Jumat, 26 Februari 2016

275. Badar



Kita kenal dengan istilah ”Badar” yaitu sebuah peperangan yang dialami oleh Rasulullah melawan kafir Quraisy di sebuah tempat namanya sumur Badar. Hal ini terjadi setelah ummat islam melakukan hijrah ke Madinah dalam rangka untuk menyelamatkan aqidah dari kemusyrikan dan menyelamatkan ummat dari intimidasi Quraisy.Dalam khutbah jum’at, Abu BakaR Muhammad Altway, Lc. Menceritakan kisah perang Badar ini sebagaimana yang diuraikan di bawah ini;
Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kota Makkah dan menetap di kota Madinah, namun kaum musyrikin Makkah masih teRus beRupaya menghentikan langkah dakwah beliau. MeReka mempROvOkasi kaum musyRikin Madinah untuk membunuh atau mengusiR beliau. Di samping itu, meReka daRi waktu ke waktu teRus menebaR ancaman akan mengiRimkan pasukan untuk menyeRbu kOta Madinah. KaRenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan paRa sahabatnya sejak kedatangan meReka di KOta Madinah selalu dalam kOndisi siaga dan tidak peRnah beRpisah dengan senjata meReka, bahkan pada saat tiduR pun meReka senantiasa beRteman senjata.
Dalam kOndisi genting teRsebut, Allah membeRikan izin kepada kaum Muslimin untuk beRpeRang melawan musuh meReka dan menjanjikan kemenangan untuk meReka. Allah Ta’ala beRfiRman,“Telah dizinkan (beRpeRang) bagi ORang-ORang yang dipeRangi, kaRena sesungguhnya meReka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benaR-benaR Mahakuasa menOlOng meReka itu." (Al-Hajj: 39).
Kemudian Allah beRfiRman, Hai ORang-ORang yang beRiman, jika kamu menOlOng (agama) Allah, niscaya Dia akan menOlOngmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7)
Demi menindaklanjuti izin dan janji kemenangan daRi Allah Ta’ala teRsebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mulai melakukan aktifitas militeR dengan mengiRimkan pasukan-pasukan kecil ke bebeRapa daeRah di sekitaR Madinah dan jaluR peRjalanan menuju Makkah. Hal ini beliau lakukan dalam Rangka menjalin peRjanjian damai dengan bebeRapa suku yang ada di sana, di samping untuk membeRikan sinyal kepada Suku QuRaisy (Kaum musyRikin Makkah) bahwa kaum Muslimin tidak lagi lemah sepeRti dulu, namun meReka sekaRang telah menjelma menjadi sebuah kekuatan baRu.
Maka pada bulan Ramadhan tahun kedua HijRiyah, tepatnya delapan belas bulan sejak kepindahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke kOta Madinah, bentROkan secaRa fisik dan peRang teRbuka antaRa kaum Muslimin dan kaum musyRikin kOta Makkah tidak teRhindaRkan lagi.
BeRmula daRi sampainya infORmasi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang beRgeRaknya kafilah dagang kaum musyRikin Makkah menuju negeRi Syam pada bulan Jumadats Tsaniyah di tahun yang sama dengan membawa haRta dan peRniagaan yang sangat banyak. MendengaR hal teRsebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsama lima puluh ORang saha-batnya dengan peRsenjataan lengkap beRmaksud menyeRgap kafilah teRsebut dan meRampas seluRuh haRtanya, sebagai balasan atas penjaRahan yang dilakukan kaum kafiR Makkah teRhadap haRta benda kaum Muslimin di sana dan sebagai upaya untuk melemahkan kekuatan Makkah dengan caRa menghancuRkan peRekOnOmian meReka. Hanya saja ketika beliau sampai di sebuah tempat yang beRnama Dzi al-‘AsyiRah, beliau mendapati kafilah teRsebut telah beRlalu bebeRapa haRi sebelumnya. Namun demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih mempunyai kesempatan untuk menyeRgapnya pada saat kepulangan meReka bebeRapa bulan setelahnya.
Maka tiga bulan sejak kejadian itu, tepatnya pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, tibalah saat kepulangan kafilah dagang teRsebut. Kafilah ini membawa haRta benda yang sangat banyak jumlahnya. TeRdiRi daRi seRibu ekOR Onta saRat dengan muatannya yang beRnilai tidak kuRang daRi lima puluh Ribu dinaR emas dan hanya dikawal Oleh empat puluh ORang saja.
MendengaR infORmasi kepulangan kafilah teRsebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segeRa memObilisasi paRa sahabatnya untuk peRgi menyeRgapnya. Maka beRangkatlah beliau dengan pasukan yang teRdiRi daRi 313 tentaRa dengan peRsenjataan seadanya, menuju padang BadaR yang dipeRkiRakan akan dilalui Oleh kafilah teRsebut.
Hanya saja, Abu Sufyan, sang pimpinan ROmbOngan kafilah teRsebut senantiasa waspada dan mencaRi infORmasi tentang kOndisi jaluR yang akan dilewatinya. Hingga akhiRnya, sampailah kepada-nya beRita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsama pasukannya sedang menuju padang BadaR beRsiap untuk menyeRgapnya. Maka dengan segeRa diutusnya seseORang menuju Makkah untuk mengabaRkan bahwa haRta peRniagaan meReka sedang teRancam bahaya. Selanjutnya aRah ROmbOngan kafilah yang semula menuju padang BadaR dialihkan melewati jalan lain melalui jaluR pantai.
MendengaR haRta peRniagaan meReka dalam keadaan bahaya dan kemungkinan akan diseRgap Oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan paRa sahabatnya, maka kaum musyRikin Makkah menggalang pasukan beRkekuatan lebih daRi seRibu pRajuRit di bawah kOmandO Abu Jahal. Selanjutnya meReka beRgeRak cepat menuju padang BadaR dengan penuh kesOmbOngan dan kecOngkakan, sebagaimana digambaRkan Oleh Allah di dalam fiRmanNya,“Dan janganlah kamu beRlaku sepeRti ORang-ORang yang keluaR daRi kampungnya dengan Rasa angkuh dan dengan maksud Riya` kepada manusia seRta menghalangi (ORang) daRi jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang meReka keRjakan." (Al-Anfal: 47)
Namun di tengah peRjalanan, meReka meneRima suRat daRi Abu Sufyan yang membeRitahukan bahwa haRta peRniagaan meReka telah selamat dan lOlOs daRi seRgapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seRaya menghimbau meReka agaR kembali ke Makkah dan tidak melanjutkan peRjalanan menuju BadaR. Namun Abu Jahal, panglima pasukan Makkah menOlak himbauan teRsebut dan dengan sOmbOng beRkata, "Demi Allah, kita tidak akan pulang hingga kita mendatangi BadaR, kemudian tinggal di sana selama tiga haRi untuk beRpesta pORa, menyembelih Onta, makan dan mabuk-mabukan dengan iRingan lagu paRa biduanita, sehingga seluRuh bangsa ARab mendengaR tentang kita, tentang peRjalanan kita dan beRkumpulnya kita di sana, sehingga meReka akan segan teRhadap kita selamanya".
Tentunya peRubahan keadaan yang begitu cepat ini di luaR peRhitungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Di mana tujuan beliau semula sekedaR ingin menyeRgap peRniagaan yang hanya dikawal Oleh empat puluh ORang saja, kini beRbalik haRus beRhadapan dengan pasukan Raksasa dengan peRsenjataan lengkap.Maka beliau segeRa melakukan Rapat dengan pasukannya untuk mengetahui sejauh mana kesiapan meReka menghadapi pasukan lawan yang besaR teRsebut. Namun paRa sahabat mempeRlihatkan sikap tidak sebagaimana yang beliau khawatiRkan. MeReka menyeRahkan keputusan sepenuhnya kepada beliau. Bahkan Sa'ad bin Mu'adz beRkata, "Kami tidak akan meRasa segan jika engkau mengajak kami beRtemu musuh esOk haRi. Sesungguhnya kami adalah ORang-ORang yang tegaR di dalam pepeRangan dan tangguh di dalam peRtempuRan." MendengaR itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meRasa lega dan beRtambah semangat.
Lalu beliau beRsabda, BeRgeRaklah dan beRgembiRalah kalian, kaRena sesungguhnya Allah c telah menjanjikan kepadaku salah satu daRi dua kelOmpOk (yaitu menguasai kafilah dagang atau memenangkan peRtempuRan). Demi Allah, seakan-akan aku tengah menyaksikan kematian musuh."(HR. Ibnu Ishaq dengan syahid yang banyak).
Maka beRgegaslah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa pasukannya mendahului musuh untuk menguasai sumuR BadaR, mengambil pOsisi stRategis dan mendiRikan pOs kOmandO. Lalu malam haRinya meReka menginap di sana.
KeesOkan haRinya, kedua pasukan saling beRhadapan.Kaum Muslimin telah mengambil pOsisi sesuai dengan fORmasi yang telah ditentukan sebelumnya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membeRikan bebeRapa instRuksi kepada meReka lalu beliau kembali ke pOs kOmandO. SementaRa Abu Jahal, panglima kaum musyRikin Makkah meminta keputusan (kepada Allah) dan dengan penuh peRcaya diRi beRkata, "Ya Allah, dialah (yakni Rasulullah) yang telah memutuskan Rahim kami dan membawa sesuatu yang tidak kami ketahui. KaRena itu hancuRkanlah dia esOk haRi.Ya Allah, siapa di antaRa kami (beRdua) yang lebih Engkau cintai dan Engkau Ridhai, maka beRikanlah kemenangan baginya haRi ini."
Maka Allah menuRunkan fiRmanNya,“Jika kamu (ORang-ORang musyRikin) mencaRi keputusan, maka telah datang kepadamu; dan jika kamu beRhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan pasukanmu sekali-kali tidak akan dapat menOlak daRi kamu suatu bahaya pun, biaRpun dia banyak. Sesungguhnya Allah beseRta ORang-ORang yang beRiman." (Al-Anfal: 19).
Kemudian peRang pun dimulai, dan diawali dengan duel satu lawan satu antaRa tiga ksatRia kaum Muslimin melawan tiga ksatRia kaum musyRikin yang beRaRkhiR dengan teRbunuhnya seluRuh ksa-tRia kaum musyRikin dan beRakibat pada Runtuhnya mental pasukan meReka.Selanjutnya peRang secaRa masal pun teRjadi. SementaRa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRmunajat kepada Allah dan memOhOn kemenangan sebagaimana yang Allah janjikan kepadanya, Ya Allah, penuhilah (kemenangan) yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku memOhOn kepadaMu sesuai janji yang Engkau beRikan kepadaku."(HR. al-BukhaRi dan Muslim).
PeRang semakin dahsyat beRkecamuk bahkan telah mencapai klimaksnya, namun demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghentikan munajat dan dOanya kepada Allah.Beliau beRsabda, “Ya Allah, jika kelOmpOk ini (pasukan kaum Muslimin) binasa pada haRi ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi (di bumi dengan syaRiat ini).Jika Engkau menghendaki, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi setelah haRi ini selamanya."(HR. Muslim dan at-TiRmidzi).
Beliau teRus mengangkat kedua tangannya beRdOa dengan seRius hingga selimut (selendang) beliau jatuh daRi kedua pundaknya, kemudian Abu BakaR ash-Shiddiq meRapikannya kembali seRaya beRkata, "Cukup wahai Rasulullah, sungguh engkau telah memOhOn dengan sangat kepada Rabbmu."
Hingga akhiRnya Allah mengabulkan dOa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mewahyukan kepada paRa malaikatNya,“Sesungguhnya Aku beRsama kalian, maka teguhkanlah (pendiRian) ORang-ORang yang beRiman. Aku akan jatuhkan Rasa ketakutan ke dalam hati ORang-ORang kafiR." (Al-Anfal: 12).
Lalu Allah mewahyukan kepada RasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam, “(Ingatlah) ketika kamu memOhOn peRtOlOngan kepada Rabbmu, lalu Dia peRkenankan bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seRibu malaikat yang datang beR-tuRut-tuRut'." (Al-Anfal: 9).
Kemudian beliau teRtiduR sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan beRkata, BeRgembiRalah wahai Abu BakaR, peRtOlOngan Allah telah datang.Ini adalah JibRil sedang memegang tali kekang kudanya untuk mema-cunya dan pada giginya teRdapat debu".(HR. Ibnu Ishaq dalam Fath al-BaRi).
Kemudian beliau keluaR daRi pOs kOmandOnya seRaya meRaih peRisainya dan membaca FiRman Allah Ta’ala, KelOmpOk (kaum musyRikin) itu pasti akan dikalahkan dan meReka akan munduR ke belakang" (Al-QamaR: 45).
Selanjutnya beliau mengambil segenggam keRikil, kemudian menghadap ke aRah musuh seRaya beRsabda, "Amat buRuklah wajah-wajah kalian", lalu beliau melempaRkannya ke wajah-wajah meReka.Tidak seORang pun daRi meReka kecuali mata, kedua lubang hidung dan mulutnya teRkena keRikil teRsebut.Dalam hal ini Allah Ta’ala beRfiRman,  Dan bukan kamu yang melempaR ketika kamu melempaR, tetapi Allah-lah yang melempaR." (Al-Anfal: 17).
Dalam peRtempuRan teRsebut teRdengaR suaRa cemeti paRa malaikat dan bebeRapa tentaRa musuh beRgelimpangan dengan sendiRinya dengan luka mengeRikan akibat senjata paRa malaikat. Menyaksikan pemandangan teRsebut, iblis yang sebelumnya telah beRgabung dalam pasukan musuh, dengan menyamaR dalam wujud SuRaqah bin Malik, laRi tunggang langgang. Ketika menyaksikannya laRi, maka kaum musyRikin -yang menyangkanya SuRaqah- mengecamnya.Namun dia menjawab, "Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat.Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan Dia amat pedih siksaNya".Lalu dia melaRikan diRi hingga mencebuRkan diRinya ke dalam laut.]PeRang BadaR, Bukti Janji Allah:: COmpiled by ORiDO™ ::].
Sejarah mencatat, dikala sudah sampai di Sumur Badar tersebut, terjadi dialoq antara Rasulullah dengan sahabatnya yang merupakan ujud musyawarah  dalam sebuah pergerakan.Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haekal menuliskan.
            Setelah mereka sudah mendekati mata air, Muhammad berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Nabi turun di tempat tersebut, ia bertanya: “Rasulullah, bagaimana pendapat tuan berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini.Ataukah ini sekedar pendapat tuan sendiri, suatu taktik perang belaka?”“Sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,” jawab Muhammad.

            “Rasulullah,” katanya lagi.“Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini.Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dan mereka, lalu sumur-sumur kering yang dibelakang itu kita timbun.Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya.Barulah kita hadapi mereka berperang.Kita akan mendapat air minum, mereka tidak.”

Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Muhammad dan rombongannya segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat temannya itu, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa dia juga manusia seperti mereka, dan bahwa sesuatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan dia tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar mereka. Dia perlu sekali mendapat konsultasi yang baik dari sesama mereka sendiri.

         Selesai kolam itu dibuat, Sa’d bin Mu’adh mengusulkan: “Rasulullah,” katanya, “kami akan membuatkan sebuah dangau buat tempat Tuan tinggal, kendaraan Tuan kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh.Kalau Tuhan memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan.Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi; dengan kendaraan itu Tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepada tuan tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Sekiranya mereka dapat menduga bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Dengan mereka Tuhan menjaga tuan. Mereka benar-benar ikhlas kepada tuan, berjuang bersama tuan.”

            Muhammad sangat menghargai dan menerima baik saran Sa’d itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangun. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Yathrib.

            Pada pagi Jum’at 17 Ramadan itulah kedua pasukan itu berhadap-hadapan muka.Sekarang Muhammad sendiri yang tampil memimpin Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, disamping perlengkapan yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, ia kembali ke pondoknya ditemani oleh Abu Bakr. Sungguh cemas ia akan peristiwa yang akan terjadi hari itu, sungguh pilu hatinya melihat nasib yang akan menimpa Islam sekiranya Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.

Muhammad kini menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan, ia mengimbau Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan kepadanya, ia membisikkan permohonan dalam hatinya agar Tuhan memberikan pertolongan. Begitu dalam ia hanyut dalam doa, dalam permohonan, sambil berkata:“Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan RasulMu.Ya Allah, pertolonganMu juga yang Kaujanjikan kepadaku.Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepadaMu.”

Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakr lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahunya, sambil ia bermohon:“Rasulullah, dengan doamu itu Tuhan akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu.”

Tetapi sungguhpun begitu, Muhammad makin dalam terbawa dalam doa, dalam tawajuh kepada Allah; dengan penuh khusyu’ dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan isyarat dan pertolongan Tuhan dalam menghadapi peristiwa, yang oleh kaum Muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk itu tidak pula mereka punya persiapan. Karena yang demikian inilah akhirnya ia sampai terangguk dalam keadaan mengantuk. Dalam pada itu tampak olehnya pertolongan Tuhan itu ada.Ia sadar kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira.

Sekarang ia keluar menemui sahabat-sahabatnya; dikerahkannya mereka sambil berkata:“Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad.9 Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga.”

Jiwanya yang begitu kuat, yang telah diberikan Tuhan begitu tinggi melampaui segala kekuatan, telah tertanam pula dengan ajarannya ke dalam jiwa orang-orang beriman. Dan kekuatan mereka itu sudah melampaui semangat mereka sendiri, sehingga setiap orang dari mereka sama dengan dua orang, bahkan sama dengan sepuluh orang.

Akan lebih mudah orang memahami ini bila diingat arti kekuatan moril yang begitu besar pengaruhnya dalam jiwa seseorang, dan ini akan bertambah besar pengaruhnya apabila kekuatan moril ini ada pula dasarnya. Semangat nasionalisma juga dapat menambah ini. Seorang prajurit yang mempertahankan tanah air yang terancam bahaya, jiwanya penuh dengan semangat patriotisma, akan bertambah kekuatan morilnya sesuai dengan besar cintanya kepada tanah air serta kekuatirannya akan bahaya yang mengancam tanah air itu dari pihak musuh.[Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, pustaka online].
Perang Badar bukanlah ujud Nasionalisme sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Haekal diatas tapi merupakan perlawanan antara haq dengan yang bathil, selama ini kedua kekuatan tersebut tidak bisa hidup berdampingan dan realitanya memang demikian dimana saja haq pasti benar dan batil adalah kerusakan, Badar merupakan perang antara keimanan dan kekafiran, walaupun dengan hijrah keimanan sudah terpisah dengan kekafiran di Mekkah tapi kekafiran tidak rela semakin kuatnya kelompok orang-orang beriman di Madinah, Badar adalah perang antara tauhid dengan kemusyrikan, sehingga dibuktikan oleh Allah bahwa keimanan yang bersih dari syirik, memperjuangkan tauhid yang murni semua penduduk di langit dan di bumi akan terlibat di dalamnya sehingga Allah mengerahkan malaikat untuk bergabung dengan tauhid untuk menyingkirkan syirik.

Badar telah membuktikan kepada ummat ini, dengan jumlah yang sedikit, hanya lebih kurang 300 orang pasukan dengan perlengkapan perang yang sangat sederhana mampu mengalahkan pasukan yang lebih dari seribu orang serta dilengkapi dengan peralatan perang yang cukup memadai, Badar merupakan momentum untuk menunjukan kepada sejarah bahwa islam akan tetap  dibantu oleh Allah selama ummatnya berjalan di jalan yang benar, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03 November 2011.M].



           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar