Perspektif Mukhlis Denros
Senin, 12 April 2021
Rabu, 02 Maret 2016
294. Sombong
Manusia adalah makhluk dhaif [lemah] yang
diciptakan Allah Swt melalui proses panjang yang diawali dari terpancarnya
sperma hingga bertemu dengan sel telur pada sebuah rahim seorang wanita, selama
sembilan sepuluh hari maka terujudlah
sang junior melalui kelahiran lazimnya seorang manusia. Kehadirannya sangat
lemah sekali, tidak berdaya, bahkan rawan oleh penyakit yang dapat mengakhiri
ajalnya. Melalui seleksi alam, perawatan orangtuanya dan takdir Allah lambat
laun perkembangannya sangat menentukan eksistensinya sebagai ciptaan yang
paling bagus dibandingkan hamba Allah yang lain, sebagaimana yang digambarkan dalam surat At Tin 95;4-5 ”sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .Kemudian Kami kembalikan
dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),”
Bila
manusia selama perjalanan hidupnya tetap sesuai dengan fithrah kejadian selaras
kebaikan yang terimplementasikan melalui aktivitas sehari-hari, apalagi mampu
meraih derajat mulia dengan prediket taqwa maka Allah dekat dengannya [49;13],
posisinya masih layak ”ahsani taqwim” sebaik-baik kejadian. Apabila telah
melanggar aturan Allah dengan kecongkakan dan keangkuhan maka posisinya jauh
terlempar di dasar neraka jahanam ”asfala safilin”, sebagai ujud kebencian
Allah kepada mereka bahkan dapat disebut dengan ”mukhtal fakhur” orang-orang
yang angkuh, congkak, sombong atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain,
baik kedudukan, keturunan, kebagusan bentuk dan lain-lain sebagainya.
Orang
yang demikian diberikan oleh Allah berbagai ancaman yang sangat mengerikan,
salah satu bentuk kesombongan itu adalah enggan menyembah Allah atau malah
sombong karena banyaknya ibadah yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya [Al Mukmin;60]
”Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
Rasulullah
menyatakan dalam hadits qudsi,”Allah Ta’ala berfirman,”Kesombongan adalah
selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa menyamai-Ku salah
satu dari keduanya, maka pasti Ku lemparkan ia ke dalam jahanam dan tidak akan
Ku perlihatkan lagi”{HR.Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah].
Takabur atau angkuh dan sombong itu terbagi
menjadi dua, yaitu yang dalam batin dan yang tampak lahir, yang batin ialah
yang merupakan kelakuan-kelakuan yang keluar dari anggota badan. Kelakuan –
kelakuan ini amat banyak sekali bentuknya dan oleh karena itu sukar untuk
dihitung dan diperinci satu persatu. Bahaya sifat ini besar sekali sedang
kerusakan yang diakibatkannyapun sangat luar biasa hebatnya. Bagaimanakah tidak
akan besar bahayanya, sedangkan Rasululah Saw sendiri pernah bersabda,”Tidak dapat
masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat debu dari sifat
ketakaburan”[HR.Muslim]
Sifat
takabur ini sampai dapat tabir atau penghalang antara seseorang yang
memilikinya dengan syurga. Sebabnya tidak lain
ialah karena takabur itu pulalah yang merupakan batas pemisah antara
seseorang dengan akhlak dan budi pekerti kaum mukmin seluruhnya. Akhlak serta
budi pekerti yang baik adalah merupakan pintu-pintu syurga, sedangkan takabur
itu sendiri yang menyebabkan tertutupnya pintu-pintu tersebut.
Banyak
hal yang menyebabkan seseorang takabut yaitu ilmu pengetahuan, amalan dan
ibadat, keturunan atau silsilah, karena ganteng dan cantik, harta kekayaan,
kekuatan dan ketangkasan tubuh, banyaknya pengikut, penolong, keluarga atau
kerabat dan menutupi kekurangan serta kebodohan seseorang.
Kalau
sekiranya manusia menyadari eksistensinya sebagai hamba, segala kelebihan yang
dimiliki semuanya itu dari Allah yang wajib disyukuri, maka tidaklah layak dia
untuk sombong,angkuh dan takabur. Kesadaran inilah akhirnya menjadikannya
seolah-olah lebih besar dari Tuhan yang menciptakannya [Abasa ;17-22]
”Demikianlah Kami memberi balasan kepada
mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian
itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman].
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman].
Maka mereka berkata: "Ya Tuhan
kami jauhkanlah jarak perjalanan kami", dan mereka menganiaya diri mereka
sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka
sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
Dan sesungguhnya iblis telah dapat
membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya,
kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.
Dan tidak adalah kekuasaan iblis
terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang
beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu.
Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.
Katakanlah:
" Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka
tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka
tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan
sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya”.
Perhatikanlah
baik-baik isi ayat tersebut, Allah Ta’ala menunjukkan sejalas-jelasnya kepada
kita tentang asal kejadian manusia, bagaimana keadaan waktu permulaannya,
pertengahannya dan selanjutnya bagaimana pula akhir penghabisannya.
Adapun
permulaan manusia itu sama sekali tidak ada, tidak ada sebutan sesuatupun
mengenai makhluk manusia itu. Bertahun-tahun manusia itu tetap tidak ada dan
tidak disebut-sebut. Ini saja sudah cukup untuk disadari betapa rendahnya.
Resapkanlah dalam hati, adakah sesuatu
benda yang lebih hina dari sesuatu yang asalnya tidak ada itu.
Setelah
itu Allah berkenan untuk menciptakannya,
yaitu dari suatu bahan yang amat kotor, menjijikkan bila dilihat, keluar dari
tempat memalukan untuk menyebutnya. Lalu dari inilah Allah membuatnya menjadi
segumpal darah, lalu dijadikan sekepal daging dan akhirnya dijadikan tulang yang dibungkus pula
dengan daging. Itulah keadaan manusia pada permulaan wujudnya. Jadi barulah ada
sebutan manusia itu sesudah menempuh berbagai ragam evolusi dengan
sifat-sifatnya yang tersendiri, hall ihwalnya yang tertentu yang semuanya itu
menunjukkan kerendahan dan kehinaannya.
Memang
Allah menjadikan manusia itu tidaklah terus menjadi sempurna sejak
permulaan, tetapi sebagaimana kita
maklumi pada pertama kalinya hanyalah berupa benda mati, tidak dapat mendengar,
melihat, merasa, bergerak, berbicara, mengambil, berfikir, memeriksa dan
lain-lain. Jadi sudah mati dulu sebelum hidupnya, lemah dulu sebelum kuatnya, bodoh dulu sebelum
pandainya, buta dulu sebelum memperoleh
petunjuk, miskin dulu sebelum kaya dan lemah dulu sebelum kuasanya [Imam Al
Gazali,Bimbingan Menuju Akhlak Mukmin]
Allah
berfirman dalam surat An Nahl 16;22 ”Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak
beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan
mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.”
Tersesatnya
syaitan atau iblis setelah beriman dan beribadah kepada Allah terletak pada
sifat sombongnya yang luar biasa, walaupun senior, hidup telah lama
dibandingkan Adam serta banyak ibadah yang dilakukan,akhirnya seluruh ibadah
dan pengabdian selama ini sia-sia karena keangkuhan dan enggan untuk sujud
memberi hormat kepada Adam. Rupanya Allah menilai seseorang bukan terletak
kepada banyak atau sedikitnya ibadah, termasuk sampai dimana letak ketaatan
yang tanpa reserve dapat diujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesesatan
syaitan dan kutukan Allah kepadanya tidak berhenti demikian saja, tapi dia berusaha
mencari teman sebanyak-banyaknya, dengan jalan menanamkan sifat-sifat negatif
kepada manusia diantaranya sombong, congkak dan takabur serta angkuh, penyakit
ini semua adalah sarana untuk menyesatkan manusia dari rel keimanan, bila tidak
berhati-hati, sifat ini dibudayakan atau dilestarikan maka akan tampillah
pemimpin dan rakyat yang sulit diatur, arogansinya sebagai upaya untuk menutupi
kelemahan dirinya, Allah berfirman dalam surat Yasin ; 60-61;
”Bukankah Aku telah memerintahkan
kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" dan hendaklah kamu
menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus”.
Namun
demikian, orang-orang yang disebut mukhtal fakhur yaitu mereka yang sombong,
congkak, takabur dan merasa tinggi,
tetap berharap karunia dari Allah dengan permohonan panjang lagi kontinyu, akan tetapi dikala
semua permintaan mereka itu berhasil cendrung berpaling, tidak bersyukur atas
nikmat tersebut [Al Isra’ 17;83] ”Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya
berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia
ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.”
Ingin
jadi hamba yang dihargai oleh manusia di bumi serta dihormati oleh makhluk di
langit, silahkan punya kelebihan dari orang lain dalam berbagai asfek kehidupan
dengan syarat jadilah orang yang tawadhu, tinggikan diri dengan merendahkan
hati insya Allah selamat.
Jauh sebelumnya
Nabi Muhammad Saw,
memperingatkan ummat islam agar menghapus sifat-sifat jahiliyyah ketika ingin
berkomitmen dengan Islam, sabdanya, ”Empat
hal jahiliyyah yang masih berpengaruh pada ummatku yaitu;
1.Bangga dalam kedudukan
sosial
Karena dia seorang terpelajar sehingga
menganggap tidak berarti baginya orang awam, atau karena mempunyai kedudukan,
lalu meremehkan posisi orang lain, baik kekayaan maupun kedudukan.
2.Kesombongan dalam
keturunan
Menganggap rendah keturunan lain, seperti
kata-kata membedakan, ”Anda orang Minang
dan saya orang Jawa”. Saya mempunyai gelar di masyarakat, karena keturunan
yang saya terima sebagai kaum bangsawan, atau keturunan orang-orang ningrat.
3.Meratapi orang mati
Tidak
menerima takdir dan tenggelam dalam duka atas kematian dengan berlarut-larut.
4.Meminta hujan kepada
bintang
Meminta sesuatu kepada selain dari Allah
Swt. Bila dalam hati ummat islam masih tertanam bangga yang berlebihan terhadap
kedudukan sosial yang dimilikinya, bersikap dan sombong karena keturunan,
meratapi kematian kemudian meminta sesuatu kepada yang lain, walau dia hidup
dalam zaman modern, tidak ubahnya berada dalam zaman jahiliyyah. Adapun sifat
lain yang dilaksanakan pada masa jahiliyyah yang ditentang oleh Nabi Muhammad
yaitu;
Salah satu watak
jahiliyyah itu adalah sombong, yaitu kesombongan dalam keturunan. Kesombongan
itu pakaian Allah sehingga makhluk tidak diperkenankan untuk memilikinya,
bahkan Rasul menyatakan bahwa orang yang punya sedikit saja rasa sombong maka
Allah mengharamkan syurga baginya, Allah tidak menyukai orang yang sombong;
"Aku akan memalingkan orang-orang
yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari
tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)], mereka tidak
beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk,
mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan,
mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan
ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.' [Al A'raf 7;146]
Kesombongan tidaklah berdiri sendiri, dia terkait dengan kelebihan yang
dimiliki seseorang, diantaranya;
1.Ilmu Pengetahuan
Orang
yang punya ilmu pengetahuan apalagi ilmu itu dia peroleh dari sebuah perjuangan
yang panjang, penuh dengan usaha dan upaya untuk meraihnya kemudian
keberhasilan diraih sehingga gelar keilmuan diraihnya, maka orang itu cendrung
sombong sebab dia mampu melawan kerasnya kehidupan dengan kegigihan dan
motivasi pribadinya.
Orang yang berilmu punya peluang untuk
sombong apalagi di sekelilingnya banyak
orang yang tidak berilmu sehingga menganggap orang lain bodoh yang akhirnya
merendahkan derajat orang. Otomatis menganggap diri lebih mulia, lebih tinggi
dan terpandang.
Nabi Musa pernah ditanya oleh muridnya tentang orang yang paling
pintar saat itu, maka dia menjawab bahwa dialah orang yang paling pintar. Tidak
begitu lama Allah menegur Musa bahwa masih ada hamba Allah yang lebih pintar
daripadanya. Musa bermaksud mencari orang tersebut dengan muridnya yang bernama
Yusa' bin Nun.
"Dan
(Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti
(berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau Aku akan berjalan
sampai bertahun-tahun".[Al Kahfi 18;60]
2.Amal Ibadah
Iblis sebelumnya adalah seorang abid,
orang yang banyak beribadah, bahkan digambarkan dalam hadits bahwa tidak ada
satu tempatpun di dunia ini semuanya sudah pernah dipakai oleh iblis untuk
sujud dan beribadah kepada Allah, itulah
makanya dia tidak mau menerima kehadiran nabi Adam karena dia sudah banyak amal
ibadah yang dia kumpulkan sedangkan Adam baru saja hadir, belum ada prestasi
yang perlu dibanggakan. Itulah makanya iblis dan pasukannya syaitan berusaha
untuk menyesatkan manusia sampai kapanpun, kerjanya menyuruh manusia berbuat
keji dengan segala daya dan upaya;
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan.
barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan
itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. sekiranya
tidaklah Karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha Mengetahui’[An Nur 24;21]
3.Ketampanan dan kecantikan
Karena
kecantikan dan ketampanan membuat orang sombong sehingga melanggar segala
aturan Allah karena dia beranggapan dengan kecantikan dan ketampanannya itu dia
bisa berbuat apa saja dan apa maunya akan tercapai, dengan modal paras itulah
mereka mencari dan mereguk kesenangan dunia tanpa memperhatikan dibolehkan atau
dilarang agama, bahkan cendrung timbul kesombongannya dikala berhadapan dengan
orang-orang yang memiliki paras yang tidak menarik, itulah makanya motivasi
menikah menurut islam lebih diutamankan masalah agamanya, walaupun dimotivasi
oleh harta, nasab dan rupa tidaklah dilarang.
Banyak motive perkawinan yang menyimpang
dari jalur yang sebenarnya; karena ingin menguras hartanya sehingga setelah
melarat tinggal dibuang saja, karena terpaksa dengan kehendak orangtua dan
lain-lainnya, sehingga akan sulit terpelihara ketentraman dalam rumah tangga.
Sering kita temukan rumah tangga setiap hari tidak pernah aman dan tentram,
keributan selalu terjadi, perang mulut sampai alat rumah tangga melayang yang
diakhiri dengan perceraian, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang mengawini perempuan karena kekayaannya saja atau
kecantikannya saja, maka Allah akan memberikan kehinaan perempuan itu
kepadanya” [Al Hadits].
4.Keturunan dan silsilah
Orang
akan sombong karena keturunan raja, raden, sultan dan bangsawan, hal itu
menimbulkan sikap hidup yang merasa lebih tinggi dan lebih berharga dari orang
lain sehingga tidak mau diatur oleh aturan yang diberi Allah. Itulah makanya
Abu Thalib, Abu Jahal dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya tidak mau masuk islam,
bukan karena ajaran islam tidak baik dan benar menurut mereka tapi karena
kesombongan mereka, watak ini pula yang menjadikan Fir’aun, Haman, Qarun dan
Bal”am jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Musa;
“Dan
Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah
kerajaan Mesir Ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai Ini mengalir di
bawahku; Maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah Aku lebih baik dari
orang yang hina Ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?”[Az
Zukhruf 43;51-52]
5.Harta kekayaan
Dalam kehidupan sehari-hari, masalah harta
kekayaan sering benar jadi alat untuk menyombongkan diri walaupun dahulu orang
tersebut hidupnyapun kekurangan tapi setelah kaya dia bisa melupakan
kesusahannya dengan menikmati segala kekayaan dengan kesombongan, Ujud kesombongan melalui harta nampak dalam
hidup glamour, membeli hal yang belum prioritas sampailah tanpa diduga akhirnya
orang-orang yang sombong dengan kekayaan itu melupakan Allah sehingga datang
teguran dan azab Allah kepada mereka.
Begitu banyak sejarah yang terbentang di
belakang kita yang dapat diambil sebagai pelajaranj, tadinya mereka jaya
dibawah berkah Allah akhirnya hancur berantakan karena laknat Allah. Itu semua
karena kekafiran dan keingkaran manusia sebagaimana halnya kaum ’Ad, Tsamud,
Bani Israil serta hancurnya negeri Saba’, pada masa jayanya negeri ini dengan
bendungan Maghribnya diperintah oleh seorang Ratu bernama Bulqis yang akhirnya
dapat ditaklukkan dan diislamkan oleh Nabi Sulaiman. Karena tentram dan
damainya negeri ini dengan kemakmuran kehidupan penduduknya sehingga terukir
dengan indahnya dalam Al Qur’an sebagai sebutan ”Baldatun Thayibatun Warabbun Ghafur” yaitu Negeri Yang Baik Dibawah Ampunan Allah, sampai pada Dinasti Mahrib
yang dilanjutkan oleh raja-raja yang tidak cakap dalam memerintah, menyebabkan
runtuhnya negeri Saba ’ pada tingkat yang paling rendah.
Ketika
terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu
lagi menampung air yang semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib
tersebut jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri
Saba’ hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As
Saba’ Allah menerangkan;
,”Maka
Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan
Kami ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon
berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’ 34;16-17].
6.Jabatan dan wewenang
Ada pendapat yang mengatakan,"Biar
Tekor asal Kesohor" artinya untuk meraih kepopuleran dan jabatan tidak
masalah kalau harta habis untuk itu, jabatan dan wewenang yang tidak diiringi dengan iman yang kuat
cendrung berlaku sombong, ujud kesombongannya nampak pada menyelewengkan
jabatan, meremehkan orang lain, menekan bawahan dan menjilat atasan.
Sebuah ungkapan mengatakan, dikala
seseorang punya jabatan yang paling rendah, dia hanya mampu berkata, ”Apa makan kita sekarang?”, sudah bisa
memilih lauk pauk dan pangan untuk setiap makan, statusnya mulai diperhitungkan
orang dengan posisi dan fasilitas yang dimiliki, diapun bertanya lain, ”Makan dimana kita sekarang ?”, tidak
puas hanya menikmati masakan isteri tersayang, tapi rumah makan dan restoran
silih berganti jadi langganannya, dia sudah bisa memilih rumah makan model apa
yang harus dikunjungi untuk pejabat seperti dia.
Bukan itu saja, saat posisi itu
betul-betul kuat, titelnya membuat orang takut, jabatannya membuat orang salud,
diapun bertindah sewenang-wenang dengan mengatakan, ”Makan siapa kita
sekarang?”, tidak masalah walaupun rakyat kecil yang didera oleh kesusahan dan
kepedihan hidup jadi sasaran tembaknya. Itulah gambarannya arogansi kekuasaan
yang tidak dikendalikan oleh iman, bangsa sendiri dimakan, bila perlu anak
kemenakan sendiri ditelan demi kekuasaan.
7.Kekuatan dan ketangkasan
Kemampuan manusia dan ketangkasannya
tidaklah sama sehingga kekuatan dan ketangkasan bisa menjadikan seseorang
sombong, bila ketangkasan digunakan untuk membela kebenaran dan menegakkan
agama Allah maka hal itu dibenarkan tapi cendrung ketangkasan digunakan untuk
berbuat diluar aturan islam.
Rasulullah
senang dengan ummatnya yang punya kekuatan dan ketangkasan, itulah makanya pendidikan
sejak awal disampaikan beliau agar diajarkan kepada anak dengan pandai memanah,
berenang dan berkuda. Seharusnya kekuatan dan ketangkasan yang kita miliki
tidak dibanggakan dengan kesombongan yang iseng tapi kesombongan untuk
menghadapi orang-orang kafir, fasiq dan zhalim melalui jihad fi sabilillah.
Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid bersama dua orang anak
lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu
seperti sarang harimau sehingga ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan
sebagai sarang domba niscaya dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga
muslim sejak awal sudah mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang
siap dikirim ke medan jihad kapan dibutuhkan. Allahpun sejak risalah ini
diturunkan telah menyampaikan agar ummat ini siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang
merongrong kewibawaan islam;
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang
orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.
apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60]
8.Banyak pengikut, penolong dan kerabat
Banyak
pengikut, penolong dan kerabat bisa
menjadikan orang sombong sehingga merendahkan orang lain, karena mereka merasa
aman dari segala gangguan orang lain, dia punya prajurit yang bisa mengerjakan
pekerjaan apa saja semua bisa dikerahkan, dengan banyak kerabat dia tidak
merasa canggung untuk pergi kemanapun sebab sudah ada orang yang siap menolong
dan mendukungnya.
Namun
jumlah yang banyak apalagi dengan kesombongan dapat dikalahkan oleh jumlah yang
sedikit, sebagai mana perang Uhud, setelah menang dalam perang Badr ada rasa
bangga di hati ummat islam sehingga perang Uhud agak diabaikan, waktu Rasul
memberi nasehat agar pasukan pemanah yang ada di atas bukit jangan meninggalkan
lokasi sebelum perang usai, perang masih berkecamuk dengan dahsyatnya sudah
nampak tanda-tanda kemenangan itu, musuh banyak yang tewas dan ghanimah sudah
berjatuhan di bawah bukit, keyakinan yang bercampur baur dengan kesombongan
akhirnya mereka meninggalkan bukit, saat itulah Khalid bin Walid dari balik
bukit dengan kekuatan pasukannya menghantam pertahanan ummat islam sehingga
perang itu berakhir dengan kekalahan ummat islam, perang Tabuk juga demikian, ummat islam
yang ketika itu jumlah mereka sudah banyak dengan perlengkapan senjata
yang cukup memadai, karena kesombongan
mereka yakin akan menang tapi akhirnya kucar kacir dihantam pasukan kafir.
Sombong tidaklah berdiri sendiri demikian
saja, orang yang punya watak ini tidaklah aman dari kemurkaan Allah, karena
sebagai hamba apa yang dapat dibanggakan sebab semua adalah titipan Allah
semata, adapun akibat-akibat sombong itu adalah;
1.Menerima siksa dari Allah
Karena
kesombongan itu merendahkan orang lain padahal manusia dihadapan Allah sama
saja kecuali karena nilai taqwanya, dan merasa lebih dari orang lain adalah
sikap yang tidak terpuji maka kelak mereka akan menerima siksa dari Allah
"Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal
saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka
sebagian dari karunia-Nya. adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan
diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka
tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada
Allah" [An Nisa' 4;173].
2.Amalnya sia-sia
Bagaimanapun kebaikan dan amal yang dimiliki
sangat banyak tapi dibangga-banggakan bahkan disombongkan kepada manusia maka
amal itu akan sia-sia sebab keshalehan amal seseorang harus diujudkan dalam
ketundukan dan tawadhu'. Amal yang sia-sia karena sombong akan mengantar seseorang ke neraka.
"Sesungguhnya orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali
tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka
masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi
pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan" [Al A'raf 7;40]
3.Kekal
dalam neraka
Kesombongan tidak hanya masuk neraka saja
karena amal sia-sia tapi dalam nerakapun
mereka tidak sebentar bahkan kekal di dalamnya, hanya izin Allah dan Syafaat
dari Rasulullah saja mereka akan keluar dari neraka itu.
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan
diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya'' [Al A'raf 7;36]
Begitu banyaknya resiko watak sombong bagi kehidupan kita, maka sebaiknya
janganlah dipelihara ke sombongan itu, sombong itu adalah pakaian Allah
sedangkan manusia hanya makhluk yang menyandarkan seluruh hidupnya dari
kemahagagahan Allah semata, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/
25 Agustus 2010].
293. Presiden
Orang nomor satu di sebuah daerah di
sebut Bupati, di Provinsi dinamakan Gubernur, di negeri ini disebut dengan
Presiden. Ini adalah jabatan yang mengandung prestise bagi seseorang sehingga
setiap lima tahun kita tidak kekurangan kandidat yang mencalonkan diri sebagai
calon Presiden, selain itu ini merupakan kekuasaan yang mampu menghitamputihkan
negeri ini dengan kebijakannya. Kita semua punya hak yang sama untuk memilih
dan dipilih sebagai penguasa di negeri yang makmur ini, bila salah pilih akan
mengakibatkan penderitaan minimal lima tahun, untuk itu bijaklah dalam memilih.
Lima hari
setelah majalah Sabili edisi 26-XVI terbit, negeri kita menggelar
pemilihan presiden secara langsung untuk kedua kalinya sepanjang sejarah.Siapa
yang Anda pilih tergantung hati nurani masing-masing. Apakah akan memilih
mantan presiden, presiden yang masih berkuasa, atau “calon” presiden.
Semua
terserah Anda, tak ada yang memaksa. Jikalau keterpaksaan yang mendesak Anda
menentukan salah satu kandidat, maka pilihan Anda akan ‘ternodai’. Proses yang
bermula dari sebuah noda akan menghasilkan noda pula. Beberapa pekan sejak KPU
menetapkan pasangan calon presiden-wakil presiden, kita dijejali beragam rupa
dan corak unjuk diri mereka. Di televisi, koran, majalah, radio dan di jalanan.
Potret yang memasang senyum, menjual tampang, mengobral janji, mengharap
dukungan, memenuhi otak di tengah kesulitan hidup yang kian mendera.
Masing-masing
calon mengaku punya resep jitu guna menyejahterakan rakyat, mengangkat harkat
dan martabat bangsa, menciptakan keadilan, juga memberantas korupsi.
Semuanya masih berupa janji, masih sekedar “jika”, “seandainya”, “seumpama” dan
cucu moyangnya. Padahal salah satu calon pernah berkuasa, dua lainnya malah
kini sedang berkuasa. Lantas apa yang dilakukan? Kenapa harus menunggu terpilih
lagi untuk melakukan perubahan?Kenapa tidak berbuat ketika tengah berkuasa?Lima
tahun lalu, janji serupa pernah diikrarkan. Namun, apa hasilnya?
Sebagian
besar rakyat negeri ini masih berkubang dalam kemiskinan dan serba
kekurangan.Sementara kesenjangan antara si kaya dan si miskin begitu
mengangga.Jaraknya melebihi panjangnya Jembatan Suramadu yang baru saja
diresmikan.Lalu apa yang diharapkan dari proses demokratisasi yang katanya
mulai membaik. Dimana rakyat bisa memilih langsung presiden yang
diinginkannya.Dimana vox populi vox dei adalah sistem ‘terbaik’
pemerintahan manusia.
Padahal kata-kata
Alcuinus, sang sejarawan dan rohaniawan, dalam suratnya kepada Charlemagne,
Raja Frank itu; ada awal dan akhirnya. Tidak hanya pada ‘populi’ dan ‘dei’.Ia
menulis, “Nec audiendi qui solent dicere, Vox populi, vox Dei, quum
tumultuositas vulgi semper insaniae proxima sit.”“Jangan dengar kata-kata
orang yang menyatakan suara rakyat adalah suara Tuhan, karena kericuhan massa
selalu dekat dengan kegilaan!”Kita tentu saja tak ingin disebut gila karena
ribut mengurusi pencontrengan, dan menganggapnya sebagai ‘titah’ Tuhan.[Calon Presiden, Cyber Sabili, Jumat, 10 Juli 2009 17:09].
Sebenarnya sejak zaman dahulu,
jabatan apapun yang disandang oleh seorang pemimpin haruslah amanah, yaitu
menjalankan kekuasaan sesuai dengan kehendak yang memberi kekuasaan yaitu Allah
sehingga intinya untuk mensejahterakan rakyat, menegakkan keadilan dan
menjalankan hukum-hukum-Nya, sehingga kehadiran mereka menjadi pemimpin yang
agamawan dan negarawan.
“Kami telah menjadikan
mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa
mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada
Kamilah mereka selalu mengabdi.” (QS. Al-Anbiya’: 73)
Ayat ini berbicara pada
tataran ideal tentang sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam
kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti yang ada pada diri para nabi
manusia pilihan Allah. Karena secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudah
ayat ini dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh
keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat lahir dan
bathin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan
prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi kebaikan dan
keberkahan bagi bangsa dimanapun dan kapanpun.
Ayat yang berbicara tentang
kriteria pemimpin yang ideal yang senada dengan ayat di atas adalah surah
As-Sajdah: 24: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah
mereka meyakini ayat-ayat Kami”. Kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini
yang menjadi pembeda dengan ayat Al-Abiya’ adalah kesabaran dalam menegakkan
kebenaran dengan tetap komitmen menjalankan perintah dan meninggalkan larangan
Allah. Tentu bagi seorang pejabat tinggi, tetap komitmen dengan kebenaran
membutuhkan mujahadah dan kesabaran yang jauh lebih besar karena akan berdepan
dengan pihak yang justru menginginkan tersebarnya kebathilan dan kemaksiatan di
tengah-tengah umat.
Menurut Ibnu Katsir dalam
Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ciri utama yang disebutkan di awal kedua ayat yang
berbicara tentang kepemimpinan ideal adalah bahwa para pemimpin itu senantiasa
mengajak rakyatnya kepada jalan Allah dan kemudian secara aplikatif mereka
memberikan keteladanan dengan terlebih dahulu mencontohkan pengabdian dalam
kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan
zakat, sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ yang senantiasa tunduk dan
patuh mengabdi kepada Allah swt dengan merealisasikan ajaran-ajaranNya yang
mensejahterakan.
‘Wakanu Lana
Abidin bukan Wakanu Abidin’ merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang
mereka perbuat lahir dari rasa iman kepada Allah dan jauh dari kepentingan
politis maupun semata-mata malu dengan jabatannya.Maka kata ‘lana (hanya kepada
Kami)’ adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat
kebaikan selama masa kepemimpinannya.
Asy-Syaukani dalam Tafsir
Fathul Qadir menambahkan bahwa kriteria pemimpin yang memang harus ada adalah
keteladanan dalam kebaikan secara universal sehingga secara eksplisit Allah
menegaskan tentang mereka: Telah Kami wahyukan kepada mereka untuk
senantiasa mengerjakan beragam kebajikan. Fi’lal khairat yang senantiasa
mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat Allah secara
integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.
Yang sangat menarik untuk dicermati secara redaksional adalah pilihan kata ‘aimmah’ dalam kedua ayat di atas.Kepemimpinan umumnya menggunakan terminologi khalifah atau Amir. Tentu pilihan kata tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa Al-Qur’an sebagai bagian dari kemu’jizatan al-qur’an, tetapi lebih dari itu merupakan sebuah isyarat tentang sosok pemimpin yang sesungguhnya diharapkan, yaitu sosok pemimpin dalam sebuah negara atau masyarakat idealnya adalah juga layak menjadi pemimpin dalam kehidupan beragama bagi mereka. Mereka bukan hanya tampil di depan dalam urusan dunia, tetapi juga tampil di barisan terdepan dalam urusan agama. Inilah yang sering diistilahkan dengan agamawan yang negarawan atau negarawan yang agamawan.[Dr. Attabiq Luthfi, MAPemimpin yang Agamawan dan NegarawanDakwatuna.com, 5/1/2011 | 29 Muharram 1432 H]
Itulah makanya sebelum diangkat jadi penguasa rakyat
dan penguasa harus ada kontrak sebagai pegangan dalam mengelola kekuasaan, tapi
sangat ironi memang ketika jabatan itu diraih komitmen
yang dijanjikan kepada rakyat dan bangsa ini akan luntur dan lentur, karena
jabatan itu mengasyikkan pemangkunya sehingga mau untuk berlama-lama menduduki
kursi rakyat yang mengamanahkannya, sehingga secara jujur mereka tidak mau dan
tidak akan tahun turun dari jabatan sebelum habis masanya,bahkan yang sudah
habis masa jabatan itupun dibuat aturan baru untuk mempertahankan sang penguasa
menikmati jabatan yang menggiurkan tersebut.
Sebenarnya,
perubahan pertama UUD 1945 yang digelar pada 1999 sudah memberikan konsep
substansi yang cukup matang dan akomodatif terkait dengan masa jabatan kepala
negara. Menurut pasal 7 UUD 1945 bahwa ''Presiden dan Wakil Presiden memegang
jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan
yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan''.
Sebelum
berlangsungnya amandemen terhadap UUD 1945, pengaturan masa jabatan presiden
dan wakil presiden tidak diuraikan secara eksplisit.Ketika itu, ketentuan masa
jabatan kepala negara hanya menyatakan, ''Presiden dan Wakil Presiden memegang
jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali''.Hal itulah
yang mengakibatkan masa jabatan Presiden pertama Soekarno dan penerusnya, Soeharto,
hampir tidak memiliki batasan yang konkret.
Ketika
itu, tampaknya, para penguasa sengaja men-setting model pengaturan masa jabatan
kepala negara dalam ruang semu.Tidak ada kepastian terkait dengan masa jabatan
kepala negara ketika itu.Secara substansial, ketentuan masa jabatan kepala
negara sebelum amandemen tidak menegaskan berapa lama seseorang dapat dipilih
kembali.
Ketika
dibaca secara berulang, khususnya pada saat pemilu tiba, makna yang tersirat
dalam ketentuan awal itu memang selalu membuka ruang bagi setiap kandidat
kepala negara yang pernah menduduki jabatan yang sama. Hal itulah yang
melanggengkan mantan Presiden Soeharto bercokol dalam jabatan RI 1 selama enam
periode.
Memang,
kala ini terjadi pro kontra terkait dengan ketentuan masa jabatan kepala
negara.Di satu pihak mengartikulasikan bahwa ketentuan itu tidak membatasi masa
jabatan kepala negara. Namun, di pihak lain berargumen bahwa maksud dari UUD
1945 hanyalah memberikan ruang untuk dapat dipilih kembali dalam satu periode
berikutnya.
Munculnya
multitafsir terkait dengan masa jabatan presiden kala itu telah mengakibatkan
kepemimpinan bangsa ini menjadi mengambang dan penuh ketidakpastian.Hal itulah
salah satu yang melatarbelakangi dilakukannya amandemen terhadap UUD 1945.
Pengalaman
yang sama juga pernah terjadi dalam konstitusi Amerika Serikat. Ketika itu,
salah seorang mantan presiden Amerika pernah menduduki tampuk kekuasaan hingga
empat periode sehingga kemudian negara superpower itu mengamandemen
konstitusinya dalam rangka membatasi jabatan presiden Amerika.
Berdasar
pengalaman di tanah air, kelengseran mantan Presiden Soekarno dan Soeharto
bukan masalah batasan masa jabatan dalam konstitusi, melainkan karena faktor
lain yang hampir di luar perkiraan banyak pihak sebelumnya. Bahkan, Soeharto
yang sudah hampir menjadi presiden seumur hidup di negeri ini sama sekali tidak
pernah tersentuh oleh mekanisme masa jabatan sebagaimana diatur dalam
konstitusi.
Langgengnya
pemerintahan dalam waktu yang cukup lama juga sudah membuktikan bahwa ternyata
roda pemerintahan tidak dapat berjalan efektif.Pengalaman bangsa ini selama
tampuk kekuasaan dipegang oleh mantan Presiden Soeharto selama kurang lebih 32
tahun justru hanya menyisakan sejumlah persoalan besar.Terpuruknya bangsa
Indonesia hingga di ulang tahun yang ke-65 RI, antara lain, disumbang oleh
kekuasaan yang terlalu lama menumpuk kepada satu orang.
Kekuasaan
yang besar dan bertahan terlalu lama justru cenderung korup dan rentan dengan
berbagai bentuk penyimpangan. Terkuncinya saluran politik kekuasaan dalam
pemerintahan juga akan berdampak buruk dalam pencapaian perubahan yang lebih
baik.[Janpatar Simamora, Luka Lama Jabatan Presiden, Republika online,
Jumat, 20/08/2010 13:42 WIB].
Hadirnya orang nomor satu yaitu Presiden di negeri
ini karena dukungan besar dari ummat islam yang menghendaki negeri ini dipimpin
oleh Presiden yang muslim, tapi sangat disesalkan masalah umat islam tidak
dapat diselesaikan dengan baik, walaupun Presidennya umat islam, apalagi yang
menjadi nomor satu bukan muslim maka kondisi ummat islam di negeri ini lebih
binasa lagi keadaannya.
Berbagai kasus
keumatan sepanjang 2010 tak jelas juntrungannya.Jangankan diselesaikan secara
baik, transparan, dan akuntabel, kasus-kasus yang membuat sebagian umat Islam
ini menderita justru diambangkan, tak diselesaikan, menjadi misteri sepanjang
zaman.
Di antaranya
adalah kasus terorisme, khususnya pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat
dalam menangani kasus terorisme.Puluhan orang yang masih dalam status diduga
dan menjadi DPO, harus meregang nyawa di ujung timah panas Densus 88.
Orang-orang malang ini dibunuh tanpa proses hukum, layaknya kasus Petrus
(Penembak Misterius) masa Orba. Ini adalah pelanggaran HAM berat yang harus
diungkap pada saatnya kelak.
Masih terkait
terorisme, meski pemerintah berdalih bahwa pemberantasan terorsime bukan
memberangus Islam, tapi faktanya Islamlah yang tetap diintimidasi.Islamlah yang
tetap menjadi tertuduh, sebagai ideologi penyebar teror.Ini semua karena
standar yang diterapkan pemerintah salah dalam mengkaji persoalan
terorisme.
Terkait aliran
sesat, sampai detik ini, persoalan Ahmadiyah juga tidak kunjung
kelar.Ketidaktegasan pemerintah menjadi akar penyebabnya, karena ciut nyalinya
berhadapan dengan pemerintah Inggris sebagai pelindung Ahmadiyah.Demikian juga
dengan aliran sesat lainnya, Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII)
misalnya, juga tak jelas penyelesaiannya hingga kini.
Kita, umat
Islam, tidak bisa menggantungkan harapan penyelesaian berbagai kasus yang
menimpa umat Islam pada pemerintah.Tidak bisa nasib kita diletakkan pada
pemerintah.Umat Islam harus menentukan sendiri nasib dan masa depannya di
negeri ini, karena pemerintah saat ini kondisinya kita sendiri sudah
mengetahui.Apalagi, asing masih berkepentingan dengan pemerintah kita agar
terus melemahkan umat Islam.Mereka tidak menghendaki umat Islam di Indonesia
besar, dan negara ini juga menjadi negara besar yang berpengaruh di
dunia.Karenanya, mereka selalu berusaha memecah bela negara ini.
Dalam konteks
penanganan terorisme, saya berpandangan negara kita bukan negara
demokrasi.Karena negara kita secara sengaja melakukan pelanggaran HAM berat
dalam menangani terorisme. Bahkan, pelanggaran ini dibiarkan tanpa penyelesaian
dan proses hukum. Karenanya, wajar jika negara ini dipersoalkan pada lembaga
HAM Dunia seperti Amesti Internasional, Lembaga HAM PBB, dan lainnya.
Persoalannya, siapa yang akan membawa masalah ini ke tingkat Internasional? Di
sinilah kita perlu kebersamaan antar semua komponen umat Islam. [Dr
Mohammad Noer: "Umat, Jangan Gantungkan Harapan ke Pemerintah"Cyber
Sabili, Kamis, 09 Desember 2010 20:18 Dwi Hardianto].
Kekuasaan itu
sangat efektif untuk membangun ummat dan bangsa, memajukan ekonomi dan
pendidikan, mensejahterakan rakyat dan menegakkan keadilan apabila para penguasa
sejak dari kepala desa hingga Presiden menjadikan jabatan itu dengan baik dan
sebaliknya. Dengan tampilnya orang-orang baik sebagai penguasa timbul rasa
tidak senang dari kalangan sekuler hingga orang kafir untuk merusaknya dengan
berbagai cara.
Orang-orang Yahudi yang sudah
sangat paham dengan kelemahan orang-orang mukmin, tak perlu dengan berbagai
macam theori, tetapi cukup dengan memberikan harta sebanyak-banyaknya kepada
para pengausa atau orang yang berkuasa dikalangan orang mukmin, dan sudah akan
tunduk, dan mengikutinya apa yang menjadi kehendak orang-orang Yahudi kafir.
(QS: 2:120). Orang mukmin yang sudah mengikuti hawa nafsu Yahudi, maka mereka
akan menjadi budak kaum Yahudi, dan hidupnya penuh dengan kehinaan, tanpa
memiliki izzah dan marwah.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa
Sallam, memiliki izzah dan marwah, karena Beliau tidak sedikitpun terpengaruh
oleh bujukan yang busuk dari Abu Sofyan, yang akan memberikan tiga ‘t’ kepada
Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, dan diminta menghentikan
dakwahnya.
Tetapi, generasi baru Islam,
yang sekarang ini banyak terlibat pergerakan, banyak diantara mereka yang
luruh, dan masuk ke jurang kehinaan, serta jatuh ke dalam pelukan Yahudi dan
musuh-musuh Allah, karena mereka sudah kehilangan orientasi dan tanpa ada
tujuan yang jelas. Akhirnya mereka hanya menjadi orang-orang yang mengabdi
kepada tiga ‘t’, bukan lagi mencari ridha Allah. Harapan untuk mendapatkan
kemenangan semakin jauh, karena mereka secara sadar menukar ayat-ayat Allah
yang mulia dengan tiga ‘t’, demi memenuhi hawa nafsu, dan keserakahan terhadap
kehidupan dunia. Mereka berbicara dengan nilai-nilai yang bersumber dari
al-Qur’an, tetapi dalam praktek hidup yang mereka jalankan adalah kehidupan ‘la
diniyah’ seperti orang-orang Yahudi. [Mashadi,
Mengapa Engkau Mengejar Kekuasaan?, eramuslim.com,Jumat, 25/06/2010
14:52 WIB]
Sebagai seorang Presiden, sebagai Kepala Negara dan
Kepala Pemerintahan sebenarnya itu merupakan jabatan sangat strategis untuk
memajukan pendidikan, lihatlah begitu banyak anak-anak yang putus sekolah
karena tidak mampu melanjutkan pendidikannya, untung mereka ditampung oleh LSM
atau orang-orang yang peduli terhadap anak-anak terlantar. Banyak sebenarnya
yang perlu dikerjakan oleh seorang Presiden yang terfokus untuk membangun anak
bangsa ini menjadi terdidik dan berkualitas, tapi sayang sang Presiden hanya
menikmati kursi empuknya dengan kegiatan yang tidak menyentuh rakyat, entahlah
kalau saja saya atau anda jadi Presiden tentu tidak akan terulang demikian,
wallahu a’lam [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni
2011.M].
Langganan:
Komentar (Atom)

