Setiap
hari jum’at, khutbah pada setiap masjid selalu diberikan oleh para da’i,
ceramah Ramadhan tetap semarak dengan siraman rohani yang disampaikan oleh
ustadz dan ustadzah dengan nada bijak yang kadangkala juga kocak, begitu juga
khutbah dua hari raya kita tidak luput untuk mendengarkan petuah-petuah agama
yang disampaikan oleh ulama hingga banyaknya majlis ta’lim menggelar acara
pengajian dimana-mana, semuanya berjalan dengan baik-baik saja tak ada kendala,
da’i, ulama, mubaligh dan kiyai sibuk dengan dakwah dan pengajiannya tapi ummat
tidak juga berubah, kefasikan, kemusyrikan dan kemunafikan, maksiat dan dosa
tetap dilakukan oleh ummat ini, ada apa sebenarnya antara dakwah dan ummat.
Dakwah yang demikian baru dilakukan oleh pribadi-pribadi
da’i pada setiap momen kepada ummat, yang baru sebatas informative artinya
dakwah yang digelar baru sebatas menyampaikan tentang informasi keislaman,
belum lagi dakwah yang menyentuh dan merubah seseorang, dalam dakwah kita tidak
boleh jadi “buih” yang diombang ambingkan oleh angina dan gelombang, tapi
dakwah itu harus bisa jadi “gelombang” yang akan merubah disekelilingnya.
Dakwah yang merubah itu adalah dakwah yang dikerjakan secara kolektif atau berjamaah yang tergabung dalam gerakan
dakwah.
Betapa banyaknya kita temukan para penyeru dakwah yang
sudah kelelahan, lesu dan putus asa dengan dakwah yang dikerjakannya, begitu
banyak masjid dan surau yang sudah diserukan khutbah dan ceramahnya, tidak
sedikit majelis taklim yang dia isi pengajiannya, tapi yang dilakukan itu
Nampak tidak ada hasilnya, ummat semakin jauh dari islam, hantaman dan ujian
yang menyaingi kekuatan dakwahnya tidak sebanding dengan kekuatan luar yang
melelahkannya, karena sang da’i, berfikir, merancang dan bekerja sendiri.
Untung saja sang da’i masih mempunyai modal dalam hidupnya yaitu istiqamah
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam perjalanan dakwah beliau.
Sejak Baginda Nabi SAW memulai dakwah secara terang-terangan
di Makkah, orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara dari mulai
yang paling halus hingga yang paling kasar dan kejam untuk menggagalkan dakwah
Nabi SAW. Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad SAW adalah orang
gila.Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa
Arab.Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan
kata-kata Muhammad.Itulah ujian yang pertama dan paling ringan yang dialami
Baginda Rasulullah SAW.
Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling
sedikitpun dari jalannya, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah
Muhammad SAW dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat
cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul;
membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda
dusta; menentang Alquran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang
Alquran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang
tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan dakwah beliau (Syaikh
Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm).
Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, mereka tidak
mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan
orang-orang yang masuk Islam.
Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi SAW
oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu'ith, Adi
bin Hamra' ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda' al-Huzali. Salah seorang dari mereka
pernah melempar Nabi SAW dengan isi perut domba yang baru disembelih saat
beliau sedang shalat.Ada juga yang melemparkan kotoran domba itu ke periuk
beliau. Uqbah bin Abi Mu'ith bahkan pernah meludahi wajah Nabi SAW, Ubay
bin Khalaf pernah meremukkan tulang-belulang, lalu menaburkannya di udara yang
berhembus ke arah Rasul SAW, Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi SAW,
Uqbah bin Abi Mu'ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia.
Semua itu dialami Baginda Rasulul-lah SAW, betapapun
mulianya kedudukan beliau dan betapapun agungnya kepribadian beliau di
tengah-tengah masyarakat; apalagi beliau mendapat perlindungan dari paman
beliau, Abu Thalib, yang merupakan salah seorang dari Quraisy yang sangat
dihormati di Makkah al-Mukarramah.
Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi
orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan,
yang tak kalah kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah
diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya. Ketika Ibu
Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan
anaknya dan mengusirnya dari rumahpadahal ia sebelumnya termasuk orang yang
paling enak hidupnyasampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga
pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Lehernya diikat,
lalu ia diserahkankepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi sebuah
bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik matahari dalam
kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.
Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih
tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan
menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra meninggal dunia ketika disiksa.Istrinya,
Sumayyah (ibu 'Ammar), juga menjadi syahidah setelah Abu Jahal menancapkan
tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras.
Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan
orang-orang kafir, Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh
pada Islam.Mereka tetap bersabar atas semua siksaan itu dan tetap istiqamah di
jalan dakwah hanya karena satu alasan: mengharap ridha Allah SWT. [Istiqamah Di
Jalan Dakwah,MediaUmat Tuesday,
03 November 2009 17:09].
Ibarat sebuah sapu lidi, walaupun jumlah sapu lidi tersebut
banyak tapi tidak diikat pada sebuah ikatan yang kuat maka sapu lidi itu tidak
akan mampu membersihkan kotoran, dia akan berdaya guna menghilangkan sampah
bila lidi-lidi itu dikumpulkan pada sebuah ikatan yang kuat. Tetesan air laut
saja kecil kekuatannya, dia akan jadi gelombang bila tetesan air itu dimasukkan
ke dalam luasnya samudera, begitu juga halnya bila seorang kiyai sekalipun
tidak akan mengubah ummatnya bila dia bekerja sendiri dalam dakwah ini, jalan
keluarnya adalah bergabung dalam gerakan dakwah yang akan memperbesar
gelombang.
Sebagai seorang
penyeru, juru dakwah mutlak memiliki keyakinan bahwa di dunia ini tidak ada
sebuah sistem yang bisa memberi berbagai aturan tuntunan sesuai fitrah
manusia.Aturan main inilah yang harus disepakati bersama, dan merasuk ke dalam
jiwa, memenuhi rongga dada, membakar semangat, hingga mesin peradaban pun
bergerak .Jepang bangkit denganrestorasi Meiji, Cina dengan semangat Tao dan
Barat dengan Darwinisme. Teori Darwin mengajarkan, hanya yang kuat yang akan
menang. Pilar-pilar itu yang dibutuhkan oleh sebuah bangsa yang sedang
bangkit.Selalu ada pemicu yang memacu gerak dari sebuah aktivitas.
Ibarat perahu
yang mengarungi samudera luas, maka perjalanan dakwah harus mempersiapkan bekal
yang cukup. Perahu (sistem) yang kokoh dilengkapi alat navigasi (peta dan
kompas) yang akurat. Peralatan itu hanya bisa di tangan nakhoda dan kru yang
benar-benar tangguh. Bila itu terpenuhi niscaya akan sampai ke pulau impian.
Dalam keyakinan
seorang dai, tidak ada perahu yang sempurna. Tidak ada sistem atau ajaran yang
sempurna dan menyempurnakan sebagaimana yang diberikan oleh Islam kepada semua
umatnya.Modal keyakinan inilah yang dibutuhkan bagi sebuah bangsa yang sedang
tenggelam untuk bangkit mengarungi samudera kehidupan.
Allah SWT
menurunkan al-Qur’an, memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengikuti Muhammad
saw, dan meridhai Islam sebagai agama mereka. Itulah keyakinan yang
menggerakkan hati setiap juru dakwah. Maka Allah meletakkan di dalam agama ini
setiap prinsip yang dibutuhkan bagi kehidupan berbagai bangsa, kebangkitannya,
dan kebahagiaannya.[Eman Mulyatman ,Mengarungi Samudera Dakwah,cybersabili,
Senin, 31 Mei 2010 02:20 Herry nurdi].
Dengan gerakan
dakwah akan terujud kerja sama dalam dakwah, kita punya mitra dalam dakwah,
sakit, susah dan senang yang dirasakan dalam dakwah akan dirasakan bersama
sehingga beban itu terasa ringan.
Bekerja sama
artinya tidak kerja sendiri. Kerjasama dalam muamalat bisa dengan siapa
saja.Tak jarang seorang Muslim ditolong atau mendapat bantuan dari kekuatan
luar. Sering menjadi contoh bagaimana sikap Paman Nabi Muhammad saw Abu Thalib,
yang memberi jaminan keamanan.
Prinsip Islam
tidak menyelisihi kerjasama itu, dengan syarat harus sesuai dengan kriteria dan
batasan yang mendasar.Bukankah mencegah kerusakan lebih diprioritaskan daripada
meraih maslahat. Bermitra akan lebih baik jika mitra itu justru akan
mempersempit area kerusakan dan memperluas daerah kebaikan…….
Bermitra bukan
perkara baru dan asing dalam pergerakan dakwah, bahkan perkara ini merupakan
pengetahuan agama, praktik politik dan perilaku kadernya.Umat Islam harus
menyatukan potensi kebaikan. Saling bekerja sama untuk menghilangkan
suara negatif tentang dakwah. Menepis kekhawatiran terhadap gerakan
dakwah.Memberi contoh pendayagunaan kekuasaaan untuk kemaslahatan dalam sudut
pandang ajaran Islam.
Tak pelak, di
satu sisi kerja sama merupakan bentuk meminta bantuan orang lain, untuk
melakukan kebaikan kepada kita dan di sisi lain mitra adalah membantu
orang lain untuk berbuat baik sesuai dengan keperluan dan kepentingan mitra
kita.
Bergabungnya
antara orang-orang Islam adalah kerjasama mereka secara pribadi, kelompok atau
partai. Hal itu tidak mengundang perdebatan atau diskusi hukum agama, karena
asasnya adalah:
“Sesunguhnya orang-orang yang beriman
adalah bersaudara.”
“Bekerjasamalah kalian untuk melakukan
kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian bekerjasama dalam perbuatan dosa dan
permusuhan.”.[Mitra Dakwah ,Cybersabili,Senin, 26 April 2010 02:24 Herry nurdi].
Gerakan
dakwah bukanlah lembaga yang dibuat-buat saja tanpa adanya tujuan yang besar,
gerakan dakwah seharusnya adalah gerakan yang mengacu kepada gerakan yang
diawali oleh dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah bersama sahabatnya saat
menumpas segala bentuk jahiliyyah ketika itu, mengarahkan manusia kepada
kehidupan yang islami dengan ikatan perjanjian yang jelas yaitu menegakkan
agama Allah yang bersih dari syirik sebagaimana yang diungkapkan oleh Sayid
Qutb dalam buah fikirannya dibawah ini.
Pergerakan Islam lahir di Makkah dalam situasi dan kondisi
yang sangat sulit. Kekuatan jahiliyah, yang direpresentasikan oleh Quraisy,
tidak merasakan bahaya besar yang tengah mengancam karena dakwah tiada Tuhan
selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, karena pemberontakan yang
dilakukannya terhadap seluruh kekuasaan bumi yang tidak bernaung di bawah
kekuasaan Allah, dan karena pembangkangan totalnya terhadap semua thaghut di
bumi serta larinya ia dari thagut-thagut itu menuju Allah.
Ia juga tidak merasakan bahaya serius dari perkumpulan
pergerakan baru yang dilahirkan dakwah ini di bawah kepemimpinan Rasulullah
Shallahu alaihi wassalam, perkumpulan yang semenjak hari pertama telah
memaklumatkan ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah Shallahu alaihi wassalam,
perkumpulan yang sejak hari pertama telah memaklumatkan pembangkangannya serta
pemberontakannya kepada kepmimpinan jahiliyah yang direpresentasikan oleh suku
Quraisy dan situasi kondisi umum yang meliputi seluruh jahiliyah ini.
Jahiliyah, yang untuk pertama kalinya direpresentasikan
dalam suku Quraisy, hampir-hampir tidak merasakan bahaya ini dan itu, hingga ia
memproklamirkan peperangan yang hebat terhadap dakwah baru, organisasi baru, da
kepemimpinan baru ini : Islam. Dan, hingga ia mencurahkan semua yang
dimampuinya, baik berupa siksaan, muslihat, fitnah, maupun tipu daya, untuk
memberangusnya.
Perkumpulan jahiliyah bangkit untuk menjauhkan dari dirinya
bahaya yang sedang mengancam eksistensinya dengan seluruh kemampuan yang
dipunyai makhluk hidup untuk menjauhkan bahaya kematian dari dirinya.Ini adalah
sesutu yang alami yang pasti tejadi setiap kali muncul ke permukaan dakweah
kepada ketuhanan. Allah Subhanahu wata'ala dalam masyarakat jahiliyah yagn
berdiri atas landasan ketuhanan makhluk atas makhluk, dan setiap kali dakwah
baru mengejawantah dalam suatu perkumpulan baru yang melahirkan kepemimpinan
baru yang kemudian melawan masyarakat jahiliyah lama!.[Inilah Pondasi Yang Kokoh Ideologi Pergerakan, Eramuslim.com.Kamis,
09/06/2011 15:07 WIB].
Dalam gerakan dakwah, keberhasilan dakwah yang diperoleh
merupakan hasil bersama dan kegagalanpun milik bersama juga, tidak ada saling
menyalahkan antara satu pribadi dengan pribadi lainnya, hal yang lumrah sesama
da’i bisa saja terjadi tapi kehidupan kita dibingkai oleh ukhuwah islamiyyah,
ini saja sudah nikmat besar yang kita terima dari Allah, belum lagi
nikmat-nikmat lainnya yang harus disyukuri, sehingga ujud syukur itu perlu kita
nampakkan dalam intima’ yaitu keberpihakan kita kepada islam dan dakwah.
Islam bukan hanya agama
pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar
nilai-nilainya berjalan di muka bumi.Untuk tujuan ini, maka intima
(berafiliasi) kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan
dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah Taala.
Islam adalah ideologi dan
risalah Allah yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi
semesta.Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan
loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam.Pembelaan dan keberpihakan
kita kepada Islam merupakan wujud intima kita
kepada Islam dan gerakan dakwah.Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini
harus benar-benar terwujud.
Intima
kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa
tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima yang
dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu
syairnya,“Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang
(ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang
telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”
Dakwah dan tarbiyah telah
memberikan sesuatu yang banyak kepada kita.Kita bukan hanya menerima ukhuwah
sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup
menjalin ukhuwah.Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak
kita dapatkan dari murabbi kita, dari qiyadah kita dan saudara sejawat
kita.Jadi kita telah banyak berutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu
sendiri, apalagi kepada Allah Taala, sumber segala kebaikan.
Dengan banyaknya kebaikan yang
kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka
jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul
(penanggung jawab) kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan
hanya lahzhah(beberapa menit), tetapi bertahun-tahun kita
merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.
Manfaat yang kita dapatkan
dari perkataan murabbi kita bukan hanya lafzhah(sepatah
dua patah), tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai
pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi
yang mereka dapatkan.
Sudah sepantasnya dan tanpa
ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan
dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita
kepada Islam.
Misi dakwah telah dibebankan
kepada para dai. Mereka adalah manusia.Kepada merekalah kita menunjukkan intima
Islam kita. Kepada murabbi, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka
yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal
jamai.Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima kita
kepada gerakan dakwah, karena Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada
pemimpin.
Jika nikmat
keislaman kita syukuri dengan berwala’ (memberikan loyalitas) kepada Allah,
kepada Rasul dan kepada pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita
syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan
ketaatan kepada kebijakan dakwah.[Samin Barkah, Lc,Intima Pada
Gerakan Dakwah,eramuslim.com.1/5/2009 | 07 Jumadil Awal 1430 H].
Da’i yang
tergabung dalam gerakan dakwah adalah da’i yang mengerti bahwa dakwah ini
merupakan proyek besar yang tidak bisa selesai hanya dikerjakan oleh seorang
saja, dakwah ini usianya sangat panjang, tidak akan tuntas hanya oleh satu
generasi saja, proyek besar harus dikerjakan bersama, bekerjasama dan sama-sama
bekerja untuk meretas jalan dakwah hingga menemukan keberhasilannya kelak,
keberhasilan dakwah akan tercapai bila semua perangkatnya yaitu para da’i
khususnya siap berdakwah kapan saja dengan setia mengharapkan ridha Allah, selalu
istiqamah dan intima’ dengan Islam dan dakwah,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar