Jumat, 19 Februari 2016

270. Kapitalisme



Dalam pergaulan sehari-hari kita mengenal istilah “kapitalisme” ditujukan kepada orang yang berfaham bahwa hidup harus punya investasi, harus punya modal sebagai alat untuk menggerakkan ekonomi, usaha apasaja tidak akan maju tanpa diawali dari modal yang dimiliki, termasuk ketika seorang teman yang bakhil untuk mengeluarkan uangnya guna keperluan bersama sekalipun, dia disebut dengan “Kapitalis”.

Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang berasal dari Barat dan tumbuh pasca abad pertengahan, yang bercirikan adanya kepemilikan individu atas sarana produksi dan distribusi itu untuk memperoleh laba dalam situasi pasar yang bersifat kompetitif (Milton H. Spencer, 1997).

Pemerintah mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah memunculkan ketimpangan ekonomi.Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para borjuis, yang pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi perdagangan yang didominasi negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme, seharusnya mulai melakukan perdagangan dan produksi guna menunjang pola kehidupan masyarakat.

Beberapa ahli ini antara lain Adam Smith, filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern. Dalam karyanya yang terkenal, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of Nations) ia menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme.

Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.

Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua tiga abad yang lalu.[Kapitalisme, Ekonomi Syariah dan Sikap Kita ,Mediaummat.com.Kamis, 02 Desember 2010].

Karena kapitalisme itulah maka sejak zaman Belanda dahulu dengan VOC-nya hingga kini isi bumi kita dikuras, di bawa ke negara lain, hanya tinggal sedikit diberikan kepada bangsa ini, karena kapitalisme jugalah bangsa ini telah menjual isi bumi negeri ini ke bangsa lain dalam berbagai transaksi, hal ini diungkapkan oleh pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Revrisond Baswir. Berikut petikannya.;

Sejak kapan VOC gaya baru ini dimulai?
Ya, kalau menurut saya VOC gaya baru itu dimulai dari tahun 1967. Ditandai dengan naiknya Soeharto sebagai penguasa baru di Indonesia dan kemudian dengan munculnya Undang-undang No 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.
Kalau diungkap secara lebih detail lagi. Saya kira ada ucapan Jeffrey Winters tentang berlangsungnya pertemuan di Geneva antara pihak Indonesia dengan pengusaha-pengusaha multinasional (MNC).Lalu mereka mengkapling-kapling ekonomi Indonesia ini.Disebutkan siapa saja yang mengurusi pertambangan, mengurusi keuangan, mengurusi perdagangan dan seterusnya.
Kemudian Indonesia bergabung menjadi anggota IMF, World Bank, perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi di era Soekarno itu sebagian dikembalikan kepada asing.Modal asing diundang kembali masuk.
Dan yang tidak kalah penting adalah terus saja Indonesia berhubungan mesra untuk membuat utang-utang baru.Lalu dibentuklah kemudian IGGI yang dikepalai oleh Belanda.Jadi saya kira era Orde Baru itu jauh lebih VOC dari VOC. Karena pembentukan IGGI itu oleh Belanda juga.

Jadi datangnya VOC gaya baru lantaran diundang pemerintah?
            Saya kira bukan.Karena kita ini memang menjadi halaman belakang dari kapitalisme internasional. Jadi apa yang terjadi di sini malah ditentukan dari luar. Termasuk siapa yang berkuasa di Indonesia ini yang menentukan justru pihak luar.

Indikasinya?
Banyak sekali soal keterlibatan Amerika dan Inggris dalam menggulingkan Soekarno. Jadi kalau kita bicara tentang penggulingan  Soekarno dan naiknya Soeharto itu pun sebenarnya rekayasa dari kepentingan modal intenasional. Saya kira buktinya lebih dari cukup.

Dan kemudian juga seperti Undang-undang Penanaman Modal Asing itu jelas sekali drafnya, yang membuatnya itu kan USAID. Termasuk masuknya ekonom-ekonom lulusan Amerika Serikat dalam pemerintahan Soeharto.
Bahkan keterlibatan pihak asing itu tidak hanya pada level pergantian kepala negaranya saja, tetapi termasuk dalam level menteri-menteri dan para perumus undang-undang.

Asing berkuasa berapa persen?
Dari segi produksi, mungkin kuasanya tidak terlalu besar. Karena Malaysia terutama di sini kan mungkin hanya sekitar 20 persen saja. Tetapi kan komoditas ini juga bergantung pada pasar internasional.

Jadi yang sangat menentukan di sini adalah konsumen bukan perorangan. Konsumen yang akan mengelola minyak sawit itu di sini yang bermain adalah MNC seperti Nestle yang sudah punya refinery di Singapura untuk mengelola minyak sawit menjadi biofuel.

Lalu ada juga perusahaan Jerman yang sekarang ini sedang membuka refinery di Sumatera Utara.Jadi tetap saja yang bermain adalah perusahaan yang bergerak di sektor-sektor energi yang sifat kekuasaannya bergantung pada asing.

Merugikan atau menguntungkan rakyat banyak?
Yang jelas merugikan.Karena yang benar-benar dirusak oleh rezim seperti ini adalah sumber daya alamnya.Kalau rakyat biasa-biasa saja karena dari dulu sudah di paling dasar.Mau turun ke mana lagi? Ya kalau harga-harga lagi bagus rakyat kecipratan tapi tidak akan naik-naik betul.

Yang hancur-hancur betul itu adalah lingkungan karena itu yang diincar habis-habisan.Yang dikuras habis. Sekarang kandisebut-sebut cadangan minyak sudah terbatas makanya saat ini Indonesia sendiri sudah mulai mengimpor, kan begitu! Tapi anehnya asing tetap dibiarkan menyedot minyak kita. Dan cadangan emas Papua bila dibiarkan terus disedot Freeport saya kira juga akan habis.

Maka terjadilah proses pengurasan kekayaan alam yang menurut saya itulah yang paling mahal. Apalagi sekarang, mereka mulai merangsek ke sektor perkebunan, yang dulunya hutan sudah habis. Jadi saya kira yang paling menderita ya alam.[Biang Keladinya Paham Kapitalisme!Media UmatTuesday, 12 July 2011 15:34Joko Prasetyo].

Para kapitalis tujuan kerjanya adalah mengumpulkan hasil usahanya tanpa memperhatikan dari mana asalnya, yang penting usaha dan perusahaan yang digerakkan mampu menghasilkan capital lebih banyak lagi, apakah merusak orang lain, menghancurkan kehidupan atau memporakporandakan alam, dunia dijadikan tujuan dari segala-galanya, yang penting bagaimana dia bisa mengais kehidupan dunia ini tanpa banyak mengeluarkan tenaga pribadi walaupun dengan memperbudak orang lain, inilah yang diwaspadai oleh Rasulullah tentang keadaan ummat kelak.

Rasulullah saw. bersabda, “Aku tidak khawatir kalian miskin, tetapi aku khawatir (kalian mendapatkan) dunia (lalu) kalian bersaing dalam urusan dunia itu.” (HR. Ahmad)

Begitulah Rasulullah saw. memperingatkan umatnya. Beliau menyampaikan kekhawatirannya tentang nasib umatnya sepeninggal beliau. Ternyata beliau tidak lebih khawatir dengan ujian dalam bentuk kenestapaan, kemiskinan, kekurangan dana. Yang lebih beliau khawatirkan justru manakala umat Islam diuji dengan sukses duniawi.Memang, kita sering kali kurang sadar bahwa sesungguhnya kebahagian, keberuntungan, keberhasilan, dan segala kebaikan adalah ujian dari Allah swt.Acapkali kita sadar sedang diuji manakala ujian yang datang berupa kenestapaan dan kepedihan.Padahal Allah swt.menegaskan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [QS. Al-Anbiya (21): 35]

Pejuang yang sukses bukanlah pejuang yang hanya bertahan dan istiqamah di saat mendapat terpaan badai dan hantaman ombak.Pejuang yang sukses adalah juga mampu istiqamah di saat mendapat tiupan angin sepoi-sepoi dan kucuran madu. Ada banyak perilaku buruk yang mungkin muncul saat datang ujian yang membahagiakan, bila para pejuang nihil atau kurang kesiapan mental (ma’nawiyyah) untuk menghadapinya.[Tate Qomaruddin, Lc.Mewaspadai Fitnah Harta ,Eramuslim.com.15/10/2007 | 04 Syawal 1428 H].

Faham kapitalis mengajarkan kepada manusia bahwa segala sesuatu yang lebih mulia, tinggi dan berharga itu adalah harta, harta menentukan segala-galanya, padahal harta merupakan alat saja untuk mempertahankan hidup, harta merupakan rezeki dari Allah yang harus dimanfaatkan untuk memaslahatan pribadi dan ummat.

Harta bukan simbol keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah justru mereka stress.  Banyak para artis justru menderita setelah memiliki harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol keberhasilan.

Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya.[Rahasia Harta , Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H].

Bagi orang beriman, kehidupan dunia hanyalah satu episode dari perjalanan hidup yang panjang, bukan akhir dari kehidupan dan segalanya.Namun, di balik itu, masih terdapat alam kubur dan akhirat. Di sana, manusia berjumpa dengan Tuhannya. Karena itu, ia selalu berkomunikasi dengan Allah, melalui ibadah dan doa setiap hari dan waktu agar perjumpaan itu terlaksana secara sukses dan menyenangkan.

Adapun bagi orang yang tidak beriman, dunia seolah menjadi titik henti terakhir.Karena itu, seluruh hidupnya dipertaruhkan dan dicurahkan hanya untuk mencari kepuasan atau popularitas diri.Inilah yang Allah gambarkan dalam Alquran, "Orang-orang yang tidak mengharapkan adanya perjumpaan dengan Kami, lalu merasa puas dengan kehidupan dunia, merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, tempat mereka adalah neraka sesuai dengan apa yang mereka lakukan." (QS Yunus {10}: 7).
Menurut Wahbah Zuhayli dalam tafsir al-Munir, ayat di atas memberikan gambaran tentang empat karakter calon penghuni neraka.Pertama, tidak meyakini adanya pertemuan dengan Allah. Mereka tidak takut kepada hukuman-Nya, peringatan-Nya, ancaman-Nya, serta sama sekali tidak mengharapkan pahala dari-Nya. 

Kedua, puas dengan kehidupan dunia.Ini adalah akibat logis dari sikap pertama. Ketika seseorang tidak percaya akan berjumpa dengan Allah, dia tidak akan menyiapkan apa pun untuk pertemuannya nanti dengan Allah. Seluruh capaiannya hanya berorientasi kepada dunia yang pendek.Ukuran kelapangan, kesenangan, dan kegembiraan bertumpu pada dunia dan keduniaan semata. Berbagai upaya untuk mencapainya dilakukan meski dengan menghalalkan segala cara, mempertaruhkan reputasi, menanggalkan harga diri, menyerang kawan sendiri, bahkan harus mengorbankan agama sekali pun.

Ketiga, merasa tenteram dan nyaman dengan dunia.Ini dirasakan ketika kesenangan dan kenikmatan dunia entah berupa harta, wanita, kedudukan, dan jabatan berhasil dicapai.

Keempat, lalai terhadap ayat-ayat-Nya.Yakni, merasa aman dari siksa dan ancaman Allah di dunia ataupun akhirat. Dengan kata lain, sama sekali tidak merasa penting mengambil pelajaran dan tidak merenungkannya.[KH Bukhori Yusuf Lc MA,Mata Gelap karena Dunia,Republika.co.id.Selasa, 29 Maret 2011 08:46 WIB].

Ketika kapitalis berkuasa di negeri ini, mereka berusaha untuk mengumpulkan kekayaan dari semua sumber sehingga depositonya melimpah, rekeningnya gendut, lahan perkebunannya luas, sawah dan ladangnya ada dimana-mana, dia lebih berkuasa dari penguasa karena kekuasaan bisa dibeli dengan kekayaan yang dimilikinya, sikapnya arogan, sombong merupakan kepribadiannya, tidak ada rasa belas kasihan kepada siapapun, yang jadi fikirannya adalah harta dan kekayaan.

Sebuah ungkapan mengatakan, dikala seseorang punya jabatan yang paling rendah, dia hanya mampu berkata, ”Apa makan kita sekarang?”, sudah bisa memilih lauk pauk dan pangan untuk setiap makan, statusnya mulai diperhitungkan orang dengan posisi dan fasilitas yang dimiliki, diapun bertanya lain, ”Makan dimana kita sekarang ?”, tidak puas hanya menikmati masakan isteri tersayang, tapi rumah makan dan restoran silih berganti jadi langganannya, dia sudah bisa memilih rumah makan model apa yang harus dikunjungi untuk pejabat seperti dia.

Bukan itu saja, saat posisi itu betul-betul kuat, titelnya membuat orang takut, jabatannya membuat orang salud, diapun bertindah sewenang-wenang dengan mengatakan, ”Makan siapa kita sekarang?”, tidak masalah walaupun rakyat kecil yang didera oleh kesusahan dan kepedihan hidup jadi sasaran tembaknya. Itulah gambarannya arogansi kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh iman, bangsa sendiri dimakan, bila perlu anak kemenakan sendiri ditelan demi kekuasaan.[Drs. Mukhlis Denros, Arogansi kekuasaan timbulkan bencana, Harian Mimbar Minang Padang, 08082003].  

Banyak sudah korban bergelimpangan karena bencana dan musibah yang datang karena faham kapitalis ini, apakah skala pribadi, nasional hingga internasional, kita lihatlah bencana apa yang tidak kita rasakan ketika isi bumi negeri ini dikuras oleh para kapitalis yang menyisakan kesengsaraan bagi rakyat, nampaknya penjajahan  fisik memang sudah berlalu dari  negeri kita ini, tapi penjajahan ekonomi sejak kita merdeka mulai masuk penjajahan baru melalui VOC gaya baru yang dikawal oleh rezim yang berkuasa, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Desember 2011.M/ 13 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar