Rabu, 10 Februari 2016

189. Keranda



Ini adalah kendaraan terakhir yang akan dipakai oleh siapapun, kendaraan yang akan diikuti oleh sekian orang, mengantarkan penumpangnya menuju satu tempat yang harus dimasuki sedangkan pengantarnya hanya sampai di luar saja, kendaraan itu akan dipakai silih berganti sesuai dengan giliran masing-masing yang telah ditentukan oleh pemilik hidup ini, kendaraan ini terkesan menyeramkan karena kendaraan ini bernama Keranda yang digunakan untuk mengantar mayat ke kuburan, keranda membawa penumpangnya untuk menghadapi Khaliq, Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang dirindukan oleh para Pecintanya dan juga Tuhan bagi orang-orang yang melupakan-Nya karena kesibukan dan keindahan dunia yang menggelayut di hati manusia.

Kehidupan seseORang di dunia ini dimulai dengan dilahiRkan-nya seseORang daRi Rahim ibunya. Kemudian setelah ia hidup bebeRapa lama, iapun akan menemui sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindaRi, kenyataan sebuah kematian yang akan menjemput-nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala beRfiRman: “Tiap-tiap jiwa akan meRasakan kematian dan sesungguhnya pada haRi kiamatlah akan disempuRnakan pahalamu, baRangsiapa yang dijauhkan daRi neRaka dan dimasukkan ke dalam suRga, maka sungguh ia telah beRuntung dan kehidupan dunia hanyalah kehi-dupan yang mempeRdaya-kan”. (Ali-ImRan: 185) 

Ayat di atas adalah meRupakan ayat yang agung yang apabila dibaca mata menjadi beRkaca-kaca. Apabila didengaR Oleh hati maka ia menjadi gemetaR. Dan apabila didengaR Oleh seseORang yang lalai maka akan membuat ia ingat bahwa diRinya pasti akan menemui kematian.

Memang peRjalanan menuju akhiRat meRupakan suatu peRjalanan yang panjang. Suatu peRjalanan yang banyak aRal dan cObaan, yang dalam menempuhnya kita memeRlukan peRjuangan dan pengORbanan yang tidak sedikit. Yaitu suatu peRjalanan yang menentukan apakah kita teRmasuk penduduk suRga atau neRaka.
PeRjalanan itu adalah kematian yang akan menjemput kita, yang kemudian dilanjutkan dengan peRtemuan kita dengan alam akhiRat. KaRena keagungan peRjalanan ini, Rasulullah telah beRsabda:“Andai saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit teRtawa dan banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih)
Maksudnya apabila kita tahu hakekat kematian dan keadaan alam akhiRat seRta kejadian-kejadian di dalamnya niscaya kita akan ingat bahwa setelah kehidupan ini akan ada kehidupan lain yang lebih abadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala beRfiRman: Dan kehidupan akhiRat itu lebih baik dan lebih kekal. (Al-A’la: 17).
Akan tetapi kadang kita lupa akan peRjalanan itu dan lebih memilih kehidupan dunia yang tidak ada nilainya di sisi Allah.MaRilah kita siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyempuRnakan peRjalanan itu, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah .Dan maRilah kita peRbanyak taubat daRi segala dOsa-dOsa yang telah kita lakukan. SeORang penyaiR beRkata: Lakukanlah bagimu taubat yang penuh penghaRapan. Sebelum kematian dan sebelum dikuncinya lisan.Cepatlah beRtaubat sebelum jiwa ditutup.Taubat itu sempuRna bagi pelaku kebajikan.Allah Subhannahu wa Ta'ala’ beRfiRman: “Hai ORang-ORang yang beRiman, beRtaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semuRni-muRninya”. (At-TahRim: 8)[Agus hasan BashORi, Lc, Mengingat Kematian,:: COmpiled by oRiDo™].

Dunia telah menjadikan manusia lupa untuk menyewa keranda, lebih asyik dengan mobil, kapal, kereta api ataupun pesawat terbang yang tidak sedikit dibutuhkan dana untuk membeli tiketnya padahal kendaraan ini hanya mengantarkan penumpangnya antar kota dalam dunia, sedangkan keranda akan mengantar penumpang ke alam lain yang lebih baik dan pasti. Dunia telah menjadikan manusia lupa untuk mempersiapkan bekal kepergiannya, padahal bekal perjalanan dengan keranda hanya membutuhkan iman dan amal shaleh, banyak manusia yang hidupnya di dunia bergelimang kesenangan dan maksiat, melupakan iman dan amal shaleh, padahal keranda mengantarkan kematian untuk mengakhiri kehidupan. Orang yang enggan naik Keranda kelak akan dipaksa untuk menaiki, suka ataupun tidak karena keranda bukan hanya untuk orang yang beriman dan beramal shaleh saja, tapi juga untuk orang-orang yang durhaka kepada Allah dan melupakan kematian.

Saat ini, banyak orang yang hidup sesukanya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam menjalani hidup, ia tak peduli halal-haram. Dalam kamus hidupnya hanya satu: yang penting enak, nikmat! Mereka antara lain pelaku seks bebas, pemabuk/penikmat narkoba dan tentu saja kalangan hedonis lainnya. Setiap hari yang mereka kejar hanyalah kesenangan.Mereka tak mau dipusingkan oleh masalah.

Saat ini pun tak sedikit orang yang begitu dalam cintanya kepada seseorang; entah kepada pasangan hidupnya, pujaan hatinya, anak-anaknya, kedua orang-tuanya, dll.Begitu dalamnya cintanya kepada seseorang tersebut hingga melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Akibatnya, ia menomorduakan Allah SWT dan Rasul-Nya serta menomor-satukan seseorang yang ia cintai. Bukan-kah tak sedikit orang mengorbankan agama demi menyenangkan orang-orang yang ia cintai. Bukankah banyak orang mau mengorbankan apa saja, termasuk agamanya, demi menyenangkan dan membahagiakan pasangan hidup yang dia cintai? Banyak pula orang yang tergila-gila mencintai sesuatu; entah harta-kekayaan, jabatan, pangkat,  kehormatan, hobi dll. Begitu cintanya pada sesuatu itu, ia pun tak jarang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukankah tak sedikit orang yang menggadaikan agamanya demi mengejar kekayaan, jabatan, pangkat, kehormatan atau bahkan hobi?Bukankah ada orang yang nekad melakukan suap-menyuap demi pangkat/jabatan; melaku-kan manipulasi demi meraih gelar/kehor-matan; atau menghabiskan waktu berjam-jam seharian (juga tenaga, pikiran dan tentu saja uang) demi memuaskan hobi-nya hingga lupa shalat, baca Alquran atau berzikir kepada Allah SWT?

Jika kita termasuk ke dalam orang-orang yang semacam ini, layaklah kita merenungkan sebuah hadits, sebagaimana yang dituturkan Sahal bin Saad, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: Jibril pernah berkata, ”Muhammad, hiduplah sesukamu, namun sesungguhnya akhir kehidupanmu adalah kematian; cintailah siapa saja sekehendakmu, tetapi sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; lakukanlah apa saja semaumu, namun sesungguhnya engkau akan diberi balasan.” (HR al-Hakim, al-Haitsami dan ath-Thabrani).

Sayang, meski banyak orang tahu bahwa ujung kehidupan adalah kematian dan kefanaan, faktanya mereka menjalani hidup ini seolah-olah kehidupan itu abadi dan tak bertepi. Akibatnya, mereka terus menumpuk harta-kekayaan, sesuatu yang pasti akan mereka tinggalkan; terus mengejar pangkat dan jabatan, sesuatu yang pasti akan mereka tanggalkan; serta terus mereguk berbagai macam kese-nangan, sesuatu yang pasti segera terlupakan. Tak jarang semua itu semakin menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Tak jarang semua itu menjadikan dirinya lupa mempersiapkan amal kebajikan, bekal pasca kematian, sesuatu yang justru akan menjadi satu-satunya teman di Hari Penghisaban. Tak jarang pula semua itu menjadikan dirinya bakhil, terus menuruti hawa nafsu dan cenderung berbangga diri. Semua itu pada akhirnya menghancurkan dirinya.[Kematian, Perpisahan dan Penghisaban, Mediaummat.com.Thursday, 20 May 2010 18:20].

Kematian adalah suatu kepastian.Ia akan datang tepat waktu, tanpa bisa dimajukan atau diundurkan, kendati barang sedetik. Saat menghadapi kematian, petugas pencabut nyawa, Malakul Maut akan menyelesaikan tugasnya dengan sangat sempurna. Jika Anda adalah orang yang sukses menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khilafah dengan baik ketika hidup di atas bumi Allah ini, maka Malakul Maut datang dengan penampilan yang sangat sopan, berpakaian putih bersih dengan aroma harum kasturi. Sambil tersenyum ia mencabut nyawa dari badan Anda dengan sangat hati-hati sehingga nyaris tidak Anda rasakan.

Ketika Anda menghembusakan nafas terakhir sambil mengucapkan Laa Ilaaha Illallah (Tiada tuhan yang pantas disembah selain Allah), orang-orang di sekitar Anda akan melihat wajah Anda yang berseri-seri sambil tersenyum simpul. Anda bisa tersenyum karena mengetahui bahwa Anda adalah orang yang akan meraih Great Success (Kesuksesan Tanpa Batas), yakni akan masuk syurga, insyaa Allah.

Suasana di sekeliling Anda tiba-tiba berubah menjadi isak tangis dan kesedihan yang mendalam yang diekspresikan oleh anak, isteri, karib kerabat, sahabat, teman sejawat Anda yang sempat hadir menyaksikan peristiwa perpisahan sementara dengan Anda.Suasananya sangat kontras dengan ketika Anda memasuki fase kehidupan dunia, yakni ketika lahir sekian puluh tahun yang lalu.Ketika itu, Anda yang berteriak menangis sejadi-jadinya, sedang orang-orang yang ada di sekitarnya malah tersenyum dan tertawa.Sekarang suasana jadi terbalik, giliran Anda yang tersenyum dan mereka yang menangis sejadi-jadinya.

Kematian itu adalah haq.Ia datang hanya satu kali, kendati banyak sebab kematian. Kematian adalah kematian.Apakah Anda mati karena tertimbun tanah longsor, atau tenggelam dalam laut atau menjadi debu karena hangus terbakar atau dibakar saudara atau teman Anda sendiri?Apakah Anda menjemput Kematian disebabkan gempa bumi, tsunami, atau disebabkan tabrakan atau narkoba?Apakah Anda melewatinya sendiri dengan bunuh diri atau mati dibunuh di jalan Allah atau di jalan Setan? Apapun sebab kematian, kematian adalah kematian yang berfungsi untuk mengakhiri kehidupan manusia di dunia, untuk kemudian diteruskan perjalanannya menuju alam Barzakh (pemisah), sambil menunggu kiamat atau kehancuran alam semesta, dan kemudian kebangkitan, mahsyar (perhimpunan raksasa) dan seterusnya, syurga atau neraka yang akan menjadi tempat Anda.

Kalau demikian halnya, pertanyaannya adalah : Sudahkah Anda siap menyambut kematian yang pasti datang saat waktunya tiba? Apa yang sudah Anda persiapkan untuk menyambutnya? Ataukah Anda tetap dalam kelalaian, kebodohan, kedurhakaan dan kesombongan terhadap Allah, Raja alam semesta dan Rasulullah, teladan semua manusia?Sekarang saatnya Anda jawab pertanyaan-pertanyaan itu. Jangan sampai menunggu kematian itu tiba, nanti Anda akan sangat menyesal dan penyesalan saat kematian tiba tidak akan ada gunanya; sudah terlambat, seperti yang Allah jelaskan dalam surat Al-Mukmin berikut :
Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: Ya Tuhan Penciptaku, kembalikan aku kembali (ke dunia) agar aku berbuat amal shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja (tidak akan didengar Tuhan Pencipta). Dan di hadapan mereka ada barzakh (pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan. (Q.S. Al-Mu’min /23 : 99-100)

Sebelum terlambat, mari kita jemput kematian dengan penuh keyakinan dan kesiapan. Persiapkan diri dari saat ini, detik ini. Jangan tunggu nanti atau esok, karena ajal kita bukan berada di tangan kita, tapi di tangan Allah Rabbul ‘AlaminUstadz Fathuddin Ja'far, MA, Menyambut Kematian, Eramuslim.com,Rabu, 14/04/2010 18:33 WIB].

Setiap berangkat keranda pasti mengantarkan semua penumpangnya ke tujuan walaupun dilakukan satu persatu dengan tertib, tidak terjadi desak-desakan menaikinya, kendaraan ini hanya untuk satu penumpangnya yang dilakukan secara bergiliran. Sudah milyaran penumpang diantarkannya menuju alam baru yang dinamakan dengan barzakh, semua perjalanan yang dilakukan berjalan sukses, tak satupun penumpangnya yang kembali sia-sia, kecuali dalam melanjutkan perjalanan berikutnya, setelah berada di alam barzakh, keranda tidak bertanggungjawab lagi kepada penumpangnya, kendaraan ini lansung kembali ke terminal mengejarkan trip yang harus dilakukan segera, keranda selalu siap duapuluhempat jam kapanpun dibutuhkan.

Setelah keranda diberhentikan, penumpang diturunkan, keranda kembali menuju tempat tugas berikutnya, sedangkan penumpang akan berjalan sendiri menyelesaikan perjalanannya, tanpa ada yang membantu dan tidak ada bantuan yang akan diterima selain dari Allah SWT, walaupun dahulu ketika di dunia kita menyediakan segala ajudan yang dapat membantu kita, ada fasilitas yang dapat mempermudah perjalanan tapi ketika sampai di alam barzakh kita hanya sendiri melakukan segalanya.

Tak ada yang akan dapat menolong kita kelak. Siapapun.Semuanya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Mereka sudah tidak ada lagi kesempatan memikirkan orang lain. Seorang ayah tidak lagi dapat menolong anaknya, isterinya, saudaranya, dan sebaliknya.Semuanya harus sendiri-sendiri.Ketika menghadap Rabbul Alamin.Inilah kehidupan di akhirat, kelak.

Orang-orang yang terbiasa dengan pertolongan orang lain, ketika masih di dunia, pasti akan kecewa di akhirat. Tidak mungkin lagi dapat mengharapkan bantuan dari orang lain, yang selama di dunia sering menolongnya. Tidak ada tempat bergantung.Semuanya manusia yang menjadi tempat gantungannya putus.Semuanya tak berarti apa-apa.Di akhirat nanti manusia hanya dapat bergantung dengan amalannya selama di dunia.Itulah satu-satu tempat bergantung.

Manusia akan mengeluh, bersedih, dan menderita, yang sifatnya kekal. Mereka akan menerima musibah, bencana, dan hukuman, semuanya bagian dari kehidupannya di dunia. Seperti digambarkan dalam surah al-Waqi’ah, bagi golongan ‘kiri’ (ashabul syimal), yang akan menerima ‘raport’ (cataran) kehidupannya selama di dunia dengan wajah yang sangat masam, sedih.

Gambaran bagi orang-orang yang menolak agama Allah, mendustakan, dan berbuat durhaka.Di dunia tak merasakannya.Mereka hidup dengan gantungan orang-orang yang dianggap kuat, memberikan perlindungan, kebahagiaan, dan serba lengkap dan melengkapi kebutuhan dan keinginan hidupnya, sampai tidak lagi mempercayai Rabbul Alamin.

Tidak guna lagi menangis.Bersedih.Meratap dengan nada yang pilu. Akibat dari apa yang sudah diperbuatnya selama hidup di dunia. Mereka sangat asyik dengan kehidupan dunia.Penuh dengan tawa.Lalai kewajibannya. Lalai akan nikmatnya. Lalai akan pemberian yang diberikan Rabbul Alamin. Merasa segala yang didapatkan adalah hasil pribadinya.Karena itu tak pernah merasa besyukur.Naluri hidupnya hanyalah mengikuti hawa nafsunya. Tiba-tiba mereka harus mempertanggungjawabkan segala apa yang sudah diperbuat selama di dunia. Sendiri-sendiri.

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda :“Kamu menangis atau tidak sama saja. Demi Allah yang menggenggam jiwaku, hai Jabir, para malaikat terus menaungi ayahmu dengan sayap mereka mengangkatnya.Demi Allah yang menggenggam jiwaku, hai Jabir sungguh Allah berbicara dengan ayahmu tanpa perantara. Dia berfirman : “Berharaplah!” Dia berkata : “Saya berharap Engkau mengembalikan saya ke dunia agar terbunuh lagi di jalan-Mu”. Allah berfirman ; “Tapi Aku telah menetapkan bahwa yang mati tidak daspat kembali ke dunia lagi. Berharaplah (yang lain)!” Dia berkata : “ Saya berharap Engkau ridho kepadaku sebab saya telah ridha kepada-Mu. Allah berfirman : “Aku telah memberi keridhaan-Ku kepadamu. Aku tidak akan murka kepadamu selamanya”.
Di akhirat nanti hanyalah orang-orang yang mendapatkan ridha-Nya yang akan mendpatkan kebahagiaan. Bukan manusia-manusia yang selama hidupnya mencari ridha manusia.Menjadikan manusia sebagai sesembahan.Menjadikan manusia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Manusia yang telah menempatka manusia lainnya, sebagai sesembahan dan tempat bergantung hidupnya, dia tidak akan pernah mendpatkan ridha dari Allah Rabbul Alamin, di akhirat kelak.

Mereka hanya orang-orang yang menyesali hidupnya.Mereka tidak lagi dapat bertemu dan mendapatkan pertolongan dari orang-orang yang dahulunya di dunia telah memberikan mereka pertolongan.Orang-orang yang dianggap hebat 'super'. Masing-masing orang hanya akan mempertanggungjawabkan sesuai dengan amalnya. Sebesar apapun kekuasaan manusia di dunia, yang disangka oleh manusia lainnya, yang dianggap dapat memberikan pertolongan dan perlindungan itu, hanyalah akan menjadi sia-sia dihadapan Allah Rabbul Alamin.[Mashadi, Yakinilah Engkau Akan Datang Sendiri-Sendiri, eramuslim.com. Kamis, 18/11/2010 15:41 WIB].

Kadangkala kita yang menggotong mayat dalam keranda menuju kuburan juga lupa bahwa kelak kita akan masuk keranda yang orang lain sebagai pengendaranya, setelah keranda digunakan, kendaraan ini diletakkan begitu saja di sudut masjid yang gelap tanpa ada yang mau menyentuhnya, atau diletakkan  di belakang pekarangan masjid, dia tergeletak sendiri seolah-olah tidak berharga, padahal sudah banyak penumpang diantarkannya dan masih banyak lagi yang antri menanti keberangkatan, detiknya datang barulah keranda diambil, dibersihkan, setelah penumpangnya dinaikkan barulah keranda dihias sedikit agar lebih cerah dan indah, keranda seharusnya menyadarkan siapa saja yang akan menaikinya agar perjalanan yang dilalui walaupun sendiri tanpa banyak rintangan, wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 17 Agustus 2011.M/ 17 Ramadhan 1432.H]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar