Jumat, 26 Februari 2016

283. Duit



Tak satu orangpun di dunia ini yang tidak suka dengan Duit atau sebutan lain Uang, bahkan anak-anakpun sudah mengerti apa fungsi dan peran duit dalam kehidupan, selain sebagai alat tukar, melakukan transaksi jual beli juga merupakan kekayaan seseorang. Orang medan menyebutnya Hepeng, orang Minang bilang Pitih, fulus kata orang Arab dan Money kata orang Inggris.

Di seantero dunia orang mengejar duit dengan berbagai pekerjaan dan profesi, karena pentingnya benda ini sehingga kadangkala tanpa memperhatikan darimana diperolehnya, jadilah benda itu diperoleh dengan cara haram, korupsi dan manipulasi membuat orang nekat melakukannya. Walaupun demikian kitapun tidak dianjurkan untuk membelakangi kepentingan dunia ini, boleh mempunyai finansial berupa duit dan tidak terlarang punya harta untuk menopang kehidupan ini sebagaimana halnya para sahabat Nabi juga banyak yang punya kekayaan, tapi mereka peroleh dan gunakan kekayaannya itu secara halal.

Mencari nafkah [ma'isyah] adalah aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kehidupannya dengan bekerja, apapun jenis pekerjaan yang ditekuni selama baik dan halal adalah terpuji, apakah sebagai pedagang, petani, buruh, pegawai negeri, anggota dewan, polisi, tentara ataupun pengacara hingga menteri ataupun Presiden,  kegiatan ini banyak mengandung pahala didalamnya, dengan ma'isyah seseorang berupaya untuk mencari yang halal karena memang demikian anjurannya,"Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll)''.(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah mencontohkan kepada ummatnya pentingnya mencari rezeki yang halal, sebab barang haram akan mempengaruhi mental dan kepribadian seseorang. Idealnya, biarlah kita kaya raya asal semua diperoleh dari yang halal, namun sangat rusak seseorang bila sedikit atau banyak hartanya bergelimang dengan haram, baik haram zatnya, cara memperolehnya atau membelanjakannya, Allah memperingatkan kita semuanya melalui nabinya; “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang  baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]
Seorang ummahat  dizaman Rasulullah dahulu, bila suaminya berangkat kerja mencari nafkah, di depan pintu dia berpesan kepada suaminya,”Silahkan pergi mencari nafkah sebanyak-banyaknya namun yang halal, jangan kau bawa ke rumahku ini harta yang haram meskipun sedikit”.
Dalam kitab Shahih Muslim, sahabat Abu Umamah al-Bahili RA meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang merampas hak seorang Muslim dengan sumpahnya, Allah akan menetapkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga."Seorang sahabat kemudian bertanya, "Meskipun yang dirampas itu sesuatu yang kecil, wahai Rasulullah?"Nabi SAW menjawab, "Meskipun hanya sebatang kayu arak."
Kayu arak adalah kayu yang biasa dipakai untuk bersiwak (gosok gigi), dan bagi orang Arab waktu itu, kayu arak adalah sesuatu yang nilainya sangat rendah. Ini artinya seseorang yang merampas hak orang lain atau mengambil harta secara tidak sah kendati nilai harta itu sangat rendah, di akhirat nanti ia akan dimasukkan ke dalam neraka dan diharamkan masuk surga. Apabila mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak sah satu rupiah saja, Allah akan mengharamkan yang bersangkutan masuk surga, apalagi apabila yang diambil itu miliaran bahkan triliunan rupiah.
Dalam hadis ini, Nabi SAW memang menyebutkan dua hal dalam perampasan itu.Pertama, harta milik Muslim.Dan kedua, merampasnya dengan menggunakan sumpah.Hal ini karena //sabab wurud (background) dari hadis tadi adalah ada dua orang Muslim, masing-masing dari Hadramaut dan Kindah di Yaman yang bersengketa atas sebidang tanah.Orang yang dari Hadramaut berkata, "Wahai Rasulullah, orang Kindah ini merampas tanah warisan dari ayah saya."Sementara orang yang dari Kindah mengaku bahwa tanah itu adalah miliknya, orang Hadramaut tadi tidak punya hak atas tanah itu.Ketika Nabi SAW menanyakan bukti kepemilikan atas tanah itu kepada orang Hadramaut, dia menjawab tidak punya maka nabi mempersilakan orang Kindah tadi untuk bersumpah.
Orang Hadramaut tadi lalu berkata, "Wahai Rasulullah, orang itu curang, dia tidak peduli dengan sumpahnya, dia juga tidak menjaga diri dari perbuatan haram." Nabi SAW menjawab, "Bagi kamu tidak ada cara lain kecuali itu tadi. Nabi kemudian menyumpah orang Kindah tadi dan bersabda seperti hadis di atas. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW mengatakan, "Siapa yang merampas tanah dengan cara zalim maka di akhirat nanti Allah akan memurkainya." [Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub, Rupiah Penghalang Surga ,Republika.co.id.Selasa, 02 Agustus 2011 10:14 WIB].
Keluarga yang shaleh dan shalehah akan menjaga dirinya dari rezeki yang haram, karena rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang selalu mengumpulkan rezeki dari yang halal dan hasil yang halal itu mengujudkan kebahagiaan bagi yang memperolehnya, demikian pula halnya Allah menyukai hamba-Nya yang mencari rezeki halal walaupun dengan susah payah, "Sesungguhnya Allah Ta'ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yanghalal.(HR.Ad-Dailami).
            Suatu hari Abdullah bin Abbas memakai pakaian paling indah dan mahal, berharga 10.000 dirham. Beliau bermaksud mengadakan dialog dengan kaum Khawarij yang memberontak. Orang Khawarij adalah golongan yang kuat beribadah tetapi meminggirkan ilmu dan tidak mau mempelajari al-Quran, fiqih dan hadits Rasulullah SAW.Mereka terkenal sebagai kaum yang picik, fanatik, puritan dan membenci siapa saja yang berseberangan paham dengan mereka.

Abdullah bin Abbas mandi dan memakai parfum paling harum, menyikat rambutnya serta mengenakan pakaian indah dan bersih. Beliau akan berhadapan dengan orang-orang picik yang memakai baju tebal dan tambalan, muka yang berdebu serta kusut masai.

Mereka berkata, “Kamu adalah anak bapak saudara Rasulullah SAW.Mengapa kamu memakai pakaian seperti ini? Abdullah bin Abbas menjawab, “Apakah kalian lebih tahu mengenai Rasulullah SAW dibanding saya? Mereka berkata, “Tentulah kamu yang lebih tahu.”Abdullah berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah SAW berpakaian dengan mengenakan perhiasan berwarna merah dan itu adalah sebaik-baik perhiasan.”

Aisyah pada suatu ketika melihat sekumpulan pemuda berjalan dalam keadaan lemah, pucat dan kelihatan malas.Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu?”Sahabat menjawab, “Mereka itu adalah kumpulan ahli ibadat.”Kemudian Aisyah berkata, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain-Nya. Sesungguhnya Umar bin al-Khattab adalah orang yang lebih bertaqwa dan lebih takut kepada Allah dibanding mereka itu. Kalau beliau berjalan, beliau berjalan dengan cepat dan tangkas. Apabila bercakap, beliau dalam keadaan berwibawa, jelas kedengaran percakapannya dan apabila beliau memukul, pukulannya terasa sakit.”

Pemahaman picik kaum khawarij adalah akibat memahami Islam secara tidak kaaffah (menyeluruh), memberatkan masalah ibadat yang sebenarnya mudah, sampai ke tahap berlebih-lebihan dan menyusahkan diri.
Begitulah keadaan sebahagian umat Islam yang lupa kepada wasiat Rasulullah SAW yang disampaikan kepada sahabatnya, Muaz bin Jabal ketika beliau dikirim menjadi Duta dakwah ke negeri Yaman. Kata Nabi saw: “Wahai Muaz, mudahkanlah setiap urusan, jangan memberat-beratkannya.”

Apakah Islam mengajarkan untuk membenci dunia?Kalau begitu, mengapa Abu Bakar al-Siddiq berbangga dengan harta kekayaannya untuk membela agama Allah? Begitu juga dengan Abdul Rahman bin Auf dan Utsman bin ‘Affan yang mengeluarkan hartanya untuk membiayai jihad di jalan Allah dengan dana dari kantong mereka sendiri.
Adakah Rasulullah SAW melarang mereka bekerja sungguh-sungguh untuk meraih keuntungan duniawi?
Bahkan di dalam al-Quran, Allah menegaskan bahwa jihad dalam menegakkan agama Allah wajib memiliki bekal persiapan. Firman-Nya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa saja dari segala jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dari pasukan berkuda yang lengkap untuk menggetarkan musuh Allah dan musuh-musuhmu.” (Surah al-Anfal, ayat 60)

Bagaimanakah Islam akan menang jika umatnya adalah mereka yang berada dalam skala Negara Dunia Ketiga? Negara miskin dan terbelakang serta dikuasai oleh musuhnya. Apabila mereka hendak membeli makanan, mereka terpaksa meminta belas kasih orang lain.

Apakah zuhud itu berarti membiarkan dunia dimiliki dan dikuasai oleh musuh Allah? Sedangkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Apabila emas seberat gunung diamanahkan kepadaku, aku tidak akan tidur selagi ia tidak habis dimanfaatkan untuk umat Islam.”

Sebagai panduan bersama, ingatlah pandangan Shaikhul Islam al-Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata: “Zuhud itu adalah kamu meninggalkan perbuatan yang tidak berfaedah untuk akhiratmu.”

Harta yang halal hendaklah dipastikan dikeluarkan juga pada tempat yang halal.Jangan mencari pada sumber yang halal’ tetapi membelanjakannya pada jalan maksiat.Atau kebalikannya, mengambil dari sarang penyamun dan membelanjakannya untuk ibadat.

Itu semua bertentangan dengan perintah Allah. Orang beriman percaya harta adalah titipan dan amanah Allah, pinjaman sementara dan apabila Allah menghendaki akan lenyaplah harta itu dari tangan kita. Cukuplah harta itu ada dalam genggaman, tetapi tidak menguasai hati kita.[Kekuatan Finansial (Quwwatul Maal), Bagian ke-1,dakwatuna.com.18/1/2010 | 01 Shafar 1431 H].

Duit yang banyak, harta yang berlimpah, fasilitas hidup yang mewah dan segala kesenangan lahiriah melimpah merupakan ujian bagi siapapun pemiliknya, perlakukanlah duit itu sebagaimana fungsinya yaitu sebagai alat tukar dan alat untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan tapi jangan berlebih-lebihan, banyak kegunaan duit bagi seorang muslim terutama untuk pribadi, keluarga dan kepentingan ummat, janganlah harta yang dimiliki sebagai sarana untuk mengagungkan diri dan membangga-banggakan kelebihan kepada orang lain.
Harta bukan simbol keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah justru mereka stress.  Banyak para artis justru menderita setelah memiliki harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol keberhasilan.

Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya. [DR. Amir Faishol Fath, Rahasia Harta, Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H].

            Dari sekian orang yang punya duit atau uang memadai untuk menanggulangi biaya hidupnya secara pribadi dan keluarga bahkan bisa untuk menabung serta membeli berbagai kebutuhan hidup yang layak sebagai seorang yang punya walaupun belum dikatakan kaya, tidak sedikit pula kita temukan adanya orang yang sulit dalam keuangannya sehingga harus banting tulang dan memeras keringat untuk meraih rupiah, namun rezeki belum kunjung datang.

Saat kondisi keuangan belum juga pulih dan sehat, jangan pernah mencari kesalahan dari jumlah gaji yang diterima setiap bulan. Utang kartu kredit yang tak pernah lunas, rekening tabungan yang tak kunjung penuh terisi, atau bertahun-tahun kerja tapi belum juga punya aset seperti mobil atau rumah, apapun kondisi keuangan yang membuat Anda gelisah bukan disebabkan karena gaji yang menurut Anda rendah. Kebiasaan dalam mengelola keuangan lebih memengaruhi kondisi finansial Anda saat ini.

Perencana keuangan, Ligwina Poerwo-Hananto menjelaskan, jika ingin menjadi sosok baru dengan keuangan yang lebih sehat, ubahlah kebiasaan dan mulailah menambah aset.Untuk bisa melakukan dua hal penting ini, Anda harus berkomitmen menjalani pengelolaan keuangan yang lebih terencana.

"Perencanaan keuangan merupakan cara sistematis untuk memperbaiki kondisi keuangan. Tidak pernah ada cara yang sama secara terus-menerus dalam merencanakan keuangan. Selalu ada cara baru dalam mengelola uang. Sesuatu yang dijalankan sistematis ini lama-kelamaan akan menjadi otomatis dan menjadi kebiasaan dalam diri seseorang, inilah yang berperan penting untuk memperbaiki kondisi keuangan," jelas Ligwina dalam talkshow keuangan beberapa waktu lalu.

Mengubah kebiasaan
Kondisi keuangan yang kusut lebih disebabkan karena kebiasaan yang keliru dalam menggunakan uang.Untuk mengatasinya, identifikasi masalah dan kenali diri sendiri. Jalani gaya hidup sesuai dengan level yang Anda mampu, kata Ligwina. "Kenali, Anda pantas hidup dengan gaya hidup seperti apa," lanjutnya.

Menambah asset
Kalau sudah bekerja, Anda harus bisa menghasilkan sesuatu, termasuk aset lancar seperti tabungan, deposito, atau reksadana, kata Ligwina.Setiap tahun aset ini harus ada peningkatan."Fresh graduate yang punya tabungan Rp 3 juta di rekeningnya akan lebih bermartabat daripada mereka yang bekerja bertahun-tahun namun tak punya tabungan," tegas Ligwina.

Tak perlu malu jika saat ini Anda sedang menyicil rumah atau mobil, karena Anda tengah menambah aset.Setidaknya, kerja keras Anda membangun karier dan pekerjaan membuahkan hasil.Jika sudah lama bekerja namun belum juga menghasilkan aset, saatnya melakukan refleksi diri, dan segera perbaiki kondisi finansial Anda dengan perencanaan keuangan yang lebih sehat.

Mulailah berkomitmen
Sebagai langkah awal, jika punya kartu kredit, lunasi utang kartu kredit Anda 100 persen."Boleh pakai kartu kredit Anda asalkan utang lunas 100 persen," tegas Ligwina.Gunakan uang sesuai posnya dengan membedakan kartu kredit sehari-hari dengan kartu kredit untuk bersenang-senang."Pisahkan kartu kredit hari-hari dengan kartu kredit untuk hura-hura," saran Ligwina.

Lalu, buatlah komitmen kuat pada diri sendiri untuk menyisihkan 10-30 persen dari penghasilan untuk tabungan.Saat menerima gaji, segera potong untuk tabungan, jadi jangan menyisihkannya di belakang setelah memenuhi hasrat belanja Anda.Selain itu batasi jumlah cicilan karena gaji Anda terbatas. Praktekkan rumus belanja untuk menyelamatkan keuangan Anda.[3 Kiat Agar Keuangan Lebih Sehat,Kompas.com.Rabu, 16/2/2011 | 13:18 WIB].

Selain tiga hal diatas, dalam tulisan yang dimuat pada media ummat dinyatakan tentang teknik mengelola keuangan dengan bijak.Hal yang perlu diperhatikan adalah mengutamakan pengeluaran yang bersifat wajib dan tidak bisa ditunda. Karena itu, beberapa hal berikut bisa dipraktikkan:

1. Skala Prioritas
Prioritaskan belanja untuk kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah) seperti makan dan  minum. Ini tidak bisa dihilangkan,  harus dipenuhi. Sisihkan secara khusus uang belanja untuk beli beras, susu anak, telur, bumbu, gula, dan sejenisnya. Namun pos ini masih bisa dihemat, semisal mengurangi minuman manis (gula), teh, kopi, dll.
Juga, untuk sementara singkirkan anggaran beli  krupuk, sambal, bakso, mi ayam dan jajanan anak yang tidak bergizi. Memang, anak butuh ngemil, mungkin bisa dibuatkan alternatif makanan yang murah tapi tetap sehat.Seperti memilih buah pisang yang harganya relatif terjangkau.
2. Utamakan Pengeluaran Reguler
Pengeluaran rutin berupa iuran sekolah anak, rekening listrik, air, telepon, pulsa, dan uang sampah. Pos ini bisa ditekan dengan berhemat cara pemakaiannya.   Termasuk pengeluaran untuk komitmen dakwah, usahakan tidak diutak-atik. Insya Allah dengan niat menolong agama Allah, kita akan dapat pengganti yang lebih baik.

3. Mencari Alternatif
Dalam membelanjakan uang, bisa memilih alternatif-alternatif yang bisa menghemat pengeluaran.Sedikit menurunkan kualitas hidup, tidak mengapa, asal segala kebutuhan bisa terpenuhi.Misal, jika semula kuat beli beras nomor satu, sekarang cukup nomor dua.Bila sebelumnya makan daging seminggu tiga kali, cukup dua atau bahkan sekali. Bila sebelumnya memakai deterjen merek terkenal, carilah deterjen lain yang lebih miring harganya. Toh fungsinya sama, pencuci pakaian. Dengan begitu pengeluaran bisa ditekan.

4. Mencari Penghasilan Tambahan
Kenapa tidak?Saat ini hampir semua orang punya bisnis sampingan.Jual pulsa, produk herbal, bisnis online, kredit barang elektronik, dll.Asalkan halal, layak dicoba.Penghasilan tambahan ini bisa menunjang kebutuhan sekunder dan tersier, seperti belanja fashion keluarga, mebel rumah tangga atau barang elektronik.Bahkan, jika mendapat rezeki cukup, bisa menyisihkan untuk berinfak di jalan Allah.

5. Manajemen Tertulis
Catatan pendapatan dan pengeluaran akan menjadi pengontrol yang sangat baik dalam mengendalikan isi dompet. Pengeluaran tiap hari hendaknya dicatat sehingga terlihat masih berapa sisa uang hari itu, atau hari itu sudah membelanjakan seberapa banyak uang.Memang butuh komitmen tinggi untuk melakukannya tapi bisa dicoba dari sekarang.

6. Belanja Sesuai Kebutuhan
Ini tips yang sangat klise, tapi memang kerap dilanggar. Di antaranya, membuat daftar belanja rutin untuk barang yang dibutuhkan setiap bulan sesuai budget.Belanja di pusat perkulakan sehingga harga lebih mahal. Membeli barang dengan jumlah yang lebih banyak akan lebih menguntungkan karena lebih murah. Ini tentunya baru dapat dilakukan jika cash flow memungkinkan. Pandai-pandailah memilih barang yang berkualitas cukup baik dengan harga ekonomis.Belanjalah dalam kondisi perut kenyang sehingga tak perlu jajan di luar.Nah, selamat berhemat [Mengelola Pengeluaran di Tengah Mahalnya Barang Media Ummat; Wednesday, 13 April 2011 05:04].

Duit memang dapat mendatangkan kemudahan dalam hidup ini karena dengan duit kita bisa meraup apa saja keinginan yang kita butuhkan, sejak dari pakaian, makanan, perumahan dan keperluan lainnya, tanpa duit sulit kita untuk memperoleh itu semua, tapi duit juga banyak memalingkan manusia dari jalan yang benar apalagi duit sudah menguasai dirinya dan duit sudah dijadikan sebagai Tuhan, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar