Ini adalah
kendaraan terakhir yang akan dipakai oleh siapapun, kendaraan yang akan diikuti
oleh sekian orang, mengantarkan penumpangnya menuju satu tempat yang harus
dimasuki sedangkan pengantarnya hanya sampai di luar saja, kendaraan itu akan
dipakai silih berganti sesuai dengan giliran masing-masing yang telah
ditentukan oleh pemilik hidup ini, kendaraan ini terkesan menyeramkan karena
kendaraan ini bernama Keranda yang digunakan untuk mengantar mayat ke kuburan, keranda
membawa penumpangnya untuk menghadapi Khaliq, Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang
dirindukan oleh para Pecintanya dan juga Tuhan bagi orang-orang yang
melupakan-Nya karena kesibukan dan keindahan dunia yang menggelayut di hati
manusia.
Kehidupan seseORang di dunia ini dimulai dengan dilahiRkan-nya seseORang
daRi Rahim ibunya. Kemudian setelah ia hidup bebeRapa lama, iapun akan menemui
sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindaRi, kenyataan sebuah kematian yang akan
menjemput-nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala beRfiRman: “Tiap-tiap jiwa akan meRasakan kematian dan sesungguhnya pada haRi
kiamatlah akan disempuRnakan pahalamu, baRangsiapa yang dijauhkan daRi neRaka
dan dimasukkan ke dalam suRga, maka sungguh ia telah beRuntung dan kehidupan
dunia hanyalah kehi-dupan yang mempeRdaya-kan”. (Ali-ImRan: 185)
Ayat di atas adalah meRupakan ayat yang agung yang apabila dibaca mata
menjadi beRkaca-kaca. Apabila didengaR Oleh hati maka ia menjadi gemetaR. Dan
apabila didengaR Oleh seseORang yang lalai maka akan membuat ia ingat bahwa
diRinya pasti akan menemui kematian.
Memang peRjalanan menuju akhiRat meRupakan suatu peRjalanan yang panjang.
Suatu peRjalanan yang banyak aRal dan cObaan, yang dalam menempuhnya kita
memeRlukan peRjuangan dan pengORbanan yang tidak sedikit. Yaitu suatu
peRjalanan yang menentukan apakah kita teRmasuk penduduk suRga atau neRaka.
PeRjalanan itu adalah kematian yang akan menjemput kita, yang kemudian
dilanjutkan dengan peRtemuan kita dengan alam akhiRat. KaRena keagungan
peRjalanan ini, Rasulullah telah beRsabda:“Andai
saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit
teRtawa dan banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih)
Maksudnya
apabila kita tahu hakekat kematian dan keadaan alam akhiRat seRta
kejadian-kejadian di dalamnya niscaya kita akan ingat bahwa setelah kehidupan
ini akan ada kehidupan lain yang lebih abadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala
beRfiRman: Dan kehidupan akhiRat itu
lebih baik dan lebih kekal. (Al-A’la: 17).
Akan tetapi kadang kita lupa akan peRjalanan itu dan lebih memilih
kehidupan dunia yang tidak ada nilainya di sisi Allah.MaRilah kita siapkan
bekal sebanyak-banyaknya untuk menyempuRnakan peRjalanan itu, yaitu dengan
melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah .Dan maRilah kita peRbanyak taubat
daRi segala dOsa-dOsa yang telah kita lakukan. SeORang penyaiR beRkata: Lakukanlah
bagimu taubat yang penuh penghaRapan. Sebelum kematian dan sebelum dikuncinya
lisan.Cepatlah beRtaubat sebelum jiwa ditutup.Taubat itu sempuRna bagi pelaku
kebajikan.Allah Subhannahu wa Ta'ala’ beRfiRman: “Hai ORang-ORang yang beRiman, beRtaubatlah kepada Allah dengan taubat
yang semuRni-muRninya”. (At-TahRim: 8)[Agus hasan BashORi, Lc, Mengingat Kematian,:: COmpiled by oRiDo™].
Dunia telah
menjadikan manusia lupa untuk menyewa keranda, lebih asyik dengan mobil, kapal,
kereta api ataupun pesawat terbang yang tidak sedikit dibutuhkan dana untuk
membeli tiketnya padahal kendaraan ini hanya mengantarkan penumpangnya antar
kota dalam dunia, sedangkan keranda akan mengantar penumpang ke alam lain yang
lebih baik dan pasti. Dunia telah menjadikan manusia lupa untuk mempersiapkan
bekal kepergiannya, padahal bekal perjalanan dengan keranda hanya membutuhkan
iman dan amal shaleh, banyak manusia yang hidupnya di dunia bergelimang
kesenangan dan maksiat, melupakan iman dan amal shaleh, padahal keranda
mengantarkan kematian untuk mengakhiri kehidupan. Orang yang enggan naik
Keranda kelak akan dipaksa untuk menaiki, suka ataupun tidak karena keranda
bukan hanya untuk orang yang beriman dan beramal shaleh saja, tapi juga untuk
orang-orang yang durhaka kepada Allah dan melupakan kematian.
Saat ini, banyak orang yang hidup sesukanya hingga melupakan
Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam menjalani hidup, ia tak peduli halal-haram.
Dalam kamus hidupnya hanya satu: yang penting enak, nikmat! Mereka antara lain
pelaku seks bebas, pemabuk/penikmat narkoba dan tentu saja kalangan hedonis
lainnya. Setiap hari yang mereka kejar hanyalah kesenangan.Mereka tak mau dipusingkan
oleh masalah.
Saat ini pun tak sedikit orang yang begitu dalam cintanya
kepada seseorang; entah kepada pasangan hidupnya, pujaan hatinya, anak-anaknya,
kedua orang-tuanya, dll.Begitu dalamnya cintanya kepada seseorang tersebut
hingga melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Akibatnya, ia
menomorduakan Allah SWT dan Rasul-Nya serta menomor-satukan seseorang yang ia
cintai. Bukan-kah tak sedikit orang mengorbankan agama demi menyenangkan
orang-orang yang ia cintai. Bukankah banyak orang mau mengorbankan apa saja,
termasuk agamanya, demi menyenangkan dan membahagiakan pasangan hidup yang dia
cintai? Banyak pula orang yang tergila-gila mencintai sesuatu; entah
harta-kekayaan, jabatan, pangkat, kehormatan, hobi dll. Begitu cintanya
pada sesuatu itu, ia pun tak jarang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukankah
tak sedikit orang yang menggadaikan agamanya demi mengejar kekayaan, jabatan,
pangkat, kehormatan atau bahkan hobi?Bukankah ada orang yang nekad melakukan
suap-menyuap demi pangkat/jabatan; melaku-kan manipulasi demi meraih
gelar/kehor-matan; atau menghabiskan waktu berjam-jam seharian (juga tenaga,
pikiran dan tentu saja uang) demi memuaskan hobi-nya hingga lupa shalat, baca
Alquran atau berzikir kepada Allah SWT?
Jika kita termasuk ke dalam orang-orang yang semacam ini,
layaklah kita merenungkan sebuah hadits, sebagaimana yang dituturkan Sahal bin
Saad, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: Jibril pernah berkata, ”Muhammad,
hiduplah sesukamu, namun sesungguhnya akhir kehidupanmu adalah kematian;
cintailah siapa saja sekehendakmu, tetapi sesungguhnya engkau akan berpisah
dengannya; lakukanlah apa saja semaumu, namun sesungguhnya engkau akan diberi
balasan.” (HR al-Hakim, al-Haitsami dan ath-Thabrani).
Sayang, meski banyak orang tahu bahwa ujung kehidupan adalah
kematian dan kefanaan, faktanya mereka menjalani hidup ini seolah-olah
kehidupan itu abadi dan tak bertepi. Akibatnya, mereka terus menumpuk
harta-kekayaan, sesuatu yang pasti akan mereka tinggalkan; terus mengejar
pangkat dan jabatan, sesuatu yang pasti akan mereka tanggalkan; serta terus
mereguk berbagai macam kese-nangan, sesuatu yang pasti segera terlupakan. Tak
jarang semua itu semakin menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Tak jarang semua
itu menjadikan dirinya lupa mempersiapkan amal kebajikan, bekal pasca kematian,
sesuatu yang justru akan menjadi satu-satunya teman di Hari Penghisaban. Tak
jarang pula semua itu menjadikan dirinya bakhil, terus menuruti hawa nafsu dan
cenderung berbangga diri. Semua itu pada akhirnya menghancurkan dirinya.[Kematian,
Perpisahan dan Penghisaban, Mediaummat.com.Thursday, 20 May 2010 18:20].
Kematian adalah suatu
kepastian.Ia akan datang tepat waktu, tanpa bisa dimajukan atau diundurkan,
kendati barang sedetik. Saat menghadapi kematian, petugas pencabut nyawa,
Malakul Maut akan menyelesaikan tugasnya dengan sangat sempurna. Jika Anda
adalah orang yang sukses menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khilafah dengan baik
ketika hidup di atas bumi Allah ini, maka Malakul Maut datang dengan penampilan
yang sangat sopan, berpakaian putih bersih dengan aroma harum kasturi. Sambil
tersenyum ia mencabut nyawa dari badan Anda dengan sangat hati-hati sehingga
nyaris tidak Anda rasakan.
Ketika Anda menghembusakan
nafas terakhir sambil mengucapkan Laa Ilaaha Illallah (Tiada tuhan yang pantas
disembah selain Allah), orang-orang di sekitar Anda akan melihat wajah Anda
yang berseri-seri sambil tersenyum simpul. Anda bisa tersenyum karena
mengetahui bahwa Anda adalah orang yang akan meraih Great Success (Kesuksesan
Tanpa Batas), yakni akan masuk syurga, insyaa Allah.
Suasana di sekeliling Anda
tiba-tiba berubah menjadi isak tangis dan kesedihan yang mendalam yang
diekspresikan oleh anak, isteri, karib kerabat, sahabat, teman sejawat Anda
yang sempat hadir menyaksikan peristiwa perpisahan sementara dengan
Anda.Suasananya sangat kontras dengan ketika Anda memasuki fase kehidupan
dunia, yakni ketika lahir sekian puluh tahun yang lalu.Ketika itu, Anda yang
berteriak menangis sejadi-jadinya, sedang orang-orang yang ada di sekitarnya
malah tersenyum dan tertawa.Sekarang suasana jadi terbalik, giliran Anda yang
tersenyum dan mereka yang menangis sejadi-jadinya.
Kematian itu adalah haq.Ia
datang hanya satu kali, kendati banyak sebab kematian. Kematian adalah
kematian.Apakah Anda mati karena tertimbun tanah longsor, atau tenggelam dalam
laut atau menjadi debu karena hangus terbakar atau dibakar saudara atau teman Anda
sendiri?Apakah Anda menjemput Kematian disebabkan gempa bumi, tsunami, atau
disebabkan tabrakan atau narkoba?Apakah Anda melewatinya sendiri dengan bunuh
diri atau mati dibunuh di jalan Allah atau di jalan Setan? Apapun sebab
kematian, kematian adalah kematian yang berfungsi untuk mengakhiri kehidupan
manusia di dunia, untuk kemudian diteruskan perjalanannya menuju alam Barzakh
(pemisah), sambil menunggu kiamat atau kehancuran alam semesta, dan kemudian
kebangkitan, mahsyar (perhimpunan raksasa) dan seterusnya, syurga atau neraka
yang akan menjadi tempat Anda.
Kalau demikian halnya,
pertanyaannya adalah : Sudahkah Anda siap menyambut kematian yang pasti datang
saat waktunya tiba? Apa yang sudah Anda persiapkan untuk menyambutnya? Ataukah
Anda tetap dalam kelalaian, kebodohan, kedurhakaan dan kesombongan terhadap
Allah, Raja alam semesta dan Rasulullah, teladan semua manusia?Sekarang saatnya
Anda jawab pertanyaan-pertanyaan itu. Jangan sampai menunggu kematian itu tiba,
nanti Anda akan sangat menyesal dan penyesalan saat kematian tiba tidak akan
ada gunanya; sudah terlambat, seperti yang Allah jelaskan dalam surat Al-Mukmin
berikut :
Hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: Ya Tuhan Penciptaku,
kembalikan aku kembali (ke dunia) agar aku berbuat amal shaleh terhadap yang
telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja (tidak akan didengar Tuhan Pencipta). Dan di hadapan mereka
ada barzakh (pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan. (Q.S.
Al-Mu’min /23 : 99-100)
Sebelum
terlambat, mari kita jemput kematian dengan penuh keyakinan dan kesiapan.
Persiapkan diri dari saat ini, detik ini. Jangan tunggu nanti atau esok, karena
ajal kita bukan berada di tangan kita, tapi di tangan Allah Rabbul ‘AlaminUstadz Fathuddin Ja'far, MA, Menyambut
Kematian, Eramuslim.com,Rabu, 14/04/2010
18:33 WIB].
Setiap berangkat
keranda pasti mengantarkan semua penumpangnya ke tujuan walaupun dilakukan satu
persatu dengan tertib, tidak terjadi desak-desakan menaikinya, kendaraan ini
hanya untuk satu penumpangnya yang dilakukan secara bergiliran. Sudah milyaran
penumpang diantarkannya menuju alam baru yang dinamakan dengan barzakh, semua
perjalanan yang dilakukan berjalan sukses, tak satupun penumpangnya yang kembali
sia-sia, kecuali dalam melanjutkan perjalanan berikutnya, setelah berada di
alam barzakh, keranda tidak bertanggungjawab lagi kepada penumpangnya,
kendaraan ini lansung kembali ke terminal mengejarkan trip yang harus dilakukan
segera, keranda selalu siap duapuluhempat jam kapanpun dibutuhkan.
Setelah keranda
diberhentikan, penumpang diturunkan, keranda kembali menuju tempat tugas
berikutnya, sedangkan penumpang akan berjalan sendiri menyelesaikan
perjalanannya, tanpa ada yang membantu dan tidak ada bantuan yang akan diterima
selain dari Allah SWT, walaupun dahulu ketika di dunia kita menyediakan segala
ajudan yang dapat membantu kita, ada fasilitas yang dapat mempermudah
perjalanan tapi ketika sampai di alam barzakh kita hanya sendiri melakukan segalanya.
Tak ada yang akan dapat
menolong kita kelak. Siapapun.Semuanya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri.
Mereka sudah tidak ada lagi kesempatan memikirkan orang lain. Seorang ayah
tidak lagi dapat menolong anaknya, isterinya, saudaranya, dan sebaliknya.Semuanya
harus sendiri-sendiri.Ketika menghadap Rabbul Alamin.Inilah kehidupan di
akhirat, kelak.
Orang-orang yang terbiasa
dengan pertolongan orang lain, ketika masih di dunia, pasti akan kecewa di
akhirat. Tidak mungkin lagi dapat mengharapkan bantuan dari orang lain, yang
selama di dunia sering menolongnya. Tidak ada tempat bergantung.Semuanya
manusia yang menjadi tempat gantungannya putus.Semuanya tak berarti apa-apa.Di
akhirat nanti manusia hanya dapat bergantung dengan amalannya selama di
dunia.Itulah satu-satu tempat bergantung.
Manusia akan mengeluh,
bersedih, dan menderita, yang sifatnya kekal. Mereka akan menerima musibah,
bencana, dan hukuman, semuanya bagian dari kehidupannya di dunia. Seperti
digambarkan dalam surah al-Waqi’ah, bagi golongan ‘kiri’ (ashabul syimal), yang
akan menerima ‘raport’ (cataran) kehidupannya selama di dunia dengan wajah yang
sangat masam, sedih.
Gambaran bagi orang-orang yang
menolak agama Allah, mendustakan, dan berbuat durhaka.Di dunia tak
merasakannya.Mereka hidup dengan gantungan orang-orang yang dianggap kuat,
memberikan perlindungan, kebahagiaan, dan serba lengkap dan melengkapi
kebutuhan dan keinginan hidupnya, sampai tidak lagi mempercayai Rabbul Alamin.
Tidak guna lagi
menangis.Bersedih.Meratap dengan nada yang pilu. Akibat dari apa yang sudah
diperbuatnya selama hidup di dunia. Mereka sangat asyik dengan kehidupan
dunia.Penuh dengan tawa.Lalai kewajibannya. Lalai akan nikmatnya. Lalai akan
pemberian yang diberikan Rabbul Alamin. Merasa segala yang didapatkan adalah hasil
pribadinya.Karena itu tak pernah merasa besyukur.Naluri hidupnya hanyalah
mengikuti hawa nafsunya. Tiba-tiba mereka harus mempertanggungjawabkan segala
apa yang sudah diperbuat selama di dunia. Sendiri-sendiri.
Rasulullah Shallahu alaihi wa
sallam bersabda :“Kamu menangis atau tidak sama saja. Demi
Allah yang menggenggam jiwaku, hai Jabir, para malaikat terus menaungi ayahmu
dengan sayap mereka mengangkatnya.Demi Allah yang menggenggam jiwaku, hai Jabir
sungguh Allah berbicara dengan ayahmu tanpa perantara. Dia berfirman :
“Berharaplah!” Dia berkata : “Saya berharap Engkau mengembalikan saya ke dunia
agar terbunuh lagi di jalan-Mu”. Allah berfirman ; “Tapi Aku telah menetapkan
bahwa yang mati tidak daspat kembali ke dunia lagi. Berharaplah (yang lain)!”
Dia berkata : “ Saya berharap Engkau ridho kepadaku sebab saya telah ridha
kepada-Mu. Allah berfirman : “Aku telah memberi keridhaan-Ku kepadamu. Aku
tidak akan murka kepadamu selamanya”.
Di akhirat nanti hanyalah
orang-orang yang mendapatkan ridha-Nya yang akan mendpatkan kebahagiaan. Bukan
manusia-manusia yang selama hidupnya mencari ridha manusia.Menjadikan manusia
sebagai sesembahan.Menjadikan manusia tempat bergantung dan meminta
pertolongan. Manusia yang telah menempatka manusia lainnya, sebagai sesembahan
dan tempat bergantung hidupnya, dia tidak akan pernah mendpatkan ridha dari
Allah Rabbul Alamin, di akhirat kelak.
Mereka hanya orang-orang yang
menyesali hidupnya.Mereka tidak lagi dapat bertemu dan mendapatkan pertolongan
dari orang-orang yang dahulunya di dunia telah memberikan mereka
pertolongan.Orang-orang yang dianggap hebat 'super'. Masing-masing orang hanya
akan mempertanggungjawabkan sesuai dengan amalnya. Sebesar apapun kekuasaan
manusia di dunia, yang disangka oleh manusia lainnya, yang dianggap dapat
memberikan pertolongan dan perlindungan itu, hanyalah akan menjadi sia-sia
dihadapan Allah Rabbul Alamin.[Mashadi,
Yakinilah Engkau Akan Datang Sendiri-Sendiri, eramuslim.com. Kamis,
18/11/2010 15:41 WIB].
Kadangkala kita yang menggotong mayat dalam keranda menuju
kuburan juga lupa bahwa kelak kita akan masuk keranda yang orang lain sebagai
pengendaranya, setelah keranda digunakan, kendaraan ini diletakkan begitu saja
di sudut masjid yang gelap tanpa ada yang mau menyentuhnya, atau diletakkan di belakang pekarangan masjid, dia tergeletak
sendiri seolah-olah tidak berharga, padahal sudah banyak penumpang
diantarkannya dan masih banyak lagi yang antri menanti keberangkatan, detiknya
datang barulah keranda diambil, dibersihkan, setelah penumpangnya dinaikkan
barulah keranda dihias sedikit agar lebih cerah dan indah, keranda seharusnya
menyadarkan siapa saja yang akan menaikinya agar perjalanan yang dilalui
walaupun sendiri tanpa banyak rintangan, wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar
12082011 di Metro Lampung, 17 Agustus 2011.M/ 17 Ramadhan 1432.H]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar