Jumat, 19 Februari 2016

261. Muhsin



Ihsan adalah kebaikan atau perbuatan baik sedangkan orang yang melakukannya dinamakan dengan muhsin, ini merupakan level keimanan yang akan dilalui oleh seorang muslim setelah memasuki fase iman yang kokoh.Muhsin yaitu orang yang kualitas imannya semakin baik dengan banyaknya berbuat kebajikan. Tidak hanya yang wajib-wajib saja tetapi amal-amal sunnah sudah jadi kesukaannya seperti shalat rawatib, shalat dhuha, qiyamul lail, puasa sunnah dan infaq yang dimotivasi hanya mencari ridha Allah. Perbuatan dosa muhsin sangat minim sekali, sebab mereka sibuk dengan ibadah dan peningkatan iman. Kerapian kerja dan kedisiplinan dalam menata waktu sebagai pakaiannya dalam setiap aktivitas. Muhsin lebih cepat masuk syurga daripada mukmin.

Secara bahasa,  ihsan berasal dari kata Ahsana: memberi kenikmatan atau kebaikan kepada orang lain. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 90. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl [16]: 90).

Menurut Raghib al-Asfahani ihsan lebih tinggi derajatnya dari sekedar adil.Jika adil adalah memberi dan mengambil sesuai dengan porsi yang yang dibutuhkan, maka Ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit.

Dalam salah satu hadisnya Rasulullah menjelaskan bahwa “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kami melihat-Nya.Namun apabila kamu tidak merasakan melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

Kata ibadah yang dijelaskan oleh Rasulullah di atas tidak terbatas pada ibadah makhdah. Dalam Islam ibadah melingkupi segala perbuatan yang diniatkan untuk kepatuhan kepada Allah Swt. Orang yang shalat dan yang bermain bola sama-sama ibadah, apabila ditujukan dengan ikhlas sebagai upaya kepatuhan terhadap Allah Swt.. Dengan pengertian ini maka orang yang telah mencapai tingkatan ihsan akan selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya, baik yang tersembunyi maupun terang-terangan. 

Bukan hanya dalam hubungan dengan Allah (hablunminallah), dalam tataran interaksi dengan manusia (hablunminannas) ihsan juga sangat diperlukan.Kebobrokan moral dan meningkatnya kriminalitas adalah pertanda utama hilangnya ihsan. Bagaimana mungkin seorang yang merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya akan mudah berbohong, membohongi, hingga korupsi?

Dalam beribadah orang yang mencapai tingkatan ihsan akan merasakan kekhusyuan dan kepasrahan yang penuh kepada Allah Swt. Dalam berinteraksi dengan orang lain, dia akan selalu mengedepankan etika dan kemaslahatan. Dalam mengemban amanah dia akan menjalankanya dengan bijaksana. Bahkan dalam berinteraksi dengan binatang pun dia  tidak akan pernah menyakitinya.

Rasululllah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menuliskan ihsan dalam segala hal.Maka apabila kalian berperang, berperanglah dengan ihsan.Apabila kalian menyembelih binatang, sembelihlah dengan ihsan, yaitu dengan menajamkan mata pisau agar sembelihan itu tidak tersiksa.” (HR Muslim). 

Orang yang telah mencapai derajat ihsan ini disebut muhsin.
Seorang muhsin memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.” (an-Nahl [16]: 128).[Jauhar Ridloni Marzuq,
Hikmah Pagi: Ihsan, Selasa, 04 Januari 2011, 07:12 WIB].

Muhsin dikala mendapatkan amanah atau tugas maka akan dikerjakan dengan ihsan dan itqan [rapi] karena sifat inilah maka semua pekerjaannya tidak hanya bernilai artistic tapi juga mendapatkan imbalan pahala karena hal itu ujud dari ibadah yang dikerjakannya. Ibadah yang dikerjakan manusia tidak hanya dilihat dari jumlah yang banyak atau “aksaru amala” tapi yang lebih utama adalah ibadah yang baik “Ahsanu amala”.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."

Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.

Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."[Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc, Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas, Republika.co.id.Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].

Muhsin adalah orang yang menjadikan dunia sebagai ladangnya untuk meraih syurga dengan segala fasilitas hidup yang dimilikinya, dia akan menyerahkan hartanya di jalan Allah dalam keadaan sempit dan apalagi dalam keadaan lapang, muhsin adalah orang yang dermawan, yang tidak ragu-ragu untuk menyerahkan hartanya untuk jihad fisabilillah, ketika jihad akan dimulai, Rasulullah menanya para sahabat tentang persiapan finansial masing-masing, Umar bin Khattab berkata,”Ku serahkan separuh hartaku untuk jihad besok ya Rasulullah”, dalam hatinya Umar menyangka bahwa dialah yang paling banyak berinfaq fisabilillah, tapi tampillah Abu Bakar berkata kepada nabi, “Ya Rasulullah aku serahkan seluruh hartaku untuk jihad besok”, Rasulullah bertanya, “Apa lagi yang tinggal ya Abu Bakar?”, dijawabnya, “Yang tinggal adalah Allah dan Rasul-Nya”, Umar bin Khattab berkata dalam hatinya dia bergumam, Abu Bakar memang tidak bisa ditandingi dalam hal infaq. Demikian pula halnya sahabat yang lain, mereka ingin mencapai derajat muhsinin dalam kehidupannya yaitu orang yang menebar kebaikan untuk ummat.

Siang itu, Madinah sangat ramai.Para pedagang berlarian meninggalkan dagangannya menuju jalan raya.Pengunjung pasar sudah lebih dahulu meninggalkan para pedagang dan begitu saja melemparkan barang yang sedang ditawar.Rupanya, 700 ekor unta sarat dengan barang-barang dagangan di punggung masing-masing memasuki Kota Madinah. Itulah kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat terkaya pada zaman Rasul SAW.

Suara hiruk-pikuk itu membuat kaget Ummul Mukminin Aisyah RA, yang pada saat itu sedang menyampaikan hadis Nabi. Setelah diberi tahu apa yang terjadi, Aisyah berkata: "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya bagi Abdurrahman dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat. Aku pernah mendengar Rasul SAW bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga sambil merangkak."

Seorang sahabat berlari mencari Abdurrahman untuk mengabarkan berita gembira itu.Mendengar hal tersebut, Abdurrahman segera menemui Ummul Mukminin Aisyah."Wahai ibunda, apakah ibunda mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?"Jawab Aisyah, "Ya aku mendengar sendiri."

Abdurrahman melonjak kegirangan."Seandainya sanggup, aku akan memasukinya sambil berjalan.Wahai ibunda, saksikanlah, seluruh unta lengkap dengan barang dagangan di punggung masing-masing, aku dermakan untuk fi sabilillah."

Subhanallah, begitulah Abdurrahman, sang dermawan. Tidak salah Nabi menyatakan Abdurrahman masuk surga dengan merangkak.Bukan karena sulitnya masuk surga, melainkan karena begitu dekatnya sehingga tidak perlu lagi berjalan, cukup merangkak.Abdurrahman tidak pernah ragu menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan dakwah.

Pada suatu kesempatan, setelah mendengarkan seruan Rasul SAW untuk berjuang dengan harta benda, Abdurrahman bergegas pulang dan kembali membawa 2.000 dinar. "Wahai Rasulullah, aku mempunyai 4.000 dinar, dan 2.000 dinar aku pinjamkan kepada Allah dan 2.000 dinar untuk keluargaku."

Rasulullah menerimanya sambil bersabda: "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta benda yang kamu berikan, dan semoga Allah memberkahi pula harta yang kamu tinggalkan untuk keluargamu."

Ketika Rasul bersiap menghadapi Perang Tabuk, beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta bendanya untuk fi sabilillah.Kaum Muslimin memenuhi seruan Nabi yang mulia itu.Dan, Abdurrahman menyerahkan 200 uqiyah emas. Melihat jumlah itu, Umar berbisik kepada Nabi: "Agaknya Abdurrahman berdosa tidak meninggali uang belanja sedikit pun untuk keluarganya." Rasul menanyakannya kepada Abdurrahman.Ia menjawab, "Untuk mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang saya sumbangkan. Yakni sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Sejak berita gembira akan menjadi penghuni surga itu, Abdurrahman semakin dermawan, semangatnya semakin tinggi dalam mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Ia juga menyumbangkan lagi 40 ribu dinar, 500 ekor kuda, dan 1.500 ekor unta untuk para pejuang.

Dia juga membagikan 400 dinar kepada setiap veteran Perang Badar yang masih hidup dan lainnya.Aisyah sering mendoakannya, "Semoga Allah memberinya minum dengan minuman dari telaga Salsabil."[Prof Dr Yunahar Ilyas,Sang Dermawan, Republika.co.id. Kamis, 09 Juni 2011 08:14 WIB].

Muhsin adalah orang yang senang berbuat baik kepada siapa saja semampunya , mereka kerapkali beramal shaleh dalam seluruh asfek kehidupan, ujud amal shalehnya bukan hanya berupa materi saja tapi segala sesuatu yang dapat berikan kepada manusia walau hanya dengan seulas senyum kepada saudaranya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah Saw mengeluarkan fatwa untuk mendermakan harta di jalan Allah, terdapata seorang sahabat yang sangat papa. Jangankan untuk sedekah, sedangkan untuk diri sendiri dia tidak punya. Sahabat itu berkata, ”Ya, Rasulullah, bolehlah Abu Bakar, Umar atau Usman bersenang hati untuk berderma di jalan Allah, tapi kami ini ya Rasul, orang yang pada dan sangat miskin, apa yang harus kami berikan ?”

            Kemudian Rasulullah memberikan kabar gembira bahwa sedekah bukan sebatas harta yang harus dimiliki, salah satu sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ahmad, ”Setiap diri diwajibkan sedekah kepadanya tiap hari dikala terbitnya matahari, diantaranya;
1.Jika ia mendamaikan orang yang bermusuhan dengan adil, itulah sedekah.
2.Bila ia menolong seseorang untuk menaiki binatang tunggangannya, berarti sedekah.
3.Mengangkatkan barang-barang ke atas kendaraan itu juga sedekah.
4.Menyingkirkan rintangan duri  di jalan adalah sedekah.
5.Ucapan yang baik kepada keluarga dan orang lain adalah sedekah.
6.Dan setiap langkah  seorang untuk mendirkan shalat adalah sedekah.
7.Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

            Disamping hadits diatas, juga terdapat sabda Rasulullah Saw yang mengatakan,”Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap takbir dan setiap tahlil adalah sedekah”. Sebagai saluran nilai lebih dari yang dimiliki oleh seorang hamba bila ia miskin, maka terlebih dahulu ialah dirinya sendiri, jika ada kelebihan jalan keluarnya ialah buat keluarga, untuk kaum kerabat, setelah itu barulah untuk keperluan lainnya, selama masih  untuk membuktikan ketaatan kepada Allah. Semua itu apakah diharapkan atau tidak oleh muhsin dalam melakukan kebaikannya maka Allah menyediakan imbalannya berupa pahala yang tiada terkiranya. H Imam Nur Suharno MPdI menyatakan bahwa ada ”Balasan Amal Shaleh” yang akan diberikan Allah kepada pelakunya, sebagaimana yang tertuang dalam  tulisannya berikut;

Nilai kebaikan diukur melalui amal shaleh.Amal shaleh merupakan implikasi dari keimanan seseorang.Amal shaleh memiliki tempat yang mulia dalam ajaran Islam.Karena itu, Islam memberikan balasan kebajikan untuk orang-orang yang istikamah dalam beramal shaleh.

Di antara balasan yang dijanjikan Allah SWT itu adalah, pertama, diberi pahala yang besar.”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS al-Maidah [5]: 9).

Kedua, diberi kehidupan yang layak.“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl [16]: 97).

Ketiga, diberi tambahan petunjuk.“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (QS Maryam [19]: 76).

Keempat, dihapuskan dosa-dosanya.“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Ankabut [29]: 7).

Kelima, dimuliakan hidupnya.“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS al-Isra’ [17]: 70).

Keenam, dijauhkan dari kegagalan.”Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-Ashr [103]: 1-3).

Untuk itu, hanya amal shaleh yang berasal dari keimanan kepada Allah SWT, keyakinan akan keadilan-Nya, dan hanya berharap akan rahmat-Nya yang akan membawa manfaat dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[republika.co.idSabtu, 10 Desember 2011 09:29 WIB].

Bicara ikhlas, maka orang yang sudah mencapai derajat muhsin adalah orang-orang yang sudah faham dengan keikhlasan bahwa tiada artinya amal shaleh dan kebiakannya bila dikerjakan mengharapkan sesuatu dari orang lain, muhsin adalah orang yang sudah tertanam dihatinya untuk berbuat tanpa mengingat lagi kebaikan itu, dia berupaya untuk berbuat, bekerja, beramal shaleh walaupun orang lain tidak menghargainya, dengan indah AA Gym menyebutkan ikhlas itu dalam kasus dibawah ini;

Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali..andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin.Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil.Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.[Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri,K.H. Abdullah Gymnastiar].

Kita masih ada kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman dari muslim ke arah mukmin, dari mukmin menuju muhsin, hal itu terujud melalui proses yang kita inginkan, keimanan yang tinggi seiring akan menanjaknya kebaikan yang kita lakukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa iman itu akan mengalami fluktuasi yaitu proses naik dan turun, dikala iman sedang naik maka otomatis kebaikan atau amal shaleh akan banyak dilakukan dan sebaliknya bila iman sedang turun maka otomatis banyak maksiat yang dilakukan, nauzubillah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14 Desember 2011.M/ 18 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar