Ihsan adalah kebaikan atau perbuatan baik
sedangkan orang yang melakukannya dinamakan dengan muhsin, ini merupakan level
keimanan yang akan dilalui oleh seorang muslim setelah memasuki fase iman yang
kokoh.Muhsin yaitu orang yang kualitas imannya semakin baik
dengan banyaknya berbuat kebajikan. Tidak hanya yang wajib-wajib saja tetapi
amal-amal sunnah sudah jadi kesukaannya seperti shalat rawatib, shalat dhuha,
qiyamul lail, puasa sunnah dan infaq yang dimotivasi hanya mencari ridha Allah.
Perbuatan dosa muhsin sangat minim sekali, sebab mereka sibuk dengan ibadah dan
peningkatan iman. Kerapian kerja dan kedisiplinan dalam menata waktu sebagai
pakaiannya dalam setiap aktivitas. Muhsin lebih cepat masuk syurga daripada mukmin.
Secara
bahasa, ihsan berasal dari kata Ahsana: memberi kenikmatan atau kebaikan
kepada orang lain. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat
an-Nahl ayat 90. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.Dia memberi pengajaran kepadamu agar
kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl [16]: 90).
Menurut Raghib
al-Asfahani ihsan lebih tinggi derajatnya dari sekedar adil.Jika adil adalah
memberi dan mengambil sesuai dengan porsi yang yang dibutuhkan, maka Ihsan
adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit.
Dalam salah satu
hadisnya Rasulullah menjelaskan bahwa “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah
seakan-akan kami melihat-Nya.Namun apabila kamu tidak merasakan melihat-Nya,
sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Kata ibadah yang
dijelaskan oleh Rasulullah di atas tidak terbatas pada ibadah makhdah. Dalam
Islam ibadah melingkupi segala perbuatan yang diniatkan untuk kepatuhan kepada
Allah Swt. Orang yang shalat dan yang bermain bola sama-sama ibadah, apabila
ditujukan dengan ikhlas sebagai upaya kepatuhan terhadap Allah Swt.. Dengan
pengertian ini maka orang yang telah mencapai tingkatan ihsan akan selalu
merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya, baik yang tersembunyi
maupun terang-terangan.
Bukan hanya
dalam hubungan dengan Allah (hablunminallah), dalam tataran interaksi dengan
manusia (hablunminannas) ihsan juga sangat diperlukan.Kebobrokan moral dan
meningkatnya kriminalitas adalah pertanda utama hilangnya ihsan. Bagaimana
mungkin seorang yang merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya akan
mudah berbohong, membohongi, hingga korupsi?
Dalam beribadah
orang yang mencapai tingkatan ihsan akan merasakan kekhusyuan dan kepasrahan
yang penuh kepada Allah Swt. Dalam berinteraksi dengan orang lain, dia akan
selalu mengedepankan etika dan kemaslahatan. Dalam mengemban amanah dia akan
menjalankanya dengan bijaksana. Bahkan dalam berinteraksi dengan binatang pun
dia tidak akan pernah menyakitinya.
Rasululllah
bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menuliskan ihsan dalam segala hal.Maka
apabila kalian berperang, berperanglah dengan ihsan.Apabila kalian menyembelih
binatang, sembelihlah dengan ihsan, yaitu dengan menajamkan mata pisau agar
sembelihan itu tidak tersiksa.” (HR Muslim).
Orang yang telah
mencapai derajat ihsan ini disebut muhsin.
Seorang muhsin memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.” (an-Nahl [16]: 128).[Jauhar Ridloni Marzuq, Hikmah Pagi: Ihsan, Selasa, 04 Januari 2011, 07:12 WIB].
Seorang muhsin memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.” (an-Nahl [16]: 128).[Jauhar Ridloni Marzuq, Hikmah Pagi: Ihsan, Selasa, 04 Januari 2011, 07:12 WIB].
Muhsin dikala
mendapatkan amanah atau tugas maka akan dikerjakan dengan ihsan dan itqan
[rapi] karena sifat inilah maka semua pekerjaannya tidak hanya bernilai
artistic tapi juga mendapatkan imbalan pahala karena hal itu ujud dari ibadah
yang dikerjakannya. Ibadah yang dikerjakan manusia tidak hanya dilihat dari
jumlah yang banyak atau “aksaru amala” tapi yang lebih utama adalah ibadah yang
baik “Ahsanu amala”.
Allah SWT
berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya
(optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang
Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik,
baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya.
Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara
pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga
betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan
mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.
Seorang Muslim
yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif,
ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar
betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan
bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan
ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan
dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada
Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.
Allah SWT
berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu
mengetahui."[Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc, Ihsan dan Itqan-lah
dalam Mengemban Tugas, Republika.co.id.Jumat,
06 Mei 2011 11:35 WIB].
Muhsin adalah
orang yang menjadikan dunia sebagai ladangnya untuk meraih syurga dengan segala
fasilitas hidup yang dimilikinya, dia akan menyerahkan hartanya di jalan Allah
dalam keadaan sempit dan apalagi dalam keadaan lapang, muhsin adalah orang yang
dermawan, yang tidak ragu-ragu untuk menyerahkan hartanya untuk jihad
fisabilillah, ketika jihad akan dimulai, Rasulullah menanya para sahabat
tentang persiapan finansial masing-masing, Umar bin Khattab berkata,”Ku
serahkan separuh hartaku untuk jihad besok ya Rasulullah”, dalam hatinya Umar
menyangka bahwa dialah yang paling banyak berinfaq fisabilillah, tapi tampillah
Abu Bakar berkata kepada nabi, “Ya Rasulullah aku serahkan seluruh hartaku
untuk jihad besok”, Rasulullah bertanya, “Apa lagi yang tinggal ya Abu Bakar?”,
dijawabnya, “Yang tinggal adalah Allah dan Rasul-Nya”, Umar bin Khattab berkata
dalam hatinya dia bergumam, Abu Bakar memang tidak bisa ditandingi dalam hal
infaq. Demikian pula halnya sahabat yang lain, mereka ingin mencapai derajat
muhsinin dalam kehidupannya yaitu orang yang menebar kebaikan untuk ummat.
Siang itu, Madinah sangat
ramai.Para pedagang berlarian meninggalkan dagangannya menuju jalan
raya.Pengunjung pasar sudah lebih dahulu meninggalkan para pedagang dan begitu
saja melemparkan barang yang sedang ditawar.Rupanya, 700 ekor unta sarat dengan
barang-barang dagangan di punggung masing-masing memasuki Kota Madinah. Itulah
kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat terkaya pada zaman
Rasul SAW.
Suara hiruk-pikuk itu membuat
kaget Ummul Mukminin Aisyah RA, yang pada saat itu sedang menyampaikan hadis
Nabi. Setelah diberi tahu apa yang terjadi, Aisyah berkata: "Semoga Allah
melimpahkan berkah-Nya bagi Abdurrahman dengan baktinya di dunia, serta pahala
yang besar di akhirat. Aku pernah mendengar Rasul SAW bersabda bahwa
Abdurrahman bin Auf akan masuk surga sambil merangkak."
Seorang sahabat berlari
mencari Abdurrahman untuk mengabarkan berita gembira itu.Mendengar hal
tersebut, Abdurrahman segera menemui Ummul Mukminin Aisyah."Wahai ibunda,
apakah ibunda mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?"Jawab Aisyah,
"Ya aku mendengar sendiri."
Abdurrahman melonjak
kegirangan."Seandainya sanggup, aku akan memasukinya sambil berjalan.Wahai
ibunda, saksikanlah, seluruh unta lengkap dengan barang dagangan di punggung
masing-masing, aku dermakan untuk fi sabilillah."
Subhanallah, begitulah
Abdurrahman, sang dermawan. Tidak salah Nabi menyatakan Abdurrahman masuk surga
dengan merangkak.Bukan karena sulitnya masuk surga, melainkan karena begitu
dekatnya sehingga tidak perlu lagi berjalan, cukup merangkak.Abdurrahman tidak
pernah ragu menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan dakwah.
Pada suatu kesempatan, setelah
mendengarkan seruan Rasul SAW untuk berjuang dengan harta benda, Abdurrahman
bergegas pulang dan kembali membawa 2.000 dinar. "Wahai Rasulullah, aku
mempunyai 4.000 dinar, dan 2.000 dinar aku pinjamkan kepada Allah dan 2.000
dinar untuk keluargaku."
Rasulullah menerimanya sambil
bersabda: "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta
benda yang kamu berikan, dan semoga Allah memberkahi pula harta yang kamu
tinggalkan untuk keluargamu."
Ketika Rasul bersiap
menghadapi Perang Tabuk, beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan
harta bendanya untuk fi sabilillah.Kaum Muslimin memenuhi seruan Nabi yang
mulia itu.Dan, Abdurrahman menyerahkan 200 uqiyah emas. Melihat jumlah itu,
Umar berbisik kepada Nabi: "Agaknya Abdurrahman berdosa tidak meninggali
uang belanja sedikit pun untuk keluarganya." Rasul menanyakannya kepada
Abdurrahman.Ia menjawab, "Untuk mereka saya tinggalkan lebih banyak dan
lebih baik daripada yang saya sumbangkan. Yakni sebanyak rezeki, kebaikan, dan
upah yang dijanjikan Allah."
Sejak berita gembira akan
menjadi penghuni surga itu, Abdurrahman semakin dermawan, semangatnya semakin
tinggi dalam mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Ia juga menyumbangkan lagi
40 ribu dinar, 500 ekor kuda, dan 1.500 ekor unta untuk para pejuang.
Dia juga membagikan 400 dinar
kepada setiap veteran Perang Badar yang masih hidup dan lainnya.Aisyah sering
mendoakannya, "Semoga Allah memberinya minum dengan minuman dari telaga
Salsabil."[Prof Dr Yunahar Ilyas,Sang Dermawan, Republika.co.id. Kamis,
09 Juni 2011 08:14 WIB].
Muhsin adalah orang yang
senang berbuat baik kepada siapa saja semampunya , mereka kerapkali beramal
shaleh dalam seluruh asfek kehidupan, ujud amal shalehnya bukan hanya berupa
materi saja tapi segala sesuatu yang dapat berikan kepada manusia walau hanya dengan
seulas senyum kepada saudaranya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah
SAW.
Ketika
Rasulullah Saw mengeluarkan fatwa untuk mendermakan harta di jalan Allah,
terdapata seorang sahabat yang sangat papa. Jangankan untuk sedekah, sedangkan
untuk diri sendiri dia tidak punya. Sahabat itu berkata, ”Ya, Rasulullah,
bolehlah Abu Bakar, Umar atau Usman bersenang hati untuk berderma di jalan
Allah, tapi kami ini ya Rasul, orang yang pada dan sangat miskin, apa yang
harus kami berikan ?”
Kemudian Rasulullah memberikan kabar gembira bahwa
sedekah bukan sebatas harta yang harus dimiliki, salah satu sabda beliau yang
diriwayatkan oleh Ahmad, ”Setiap diri diwajibkan sedekah kepadanya tiap hari
dikala terbitnya matahari, diantaranya;
1.Jika ia mendamaikan orang yang bermusuhan dengan adil,
itulah sedekah.
2.Bila ia menolong seseorang untuk menaiki binatang
tunggangannya, berarti sedekah.
3.Mengangkatkan barang-barang ke atas kendaraan itu juga
sedekah.
4.Menyingkirkan rintangan duri di jalan adalah sedekah.
5.Ucapan yang baik kepada keluarga dan orang lain adalah
sedekah.
6.Dan setiap langkah
seorang untuk mendirkan shalat adalah sedekah.
7.Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”
Disamping hadits diatas, juga terdapat sabda Rasulullah
Saw yang mengatakan,”Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap takbir dan setiap
tahlil adalah sedekah”. Sebagai saluran nilai lebih dari yang dimiliki oleh
seorang hamba bila ia miskin, maka terlebih dahulu ialah dirinya sendiri, jika
ada kelebihan jalan keluarnya ialah buat keluarga, untuk kaum kerabat, setelah
itu barulah untuk keperluan lainnya, selama masih untuk membuktikan ketaatan kepada Allah.
Semua itu apakah diharapkan atau tidak oleh muhsin dalam melakukan kebaikannya
maka Allah menyediakan imbalannya berupa pahala yang tiada terkiranya. H Imam Nur Suharno MPdI menyatakan bahwa ada ”Balasan Amal Shaleh” yang
akan diberikan Allah kepada pelakunya, sebagaimana yang tertuang dalam tulisannya berikut;
Nilai
kebaikan diukur melalui amal shaleh.Amal shaleh merupakan implikasi dari
keimanan seseorang.Amal shaleh memiliki tempat yang mulia dalam ajaran
Islam.Karena itu, Islam memberikan balasan kebajikan untuk orang-orang yang
istikamah dalam beramal shaleh.
Di
antara balasan yang dijanjikan Allah SWT itu adalah, pertama, diberi pahala
yang besar.”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang
beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS
al-Maidah [5]: 9).
Kedua, diberi kehidupan yang layak.“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl [16]: 97).
Ketiga,
diberi tambahan petunjuk.“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang
telah mendapat petunjuk.Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya
di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (QS Maryam [19]: 76).
Keempat,
dihapuskan dosa-dosanya.“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar
akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”
(QS al-Ankabut [29]: 7).
Kelima,
dimuliakan hidupnya.“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS al-Isra’ [17]: 70).
Keenam,
dijauhkan dari kegagalan.”Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran.” (QS al-Ashr [103]: 1-3).
Untuk
itu, hanya amal shaleh yang berasal dari keimanan kepada Allah SWT, keyakinan
akan keadilan-Nya, dan hanya berharap akan rahmat-Nya yang akan membawa manfaat
dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[republika.co.idSabtu, 10 Desember 2011
09:29 WIB].
Bicara
ikhlas, maka orang yang sudah mencapai derajat muhsin adalah orang-orang yang
sudah faham dengan keikhlasan bahwa tiada artinya amal shaleh dan kebiakannya
bila dikerjakan mengharapkan sesuatu dari orang lain, muhsin adalah orang yang
sudah tertanam dihatinya untuk berbuat tanpa mengingat lagi kebaikan itu, dia
berupaya untuk berbuat, bekerja, beramal shaleh walaupun orang lain tidak
menghargainya, dengan indah AA Gym menyebutkan ikhlas itu dalam kasus dibawah
ini;
Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita
membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun
ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa,
bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali..andaikata kita merasa
kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu
menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun
batin.Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena
tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.
Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan
keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong
mobil.Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak
mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat
kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa
tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?
Takdir mendorong mobil adalah investasi besar,
yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat
akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu
kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah
investasi.
Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat
amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita
lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat
saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan
membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun
momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang
menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.[Lupakan
Jasa dan Kebaikan Diri,K.H.
Abdullah Gymnastiar].
Kita masih ada kesempatan untuk meningkatkan
kualitas iman dari muslim ke arah mukmin, dari mukmin menuju muhsin, hal itu
terujud melalui proses yang kita inginkan, keimanan yang tinggi seiring akan
menanjaknya kebaikan yang kita lakukan sebagaimana yang dikatakan oleh
Rasulullah bahwa iman itu akan mengalami fluktuasi yaitu proses naik dan turun,
dikala iman sedang naik maka otomatis kebaikan atau amal shaleh akan banyak
dilakukan dan sebaliknya bila iman sedang turun maka otomatis banyak maksiat
yang dilakukan, nauzubillah, Wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 14 Desember 2011.M/ 18 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar