Ketika
ada pemain film atau sinetron yang digugat oleh penonton tentang adegannya yang
tidak baik pada sebuah film, adegan itu melanggar etika dan bertentangan dengan
adat, haram dilakukan menurut agama, sang pemain dengan tenang menyatakan
pembelaannya,”Itu sudah tuntutan scenario, ya begitu skenarionya tentu harus
dilakukan”. Begitulah kehidupan pada sebuah film ceritanya berjalan sesuai dengan scenario yang sudah
disediakan, sedangkan sutradara hanya mengarahkan adegan sesuai dengan scenario
yang ada, pemain tidak dapat menolak scenario apapun yang disodorkan kepadanya,
menolak tentu ada konsekwensinya yang akan merendahkan reputasinya dalam
perfilman apalagi pendatang baru, biasanya peran apapun diterima asal kelak
masa depan di film cerah.
Begitu
juga dalam hidup yang kita lakoni di dunia ini, semuanya berdasarkan scenario
dari Allah, kita hanya menjalaninya, kalaulah kita ikuti scenario itu maka
hidup kita akan baik jalannya, tapi kadangkala kita merubah semaunya saja
scenario itu sehingga kita menjalani hidup ini diluar scenario Allah.
Hidup
ini tak ubahnya seperti sebuah drama atau sandiwara.Setiap orang mempunyai
perannya masing-masing.Setiap dari peran itu mempunyai konskuensi
tersendiri.Namun terkadang dalam waktu tertentu seolah kita berada di bangku
penonton menyaksikan drama tersebut. Sehingga kita bisa menilai, memprotes, dan
mengkiritik atas perbuatan dari lakon tertentu dan alur ceritanya.
Sementara ketika kita menjadi dari lakon itu sendiri.Kita hanya menjalankan
peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes.
Allah
SWT mempunyai kuasa penuh atas adegan-adegan hamba-Nya dalam setiap episode
kehidupan ini.Setiap lakon mendapat perannya masing-masing.Kesemuanya menjadi
satu pertunjukan yang sempurna.Bagai sebuah mata rantai kehidupan.Dalam drama
manusia lakon tidak mempunyai pilihan.Ia sudah terkunci oleh plot cerita.
Terpaku pada skript naskah.
Sedangkan
dalam drama Illahi lakon [baca manusia] mempunyai kebebasan.Lakon diberi
kewenangan dalam menentukan perannya.Bahkan tuk menjadikan dirinya pemeran
utama pun, diperbolehkan. Allah SWT hanya memberikan garis besar alur cerita
dan konskuensi setiap peran yang dipilih dan dimainkannya
Seringkali
kita merasa tidak puas dengan suatu keadaan, atau suatu adegan dalam episode
hidup ini.Kita mempertanyakan keadilan Sang Illahi.Bahkan kita sering menuduh
bahwasanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna dan Adil, berlaku tidak adil
kepada kita.Allah SWT telah mencelakakan atau menyia-nyiakan kita.
Sesungguhnya
hal itu tidaklah mungkin terjadi.Bahkan Allah SWT berlaku sangat baik dan royal
kepada kita.“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar
zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat
gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”.( Q.S An Nisa [4] :
40 ). Sesungguhnya kitalah yang menganiaya diri kita sendiri. Lihat Ali Imran :
182, Al Anfal : 51, At Taubah : 70, Hud : 101. Kita juga sering
terburu-buru untuk menghakimi Allah SWT.Ketika Allah SWT memberikan sesuatu
yang menurut kita buruk.
Sesuatu
yang dengan pikiran sesaat kita tidak menyukainya. Namun ketahuilah! Dengan
bersabar sejenak, kita akan sangat berterimkasih kepada Allah SWT. “Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui”. (Q.S Al Baqarah [2] : 216).
Tak
jarang kita bersedih karena suatu hal dan dalam sekejap kita tertawa karena hal
lainnya.Allah selalu mempunyai rencana sempurna untuk membuat hambanya
tersenyum bahagia pada akhirnya.
Ada
isyarat-isyarat yang dapat ditangkap dalam memahami kesempurnaan skenario Allah
SWT.Setiap kejadian yang kita alami disekitar kita. Berhubungan dengan apa yang
akan terjadi selanjutnya kepada kita.
Gambaran
sederhananya, Allah SWT akan memberikan rambu-rambu pada hidup kita. Jika
tujuan kita itu baik untuk kita, maka Allah SWT akan membimbing melalui jalan
terbaik. Jika tujuan itu tidak baik untuk kita, Allah akan memberikan
rambu-rambu agar kita tidak melanjutkannya.[Agustiar Nur Akbar,Memahami
Skenario Illahi,Republika.co.id.Rabu, 06 Juli 2011 00:43 WIB].
Kisahini terjadi pada tahun
1950.Seorang pemimpin suatu fraksi di parlemen RI, semua keluarganya tinggal di
Bandung. Untuk kelancaran tugas dan menempatkan pada lingkungan sosial yang
kundusif bagi pendidikan anak-anaknya, ia memilih tinggal sendiri di rumah
dinas Jakarta. Setiap Sabtu sore, ia pulang ke Bandung dan kembali lagi ke
Jakarta pada hari Senin berikutnya.
Pada
Sabtu sore –sebagaimana biasa– beliau bermaksud pulang ke Bandung
denganmenumpang pesawat Dakota.Pesawat andalan anggota DPR Pusat pada era Orde
Lama (Orla).Beliau telah membeli tiket pesawat, tetapi setibanya di Bandara
Kemayoran, tiba-tiba ditegur oleh mahasiswi yang belum beliau kenal sebelumnya.
Pemudi itu menjelaskan bahwa ia baru saja menyelesaikan ujian akhir di salah
satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, dia ingin segera pulang ke Bandung
karena pada Sabtu malam akan melaksanakan akad nikah, tetapi saat itu ia
kehabisan tiket pesawat. Dengan sangat terpaksa ia memohon dengan hormat kepada
anggota Legislatif –sebagai orang yang sama-sama berasal dari Bandung– agar
berkenan membantunya dengan memberikan tiket beliau itu kepadanya dengan
diganti uang – supaya bisa melangsungkan ijab qabul dan pesta pernikahannya
sesuai rencana.
Anggota
parlemen itu tertegun sejenak.Beliau sadar bahwa hari Sabtu adalah kesempatan
sekali seminggu untuk menjenguk dan berbagi (sharing) dengan keluarganya
di Bandung, sementara itu beliau bisa merasakan betapa kesulitan yang dihadapi
oleh gadis seusia putrinya itu. Seandainya putrinya sendiri mengalami peristiwa
serupa, ia juga mengharapkan pertolongan yang sama. Akhirnya, dengan terpaksa,
beliau memutuskan untuk menunda kepulangannya ke Bandung dan menyerahkan tiket
pesawat kepada gadis tersebut.
Betapa
bahagianya si gadis tak dikenal itu.Ia sebentar lagi akan merasakan peristiwa
yang paling berkesan dalam kehidupan. Bersanding dengan kekasih, si belahan
hati tanpa hambatan berarti.Ia mengatakan kepada sang bapak pejabat tadi,
“Terima kasih, semoga Allah Swt membalas budi baik Bapak dengan kebaikan yang
banyak. Jazakumullahu Khairan katsiran,” ujarnya. Meski agak sedikit
masgul dan kecewa beliau pulang kembali ke rumah dinas di Jakarta.
Beberapa
saat kemudian beliau duduk termenung di ruang depan rumah dinas seorang diri.
Dalam hati beliau muncul sedikit sesal karena membayangkan kecemasan yang
dialami keluarganya di Bandung.Melepaskan perasaan rindu dengan semua anggota
keluarganya terhambat. Di saat bayangan kekecewaan berkecamuk dalam
perasaannya, beliau tersentak dengan adanya berita yang tidak sengaja didengar
dari radio RRI Jakarta yang mengabarkan bahwa pesawat terbang yang akan
ditumpanginya tadi mengalami kecelakaan. Semua awak dan penumpangnya tewas
seketika. “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.”(Sesungguhnya kita
milik Allah Swt dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali).
Entah,
perasaan apa yang dirasakan dalam dadanya. Di satu sisi ia bersyukur karena
batal pergi. Di sisi lain, ia sedih mengingat nasib gadis yang menggantikan
tempat duduknya dalam pesawat naas tersebut. Ia baru percaya akan takdir Allah.
Rupanya gadis yang bersikeras hati mengganti tiket beliau sekedar untuk
menemukan suratan takdir dari Allah swt.“Astaghfirullah,” (aku mohon
ampun kepada Allah), sahutnya berulang-ulang.[Belajar BerhusnudzanTerhadap Allah, hidayatullah.comRabu, 24 Maret 2010].
Menjadi anggota DPRD adalah sebuah kebanggaan dan prestise sendiri bagi mereka yang memburunya dengan berbagai cara
asal jabatan terhormat dapat diraih apalagi dimasa orde baru, tidak semua orang
bisa bermimpi duduk di kursi empuk kepunyaan rakyat yang diwakilinya, kursi
dewan dulu adalah milik kroni-kroni orde baru yang menyerahkan loyalitasnya
demi kekuasaan hingga berakhirnya Soeharto dari kerajaannya tahun 1998.
Jangankan punya cita-cita
sebagai anggota dewan sedangkan mimpi tentang itu saja saya tidak pernah,
karena saya punya pandangan tersendiri terhadap jabatan tersebut;
Pertama, saya hanya seorang anak yang
dibesarkan dalam lingkungan sederhana penuh kesusahan dan penderitaan,
jangankan berfikir tentang cita-cita jadi sarjana, tamat SMA saja sebuah upaya
maksimal, tidak satupun dari keluarga yang jadi pejabat.
Kedua, tiga partai politik dimasa
orde baru yaitu Golkar, PPP dan PDI bagi saya bukanlah refresentasi rakyat Indonesia, partai tersebut sama saja
yaitu melanggengkan ketidak adilan yang dikendalikan oleh Soeharto sehingga
wajar bila dibenak saya yang tergambar terhadap partai adalah upaya untuk meraih
kekuasaan dengan berbagai cara, halal ataupun haram kemudian memanfaatkannya
untuk meraih keuntungan pribadi lalu melupakan rakyat pemilihnya dengan
kecurangan.
Ketiga, sejak duduk di SMP saya
bergelut dengan kegiatan agama karena nampaknya bakat saya sebagai da’i, hal
tersebut tergambar dalam keterlibatan saya dengan lembaga keagamaam seperti
Remaja Masjid, Forum Kajian Islam, HMI, MUI hingga IKADI saat ini.
Keempat, untuk duduk sebagai pejabat
semisal anggota DPRD tidaklah mudah, harus berkecimpung terlebih dahulu sebagai
anggota dan pengurus partai, selama ini
saya tidak terlibat dengan partai manapun, dari sekian diskusi dan
kajian-kajian tentang fikrah islami yang saya ikuti, dapat disimpulkan bahwa ketiga
parpol dimasa orde baru tidak satupun
yang layak didukung apalagi terlibat di dalamnya. Disamping itu saya bukanlah
tokoh yang punya jasa terhadap masyarakat, saya bukan pula orang yang
kharismatik sehingga tidak satupun parpol yang mengajak saya terlibat di
dalamnya.
Kelima, kondisi bangsa Indonesia
yang terpuruk dalam kehancuran karena kezhaliman para penguasanya membuat saya
antipati terhadap penguasa, bagi saya mereka tidak bedanya dengan Fir’aun dan
Namrudz yang menjajah rakyatnya. Bahkan jiwa muda saya cendrung mendukung
pihak-pihak masyarakat yang akan memperbaiki negeri ini dengan upaya
pemberontakan dan pembangkangan terhadap pejabat dan penguasa negara bagi
mayoritas muslim tapi nasib umat islam disengsarakan. Ada kesedihan dan
kepedihan di hati saya ketika penguasa
menghancurkan umat islam dalam berbagai kasus seperti Tanjung Priok, Talang
Sari Lampung, Haur Koneng atau upaya-upaya dari anak bangsa ini yang ingin
lepas dari kezhaliman bangsanya sendiri.
Sesuai dengan bakat dan kemampuan
yang saya miliki, kegiatan harian saya hanya
berda’wah, membina masyarakat dan terlibat dalam kegiatan sosial sejak masih di
Metro Lampung dahulu, tambah konsen terhadap pembinaan umat ini ketika saya
menetap di Solok Sumatera Barat tahun 1990 yang kemudian bergabung dengan
aktivis da’wah, akhirnya menjadi sebuah partai dengan nama Partai Keadilan
[1997].
Ketika Reformasi digulirkan maka
berdirilah banyak partai sebagai upaya untuk memperbaiki bangsa ini yang
sebelumnya Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang yang memaksa rakyat
untuk menyalurkan aspirasinya hanya ketiga parpol saja, salah satu upaya dari
komunitas aktivis da’wah ini yang ingin turut serta punya kontribusi terhadap
perbaikan bangsa dan negara ini ialah Partai Keadilan.
Sebagai ketua DPD Partai Keadilan
Kabupaten Solok dikala memasuki Pemilu tahun 1999 saya masuk dalam jajaran
calon anggota legislatif dari Partai Keadilan dengan nomor urut pertama karena saya dianggap
pantas sebab ketua partai. Harian Umum
Singgalang, jum’at 28 Mai 1999 mempublikasikan daftar calon tetap anggota DPRD
Kabupaten Solok untuk Pemilu tanggal 7 Juni 1999, dari Partai Keadilan terdapat
41 calon anggota legislatif.
Untuk menduduki nomor urut pertama dan daerah pemilihan di Kecamatan Sungai
Pagu dalam penetapan caleg ini bukanlah keinginan saya tapi kehendak kader dan
keputusan DPW PK Sumatera Barat dengan alasan
sebagai ketua partai di Kabupaten Solok.Ketika hasil Pemilu, Partai
Keadilan memperoleh 3883 suara berarti hanya satu kursi untuk PK yang dapat
duduk di DPRD Kabupaten Solok, dari hasil suara terbanyak itu maka sayalah yang
menduduki kursi tersebut sebagai anggota DPRD>
Tanggal 13 Agustus 1999 ketika itu pelantikan dan pengucapan sumpah anggota
DPRD Kabupaten Solok periode 1999-2004 dilaksanakan di Gedung Solok nan Indah
Koto Baru. Resminya sebagai anggota DPRD bagi saya bukanlah hal yang istimewa
dan bukan pula sebagai kebanggaan karena;
Pertama, Saya dididik lebih kurang 10 tahun dengan tarbiyah yang intensif
dalam gerakan da’wah ini dengan kajian-kajian aqidah, fikrah, ibadah dan
akhlak, bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang istimewa dan bukan pula kebanggaan
tapi dia adalah amanah dan beban yang
harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan publik.
Kedua, Masih banyak dari kader PK
yang lebih berhak dan pantas menerima posisi ini dari pada saya, tapi hanya
karena mereka sebagai PNS yang tidak mungkin terlibat dalam struktur partai.
Kader PK yang bebas dan lepas bergerak
sebagai figur publik di partai sangat minim sekali dan saya hanya sebagai tenaga honor mengajar
di SMEA Budi Mulia Koto Baru, MTsN Koto
Baru dan Dosen PGTK Adzkia Padang yang bukan PNS, kebetulan saya bukan PNS.
Ketiga , Masih banyak dari simpatisan PK yang lebih berhak lagi pantas dan
ada pula yang sudah dua kali sebagai anggota DPRD Kabupaten Solok sebelumnya
seperti Bapak A Rifai Dt. Bagindo Rajo yang tokoh Golkar dahulunya, tapi sayang
mereka belum jadi kader PK, tentu PK
lebih mempercayakan kadernya dahulu untuk diberi amanah jabatan karena mudah
dipantau dan diawasi.
Keempat, Selama ini saya tidak pernah bermimpi jadi anggota DPRD dan ilmu
yang berkaitan dengan jabatan ini tidak saya miliki, yang jelas akan menyusahkan saya karena harus membekali diri
dengan berbagai pengetahuan tentang kedewanan, yang semua itu kalau bukan
karena kebetulan maka dia adalah rekayasa dan kehendak Allah semata yang
memberikan kepercayaan dan beban kepada saya, dengan beban ini apakah akan
memuliakan saya atau menghinakan saya baik di hadapan Allah maupun di hadapan
kader dan simpatisan PK.
Yang jelas jabatan, amanah dan beban ini sudah saya terima bersama 40
anggota dewan lainnya dari berbagai partai hasil pemilu tahun 1999
dan anggota TNI/ Polri yang diangkat. Golkar 12 orang, PPP 8 orang, PAN
6 orang, PDIP 2 orang, PBB 2 orang, TNI Polri 4
orang, PKB, PMB, PP, PKP, PUI dan PK masing-masing 1 orang. [Dari buku
Profil Mukhlis Denros].
Jalan hidup yang kita lalui sejak berupa benih di rahim seorang ibu, ketika
lahir kita berada dalam lingkungan keluarga yang sangat asing bagi kita, semua
kejadian itu bukanlah keinginan kita, tapi kehendak dan ketentuan Allah dengan
skenario-Nya, kita hanya menjalani saja kehidupan ini. Bukti lain bahwa hidup
kita adalah skenario Allah dapat dilihat dari kejadian ini.
Tahun 2009, ketika Pemilihan Umum
Legislatif menentukan seseorang duduk sebagai anggota DPRD menurut nomor urut,
di Kabupaten Solok, untuk pemilihan Solok II dari PKS sudah disepakati nomor
urut 1. Nosa Ekananda, 2. Hafez, 3. Maspardi. Saya sebagai mantan ketua DPD PKS
Kabupaten Solok melihat nomor urut itu tidak pas maka saya usulkan ke DPW PKS
Sumatera Barat agar dirubah formasi itu dengan berbagai alasan, salah satu
permohonan saya agar Maspardi diletakkan pada nomor 1 karena dia sudah dua kali
jadi caleg dan Nosa nomor urut tiga karena dia masih yunior di Partai, usulan
saya disetujui dengan formasi 1. Maspardi, 2.Hafez dan 3. Nosa Ekananda.
Sebelum Pemilu dilaksanakan terjadilah perubahan Undang-Undang Pemilu bahwa
yang berhak untuk duduk sebagai anggota DPRD berdasarkan suara terbanyak, tidak
jadi berdasarkan nomor urut. Akhir penghitungan suara Pemilu nyatanya yang
mendapat suara terbanyak adalah Nosa Ekananda. Bukankah ini skenario Allah,
awalnya saya belum dan tidak setuju kalau Nosa Ekananda yang duduk pada Pemilu
ini karena masih ada seniornya, tapi Allah menghendaki lain, justru Nosa yang
harus jadi anggota DPRD.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
(Q.S Al Baqarah [2] : 216)
.
Keluarnya Rasulullah dari Madinah untuk mengikuti kafilah dagang Quraisy karena selama ini kafir Quraisy tersebut merampas harta kekayaan ummat islam di Mekkah, dengan pasukan lebih kurang 300 orang, perlengkapan sederhana, kesiapan perjalananpun hanya sebatas itu, tapi rencana kaum muslimin itu dialihkan oleh Allah dengan skenario besar yaitu jadi perang Badr yang membawa kemenangan luar biasa sehingga ketika itu ummat islam sudah menjadi sebuah kekuatan yang disegani oleh kawan dan lawan.
Keluarnya Rasulullah dari Madinah untuk mengikuti kafilah dagang Quraisy karena selama ini kafir Quraisy tersebut merampas harta kekayaan ummat islam di Mekkah, dengan pasukan lebih kurang 300 orang, perlengkapan sederhana, kesiapan perjalananpun hanya sebatas itu, tapi rencana kaum muslimin itu dialihkan oleh Allah dengan skenario besar yaitu jadi perang Badr yang membawa kemenangan luar biasa sehingga ketika itu ummat islam sudah menjadi sebuah kekuatan yang disegani oleh kawan dan lawan.
Dalam hidup ini kita harus
menjalaninya apa adanya sesuai dengan ketentuan Allah, yang penting kita
menjadikan hidup ini hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya, melalui
jalan yang lurus, menghindari hal-hal yang merusak pribadi, keluarga dan
masyarakat, setelah itu ikuti sajalah alur cerita yang akan ditulis oleh
generasi kita sesuai dengan skenario yang telah disiapkan Allah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 18 Desember 2011.M/ 22
Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar