Jumat, 19 Februari 2016

268. Khairu Ummah



Janji Allah kepada ummat islam yaitu bahwa ummat islam ini adalah ummat yang terbaik dibandingkan ummat-ummat lainnya;"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" [Ali Imran 3;110].
Dari ayat diatas Allah menyatakan bahwa ummat terbaik itu adalah ummat  islam, padahal kenyataannya sejak zaman dahulu seperti ketika kita dizaman Belanda, dalam penjajahan yang lamanya 350 tahun demikian pula negara-negar islam lainnya dalam jajahan bangsa lain, kinipun ummat islam selalu ditindas seperti di Bosnia, Kashmir, Moro, Pattani dan Palestina. Dengan kenyataan ini apakah janji Alalh itu tidak tepat sehingga dimana-mana ummat islam selalu dihina dan dianiaya? Padahal diunkapkan dalam beberapa ayat tentang kepastian janji Allah;
" Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah" [Fathir 35;5]
"Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi" [Al Mursalat 77;7]
Ada kemungkinan Allah belum menepati janji-Nya karena kesalahan ummat islam sendiri, tidak mau menagih janji itu dan tidak mau berbuat yang maksimal, padahal dalam surat Ali Imran 3;110 Allah menepati janji-Nya bila kita siap untuk  melakukan tiga aktivitas dalam hidupnya yaitu iman, amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Bukti kemuliaan kita sebagai umat pilihan adalah kita dianugerahi Kitab yang sempurna dan relevan sepanjang zaman yaitu al-Qur`an yang suci, dan kita diwajibkan menaatinya, memahaminya, dan kita harus menggunakan akal kita untuk mentadabburi-nya, Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :"Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (Shad: 29) 

Itulah bukti kemuliaan kita sebagai umat Islam, Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :"Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal." (Az-Zumar : 17-18)

Namun sudahkah kita mendapatkan kemuliaan itu?Kita harus mengakui bahwa masih sangat sedikit di antara kita yang mendapatkan kemuliaan itu, dan Allah Subhanahu Wata'ala adalah Dzat yang tiada pernah berbuat zhalim sedikitpun kepada hambaNya, apalagi kepada hamba yang beriman dan bertakwa kepadaNya :"Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (Ali-Imran: 171). 

Maka sebagai umat yang jujur, marilah kita mengakui bahwa kita secara mayoritas belum melakukan amal shalih atau belum melaksanakan pokok kemuliaan umat ini yaitu melakukan nasihat menuju kepada Allah dan kitab suciNya al-Qur`an. Nasihat menuju kepada Allah Subhanahu Wata'ala artinya beramal ibadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah Subhanahu Wata'ala, ikhlas, meneladani, dan menaati RasulNya Sallallahu 'Alahi Wasallam. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :"Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal : 24).

Itulah janji Allah jika kita telah memenuhi seruan Allah dengan sesungguhnya, janji yang berupa kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Namun kenyataan yang ada sekarang sungguh sangat menyedihkan, di mana mayoritas umat muslim telah melalaikan perintah yang telah digariskan oleh Sang pencipta, sehingga kebahagiaan yang dijanjikan menjauh dari pribadi-pribadi mereka. 

Akhirnya Allah menimpakan ujian, fitnah dan azab kepada mereka disebabkan oleh tingkah mereka sendiri, padahal Allah Subhanahu Wata'ala telah mengingatkan di dalam FirmanNya :"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum: 41).

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya." (Al-Anfal: 25).

Kita tidak bisa menutup mata terhadap realita yang terjadi di sekitar kita, adanya sebagian besar umat Islam melakukan praktekpraktek larangan-larangan Allah, mereka tidak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi ataupun dengan rasa takut dan was-was, tetapi melakukannya dengan terang-terangan dan bahkan bangga terhadap perbuatannya tersebut, padahal Allah Subhanahu Wata'ala telah memperingatkan dengan tegas bahkan mengancam dengan keras bagi siapa yang melakukan larangan tersebut. [Waznin Mahfud, Artikel Khutbah Jum'at :,MENJADI UMAT YANG MULIA,Rabu, 17 Februari 10].
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah SWT.”(QS. Ali Imran (3) : 110).

Mengapa ayat al-Qur’an menggunakan lafazh “kami” dalam ayat tersebut, karena kita tidaklah sendiri melainkan kita adalah satu kelompok besar manusia, kita adalah satu umat.Kita adalah bagian dari seluruh umat Muslim dunia.Begitu juga Allah swt tidak menyeru dengan menggunakan lafazh “Yaa ayyyuhal mukmin” (Wahai orang beriman), melainkan dengan panggilan, “Yaa ayyuhal ladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman), yakni dengan menggunakan lafadz jamak yang berarti banyak.

Oleh karena itu kaum Muslimin harus hidup bahu membahu. Jadilah engkau seperti kedua tangan, saling bergandengan (kun kalyadaini). Janganlah engkau seperti kedua teling, berdekatan jarak tetapi sesunnguhntya tidak memiliki alasan untuk akrab, dekat dan erat (walaa takun kal udzunaini).

Kaum Muslim yang kuat harus mengayomi yang lemah.Yang kaya membantu yang miskin.Karena kita adalah umat yang satu, yang saling membantu.Ukhuwah adalah pelajaran Islam yang paling penting.Ukhuwahlah yang bisa membangkitkan dan menyatukan umat saat ini. Sebab meskipun kita memiliki jumlah umat yang besar dan jumlah harta yang banyak, sumber daya alam yang melimpah, sumber daya insan yang berkualitas, tetapi ketika kita menyaksikan ukhuwah itu hilang, maka kita menjadi kelompok paling lemah/hina di antara kelompok umat manusia.

Rasulullah saw mengilustrasikan seorang Muslim dengan Muslim lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan. Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw menjelaskan dengan merapatkan jari jemari dari dua tangannya sebagai visualisasi kedekatan, kekerabatan dan kekuatan satu sama lain dalam tubuh umat ini.

Bahkan dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan Muslim satu dengan Muslim yang lain ibarat satu tubuh, di mana jika satu organ tubuh sakit, maka yang lainnya akan merasakan sakit pula. Hanya dengan inilah umat Islam menjadi kuat di mata umat lainnya. Maka apa yang membuat saudara-saudara kita menangis di tempat lain, itu pun seharusnya membuat kita menangis di sini. Meskipun kita tidak bersama dengan mereka.

Bila saudara kita di belahan bumi lainnya mendapatkan kesenangan dan tertawa gembira, itu juga yang harusnya membuat kita tertawa bahagia di sini.Jauh di mata namun dekat di hati, demikian kata pepatah.

Dalam sebuah syair disebutkan, ”Sesungguhnya musibah menyatukan kita”. Saat sekarang ini kita menyaksikan begitu berat kondisi saudara-saudara kita di berbagai belahan bumi Allah swt.Lihatlah bagaimana kondisi saudara-saudara kita di Palestina, Afghanistan, Iraq, Somalia, dan berbagai tempat lainnya.Umat Islam sekarang melewati fase krisis yang sangat berat, melebihi krisis yang pernah dilewatinya dalam sejarah. Begitu banyak jiwa melayang di sana, begitu banyak darah yang mengalir di negeri-negeri itu.

Di Palestina, mereka menyulut api fitnah untuk memecah barisan perlawanan kaum Muslimin terhadap penjajah Zionis Israel. Mereka ingin pecah perang saudara, antara sesama anak bangsa Palestina.  Begitu juga di Iraq, api fitnah berkobar-kobar antara pengikut Sunni dan Syiah. Padahal sebelumnya mereka bisa hidup berdampingan. Padahal, dilarang saling bunuh sesama umat Islam.[Sholih Hasyim Banggalah Sebagai Khairu Ummah, hidayatullah.comSelasa, 10 Mei 2011].

Ummat terbaik  atau khairu ummah itu sudah terujud dimasa Rasulullah dan para sahabatnya, karena panjangnya perjalanan sejarah, sedikit demi sedikit posisi ummat islam tersudutkan oleh ummat kafir lainnya, mereka bisa maju dan mulia di dunia karena mereka meninggalkan agamanya sedangkan ummat islam berada dalam kemunduran disebabkan kita meninggalkan ajaran islam. Khairu ummah itu memiliki pilar atau tonggak yang perlu kita ketahui, semoga masih ada peluang bagi kita atau generasi berikutnya untuk mengujudkannya sebagaimana pernah terujud pada masa dahulu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh A. Yasir, disalin dari Majalah Sabili No. 37/III April 1991 menyatakan;

        Penilaian Allah atas khoiru ummah tidak didasarkan pada nilai-nilaimaterial atau keberhasilan-keberhasilan duniawi, seperti penaklukan-penaklukan kota musuh atau pengumpulan ghonimah yang melimpah ruah.

Mengapa demikian?  Karena keberhasilan-keberhasilan material itu taklain merupakan natijah (hasil) kondisi mental sepirititual mereka yang unikhasil tempaan murobbi teladan, yaitu Rasulullah s.a.w. Asy-syahid SayyidQuthub dalam "Ma'alim Fith-Thoriq" menjuluki generasi Muslimin itu sebagai"Al-Jiilul-Qur'any Al-Fariid" (generasi Qur'ani yang unik). Julukan aatersebutsangat tepat karena kehidupan individu (fardy), keluarga (usrah) danmasyarakat (mujtama').Atas dasar ini tidaklah tepat menilai "hanif" tidaknyasebuah gerakan da'wah berdasarkan keberhasilan atau kegagalan material.

        Lembaran sejarah para sahabat r.a. memperlihatkan bahwa tidak ada satu ayat Al-Qur'an pun yang tidak ter-realisir dalam kehidupan mereka.Seluruh isi  Al-Qur'an telah menjadi sibghah (celupan) bagi generasi tersebut secara umum. Ketinggian umat terletak pada keimanannya kepada Allah SWT dan kitab-Nya secara utuh tanpa ada pemilahan.

                "Dan janganlah kalian merasa hina (rendah) dan jangan (pula) kalian merasa bersedih. Kalian adalah umat yang paling tinggi, jika kalian (benar-benar) beriman."(QS Ali Imran 139)

        Pemilahan terhadap syari'at Allah dalam bentuk mengimani sebagiannya dan menolak sebagian lagi, mengakibatkan kejatuhan ummat tersebut ke lembah kenistaan di dunia dan akhirat. Mereka tak layak lagi menyandang predikat"Al-A'laun" atau "khairu ummah".

                "Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kufur kepada sebagian lagi. Maka tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian selain kehinaan di dunia dan pada hari akhirat akan dicampakkan ke dalam siksaan yang berat."(QS Al Baqarah 85)

                Ada beberapa karakteristik generasi sahabat, yang merupakan tonggak- tonggak "khairu ummah". Diantaranya:

1.      Jujur dan setia akan janji kepada Allah

               "Diantara orang-orang Mu'min itu ada orang-orang yang menepati janji-janji- nya kepada ALlah; maka di antara mereka ada yang gugur; dan diantara merekaada yang menunggu. Dan mereka tidak merubah janjinya sedikitpun." (QS Al Ahzab 23)

        Ayat ini turun sehubungan dengan sahabat yang bernama Anas bin Nadlir.Anas bin Malik menuturkan: "Pamanku, Anas bin Nadlir tidak turut serta dalamperang Badar. Oleh karena itu dia merasa sangat menyesal dan berkata: 'Aku tidak turut serta dalam pertempuran pertama yang diikut Rasulullah saw Kalau ALlah menakdirkan aku mengikuti pertempuran bersama Rasulullah s.a.w. di kemudian hari, niscaya ALlah akanmenyaksikan apa yang akan aku perbuat!'

               Maka tibalah hari perang Uhud. Sa'ad bin Mu'adz menghampirinya, lalu berkata: 'Wahai Abu Amer (Anas bin Nadlir) hendak kemana engkau?'Ia menjawab: 'Alangkah nikmatnya bau harum angin sorga. Aku menciumnya ada di balik bukit Uhud!'

               Lalu ia bertempur sampai syahid. Pada tubuhnya diketemukan lebih daridelapan puluh luka bacokan, tusukan tombak atau panah. Lalu turunlahayat tersebut"
(Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ar-Tirmidzi).

Pada riwayat lain diceritakan juga ketika Rasulullah memeriksa parasyuhada perang Uhud, beliau melewati tubuh Mush'ab bin Umair yang tergolektak bernyawa. Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat tersebut.

        Mush'ab bin Umair sendiri menemui syahidnya setelah berjuang habis-habisan sebagai tameng Islam dan tameng Rasulullah saw. sampai kedua tangan-nya putus ditebas lawan.

Demikianlah beberapa contoh sikap para sahabat dalam menepati janji-janjinya kepada ALlah SWT.Mereka sadar, sejak mereka mulai mengayunkanlangkah pertama memasuki pintu gerbang Islam, mereka sudah "teken" kontrakdengan Allah SWT.Ikrar syahadatain -<Laa ilaaha illallah MuhammadarRasulullah>- mereka yakini sebagai ikrar kesetiaan. Setia terhadap Allahdengan cara membela dan menegakkan syari'atNya, sehingga pengabdian diarahkankepada-Nya semata. Setia terhadap utusan-Nya dengan membela Rasulullah danmelindungi risalah yang dibawanya, sebagaimana mereka membela diri dankeluarga sendiri.

        Shidq (kejujuran, kesetiaan) terhadap janji -  terutama denganAllah SWT merupakan akhlak asasi bagi seorang Mu'min dan mujahid. Tanpa sifatini tidak mungkin umat Islam dapat mencapai kejayaan.

2. Tegar dan tak gampang menyerah

        Karakteristik lain adalah ketegaran mereka dalam memegang prinsip,dan tidak gampang menyerah terhadap rintangan, godaan dan ujian, betapapunberatnya."Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besardari pengikutnya  yang shaleh. Mereka tidak lemah dalam menghadapi apa yangmenimpa mereka di jalan ALlah, tidak lesu dan tidak gampang menyerah. DanAllah mencintai orang-orang yang sabar."        (QS Ali Imran 146)

Tidak sulit mencari contoh keteguhan generasi sahabat.Karena seluruhkehidupan mereka sarat dengan kisah-kisah perjuangan yang diwarnai dengankeberanian, pengorbanan dan ketegaran.

        Sahabat Abdullah bin Mas'ud umpamanya. Seorang sahabat yangberpawakan kerempeng, kurus kering dan pendek.Suatu hari dia naik sebatangpohon sampai terlihat betisnya yang kecil, sehingga beberapa sahabat yangmelihat mentertawakannya. Namun Rasulullah SAW mengatakan: "Kalianmentertawakannya karena dia kurus. Demi ALlah, kalau kedua betisnya ituditimbang, niscaya akan lebih berat dari gunung Uhud".

Orang yang kurus kering, kerempeng dan pendek itu pernah mendatangiorang-orang kafir Quraisy yang sedang berkumpul di sekitar Ka'bah. Tanparasa takut ia membacakan ayat-ayat Al-Qur'an -- Surat Ar-Rahman – dengansuara lantang.

Hal itu membangikitkan keberangan orang-orang kafir Quraisy.Tanpamembuang kesempatan mereka bangkit dan menghadiahkan "bogem mentah" sepuas-puasnya. Abdullah bin Mas'ud kembali kepada pada sahabatnya dalam keadaanbabak belur. Tubuhnya berlumuran darah.

"Inilah yang aku khawatirkan terjadi atas dirimu!" sambut salahseorang sahabat. Ibnu Mas'ud menjawab: "Demi ALlah, kalau kalian masihmenginginkan aku melakukannya sekali lagi, niscaya akan aku lakukan!".

3. Tidak tergiur kesenangan dunia

Allah SWT menerangkan sifat orang-orang yang mengisi rumah-Nya,yaitu para sahabat sebagai orang-orang yang tidak pernah dilalaikan olehutusan-utusan dunia.Aktifitas bisnis mereka tidak membuat mereka lupadzikrullah, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat. Firman ALlah:"(Yaitu) orang-orang yang bisnis dan perdagangan (mereka) tidak membuatmereka lalai dari dzikrullah, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat". (QS An-Nur 37)

Namun bukan berarti mereka tidak menggarap bidang kehidupan yangberkaitan dengan "hasanah" di dunia.Bahkan ayat di atas mengisyaratkanbahwa mereka pun melancarkan Aktifitas duniawi.Namun mereka tidak menjadikandunia sebagai tujuan, melainkan sebagai wasilah (sarana atau alat) untukmencapai tujuan.Mereka sadar, untuk kemajuan Islam mereka harus dapatmendaya-gunakan seluruh potensi yang ada di dunia ini. Hal itu tergambar padado'a sahabat Umar bin Khattab:

               "Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kautempatkan dia di lubuk hati kami."

        Dari sinilah tergambar kadar keterkaitan hati mereka dengan dunia.Oleh karena itu Utsman bin 'Affan tidak merasa berat menyedekahkan kepadaummat Islam barang dagangannya yang oleh para pedagang telah ditawar denganmenjanjikan keuntungan 500%.

5. Hubbut-Tathohhur (cinta pembersihan diri)

Segala sifat istimewa yang ada pada mereka tidak membuat mereka merasa"suci diri".Bahkan sifat-sifat itu membuat mereka semakin takut kepada AllahSWT dan adzabNya.Oleh karena itu mereka senantiasa melakukan proses"tathohhur" (pensucian diri), karena sebagai manusia mereka kerap melakukankekhilafan dan kekeliruan.

Allah sungguh sangat mencintai orang yang senantiasa ber-"tathohhur".Pada dasarnya tidak ada manusia yang "thohir" (suci) yang tidak pernah melakukan dosa kecuali para "ma'shuum". Firman ALlah tentang sifat ini padamereka:"Di dalam (masjid ALlah) itu ada orang-orang yang cinta membersihkan diri.Dan Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri." (QS At-Taubah 108)

        Mudah-mudahan kita bisa meneladani generasi para sahabat agar kitalayak menyandang predikat "khairu ummah" dan menjadi ummat yang "Al-A'laun".[Agus WidodoNomor: tarbiyah/28jun94/111,KTPD ISNET].

               Tidak mudah memang untuk meraih kembali derajat khairu ummah sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya, tapi tidak mustahil kita untuk mengujudkannya kembali dengan kerja keras menata kembali pribadi-pribadi muslim sebagaimana kualitas para sahabat, hal itu hanya bisa dilakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah, sehingga benarlah apa yang katakan oleh seorang Mujahid Dakwah yaitu Mustafa Mashur, bila ingin mencetak kader muslim sekualitas para sahabat maka lakukanlah dakwah sebagaimana sistim dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Desember 2011.M/ 13 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar