puasa "pati geni", dan lain sebagainya. Sedangkan puasa Ramadhan syarat dan ketentuan telah ditetapkan oleh Allah, meskipun keduanya mempunyai persamaan dalam hal tujuan, yakni memperoleh ridlo Illahi.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang cocok untuk dijadikan madrasah rabbaniyyah. Madrasah ini merupakan institusi khusus yang Allah berikan kapada manusia agar dalam kehidupannya mencapai kesatuan karsa dengan sang Kholik.[Khoirul Anwar, Ramadhan Sebagai Madarasah Rabbaniyyah, 21-08-2009].

Muhammad Iqbal pernah berkisah tentang dirinyaayahnya dan al-Qur’an.“Saya biasa membaca al-Qur’an selepas shalat subuh.Dan ayah, selalu mengawasi,” tuturnya.

Tidak saja mengawasi, sang ayah juga bertanya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya sang ayah. Padahal jelas-jelas sang ayah melihat anaknya sedang mengaji.

“Aku menjawabnya, sedang membaca al-Qur’an,” kenang Muhammad Iqbal. Pertanyaan itu diulang-ulang oleh sang ayah setiap pagi, selepas subuh, selama tiga tahun penuh. Jawaban yang diberikan juga sama, setiap pagi, selepas subuh, setahun penuh, Muhammad Iqbal menjawab sedang mengaji al-Qur’an.

Lalu, suatu hari Muhammad Iqbal memberanikan diri bertanya kepada sang ayah. “Mengapa ayah selalu menanyakan pertanyaan yang sama, padahal jawaban saya juga selalu sama?”

“Nak, bacalah al-Qur’an itu seolah-olah diturunkan langsung kepadamu.” Dan sejak saat itu, Muhammad Iqbal mengetahui apa pesan di balik pertanyaan ayahnya. Sejak saat itu pula, Muhammad Iqbal senantiasa membangun atmosfir di dalam dirinya, seolah-olah al-Qur’an itu turun langsung untuknya.Muhammad Iqbal tidak saja membaca, tapi juga mencoba mengerti.Tidak saja mampu mengerti, tapi juga memahami.Tidak sebatas memahami, tapi juga mengejawantah.Tidak saja mengejawantah, tapi juga mencoba untuk menyampaikan kembali isi al-Qur’an seperti yang dipahaminya.

Maka hari ini kita mengenang nama Muhammad Iqbal sebagai salah satu tokoh besar dalam dunia Islam. Bahkan beberapa kalangan menyebutnya sebagai salah satu mujaddid atau pembaharu dalam sejarah Islam. Muhammad Iqbal pantas dan layak menjadi besar, sebab yang ia baca, mengerti, pahami, serta ejawantah dan yang ia sampaikan adalah hal yang sangat besar: al-Qur’an.

Dan lebih dari segalanya, ia mampu membangun sesuatu yang sangat besar: perasaan bahwa al-Qur’an diturunkan langsung untuk dirinya.[Belajar dalam Madrasah Ramadhan, Cybersabili.com.Kamis, 05 Agustus 2010 01:41 Herry nurdi].

Ketika kita memahami bahwa Al Qur’an yang diwahyukan Allah itu rasanya diturunkan kepada kita, maka hal itu akan lain kita petik hikmahnya bulan Ramadhan ini yang bukan hanya sebatas Syahrul Qur’an dan Syahrut Tarbiyyah, tapi Ramadhan juga akan menjadi Syahrul Ghufran yaitu bulan ampunan, maka perlu kita ambil momentum Ramadhan ini untuk memperbaiki diri, menjadikan al qur’an itu ada pada setiap gerak hidup kita.

Memang, proses menjadi baik itu panjang.Tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik hanya memerlukan waktu beberapa saat.Ya, perbaikan diri memang tidak kenal henti.Tetapi kemauan dan kemantapan untuk memulai perbaikan diri itu hanya perlu waktu sebentar.Hanya dibutuhkan kejujuran di dasar hati. Agar fitrah manusia berbicara apa adanya. Saat itu jawabannya akan langsung ada, bahwa setiap kita harus menjadi baik, memulai menjadi baik atau setidaknya memilih untuk menjadi baik.

Memasuki bulan Ramadhan adalah moment yang tepat untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas diri. Karena memang di bulan Ramadhan ada pensyariatan ibadah dengan target yang telah Allah canangkan buat hamba-Nya, dan dari dua belas bulan yang ada dalam setahun Allah swt memilih Bulan Ramadhan sebagai waktu turunnya Al-Qur'an "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah/2 :185)

ini memberi kesan bahwa Ramadhan yang Allah pilih sebagai momentum turunya Al-Qur'an adalah juga menjadi momentum yang sangat pas bagi kita semua untuk membumikan nilai-nilai Al-Qur'an kedalam diri kita –dan inilah hakekat perbaikan diri-. Apalagi di awal Ramadhan ini sedang terkumpul semangat membara di kebanyakan umat islam untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Memasuki bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan tarbiyah dan mujahadah, ada beberapa aspek perbaikan diri yang perlu kita canangkan dan kita sadari agar membuahkan hasil yang maksimal, yang pada akhirnya keberkahan bulan Ramadhan tahun ini dapat kita gapai dengan gemilang.[Saat Mubarak, Lc,Ramadhan Momentum Perbaikan Diri, www.nuansaislam,com,Kamis, 29 Juli 2010 04:58].

Ibarat sebuah perjuangan, hal itu memang tepat bahwa Ramadhan disebut juga dengan Syahrul Jihad, maka perjuangan yang diharapkan adalah perjuangan yang mencapai kemenangan, bila Ramadhan disebut sebagai ajang madrasah maka yang diharapkan akhirnya adalah lulus dengan nilai terbaik.

DR. Amir Faishol Fathdalam taujihnya yang dipublikasikan melalui dakwatuna yang kita kutip beberapa point-point penting didalamnya mengungkapkan setidaknya ada tujuh spirit kemenangan Ramadhan yang bisa diangkat dalam tulisan ini:

Pertama, Kemenangan Atas Nafsu
Dalam kata ashiyam pada ayat di atas terkandung makna alhabsu artinya menahan.Seorang yang berpuasa pasti sedang menahan nafsu dengan segala dimensinya.Bukan hanya nafsu makan dan minum, melainkan juga nafsu hubungan seks dan nafsu memandang yang haram.Perhatikan diri anda ketika sedang berpuasa.Apa yang anda tahan? Bukankah anda sedang menahan diri dari yang halal?Makan dan minum itu halal bagi anda.Berhubungan seks dengan istri anda itu juga halal.Tetapi anda tahan.Dan anda mampu menahannya.Apa makna semua ini? Di sini nampak bahwa anda sedang bertarung dengan nafsu anda.Anda sedang berusaha mengendalikannya. Sekalipun nafsu itu meronta-ronta memanggil anda untuk makan di siang hari yang panas, anda tetap mengendalikannya sampai tiba adzan maghrib. Bila ternyata anda mampu melakukan ini, sungguh tidak ada alasan bagi anda untuk terjatuh kepada yang haram, hanya karena godaan nafsu.

Kedua, Kemenangan Atas Setan
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ketika tiba Ramdhan, syetan-syetan diikat. Nabi saw. bersabda: “Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara syetan-syetan diikat.” (HR. Bukhari-Muslim). Ini menunjukkan bahwa iman umat Islam di bulan Ramadhan harus meningkat.Karena itu kita selalu menemukan suasana yang berbeda di bulan Ramadhan. Orang yang tadinya malas shalat berjemaah di masjid, selama Ramadhan ia rajin ke masjid. Orang yang tadinya tidak pernah membaca Al Qur’an, selama Ramadhan selalu membacanya.Orang yang tadinya kikir bersedekah, selama Ramadhan menjadi dermawan.Orang yang tadinya tidak pernah bangun waktu fajar, selama Ramadhan selalu bangun fajar dan shalat subuh berjemaah di masjid.Orang yang tadinya tidak pernah shalat malam, selama Ramadhan rajib shalat malam.Orang yang tadinya mempertontonkan aurtanya, selama Ramadhan menjadi wanita anggun di balik jilbab yang indah.

Ketiga, Pahala Dilipatgandakan
Dalam sebuah hadist Rasulullah saw. bersabda: “Setiap amal anak Adam -selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya.” (HR. Muslim). Maksudnya bahwa pahala puasa bukan hanya dilipatgandakan melainkan lebih dari itu, Allah swt berjanji akan memberikan pahala tanpa batas. Bayangkan berapa pahala yang akan didapat seseorang sepanjang hari berpuasa, bersedekah, menegakkan amal-amal wajib lalu dilanjutkan dengan amal-amal sunnah. Di mana semua itu dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat.

Keempat, Dosa-Dosa Diampuni
Minimal ada tiga ibadah dalam Ramadhan yang secara tegas Rasulullah saw. mengkaitkan dengan ampunan dosa-dosa terdahulu: Pertama, ibadah puasa. Nabi saw. bersabda: “Man shaama Ramadhaan iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi. (Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Kedua, ibadah shalat malam (baca: tarawih). Nabi saw. bersabda: “Man qaama Ramadhana iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi. (Siapa yang menegakkan shalat malam Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Ketiga, Ibadah shalat malam lailatul qadr. Nabi saw. bersabda: “Man qaama lailatal qadri iimaanan wah tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambihi. (Siapa yang menegakkan shalat malam pada malam lailatul qadr dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Perhatikan ketiga hadits di atas, betapa ibadah Ramadhan yang akan menjadi penyebab ampunan dosa bukan hanya puasa, melainkan ada juga ibadah shalat malam sepanjang Ramadhan termasuk pada malam lailatul qadr

Kelima, Doa-doa Dikabulkan
Seorang yang sedang berpuasa doanya mustajab. Sebab ia sedang dalam kondisi menahan nafsu. Syetan-syetan tidak mendekatinya. Karenanya ia lebih dekat kepada Allah swt. Ketika ia dalam kondisi sangat dekat kepada Allahswt., maka doanya akan mudah diterima. Karena itu Nabi saw. menganjurkan agar orang-orang yang sadang berpuasa banyak-banyak berdoa. Para ulama mengatakan: Disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa selalu mengucapkan dzikir, memanjatkan doa, sepanjang hari selama berpuasa. Sebab puasa membuat pelakunya semakin dekat kepada Allah swt.Orang-orang yang dekat kepada Allah swt.doanya mustajab.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Tiga orang yang doanya tidak pernah ditolak: Pemimpin yang adil, seorang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka, orang yang dizholimi.”Jelasnya bahwa selama puasa Ramadhan iman hamba-hamba Allah swt. sedang naik, mereka selalu bangun malam menegakkan shalat, mereka selalu membaca Al Qur’an, mereka selalu bersedekah, mereka jauh dari dosa-dosa, mereka bertobat minta ampunan kepada Allah swt. dan sebagianya. Semua itu merupakan suasana yang dukung-dukung membuat turunnya keberkahan dari Allah swt. Semakin banyak keberkahan yang turun semakin mudah doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah swt.

Keenam, Raih Lailatul Qadr
Dalam surah Al Qadr: 3-5 Allah swt. menerangkan keagungan malam lailatul qadr: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”Inilah malam yang sangat Allah swt.agungkan. Pada malam lailatul qadr ini Allah swt.pernah menurunkan Al Qur’an. Bukan hanya itu, setiap malam lailatul qadr Allah memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk menutupi kekurangan masa lalunya dengan beribadah menegakkan shalat, berdzikir dan membaca Al Qur’an.Bayangkan pahalanya khusus dan luar biasa.Tidak bisa dibandingkan dengan pahala beribadah selama 1000 bulan. Kata khirun pada ayat di atas menunjukkan makna lebih baik, bukan sama. Perhatikan betapa keutamaan ibadah pada malam lailatul qadr hendaklah diraih dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah saw. memberikan tuntunan agar lailatul qadr itu diburu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Terutama malam-malam ganjil: 21, 23, 25, 27, 29. Banyak para sahabat dan para ulama yang menekankan secara khusus malam tangga 27 Ramadhan.Tetapi demikian, mereka menganjurkan agar tidak mencukupkan hanya dengan malam tanggal 27 saja. Sebab tidak mustahil malam lailatul qadr itu akan terjadi pada malam-malam lainnya. Karena itu handaknya seorang hamba Allah swt.selalu bangun setiap malam. Karena tidak ada yang tahu pasti kapan dan tanggal berapa sebenarnya lailatul qadr itu terjadi. Karena itu sebagian sahabat mengatakan: Siapa yang yang bangun menegakkan shalat setiap malam sepanjang tahun ia pasti dapat keistimewaan lailatul qadr.

Ketujuh, Kejar Level Taqwa
Ayat tentang puasa di atas, ditutup dengan la’allakum tattaquun (agar kamu bertaqwa). Artinya bahwa tujuan utama puasa Ramadhan adalah untuk membangun kesadaran taqwa dalam pribadi seorang muslim. Taqwa seperti yang dikatakan Ubay bin Ka’ab ra. kepada Umar bin Khaththab adalah: “Bahwa orang yang betaqwa itu seperti orang berjalan di tempat yang banyak durinya. Kanan-kiri, bawah-atas ada duri.” Bayangkan apa yang dia lakukan? Tentu ia sangat berhat-hati, jangan sampai duri itu menggores tubuhnya. Begitu juga taqwa.Anda berhati-hati dari pandangan yang haram seperti anda berhati-hati dari duri, itu taqwa.Anda berhat-hati dari harta haram, jangan sampai barang itu masuk ke perut anda, atau ke perut istri dan anak anda, seperti anda berhati-hati dari duri, itu takwa. Anda berhati-hati dari dosa-dosa kecil apalagi besar seperti anda berhat-hati dari duri, itu taqwa.[7 Spirit Kemenangan Ramadhan, dakwatuna.com 9/9/2008 | 08 Ramadhan 1429].

Begitu luar biasanya kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya agar menggunakan Ramadhan sebagai sarana untuk memperbaiki diri, mentarbiyah diri untuk mencapai level tertinggi dalam keimanan sehingga tidak ada balasan yang layak untuk mereka selain kemenangan Ramadhan di dunia dan syurga-Nya kelak di akherat, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar