Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah sebagai pedoman
hidup berupa ayat-ayat Al Qur'an yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, awal
pertemuan dengan Jibril inilah membuat nabi Muhammad tak kuasa menahan rasa
takutnya;"Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi. Kemudian dia mendekat,
lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua
ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada
hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan.Hatinya tidak mendustakan apa
yang Telah dilihatnya.Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya
tentang apa yang Telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat
Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil
Muntaha.Di dekatnya ada syurga tempat tinggal (Muhammad melihat Jibril) ketika
Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya.Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar.[An Najm 53;7-18]
Peristiwa sakral
menerima wahyu pertama yang dialami oleh Nabi Muhammad digambarkan oleh
Muhammad Husein Haekal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad; Di puncak Gunung
Hira, - sejauh dua farsakh sebelah utara Mekah -terletak sebuah
gua yang baik sekali buat tempat menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan
Ramadan tiap tahun ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya
dengan bekal sedikit yang dibawanya. Ia tekun dalam renungan dan ibadat, jauh
dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Ia mencari Kebenaran, dan
hanya kebenaran semata.
Demikian
kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa ia akan
dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang
dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran. Di
situ ia mengungkapkan dalam kesadaran batinnya segala yang disadarinya. Tambah
tidak suka lagi ia akan segala prasangka yang pernah dikejar-kejar orang.
Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur dalam
gua itu, ketika itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata
kepadanya: “Bacalah!” Dengan terkejut Muhammad menjawab: “Saya tak dapat
membaca”. Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi
seraya katanya lagi:
“Bacalah!” Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab: “Apa yang akan saya baca.” Seterusnya malaikat itu berkata: “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya ...” (Qur’an 96:1-5)
“Bacalah!” Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab: “Apa yang akan saya baca.” Seterusnya malaikat itu berkata: “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya ...” (Qur’an 96:1-5)
Tetapi kemudian ia terbangun
ketakutan, sambil bertanya-tanya kepada dirinya: Gerangan apakah yang
dilihatnya?! Ataukah kesurupan yang ditakutinya itu kini telah menimpanya?!Ia
menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat apa-apa. Ia diam sebentar,
gemetar ketakutan. Kuatir ia akan apa yang terjadi dalam gua itu. Ia lari dari
tempat itu. Semuanya serba membingungkan. Tak dapat ia menafsirkan apa yang
telah dilihatnya itu.
Setelah rupa
malaikat itu menghilang Muhammad pulang sudah berisi wahyu yang disampaikan
kepadanya. Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya
Khadijah sambil ia berkata: “Selimuti aku!” Ia segera diselimuti. Tubuhnya
menggigil seperti dalam demam.Setelah rasa ketakutan itu berangsur reda
dipandangnya isterinya dengan pandangan mata ingin mendapat kekuatan.“Khadijah,
kenapa aku?” katanya. Kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya
rasa kekuatirannya akan teperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti juru
nujum saja. Khadijah menghiburnya bahwa tidak ada ganggun apapun kepadanya
karena beliau orang yang baik, sehingga keyakinan semakin mantap dikala hal itu
disampaikan kepada Waraqah bin Naufal, sang paman menyatakan bahwa yang datang
itu adalah Jibril membawa wahyu untuk Muhammad.
Begitu proses wahyu pertama yang dialami oleh nabi
Muhammad, islam yang beliau bawa, risalah yang beliau kembangkan ke tengah
masyarakata bukanlah hasil rekayasa pribadi, bukan mimpi dan tidak pula dari
syaitan tapi semua itu dari Allah yang merupakan wahyu, apa yang dimaksud
dengan wahyu dan macam-macamnya sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad bin
Muhammad Abu Syuhbah
dalam tulisannya dibawah ini;
dalam tulisannya dibawah ini;
Diterimanya
wahyu oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan peristiwa yang
sangat besar.Turunnya merupakan peristiwa yang tidak disangka-sangka. Begitulah
Allah memberikan titahNya kepada manusia terpilih, yaitu Muhammad bin Abdullah
bin Abdul Muthalib.
Wahyu,
secara bahasa artinya adalah, pemberitahuan secara rahasia nan cepat. Secara
syar'i, wahyu berarti pemberitahuan dari Allah kepada para nabiNya dan para
rasulNya tentang syari'at atau kitab yang hendak disampaikan kepada mereka,
baik dengan perantara atau tanpa perantara.Wahyu secara syar'i ini jelas lebih
khusus, dibandingkan dengan makna wahyu secara bahasa, baik ditinjau dari
sumbernya, sasarannya maupun isinya.
Ada
bermacam-macam wahyu syar'i, dan yang terpenting ialah sebagaimana penjelasan
berikut.
Pertama : Taklimullah
(Allah Azza wa Jalla berbicara langsung) kepada NabiNya dari belakang hijab.
Yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan,
baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur.Sebagai contoh dalam
keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah Azza wa Jalla berbicara langsung
dengan Musa Alaihissallam, dan juga dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam pada peristiwa isra' dan mi'raj. Allah berfirman tentang nabi Musa :"
…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung" [an Nisaa`/4 :
164].
Adapun
contoh ketika dalam keadaan tidur, yaitu sebagaimana diceritakan dalam hadits
dari Ibnu Abbas dan Mu'adz bin Jabal. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda :"Aku didatangi (dalam mimpi) oleh Rabb-ku dalam bentuk terbaik,
lalu Dia berfirman : "Wahai, Muhammad!"Aku menjawab,"Labbaik wa
sa'daika."Dia berfirman,"Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat
itu?"Aku menjawab,"Wahai, Rabb-ku, aku tidak tahu," lalu Dia
meletakkan tanganNya di kedua pundakku, sampai aku merasakan dingin di
dadaku.Kemudian, aku dapat mengetahui semua yang ada di antara timur dan barat.Allah
Azza wa Jalla berfirman,"Wahai, Muhammad!" Aku menjawab,"Labbaik
wa sa'daika!"Dia berfirman,"Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat
itu?"Aku menjawab,"………".(Al hadits).
Kedua : Allah Azza wa
Jalla menyampaikan risalahNya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini
meliputi beberapa cara, yaitu :
1).
Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya. Cara seperti ini sangat
jarang terjadi, dan hanya terjadi dua kali.Pertama, saat Malaikat Jibril
mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah masa vakum dari wahyu,
yaitu setelah Surat al 'Alaq diturunkan, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak menerima wahyu beberapa saat.Masa ini disebut masa fatrah, artinya
kevakuman.Kedua, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Malaikat Jibril
dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dimi'rajkan.
2).
Malaikat Jibril Alaihissallam terkadang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam dalam wujud seorang lelaki. Biasanya dalam wujud seorang lelaki yang
bernama Dihyah al Kalbiy.Dia adalah seorang sahabat yang tampan rupawan. Atau
terkadang dalam wujud seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenal oleh para
sahabat. Dalam penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir dapat
melihatnya dan mendengar perkataannya, akan tetapi mereka tidak mengetahui
hakikat permasalahan ini. Sebagaimana diceritakan dalam hadits Jibril yang
masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan ihsan.Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.Di awal hadits ini, 'Umar bin
Khaththab Radhiyallahu 'anhu menceritakan Pada suatu saat, kami sedang duduk
bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul seorang
lelaki yang berpakaian sangat putih, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat
tanda-tanda melakukan perjalanan jauh, dan tidak tidak ada seorangpun di antara
kami yang mengenalnya, sampai dia duduk di dekat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam
Kemudian
di akhirnya, yaitu sesaat setelah orang itu pergi, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bertanya kepada Umar Radhiyallahu 'anhu :"Wahai, 'Umar.
Tahukah engkau, siapakah orang yang bertanya tadi?" Aku
menjawab,"Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui," (kemudian)
Rasulullah bersabda,"Dia itu adalah Malaikat Jibril datang kepada kalian
untuk mengajarkan kepada kalian din (agama) kalian."
Ini
menunjukkan, meskipun para sahabat dapat melihatnya dan bisa mendengar
suaranya, namun mereka tidak mengetahui jika dia adalah Malaikat Jibril yang
datang membawa wahyu.Mereka mengerti setelah diberitahu oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
3).
Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia tidak
terlihat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui kedatangan Malaikat
Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan
terkadang seperti dengung lebah.Inilah yang terberat bagi Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga dilukiskan saat menerima wahyu seperti
ini, wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berubah.Meski pada cuaca
yang sangat dingin, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bermandikan keringat,
dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berubah
secara mendadak.
Sebagaimana
diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit Radhiyallahu
'anhu, dia berkata : "Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara itu paha beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur".
Beratnya
menerima wahyu dengan cara seperti ini, juga diceritakan sendiri oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa ass
ditanya :"Wahai, Rasulullah. Bagaimanakah cara wahyu sampai
kepadamu?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Terkadang
wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan inilah yang terberat
bagiku, dan aku memperhatikan apa dia katakan. Dan terkadang seorang malaikat
mendatangi dengan berwujud seorang lelaki, lalu dia menyampaikannya kepadaku,
maka akupun memperhatikan apa yang dia ucapkan."
Berdasarkan
riwayat dan penjelasan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, maka
dapat dipahami bahwa saat menerima semua wahyu, Rasulullah merasa berat. Namun,
yang paling berat ialah cara yang semacam ini.
Ketiga : Wahyu
disampaikan dengan cara dibisikkan ke dalam kalbu.
Yaitu Allah Azza wa Jalla atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disertai pemberitahuan bahwa, ini merupakan dari Allah Azza wa Jalla. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al Qana'ah, dan Ibnu Majah, serta al Hakim dalam al Mustadrak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku : "Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah Azza wa Jalla menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang di sisi Allah Azza wa Jalla tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaatiNya".
Yaitu Allah Azza wa Jalla atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disertai pemberitahuan bahwa, ini merupakan dari Allah Azza wa Jalla. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al Qana'ah, dan Ibnu Majah, serta al Hakim dalam al Mustadrak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku : "Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah Azza wa Jalla menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang di sisi Allah Azza wa Jalla tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaatiNya".
Keempat : Wahyu
diberikan Allah Azza wa Jalla dalam bentuk ilham.
Yaitu Allah memberikan ilmu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, saat beliau berijtihad pada suatu masalah.
Yaitu Allah memberikan ilmu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, saat beliau berijtihad pada suatu masalah.
Kelima : Wahyu
diturunkan melalui mimpi. Yaitu Allah Azza wa Jalla terkadang memberikan wahyu
kepada para nabiNya dengan perantaraan mimpi. Sebagai contoh, yaitu wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalllam agar menyembelih anaknya.
Peristiwa ini diceritakan oleh Allah Azza wa Jalla: "Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!"Ia menjawab: "Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar". [ash Shaffat/37 : 102].
Demikian
cara-cara penerimaan wahyu Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua jenis wahyu ini dibarengi dengan keyakinan
dari si penerima wahyu, bahwa apa yang diterima tersebut benar-benar datang dari
Allah Azza wa Jalla, bukan bisikan jiwa, apalagi tipu daya setan.[Macam-macam
wahyu, almanhaj.or.id.Jumat, 5 Maret 2010 15:24:27 WIB].
Muhammad
adalah seorang manusia biasa sebagaimana kita, tapi beliau dibimbing oleh wahyu
sehingga segala sepak terjangnya bukan keinginan pribadi, bukan keinginan hawa
nafsunya tapi wahyu yang diwahyukan,“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti
kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah
Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".[Al Kahfi 18;110]
Sangat ditekan sekali tentang
"Manusia Biasa" pada ayat ini karena dua hal, pertama agar kita mampu
meniru dan meneladani akhlak beliau, karena ada kecendrungan dari ummat ini,
ketika diajak untuk mengikuti cara hidup nabi, akhlak beliau yang terpuji,
ibadah beliau yang tiada henti, sebagian dari ummatnya mengatakan,"Diakan
Nabi", artinya terkesan bahwa hanya nabi saja yang bisa begitu, padahal
beliau juga sebagai manusia biasa. Karena dia seorang manusia biasa maka kita
bisa mencontohnya dalam kehidupan sehari-hari, kalau Allah menurunkan nabi dari
kalangan malaikat atau jin tentu kita tidak bisa menerimanya dan tidak sanggup
untuk meledaninya.
Kedua penekanan terhadap manusia biasa
pada nabi Muhammad agar sulkita memperlakukan beliau tidak lebih sebagai
manusia, tidak boleh dikultus individukan, tidak boleh menjadikan kuburannya
sebagai tempat keramat, jangan membuat patung atau gambarnya untuk disembah,
bukan begitu sikap mulia terhadap nabi Muhammad, tapi menjadikan Muhammad
sebagai manusia dan nabi lalu ikuti segala sunnahnya. Walaupun wahyu itu
berasal dari Allah, ada hal-hal tertentu yang tidak masuk diakal manusia bukan
berarti yang tidak masuk akal itu tidak benar, tapi akal yang terbimbing dengan
baik akan memahami wahyu itu sebagai kebenaran.H.Muh.Nur
Abdurrahman menyatakan bahwa akal
dan wahyu itu sebuah konfigurasi yang saling menguatkan, dalam tulisannya dia
menyatakan;
Orang dapat menjalankan agama dengan
baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik.Supaya dapat memahami
ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk
dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami
informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadis Nabi, baik sabda
maupun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum,
baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak
dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal.Walhasil akal sangat
berguna untuk dapat memahami wahyu.
Akallah yang membedakan antara
manusia dengan binatang. Pada binatang tidak ada kekuatan lain dalam dirinya di
atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia
tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan
mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan
sebaik-baik kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau
akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia ke tempat
yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Konfigurasi Jibril,
Rasulullah dan buraq pada waktu Isra, Jibril yang menuntun Rasulullah yang
mengendarai buraq, adalah suatu ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi
antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal
mengendalikan naluri. [Konfigurasi
Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syariat Makassar, 27 Oktober
1991].
Al Qur’an merupakan kumpulan wahyu
Allah yang diterima oleh Rasulullah Saw untuk membina ummat agar menjalankan
syariat dengan baik, dari sekian Kitab yang diturunkan Allah maka kitab-kitab
itu tidak ada jaminan untuk tetap orisinil hingga akhir zaman, semuanya
mengalami penodaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab,
kecuali Al Qur’an yang tetap dijaga oleh Allah kebenarannya dari tangan-tangan
jahil yang berupaya untuk merusaknya, kitab wahyu semisal Taurat, Zabur dan
Injil yang diturunkan kepada nabi sebelumnya mengalami penodaan oleh
pengikutnya atau orang-orang yang sengaja merusak kitab tersebut, apalagi kitab
yang dibuat oleh manusia yang bukan wahyu dari Allah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 20 Desember 2011.M/ 24
Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar