Kamis, 18 Februari 2016

244. Skenario



Ketika ada pemain film atau sinetron yang digugat oleh penonton tentang adegannya yang tidak baik pada sebuah film, adegan itu melanggar etika dan bertentangan dengan adat, haram dilakukan menurut agama, sang pemain dengan tenang menyatakan pembelaannya,”Itu sudah tuntutan scenario, ya begitu skenarionya tentu harus dilakukan”. Begitulah kehidupan pada sebuah film ceritanya  berjalan sesuai dengan scenario yang sudah disediakan, sedangkan sutradara hanya mengarahkan adegan sesuai dengan scenario yang ada, pemain tidak dapat menolak scenario apapun yang disodorkan kepadanya, menolak tentu ada konsekwensinya yang akan merendahkan reputasinya dalam perfilman apalagi pendatang baru, biasanya peran apapun diterima asal kelak masa depan di film cerah.

Begitu juga dalam hidup yang kita lakoni di dunia ini, semuanya berdasarkan scenario dari Allah, kita hanya menjalaninya, kalaulah kita ikuti scenario itu maka hidup kita akan baik jalannya, tapi kadangkala kita merubah semaunya saja scenario itu sehingga kita menjalani hidup ini diluar scenario Allah.

Hidup ini tak ubahnya seperti sebuah drama atau sandiwara.Setiap orang mempunyai perannya masing-masing.Setiap dari peran itu mempunyai konskuensi tersendiri.Namun terkadang dalam waktu tertentu seolah kita berada di bangku penonton menyaksikan drama tersebut. Sehingga kita bisa menilai, memprotes, dan mengkiritik  atas perbuatan dari lakon tertentu dan alur ceritanya. Sementara ketika kita menjadi dari lakon itu sendiri.Kita hanya menjalankan peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes.

Allah SWT mempunyai kuasa penuh atas adegan-adegan hamba-Nya dalam setiap episode kehidupan ini.Setiap lakon mendapat perannya masing-masing.Kesemuanya menjadi satu pertunjukan yang sempurna.Bagai sebuah mata rantai kehidupan.Dalam drama manusia lakon tidak mempunyai pilihan.Ia sudah terkunci oleh plot cerita. Terpaku pada skript naskah.

Sedangkan dalam drama Illahi lakon [baca manusia] mempunyai kebebasan.Lakon diberi kewenangan dalam menentukan perannya.Bahkan tuk menjadikan dirinya pemeran utama pun, diperbolehkan. Allah SWT hanya memberikan garis besar alur cerita dan konskuensi setiap peran yang dipilih dan dimainkannya

Seringkali kita merasa tidak puas dengan suatu keadaan, atau suatu adegan dalam episode hidup ini.Kita mempertanyakan keadilan Sang Illahi.Bahkan kita sering menuduh bahwasanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna dan Adil, berlaku tidak adil kepada kita.Allah SWT telah mencelakakan atau menyia-nyiakan kita.

Sesungguhnya hal itu tidaklah mungkin terjadi.Bahkan Allah SWT berlaku sangat baik dan royal kepada kita.“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”.( Q.S An Nisa [4] : 40 ). Sesungguhnya kitalah yang menganiaya diri kita sendiri. Lihat Ali Imran : 182,  Al Anfal : 51, At Taubah : 70, Hud : 101. Kita juga sering terburu-buru untuk menghakimi Allah SWT.Ketika Allah SWT memberikan sesuatu yang menurut kita buruk.

Sesuatu yang dengan pikiran sesaat kita tidak menyukainya. Namun ketahuilah! Dengan bersabar sejenak, kita akan sangat berterimkasih kepada Allah SWT. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah [2] : 216).

Tak jarang kita bersedih karena suatu hal dan dalam sekejap kita tertawa karena hal lainnya.Allah selalu mempunyai rencana sempurna untuk membuat hambanya tersenyum bahagia pada akhirnya.

Ada isyarat-isyarat yang dapat ditangkap dalam memahami kesempurnaan skenario Allah SWT.Setiap kejadian yang kita alami disekitar kita. Berhubungan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada kita.

Gambaran sederhananya, Allah SWT akan memberikan rambu-rambu pada hidup kita. Jika tujuan kita itu baik untuk kita, maka Allah SWT akan membimbing melalui jalan terbaik. Jika tujuan itu tidak baik untuk kita, Allah akan memberikan rambu-rambu agar kita tidak melanjutkannya.[Agustiar Nur Akbar,Memahami Skenario Illahi,Republika.co.id.Rabu, 06 Juli 2011 00:43 WIB].

Kisahini terjadi pada tahun 1950.Seorang pemimpin suatu fraksi di parlemen RI, semua keluarganya tinggal di Bandung. Untuk kelancaran tugas dan menempatkan pada lingkungan sosial yang kundusif bagi pendidikan anak-anaknya, ia memilih tinggal sendiri di rumah dinas Jakarta. Setiap Sabtu sore, ia pulang ke Bandung dan kembali lagi ke Jakarta pada hari Senin berikutnya.

Pada Sabtu sore –sebagaimana biasa– beliau bermaksud pulang ke Bandung denganmenumpang pesawat Dakota.Pesawat andalan anggota DPR Pusat pada era Orde Lama (Orla).Beliau telah membeli tiket pesawat, tetapi setibanya di Bandara Kemayoran, tiba-tiba ditegur oleh mahasiswi yang belum beliau kenal sebelumnya. Pemudi itu menjelaskan bahwa ia baru saja menyelesaikan ujian akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, dia ingin segera pulang ke Bandung karena pada Sabtu malam akan melaksanakan akad nikah, tetapi saat itu ia kehabisan tiket pesawat. Dengan sangat terpaksa ia memohon dengan hormat kepada anggota Legislatif –sebagai orang yang sama-sama berasal dari Bandung– agar berkenan membantunya dengan memberikan tiket beliau itu kepadanya dengan diganti uang – supaya bisa melangsungkan ijab qabul dan pesta pernikahannya sesuai rencana.

Anggota parlemen itu tertegun sejenak.Beliau sadar bahwa hari Sabtu adalah kesempatan sekali seminggu untuk menjenguk dan berbagi (sharing) dengan keluarganya di Bandung, sementara itu beliau bisa merasakan betapa kesulitan yang dihadapi oleh gadis seusia putrinya itu. Seandainya putrinya sendiri mengalami peristiwa serupa, ia juga mengharapkan pertolongan yang sama. Akhirnya, dengan terpaksa, beliau memutuskan untuk menunda kepulangannya ke Bandung dan menyerahkan tiket pesawat kepada gadis tersebut.

Betapa bahagianya si gadis tak dikenal itu.Ia sebentar lagi akan merasakan peristiwa yang paling berkesan dalam kehidupan. Bersanding dengan kekasih, si belahan hati tanpa hambatan berarti.Ia mengatakan kepada sang bapak pejabat tadi, “Terima kasih, semoga Allah Swt membalas budi baik Bapak dengan kebaikan yang banyak. Jazakumullahu Khairan katsiran,” ujarnya. Meski agak sedikit masgul dan kecewa beliau pulang kembali ke rumah dinas di Jakarta.

Beberapa saat kemudian beliau duduk termenung di ruang depan rumah dinas seorang diri. Dalam hati beliau muncul sedikit sesal karena membayangkan kecemasan yang dialami keluarganya di Bandung.Melepaskan perasaan rindu dengan semua anggota keluarganya terhambat. Di saat bayangan kekecewaan berkecamuk dalam perasaannya, beliau tersentak dengan adanya berita yang tidak sengaja didengar dari radio RRI Jakarta yang mengabarkan bahwa pesawat terbang yang akan ditumpanginya tadi mengalami kecelakaan. Semua awak dan penumpangnya tewas seketika. “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.”(Sesungguhnya kita milik Allah Swt dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali).

Entah, perasaan apa yang dirasakan dalam dadanya. Di satu sisi ia bersyukur karena batal pergi. Di sisi lain, ia sedih mengingat nasib gadis yang menggantikan tempat duduknya dalam pesawat naas tersebut. Ia baru percaya akan takdir Allah. Rupanya gadis yang bersikeras hati mengganti tiket beliau sekedar untuk menemukan suratan takdir dari Allah swt.“Astaghfirullah,” (aku mohon ampun kepada Allah), sahutnya berulang-ulang.[Belajar BerhusnudzanTerhadap Allah, hidayatullah.comRabu, 24 Maret 2010].

Menjadi anggota DPRD adalah sebuah kebanggaan dan prestise sendiri  bagi mereka yang memburunya dengan berbagai cara asal jabatan terhormat dapat diraih apalagi dimasa orde baru, tidak semua orang bisa bermimpi duduk di kursi empuk kepunyaan rakyat yang diwakilinya, kursi dewan dulu adalah milik kroni-kroni orde baru yang menyerahkan loyalitasnya demi kekuasaan hingga berakhirnya Soeharto dari kerajaannya tahun 1998.

Jangankan punya cita-cita sebagai anggota dewan sedangkan mimpi tentang itu saja saya tidak pernah, karena saya punya pandangan tersendiri terhadap jabatan tersebut;

            Pertama, saya hanya seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan sederhana penuh kesusahan dan penderitaan, jangankan berfikir tentang cita-cita jadi sarjana, tamat SMA saja sebuah upaya maksimal, tidak satupun dari keluarga yang jadi pejabat.

            Kedua, tiga partai politik dimasa orde baru yaitu Golkar, PPP dan PDI bagi saya bukanlah refresentasi  rakyat Indonesia, partai tersebut sama saja yaitu melanggengkan ketidak adilan yang dikendalikan oleh Soeharto sehingga wajar bila dibenak saya yang tergambar terhadap partai adalah upaya untuk meraih kekuasaan dengan berbagai cara, halal ataupun haram kemudian memanfaatkannya untuk meraih keuntungan pribadi lalu melupakan rakyat pemilihnya dengan kecurangan.

            Ketiga, sejak duduk di SMP saya bergelut dengan kegiatan agama karena nampaknya bakat saya sebagai da’i, hal tersebut tergambar dalam keterlibatan saya dengan lembaga keagamaam seperti Remaja Masjid, Forum Kajian Islam, HMI, MUI hingga IKADI  saat ini.

            Keempat, untuk duduk sebagai pejabat semisal anggota DPRD tidaklah mudah, harus berkecimpung terlebih dahulu sebagai anggota dan pengurus  partai, selama ini saya tidak terlibat dengan partai manapun, dari sekian diskusi dan kajian-kajian tentang fikrah islami yang saya ikuti, dapat disimpulkan bahwa ketiga parpol  dimasa orde baru tidak satupun yang layak didukung apalagi terlibat di dalamnya. Disamping itu saya bukanlah tokoh yang punya jasa terhadap masyarakat, saya bukan pula orang yang kharismatik sehingga tidak satupun parpol yang mengajak saya terlibat di dalamnya.

            Kelima, kondisi bangsa Indonesia yang terpuruk dalam kehancuran karena kezhaliman para penguasanya membuat saya antipati terhadap penguasa, bagi saya mereka tidak bedanya dengan Fir’aun dan Namrudz yang menjajah rakyatnya. Bahkan jiwa muda saya cendrung mendukung pihak-pihak masyarakat yang akan memperbaiki negeri ini dengan upaya pemberontakan dan pembangkangan terhadap pejabat dan penguasa negara bagi mayoritas muslim tapi nasib umat islam disengsarakan. Ada kesedihan dan kepedihan di hati  saya ketika penguasa menghancurkan umat islam dalam berbagai kasus seperti Tanjung Priok, Talang Sari Lampung, Haur Koneng atau upaya-upaya dari anak bangsa ini yang ingin lepas dari kezhaliman bangsanya sendiri.

            Sesuai dengan bakat dan kemampuan yang saya miliki, kegiatan harian saya  hanya berda’wah, membina masyarakat dan terlibat dalam kegiatan sosial sejak masih di Metro Lampung dahulu, tambah konsen terhadap pembinaan umat ini ketika saya menetap di Solok Sumatera Barat tahun 1990 yang kemudian bergabung dengan aktivis da’wah, akhirnya menjadi sebuah partai dengan nama Partai Keadilan [1997].

            Ketika Reformasi digulirkan maka berdirilah banyak partai sebagai upaya untuk memperbaiki bangsa ini yang sebelumnya Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang yang memaksa rakyat untuk menyalurkan aspirasinya hanya ketiga parpol saja, salah satu upaya dari komunitas aktivis da’wah ini yang ingin turut serta punya kontribusi terhadap perbaikan bangsa dan negara ini ialah Partai Keadilan.

            Sebagai ketua DPD Partai Keadilan Kabupaten Solok dikala memasuki Pemilu tahun 1999 saya masuk dalam jajaran calon anggota legislatif dari Partai Keadilan dengan  nomor urut pertama karena saya dianggap pantas sebab ketua  partai. Harian Umum Singgalang, jum’at 28 Mai 1999 mempublikasikan daftar calon tetap anggota DPRD Kabupaten Solok untuk Pemilu tanggal 7 Juni 1999, dari Partai Keadilan terdapat 41 calon anggota legislatif.

Untuk menduduki nomor urut pertama dan daerah pemilihan di Kecamatan Sungai Pagu dalam penetapan caleg ini bukanlah keinginan saya tapi kehendak kader dan keputusan DPW PK Sumatera Barat dengan alasan  sebagai ketua partai di Kabupaten Solok.Ketika hasil Pemilu, Partai Keadilan memperoleh 3883 suara berarti hanya satu kursi untuk PK yang dapat duduk di DPRD Kabupaten Solok, dari hasil suara terbanyak itu maka sayalah yang menduduki kursi tersebut sebagai anggota DPRD>

Tanggal 13 Agustus 1999 ketika itu pelantikan dan pengucapan sumpah anggota DPRD Kabupaten Solok periode 1999-2004 dilaksanakan di Gedung Solok nan Indah Koto Baru. Resminya sebagai anggota DPRD bagi saya bukanlah hal yang istimewa dan bukan pula sebagai kebanggaan karena;

Pertama, Saya dididik lebih kurang 10 tahun dengan tarbiyah yang intensif dalam gerakan da’wah ini dengan kajian-kajian aqidah, fikrah, ibadah dan akhlak, bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang istimewa dan bukan pula kebanggaan tapi dia adalah amanah dan beban yang  harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan publik.

Kedua, Masih banyak dari   kader PK yang lebih berhak dan pantas menerima posisi ini dari pada saya, tapi hanya karena mereka sebagai PNS yang tidak mungkin terlibat dalam struktur partai. Kader PK yang bebas dan lepas bergerak  sebagai  figur  publik di partai sangat minim sekali  dan saya hanya sebagai tenaga honor mengajar di SMEA  Budi Mulia Koto Baru, MTsN Koto Baru dan Dosen PGTK Adzkia Padang yang bukan PNS, kebetulan saya bukan PNS.

Ketiga , Masih banyak dari simpatisan PK yang lebih berhak lagi pantas dan ada pula yang sudah dua kali sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok sebelumnya seperti Bapak A Rifai Dt. Bagindo Rajo yang tokoh Golkar dahulunya, tapi sayang mereka  belum jadi kader PK, tentu PK lebih mempercayakan kadernya dahulu untuk diberi amanah jabatan karena mudah dipantau  dan diawasi.

Keempat, Selama ini saya tidak pernah bermimpi jadi anggota DPRD dan ilmu yang berkaitan dengan jabatan ini tidak saya miliki, yang jelas akan  menyusahkan saya karena harus membekali diri dengan berbagai pengetahuan tentang kedewanan, yang semua itu kalau bukan karena kebetulan maka dia adalah rekayasa dan kehendak Allah semata yang memberikan kepercayaan dan beban kepada saya, dengan beban ini apakah akan memuliakan saya atau menghinakan saya baik di hadapan Allah maupun di hadapan kader dan simpatisan PK.

Yang jelas jabatan, amanah dan beban ini sudah saya terima bersama 40 anggota dewan lainnya dari berbagai partai hasil pemilu tahun   1999  dan anggota TNI/ Polri yang diangkat. Golkar 12 orang, PPP 8 orang, PAN 6 orang, PDIP 2 orang, PBB 2 orang, TNI Polri 4  orang, PKB, PMB, PP, PKP, PUI dan PK masing-masing 1 orang. [Dari buku Profil Mukhlis Denros].

Jalan hidup yang kita lalui sejak berupa benih di rahim seorang ibu, ketika lahir kita berada dalam lingkungan keluarga yang sangat asing bagi kita, semua kejadian itu bukanlah keinginan kita, tapi kehendak dan ketentuan Allah dengan skenario-Nya, kita hanya menjalani saja kehidupan ini. Bukti lain bahwa hidup kita adalah skenario Allah dapat dilihat dari kejadian ini.

 Tahun 2009, ketika Pemilihan Umum Legislatif menentukan seseorang duduk sebagai anggota DPRD menurut nomor urut, di Kabupaten Solok, untuk pemilihan Solok II dari PKS sudah disepakati nomor urut 1. Nosa Ekananda, 2. Hafez, 3. Maspardi. Saya sebagai mantan ketua DPD PKS Kabupaten Solok melihat nomor urut itu tidak pas maka saya usulkan ke DPW PKS Sumatera Barat agar dirubah formasi itu dengan berbagai alasan, salah satu permohonan saya agar Maspardi diletakkan pada nomor 1 karena dia sudah dua kali jadi caleg dan Nosa nomor urut tiga karena dia masih yunior di Partai, usulan saya disetujui dengan formasi 1. Maspardi, 2.Hafez dan 3. Nosa Ekananda.

Sebelum Pemilu dilaksanakan terjadilah perubahan Undang-Undang Pemilu bahwa yang berhak untuk duduk sebagai anggota DPRD berdasarkan suara terbanyak, tidak jadi berdasarkan nomor urut. Akhir penghitungan suara Pemilu nyatanya yang mendapat suara terbanyak adalah Nosa Ekananda. Bukankah ini skenario Allah, awalnya saya belum dan tidak setuju kalau Nosa Ekananda yang duduk pada Pemilu ini karena masih ada seniornya, tapi Allah menghendaki lain, justru Nosa yang harus jadi anggota DPRD.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah [2] : 216)
.
Keluarnya Rasulullah dari Madinah untuk mengikuti kafilah dagang Quraisy karena selama ini kafir Quraisy tersebut merampas harta kekayaan ummat islam di Mekkah, dengan pasukan lebih kurang 300 orang, perlengkapan sederhana, kesiapan perjalananpun hanya sebatas itu, tapi rencana kaum muslimin itu dialihkan oleh Allah dengan skenario besar yaitu jadi perang Badr yang membawa kemenangan luar biasa sehingga ketika itu ummat islam sudah menjadi sebuah kekuatan yang disegani oleh kawan dan lawan.

            Dalam hidup ini kita harus menjalaninya apa adanya sesuai dengan ketentuan Allah, yang penting kita menjadikan hidup ini hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya, melalui jalan yang lurus, menghindari hal-hal yang merusak pribadi, keluarga dan masyarakat, setelah itu ikuti sajalah alur cerita yang akan ditulis oleh generasi kita sesuai dengan skenario yang telah disiapkan Allah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 18 Desember 2011.M/ 22 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar