Kita kenal dengan
istilah ”Badar” yaitu sebuah peperangan yang dialami oleh Rasulullah melawan
kafir Quraisy di sebuah tempat namanya sumur Badar. Hal ini terjadi setelah
ummat islam melakukan hijrah ke Madinah dalam rangka untuk menyelamatkan aqidah
dari kemusyrikan dan menyelamatkan ummat dari intimidasi Quraisy.Dalam khutbah
jum’at, Abu BakaR
Muhammad Altway, Lc. Menceritakan kisah perang Badar ini sebagaimana yang
diuraikan di bawah ini;
Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam telah meninggalkan kota Makkah dan menetap di kota Madinah, namun kaum
musyrikin Makkah masih teRus beRupaya menghentikan langkah dakwah beliau.
MeReka mempROvOkasi kaum musyRikin Madinah untuk membunuh atau mengusiR beliau.
Di samping itu, meReka daRi waktu ke waktu teRus menebaR ancaman akan
mengiRimkan pasukan untuk menyeRbu kOta Madinah. KaRenanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam dan paRa sahabatnya sejak kedatangan meReka di
KOta Madinah selalu dalam kOndisi siaga dan tidak peRnah beRpisah dengan
senjata meReka, bahkan pada saat tiduR pun meReka senantiasa beRteman senjata.
Dalam kOndisi genting teRsebut, Allah
membeRikan izin kepada kaum Muslimin untuk beRpeRang melawan musuh meReka dan
menjanjikan kemenangan untuk meReka. Allah Ta’ala beRfiRman,“Telah dizinkan (beRpeRang) bagi ORang-ORang
yang dipeRangi, kaRena sesungguhnya meReka telah dianiaya. Dan sesungguhnya
Allah benaR-benaR Mahakuasa menOlOng meReka itu." (Al-Hajj: 39).
Kemudian Allah beRfiRman, “Hai
ORang-ORang yang beRiman, jika kamu menOlOng (agama) Allah, niscaya Dia akan
menOlOngmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7)
Demi menindaklanjuti izin dan janji
kemenangan daRi Allah Ta’ala teRsebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mulai melakukan aktifitas militeR dengan mengiRimkan pasukan-pasukan kecil ke
bebeRapa daeRah di sekitaR Madinah dan jaluR peRjalanan menuju Makkah. Hal ini
beliau lakukan dalam Rangka menjalin peRjanjian damai dengan bebeRapa suku yang
ada di sana, di samping untuk membeRikan sinyal kepada Suku QuRaisy (Kaum
musyRikin Makkah) bahwa kaum Muslimin tidak lagi lemah sepeRti dulu, namun
meReka sekaRang telah menjelma menjadi sebuah kekuatan baRu.
Maka pada bulan Ramadhan tahun kedua
HijRiyah, tepatnya delapan belas bulan sejak kepindahan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam ke kOta Madinah, bentROkan secaRa fisik dan peRang teRbuka
antaRa kaum Muslimin dan kaum musyRikin kOta Makkah tidak teRhindaRkan lagi.
BeRmula daRi sampainya infORmasi kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang beRgeRaknya kafilah dagang kaum
musyRikin Makkah menuju negeRi Syam pada bulan Jumadats Tsaniyah di tahun yang
sama dengan membawa haRta dan peRniagaan yang sangat banyak. MendengaR hal
teRsebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsama lima puluh ORang
saha-batnya dengan peRsenjataan lengkap beRmaksud menyeRgap kafilah teRsebut
dan meRampas seluRuh haRtanya, sebagai balasan atas penjaRahan yang dilakukan
kaum kafiR Makkah teRhadap haRta benda kaum Muslimin di sana dan sebagai upaya
untuk melemahkan kekuatan Makkah dengan caRa menghancuRkan peRekOnOmian meReka.
Hanya saja ketika beliau sampai di sebuah tempat yang beRnama Dzi al-‘AsyiRah,
beliau mendapati kafilah teRsebut telah beRlalu bebeRapa haRi sebelumnya. Namun
demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih mempunyai kesempatan
untuk menyeRgapnya pada saat kepulangan meReka bebeRapa bulan setelahnya.
Maka tiga bulan sejak kejadian itu,
tepatnya pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, tibalah saat kepulangan
kafilah dagang teRsebut. Kafilah ini membawa haRta benda yang sangat banyak
jumlahnya. TeRdiRi daRi seRibu ekOR Onta saRat dengan muatannya yang beRnilai
tidak kuRang daRi lima puluh Ribu dinaR emas dan hanya dikawal Oleh empat puluh
ORang saja.
MendengaR infORmasi kepulangan kafilah
teRsebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segeRa memObilisasi paRa
sahabatnya untuk peRgi menyeRgapnya. Maka beRangkatlah beliau dengan pasukan
yang teRdiRi daRi 313 tentaRa dengan peRsenjataan seadanya, menuju padang BadaR
yang dipeRkiRakan akan dilalui Oleh kafilah teRsebut.
Hanya saja, Abu Sufyan, sang pimpinan
ROmbOngan kafilah teRsebut senantiasa waspada dan mencaRi infORmasi tentang
kOndisi jaluR yang akan dilewatinya. Hingga akhiRnya, sampailah kepada-nya
beRita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsama pasukannya sedang
menuju padang BadaR beRsiap untuk menyeRgapnya. Maka dengan segeRa diutusnya
seseORang menuju Makkah untuk mengabaRkan bahwa haRta peRniagaan meReka sedang
teRancam bahaya. Selanjutnya aRah ROmbOngan kafilah yang semula menuju padang
BadaR dialihkan melewati jalan lain melalui jaluR pantai.
MendengaR haRta peRniagaan meReka dalam
keadaan bahaya dan kemungkinan akan diseRgap Oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dan paRa sahabatnya, maka kaum musyRikin Makkah menggalang
pasukan beRkekuatan lebih daRi seRibu pRajuRit di bawah kOmandO Abu Jahal.
Selanjutnya meReka beRgeRak cepat menuju padang BadaR dengan penuh kesOmbOngan
dan kecOngkakan, sebagaimana digambaRkan Oleh Allah di dalam fiRmanNya,“Dan janganlah kamu beRlaku sepeRti
ORang-ORang yang keluaR daRi kampungnya dengan Rasa angkuh dan dengan maksud
Riya` kepada manusia seRta menghalangi (ORang) daRi jalan Allah. Dan (ilmu)
Allah meliputi apa yang meReka keRjakan." (Al-Anfal: 47)
Namun di tengah peRjalanan, meReka meneRima suRat daRi Abu
Sufyan yang membeRitahukan bahwa haRta peRniagaan meReka telah selamat dan
lOlOs daRi seRgapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seRaya menghimbau
meReka agaR kembali ke Makkah dan tidak melanjutkan peRjalanan menuju BadaR.
Namun Abu Jahal, panglima pasukan Makkah menOlak himbauan teRsebut dan dengan
sOmbOng beRkata, "Demi Allah, kita
tidak akan pulang hingga kita mendatangi BadaR, kemudian tinggal di sana selama
tiga haRi untuk beRpesta pORa, menyembelih Onta, makan dan mabuk-mabukan dengan
iRingan lagu paRa biduanita, sehingga seluRuh bangsa ARab mendengaR tentang
kita, tentang peRjalanan kita dan beRkumpulnya kita di sana, sehingga meReka
akan segan teRhadap kita selamanya".
Tentunya peRubahan keadaan yang begitu cepat ini di luaR
peRhitungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Di mana tujuan beliau
semula sekedaR ingin menyeRgap peRniagaan yang hanya dikawal Oleh empat puluh
ORang saja, kini beRbalik haRus beRhadapan dengan pasukan Raksasa dengan
peRsenjataan lengkap.Maka beliau segeRa melakukan Rapat dengan pasukannya untuk mengetahui
sejauh mana kesiapan meReka menghadapi pasukan lawan yang besaR teRsebut. Namun
paRa sahabat mempeRlihatkan sikap tidak sebagaimana yang beliau khawatiRkan. MeReka
menyeRahkan keputusan sepenuhnya kepada beliau. Bahkan Sa'ad bin Mu'adz
beRkata, "Kami tidak akan meRasa
segan jika engkau mengajak kami beRtemu musuh esOk haRi. Sesungguhnya kami
adalah ORang-ORang yang tegaR di dalam pepeRangan dan tangguh di dalam
peRtempuRan." MendengaR itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
meRasa lega dan beRtambah semangat.
Lalu beliau beRsabda, BeRgeRaklah
dan beRgembiRalah kalian, kaRena sesungguhnya Allah c telah menjanjikan
kepadaku salah satu daRi dua kelOmpOk (yaitu menguasai kafilah dagang atau
memenangkan peRtempuRan). Demi Allah, seakan-akan aku tengah menyaksikan
kematian musuh."(HR. Ibnu Ishaq dengan syahid yang banyak).
Maka beRgegaslah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
membawa pasukannya mendahului musuh untuk menguasai sumuR BadaR, mengambil
pOsisi stRategis dan mendiRikan pOs kOmandO. Lalu malam haRinya meReka menginap
di sana.
KeesOkan haRinya, kedua pasukan saling beRhadapan.Kaum
Muslimin telah mengambil pOsisi sesuai dengan fORmasi yang telah ditentukan
sebelumnya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membeRikan bebeRapa
instRuksi kepada meReka lalu beliau kembali ke pOs kOmandO. SementaRa Abu
Jahal, panglima kaum musyRikin Makkah meminta keputusan (kepada Allah) dan
dengan penuh peRcaya diRi beRkata, "Ya
Allah, dialah (yakni Rasulullah) yang telah memutuskan Rahim kami dan membawa
sesuatu yang tidak kami ketahui. KaRena itu hancuRkanlah dia esOk haRi.Ya
Allah, siapa di antaRa kami (beRdua) yang lebih Engkau cintai dan Engkau
Ridhai, maka beRikanlah kemenangan baginya haRi ini."
Maka Allah menuRunkan fiRmanNya,“Jika kamu (ORang-ORang musyRikin) mencaRi keputusan, maka telah datang
kepadamu; dan jika kamu beRhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika
kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan pasukanmu sekali-kali tidak akan
dapat menOlak daRi kamu suatu bahaya pun, biaRpun dia banyak. Sesungguhnya
Allah beseRta ORang-ORang yang beRiman." (Al-Anfal: 19).
Kemudian peRang pun dimulai, dan diawali dengan duel satu
lawan satu antaRa tiga ksatRia kaum Muslimin melawan tiga ksatRia kaum
musyRikin yang beRaRkhiR dengan teRbunuhnya seluRuh ksa-tRia kaum musyRikin dan
beRakibat pada Runtuhnya mental pasukan meReka.Selanjutnya peRang secaRa masal
pun teRjadi. SementaRa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRmunajat
kepada Allah dan memOhOn kemenangan sebagaimana yang Allah janjikan kepadanya, Ya Allah, penuhilah (kemenangan) yang Engkau
janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku memOhOn kepadaMu sesuai janji
yang Engkau beRikan kepadaku."(HR. al-BukhaRi dan Muslim).
PeRang semakin dahsyat beRkecamuk bahkan telah mencapai
klimaksnya, namun demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak
menghentikan munajat dan dOanya kepada Allah.Beliau beRsabda, “Ya Allah, jika kelOmpOk ini (pasukan kaum
Muslimin) binasa pada haRi ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi (di
bumi dengan syaRiat ini).Jika Engkau menghendaki, niscaya Engkau tidak akan
disembah lagi setelah haRi ini selamanya."(HR. Muslim dan
at-TiRmidzi).
Beliau teRus mengangkat kedua tangannya beRdOa dengan seRius
hingga selimut (selendang) beliau jatuh daRi kedua pundaknya, kemudian Abu
BakaR ash-Shiddiq meRapikannya kembali seRaya beRkata, "Cukup wahai
Rasulullah, sungguh engkau telah memOhOn dengan sangat kepada Rabbmu."
Hingga akhiRnya Allah mengabulkan dOa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dan mewahyukan kepada paRa malaikatNya,“Sesungguhnya Aku beRsama kalian, maka teguhkanlah (pendiRian)
ORang-ORang yang beRiman. Aku akan jatuhkan Rasa ketakutan ke dalam hati
ORang-ORang kafiR." (Al-Anfal: 12).
Lalu Allah mewahyukan kepada RasulNya Shallallahu ‘alaihi
wasallam, “(Ingatlah) ketika kamu memOhOn
peRtOlOngan kepada Rabbmu, lalu Dia peRkenankan bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seRibu malaikat yang datang
beR-tuRut-tuRut'." (Al-Anfal: 9).
Kemudian beliau teRtiduR sejenak, lalu mengangkat kepalanya
dan beRkata, BeRgembiRalah wahai Abu
BakaR, peRtOlOngan Allah telah datang.Ini adalah JibRil sedang memegang tali
kekang kudanya untuk mema-cunya dan pada giginya teRdapat debu".(HR.
Ibnu Ishaq dalam Fath al-BaRi).
Kemudian beliau keluaR daRi pOs kOmandOnya seRaya meRaih
peRisainya dan membaca FiRman Allah Ta’ala, KelOmpOk
(kaum musyRikin) itu pasti akan dikalahkan dan meReka akan munduR ke belakang"
(Al-QamaR: 45).
Selanjutnya beliau mengambil segenggam keRikil, kemudian
menghadap ke aRah musuh seRaya beRsabda, "Amat buRuklah wajah-wajah
kalian", lalu beliau melempaRkannya ke wajah-wajah meReka.Tidak seORang
pun daRi meReka kecuali mata, kedua lubang hidung dan mulutnya teRkena keRikil
teRsebut.Dalam hal ini Allah Ta’ala beRfiRman,
“Dan bukan kamu yang melempaR
ketika kamu melempaR, tetapi Allah-lah yang melempaR." (Al-Anfal: 17).
Dalam peRtempuRan teRsebut teRdengaR suaRa cemeti paRa
malaikat dan bebeRapa tentaRa musuh beRgelimpangan dengan sendiRinya dengan
luka mengeRikan akibat senjata paRa malaikat. Menyaksikan pemandangan teRsebut,
iblis yang sebelumnya telah beRgabung dalam pasukan musuh, dengan menyamaR
dalam wujud SuRaqah bin Malik, laRi tunggang langgang. Ketika menyaksikannya
laRi, maka kaum musyRikin -yang menyangkanya SuRaqah- mengecamnya.Namun dia
menjawab, "Sesungguhnya aku melihat
apa yang tidak kalian lihat.Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan Dia amat
pedih siksaNya".Lalu dia melaRikan diRi hingga mencebuRkan diRinya ke
dalam laut.]PeRang BadaR, Bukti Janji Allah::
COmpiled by ORiDO™ ::].
Sejarah mencatat, dikala sudah sampai di Sumur Badar
tersebut, terjadi dialoq antara Rasulullah dengan sahabatnya yang merupakan
ujud musyawarah dalam sebuah pergerakan.Dalam
buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haekal menuliskan.
Setelah mereka sudah mendekati mata
air, Muhammad berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh,
orang yang paling banyak mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Nabi turun di
tempat tersebut, ia bertanya: “Rasulullah, bagaimana pendapat tuan berhenti di
tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur
setapakpun dari tempat ini.Ataukah ini sekedar pendapat tuan sendiri, suatu
taktik perang belaka?”“Sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,” jawab
Muhammad.
“Rasulullah,” katanya lagi.“Kalau
begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini.Mari kita pindah sampai ke
tempat mata air terdekat dan mereka, lalu sumur-sumur kering yang dibelakang
itu kita timbun.Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya.Barulah
kita hadapi mereka berperang.Kita akan mendapat air minum, mereka tidak.”
Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Muhammad dan rombongannya segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat temannya itu, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa dia juga manusia seperti mereka, dan bahwa sesuatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan dia tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar mereka. Dia perlu sekali mendapat konsultasi yang baik dari sesama mereka sendiri.
Selesai kolam itu dibuat, Sa’d bin Mu’adh mengusulkan: “Rasulullah,” katanya, “kami akan membuatkan sebuah dangau buat tempat Tuan tinggal, kendaraan Tuan kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh.Kalau Tuhan memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan.Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi; dengan kendaraan itu Tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepada tuan tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Sekiranya mereka dapat menduga bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Dengan mereka Tuhan menjaga tuan. Mereka benar-benar ikhlas kepada tuan, berjuang bersama tuan.”
Muhammad sangat menghargai dan menerima baik saran Sa’d itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangun. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Yathrib.
Pada pagi Jum’at 17 Ramadan itulah
kedua pasukan itu berhadap-hadapan muka.Sekarang Muhammad sendiri yang tampil
memimpin Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy
begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, disamping perlengkapan yang
sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, ia kembali ke pondoknya
ditemani oleh Abu Bakr. Sungguh cemas ia akan peristiwa yang akan terjadi hari
itu, sungguh pilu hatinya melihat nasib yang akan menimpa Islam sekiranya
Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.
Muhammad kini menghadapkan wajahnya ke
kiblat, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan, ia mengimbau
Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan kepadanya, ia membisikkan
permohonan dalam hatinya agar Tuhan memberikan pertolongan. Begitu dalam ia
hanyut dalam doa, dalam permohonan, sambil berkata:“Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya,
berusaha hendak mendustakan RasulMu.Ya Allah, pertolonganMu juga yang
Kaujanjikan kepadaku.Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada
ibadat kepadaMu.”
Sementara ia masih hanyut dalam doa
kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu, mantelnya
terjatuh. Ketika itu Abu Bakr lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahunya,
sambil ia bermohon:“Rasulullah, dengan
doamu itu Tuhan akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu.”
Tetapi sungguhpun begitu, Muhammad makin
dalam terbawa dalam doa, dalam tawajuh kepada Allah; dengan penuh khusyu’ dan
kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan isyarat dan pertolongan
Tuhan dalam menghadapi peristiwa, yang oleh kaum Muslimin sama sekali tidak
diharapkan, dan untuk itu tidak pula mereka punya persiapan. Karena yang
demikian inilah akhirnya ia sampai terangguk dalam keadaan mengantuk. Dalam
pada itu tampak olehnya pertolongan Tuhan itu ada.Ia sadar kembali, kemudian ia
bangun dengan penuh rasa gembira.
Sekarang ia keluar menemui
sahabat-sahabatnya; dikerahkannya mereka sambil berkata:“Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad.9 Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah,
bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah
akan menempatkannya di dalam surga.”
Jiwanya yang begitu kuat, yang telah diberikan
Tuhan begitu tinggi melampaui segala kekuatan, telah tertanam pula dengan
ajarannya ke dalam jiwa orang-orang beriman. Dan kekuatan mereka itu sudah
melampaui semangat mereka sendiri, sehingga setiap orang dari mereka sama
dengan dua orang, bahkan sama dengan sepuluh orang.
Akan lebih mudah orang memahami ini bila
diingat arti kekuatan moril yang begitu besar pengaruhnya dalam jiwa seseorang,
dan ini akan bertambah besar pengaruhnya apabila kekuatan moril ini ada pula
dasarnya. Semangat nasionalisma juga dapat menambah ini. Seorang prajurit yang
mempertahankan tanah air yang terancam bahaya, jiwanya penuh dengan semangat
patriotisma, akan bertambah kekuatan morilnya sesuai dengan besar cintanya
kepada tanah air serta kekuatirannya akan bahaya yang mengancam tanah air itu
dari pihak musuh.[Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, pustaka
online].
Perang Badar bukanlah ujud Nasionalisme
sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Haekal diatas tapi merupakan
perlawanan antara haq dengan yang bathil, selama ini kedua kekuatan tersebut
tidak bisa hidup berdampingan dan realitanya memang demikian dimana saja haq
pasti benar dan batil adalah kerusakan, Badar merupakan perang antara keimanan
dan kekafiran, walaupun dengan hijrah keimanan sudah terpisah dengan kekafiran
di Mekkah tapi kekafiran tidak rela semakin kuatnya kelompok orang-orang
beriman di Madinah, Badar adalah perang antara tauhid dengan kemusyrikan,
sehingga dibuktikan oleh Allah bahwa keimanan yang bersih dari syirik,
memperjuangkan tauhid yang murni semua penduduk di langit dan di bumi akan
terlibat di dalamnya sehingga Allah mengerahkan malaikat untuk bergabung dengan
tauhid untuk menyingkirkan syirik.
Badar telah membuktikan kepada ummat
ini, dengan jumlah yang sedikit, hanya lebih kurang 300 orang pasukan dengan
perlengkapan perang yang sangat sederhana mampu mengalahkan pasukan yang lebih
dari seribu orang serta dilengkapi dengan peralatan perang yang cukup memadai,
Badar merupakan momentum untuk menunjukan kepada sejarah bahwa islam akan
tetap dibantu oleh Allah selama ummatnya
berjalan di jalan yang benar, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar