Muttaqin adalah level iman yang paling tinggi,artinya
orang yang bertaqwa. Suatu ketika Umar bin Khattab ditanya oleh seorang sahabat tentang taqwa ini, maka
dia balik bertanya, ”Pernahkah kamu melewati perjalanan sulit ?” maka dijawab
”Pernah”, Umar bertanya lagi, ”Bagaimana cara kamu melewati jalan itu?”, sang
sahabat itu menjawab, ”Maka saya berhati-hati”, Umar lansung menukas, ”Nah
itulah yang dikatakan dengan taqwa yaitu berhati-hati”.
Takwa
adalah bekal hidup paling berharga dalam diri seorang muslim. Tanpanya hidup
menjadi tidak bermakna dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, seseorang akan
merasakan hakikat kebahagiaan hidup, baik di dunia mau pun di akhirat apabila
ia berhasil menyandang sebagai orang yang bertakwa.
Kata
takwa sudah amat akrab di telinga kita. Tiap khutbah Jumat sang khotib
senantiasa menyerukannya. Bahkan di tiap bulan Ramadhan, kata taqwa pun
menghiasi ceramah-ceramah atau kultum-kultum yang diadakan.Taqwa adalah bekal
hidup paling utama.
Ketika
Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan
paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah
takwa. Kata Rasulullah SAW, "Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau
kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara
Secara
lughah (bahasa), takwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci
dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai
takwa.Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah
dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya.
Imam
Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu
adalah: "Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila
berbuat, berbuat dan beramal karena Allah." Abu Sulaiman Ad-Dardani
menyebutkan: "Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kecintaan
terhadap hawa nafsunya dicabut dari hatinya oleh Allah." Sedangkan Imam
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan, bahwa hakikat taqwa adalah taqwa hati,
bukan takwa anggota badan."
Umumnya,
para ulama mendefinisikan taqwa sebagai berikut: "Menjaga diri dari
perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa
besar, serta berperilaku dengan adab-adab syariah." Singkatnya,
"Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji." Atau
pengertian yang sudah begitu populer, taqwa adalah melaksanakan segala
perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.
Dari
definisi-definisi di atas menunjukan bahwa urgensi taqwa sudah tidak diragukan
lagi, apalagi Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW.secara berulang-ulang menyeru kita
supaya bertaqwa. Khusus bagi orang-orang yang bertakwa,[Imron Baehaqi Lc, Takwa
dan Fungsinya, Republika.co.id Rabu, 29 Juni 2011 13:14 WIB].
"Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dengansebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati
melainkan dalamkeadaan muslim." (QS. 3:102)
Taqwa
adalah salah satu istilah kunci dalam Al-Qur`an. Namun tidakterlalu mudah untuk
memaparkan arti taqwa.Umumnya taqwa didefinisikansebagai "takut pada
Allah" (atau "God-fearing") yang ditandai denganmenjauhi segala
larangan-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya.Namun dalam Al-Qur`an, kata
takut telah memiliki padanan, yaitu"khasyiya" dan "khawf".
"Dan hendaklah orang-orang takut
(khasyyah) seandainya meninggalkandi belakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap(kesejahteraan) mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka
bertaqwakepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
benar."(QS. 4:9)
Nampak
bahwa ada nuansa perbedaan antara takut dan taqwa.Taqwa lebihcenderung kepada
suatu sikap etika. Orang-orang yang beriman danmengikuti petunjuk Allah justru
akan dijauhkan dari ketakutan atausuasana ketakutan.
"... Sesungguhnya akan datang
petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapayang mengikuti petunjuk-Ku, akan lenyap
segala ketakutan (khawf), dan ada
pula kesusahan." (QS. 2:38)
"Sesunguhnya orang-orang yang
mengatakan: Rabb kami ialah Allah,kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak
ada kekhawatiran terhadapmereka dan mereka tiada (pula) berduka cita."
(QS. 46:13)
Kurang
tepat jika taqwa diterjemahkan dengan sesuatu yang mengandungkata
"fearing".Hamka justru menyatakan bahwa kata taqwa justrumengandung
kesan berani dan melawan takut. Maka akan lebih tepat untukmenafsirkan taqwa
sebagai "lurus". Mutaqqi, orang yang bertaqwa, orangyang lurus
(righteous) pada jalan Allah.Orang yang tidak menyimpangdari jalan Allah.
Di
dalamnya, kita akan mendapati sikap menghindari kerusakan, menangkalkejahatan,
dan kehati-hatian. Orang yang bertaqwa adalah orang yangmemiliki mekanisme
datau daya penangkal terhadap penyimpangan yangmerusak diri sendiri dan orang
lain.Prof Usman Muhammady mendefinisikan orang yang bertaqwa sebagaimanusia
berilmu dan beriman, mampu memelihara diri dari kejahatan,dan memakai Al-Qur`an
sebagai pemimpin.
Seperti
juga iman, taqwa lebih difokuskan pada hubungan manusia denganAllah.Ketaqwaan
didasarkan atas pengakuan diri sebagai hamba Allah,ketaqwaan dijalankan dengan
mengacu pada petunjuk Allah.Dan ketaqwaanadalah nilai atau harga manusia dalam
pandangan Allah.
"...
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisiAllah ialah orang
yang paling bertaqwa di antara kamu. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal" (QS. 49:13)
Namun
kenyataan bahwa taqwa lebih terfokus pada hubungan manusia denganAllah tidak
menjadikan taqwa terpisah dari kehidupan kemanusiaan.Sebaliknya, penerapan
taqwa akan sangat terasa dalam sisi kemanusiaan.Misalnya ketaqwaan mendorong
untuk bersikap adil, dan menjagasilaturrahim, dan saling berbagi dengan sesama.[Chip
Challenger,Taqwaktpdi].
Berbicara
tentang takwa, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra
saat beliau mengutusnya ke Yaman, “Bertakwalah engkau kepada Allah di
manapun/kapan-pun/dalam keadaan bagaimanapun…” (HR at-Tirmidzi).
Terkait
dengan frase ittaqillah (ber-takwalah engkau kepada Allah) dalam potongan hadis
di atas, banyak ulama mendefinisikan kata takwa. Umumnya takwa mereka maknai
dengan: melak-sanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya
serta menetapi hukum-hukum-Nya. Dengan kata lain, hakikat takwa adalah
sebagai-mana dinyatakan oleh Hasan al-Bashri dan Umar bin Abdul Aziz, yakni:
menjauhi semua yang Allah larang dan melaksanakan semua yang Allah perintahkan;
lebih dari itu adalah kebaikan.
Banyak
sifat yang dilekatkan kepada orang-orang bertakwa (muttaqin). Di antaranya,
jika kita merujuk ayat-ayat di awal surah al-Baqarah, orang bertakwa adalah
orang yang: mengimani yang gaib; mendirikan shalat; menginfakkan sebagian
harta; mengimani Alquran dan kitab-kitab yang Allah turunkan sebelum al-Quran;
meyakini alam akhirat (QS al-Baqarah [2]: 1-4). Lalu jika kita merujuk pada
ayat lain, orang bertakwa disifati dengan beberapa ciri: menginfakkan hartanya
di saat lapang ataupun sempit; mampu menahan amarah; mudah memaafkan kesalahan
orang lain; jika melakukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon
ampunan-Nya; tidak meneruskan perbuatan dosanya (QS Ali Imran [3]: 133-135).
Tentu masih banyak sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam Alquran maupun Sunnnah.Yang pasti, semua sifat tersebut sejatinya melekat pada siapapun yang dikategorikan bertakwa.
Tentu masih banyak sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam Alquran maupun Sunnnah.Yang pasti, semua sifat tersebut sejatinya melekat pada siapapun yang dikategorikan bertakwa.
Adapun
frase haytsuma kunta maknanya adalah: di tempat manapun kamu berada, baik
dilihat manusia ataupun tidak (Ismail bin Muhammad al-Anshari, At-Tuhfah
ar-Rabbaniyyah Syarh al-Arba'in an-Nawawiyyah, hlm. 18).
Secara
lebih rinci dapat dijelaskan, bahwa kata haytsu bisa merujuk pada tiga: tempat
(makan), waktu (zaman) dan keadaan (hal). Karena itu, sabda Baginda Rasul SAW
kepada Muadz ra tersebut sebagai isyarat agar ia bertakwa kepada Allah SWT
tidak hanya di Madinah: saat turunnya wahyu-Nya, saat ada bersama beliau, juga
saat dekat dengan Masjid Nabi SAW. Namun, hendaklah ia bertakwa kepada Allah
SWT di mana pun, kapan pun dalam keadaan bagaimana pun.[Takwa dalam Semua
Keadaan, Media Ummat; Thursday, 06 January 2011 12:10].
Betapa pentingnya nilai TAQWA,
hingga merupakan bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan
betapa tinggi derajat TAQWA, hingga manusia yang paling mulia di sisi Allah
adalah orang yang paling taqwa di antara mereka. Dan banyak sekali buah yang
akan dipetik, hasil yang akan diperoleh dan nikmat yang akan diraih oleh orang
yang bertaqwa di antaranya adalah:
1.
Ia akan memperoleh Al-Furqon, yaitu kemampuan uantuk
membedakan antara yang hak dan yang batil, halal dan haram, antara yang sunnah
dengan bid’ah. Serta kesalahan-kesalahannya dihapus dan dosa-dosanya diampuni.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. “(QS. Al-Anfal: 29)
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. “(QS. Al-Anfal: 29)
2.
Ia akan memperoleh jalan keluar dari segala macam
problema yang dihadapinya, diberi rizki tanpa diduga dan dimudahkan semua
urusannya.
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. At-Thalaq: 2-3)’’Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. At-Thalaq: 2-3)’’Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)
3.
Amalan-amalan baiknya diterima oleh Allah hingga
menjadi berat timbangannya di hari kiamat kelak, mudah peng-hisabannya dan ia
menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kanan.
Berkatalah Habil (kepada saudaranya Qobil): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang taqwa”. (QS. Al-Maidah: 27)
Berkatalah Habil (kepada saudaranya Qobil): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang taqwa”. (QS. Al-Maidah: 27)
4.
Serta Allah akan memasukkan ke dalam Surga, kekal di
dalamnya serta hidup dalam keridloanNya.”Untuk
orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada Surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka
dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridloan Allah. Dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hambaNya.” (QS. Ali Imran: 15)
Jadi dengan TAQWA kepada Allah
kemuliaan hidup dapat dicapai, kebaikan dunia dapat diperoleh dan kebaikan
akhirat dengan segala kenikmatannya dapat dirasakan.[M.
Ikhsan, Taqwa Kepada Allah
Subhannahuwa Ta'ala, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Taqwa tidaklah berdiri
sendiri, ada kaitannya dengan sikap
mulia lainnya seperti idealnya tidak mungkin orang bertaqwa itu melakukan
syirik, mustahil mereka punya sifat nifaq, apa mungkin orang bertaqwa itu
berkata bohong dan bahasa kasar, seharusnya tidak terjadi bila makna taqwa
difahami dengan baik, Allah memerintahkan orang bertaqwa untuk berakhlak mulia
dengan menjaga perkataannya dalam seluruh asfek aktivitas kehidupan yang
dilalui.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati
Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar
(TQS al-Ahzab [33]: 70-71).
Allah SWT
berfirman: Yâ ayyuhâ al-ladzîna âmanû
[i]ttaqûl-Lâh (hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kamu kepada Allah). Seruan ayat ini
ditujukan kepada orang-orang Mukmin. Mereka
diperintahkan[i]ttaqûl-Lâh (bertakwa
kepada Allah).
Kemudian diiringi dengan
diperintahkan: wa qûlû qawl[an] sadîd[an](dan
katakanlah perkataan yang benar). Kata al-sadîdmerupakan
bentuk shifah musyabbahah
dari kata al-sadâd. Dalam Mukhtâr
al-Shihhah dijelaskan bahwa al-sadâd berarti al-shawâb
wa al-qashd min al-qawl wa al-'amal (ucapan dan
perbuatan yang benar dan lurus). Al-Raghib mengatakan, pengertian al-sadâd
adalah istiqâmah.
Sedangkan menurut al-Syaukani, kata
al-sadîd diambil dari kata tasdîd al-sahm
(membetulkan anak panah) agar tepat sasarannya.
Menurut zhahir-nya
ayat ini, perintah berkata benar tersebut berlaku umum untuk
semua perkara.Tidak hanya dikhususkan untuk satu
jenis perkara. Oleh karena itu, sebagaimana
dijelaskan al-Sa'di, membaca (Quran), dzikir, amar ma'ruf, nahi
munkar, belajar dan mengajarkan ilmu, dll
termasuk dalam cakupan qawl[an]
sadîd[an]. Demikian juga berdakwah, mendamaikan
perselisihan antar Mukmin, dan lain-lain.
Dengan demikian, berkata benar, jujur, adil, dan
lurus merupakan karakter setiap Mukmin. Sikap
tersebut diambil bukan didasarkan pada nilai
manfaat yang akan diperoleh, namun didasarkan
kepada ketakwaan. Sehingga, apa pun hasilnya, sikap itu
harus dilakukan secara konsisten. Rasulullah SAW
bersabda: Katakanlah kebenaran walaupun pahit (HR
al-Baihaqi dari Anas).
Selain sebagai perintah berkata
benar, ayat ini juga bisa dipahami sebagai larangan berlaku
sebaliknya. Sebagaimana perkataan benar dapat mengantarkan pelakunya ke
surga, perkataan batil juga bisa menjerumuskan pelakunya ke
dalam neraka. Sebut saja misalnya syahâdat al-szûr
(kesaksian palsu) yang terkategori sebagai dosa besar.
Demikian juga dosa besar lainnya, seperti kemusyrikan, menghalangi
manusia dari jalan Allah, durhaka kepada orang tua dll, bisa dilakukan oleh lisan.
Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang
penyebab terbesar yang membawa masuk surga. Beliau
menjawab, “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”
Dan ditanya penyebab terbesar yang membawa manusia
masuk neraka, maka beliau menjawab, “Dua rongga badan
yaitu mulut dan kemaluan.” (HR al-Tirmidzi).[Rokhmat S. Labib, M.E.I.Bertakwa
dan Berkata BenarMediaummat; Sunday, 18 September 2011 10:08].
Pernah suatu ketika Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan
oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam shalat
subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang
dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati yang mendengarnya. Lalu
berkatalah salah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, sepertinya ini nasihat
terakhir oleh karena itu nasihatilah kami”. Lalu Nabi bersabda:“Aku wasiatkan
kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun
kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa di antara kamu
hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat.
Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin
yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah
sunnah ini erat-erat). Dan berwaspadalah kamu terhadap perkara yang
diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Ahmad,Abu Dawud,
Tarmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi Al-Baghawi].
Tentang sabda Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam: “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada
Allah, mendengar dan mentaati”, tersebut di atas, Ibnu Rajab berkata, bahwa
kedua kata itu yaitu mendengar dan mentaati, mempersatukan kebahagiaan dunia
dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Di samping itu taqwa juga
merupakan sebaik-baiknya pakaian dan bekal orang mu’min, hal ini seperti yang
digambarkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam firmanNya surat Al-A’raaf
ayat 26 dan Al-Baqarah ayat 197. Allah berfirman:
Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. (Al-A’raaf: 26).
Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. (Al-A’raaf: 26).
Allah Ta'ala menganugerahkan
kepada hamba-hambaNya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah
(ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar-risy
sebagai tambahan dan penyempurna, artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa
sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat yang lahir maupun
batin, dan sekaligus memper-indahnya, yaitu pakaian at-taqwa.
Qasim bin Malik meriwayatkan
dari ‘Auf dari Ma’bad Al-Juhani berkata, maksud pakaian taqwa adalah al-hayaa’
(malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah amal
shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah
ajarkan dan tunjukkan.Adapun taqwa sebagai sebaik-baiknya bekal sebagaimana
tertuang dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan
bertaqwalah kepadaKu, hai orang-orang yang berakal”
Ibnu Katsir rahimahullah
menafsirkan ayat tersebut, dengan menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik
bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada
hambaNya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang
bekal menuju akhirat (yaitu taqwa).
Seandainya kita mampu
mengaplikasikan atau merealisasikan, kedua ayat di atas bukanlah suatu hal yang
mustahil, dan itu merupakan modal utama bagi kita untuk bersua kepada Sang
Pencipta.[Agus Salim Khan, Dengan Takwa
Kita Gapai Masadepan Yang Gemilang Serta Kehidupan Yang Hakiki, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Untuk mencapai derajat taqwa
tidaklah mudah, memerlukan training fisik dan rohani yang dilakukan secara
kontinyu, semua muslim mampu untuk mencapainya bila mau dengan sungguh-sungguh
karena peluang itu selalu terbuka, apalagi di bulan Ramadhan Allah memberikan
hanya dengan satu bulan saja bisa mencapai taqwa, untuk meraih taqwa itu memang
sulit tapi lebih sulit lagi memeliharanya karena perjalanan waktu bisa
mempengaruhi iman seseorang, taqwa harus diraih dan harus dijaga selama hidup
ini, bahkan kalau bisa kematian harus ditunda dahulu sebelum derajat taqwa kita
raih, Wallahu a’lam [Cubadak
Solok, 15 Desember 2011.M/ 19 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar