Selasa, 16 Februari 2016

237. Gembira Ria



Kehidupan yang dilalui manusia silih berganti, ada sehat ada sakit, ada senang ada sedih, sengsara dan bahagia, tangis dan tawa, hal ini berjalan dari waktu ke waktu sejak kelahiran manusia ke bumi, detik tumpahnya darah ke tanah ini kita dalam keadaan menangis walaupun yang hadir menyambut gembira, hingga kelak setelah sekian lama hidup di dunia, andaikata amal yang kita lakukan sesuai dengan tuntutan ajaran islam maka kita akan mengakhiri dunia ini dengan senyuman gembira walaupun yang lain menangis melepas kematian kita.

Senyum dan cemberutpun menghiasi sikap kita sehari-hari yang kadangkala mudah sekali untuk berubah, kita mudah sekali cemberut walaupun dalam keadaan senyum dikala menemukan hal-hal yang tidak diingini dan sebaliknya tanpa difikir dari cemberut sedetik saja bisa kondisi kita mengembangkan senyum karena adanya hal-hal yang menyenangkan.

Masalah dan kejadian sehari-hari kadang membuat kita melupakan senyuman. Kesibukan pekerjaan, dikejar deadline, dikejar target, bersinggungan dengan teman sepekerjaan, tetangga dan keluarga membuat kita marah dan jika tak bisa melampiaskan kemarahan paling kita bungkam atau memasang muka cemberut seolah mengajak "perang" pada siapa saja yang ada didekatnya hingga tak jarang pula akibat dari kemarahan itu muncul emosi yang berlebihan hingga melupakan akal sehat yang bisa mengakibatkan kita bertindak emosional pula yang kadang malah membawa kita pada masalah lain yang lebih besar. 

Sulit rasanya untuk tersenyum saat masalah datang, padahal disaat seperti itu kejernihan dalam berpikir dan bertindak mutlak diperlukan dalam menghadapi setiap permaslahan hidup.Berusaha untuk selalu tersenyum kala menghadapi semuanya merupakan cermin ketegaran seseorang. Kalaupun tidak mampu tersenyum di bibir, mencoba untuk tersenyum dalam hati ternyata ampuh untuk meredam emosi dan dapat membuat kita selalu terlihat tegar karena dari hati yang tegar akan nampak pula ketenangan yang bisa dipancarkan keseluruh tubuh kita.

Lalu bagaimana bisa tersenyum jika masalah yang datang sangat berat, seperti ditinggalkan seseoarang yang dicintai (meninggal), ditinggal kekasih, putus cinta dan lain-lain? Ya…memang akan berat jika masalah seperti itu yang terjadi, tetapi kuncinya ada pada hati, karena mau tidak mau suka atau tidak suka, semuanya bisa terjadi dan harus terjadi. Kita dituntut harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan dalam hidup ini walau pahit sakalipun.Membiarkan dan mengikhlaskan hati adalah lebih baik dari pada meratapi semua yang telah terjadi. Tak bisa kita berhenti hanya karena suatu masalah yang memang harusnya terjadi dan diluar kekuasaan kita sedangkan waktu tak pernah berhenti untuk berputar dan hidup harus selalu melanjutkan perjalannya.[Hadapi dengan Senyuman,sumber internet tanpa nama].

Islam memandang senyum merupakan sedekah yang diberikan kepada saudara sesama muslim dan itu adalah hak sesama muslim, begitu juga sikap lain yang harus ditampakkan kepada saudara kita adalah kegembiraan ketika bertemu dan bertamu dengannya. Tentu dalam kondisi tertentu kita tidak boleh menampakkan kegembiraan dikala adanya musibah dan bencana, tidaklah wajar bila kita tertawa riang ataupun senyum manis saat mendatangi saudara kita yang sedang ditimpa musibah, tentu kita akan menampakkan sikap sedih dan ikut berbelasungkawa.

Sedih dan gembira merupakan keadaan jiwa yang selalu akan dihadapi oleh manusia, dikala ditimpa musibah, bencana dan kemalangan lainnya maka wajar bila sedih timbul dari jiwa kita yang diujudkan dalam sikap diam dan murung, begitu juga halnya dikala kita senang, berhasil dari suatu cita-cita tentu akan bahagia dan gembira ria yang diujudkan dengan senyum dan tertawa. Allah juga memberikan sesuatu hal yang menyenangkan yaitu tentang syurga dengan kegembiraan untuk orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al Baqarah 2;25
“dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”.

Pada hari raya Iedul Fitri kita dibolehkan bergembira di dalamnya. Di antaranya ialah kita boleh makan, minum, ‘bertemu’ istri dan lain sebagainya dari hal-hal mubah yang sebelumnya tidak boleh dilakukan di siang hari di bulan Ramadhan.

Namun yang lebih penting ialah bergembira dalam pengertian saling menyambung tali silaturrahim, saling berbagi, saling maaf-memaafkan, dan tentunya memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Oleh karena itu, malam harinya sebelum hari raya tiba, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak membaca takbir, tahmid bersama di masjid sebagai bentuk kegembiraan dan kesyukuran kepada Allah SWT.

Esok harinya kita dianjurkan memakai pakaian baru dan disunnahkan mendirikan sholat sunnah Iedul Fitri bersama-sama.

Bahkan karena begitu pentingnya hari raya Iedul Fitri bagi seluruh umat Islam, rasulullah saw pun dalam sebuah riwayat memerintahkan para gadis dan wanita (meskipun haidh) untuk keluar menuju tempat sholat  (tanah lapang) untuk menyaksikan dan menyemarakkan suasana hari raya.

Rasulullah saw juga tidak melarang anak-anak, remaja dan pemuda meluapkan kegembiraanya dengan bernasyd atau memukul rebana. Sebab hari ini adalah hari raya kita bersama.Tentu itu dilakukan dengan tetap mengindahkan perkara hijab alias tidak bercampur baur (ikhtilat).

Pernah Abu Bakar melarang beberapa gadis Anshar yang bernanyi di rumah rasulullah saw. Melihat tindakan Abu Bakar, rasulullah saw pun bersabda, “Biarkan keduanya (wahai Abu Bakar) karena sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari).

Kegembiraan tidak berarti kebebasan tanpa batas (bablas). Kegembiraan dalam Islam harus tetap dapat memelihara iman, menguatkan persaudaraan, dan membahagiakan yang lain. Oleh karenaitu, berbeda dengan perayaan agama lain atau tradisi lain. Hari raya tidak sama dengan Valentine Day di mana laki-laki dan perempuan memaknai kasih sayang di antara mereka dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat.

Di hari raya, tetap wanita dan pria yang bukan muhrim dilarang untuk bersalaman apalagi bedua-duaan.Jadi bila ada anak muda berboncengan dengan lawan jenisnya apalagi pergi menyepi di tempat-tempat hiburan di hari raya, maka sungguh dia telah menciderai kesucian dan kemenangan dirinya dan hari raya itu sendiri.

Jadi perlu kita pahami bersama bahwa hari raya bukan hari pesta-pora, dan bebas memperturutkan keinginan nafsu.

Oleh karena itu, untuk kaum wanita hendaknya keluar dalam keadaan menutup aurat, dengan tidak berhias, tidak memakai wewangian, dan tidak campur baur dengan laki-laki, karena dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan berpotensi mengundang fitnah bagi kaum lelaki.

Selain itu juga harus berusaha menghindari berjabat tangan dengan lawan jenis non muhirm. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika membaiat kaum wanita: ”Sungguh aku tidak berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram).” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan: “Benar-benar kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisi).

Sangat indah jika kita tidak menikmati kegembiraan hari raya Iedul Fitri hanya bersama keluarga semata.Tetapi juga bersama anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang terlantar.Pahamilah mereka adalah manusia yang sangat membutuhkan uluran tangan kita.Dan berbahagialah anda yang bisa membahagiakan mereka.

Hal itulah yang dilakukan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw, manusia yang sangat mencintai kaum miskin, terlantar dan anak-anak yatim piatu.[Hari Raya, Gembirakanlah Anak Yatim!Hidayatullah.com.kamis, 08 September 2011].

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya." Riwayat Muslim. 

Perhatian Rasulullah terhadap anak yatim Nampak dalam beberapa hal bahkan hal itu dialami lansung oleh beliau sebagai figure yang memberi teladan kepada ummatnya.Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.

            Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah, bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.

            Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.

            Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya.[Mukhlis Denros, Diantara Gema Takbir, Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta no. 153/ Maret 1994].

            Untuk menjaga hidup ini agar tetap bertahan hidup maka masa-masa bersedih atau berkabung yang dialami oleh ummat islam dibatasi hanya sampai tiga hari, ketika ada yang mendapat musibah kematian, maka keluarganya boleh berduka dengan kematian itu hanya tiga hari setelah itu segala aktivitas dikerjakan sebagaimana biasa, kita tidak boleh berduka itu dengan meratap sebagaimana yang dilakukan oleh orang jahiliyah pada masa dahulu, sedangkan bagi wanita yang kematian suaminya maka dia boleh berduka selama empat bulan sepuluh hari, artinya dia tidak boleh berdandan, mempercantik diri dengan hiasan yang mencolok apalagi dalam rangka untuk mengundang perhatian lelaki lain.

            Sebenarnya antara sedih dan gembira itu sangatlah tipisnya sehingga islam menganjurkan kepada kita agar dikala sedih janganlah terlalu larut dengan kesedihan itu sehingga kondisi fisik dan mental rusak jadinya, dikala bahagia juga jangan terlalu gembira sehingga terbahak-bahak kegirangan yang menyebabkan lupa dengan keadaan diri, bahkan Rasul menekankan kepada kita, seandainya manusia tahu dengan keadaan azab akherat sungguh mereka tidak akan sanggup untuk tersenyum apalagi tertawa. Rasul mengajak ummatnya untuk selalu waspada dengan hidup ini, hidup harus dalam pengawasan Allah dan menyandarkan diri kepada-Nya dari do’a ke do’a karena kesedihan dan kegembiraan yang kita luapkan kadangkala melupakan kita kepada Allah.

Abu Musa al-Asy'ary Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa: "(artinya = Ya Allah, ampunilah dosaku, kebodohanku, keborosanku dalam urusanku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah ampunilah diriku karena kesungguhanku, senda gurauku, kesalahanku, dan kesengajaanku, semuanya itu ada padaku. Ya Allah, ampunilah diriku dari dosa yang telah dan aku lakukan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku tampakkan, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau yang memajukan, Engkau yang mengundurkan, dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu)." Muttafaq Alaihi.

            Dalam menempuh hidup di dunia ini memang kita sering menemukan berbagai kesenangan, keberhasilan yang membuat kita bahagia dan gembira, tapi perlu disadari bahwa tidak ada yang perlu kita tertawa dan gembira dengan keadaan dunia ini karena perjalanan hidup kita masih panjang, dosa-dosa kita begitu banyak yang belum tentu diampuni Allah, walaupun ibadah yang kita lakukan begitu banyak juga belum tentu akan diterima Allah sebagai pahala disisi-Nya, selayaknya kita juga menyediakan waktu untuk bersedih dengan mengabaikan kegembiraan.

Dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.

Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?"

Berkata Hatim: "Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin."
Bertanya Isam: "Bagaimana wuduk batin itu?"    
Berkata Hatim: "Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:    
*  Bertaubat.    
*  Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.    
*  Tidak tergila-gila dengan dunia.    
*  Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia
*  Meninggalkan sifat bermegah-megahan.    
*  Meninggalkan sifat khianat dan menipu.    
*  Meninggalkan sifat dengki."    

Seterusnya Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid, kukemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim' dan aku menganggap bahwa sembahyangku kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun.Ketika Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Walaupun demikian bukan berarti kita selalu dalam keadaan sedih, murung dan menangis dalam hidup ini, khauf yaitu rasa takut kepada Allah harus dipupuk agar kita selalu waspada dalam hidup maka jiwa raja’ yaitu penuh harap kepada Allah juga perlu kita kembangkan, inilah sikap optimis yang akan memacu kita bisa menghadapi dunia penuh harapan.

Bergembira rialah sebelum kegembiraan itu hilang berganti dengan kesedihan, dan ingatlah dibalik kesedihan juga akan membentang kegembiraan, yang penting kita menempatkan kesedihan dan kegembiraan sesuai dengan kebutuhannya, hidup selalu sedih suatu hal mustahil dan hidup selalu gembira juga tidak mungkin, dikala sedih gunakanlah untuk merenung dan introsfeksi diri, saat bahagia dan gembira isi waktu dengan amal-amal shaleh sehingga kegembiraan tidak sia-sia jadinya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Zulhijjah 1432.H/05 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar