Tak satu orangpun di
dunia ini yang tidak suka dengan Duit atau sebutan lain Uang, bahkan
anak-anakpun sudah mengerti apa fungsi dan peran duit dalam kehidupan, selain
sebagai alat tukar, melakukan transaksi jual beli juga merupakan kekayaan
seseorang. Orang medan menyebutnya Hepeng, orang Minang bilang Pitih, fulus
kata orang Arab dan Money kata orang Inggris.
Di seantero dunia orang mengejar duit dengan berbagai pekerjaan dan
profesi, karena pentingnya benda ini sehingga kadangkala tanpa memperhatikan
darimana diperolehnya, jadilah benda itu diperoleh dengan cara haram, korupsi
dan manipulasi membuat orang nekat melakukannya. Walaupun demikian kitapun
tidak dianjurkan untuk membelakangi kepentingan dunia ini, boleh mempunyai
finansial berupa duit dan tidak terlarang punya harta untuk menopang kehidupan
ini sebagaimana halnya para sahabat Nabi juga banyak yang punya kekayaan, tapi
mereka peroleh dan gunakan kekayaannya itu secara halal.
Mencari nafkah [ma'isyah] adalah
aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kehidupannya dengan bekerja, apapun
jenis pekerjaan yang ditekuni selama baik dan halal adalah terpuji, apakah
sebagai pedagang, petani, buruh, pegawai negeri, anggota dewan, polisi, tentara
ataupun pengacara hingga menteri ataupun Presiden, kegiatan ini banyak mengandung pahala
didalamnya, dengan ma'isyah seseorang berupaya untuk mencari yang halal karena
memang demikian anjurannya,"Mencari rezeki yang halal
adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll)''.(HR.
Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Dalam kehidupan sehari-hari
Rasulullah mencontohkan kepada ummatnya pentingnya mencari rezeki yang halal,
sebab barang haram akan mempengaruhi mental dan kepribadian seseorang.
Idealnya, biarlah kita kaya raya asal semua diperoleh dari yang halal, namun
sangat rusak seseorang bila sedikit atau banyak hartanya bergelimang dengan
haram, baik haram zatnya, cara memperolehnya atau membelanjakannya, Allah
memperingatkan kita semuanya melalui nabinya; “Hai orang-orang yang beriman,
makanlah di antara rezki yang baik-baik
yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar
kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]
Seorang ummahat dizaman Rasulullah dahulu, bila suaminya
berangkat kerja mencari nafkah, di depan pintu dia berpesan kepada suaminya,”Silahkan
pergi mencari nafkah sebanyak-banyaknya namun yang halal, jangan kau bawa ke
rumahku ini harta yang haram meskipun sedikit”.
Dalam
kitab Shahih Muslim, sahabat Abu Umamah al-Bahili RA meriwayatkan
hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang merampas hak seorang
Muslim dengan sumpahnya, Allah akan menetapkan dia masuk neraka dan
mengharamkannya masuk surga."Seorang sahabat kemudian bertanya,
"Meskipun yang dirampas itu sesuatu yang kecil, wahai
Rasulullah?"Nabi SAW menjawab, "Meskipun hanya sebatang kayu
arak."
Kayu
arak adalah kayu yang biasa dipakai untuk bersiwak (gosok gigi), dan bagi orang
Arab waktu itu, kayu arak adalah sesuatu yang nilainya sangat rendah. Ini
artinya seseorang yang merampas hak orang lain atau mengambil harta secara
tidak sah kendati nilai harta itu sangat rendah, di akhirat nanti ia akan
dimasukkan ke dalam neraka dan diharamkan masuk surga. Apabila mengambil harta
orang lain dengan cara yang tidak sah satu rupiah saja, Allah akan mengharamkan
yang bersangkutan masuk surga, apalagi apabila yang diambil itu miliaran bahkan
triliunan rupiah.
Dalam
hadis ini, Nabi SAW memang menyebutkan dua hal dalam perampasan itu.Pertama,
harta milik Muslim.Dan kedua, merampasnya dengan menggunakan sumpah.Hal ini
karena //sabab wurud (background) dari hadis tadi adalah ada dua orang Muslim,
masing-masing dari Hadramaut dan Kindah di Yaman yang bersengketa atas sebidang
tanah.Orang yang dari Hadramaut berkata, "Wahai Rasulullah, orang Kindah
ini merampas tanah warisan dari ayah saya."Sementara orang yang dari
Kindah mengaku bahwa tanah itu adalah miliknya, orang Hadramaut tadi tidak
punya hak atas tanah itu.Ketika Nabi SAW menanyakan bukti kepemilikan atas
tanah itu kepada orang Hadramaut, dia menjawab tidak punya maka nabi
mempersilakan orang Kindah tadi untuk bersumpah.
Orang
Hadramaut tadi lalu berkata, "Wahai Rasulullah, orang itu curang, dia
tidak peduli dengan sumpahnya, dia juga tidak menjaga diri dari perbuatan
haram." Nabi SAW menjawab, "Bagi kamu tidak ada cara lain kecuali itu
tadi. Nabi kemudian menyumpah orang Kindah tadi dan bersabda seperti hadis di
atas. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW mengatakan, "Siapa yang merampas
tanah dengan cara zalim maka di akhirat nanti Allah akan memurkainya." [Prof Dr KH Ali Mustafa
Yaqub, Rupiah Penghalang Surga ,Republika.co.id.Selasa, 02
Agustus 2011 10:14 WIB].
Keluarga yang shaleh dan
shalehah akan menjaga dirinya dari rezeki yang haram, karena rumah tangga yang
baik adalah rumah tangga yang selalu mengumpulkan rezeki dari yang halal dan
hasil yang halal itu mengujudkan kebahagiaan bagi yang memperolehnya, demikian
pula halnya Allah menyukai hamba-Nya yang mencari rezeki halal walaupun dengan
susah payah, "Sesungguhnya Allah Ta'ala senang melihat hambaNya
bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yanghalal.(HR.Ad-Dailami).
Suatu
hari Abdullah bin Abbas memakai pakaian paling indah dan mahal, berharga 10.000
dirham. Beliau bermaksud mengadakan dialog dengan kaum Khawarij yang
memberontak. Orang Khawarij adalah golongan yang kuat beribadah tetapi
meminggirkan ilmu dan tidak mau mempelajari al-Quran, fiqih dan hadits
Rasulullah SAW.Mereka terkenal sebagai kaum yang picik, fanatik, puritan dan
membenci siapa saja yang berseberangan paham dengan mereka.
Abdullah bin Abbas mandi dan
memakai parfum paling harum, menyikat rambutnya serta mengenakan pakaian indah
dan bersih. Beliau akan berhadapan dengan orang-orang picik yang memakai baju
tebal dan tambalan, muka yang berdebu serta kusut masai.
Mereka berkata, “Kamu
adalah anak bapak saudara Rasulullah SAW.Mengapa kamu memakai pakaian seperti
ini? Abdullah bin Abbas menjawab, “Apakah kalian lebih tahu mengenai
Rasulullah SAW dibanding saya? Mereka berkata, “Tentulah kamu yang
lebih tahu.”Abdullah berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku dalam
genggaman-Nya, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah SAW berpakaian dengan
mengenakan perhiasan berwarna merah dan itu adalah sebaik-baik perhiasan.”
Aisyah pada suatu ketika
melihat sekumpulan pemuda berjalan dalam keadaan lemah, pucat dan kelihatan
malas.Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu?”Sahabat menjawab, “Mereka
itu adalah kumpulan ahli ibadat.”Kemudian Aisyah berkata, “Demi Allah,
yang tiada Tuhan selain-Nya. Sesungguhnya Umar bin al-Khattab adalah orang yang
lebih bertaqwa dan lebih takut kepada Allah dibanding mereka itu. Kalau
beliau berjalan, beliau berjalan dengan cepat dan tangkas. Apabila
bercakap, beliau dalam keadaan berwibawa, jelas kedengaran percakapannya dan
apabila beliau memukul, pukulannya terasa sakit.”
Pemahaman picik kaum khawarij
adalah akibat memahami Islam secara tidak kaaffah (menyeluruh), memberatkan
masalah ibadat yang sebenarnya mudah, sampai ke tahap berlebih-lebihan dan
menyusahkan diri.
Begitulah keadaan sebahagian
umat Islam yang lupa kepada wasiat Rasulullah SAW yang disampaikan kepada
sahabatnya, Muaz bin Jabal ketika beliau dikirim menjadi Duta dakwah ke negeri
Yaman. Kata Nabi saw: “Wahai Muaz, mudahkanlah setiap urusan, jangan memberat-beratkannya.”
Apakah Islam mengajarkan untuk
membenci dunia?Kalau begitu, mengapa Abu Bakar al-Siddiq berbangga dengan harta
kekayaannya untuk membela agama Allah? Begitu juga dengan Abdul Rahman bin Auf
dan Utsman bin ‘Affan yang mengeluarkan hartanya untuk membiayai jihad di jalan
Allah dengan dana dari kantong mereka sendiri.
Adakah Rasulullah SAW melarang
mereka bekerja sungguh-sungguh untuk meraih keuntungan duniawi?
Bahkan di dalam al-Quran,
Allah menegaskan bahwa jihad dalam menegakkan agama Allah wajib memiliki bekal
persiapan. Firman-Nya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa
saja dari segala jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dari pasukan berkuda
yang lengkap untuk menggetarkan musuh Allah dan musuh-musuhmu.” (Surah
al-Anfal, ayat 60)
Bagaimanakah Islam akan menang
jika umatnya adalah mereka yang berada dalam skala Negara Dunia Ketiga? Negara
miskin dan terbelakang serta dikuasai oleh musuhnya. Apabila mereka hendak
membeli makanan, mereka terpaksa meminta belas kasih orang lain.
Apakah zuhud itu berarti
membiarkan dunia dimiliki dan dikuasai oleh musuh Allah? Sedangkan Khalifah
Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Apabila emas seberat gunung
diamanahkan kepadaku, aku tidak akan tidur selagi ia tidak habis dimanfaatkan
untuk umat Islam.”
Sebagai panduan bersama,
ingatlah pandangan Shaikhul Islam al-Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata: “Zuhud
itu adalah kamu meninggalkan perbuatan yang tidak berfaedah untuk akhiratmu.”
Harta yang halal hendaklah
dipastikan dikeluarkan juga pada tempat yang halal.Jangan mencari pada sumber
yang halal’ tetapi membelanjakannya pada jalan maksiat.Atau kebalikannya,
mengambil dari sarang penyamun dan membelanjakannya untuk ibadat.
Itu semua bertentangan dengan
perintah Allah. Orang beriman percaya harta adalah titipan dan amanah Allah,
pinjaman sementara dan apabila Allah menghendaki akan lenyaplah harta itu dari
tangan kita. Cukuplah harta itu ada dalam genggaman, tetapi tidak menguasai
hati kita.[Kekuatan Finansial (Quwwatul Maal), Bagian ke-1,dakwatuna.com.18/1/2010
| 01 Shafar 1431 H].
Duit yang banyak, harta yang
berlimpah, fasilitas hidup yang mewah dan segala kesenangan lahiriah melimpah
merupakan ujian bagi siapapun pemiliknya, perlakukanlah duit itu sebagaimana
fungsinya yaitu sebagai alat tukar dan alat untuk membeli sesuatu yang
dibutuhkan tapi jangan berlebih-lebihan, banyak kegunaan duit bagi seorang
muslim terutama untuk pribadi, keluarga dan kepentingan ummat, janganlah harta
yang dimiliki sebagai sarana untuk mengagungkan diri dan membangga-banggakan
kelebihan kepada orang lain.
Harta bukan simbol
keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia
semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin
terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat
apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada
cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih
ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal
dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka
sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta
semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa
yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang
yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah
justru mereka stress. Banyak para artis justru menderita setelah memiliki
harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol
keberhasilan.
Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya. [DR. Amir Faishol Fath, Rahasia Harta, Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H].
Dari
sekian orang yang punya duit atau uang memadai untuk menanggulangi biaya
hidupnya secara pribadi dan keluarga bahkan bisa untuk menabung serta membeli
berbagai kebutuhan hidup yang layak sebagai seorang yang punya walaupun belum
dikatakan kaya, tidak sedikit pula kita temukan adanya orang yang sulit dalam
keuangannya sehingga harus banting tulang dan memeras keringat untuk meraih
rupiah, namun rezeki belum kunjung datang.
Saat kondisi keuangan belum
juga pulih dan sehat, jangan pernah mencari kesalahan dari jumlah gaji yang
diterima setiap bulan. Utang kartu kredit yang tak pernah lunas, rekening
tabungan yang tak kunjung penuh terisi, atau bertahun-tahun kerja tapi belum
juga punya aset seperti mobil atau rumah, apapun kondisi keuangan yang membuat
Anda gelisah bukan disebabkan karena gaji yang menurut Anda rendah. Kebiasaan
dalam mengelola keuangan lebih memengaruhi kondisi finansial Anda saat ini.
Perencana keuangan, Ligwina Poerwo-Hananto
menjelaskan, jika ingin menjadi sosok baru dengan keuangan yang lebih sehat,
ubahlah kebiasaan dan mulailah menambah aset.Untuk bisa melakukan dua hal
penting ini, Anda harus berkomitmen menjalani pengelolaan keuangan yang lebih
terencana.
"Perencanaan
keuangan merupakan cara sistematis untuk memperbaiki kondisi keuangan. Tidak
pernah ada cara yang sama secara terus-menerus dalam merencanakan keuangan.
Selalu ada cara baru dalam mengelola uang. Sesuatu yang dijalankan sistematis
ini lama-kelamaan akan menjadi otomatis dan menjadi kebiasaan dalam diri
seseorang, inilah yang berperan penting untuk memperbaiki kondisi
keuangan," jelas Ligwina dalam talkshow keuangan beberapa waktu
lalu.
Mengubah
kebiasaan
Kondisi
keuangan yang kusut lebih disebabkan karena kebiasaan yang keliru dalam
menggunakan uang.Untuk mengatasinya, identifikasi masalah dan kenali diri
sendiri. Jalani gaya hidup sesuai dengan level yang Anda mampu, kata Ligwina.
"Kenali, Anda pantas hidup dengan gaya hidup seperti apa," lanjutnya.
Menambah
asset
Kalau
sudah bekerja, Anda harus bisa menghasilkan sesuatu, termasuk aset lancar
seperti tabungan, deposito, atau reksadana, kata Ligwina.Setiap tahun aset ini
harus ada peningkatan."Fresh graduate yang punya tabungan Rp 3 juta
di rekeningnya akan lebih bermartabat daripada mereka yang bekerja
bertahun-tahun namun tak punya tabungan," tegas Ligwina.
Tak perlu malu jika saat ini Anda sedang menyicil rumah
atau mobil, karena Anda tengah menambah aset.Setidaknya, kerja keras Anda membangun
karier dan pekerjaan membuahkan hasil.Jika sudah lama bekerja namun belum juga
menghasilkan aset, saatnya melakukan refleksi diri, dan segera perbaiki kondisi
finansial Anda dengan perencanaan keuangan yang lebih sehat.
Mulailah berkomitmen
Sebagai
langkah awal, jika punya kartu kredit, lunasi utang kartu kredit Anda 100
persen."Boleh pakai kartu kredit Anda asalkan utang lunas 100
persen," tegas Ligwina.Gunakan uang sesuai posnya dengan membedakan kartu
kredit sehari-hari dengan kartu kredit untuk bersenang-senang."Pisahkan
kartu kredit hari-hari dengan kartu kredit untuk hura-hura," saran
Ligwina.
Lalu, buatlah komitmen kuat pada diri
sendiri untuk menyisihkan 10-30 persen dari penghasilan untuk tabungan.Saat
menerima gaji, segera potong untuk tabungan, jadi jangan menyisihkannya di
belakang setelah memenuhi hasrat belanja Anda.Selain itu batasi jumlah cicilan
karena gaji Anda terbatas. Praktekkan rumus belanja untuk menyelamatkan keuangan Anda.[3
Kiat Agar Keuangan Lebih Sehat,Kompas.com.Rabu, 16/2/2011 | 13:18 WIB].
Selain
tiga hal diatas, dalam tulisan yang dimuat pada media ummat dinyatakan tentang
teknik mengelola keuangan dengan bijak.Hal
yang perlu diperhatikan adalah mengutamakan pengeluaran yang bersifat wajib dan
tidak bisa ditunda. Karena itu, beberapa hal berikut bisa dipraktikkan:
1. Skala Prioritas
Prioritaskan
belanja untuk kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah) seperti makan dan
minum. Ini tidak bisa dihilangkan, harus dipenuhi. Sisihkan secara khusus
uang belanja untuk beli beras, susu anak, telur, bumbu, gula, dan sejenisnya.
Namun pos ini masih bisa dihemat, semisal mengurangi minuman manis (gula), teh,
kopi, dll.
Juga,
untuk sementara singkirkan anggaran beli krupuk, sambal, bakso, mi ayam
dan jajanan anak yang tidak bergizi. Memang, anak butuh ngemil, mungkin bisa
dibuatkan alternatif makanan yang murah tapi tetap sehat.Seperti memilih buah
pisang yang harganya relatif terjangkau.
2. Utamakan Pengeluaran Reguler
Pengeluaran rutin berupa iuran sekolah anak, rekening
listrik, air, telepon, pulsa, dan uang sampah. Pos ini bisa ditekan dengan
berhemat cara pemakaiannya. Termasuk pengeluaran untuk komitmen dakwah,
usahakan tidak diutak-atik. Insya Allah dengan niat menolong agama Allah, kita
akan dapat pengganti yang lebih baik.
3. Mencari Alternatif
Dalam membelanjakan uang, bisa memilih
alternatif-alternatif yang bisa menghemat pengeluaran.Sedikit menurunkan
kualitas hidup, tidak mengapa, asal segala kebutuhan bisa terpenuhi.Misal, jika
semula kuat beli beras nomor satu, sekarang cukup nomor dua.Bila sebelumnya
makan daging seminggu tiga kali, cukup dua atau bahkan sekali. Bila sebelumnya
memakai deterjen merek terkenal, carilah deterjen lain yang lebih miring
harganya. Toh fungsinya sama, pencuci pakaian. Dengan begitu pengeluaran bisa
ditekan.
4. Mencari Penghasilan Tambahan
Kenapa tidak?Saat ini hampir semua orang punya bisnis
sampingan.Jual pulsa, produk herbal, bisnis online, kredit barang elektronik,
dll.Asalkan halal, layak dicoba.Penghasilan tambahan ini bisa menunjang
kebutuhan sekunder dan tersier, seperti belanja fashion keluarga, mebel rumah
tangga atau barang elektronik.Bahkan, jika mendapat rezeki cukup, bisa
menyisihkan untuk berinfak di jalan Allah.
5. Manajemen Tertulis
Catatan pendapatan dan pengeluaran akan menjadi pengontrol
yang sangat baik dalam mengendalikan isi dompet. Pengeluaran tiap hari
hendaknya dicatat sehingga terlihat masih berapa sisa uang hari itu, atau hari
itu sudah membelanjakan seberapa banyak uang.Memang butuh komitmen tinggi untuk
melakukannya tapi bisa dicoba dari sekarang.
6. Belanja Sesuai Kebutuhan
Ini tips yang sangat klise, tapi memang kerap dilanggar. Di
antaranya, membuat daftar belanja rutin untuk barang yang dibutuhkan setiap
bulan sesuai budget.Belanja di pusat perkulakan sehingga harga lebih mahal.
Membeli barang dengan jumlah yang lebih banyak akan lebih menguntungkan karena
lebih murah. Ini tentunya baru dapat dilakukan jika cash flow memungkinkan.
Pandai-pandailah memilih barang yang berkualitas cukup baik dengan harga
ekonomis.Belanjalah dalam kondisi perut kenyang sehingga tak perlu jajan di
luar.Nah, selamat berhemat [Mengelola Pengeluaran di Tengah Mahalnya Barang
Media Ummat; Wednesday, 13 April 2011 05:04].
Duit memang dapat mendatangkan kemudahan dalam hidup ini
karena dengan duit kita bisa meraup apa saja keinginan yang kita butuhkan,
sejak dari pakaian, makanan, perumahan dan keperluan lainnya, tanpa duit sulit
kita untuk memperoleh itu semua, tapi duit juga banyak memalingkan manusia dari
jalan yang benar apalagi duit sudah menguasai dirinya dan duit sudah dijadikan
sebagai Tuhan, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar