Dalam
pergaulan sehari-hari kita mengenal istilah “kapitalisme” ditujukan kepada
orang yang berfaham bahwa hidup harus punya investasi, harus punya modal
sebagai alat untuk menggerakkan ekonomi, usaha apasaja tidak akan maju tanpa
diawali dari modal yang dimiliki, termasuk ketika seorang teman yang bakhil
untuk mengeluarkan uangnya guna keperluan bersama sekalipun, dia disebut dengan
“Kapitalis”.
Kapitalisme
adalah sistem ekonomi yang berasal dari Barat dan tumbuh pasca abad
pertengahan, yang bercirikan adanya kepemilikan individu atas sarana produksi
dan distribusi itu untuk memperoleh laba dalam situasi pasar yang bersifat
kompetitif (Milton H. Spencer, 1997).
Pemerintah
mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah
memunculkan ketimpangan ekonomi.Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para
borjuis, yang pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi
perdagangan yang didominasi negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme,
seharusnya mulai melakukan perdagangan dan produksi guna menunjang pola
kehidupan masyarakat.
Beberapa
ahli ini antara lain Adam Smith, filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi
pelopor ilmu ekonomi modern. Dalam karyanya yang terkenal, An Inquiry into
the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of
Nations) ia menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di
Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme.
Beberapa
ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di
Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan
komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak
sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan
benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna
proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan
modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin
dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai
lebih dari bahan baku tersebut.
Kapitalisme
memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang
dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild
sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang
sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan
kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme
lebih lunak daripada dua tiga abad yang lalu.[Kapitalisme, Ekonomi Syariah dan Sikap Kita ,Mediaummat.com.Kamis,
02 Desember 2010].
Karena
kapitalisme itulah maka sejak zaman Belanda dahulu dengan VOC-nya hingga kini
isi bumi kita dikuras, di bawa ke negara lain, hanya tinggal sedikit diberikan
kepada bangsa ini, karena kapitalisme jugalah bangsa ini telah menjual isi bumi
negeri ini ke bangsa lain dalam berbagai transaksi, hal ini diungkapkan oleh pengamat ekonomi
Universitas Gadjah Mada Revrisond Baswir. Berikut petikannya.;
Sejak
kapan VOC gaya baru ini dimulai?
Ya, kalau menurut saya VOC gaya baru itu dimulai dari tahun
1967. Ditandai dengan naiknya Soeharto sebagai penguasa baru di Indonesia dan
kemudian dengan munculnya Undang-undang No 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal
Asing.
Kalau diungkap secara lebih detail lagi. Saya kira ada
ucapan Jeffrey Winters tentang berlangsungnya pertemuan di Geneva antara pihak
Indonesia dengan pengusaha-pengusaha multinasional (MNC).Lalu mereka
mengkapling-kapling ekonomi Indonesia ini.Disebutkan siapa saja yang mengurusi
pertambangan, mengurusi keuangan, mengurusi perdagangan dan seterusnya.
Kemudian Indonesia bergabung menjadi anggota IMF, World
Bank, perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi di era Soekarno itu sebagian
dikembalikan kepada asing.Modal asing diundang kembali masuk.
Dan yang tidak kalah penting adalah terus saja Indonesia
berhubungan mesra untuk membuat utang-utang baru.Lalu dibentuklah kemudian IGGI
yang dikepalai oleh Belanda.Jadi saya kira era Orde Baru itu jauh lebih VOC
dari VOC. Karena pembentukan IGGI itu oleh Belanda juga.
Jadi
datangnya VOC gaya baru lantaran diundang pemerintah?
Saya kira bukan.Karena kita ini
memang menjadi halaman belakang dari kapitalisme internasional. Jadi apa yang
terjadi di sini malah ditentukan dari luar. Termasuk siapa yang berkuasa di
Indonesia ini yang menentukan justru pihak luar.
Indikasinya?
Banyak sekali soal keterlibatan Amerika dan Inggris dalam
menggulingkan Soekarno. Jadi kalau kita bicara tentang penggulingan
Soekarno dan naiknya Soeharto itu pun sebenarnya rekayasa dari kepentingan
modal intenasional. Saya kira buktinya lebih dari cukup.
Dan kemudian juga seperti Undang-undang Penanaman Modal
Asing itu jelas sekali drafnya, yang membuatnya itu kan USAID. Termasuk
masuknya ekonom-ekonom lulusan Amerika Serikat dalam pemerintahan Soeharto.
Bahkan keterlibatan pihak asing itu tidak hanya pada level
pergantian kepala negaranya saja, tetapi termasuk dalam level menteri-menteri dan
para perumus undang-undang.
Asing
berkuasa berapa persen?
Dari
segi produksi, mungkin kuasanya tidak terlalu besar. Karena Malaysia terutama
di sini kan mungkin hanya sekitar 20 persen saja. Tetapi kan komoditas ini juga
bergantung pada pasar internasional.
Jadi yang sangat menentukan di sini adalah konsumen bukan
perorangan. Konsumen yang akan mengelola minyak sawit itu di sini yang bermain
adalah MNC seperti Nestle yang sudah punya refinery di Singapura untuk
mengelola minyak sawit menjadi biofuel.
Lalu ada juga perusahaan Jerman yang sekarang ini sedang
membuka refinery di Sumatera Utara.Jadi tetap saja yang bermain adalah
perusahaan yang bergerak di sektor-sektor energi yang sifat kekuasaannya
bergantung pada asing.
Merugikan
atau menguntungkan rakyat banyak?
Yang jelas merugikan.Karena yang benar-benar dirusak oleh
rezim seperti ini adalah sumber daya alamnya.Kalau rakyat biasa-biasa saja
karena dari dulu sudah di paling dasar.Mau turun ke mana lagi? Ya kalau
harga-harga lagi bagus rakyat kecipratan tapi tidak akan naik-naik betul.
Yang hancur-hancur betul itu adalah lingkungan karena itu
yang diincar habis-habisan.Yang dikuras habis. Sekarang kandisebut-sebut
cadangan minyak sudah terbatas makanya saat ini Indonesia sendiri sudah mulai
mengimpor, kan begitu! Tapi anehnya asing tetap dibiarkan menyedot
minyak kita. Dan cadangan emas Papua bila dibiarkan terus disedot Freeport saya
kira juga akan habis.
Maka terjadilah proses pengurasan kekayaan alam yang menurut
saya itulah yang paling mahal. Apalagi sekarang, mereka mulai merangsek ke
sektor perkebunan, yang dulunya hutan sudah habis. Jadi saya kira yang paling
menderita ya alam.[Biang Keladinya Paham Kapitalisme!Media UmatTuesday, 12 July 2011 15:34Joko Prasetyo].
Para kapitalis tujuan kerjanya adalah mengumpulkan hasil
usahanya tanpa memperhatikan dari mana asalnya, yang penting usaha dan
perusahaan yang digerakkan mampu menghasilkan capital lebih banyak lagi, apakah
merusak orang lain, menghancurkan kehidupan atau memporakporandakan alam, dunia
dijadikan tujuan dari segala-galanya, yang penting bagaimana dia bisa mengais
kehidupan dunia ini tanpa banyak mengeluarkan tenaga pribadi walaupun dengan
memperbudak orang lain, inilah yang diwaspadai oleh Rasulullah tentang keadaan
ummat kelak.
Rasulullah saw. bersabda, “Aku
tidak khawatir kalian miskin, tetapi aku khawatir (kalian mendapatkan) dunia
(lalu) kalian bersaing dalam urusan dunia itu.” (HR. Ahmad)
Begitulah Rasulullah saw.
memperingatkan umatnya. Beliau menyampaikan kekhawatirannya tentang nasib umatnya
sepeninggal beliau. Ternyata beliau tidak lebih khawatir dengan ujian dalam
bentuk kenestapaan, kemiskinan, kekurangan dana. Yang lebih beliau khawatirkan
justru manakala umat Islam diuji dengan sukses duniawi.Memang, kita sering kali
kurang sadar bahwa sesungguhnya kebahagian, keberuntungan, keberhasilan, dan
segala kebaikan adalah ujian dari Allah swt.Acapkali kita sadar sedang diuji
manakala ujian yang datang berupa kenestapaan dan kepedihan.Padahal Allah
swt.menegaskan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
[QS. Al-Anbiya (21): 35]
Pejuang yang
sukses bukanlah pejuang yang hanya bertahan dan istiqamah di saat mendapat
terpaan badai dan hantaman ombak.Pejuang yang sukses adalah juga mampu
istiqamah di saat mendapat tiupan angin sepoi-sepoi dan kucuran madu. Ada
banyak perilaku buruk yang mungkin muncul saat datang ujian yang membahagiakan,
bila para pejuang nihil atau kurang kesiapan mental (ma’nawiyyah) untuk
menghadapinya.[Tate Qomaruddin, Lc.Mewaspadai
Fitnah Harta ,Eramuslim.com.15/10/2007 | 04 Syawal
1428 H].
Faham kapitalis
mengajarkan kepada manusia bahwa segala sesuatu yang lebih mulia, tinggi dan
berharga itu adalah harta, harta menentukan segala-galanya, padahal harta
merupakan alat saja untuk mempertahankan hidup, harta merupakan rezeki dari
Allah yang harus dimanfaatkan untuk memaslahatan pribadi dan ummat.
Harta bukan simbol
keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia
semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin
terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat
apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada
cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih
ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal
dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka
sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta
semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa
yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang
yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah
justru mereka stress. Banyak para artis justru menderita setelah memiliki
harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol
keberhasilan.
Harta bukan simbol ketinggian
derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta
ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak
pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main
perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa
gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa
tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum
yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak
mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan
shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini
mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara
bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit
memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang
melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena
saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi
pekerjaan kantornya.[Rahasia Harta , Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah
1431 H].
Bagi orang beriman, kehidupan
dunia hanyalah satu episode dari perjalanan hidup yang panjang, bukan akhir
dari kehidupan dan segalanya.Namun, di balik itu, masih terdapat alam kubur dan
akhirat. Di sana, manusia berjumpa dengan Tuhannya. Karena itu, ia selalu
berkomunikasi dengan Allah, melalui ibadah dan doa setiap hari dan waktu agar
perjumpaan itu terlaksana secara sukses dan menyenangkan.
Adapun bagi orang yang tidak
beriman, dunia seolah menjadi titik henti terakhir.Karena itu, seluruh hidupnya
dipertaruhkan dan dicurahkan hanya untuk mencari kepuasan atau popularitas
diri.Inilah yang Allah gambarkan dalam Alquran, "Orang-orang yang tidak
mengharapkan adanya perjumpaan dengan Kami, lalu merasa puas dengan kehidupan
dunia, merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat
Kami, tempat mereka adalah neraka sesuai dengan apa yang mereka lakukan."
(QS Yunus {10}: 7).
Menurut Wahbah Zuhayli dalam
tafsir al-Munir, ayat di atas memberikan gambaran tentang empat karakter calon
penghuni neraka.Pertama, tidak meyakini adanya pertemuan dengan Allah. Mereka
tidak takut kepada hukuman-Nya, peringatan-Nya, ancaman-Nya, serta sama sekali
tidak mengharapkan pahala dari-Nya.
Kedua, puas dengan kehidupan
dunia.Ini adalah akibat logis dari sikap pertama. Ketika seseorang tidak percaya
akan berjumpa dengan Allah, dia tidak akan menyiapkan apa pun untuk
pertemuannya nanti dengan Allah. Seluruh capaiannya hanya berorientasi kepada
dunia yang pendek.Ukuran kelapangan, kesenangan, dan kegembiraan bertumpu pada
dunia dan keduniaan semata. Berbagai upaya untuk mencapainya dilakukan meski
dengan menghalalkan segala cara, mempertaruhkan reputasi, menanggalkan harga
diri, menyerang kawan sendiri, bahkan harus mengorbankan agama sekali pun.
Ketiga, merasa tenteram dan
nyaman dengan dunia.Ini dirasakan ketika kesenangan dan kenikmatan dunia entah
berupa harta, wanita, kedudukan, dan jabatan berhasil dicapai.
Keempat, lalai terhadap
ayat-ayat-Nya.Yakni, merasa aman dari siksa dan ancaman Allah di dunia ataupun
akhirat. Dengan kata lain, sama sekali tidak merasa penting mengambil pelajaran
dan tidak merenungkannya.[KH Bukhori Yusuf Lc MA,Mata Gelap
karena Dunia,Republika.co.id.Selasa, 29 Maret 2011 08:46 WIB].
Ketika kapitalis berkuasa di
negeri ini, mereka berusaha untuk mengumpulkan kekayaan dari semua sumber
sehingga depositonya melimpah, rekeningnya gendut, lahan perkebunannya luas,
sawah dan ladangnya ada dimana-mana, dia lebih berkuasa dari penguasa karena
kekuasaan bisa dibeli dengan kekayaan yang dimilikinya, sikapnya arogan,
sombong merupakan kepribadiannya, tidak ada rasa belas kasihan kepada siapapun,
yang jadi fikirannya adalah harta dan kekayaan.
Sebuah
ungkapan mengatakan, dikala seseorang punya jabatan yang paling rendah, dia
hanya mampu berkata, ”Apa makan kita
sekarang?”, sudah bisa memilih lauk pauk dan pangan untuk setiap makan,
statusnya mulai diperhitungkan orang dengan posisi dan fasilitas yang dimiliki,
diapun bertanya lain, ”Makan dimana kita
sekarang ?”, tidak puas hanya menikmati masakan isteri tersayang, tapi rumah
makan dan restoran silih berganti jadi langganannya, dia sudah bisa memilih
rumah makan model apa yang harus dikunjungi untuk pejabat seperti dia.
Bukan itu saja,
saat posisi itu betul-betul kuat, titelnya membuat orang takut, jabatannya
membuat orang salud, diapun bertindah sewenang-wenang dengan mengatakan, ”Makan
siapa kita sekarang?”, tidak masalah walaupun rakyat kecil yang didera oleh
kesusahan dan kepedihan hidup jadi sasaran tembaknya. Itulah gambarannya
arogansi kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh iman, bangsa sendiri dimakan,
bila perlu anak kemenakan sendiri ditelan demi kekuasaan.[Drs. Mukhlis Denros,
Arogansi kekuasaan timbulkan bencana, Harian Mimbar Minang Padang,
08082003].
Banyak sudah
korban bergelimpangan karena bencana dan musibah yang datang karena faham
kapitalis ini, apakah skala pribadi, nasional hingga internasional, kita
lihatlah bencana apa yang tidak kita rasakan ketika isi bumi negeri ini dikuras
oleh para kapitalis yang menyisakan kesengsaraan bagi rakyat, nampaknya penjajahan fisik memang sudah berlalu dari negeri kita ini, tapi penjajahan ekonomi
sejak kita merdeka mulai masuk penjajahan baru melalui VOC gaya baru yang
dikawal oleh rezim yang berkuasa, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Desember 2011.M/ 13 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar