Kegiatan da’wah bukan hanya sebatas
penyampaian materi dakwah dalam ceramah dan khutbah, da’wah itu jangkauan luas
dari pada sebatas itu, begitu juga halnya orang yang mengemban da’wah bukanlah
sembarang orang tapi orang-orang pilihan yang dilalui dari berbagai training
dan pengkaderan walaupun secara umum da’wah itumemang diwajibkan kepada setiap
muslim.
Semua umat Islam sepakat bahwa dakwah adalah amalan yang disyariatkan dan
masuk kategori fardhu kifayah.Tidak boleh kategori diabaikan, diacuhkan, dan
dikurangi bobot kewajibannya.Hal itu disebabkan terdapat banyak perintah dalam
Al-Qur’an dan As Sunah untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, seperti
firman Allah “Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran:104).
Ayat ini bersifat umum dan merupakan kewajiban atas setiap individu
untuk melaksanakannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Huruf (من) disitu berarti penjelas.Kalau menjadi penjelas maknanya
jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar (lihat Jami’ul
Bayan oleh At-Thabary 4/26).Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu
Katsir, maksud dari ayat ini adalah jadilah kamu sekelompok orang dari umat
yang melaksanakan kewajiban dakwah. Kewajiban ini wajib atas setiap muslim,
sebagaimana hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu
Hurairah, telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka
hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah
dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan
itulah selemah-lemah iman.” Dan pada riwayat lain, “Dan setelah itu tidak ada iman sedikitpun
Dakwah Ilallah merupakan kewajiban
yang disyari’atkan dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul kaum muslimin
seluruhnya. Artinya setiap muslim dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuannya
dan peluang yang dimilikinya. Oleh sebab itu wajiblah bagi kita untuk semangat
berpartisipasi dalam berdakwah menyebarkan Islam ke mana saja dan di mana saja
kita berada.[Muh. Ubaidillah Al-Ghifary, Kewajiban Kita BerpartisipasiDalam DakwahIlallah, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Sebagai
muslim, apapun pekerjaan yang diembannya, dia bisa menjadikan dakwah sebagai
pekerjaan utamanya, dokter adalah pekerjaan tapi dengan dakwah pekerjaan
dokternya akan lebih baik lagi karena tugas sebagai dokter dilakukan dengan
penuh tanggungjawab yang dilandasi dengan nilai-nilai islam, demikian pula
dengan pekerjaan lainnya sehingga jangan heran bila seorang ulama, da’i, kiyai
dan mubaligh yang berhasil menjadi anggota dewan dia akan memeran da’wah di
Parlemen sesuai dengan kapasitasnya, tapi yang jelas dimana saja seorang da’i
berada maka harus mempersiapkan dirinya terutama ruhiyyah sebelum da’wah
digelar.Pentingnya
ruhiyyah bagi seorang da’I diungkapkan oleh Dr. Attabiq Luthfi,
MA di bawah ini;
Ruhiyah adalah bekal yang
terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang
akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang
dilakukannya..Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas
sukses hidup seseorang, demikian juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang
menyatakan, “Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”.
Ungkapan ini merupakan “iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih
Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki
ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.
Dalam konteks dakwah, menjaga
dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan
dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan
bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga
ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian
lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar
jihad”. (Al-Hajj: 77-78)
Menurut susunannya, ayat di
atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala prioritas;
diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah yang tercermin
dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan
implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang
diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah
agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan,
terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat
Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata hanya memenuhi aspek
keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari itu, terdapat hikmah
yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-Qur’an memang
bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).
Peri pentingnya ruhiyah dalam
dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini
secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari
awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan
kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah
mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun
lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail
layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah
mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam
menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah.
Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah
dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.[Ruhiyah, Bekal Berdakwah, Dakwatuna;
18/4/2007 | 01 Rabiuts Tsani 1428 H].
Keringnya ruhiyyah seseorang
akan mempengaruhi dirinya yang tentu saja juga akan mempengaruhi kerja dan
hasil da’wah, da’i yang ruhiyyahnya tidak terjaga dengan baik akan diserang
oleh berbagai penyakit diantaranya penyakit isti’na yaitu merasa tinggi atau
merasa lebih dari orang lain, isti’jal yaitu sikap terburu-buru. Padahal da’wah
itu melalui proses yang panjang namun pasti yang kita kenal dengan nama
istidraj atau tadaruj.
tadarruj bermakna:
bertahap. Sebagian yang lain mengatakan: sedikit demi sedikit. Yang lainnya
lagi mengatakan: gradual. Dan ada juga yang mengatakan: langkah demi
langkah.
“Bertahap” maksudnya adalah
kalau kita hendak menyelesaikan suatu perjalanan panjang, maka kita akan
membagi perjalanan panjang tersebut dalam beberapa tahapan, dan untuk mencapai
tujuan akhir dari perjalanan, kita harus melewati semua tahapan yang ada. Pada
setiap tahapan tersebut mungkin kita rehat, makan, shalat dan sebagainya,
istilahnya adalah tazawwud (menambah perbekalan) agar mampu melanjutkan
perjalanan pada tahapan berikutnya. Kendaraan kita pun perlu mendapatkan
perlakukan yang sama.
“Sedikit demi sedikit”
ibaratnya seperti makan sepiring nasi.Tentunya tidak kita telan sekaligus,
tetapi, kita makan sesuap demi sesuap, kita kunyah dengan baik suapan itu, baru
kita menelannya.Ambil lagi suapan ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya.Begini
penjelasan dari yang lainnya.
“gradual” itu istilah Inggris,
maksudnya adalah menyelesaikan sesuatu grad demi grad, langkah demi langkah,
tahap demi tahap.
“Jadi, kata tadarruj paling tidak
menggambarkan dua hal sekaligus, yaitu:
1. Gambaran dari ‘tahapan’ atau
‘sedikit demi sedikit’ atau ‘gradual’ atau ‘langkah demi langkah’ di satu sisi,
dan
2. Suasana jalan yang menanjak
dari bawah ke atas sebagaimana tanjakan sebuah tangga yang terdiri dari
beberapa anak tangga”.
“Perlu juga kita ketahui, ada
bermacam-macam tangga yang pernah kita temui; ada tangga sebuah bangunan yang
antara anak tangga satu ke anak tangga dua menggunakan ukuran standard, yaitu
15 cm, sehingga siapa pun yang menaiki tangga standard ini akan merasakan
kenyamanan. Namun ada juga yang tidak standard, mungkin bisa 25 sampai 30
centimeter, sehingga untuk menaikinya kita perlu mengangkat kaki tinggi-tinggi,
sehingga membuat kita cepat lelah dan kecapekan”.
“Ada juga yang dalam membuat
lebar anak tangganya standard, sehingga satu anak tangga cukup dengan satu
ayunan langkah kaki, namun ada juga yang dalam membuat lebar anak tangga tidak
standard, sehingga untuk menyelesaikan satu anak tangga diperlukan dua
langkah”.
Kerja-kerja dakwah itu mirip
dengan menaiki tangga, sehingga sangat tepat kalau ada istilah tadarruj ini.
Namun, paling tidak ada dua hal yang perlu
dijelaskan di sini, yaitu:
1. Tadarruj dalam dakwah
bukanlah tadarruj yang bersifat fisik. Ia adalah sesuatu yang bersifat ma’nawi
atau non fisik. Oleh karena itu, ia tidak bersifat kasat mata yang semua orang
dengan mudah dapat mengukur dan menilainya. Untuk membuat dan mengukurnya
diperlukan sudut pandang (nazhrah) yang akurat dari orang-orang yang
berpengalaman (khabir). Dan kalau hal ini dilakukan melalui ijtihad jama’i akan
semakin baik.
2. Bisa dipastikan bahwa bahasa
‘target’ pada setiap darajah pastilah berbeda. Sekedar contoh; kalau tadarruj
yang kita maksud terdiri dari lima darajah, dan pada darajah kelima – misalnya
– adalah: ‘tercapainya pembentukan 5 kelas untuk setiap tingkatan pendidikan
SLTA’, bisa dipastikan bahwa pada darajah (anak tangga 1) tentulah ‘target’-nya
tidaklah demikian. Dan sudah tentu juga bahasa khithab (wacana) pada darajah 1
pastilah tidak sama dengan darajah 2, 3, 4 dan 5.[Musyafa Ahmad Rahim, Lc,Makna Tadarruj,Dakwatuna.com.27/7/2011 | 26 Sya'ban 1432
H].
Ketika
datang dua orang pada waktu berbeda, mereka adalah Arab Baduy, sengaja kepada Rasulullah menyatakan diri untuk masuk
Islam. Orang pertama Rasul menyatakan bahwa ucapkan syahadat saja dan pulanglah
karena engkau sudah islam, orang yang kedua setelah bersyahadat diberikan oleh
Rasulullah sebilah pedang, agar besok berangkat ke medan jihad, kedua orang itu
sama-sama masuk islam tapi penanganannya jauh berbeda, karena Rasul mengetahui
kualitas kedua orang itu.
Melakukan tugas apalagi yang berkaitan
dengan da’wah harus melalui tahap-tahap tertentu, tidak boleh tergesa-gesa,
melalui proses yang alami, hal ini disebut dengan professional, da’wah yang
professional adalah da’wah yang dilakukan dengan ihsan dan itqan [baik dan
rapi].Dr. Attabiq Luthfi, MA mengomentari tentang da’wah yang professional itu dalam tulisannya di
bawah ini;
Seorang
yang profesional adalah seorang yang tekun, sabar dan tahan godaan, senantiasa
dinamis dan mencari kreatifitas baru dalam berdakwah, karena memang ia tidak akan
pernah setuju dan rela jika dakwah ini vakum, berjalan di tempat dan tidak
mendapat tempat di hati umat. Contoh paling fenomenal adalah nabi Nuh as.
Ditengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah
agar keberlangsungan dakwah bisa dipertahankan. Ia tetap komit dan tegar,
bahkan mencari alternatif sarana dakwah yang beragam sesuai dengan kondisi dan
tuntutan kaumnya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru
kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari
kebenaran)…… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman)
dengan cara terang-terangan kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi)
dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (Nuh: 5-9).
Disinilah profesionalitas kita
akan terus diuji dengan beragam ujian sehingga akan lahir kaliber manusia yang
diabadikan oleh Allah sebagai kelompok yang tetap tegar dan jujur dalam dakwah
mereka, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa
yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.
Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah
(janjinya)”. (Al-Ahzab: 23). Inilah prinsip yang senatiasa dipegang oleh para
pendahulu dakwah, karena mereka yakin bahwa kecintaan Allah hAnya akan
dianugerahkan kepada mereka yang beramal dengan tulus, cerdas, tuntas dan
serius. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah cinta jika hambaNya
beramal dengan itqan”. Itqan dalam arti berbuat lebih banyak, lebih bermutu dan
berkualitas dari umumnya orang mampu berbuat dan bekerja, seperti yang Allah
gambarkan tentang kelompok manusia muhsin yang mampu beramal, lebih tinggi di
atas rata-rata kebanyakan manusia sanggup beramal.“Sesungguhnya mereka sebelum
itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan.Di dunia mereka
sedikit sekali tidur diwaktu malam.Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi
sebelum fajar”. (Adz-Dzariyat: 16-18)
Ruang dakwah ke depan memang
akan menuntut lebih profesionalisme kita dalam konteks “keilmuan” yang bisa
dipertanggungjawabkan (bashirah) sehingga dakwah citra dakwah ini akan tetap
baik seiring dengan permasalahan dan perkembangan dunia global yang lebih
menantang. Mari ciptakan suasana ilmiyyah yang merupakan komponen dasar dari profesionalitas
dalam dakwah kita[ Profesionalisme Dalam Dakwah, Dakwatuna.com; 5/2/2008 | 26
Muharram 1429 H].
Karena
kerja da’wah ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya maka
selayaknya kita mengikuti manhaj da’wah Rasulullah kalau mau hasil yang kira
peroleh sebagaimana kualitas di masa da’wah beliau, karena kerja da’wah adalah
milik Allah yang diembankan-Nya kepada kita sebagai seorang muslim maka kita
hanya dituntut untuk bekerja sesuai dengan sunnah Rasul dan Sunnatullah maka
hasilnya kelak akan kita lihat dan balasannya juga akan kita peroleh sesuai
dengan kadar iman dan keikhlasan kita dalam berbuat, berbuatlah karena Allah,
Rasul dan orang-orang beriman akan menyaksikan apa yang sudah kita kerjakan,
wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 16 Zulhijjah 1432.H/ 12 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar