Sesuatu
hal yang kita simpan rapat-rapat, tidak boleh diketahui oleh orang lain, bila
diketahui kita merasa malu, hal itu disebut dengan rahasia.Ada rahasia pribadi,
keluarga hingga rahasia Negara yang harus disembunyikan oleh orang yang
dianggap mampu untuk menyimpannya, hanya boleh diketahui oleh orang yang pantas
untuk diberitahu.
Hidup ini penuh dengan rahasia.Kalau gak ada
rahasia, kayanya gak seru.Coba kalau semua manusia tidak dirahasiakan hari
kematiannya, bisa-bisa tak ada kehidupan.Tak ada yang mau kerja apalagi
bermaksiat, karena tahu batas hidupnya lalu semua pada giat beribadah.
Namun bagaikan hukum logika terbalik, justru dirahasiakannya umur
manusia membuat orang merasa tidak sungkan berahasia-rahasia kepada
Allah.Seakan-akan Allah tidak melihat apapun yang dilakukannya.Ia hanya menutup
aibnya kepada sesama namun lupa Allah Maha Melihat/Al Bashiir, Maha Mengetahui
Rahasia/Al Khabiir. Coba baca Surah Az-Zukhruf (QS43) ayat 80 yang artinya 'Apakah mereka mengira, bahwa Kami
tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?Sebenarnya (Kami mendengar),
dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.'
Atau mungkin kita merasa pandai menyimpan suatu rahasia?Aa Gym pernah
menyampaikan, masih banyak yang mau berkawan dengan kita hanya karena aib yang
kita tutup-tutupi ini masih disimpan dan ditutup rapat oleh Allah.Padahal yang
namanya aib itu kalau sudah terbuka sedikit saja, bau busuknya menyebar
kemana-mana.Tak sedikit teman kita yang menutup hidung lalu diam-diam pergi tak
kembali, malu berkawan dengan kita lagi.Lain halnya bila rahasia itu adalah
rahasia kebaikan. Kita menutup-nutupi amal ibadah kepada orang lain karena
takut ujub dan riya' tentu baik adanya. Bersedekah dan berinfaq, sebaiknya juga
menjadi rahasia kita dengan Allah saja, karena takut berkurang nilainya bila
kita ingin orang lain mengetahuinya.
Apapun yang kita lakukan, Allah jelas mengetahui.Sedikit amal atau dosa
yang kita kerjakan, selalu ada ganjarannya.'Barang
siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.' (QS 99:7-8).
Jadi sudahlah, tidak
usah main rahasia-rahasiaan sama Allah. Bisa hancur hidup kita dalam
sekejab.Bila Allah tidak menimpakan azabNya saat kita bermaksiat itu tandanya
masih ada kesempatan kita untuk bertaubat. Namun bila kesempatan itu kita
sia-siakan, percayalah, azab Allah sungguhlah pedih...[Oyi Kresnamurti, Tentang Rahasia , Media ummat, Senin, 05 Juli 2010 04:48].
Suatu hari Rasulullah SAW naik
ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian
menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari
aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim,
Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh
Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat
tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)
Syekh Mahmud al-Mishri dalam
kitabnya Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul mengungkapkan, di zaman sekarang ini
sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia.
Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat
menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian
dari khianat.
Dalam hadis di atas,
Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk
keutamaan.Nabi SAW menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara
rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam
ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.
Namun, kita sering melalaikan
peringatan ini.Kita kerap kali bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu
saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya,
ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri
Padahal, dengan menutup aib
orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat.
Rasulullah bersabda, "Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia,
melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya".
Aib merupakan sesuatu yang
diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif.Manusia tidak bisa lari dengan
menutup diri terhadap kekurangannya.Manusia harus berintrospeksi dan menghisab
diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, "Hisablah
dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu
sebelum perbuatanmu ditimbang."
Dalam hidup, kita terkadang
terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu
seringnya memikirkan aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk
bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia
bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain.[Budi Raharjo, Agar Allah tak Membuka Aib Kita ,Republika.co.id,Ahad, 28 November 2010, 18:27 WIB].
Kalau kita bicara rahasia maka
tidaklah semuanya negative, bahkan banyak sekali yang rahasia itu bersifat
positif kemudian dipublikasikan sehingga menjadi rahasia umum, seperti rahasia
dibalik marah.
Suatu waktu Ibnu Umar radhiya
Allahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Apa yang bisa menjauhkan aku dari
murka Allah 'Azza wa Jalla?'' Rasul langsung menjawab, ''Jangan marah!'' Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup
melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh
memilih bidadari yang mana saja dia suka.
Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau.''Jangan marah!''Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah.''Dan bagimu adalah surga!''Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.
Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.
Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana.Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah.Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.
Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.
Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok.Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk). Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji). Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).
Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang.[Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Rahasia di Balik AmarahRepublika co.id, Jumat, 07 Mei 2010, 10:29 WIB].
Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau.''Jangan marah!''Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah.''Dan bagimu adalah surga!''Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.
Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.
Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana.Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah.Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.
Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.
Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok.Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk). Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji). Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).
Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang.[Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Rahasia di Balik AmarahRepublika co.id, Jumat, 07 Mei 2010, 10:29 WIB].
Begitu juga halnya dengan
kelahiran, rezeki, jodoh dan maut merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui
oleh manusia, setelah terjadi barulah kita tahu rahasia itu.Rezeki yang kita
peroleh dari tetesan keringat dan membanting tulang bukanlah mutlak dari usaha
kita sendiri, semuanya berada di tangan Allah yang merupakan rahasia Allah
sendiri, kita hanya dianjurkan untuk berusaha secara maksiat dan berdoa.
Harta bukan simbol
keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia
semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin
terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat
apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada
cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih
ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal
dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka
sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta
semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa
yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang
yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah
justru mereka stress. Banyak para artis justru menderita setelah memiliki
harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol
keberhasilan.
Harta bukan simbol ketinggian
derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta
ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak
pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main
perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa
gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa
tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum
yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak
mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan
shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini
mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara
bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit
memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang
melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena
saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi
pekerjaan kantornya.[Rahasia Harta ,Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah
1431 H].
Hidayah merupakan nikmat
terbesar yang diberikan Allah kepada manusia sehingga beriman kepada-Nya, tidak
semua orang dapat meraihnya, karena hal ini adalah rahasia dan hak preogatif
Allah saja.
Allah berfirman di pembukaan
surah Al Baqarah: dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal
lilmuttaqiin( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di
dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari ayat ini kita
paham bahwa untuk mendapatkan hidayah Al Qur’an secara utuh, syaratnya harus
bertaqwa. Bahwa banyak orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an,
tetapi belum mendapatkan hidayahnya. Bahwa tidak semua orang Islam patuh kepada
tuntunan Al Qur’an. Perhatikan berapa banyak dari umat ini yang melanggar
dengan sengaja apa yang diharamkan dalam Al Qur’an. Berapa banyak yang dengan
tanpa merasa berdosa, mereka berani membuka aurat, berzina, korupsi, makan
harta riba, padahal mereka secara ritual menegakkan shalat, pergi haji, dan
melaksanakan puasa Ramadhan.
Lebih jauh, banyak dari para
anak yang berani kepada orang tuanya, menyakiti hati ibunya, padahal tuntunan
mencintai orang tua dan mengabdi kepada mereka, adalah tuntunan yang
sudah lama Allah turunkan. Semua nabi yang Allah utus diperintahkan untuk
menyampaikan hal tersebut.Al Qur’an sangat jelas menceritakan syariah ini.Tidak
ada keraguan di dalamnya bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua adalah
sebuah keniscayaan.Tetapi sayang syariah ini telah banyak diabaikan.Berapa
banyak orang tua yang terlantar atau sengaja ditelantarkan dengan alasan
mengejar harta.Kesibukan telah membuat para anak mencari alasan untuk
menghindar dari kewajiban membantu orang tua.Lebih parah, bahwa seringkali
orang tua disakiti hatinya, ditunggu harta warisannya, dan dipercepat
kematiannya.Padahal para anak itu secara ritual rajin shalat dan rajin
melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.Di manakah hidayah dalam hatinya.
Banyak juga dari orang tua
yang hanya sibuk mendidik anak-anak mereka untuk urusan mencari makan.Sementara
untuk urusan agamanya diabaikan.Akibatnya banyak anak muda yang kini berhasil
secara duniawi, sementara mereka secara akhirat, sangat minim bekalnya. Mereka
tidak tahu cara mengisi waktunya. Shalat ditegakkan secara formalitas,
sementara di saat yang sama mereka bergaul bebas, dengan tanpa merasa berdosa.
Tidak sedikit dari mereka yang terbiasa berzina.Dan itu dianggap sah-sah saja.
Pun sudah banyak buktinya dari mereka yang hamil dan punya anak di luar nikah.
Para orang tua mereka di saat yang sama orang-orang yang taat beribadah. Dalam
kondisi seperti ini, kita bertanya, di manakah peran hidayah Al Qur’an yang
mereka yakini?Apa arti pengakuan beriman kepada Al Qur’an, bila ternyata secara
terang-terangan ajaran Al Qur’an di abaikan? Apakah cukup hidayah Al Qur’an,
diartikan sebatas kepatuhan ritual saja, sementara secara moral sangat bejat?[Rahasia
Hidayah , Dakwatuna.com.6/10/2010 | 27 Syawal 1431 H] |
Manusia adalah makhluk Allah
yang berkewajiban untuk mengimani-Nya dengan baik, menerima segala kehendak
yang sudah ditentukannya, kita sebagai hamba tidak berdaya sedikitpun atas
kehendak dan ketentuan Allah karena nyawa kita berada dalam genggamannya,
segala kejadian yang kita alami seperti susah dan senang, bahagia dan sengsara,
bencana dan musibah merupakan rahasia Allah semata, kita dianjurkan untuk mengakui dengan tawakkal
semua itu karena kehendak dan ketentuan-Nya.
Kata musibah seringkali
diulang dalam Al Qur’an untuk makna peristiwa atau bencana yang menimpa.Dan
Allah tegaskan bahwa itu terjadi karena izin-Nya.Ini menunjukkan bahwa di atas
segala kekuatan ada kekuatan Allah.Bahwa manusia di alam ini hanya makhluk yang
lemah, maka tidak pantas merasa diri berkuasa.Lalu bertindak seenak
nafsunya.Tanpa memperhatikan rambu-rambu yang Allah turunkan.Lebih jauh, setiap
musibah yang menimpa juga memperlihatkan bahwa alam ini di bawah kendali
Allah.Sebab Dialah memang Pemiliknya.Maka tidak pantas manusia di muka bumi ini
mengabaikan-Nya.
Namun kenyataan sejarah selalu
dipenuhi contoh-contoh manusia yang membangkang.Manusia yang berani melawan
Allah.Manusia yang merasa tidak butuh kepada tuntunan-Nya.Sehingga wahyu yang
Allah turunkan dianggap tidak penting. Bahkan tidak sedikit manusia yang
meragukan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Akibatnya berbagai perilaku manusia
semakin jauh dari apa yang Allah inginkan. Perzinaan di mana-mana dianggap
biasa, padahal Allah melarangnya.Harta haram dibanggakan, padahal itu harta
yang paling Allah benci. Kedzaliman di mana-mana terjadi, padahal Allah
mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan lain sebaginya.
Ini semua tentu dimurkai oleh
Allah.Dan dalam Al-Qur’an, misalnya surah Al-Fajr, Allah menjelaskan bahwa
turunnya adzab sebenarnya bukan semata fenomena alam – seperti yang banyak
dipahami manusia modern – melainkan ada sebab yang diperbuat oleh manusia
sendiri.Itulah kisah adzab yang menimpa kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Fir’un.
Dari sini kita belajar bahwa
bencana tetap di luar kemampuan manusia, karena Allah langsung yang mengendalikannya.Dan
manusia tidak punya pilihan –apapun upaya yang dilakukan – kecuali hanya tunduk
dan patuh kapada Allah sepenuh hati dan semaksimal kemampuan.Jangan ulangi
kembali dosa-dosa yang membuat Allah murka. Jauhi segala apa yang Allah
haramkan. Ingat Allah mempunyai tujuan dan aturan.Maka sebagai makhluk, manusia
harus tahu diri. Jangan menganggap dirinya sama dengan Allah. Lalu merasa
independen dan menganggap dirinya bisa bertahan hidup tanpa Allah.[Rahasia Musibah ,Dakwatuna.com,
5/10/2009 | 15 Syawal 1430 H]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar