Mencari nafkah [ma'isyah] adalah
aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kehidupannya dengan bekerja, apapun
jenis pekerjaan yang ditekuni selama baik dan halal adalah terpuji, apakah
sebagai pedagang, petani, buruh, pegawai negeri, anggota dewan, polisi, tentara
ataupun pengacara hingga menteri ataupun Presiden, kegiatan ini banyak mengandung pahala
didalamnya, dengan ma'isyah seseorang berupaya untuk mencari yang halal karena memang
demikian anjurannya,"Mencari rezeki yang halal adalah
wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll)''.(HR.
Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah mencontohkan kepada ummatnya
pentingnya mencari rezeki yang halal, sebab barang haram akan mempengaruhi
mental dan kepribadian seseorang. Idealnya, biarlah kita kaya raya asal semua
diperoleh dari yang halal, namun sangat rusak seseorang bila sedikit atau
banyak hartanya bergelimang dengan haram, baik haram zatnya, cara memperolehnya
atau membelanjakannya, Allah memperingatkan kita semuanya melalui nabinya;“Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan
bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al
Baqarah 2;172]
Seorang ummahat dizaman Rasulullah
dahulu, bila suaminya berangkat kerja mencari nafkah, di depan pintu dia
berpesan kepada suaminya,”Silahkan pergi mencari nafkah
sebanyak-banyaknya namun yang halal, jangan kau bawa ke rumahku ini harta yang
haram meskipun sedikit”.
Keluarga yang shaleh dan shalehah akan menjaga dirinya dari rezeki yang
haram, karena rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang selalu
mengumpulkan rezeki dari yang halal dan hasil yang halal itu mengujudkan
kebahagiaan bagi yang memperolehnya, demikian pula halnya Allah menyukai
hamba-Nya yang mencari rezeki halal walaupun dengan sudah payah, "Sesungguhnya
Allah Ta'ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari
rezeki yanghalal.(HR.Ad-Dailami)
Rezeki manusia sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, namun demikian dia
hanya diwajibkan untuk berusaha mencarinya dengan penuh ketekunan dan
kesabaran, walaupun turunnya rezeki itu lambat kepadanya maka tidak merubah
ketaatan kepada Allah dengan melakukan transaksi maksiat," Sesungguhnya
Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan
wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu
hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu.
Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan
bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih
dengan ketaatan kepada-Nya. (HR.AbuZardanAlHakim).
Apapun profesi seseorang tidak jadi masalah karena sesuai dengan
kapasitasnya dia akan memperoleh imbalan dari kerjanya, yang dilakukan secara
baik, rapi dan profesional serta bertanggungjawab, bahkan kerjanya itu dalam
rangka memenuhi kebutuhan untuk keluarga disamakan dengan seorang mujahid
"Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil
(professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk
keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.
(HR. Ahmad).
Dalam melakukan profesi bukanlah
hasil yang diandalkan tapi banyak hal yaitu kualitas hasil yang diperoleh juga
diperhitungkan, hasil yang baik biasanya dilakukan dengan sangat hati-hati,
lambat namun pasti, tekun mengerjakan pekerjaan merupakan salah satu prinsip
islam sebagaimana kerjanya kura-kura, hal ini diungkapkan oleh Abi Muhammad Ismail Halim
yang tinggal di di Texas, USA dalam tulisannya di republika.co.id,
dikatakannya;
”Bekerjalah seperti kura-kura dan
tidak seperti kelinci”, demikian satu dari 14 prinsip-prinsip inti ”The
Toyota Way”. Mula-mula agak sulit memahami, apa hubungannya kura-kura dan
kelinci dengan Toyota Production System (TPS) yang telah berhasil menghantar
Toyota menjadi sebuah perusahaan manufaktur otomotif papan atas, baik dari sisi
bisnis maupun kualitas.
Saat mencoba mencerna
penjelasannya, ingatan saya kembali pada sebuah buku cerita kanak-kanak
bergambar. Isinya sangat sederhana, kisah adu lari antara kelinci dan
kura-kura. Yang membuat buku itu menarik, sekaligus ’bernilai’ adalah
karena sang pemenang adalah kura-kura, bukan kelinci sebagaimana wajarnya.
Di dalam bukunya, Taichi Ohno,
salah seorang kontributor cetak biru atau ”DNA” dari the Toyota Way
menjelaskan: ”Kura-kura yang lamban tetapi konsisten mengakibatkan lebih
sedikit pemborosan dan jauh lebih diinginkan daripada kelinci yang cepat dan
mengungguli perlombaan dan kemudian berhenti setelah selang beberapa waktu
untuk beristirahat. Toyota Production System hanya dapat direalisasikan
jika semua karyawan menjadi kura-kura”.
Pemimpin-pemimpin Toyota lainnya
sering pula mengungkapkan hal yang sama, yang isinya kira-kira adalah
”Kami lebih suka lambat dan mantap seperti kura-kura daripada cepat dan
tersentak-sentak seperti kelinci”. Demikianlah salah satu filosofi di
balik TPS yang kebanyakan berjangkauan jauh ke depan. Meratakan beban
kerja (heijunka) adalah salah satu cara untuk menghindari pemborosan (muda),
ketidakseimbangan (mura), dan beban berlebih (muri).
Bagi umat Islam, filosofi di atas
bukanlah hal yang terlalu baru. Di dalam pandangan Islam, setiap
peristiwa atau kejadian bukanlah suatu momentum diskrit tanpa konteks, tetapi
adalah bagian dari sebuah kesinambungan hidup dan kehidupan, penghubung masa
lalu dan masa depan. Oleh karena itu, hanya orang-orang cerdas (ulil
albab) -lah yang dapat memaknai setiap peristiwa dan mengambil pelajaran
darinya untuk terus menerus melakukan perbaikan atau peningkatan (continuous
improvement = kaizen).
Di dalam beramal (bekerja atau
beribadah dalam arti luas), Rasulullah SAW berabad-abad lalu pernah
mengajarkan, ”Amal yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan
terus menerus walaupun sedikit (HR Muttafaqun Alaih)”. Karena lebih
sering mendengarnya dari para kiai, ustadz atau guru agama, maka pikiran kita
cenderung membatasinya. Padahal ada hikmah lain dari sabda Rasul SAW
(yang pasti berasal dari wahyu, bukan hawa nafsunya). Satu di
antaranya ditemukan oleh para pendiri dan pemimpin Toyota, yang mungkin belum
pernah mengenal Rasulullah SAW apalagi berjumpa dengannya.[Bekerjalah Seperti
Kura-kura, Jumat, 17 Juni 2011 15:22 WIB].
Profesi apa yang akan dilakukan
oleh seseorang semuanya tergantung minat, bakat dan peluang, kantor merupakan
salah satu peluang kerja yang biasa diinginkan sebagian orang, selain suasana yang menyenangkan,
kedudukan yang menjanjikan serta gengsi yang dapat dipertaruhkan, tapi
sebenarnya bekerja apasaja selama baik dan halal tidak jadi masalah.
Pada situs resmi Experd, direktur lembaga konsultasi karier
tersebut, Eileen Rachman, mengatakan dalam kegiatan rekrutmen, banyak sekali
perusahaan yang menetapkan persyaratan usia tidak lebih dari 35 tahun. Lebih
lanjut, Eileen menjelaskan ada perusahaan yang lebih suka mempekerjakan
generasi muda. Jenis perusahaan ini menganggap usia di atas 35 tahun sebagai
usia yang mulai mengalami penurunan kinerja. Karyawan di usia tersebut dianggap
akan sulit mempelajari hal baru, serta mengikuti norma dan budaya perusahaan
baru.
Kematangan
emosi
Pandangan
mengenai karyawan usia kepala empat, tidak sepenuhnya benar. Orang-orang di
usia tersebut justru memiliki kematangan emosi dan kearifan yang bermanfaat
bagi perusahaan. Eileen menyebut peribahasa "tua tua kelapa, makin tua
makin bersantan" sebagai gambaran banyaknya pengalaman dan kematangan
pribadi kelompok usia di atas 40 tahun.
"Setiap orang yang memiliki kompetensi
berhak mendapat kesempatan untuk bekerja," kata Eileen.Itulah aturan yang
adil dan sudah diterapkan di negara maju seperti Amerika Serikat.Di Indonesia
tidak ada aturan jelas yang melindungi hak seperti itu. Proses seleksi karyawan
mutlak diatur kebijakan internal perusahaan.
Namun jika Anda berniat untuk bekerja lagi, ada
beberapa hal yang perlu Anda pahami.Sebelum melamar pekerjaan baru, Anda harus
menurunkan harapan atau standar Anda sebelumnya. Standar itu tidak bisa
diberlakukan sama saat ini. Apalagi bila Anda telah lama absen dari dunia
kerja. Menurut Eileen, salah satu keraguan perusahaan merekrut pelamar berusia
matang adalah menentukan jumlah gaji.
Bersiaplah menghadapi kemungkinan mendapatkan
upah yang lebih sedikit.Ukur keahlian Anda agar dapat menentukan berapa jumlah
gaji yang pantas diterima dari perusahaan.
Peluang
kerja
Berikut
ini beberapa pilihan peluang kerja yang dapat dilirik oleh Anda yang telah
berusia di atas 40 tahun.
Penulis.
Menjadi penulis tidak memiliki batas usia. Siapa pun bisa menjadi penulis,
termasuk anak kecil dan orang yang sudah tua.
Pengajar.
Umumnya, tidak ada batasan usia untuk menjadi pengajar. Lagipula, Anda relatif
bisa mengatur waktu Anda dan keluarga karena waktu mengajar yang
terjadwal.Profesi mengajar bisa berupa guru, dosen, atau pun guru les
keterampilan, musik, dan sebagainya.
Penerjemah.Anda
harus memiliki kemampuan bahasa yang andal. Pekerjaan ini bisa Anda lakukan di
kantor maupun di rumah.
Pemandu wisata.Kemampuan
utama yang harus dimiliki seorang pemandu wisata adalah wawasan luas dan
kemampuan berbahasa.Anda berkesempatan besar mencoba pekerjaan ini.
Agen asuransi.Syarat
utama untuk menjadi seorang agen asuransi adalah kemauan dan jejaring yang
luas. Tentu dalam hal ini usia tidak memengaruhi. Di lapangan, banyak agen
asuransi yang usianya di atas 40 tahun.
Staf pemasaran.Profesi
ini membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan persuasi yang baik.Hanya orang yang
memiliki kepribadian matanglah yang bisa melakukan hal demikian.
Selain profesi di atas,
pilihan pekerjaan yang dapat Anda ambil adalah membuka usaha sendiri. Meski
tujuannya sama, yaitu untuk memperoleh pemasukan, wiraswasta jelas berbeda dari
kerja kantoran. Tidak ada jenjang karier seperti di perusahaan. Namun
percayalah, peluang pasti terbuka selama Anda mau berusaha keras.[Peluang
Karier di Usia 40-an,Kompas.com.Rabu, 31 Maret
2010 | 11:58 WIB Emy Agustia/Majalah Sekar].
Selain kita menjalankan
profesi diatas sebagai pilihan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, masalah
usia tidak jadi persoalan karena semua orang bisa berprofesi, tempat juga
begitu, dimana saja bisa kita melakukan profesi yang kita minati, benahilah
profesi diatas dengan baik sehingga menghasilkan, tapi jangan melalaikan sebuah
bisnis yang ditawarkan Allah, kita diajak berprofesi sebagai pebisnis yang
menguntungkan bukan hanya di dunia tapi juga di akherat, inilah bisnis yang
berbuah syurga.
Allah SWT berfirman: Wahai
orang-orang yang ber-iman, maukah kepada kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan
yang bisa menyelamat-kan kalian dari azab yang amat pedih? (Yaitu) kalian
mengimani Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dengan jiwa dan harta kalian..
(TQS ash-Shaff [61]: 10).
Allah SWT juga berfirman:
Sungguh, Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka
dengan bayaran surga. Mereka berjihad di jalan Allah, lalu mereka membunuh
(orang-orang kafir) atau terbunuh (oleh mereka). (TQS at-Taubah [9]: 111).
Mengomentari ayat ini, di
dalam tafsirnya, Shafwah at-Tafasir, Imam Ali ash-Shabuni mengutip pernyataan
Imam al-Hasan, “Perhatikanlah, betapa mulianya Allah SWT!Jiwa manusia, Allahlah
yang telah menciptakannya.Harta manusia, Allahlah yang menurunkannya sebagai
rezeki, lalu memberikannya kepada manu-sia. Namun kemudian, Allah mau membeli
semua itu dari orang-orang Mukmin de-ngan harga yang supermahal: surga!”
Pertanyaan kita, adakah bisnis
di du-nia ini—meski berpotensi mendatangkan keuntungan milyaran/trilyunan
rupi-ah—yang bisa membebaskan pelakunya dari azab Allah SWT sekaligus
memasuk-kannya ke dalam surga-Nya?Tidak ada.Padahal bukankah demi mendapatkan
surga-Nya dan terhindar dari neraka-Nya setiap Mukmin beramal? Lalu mengapa
jika terhadap bisnis yang sekadar men-janjikan keuntungan duniawi (betapapun
jumlahnya milyaran/trilyunan rupiah) kebanyakan mereka begitu antusias,
tetapi untuk bisnis/perniagaan yang bakal mendatangkan keuntungan yang jauh
lebih besar (yang bahkan tidak bisa dihargai dengan uang trilyunan) keba-nyakan
mereka cenderung tidak bermi-nat? Padahal bukankah surga itu yang menjadi
akhir/puncak harapan setiap Mukmin, termasuk para pebisnis? [Bisnis
yang Berbuah SurgaMedia Ummat; Tuesday, 01 March 2011 08:50].
Ketika seorang sahabat yang
berprofesi sebagai pedagang bernama Abu Darda awal masuk islam, dia tidak mau
disibukkan dengan profesinya tapi juga tidak mau meninggalkan profesi itu
karena ma’isyahnya [usahanya] dari berdagang, maka dia cari karyawan untuk
mengurus dagangannya, dia mengikuti perjalanan Rasulullah untuk menimba ilmu
agama, artinya profesinya sebagai pedagang mendapatkan untung sementara peluang
bisnis dengan Allah juga diraihnya, inilah profesi yang mendatangkan prestasi
bagi Abu Darda.
Prestasi adalah suatu hal yang
sangat penting, sehingga dia menjadi pantas diserukan dalam Al-Qur’an dan
hadits Rasul. Berprestasi sebenarnya menjadi tuntutan bagi setiap muslim,
karena harga seorang muslim di hadapan Allah nantinya ditentukan oleh prestasi
taqwa yang dia ukir selama hidup di dunia. Allah dan Rasul memberikan sebuah
pattern bahwa yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah yang paling
tinggi prestasi taqwa-nya.
Tapi sadar kita atau tidak,
ada saudara kembar yang selalu hadir bersama prestasi, yaitu prestise,
kebanggaan. Prestasi dan prestise adalah dua hal yang mungkin akan selalu hadir
bersama. Ketidakbijakan kita untuk menempatkan mereka dengan baik bisa berujung
petaka bagi kita, kalau tidak akan di dunia, mungkin petaka di akhirat. Yang
harus kita sadari adalah bahwa prestise hanyalah merupakan konsekuensi logis
ketika prestasi luar biasa telah terukir.Prestise seharusnya bukanlah sesuatu
yang menjadi alasan dan membuat kita mau bergerak. Lihatlah apa yang didapatkan
oleh manusia-manusia sekelas Abu Bakar Sidq, Khalid bin Walid, Muhammad
Al-Fatih, Thariq bin Ziyad, sampai Hasan Al Banna. Mereka adalah
manusia-manusia yang bergerak karena dorongan nuraninya, karena kecintaan dan
kepatuhan pada Tuhannya, mengukir prestasi-prestasi yang sangat agung, sehingga
prestise adalah suatu hal yang hadir dengan sendirinya, bukanlah hal yang
mereka kejar.
Namun sebaliknya, mungkin
banyak di antara yang sering terjebak pada kondisi dimana kita sering berpikir
prestise terlebih dahulu, sering berpikir ketenaran atau keterkenalan di awal.
Sehingga tak jarang fokus pada prestise itulah yang membuat kita tak pernah
mengukir prestasi, ataupun kalau prestasi itu pernah hadir hanya akan menjadi
prestasi di mata manusia saja, tidak di mata Allah. Bukankah kita sudah
sama-sama tahu, betapa penting yang namanya niat, betapa sangat menentukan yang
namanya niat, seperti yang diungkapkan dalam Hadits Arba’in yang pertama,
“sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya…”. Jika prestise menjadi
niat utama kita bergerak, maka akan sangat rugi lah kita, karena ia hanya akan
menjadi fatamorgana saja, begitu “wah” di mata manusia tapi nol besar di mata
Allah.[adi putra,Prestasi dan Prestise, dakwatuna.com 25/1/2011
| 19 Shafar 1432 H].
Selama nyawa masih bersarang
di tubuh kita maka selama itu pula masih ada peluang untuk berprofesi dan
meraih prestasi, meskipun kita tidak mampu meraih prestasi tapi kerja itu saja
sudah merupakan amal yang mengandung
ibadah kepada Allah, berbuatlah selama masih hidup walaupun tidak menikmati
hasil dari perbuatan itu, sebagaimana yang dikatakan oleh sabda
Rasulullah,”Seandainya engkau tahu bahwa besok akan kiamat sedangkan di
tanganmu ada biji kurma maka tanamlah”, niscaya itu sebuah kebaikan yang
bernilai di hadapan Allah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 16
Desember 2011.M/ 20 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar