Jumat, 19 Februari 2016

251. Profesi



Mencari nafkah [ma'isyah] adalah aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kehidupannya dengan bekerja, apapun jenis pekerjaan yang ditekuni selama baik dan halal adalah terpuji, apakah sebagai pedagang, petani, buruh, pegawai negeri, anggota dewan, polisi, tentara ataupun pengacara hingga menteri ataupun Presiden,  kegiatan ini banyak mengandung pahala didalamnya, dengan ma'isyah seseorang berupaya untuk mencari yang halal karena memang demikian anjurannya,"Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll)''.(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).

Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah mencontohkan kepada ummatnya pentingnya mencari rezeki yang halal, sebab barang haram akan mempengaruhi mental dan kepribadian seseorang. Idealnya, biarlah kita kaya raya asal semua diperoleh dari yang halal, namun sangat rusak seseorang bila sedikit atau banyak hartanya bergelimang dengan haram, baik haram zatnya, cara memperolehnya atau membelanjakannya, Allah memperingatkan kita semuanya melalui nabinya;“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang  baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]

Seorang ummahat  dizaman Rasulullah dahulu, bila suaminya berangkat kerja mencari nafkah, di depan pintu dia berpesan kepada suaminya,”Silahkan pergi mencari nafkah sebanyak-banyaknya namun yang halal, jangan kau bawa ke rumahku ini harta yang haram meskipun sedikit”.

Keluarga yang shaleh dan shalehah akan menjaga dirinya dari rezeki yang haram, karena rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang selalu mengumpulkan rezeki dari yang halal dan hasil yang halal itu mengujudkan kebahagiaan bagi yang memperolehnya, demikian pula halnya Allah menyukai hamba-Nya yang mencari rezeki halal walaupun dengan sudah payah, "Sesungguhnya Allah Ta'ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yanghalal.(HR.Ad-Dailami)

Rezeki manusia sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, namun demikian dia hanya diwajibkan untuk berusaha mencarinya dengan penuh ketekunan dan kesabaran, walaupun turunnya rezeki itu lambat kepadanya maka tidak merubah ketaatan kepada Allah dengan melakukan transaksi maksiat," Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR.AbuZardanAlHakim).
 
Apapun profesi seseorang tidak jadi masalah karena sesuai dengan kapasitasnya dia akan memperoleh imbalan dari kerjanya, yang dilakukan secara baik, rapi dan profesional serta bertanggungjawab, bahkan kerjanya itu dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk keluarga disamakan dengan seorang mujahid "Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad).

Dalam melakukan profesi bukanlah hasil yang diandalkan tapi banyak hal yaitu kualitas hasil yang diperoleh juga diperhitungkan, hasil yang baik biasanya dilakukan dengan sangat hati-hati, lambat namun pasti, tekun mengerjakan pekerjaan merupakan salah satu prinsip islam sebagaimana kerjanya kura-kura, hal ini diungkapkan oleh Abi Muhammad Ismail Halim yang tinggal di di Texas, USA dalam tulisannya di republika.co.id, dikatakannya;

”Bekerjalah seperti kura-kura dan tidak seperti kelinci”,  demikian satu dari 14 prinsip-prinsip inti ”The Toyota Way”.  Mula-mula agak sulit memahami, apa hubungannya kura-kura dan kelinci dengan Toyota Production System (TPS) yang telah berhasil menghantar Toyota menjadi sebuah perusahaan manufaktur otomotif papan atas, baik dari sisi bisnis maupun kualitas.
  
Saat mencoba mencerna penjelasannya, ingatan saya kembali pada sebuah buku cerita kanak-kanak bergambar.  Isinya sangat sederhana, kisah adu lari antara kelinci dan kura-kura.  Yang membuat buku itu menarik, sekaligus ’bernilai’ adalah karena sang pemenang adalah kura-kura, bukan kelinci sebagaimana wajarnya.

Di dalam bukunya, Taichi Ohno, salah seorang kontributor cetak biru atau ”DNA” dari the Toyota Way menjelaskan:  ”Kura-kura yang lamban tetapi konsisten mengakibatkan lebih sedikit pemborosan dan jauh lebih diinginkan daripada kelinci yang cepat dan mengungguli perlombaan dan kemudian berhenti setelah selang beberapa waktu untuk beristirahat.  Toyota Production System hanya dapat direalisasikan jika semua karyawan menjadi kura-kura”.
  
Pemimpin-pemimpin Toyota lainnya sering pula mengungkapkan hal yang sama, yang isinya kira-kira adalah  ”Kami lebih suka lambat dan mantap seperti kura-kura daripada cepat dan tersentak-sentak seperti kelinci”.  Demikianlah salah satu filosofi di balik TPS yang kebanyakan berjangkauan jauh ke depan.  Meratakan beban kerja (heijunka) adalah salah satu cara untuk menghindari pemborosan (muda), ketidakseimbangan (mura), dan beban berlebih (muri).

Bagi umat Islam, filosofi di atas bukanlah hal yang terlalu baru.  Di dalam pandangan Islam, setiap peristiwa atau kejadian bukanlah suatu momentum diskrit tanpa konteks, tetapi adalah bagian dari sebuah kesinambungan hidup dan kehidupan, penghubung masa lalu dan masa depan.  Oleh karena itu, hanya orang-orang cerdas (ulil albab) -lah yang dapat memaknai setiap peristiwa dan mengambil pelajaran darinya untuk terus menerus melakukan perbaikan atau peningkatan (continuous improvement = kaizen).

Di dalam beramal (bekerja atau beribadah dalam arti luas), Rasulullah SAW berabad-abad lalu pernah mengajarkan, ”Amal yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit (HR Muttafaqun Alaih)”.  Karena lebih sering mendengarnya dari para kiai, ustadz atau guru agama, maka pikiran kita cenderung membatasinya.  Padahal ada hikmah lain dari sabda Rasul SAW (yang pasti berasal dari wahyu, bukan hawa nafsunya).   Satu di antaranya ditemukan oleh para pendiri dan pemimpin Toyota, yang mungkin belum pernah mengenal Rasulullah SAW apalagi berjumpa dengannya.[Bekerjalah Seperti Kura-kura, Jumat, 17 Juni 2011 15:22 WIB].

Profesi apa yang akan dilakukan oleh seseorang semuanya tergantung minat, bakat dan peluang, kantor merupakan salah satu peluang kerja yang biasa diinginkan sebagian  orang, selain suasana yang menyenangkan, kedudukan yang menjanjikan serta gengsi yang dapat dipertaruhkan, tapi sebenarnya bekerja apasaja selama baik dan halal tidak jadi masalah.

Pada situs resmi Experd, direktur lembaga konsultasi karier tersebut, Eileen Rachman, mengatakan dalam kegiatan rekrutmen, banyak sekali perusahaan yang menetapkan persyaratan usia tidak lebih dari 35 tahun. Lebih lanjut, Eileen menjelaskan ada perusahaan yang lebih suka mempekerjakan generasi muda. Jenis perusahaan ini menganggap usia di atas 35 tahun sebagai usia yang mulai mengalami penurunan kinerja. Karyawan di usia tersebut dianggap akan sulit mempelajari hal baru, serta mengikuti norma dan budaya perusahaan baru.

Kematangan emosi
Pandangan mengenai karyawan usia kepala empat, tidak sepenuhnya benar. Orang-orang di usia tersebut justru memiliki kematangan emosi dan kearifan yang bermanfaat bagi perusahaan. Eileen menyebut peribahasa "tua tua kelapa, makin tua makin bersantan" sebagai gambaran banyaknya pengalaman dan kematangan pribadi kelompok usia di atas 40 tahun.

"Setiap orang yang memiliki kompetensi berhak mendapat kesempatan untuk bekerja," kata Eileen.Itulah aturan yang adil dan sudah diterapkan di negara maju seperti Amerika Serikat.Di Indonesia tidak ada aturan jelas yang melindungi hak seperti itu. Proses seleksi karyawan mutlak diatur kebijakan internal perusahaan.
Namun jika Anda berniat untuk bekerja lagi, ada beberapa hal yang perlu Anda pahami.Sebelum melamar pekerjaan baru, Anda harus menurunkan harapan atau standar Anda sebelumnya. Standar itu tidak bisa diberlakukan sama saat ini. Apalagi bila Anda telah lama absen dari dunia kerja. Menurut Eileen, salah satu keraguan perusahaan merekrut pelamar berusia matang adalah menentukan jumlah gaji.
Bersiaplah menghadapi kemungkinan mendapatkan upah yang lebih sedikit.Ukur keahlian Anda agar dapat menentukan berapa jumlah gaji yang pantas diterima dari perusahaan.

Peluang kerja
Berikut ini beberapa pilihan peluang kerja yang dapat dilirik oleh Anda yang telah berusia di atas 40 tahun.

Penulis. Menjadi penulis tidak memiliki batas usia. Siapa pun bisa menjadi penulis, termasuk anak kecil dan orang yang sudah tua.

Pengajar. Umumnya, tidak ada batasan usia untuk menjadi pengajar. Lagipula, Anda relatif bisa mengatur waktu Anda dan keluarga karena waktu mengajar yang terjadwal.Profesi mengajar bisa berupa guru, dosen, atau pun guru les keterampilan, musik, dan sebagainya.

Penerjemah.Anda harus memiliki kemampuan bahasa yang andal. Pekerjaan ini bisa Anda lakukan di kantor maupun di rumah.

Pemandu wisata.Kemampuan utama yang harus dimiliki seorang pemandu wisata adalah wawasan luas dan kemampuan berbahasa.Anda berkesempatan besar mencoba pekerjaan ini.

Agen asuransi.Syarat utama untuk menjadi seorang agen asuransi adalah kemauan dan jejaring yang luas. Tentu dalam hal ini usia tidak memengaruhi. Di lapangan, banyak agen asuransi yang usianya di atas 40 tahun.

Staf pemasaran.Profesi ini membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan persuasi yang baik.Hanya orang yang memiliki kepribadian matanglah yang bisa melakukan hal demikian.

Selain profesi di atas, pilihan pekerjaan yang dapat Anda ambil adalah membuka usaha sendiri. Meski tujuannya sama, yaitu untuk memperoleh pemasukan, wiraswasta jelas berbeda dari kerja kantoran. Tidak ada jenjang karier seperti di perusahaan. Namun percayalah, peluang pasti terbuka selama Anda mau berusaha keras.[Peluang Karier di Usia 40-an,Kompas.com.Rabu, 31 Maret 2010 | 11:58 WIB Emy Agustia/Majalah Sekar].

Selain kita menjalankan profesi diatas sebagai pilihan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, masalah usia tidak jadi persoalan karena semua orang bisa berprofesi, tempat juga begitu, dimana saja bisa kita melakukan profesi yang kita minati, benahilah profesi diatas dengan baik sehingga menghasilkan, tapi jangan melalaikan sebuah bisnis yang ditawarkan Allah, kita diajak berprofesi sebagai pebisnis yang menguntungkan bukan hanya di dunia tapi juga di akherat, inilah bisnis yang berbuah syurga.

Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang ber-iman, maukah kepada kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bisa menyelamat-kan kalian dari azab yang amat pedih? (Yaitu) kalian mengimani Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dengan jiwa dan harta kalian.. (TQS ash-Shaff [61]: 10).

Allah SWT juga berfirman: Sungguh, Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan bayaran surga. Mereka berjihad di jalan Allah, lalu mereka membunuh (orang-orang kafir) atau terbunuh (oleh mereka). (TQS at-Taubah [9]: 111).

Mengomentari ayat ini, di dalam tafsirnya, Shafwah at-Tafasir, Imam Ali ash-Shabuni mengutip pernyataan Imam al-Hasan, “Perhatikanlah, betapa mulianya Allah SWT!Jiwa manusia, Allahlah yang telah menciptakannya.Harta manusia, Allahlah yang menurunkannya sebagai rezeki, lalu memberikannya kepada manu-sia. Namun kemudian, Allah mau membeli semua itu dari orang-orang Mukmin de-ngan harga yang supermahal: surga!”

Pertanyaan kita, adakah bisnis di du-nia ini—meski berpotensi mendatangkan keuntungan milyaran/trilyunan rupi-ah—yang bisa membebaskan pelakunya dari azab Allah SWT sekaligus memasuk-kannya ke dalam surga-Nya?Tidak ada.Padahal bukankah demi mendapatkan surga-Nya dan terhindar dari neraka-Nya setiap Mukmin beramal? Lalu mengapa jika terhadap bisnis yang sekadar men-janjikan keuntungan duniawi (betapapun jumlahnya milyaran/trilyunan rupiah) kebanyakan mereka begitu antusias,  tetapi untuk bisnis/perniagaan yang bakal mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar (yang bahkan tidak bisa dihargai dengan uang trilyunan) keba-nyakan mereka cenderung tidak bermi-nat? Padahal bukankah surga itu yang menjadi akhir/puncak harapan setiap Mukmin, termasuk para pebisnis?   [Bisnis yang Berbuah SurgaMedia Ummat; Tuesday, 01 March 2011 08:50].

Ketika seorang sahabat yang berprofesi sebagai pedagang bernama Abu Darda awal masuk islam, dia tidak mau disibukkan dengan profesinya tapi juga tidak mau meninggalkan profesi itu karena ma’isyahnya [usahanya] dari berdagang, maka dia cari karyawan untuk mengurus dagangannya, dia mengikuti perjalanan Rasulullah untuk menimba ilmu agama, artinya profesinya sebagai pedagang mendapatkan untung sementara peluang bisnis dengan Allah juga diraihnya, inilah profesi yang mendatangkan prestasi bagi Abu Darda.

Prestasi adalah suatu hal yang sangat penting, sehingga dia menjadi pantas diserukan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasul. Berprestasi sebenarnya menjadi tuntutan bagi setiap muslim, karena harga seorang muslim di hadapan Allah nantinya ditentukan oleh prestasi taqwa yang dia ukir selama hidup di dunia. Allah dan Rasul memberikan sebuah pattern bahwa yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi prestasi taqwa-nya.

Tapi sadar kita atau tidak, ada saudara kembar yang selalu hadir bersama prestasi, yaitu prestise, kebanggaan. Prestasi dan prestise adalah dua hal yang mungkin akan selalu hadir bersama. Ketidakbijakan kita untuk menempatkan mereka dengan baik bisa berujung petaka bagi kita, kalau tidak akan di dunia, mungkin petaka di akhirat. Yang harus kita sadari adalah bahwa prestise hanyalah merupakan konsekuensi logis ketika prestasi luar biasa telah terukir.Prestise seharusnya bukanlah sesuatu yang menjadi alasan dan membuat kita mau bergerak. Lihatlah apa yang didapatkan oleh manusia-manusia sekelas Abu Bakar Sidq, Khalid bin Walid, Muhammad Al-Fatih, Thariq bin Ziyad, sampai Hasan Al Banna. Mereka adalah manusia-manusia yang bergerak karena dorongan nuraninya, karena kecintaan dan kepatuhan pada Tuhannya, mengukir prestasi-prestasi yang sangat agung, sehingga prestise adalah suatu hal yang hadir dengan sendirinya, bukanlah hal yang mereka kejar.

Namun sebaliknya, mungkin banyak di antara yang sering terjebak pada kondisi dimana kita sering berpikir prestise terlebih dahulu, sering berpikir ketenaran atau keterkenalan di awal. Sehingga tak jarang fokus pada prestise itulah yang membuat kita tak pernah mengukir prestasi, ataupun kalau prestasi itu pernah hadir hanya akan menjadi prestasi di mata manusia saja, tidak di mata Allah. Bukankah kita sudah sama-sama tahu, betapa penting yang namanya niat, betapa sangat menentukan yang namanya niat, seperti yang diungkapkan dalam Hadits Arba’in yang pertama, “sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya…”. Jika prestise menjadi niat utama kita bergerak, maka akan sangat rugi lah kita, karena ia hanya akan menjadi fatamorgana saja, begitu “wah” di mata manusia tapi nol besar di mata Allah.[adi putra,Prestasi dan Prestise, dakwatuna.com 25/1/2011 | 19 Shafar 1432 H].

Selama nyawa masih bersarang di tubuh kita maka selama itu pula masih ada peluang untuk berprofesi dan meraih prestasi, meskipun kita tidak mampu meraih prestasi tapi kerja itu saja sudah merupakan amal yang  mengandung ibadah kepada Allah, berbuatlah selama masih hidup walaupun tidak menikmati hasil dari perbuatan itu, sebagaimana yang dikatakan oleh sabda Rasulullah,”Seandainya engkau tahu bahwa besok akan kiamat sedangkan di tanganmu ada biji kurma maka tanamlah”, niscaya itu sebuah kebaikan yang bernilai di hadapan Allah,    Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 16 Desember 2011.M/ 20 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar