Jumat, 26 Februari 2016

289. Rahasia



Sesuatu hal yang kita simpan rapat-rapat, tidak boleh diketahui oleh orang lain, bila diketahui kita merasa malu, hal itu disebut dengan rahasia.Ada rahasia pribadi, keluarga hingga rahasia Negara yang harus disembunyikan oleh orang yang dianggap mampu untuk menyimpannya, hanya boleh diketahui oleh orang yang pantas untuk diberitahu.

Hidup ini penuh dengan rahasia.Kalau gak ada rahasia, kayanya gak seru.Coba kalau semua manusia tidak dirahasiakan hari kematiannya, bisa-bisa tak ada kehidupan.Tak ada yang mau kerja apalagi bermaksiat, karena tahu batas hidupnya lalu semua pada giat beribadah.

Namun bagaikan hukum logika terbalik, justru dirahasiakannya umur manusia membuat orang merasa tidak sungkan berahasia-rahasia kepada Allah.Seakan-akan Allah tidak melihat apapun yang dilakukannya.Ia hanya menutup aibnya kepada sesama namun lupa Allah Maha Melihat/Al Bashiir, Maha Mengetahui Rahasia/Al Khabiir. Coba baca Surah Az-Zukhruf (QS43) ayat 80 yang artinya 'Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.'

Atau mungkin kita merasa pandai menyimpan suatu rahasia?Aa Gym pernah menyampaikan, masih banyak yang mau berkawan dengan kita hanya karena aib yang kita tutup-tutupi ini masih disimpan dan ditutup rapat oleh Allah.Padahal yang namanya aib itu kalau sudah terbuka sedikit saja, bau busuknya menyebar kemana-mana.Tak sedikit teman kita yang menutup hidung lalu diam-diam pergi tak kembali, malu berkawan dengan kita lagi.Lain halnya bila rahasia itu adalah rahasia kebaikan. Kita menutup-nutupi amal ibadah kepada orang lain karena takut ujub dan riya' tentu baik adanya. Bersedekah dan berinfaq, sebaiknya juga menjadi rahasia kita dengan Allah saja, karena takut berkurang nilainya bila kita ingin orang lain mengetahuinya.

Apapun yang kita lakukan, Allah jelas mengetahui.Sedikit amal atau dosa yang kita kerjakan, selalu ada ganjarannya.'Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.' (QS 99:7-8).

Jadi sudahlah, tidak usah main rahasia-rahasiaan sama Allah. Bisa hancur hidup kita dalam sekejab.Bila Allah tidak menimpakan azabNya saat kita bermaksiat itu tandanya masih ada kesempatan kita untuk bertaubat. Namun bila kesempatan itu kita sia-siakan, percayalah, azab Allah sungguhlah pedih...[Oyi Kresnamurti, Tentang Rahasia , Media ummat, Senin, 05 Juli 2010 04:48].

Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul  mengungkapkan, di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia. Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian dari khianat.

Dalam hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan.Nabi SAW menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.

Namun, kita sering melalaikan peringatan ini.Kita kerap kali bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya, ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri

Padahal, dengan menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, "Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya".

Aib merupakan sesuatu yang diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif.Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya.Manusia harus berintrospeksi dan menghisab diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, "Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang."

Dalam hidup, kita terkadang terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu seringnya memikirkan  aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain.[Budi Raharjo, Agar Allah tak Membuka Aib Kita ,Republika.co.id,Ahad, 28 November 2010, 18:27 WIB].

Kalau kita bicara rahasia maka tidaklah semuanya negative, bahkan banyak sekali yang rahasia itu bersifat positif kemudian dipublikasikan sehingga menjadi rahasia umum, seperti rahasia dibalik marah.

Suatu waktu Ibnu Umar radhiya Allahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah 'Azza wa Jalla?'' Rasul langsung menjawab, ''Jangan marah!'' Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka.

Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau.''Jangan marah!''Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah.''Dan bagimu adalah surga!''Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.

Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.

Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana.Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah.Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.

Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.

Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok.Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk).  Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji).  Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).

Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang.[Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Rahasia di Balik AmarahRepublika co.id, Jumat, 07 Mei 2010, 10:29 WIB].

Begitu juga halnya dengan kelahiran, rezeki, jodoh dan maut merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui oleh manusia, setelah terjadi barulah kita tahu rahasia itu.Rezeki yang kita peroleh dari tetesan keringat dan membanting tulang bukanlah mutlak dari usaha kita sendiri, semuanya berada di tangan Allah yang merupakan rahasia Allah sendiri, kita hanya dianjurkan untuk berusaha secara maksiat dan berdoa.

Harta bukan simbol keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah justru mereka stress.  Banyak para artis justru menderita setelah memiliki harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol keberhasilan.

Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya.[Rahasia Harta ,Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H].

Hidayah merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia sehingga beriman kepada-Nya, tidak semua orang dapat meraihnya, karena hal ini adalah rahasia dan hak preogatif Allah saja.

Allah berfirman di pembukaan surah Al Baqarah: dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lilmuttaqiin( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari ayat ini kita paham bahwa untuk mendapatkan hidayah Al Qur’an secara utuh, syaratnya harus bertaqwa. Bahwa banyak orang yang mengaku beriman  kepada Al Qur’an, tetapi belum mendapatkan hidayahnya. Bahwa tidak semua orang Islam patuh kepada tuntunan Al Qur’an. Perhatikan berapa banyak dari umat ini yang melanggar dengan sengaja apa yang diharamkan dalam Al Qur’an. Berapa banyak yang dengan tanpa merasa berdosa, mereka berani membuka aurat, berzina, korupsi, makan harta riba, padahal mereka secara ritual menegakkan shalat, pergi haji, dan melaksanakan puasa Ramadhan.

Lebih jauh, banyak dari para anak yang berani kepada orang tuanya, menyakiti hati ibunya, padahal tuntunan mencintai orang tua dan  mengabdi kepada mereka, adalah tuntunan yang sudah lama Allah turunkan. Semua nabi yang Allah utus diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut.Al Qur’an sangat jelas menceritakan syariah ini.Tidak ada keraguan di dalamnya bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebuah keniscayaan.Tetapi sayang syariah ini telah banyak diabaikan.Berapa banyak orang tua yang terlantar atau sengaja ditelantarkan dengan alasan mengejar harta.Kesibukan telah membuat para anak mencari alasan untuk menghindar dari kewajiban membantu orang tua.Lebih parah, bahwa seringkali orang tua disakiti hatinya, ditunggu harta warisannya, dan dipercepat kematiannya.Padahal para anak itu secara ritual rajin shalat dan rajin melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.Di manakah hidayah dalam hatinya.

Banyak juga dari orang tua yang hanya sibuk mendidik anak-anak mereka untuk urusan mencari makan.Sementara untuk urusan agamanya diabaikan.Akibatnya banyak anak muda yang kini berhasil secara duniawi, sementara mereka secara akhirat, sangat minim bekalnya. Mereka tidak tahu cara mengisi waktunya. Shalat ditegakkan secara formalitas, sementara di saat yang sama mereka bergaul bebas, dengan tanpa merasa berdosa. Tidak sedikit dari mereka yang terbiasa berzina.Dan itu dianggap sah-sah saja. Pun sudah banyak buktinya dari mereka yang hamil dan punya anak di luar nikah. Para orang tua mereka di saat yang sama orang-orang yang taat beribadah. Dalam kondisi seperti ini, kita bertanya, di manakah peran hidayah Al Qur’an yang mereka yakini?Apa arti pengakuan beriman kepada Al Qur’an, bila ternyata secara terang-terangan ajaran Al Qur’an di abaikan? Apakah cukup hidayah Al Qur’an, diartikan sebatas kepatuhan ritual saja, sementara secara moral sangat bejat?[Rahasia Hidayah , Dakwatuna.com.6/10/2010 | 27 Syawal 1431 H] |

Manusia adalah makhluk Allah yang berkewajiban untuk mengimani-Nya dengan baik, menerima segala kehendak yang sudah ditentukannya, kita sebagai hamba tidak berdaya sedikitpun atas kehendak dan ketentuan Allah karena nyawa kita berada dalam genggamannya, segala kejadian yang kita alami seperti susah dan senang, bahagia dan sengsara, bencana dan musibah merupakan rahasia Allah semata, kita  dianjurkan untuk mengakui dengan tawakkal semua itu karena kehendak dan ketentuan-Nya.

Kata musibah seringkali diulang dalam Al Qur’an untuk makna peristiwa atau bencana yang menimpa.Dan Allah tegaskan bahwa itu terjadi karena izin-Nya.Ini menunjukkan bahwa di atas segala kekuatan ada kekuatan Allah.Bahwa manusia di alam ini hanya makhluk yang lemah, maka tidak pantas merasa diri berkuasa.Lalu bertindak seenak nafsunya.Tanpa memperhatikan rambu-rambu yang Allah turunkan.Lebih jauh, setiap musibah yang menimpa juga memperlihatkan bahwa alam ini di bawah kendali Allah.Sebab Dialah memang Pemiliknya.Maka tidak pantas manusia di muka bumi ini mengabaikan-Nya.

Namun kenyataan sejarah selalu dipenuhi contoh-contoh manusia yang membangkang.Manusia yang berani melawan Allah.Manusia yang merasa tidak butuh kepada tuntunan-Nya.Sehingga wahyu yang Allah turunkan dianggap tidak penting. Bahkan tidak sedikit manusia yang meragukan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Akibatnya berbagai perilaku manusia semakin jauh dari apa yang Allah inginkan. Perzinaan di mana-mana dianggap biasa, padahal Allah melarangnya.Harta haram dibanggakan, padahal itu harta yang paling Allah benci. Kedzaliman di mana-mana terjadi, padahal Allah mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan lain sebaginya.

Ini semua tentu dimurkai oleh Allah.Dan dalam Al-Qur’an, misalnya surah Al-Fajr, Allah menjelaskan bahwa turunnya adzab sebenarnya bukan semata fenomena alam – seperti yang banyak dipahami manusia modern – melainkan ada sebab yang diperbuat oleh manusia sendiri.Itulah kisah adzab yang menimpa kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Fir’un.

Dari sini kita belajar bahwa bencana tetap di luar kemampuan manusia, karena Allah langsung yang mengendalikannya.Dan manusia tidak punya pilihan –apapun upaya yang dilakukan – kecuali hanya tunduk dan patuh kapada Allah sepenuh hati dan semaksimal kemampuan.Jangan ulangi kembali dosa-dosa yang membuat Allah murka. Jauhi segala apa yang Allah haramkan. Ingat Allah mempunyai tujuan dan aturan.Maka sebagai makhluk, manusia harus tahu diri. Jangan menganggap dirinya sama dengan Allah. Lalu merasa independen dan menganggap dirinya bisa bertahan hidup tanpa Allah.[Rahasia Musibah ,Dakwatuna.com, 5/10/2009 | 15 Syawal 1430 H]

Begitu banyaknya rahasia kehidupan ini yang tidak kita ketahui karena keterbatasan kita sebagai makhluk, tapi bagi Allah tidak ada satupun rahasia yang tersembunyi bahkan detak jantung manusia atau jatuhnya daun pada sebuah hutan yang lebat bukanlah rahasia bagi Allah. Kita juga punya rahasia dalam hidup ini, rahasia pribadi sampai rahasia rumah tangga, dalam islam kita dituntun untuk tidak membuka rahasia rumah tangga kita kepada orang lain, itulah makanya hikmah sebuah rumah yang punya pintu gerbang, setelah pintu gerbang dibuka barulah bisa masuk ke pekarangannya, rumahpun dikunci pintunya, didalam rumah ada kamar yang dikunci pula tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamar kecuali orang yang berhak untuk memasukinya, sehingga sangat tidak baik bila orang yang ada di dalam kamar itu membuka rahasianya pada orang lain, rahasiakanlah segala yang harus dirahasiakan jangan jadi berita harian, wallahu a’lam.[Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar