Jumat, 26 Februari 2016

276. Gerakan Dakwah



Setiap hari jum’at, khutbah pada setiap masjid selalu diberikan oleh para da’i, ceramah Ramadhan tetap semarak dengan siraman rohani yang disampaikan oleh ustadz dan ustadzah dengan nada bijak yang kadangkala juga kocak, begitu juga khutbah dua hari raya kita tidak luput untuk mendengarkan petuah-petuah agama yang disampaikan oleh ulama hingga banyaknya majlis ta’lim menggelar acara pengajian dimana-mana, semuanya berjalan dengan baik-baik saja tak ada kendala, da’i, ulama, mubaligh dan kiyai sibuk dengan dakwah dan pengajiannya tapi ummat tidak juga berubah, kefasikan, kemusyrikan dan kemunafikan, maksiat dan dosa tetap dilakukan oleh ummat ini, ada apa sebenarnya antara dakwah dan ummat.
            Dakwah yang demikian baru dilakukan oleh pribadi-pribadi da’i pada setiap momen kepada ummat, yang baru sebatas informative artinya dakwah yang digelar baru sebatas menyampaikan tentang informasi keislaman, belum lagi dakwah yang menyentuh dan merubah seseorang, dalam dakwah kita tidak boleh jadi “buih” yang diombang ambingkan oleh angina dan gelombang, tapi dakwah itu harus bisa jadi “gelombang” yang akan merubah disekelilingnya. Dakwah yang merubah itu adalah dakwah yang dikerjakan secara kolektif atau  berjamaah yang tergabung dalam gerakan dakwah.

            Betapa banyaknya kita temukan para penyeru dakwah yang sudah kelelahan, lesu dan putus asa dengan dakwah yang dikerjakannya, begitu banyak masjid dan surau yang sudah diserukan khutbah dan ceramahnya, tidak sedikit majelis taklim yang dia isi pengajiannya, tapi yang dilakukan itu Nampak tidak ada hasilnya, ummat semakin jauh dari islam, hantaman dan ujian yang menyaingi kekuatan dakwahnya tidak sebanding dengan kekuatan luar yang melelahkannya, karena sang da’i, berfikir, merancang dan bekerja sendiri. Untung saja sang da’i masih mempunyai modal dalam hidupnya yaitu istiqamah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam perjalanan dakwah beliau.

Sejak Baginda Nabi SAW memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah, orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara dari mulai yang paling halus hingga yang paling kasar dan kejam untuk menggagalkan dakwah Nabi SAW. Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad SAW adalah orang gila.Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa Arab.Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan kata-kata Muhammad.Itulah ujian yang pertama dan paling ringan yang dialami Baginda Rasulullah SAW.  

Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari jalannya, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad SAW dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul; membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda dusta; menentang Alquran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang Alquran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan dakwah beliau (Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm).

Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, mereka tidak mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang yang masuk Islam.

Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi SAW oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu'ith, Adi bin Hamra' ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda' al-Huzali. Salah seorang dari mereka pernah melempar Nabi SAW dengan isi perut domba yang baru disembelih saat beliau sedang shalat.Ada juga yang melemparkan kotoran domba itu ke periuk beliau.  Uqbah bin Abi Mu'ith bahkan pernah meludahi wajah Nabi SAW, Ubay bin Khalaf pernah meremukkan tulang-belulang, lalu menaburkannya di udara yang berhembus ke arah Rasul SAW, Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi SAW, Uqbah bin Abi Mu'ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia.

Semua itu dialami Baginda Rasulul-lah SAW, betapapun mulianya kedudukan beliau dan betapapun agungnya kepribadian beliau di tengah-tengah masyarakat; apalagi beliau mendapat perlindungan dari paman beliau, Abu Thalib, yang merupakan salah seorang dari Quraisy yang sangat dihormati di Makkah al-Mukarramah. 

Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya.  Ketika Ibu Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan mengusirnya dari rumahpadahal ia sebelumnya termasuk orang yang paling enak hidupnyasampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Lehernya diikat, lalu ia diserahkankepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi sebuah bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.

Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra meninggal dunia ketika disiksa.Istrinya, Sumayyah (ibu 'Ammar), juga menjadi syahidah setelah Abu Jahal menancapkan tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras. 

Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan orang-orang kafir, Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh pada Islam.Mereka tetap bersabar atas semua siksaan itu dan tetap istiqamah di jalan dakwah hanya karena satu alasan: mengharap ridha Allah SWT. [Istiqamah Di Jalan Dakwah,MediaUmat Tuesday, 03 November 2009 17:09].

Ibarat sebuah sapu lidi, walaupun jumlah sapu lidi tersebut banyak tapi tidak diikat pada sebuah ikatan yang kuat maka sapu lidi itu tidak akan mampu membersihkan kotoran, dia akan berdaya guna menghilangkan sampah bila lidi-lidi itu dikumpulkan pada sebuah ikatan yang kuat. Tetesan air laut saja kecil kekuatannya, dia akan jadi gelombang bila tetesan air itu dimasukkan ke dalam luasnya samudera, begitu juga halnya bila seorang kiyai sekalipun tidak akan mengubah ummatnya bila dia bekerja sendiri dalam dakwah ini, jalan keluarnya adalah bergabung dalam gerakan dakwah yang akan memperbesar gelombang.

Sebagai seorang penyeru, juru dakwah mutlak memiliki keyakinan bahwa di dunia ini tidak ada sebuah sistem yang bisa memberi berbagai aturan tuntunan sesuai fitrah manusia.Aturan main inilah yang harus disepakati bersama, dan merasuk ke dalam jiwa, memenuhi rongga dada, membakar semangat, hingga mesin peradaban pun bergerak .Jepang bangkit denganrestorasi Meiji, Cina dengan semangat Tao dan Barat dengan Darwinisme. Teori Darwin mengajarkan, hanya yang kuat yang akan menang. Pilar-pilar itu yang dibutuhkan oleh sebuah bangsa yang sedang bangkit.Selalu ada pemicu yang memacu gerak dari sebuah aktivitas.

Ibarat perahu yang mengarungi samudera luas, maka perjalanan dakwah harus mempersiapkan bekal yang cukup. Perahu (sistem) yang kokoh dilengkapi alat navigasi (peta dan  kompas) yang akurat. Peralatan itu hanya bisa di tangan nakhoda dan kru yang benar-benar tangguh. Bila itu terpenuhi niscaya akan sampai ke pulau impian.

Dalam keyakinan seorang dai, tidak ada perahu yang sempurna. Tidak ada sistem atau ajaran yang sempurna dan menyempurnakan sebagaimana yang diberikan oleh Islam kepada semua umatnya.Modal keyakinan inilah yang dibutuhkan bagi sebuah bangsa yang sedang tenggelam untuk bangkit mengarungi samudera kehidupan.

Allah SWT menurunkan al-Qur’an, memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengikuti Muhammad saw, dan meridhai Islam sebagai agama mereka. Itulah keyakinan yang menggerakkan hati setiap juru dakwah. Maka Allah meletakkan di dalam agama ini setiap prinsip yang dibutuhkan bagi kehidupan berbagai bangsa, kebangkitannya, dan kebahagiaannya.[Eman Mulyatman ,Mengarungi Samudera Dakwah,cybersabili, Senin, 31 Mei 2010 02:20 Herry nurdi].

Dengan gerakan dakwah akan terujud kerja sama dalam dakwah, kita punya mitra dalam dakwah, sakit, susah dan senang yang dirasakan dalam dakwah akan dirasakan bersama sehingga beban itu terasa ringan.
Bekerja sama artinya tidak kerja sendiri. Kerjasama dalam muamalat bisa dengan siapa saja.Tak jarang seorang Muslim ditolong atau mendapat bantuan dari kekuatan luar. Sering menjadi contoh bagaimana sikap Paman Nabi Muhammad saw Abu Thalib, yang memberi jaminan keamanan.

Prinsip Islam tidak menyelisihi kerjasama itu, dengan syarat harus sesuai dengan kriteria dan batasan yang mendasar.Bukankah mencegah kerusakan lebih diprioritaskan daripada meraih maslahat. Bermitra akan lebih baik jika mitra itu justru akan mempersempit area kerusakan dan memperluas daerah kebaikan…….

Bermitra bukan perkara baru dan asing dalam pergerakan dakwah, bahkan perkara ini merupakan pengetahuan agama, praktik politik dan perilaku kadernya.Umat Islam harus menyatukan potensi kebaikan. Saling bekerja sama  untuk menghilangkan suara negatif tentang dakwah. Menepis kekhawatiran terhadap gerakan dakwah.Memberi contoh pendayagunaan kekuasaaan untuk kemaslahatan dalam sudut pandang ajaran Islam.

Tak pelak, di satu sisi kerja sama merupakan bentuk meminta bantuan orang lain, untuk melakukan kebaikan kepada kita dan di sisi lain mitra  adalah membantu orang lain untuk berbuat baik sesuai dengan keperluan dan kepentingan mitra kita.

Bergabungnya antara orang-orang Islam adalah kerjasama mereka secara pribadi, kelompok atau partai. Hal itu tidak mengundang perdebatan atau diskusi hukum agama, karena asasnya adalah:
“Sesunguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.”

“Bekerjasamalah kalian untuk melakukan kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian bekerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”.[Mitra Dakwah ,Cybersabili,Senin, 26 April 2010 02:24 Herry nurdi].

            Gerakan dakwah bukanlah lembaga yang dibuat-buat saja tanpa adanya tujuan yang besar, gerakan dakwah seharusnya adalah gerakan yang mengacu kepada gerakan yang diawali oleh dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah bersama sahabatnya saat menumpas segala bentuk jahiliyyah ketika itu, mengarahkan manusia kepada kehidupan yang islami dengan ikatan perjanjian yang jelas yaitu menegakkan agama Allah yang bersih dari syirik sebagaimana yang diungkapkan oleh Sayid Qutb dalam buah  fikirannya dibawah ini.

Pergerakan Islam lahir di Makkah dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit. Kekuatan jahiliyah, yang direpresentasikan oleh Quraisy, tidak merasakan bahaya besar yang tengah mengancam karena dakwah tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, karena pemberontakan yang dilakukannya terhadap seluruh kekuasaan bumi yang tidak bernaung di bawah kekuasaan Allah, dan karena pembangkangan totalnya terhadap semua thaghut di bumi serta larinya ia dari thagut-thagut itu menuju Allah.

Ia juga tidak merasakan bahaya serius dari perkumpulan pergerakan baru yang dilahirkan dakwah ini di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, perkumpulan yang semenjak hari pertama telah memaklumatkan ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, perkumpulan yang sejak hari pertama telah memaklumatkan pembangkangannya serta pemberontakannya kepada kepmimpinan jahiliyah yang direpresentasikan oleh suku Quraisy dan situasi kondisi umum yang meliputi seluruh jahiliyah ini.
Jahiliyah, yang untuk pertama kalinya direpresentasikan dalam suku Quraisy, hampir-hampir tidak merasakan bahaya ini dan itu, hingga ia memproklamirkan peperangan yang hebat terhadap dakwah baru, organisasi baru, da kepemimpinan baru ini : Islam. Dan, hingga ia mencurahkan semua yang dimampuinya, baik berupa siksaan, muslihat, fitnah, maupun tipu daya, untuk memberangusnya.

Perkumpulan jahiliyah bangkit untuk menjauhkan dari dirinya bahaya yang sedang mengancam eksistensinya dengan seluruh kemampuan yang dipunyai makhluk hidup untuk menjauhkan bahaya kematian dari dirinya.Ini adalah sesutu yang alami yang pasti tejadi setiap kali muncul ke permukaan dakweah kepada ketuhanan. Allah Subhanahu wata'ala dalam masyarakat jahiliyah yagn berdiri atas landasan ketuhanan makhluk atas makhluk, dan setiap kali dakwah baru mengejawantah dalam suatu perkumpulan baru yang melahirkan kepemimpinan baru yang kemudian melawan masyarakat jahiliyah lama!.[Inilah Pondasi Yang Kokoh Ideologi Pergerakan, Eramuslim.com.Kamis, 09/06/2011 15:07 WIB].

Dalam gerakan dakwah, keberhasilan dakwah yang diperoleh merupakan hasil bersama dan kegagalanpun milik bersama juga, tidak ada saling menyalahkan antara satu pribadi dengan pribadi lainnya, hal yang lumrah sesama da’i bisa saja terjadi tapi kehidupan kita dibingkai oleh ukhuwah islamiyyah, ini saja sudah nikmat besar yang kita terima dari Allah, belum lagi nikmat-nikmat lainnya yang harus disyukuri, sehingga ujud syukur itu perlu kita nampakkan dalam intima’ yaitu keberpihakan kita kepada islam dan dakwah.

Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi.Untuk tujuan ini, maka intima (berafiliasi) kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah Taala.

Islam adalah ideologi dan risalah Allah yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta.Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam.Pembelaan dan keberpihakan kita kepada Islam merupakan wujud intima kita kepada Islam dan gerakan dakwah.Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud.

Intima kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima yang dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu syairnya,“Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”

Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita.Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah.Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi kita, dari qiyadah kita dan saudara sejawat kita.Jadi kita telah banyak berutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah Taala, sumber segala kebaikan.

Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul (penanggung jawab) kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan hanya lahzhah(beberapa menit), tetapi bertahun-tahun kita merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.

Manfaat yang kita dapatkan dari perkataan murabbi kita bukan hanya lafzhah(sepatah dua patah), tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi yang mereka dapatkan.

Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita kepada Islam.

Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia.Kepada merekalah kita menunjukkan intima Islam kita. Kepada murabbi, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai.Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima kita kepada gerakan dakwah, karena Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.

Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala’ (memberikan loyalitas) kepada Allah, kepada Rasul dan kepada pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah.[Samin Barkah, Lc,Intima Pada Gerakan Dakwah,eramuslim.com.1/5/2009 | 07 Jumadil Awal 1430 H].

Da’i yang tergabung dalam gerakan dakwah adalah da’i yang mengerti bahwa dakwah ini merupakan proyek besar yang tidak bisa selesai hanya dikerjakan oleh seorang saja, dakwah ini usianya sangat panjang, tidak akan tuntas hanya oleh satu generasi saja, proyek besar harus dikerjakan bersama, bekerjasama dan sama-sama bekerja untuk meretas jalan dakwah hingga menemukan keberhasilannya kelak, keberhasilan dakwah akan tercapai bila semua perangkatnya yaitu para da’i khususnya siap berdakwah kapan saja dengan setia mengharapkan ridha Allah, selalu istiqamah dan intima’ dengan Islam dan dakwah,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar