Selasa, 16 Februari 2016

230. Istidraj



Kegiatan da’wah bukan hanya sebatas penyampaian materi dakwah dalam ceramah dan khutbah, da’wah itu jangkauan luas dari pada sebatas itu, begitu juga halnya orang yang mengemban da’wah bukanlah sembarang orang tapi orang-orang pilihan yang dilalui dari berbagai training dan pengkaderan walaupun secara umum da’wah itumemang diwajibkan kepada setiap muslim.

Semua umat Islam sepakat bahwa dakwah adalah amalan yang disyariatkan dan masuk kategori fardhu kifayah.Tidak boleh kategori diabaikan, diacuhkan, dan dikurangi bobot kewajibannya.Hal itu disebabkan terdapat banyak perintah dalam Al-Qur’an dan As Sunah untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, seperti firman Allah “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran:104). 

Ayat ini bersifat  umum dan merupakan kewajiban atas setiap individu untuk melaksanakannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Huruf (من) disitu berarti penjelas.Kalau menjadi penjelas maknanya jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar (lihat Jami’ul Bayan oleh At-Thabary 4/26).Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah jadilah kamu sekelompok orang dari umat yang melaksanakan kewajiban dakwah. Kewajiban ini wajib atas setiap muslim, sebagaimana hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” Dan pada riwayat lain, “Dan setelah itu tidak ada iman sedikitpun

            Dakwah Ilallah merupakan kewajiban yang disyari’atkan dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul kaum muslimin seluruhnya. Artinya setiap muslim dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuannya dan peluang yang dimilikinya. Oleh sebab itu wajiblah bagi kita untuk semangat berpartisipasi dalam berdakwah menyebarkan Islam ke mana saja dan di mana saja kita berada.[Muh. Ubaidillah Al-Ghifary, Kewajiban Kita BerpartisipasiDalam DakwahIlallah, www.alsofwah.or.id/khutbah].

            Sebagai muslim, apapun pekerjaan yang diembannya, dia bisa menjadikan dakwah sebagai pekerjaan utamanya, dokter adalah pekerjaan tapi dengan dakwah pekerjaan dokternya akan lebih baik lagi karena tugas sebagai dokter dilakukan dengan penuh tanggungjawab yang dilandasi dengan nilai-nilai islam, demikian pula dengan pekerjaan lainnya sehingga jangan heran bila seorang ulama, da’i, kiyai dan mubaligh yang berhasil menjadi anggota dewan dia akan memeran da’wah di Parlemen sesuai dengan kapasitasnya, tapi yang jelas dimana saja seorang da’i berada maka harus mempersiapkan dirinya terutama ruhiyyah sebelum da’wah digelar.Pentingnya ruhiyyah bagi seorang da’I diungkapkan oleh Dr. Attabiq Luthfi, MA di bawah ini;

Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang dilakukannya..Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas sukses hidup seseorang, demikian juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang menyatakan, “Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”. Ungkapan ini merupakan “iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.

Dalam konteks dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”. (Al-Hajj: 77-78)

Menurut susunannya, ayat di atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).

Peri pentingnya ruhiyah dalam dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah. Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.[Ruhiyah, Bekal Berdakwah, Dakwatuna; 18/4/2007 | 01 Rabiuts Tsani 1428 H].

Keringnya ruhiyyah seseorang akan mempengaruhi dirinya yang tentu saja juga akan mempengaruhi kerja dan hasil da’wah, da’i yang ruhiyyahnya tidak terjaga dengan baik akan diserang oleh berbagai penyakit diantaranya penyakit isti’na yaitu merasa tinggi atau merasa lebih dari orang lain, isti’jal yaitu sikap terburu-buru. Padahal da’wah itu melalui proses yang panjang namun pasti yang kita kenal dengan nama istidraj atau tadaruj.

tadarruj bermakna: bertahap. Sebagian yang lain mengatakan: sedikit demi sedikit. Yang lainnya lagi mengatakan: gradual. Dan ada juga yang mengatakan: langkah demi langkah.

“Bertahap” maksudnya adalah kalau kita hendak menyelesaikan suatu perjalanan panjang, maka kita akan membagi perjalanan panjang tersebut dalam beberapa tahapan, dan untuk mencapai tujuan akhir dari perjalanan, kita harus melewati semua tahapan yang ada. Pada setiap tahapan tersebut mungkin kita rehat, makan, shalat dan sebagainya, istilahnya adalah tazawwud (menambah perbekalan) agar mampu melanjutkan perjalanan pada tahapan berikutnya. Kendaraan kita pun perlu mendapatkan perlakukan yang sama.

“Sedikit demi sedikit” ibaratnya seperti makan sepiring nasi.Tentunya tidak kita telan sekaligus, tetapi, kita makan sesuap demi sesuap, kita kunyah dengan baik suapan itu, baru kita menelannya.Ambil lagi suapan ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya.Begini penjelasan dari yang lainnya.

“gradual” itu istilah Inggris, maksudnya adalah menyelesaikan sesuatu grad demi grad, langkah demi langkah, tahap demi tahap.

“Jadi, kata tadarruj paling tidak menggambarkan dua hal sekaligus, yaitu:

1.    Gambaran dari ‘tahapan’ atau ‘sedikit demi sedikit’ atau ‘gradual’ atau ‘langkah demi langkah’ di satu sisi, dan

2.    Suasana jalan yang menanjak dari bawah ke atas sebagaimana tanjakan sebuah tangga yang terdiri dari beberapa anak tangga”.

“Perlu juga kita ketahui, ada bermacam-macam tangga yang pernah kita temui; ada tangga sebuah bangunan yang antara anak tangga satu ke anak tangga dua menggunakan ukuran standard, yaitu 15 cm, sehingga siapa pun yang menaiki tangga standard ini akan merasakan kenyamanan. Namun ada juga yang tidak standard, mungkin bisa 25 sampai 30 centimeter, sehingga untuk menaikinya kita perlu mengangkat kaki tinggi-tinggi, sehingga membuat kita cepat lelah dan kecapekan”.

“Ada juga yang dalam membuat lebar anak tangganya standard, sehingga satu anak tangga cukup dengan satu ayunan langkah kaki, namun ada juga yang dalam membuat lebar anak tangga tidak standard, sehingga untuk menyelesaikan satu anak tangga diperlukan dua langkah”.

Kerja-kerja dakwah itu mirip dengan menaiki tangga, sehingga sangat tepat kalau ada istilah tadarruj ini.
Namun, paling tidak ada dua hal yang perlu dijelaskan di sini, yaitu:

1.    Tadarruj dalam dakwah bukanlah tadarruj yang bersifat fisik. Ia adalah sesuatu yang bersifat ma’nawi atau non fisik. Oleh karena itu, ia tidak bersifat kasat mata yang semua orang dengan mudah dapat mengukur dan menilainya. Untuk membuat dan mengukurnya diperlukan sudut pandang (nazhrah) yang akurat dari orang-orang yang berpengalaman (khabir). Dan kalau hal ini dilakukan melalui ijtihad jama’i akan semakin baik.

2.    Bisa dipastikan bahwa bahasa ‘target’ pada setiap darajah pastilah berbeda. Sekedar contoh; kalau tadarruj yang kita maksud terdiri dari lima darajah, dan pada darajah kelima – misalnya – adalah: ‘tercapainya pembentukan 5 kelas untuk setiap tingkatan pendidikan SLTA’, bisa dipastikan bahwa pada darajah (anak tangga 1) tentulah ‘target’-nya tidaklah demikian. Dan sudah tentu juga bahasa khithab (wacana) pada darajah 1 pastilah tidak sama dengan darajah 2, 3, 4 dan 5.[Musyafa Ahmad Rahim, Lc,Makna Tadarruj,Dakwatuna.com.27/7/2011 | 26 Sya'ban 1432 H].

            Ketika datang dua orang pada waktu berbeda, mereka adalah Arab Baduy, sengaja  kepada Rasulullah menyatakan diri untuk masuk Islam. Orang pertama Rasul menyatakan bahwa ucapkan syahadat saja dan pulanglah karena engkau sudah islam, orang yang kedua setelah bersyahadat diberikan oleh Rasulullah sebilah pedang, agar besok berangkat ke medan jihad, kedua orang itu sama-sama masuk islam tapi penanganannya jauh berbeda, karena Rasul mengetahui kualitas kedua orang itu.

                Melakukan tugas apalagi yang berkaitan dengan da’wah harus melalui tahap-tahap tertentu, tidak boleh tergesa-gesa, melalui proses yang alami, hal ini disebut dengan professional, da’wah yang professional adalah da’wah yang dilakukan dengan ihsan dan itqan [baik dan rapi].Dr. Attabiq Luthfi, MA mengomentari tentang da’wah yang professional itu dalam tulisannya di bawah ini; 

Seorang yang profesional adalah seorang yang tekun, sabar dan tahan godaan, senantiasa dinamis dan mencari kreatifitas baru dalam berdakwah, karena memang ia tidak akan pernah setuju dan rela jika dakwah ini vakum, berjalan di tempat dan tidak mendapat tempat di hati umat. Contoh paling fenomenal adalah nabi Nuh as. Ditengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah agar keberlangsungan dakwah bisa dipertahankan. Ia tetap komit dan tegar, bahkan mencari alternatif sarana dakwah yang beragam sesuai dengan kondisi dan tuntutan kaumnya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)…… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (Nuh: 5-9).

Disinilah profesionalitas kita akan terus diuji dengan beragam ujian sehingga akan lahir kaliber manusia yang diabadikan oleh Allah sebagai kelompok yang tetap tegar dan jujur dalam dakwah mereka, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (Al-Ahzab: 23). Inilah prinsip yang senatiasa dipegang oleh para pendahulu dakwah, karena mereka yakin bahwa kecintaan Allah hAnya akan dianugerahkan kepada mereka yang beramal dengan tulus, cerdas, tuntas dan serius. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah cinta jika hambaNya beramal dengan itqan”. Itqan dalam arti berbuat lebih banyak, lebih bermutu dan berkualitas dari umumnya orang mampu berbuat dan bekerja, seperti yang Allah gambarkan tentang kelompok manusia muhsin yang mampu beramal, lebih tinggi di atas rata-rata kebanyakan manusia sanggup beramal.“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan.Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (Adz-Dzariyat: 16-18)

Ruang dakwah ke depan memang akan menuntut lebih profesionalisme kita dalam konteks “keilmuan” yang bisa dipertanggungjawabkan (bashirah) sehingga dakwah citra dakwah ini akan tetap baik seiring dengan permasalahan dan perkembangan dunia global yang lebih menantang. Mari ciptakan suasana ilmiyyah yang merupakan komponen dasar dari profesionalitas dalam dakwah kita[ Profesionalisme Dalam Dakwah, Dakwatuna.com; 5/2/2008 | 26 Muharram 1429 H].

Karena kerja da’wah ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya maka selayaknya kita mengikuti manhaj da’wah Rasulullah kalau mau hasil yang kira peroleh sebagaimana kualitas di masa da’wah beliau, karena kerja da’wah adalah milik Allah yang diembankan-Nya kepada kita sebagai seorang muslim maka kita hanya dituntut untuk bekerja sesuai dengan sunnah Rasul dan Sunnatullah maka hasilnya kelak akan kita lihat dan balasannya juga akan kita peroleh sesuai dengan kadar iman dan keikhlasan kita dalam berbuat, berbuatlah karena Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan menyaksikan apa yang sudah kita kerjakan, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 16 Zulhijjah 1432.H/ 12 November 2011.M].   






Tidak ada komentar:

Posting Komentar