Kehidupan yang
dilalui manusia silih berganti, ada sehat ada sakit, ada senang ada sedih,
sengsara dan bahagia, tangis dan tawa, hal ini berjalan dari waktu ke waktu
sejak kelahiran manusia ke bumi, detik tumpahnya darah ke tanah ini kita dalam
keadaan menangis walaupun yang hadir menyambut gembira, hingga kelak setelah
sekian lama hidup di dunia, andaikata amal yang kita lakukan sesuai dengan
tuntutan ajaran islam maka kita akan mengakhiri dunia ini dengan senyuman
gembira walaupun yang lain menangis melepas kematian kita.
Senyum dan cemberutpun menghiasi sikap kita sehari-hari yang kadangkala
mudah sekali untuk berubah, kita mudah sekali cemberut walaupun dalam keadaan
senyum dikala menemukan hal-hal yang tidak diingini dan sebaliknya tanpa
difikir dari cemberut sedetik saja bisa kondisi kita mengembangkan senyum
karena adanya hal-hal yang menyenangkan.
Masalah dan
kejadian sehari-hari kadang membuat kita melupakan senyuman. Kesibukan
pekerjaan, dikejar deadline, dikejar target, bersinggungan dengan teman
sepekerjaan, tetangga dan keluarga membuat kita marah dan jika tak bisa
melampiaskan kemarahan paling kita bungkam atau memasang muka cemberut seolah
mengajak "perang" pada siapa saja yang ada didekatnya hingga
tak jarang pula akibat dari kemarahan itu muncul emosi yang berlebihan hingga
melupakan akal sehat yang bisa mengakibatkan kita bertindak emosional pula yang
kadang malah membawa kita pada masalah lain yang lebih besar.
Sulit
rasanya untuk tersenyum saat masalah datang, padahal disaat seperti itu kejernihan dalam berpikir dan bertindak
mutlak diperlukan dalam menghadapi setiap permaslahan hidup.Berusaha
untuk selalu tersenyum kala menghadapi semuanya merupakan cermin ketegaran
seseorang. Kalaupun tidak mampu tersenyum di bibir, mencoba untuk tersenyum
dalam hati ternyata ampuh untuk meredam emosi dan dapat membuat kita selalu
terlihat tegar karena dari hati yang tegar akan nampak pula ketenangan yang
bisa dipancarkan keseluruh tubuh kita.
Lalu
bagaimana bisa tersenyum jika masalah yang datang sangat berat, seperti ditinggalkan
seseoarang yang dicintai (meninggal), ditinggal kekasih, putus cinta dan
lain-lain? Ya…memang akan berat jika masalah seperti itu yang terjadi,
tetapi kuncinya ada pada hati, karena mau tidak mau suka atau tidak suka,
semuanya bisa terjadi dan harus terjadi. Kita dituntut harus selalu siap
menghadapi segala kemungkinan dalam hidup ini walau pahit sakalipun.Membiarkan
dan mengikhlaskan hati adalah lebih baik dari pada meratapi semua yang telah
terjadi. Tak bisa kita berhenti hanya karena suatu masalah yang memang harusnya
terjadi dan diluar kekuasaan kita sedangkan waktu tak pernah berhenti untuk
berputar dan hidup harus selalu melanjutkan perjalannya.[Hadapi dengan Senyuman,sumber internet
tanpa nama].
Islam memandang
senyum merupakan sedekah yang diberikan kepada saudara sesama muslim dan itu
adalah hak sesama muslim, begitu juga sikap lain yang harus ditampakkan kepada
saudara kita adalah kegembiraan ketika bertemu dan bertamu dengannya. Tentu
dalam kondisi tertentu kita tidak boleh menampakkan kegembiraan dikala adanya
musibah dan bencana, tidaklah wajar bila kita tertawa riang ataupun senyum
manis saat mendatangi saudara kita yang sedang ditimpa musibah, tentu kita akan
menampakkan sikap sedih dan ikut berbelasungkawa.
Sedih dan
gembira merupakan keadaan jiwa yang selalu akan dihadapi oleh manusia, dikala
ditimpa musibah, bencana dan kemalangan lainnya maka wajar bila sedih timbul
dari jiwa kita yang diujudkan dalam sikap diam dan murung, begitu juga halnya
dikala kita senang, berhasil dari suatu cita-cita tentu akan bahagia dan
gembira ria yang diujudkan dengan senyum dan tertawa. Allah juga memberikan
sesuatu hal yang menyenangkan yaitu tentang syurga dengan kegembiraan untuk
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, sebagaimana yang difirmankan dalam
surat Al Baqarah 2;25
“dan
sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa
bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan
: "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi
buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang
suci dan mereka kekal di dalamnya”.
Pada hari raya Iedul Fitri
kita dibolehkan bergembira di dalamnya. Di antaranya ialah kita boleh makan,
minum, ‘bertemu’ istri dan lain sebagainya dari hal-hal mubah yang sebelumnya
tidak boleh dilakukan di siang hari di bulan Ramadhan.
Namun yang lebih penting ialah
bergembira dalam pengertian saling menyambung tali silaturrahim, saling
berbagi, saling maaf-memaafkan, dan tentunya memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Oleh karena itu, malam harinya
sebelum hari raya tiba, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak membaca
takbir, tahmid bersama di masjid sebagai bentuk kegembiraan dan kesyukuran
kepada Allah SWT.
Esok harinya kita dianjurkan
memakai pakaian baru dan disunnahkan mendirikan sholat sunnah Iedul Fitri
bersama-sama.
Bahkan karena begitu
pentingnya hari raya Iedul Fitri bagi seluruh umat Islam, rasulullah saw pun
dalam sebuah riwayat memerintahkan para gadis dan wanita (meskipun haidh) untuk
keluar menuju tempat sholat (tanah lapang) untuk menyaksikan dan
menyemarakkan suasana hari raya.
Rasulullah saw juga tidak
melarang anak-anak, remaja dan pemuda meluapkan kegembiraanya dengan bernasyd
atau memukul rebana. Sebab hari ini adalah hari raya kita bersama.Tentu itu
dilakukan dengan tetap mengindahkan perkara hijab alias tidak bercampur baur (ikhtilat).
Pernah Abu Bakar melarang
beberapa gadis Anshar yang bernanyi di rumah rasulullah saw. Melihat tindakan
Abu Bakar, rasulullah saw pun bersabda, “Biarkan keduanya (wahai
Abu Bakar) karena sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah
hari raya kita.” (HR. Bukhari).
Kegembiraan tidak berarti
kebebasan tanpa batas (bablas). Kegembiraan dalam Islam harus tetap dapat
memelihara iman, menguatkan persaudaraan, dan membahagiakan yang lain. Oleh
karenaitu, berbeda dengan perayaan agama lain atau tradisi lain. Hari raya
tidak sama dengan Valentine Day di mana laki-laki dan perempuan memaknai kasih
sayang di antara mereka dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan
syariat.
Di hari raya, tetap wanita dan
pria yang bukan muhrim dilarang untuk bersalaman apalagi bedua-duaan.Jadi bila
ada anak muda berboncengan dengan lawan jenisnya apalagi pergi menyepi di
tempat-tempat hiburan di hari raya, maka sungguh dia telah menciderai kesucian
dan kemenangan dirinya dan hari raya itu sendiri.
Jadi perlu kita pahami bersama
bahwa hari raya bukan hari pesta-pora, dan bebas memperturutkan keinginan
nafsu.
Oleh karena itu, untuk kaum
wanita hendaknya keluar dalam keadaan menutup aurat, dengan tidak berhias,
tidak memakai wewangian, dan tidak campur baur dengan laki-laki, karena
dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan berpotensi mengundang
fitnah bagi kaum lelaki.
Selain itu juga harus berusaha
menghindari berjabat tangan dengan lawan jenis non muhirm. Sebagaimana sabda
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika membaiat kaum wanita: ”Sungguh
aku tidak berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram).” (HR.
An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan:
“Benar-benar kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu
lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR.
Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisi).
Sangat indah jika kita tidak
menikmati kegembiraan hari raya Iedul Fitri hanya bersama keluarga
semata.Tetapi juga bersama anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang
terlantar.Pahamilah mereka adalah manusia yang sangat membutuhkan uluran tangan
kita.Dan berbahagialah anda yang bisa membahagiakan mereka.
Hal itulah yang dilakukan oleh
junjungan kita Nabi Muhammad saw, manusia yang sangat mencintai kaum miskin,
terlantar dan anak-anak yatim piatu.[Hari Raya, Gembirakanlah Anak Yatim!Hidayatullah.com.kamis, 08 September 2011].
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa
melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan
kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan,
Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi
(aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan
Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya."
Riwayat Muslim.
Perhatian Rasulullah terhadap anak
yatim Nampak dalam beberapa hal bahkan hal itu dialami lansung oleh beliau
sebagai figure yang memberi teladan kepada ummatnya.Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul
Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal,
rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu
sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue
yang enak, dimana orangtuamu?”.
Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di
hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana
saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan
mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah
lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh
ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah,
bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.
Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah
mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru
dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.
Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat
seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa
melecehkan keadaannya.[Mukhlis Denros, Diantara Gema Takbir, Majalah Serial
Khutbah Jum’at Jakarta no. 153/ Maret 1994].
Untuk menjaga hidup ini agar tetap bertahan hidup maka
masa-masa bersedih atau berkabung yang dialami oleh ummat islam dibatasi hanya
sampai tiga hari, ketika ada yang mendapat musibah kematian, maka keluarganya
boleh berduka dengan kematian itu hanya tiga hari setelah itu segala aktivitas
dikerjakan sebagaimana biasa, kita tidak boleh berduka itu dengan meratap
sebagaimana yang dilakukan oleh orang jahiliyah pada masa dahulu, sedangkan
bagi wanita yang kematian suaminya maka dia boleh berduka selama empat bulan
sepuluh hari, artinya dia tidak boleh berdandan, mempercantik diri dengan
hiasan yang mencolok apalagi dalam rangka untuk mengundang perhatian lelaki
lain.
Sebenarnya antara sedih dan gembira itu sangatlah
tipisnya sehingga islam menganjurkan kepada kita agar dikala sedih janganlah
terlalu larut dengan kesedihan itu sehingga kondisi fisik dan mental rusak
jadinya, dikala bahagia juga jangan terlalu gembira sehingga terbahak-bahak
kegirangan yang menyebabkan lupa dengan keadaan diri, bahkan Rasul menekankan
kepada kita, seandainya manusia tahu dengan keadaan azab akherat sungguh mereka
tidak akan sanggup untuk tersenyum apalagi tertawa. Rasul mengajak ummatnya
untuk selalu waspada dengan hidup ini, hidup harus dalam pengawasan Allah dan
menyandarkan diri kepada-Nya dari do’a ke do’a karena kesedihan dan kegembiraan
yang kita luapkan kadangkala melupakan kita kepada Allah.
Abu Musa al-Asy'ary Radliyallaahu
'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa:
"(artinya = Ya Allah, ampunilah dosaku, kebodohanku, keborosanku dalam
urusanku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah
ampunilah diriku karena kesungguhanku, senda gurauku, kesalahanku, dan
kesengajaanku, semuanya itu ada padaku. Ya Allah, ampunilah diriku dari dosa
yang telah dan aku lakukan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku tampakkan,
dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau yang memajukan,
Engkau yang mengundurkan, dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu)."
Muttafaq Alaihi.
Dalam menempuh hidup di dunia ini memang kita sering
menemukan berbagai kesenangan, keberhasilan yang membuat kita bahagia dan
gembira, tapi perlu disadari bahwa tidak ada yang perlu kita tertawa dan
gembira dengan keadaan dunia ini karena perjalanan hidup kita masih panjang,
dosa-dosa kita begitu banyak yang belum tentu diampuni Allah, walaupun ibadah
yang kita lakukan begitu banyak juga belum tentu akan diterima Allah sebagai
pahala disisi-Nya, selayaknya kita juga menyediakan waktu untuk bersedih dengan
mengabaikan kegembiraan.
Dikisahkan
bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan
sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau
ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya
lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya
kurang khusyuk.
Pada
suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan
bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah
caranya tuan sembahyang?"
Berkata Hatim:
"Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin."
Bertanya Isam:
"Bagaimana wuduk batin itu?"
Berkata Hatim:
"Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wuduk dengan
air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:
* Bertaubat.
* Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.
* Tidak tergila-gila dengan dunia.
* Tidak mencari atau mengharapkan pujian
dari manusia
* Meninggalkan sifat bermegah-megahan.
* Meninggalkan sifat khianat dan menipu.
* Meninggalkan sifat dengki."
Seterusnya
Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid, kukemaskan semua anggotaku
dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan
Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku,
malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah
berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim' dan aku menganggap bahwa sembahyangku
kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas
sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan
dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan
tawaduk (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan
aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun.Ketika
Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya kerana membayangkan ibadahnya yang
kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.
Walaupun
demikian bukan berarti kita selalu dalam keadaan sedih, murung dan menangis
dalam hidup ini, khauf yaitu rasa takut kepada Allah harus dipupuk agar kita
selalu waspada dalam hidup maka jiwa raja’ yaitu penuh harap kepada Allah juga
perlu kita kembangkan, inilah sikap optimis yang akan memacu kita bisa
menghadapi dunia penuh harapan.
Bergembira
rialah sebelum kegembiraan itu hilang berganti dengan kesedihan, dan ingatlah
dibalik kesedihan juga akan membentang kegembiraan, yang penting kita menempatkan
kesedihan dan kegembiraan sesuai dengan kebutuhannya, hidup selalu sedih suatu
hal mustahil dan hidup selalu gembira juga tidak mungkin, dikala sedih
gunakanlah untuk merenung dan introsfeksi diri, saat bahagia dan gembira isi
waktu dengan amal-amal shaleh sehingga kegembiraan tidak sia-sia jadinya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Zulhijjah 1432.H/05
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar