Jumat, 19 Februari 2016

258. Muttaqin



Muttaqin adalah level iman yang paling tinggi,artinya orang yang bertaqwa. Suatu ketika Umar bin Khattab ditanya  oleh seorang sahabat tentang taqwa ini, maka dia balik bertanya, ”Pernahkah kamu melewati perjalanan sulit ?” maka dijawab ”Pernah”, Umar bertanya lagi, ”Bagaimana cara kamu melewati jalan itu?”, sang sahabat itu menjawab, ”Maka saya berhati-hati”, Umar lansung menukas, ”Nah itulah yang dikatakan dengan taqwa yaitu berhati-hati”.

Takwa adalah bekal hidup paling berharga dalam diri seorang muslim. Tanpanya hidup menjadi tidak bermakna dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, seseorang akan merasakan hakikat kebahagiaan hidup, baik di dunia mau pun di akhirat apabila ia berhasil menyandang sebagai orang yang bertakwa.

Kata takwa sudah amat akrab di telinga kita. Tiap khutbah Jumat sang khotib senantiasa menyerukannya. Bahkan di tiap bulan Ramadhan, kata taqwa pun menghiasi ceramah-ceramah atau kultum-kultum yang diadakan.Taqwa adalah bekal hidup paling utama.

Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Kata Rasulullah SAW, "Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara

Secara lughah (bahasa), takwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai takwa.Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya.

Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: "Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah." Abu Sulaiman Ad-Dardani menyebutkan: "Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kecintaan terhadap hawa nafsunya dicabut dari hatinya oleh Allah." Sedangkan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan, bahwa hakikat taqwa adalah taqwa hati, bukan takwa anggota badan."

Umumnya, para ulama mendefinisikan taqwa sebagai berikut: "Menjaga diri dari  perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa besar, serta berperilaku  dengan adab-adab syariah." Singkatnya, "Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji." Atau pengertian yang sudah begitu populer,  taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Dari definisi-definisi di atas menunjukan bahwa urgensi taqwa sudah tidak diragukan lagi, apalagi Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW.secara berulang-ulang menyeru kita supaya bertaqwa. Khusus bagi orang-orang yang bertakwa,[Imron Baehaqi Lc, Takwa dan Fungsinya, Republika.co.id Rabu, 29 Juni 2011 13:14 WIB].

               "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengansebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati melainkan dalamkeadaan muslim." (QS. 3:102)

               Taqwa adalah salah satu istilah kunci dalam Al-Qur`an. Namun tidakterlalu mudah untuk memaparkan arti taqwa.Umumnya taqwa didefinisikansebagai "takut pada Allah" (atau "God-fearing") yang ditandai denganmenjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya.Namun dalam Al-Qur`an, kata takut telah memiliki padanan, yaitu"khasyiya" dan "khawf".

               "Dan hendaklah orang-orang takut (khasyyah) seandainya meninggalkandi belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap(kesejahteraan) mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwakepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."(QS. 4:9)

               Nampak bahwa ada nuansa perbedaan antara takut dan taqwa.Taqwa lebihcenderung kepada suatu sikap etika. Orang-orang yang beriman danmengikuti petunjuk Allah justru akan dijauhkan dari ketakutan atausuasana ketakutan.

               "... Sesungguhnya akan datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapayang mengikuti petunjuk-Ku, akan lenyap segala ketakutan (khawf), dan         ada pula kesusahan." (QS. 2:38)

               "Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah,kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadapmereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (QS. 46:13)

               Kurang tepat jika taqwa diterjemahkan dengan sesuatu yang mengandungkata "fearing".Hamka justru menyatakan bahwa kata taqwa justrumengandung kesan berani dan melawan takut. Maka akan lebih tepat untukmenafsirkan taqwa sebagai "lurus". Mutaqqi, orang yang bertaqwa, orangyang lurus (righteous) pada jalan Allah.Orang yang tidak menyimpangdari jalan Allah.

               Di dalamnya, kita akan mendapati sikap menghindari kerusakan, menangkalkejahatan, dan kehati-hatian. Orang yang bertaqwa adalah orang yangmemiliki mekanisme datau daya penangkal terhadap penyimpangan yangmerusak diri sendiri dan orang lain.Prof Usman Muhammady mendefinisikan orang yang bertaqwa sebagaimanusia berilmu dan beriman, mampu memelihara diri dari kejahatan,dan memakai Al-Qur`an sebagai pemimpin.

               Seperti juga iman, taqwa lebih difokuskan pada hubungan manusia denganAllah.Ketaqwaan didasarkan atas pengakuan diri sebagai hamba Allah,ketaqwaan dijalankan dengan mengacu pada petunjuk Allah.Dan ketaqwaanadalah nilai atau harga manusia dalam pandangan Allah.

               "... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisiAllah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. 49:13)

               Namun kenyataan bahwa taqwa lebih terfokus pada hubungan manusia denganAllah tidak menjadikan taqwa terpisah dari kehidupan kemanusiaan.Sebaliknya, penerapan taqwa akan sangat terasa dalam sisi kemanusiaan.Misalnya ketaqwaan mendorong untuk bersikap adil, dan menjagasilaturrahim, dan saling berbagi dengan sesama.[Chip Challenger,Taqwaktpdi].

               Berbicara tentang takwa, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra saat beliau mengutusnya ke Yaman, “Bertakwalah engkau kepada Allah di manapun/kapan-pun/dalam keadaan bagaimanapun…” (HR at-Tirmidzi).

               Terkait dengan frase ittaqillah (ber-takwalah engkau kepada Allah) dalam potongan hadis di atas, banyak ulama mendefinisikan kata takwa. Umumnya takwa mereka maknai dengan: melak-sanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya serta menetapi hukum-hukum-Nya. Dengan kata lain, hakikat takwa adalah sebagai-mana dinyatakan oleh Hasan al-Bashri dan Umar bin Abdul Aziz, yakni: menjauhi semua yang Allah larang dan melaksanakan semua yang Allah perintahkan; lebih dari itu adalah kebaikan.

               Banyak sifat yang dilekatkan kepada orang-orang bertakwa (muttaqin). Di antaranya, jika kita merujuk ayat-ayat di awal surah al-Baqarah, orang bertakwa adalah orang yang: mengimani yang gaib; mendirikan shalat; menginfakkan sebagian harta; mengimani Alquran dan kitab-kitab yang Allah turunkan sebelum al-Quran; meyakini alam akhirat (QS al-Baqarah [2]: 1-4). Lalu jika kita merujuk pada ayat lain, orang bertakwa disifati dengan beberapa ciri: menginfakkan hartanya di saat lapang ataupun sempit; mampu menahan amarah; mudah memaafkan kesalahan orang lain; jika melakukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya; tidak meneruskan perbuatan dosanya (QS Ali Imran [3]: 133-135).
Tentu masih banyak sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam Alquran maupun Sunnnah.Yang pasti, semua sifat tersebut sejatinya melekat pada siapapun yang dikategorikan bertakwa.

               Adapun frase haytsuma kunta maknanya adalah: di tempat manapun kamu berada, baik dilihat manusia ataupun tidak (Ismail bin Muhammad al-Anshari, At-Tuhfah ar-Rabbaniyyah Syarh al-Arba'in an-Nawawiyyah, hlm. 18).

               Secara lebih rinci dapat dijelaskan, bahwa kata haytsu bisa merujuk pada tiga: tempat (makan), waktu (zaman) dan keadaan (hal). Karena itu, sabda Baginda Rasul SAW kepada Muadz ra tersebut sebagai isyarat agar ia bertakwa kepada Allah SWT tidak hanya di Madinah: saat turunnya wahyu-Nya, saat ada bersama beliau, juga saat dekat dengan Masjid Nabi SAW. Namun, hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT di mana pun, kapan pun dalam keadaan bagaimana pun.[Takwa dalam Semua Keadaan, Media Ummat; Thursday, 06 January 2011 12:10].

Betapa pentingnya nilai TAQWA, hingga merupakan bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan betapa tinggi derajat TAQWA, hingga manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara mereka. Dan banyak sekali buah yang akan dipetik, hasil yang akan diperoleh dan nikmat yang akan diraih oleh orang yang bertaqwa di antaranya adalah:

1.      Ia akan memperoleh Al-Furqon, yaitu kemampuan uantuk membedakan antara yang hak dan yang batil, halal dan haram, antara yang sunnah dengan bid’ah. Serta kesalahan-kesalahannya dihapus dan dosa-dosanya diampuni.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. “(QS. Al-Anfal: 29)

2.      Ia akan memperoleh jalan keluar dari segala macam problema yang dihadapinya, diberi rizki tanpa diduga dan dimudahkan semua urusannya.
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. At-Thalaq: 2-3)’’Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

3.      Amalan-amalan baiknya diterima oleh Allah hingga menjadi berat timbangannya di hari kiamat kelak, mudah peng-hisabannya dan ia menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kanan.
Berkatalah Habil (kepada saudaranya Qobil): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang taqwa”. (QS. Al-Maidah: 27)

4.      Serta Allah akan memasukkan ke dalam Surga, kekal di dalamnya serta hidup dalam keridloanNya.”Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridloan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya.” (QS. Ali Imran: 15) 

Jadi dengan TAQWA kepada Allah kemuliaan hidup dapat dicapai, kebaikan dunia dapat diperoleh dan kebaikan akhirat dengan segala kenikmatannya dapat dirasakan.[M. Ikhsan, Taqwa Kepada Allah Subhannahuwa Ta'ala, www.alsofwah.or.id/khutbah].

Taqwa tidaklah berdiri sendiri,  ada kaitannya dengan sikap mulia lainnya seperti idealnya tidak mungkin orang bertaqwa itu melakukan syirik, mustahil mereka punya sifat nifaq, apa mungkin orang bertaqwa itu berkata bohong dan bahasa kasar, seharusnya tidak terjadi bila makna taqwa difahami dengan baik, Allah memerintahkan orang bertaqwa untuk berakhlak mulia dengan menjaga perkataannya dalam seluruh asfek aktivitas kehidupan yang dilalui.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar (TQS al-Ahzab [33]: 70-71).

Allah  SWT  berfirman:  Yâ ayyuhâ  al-ladzîna  âmanû  [i]ttaqûl-Lâh (hai  orang-orang  yang beriman, bertakwalah kamu kepada  Allah).  Seruan  ayat  ini ditujukan  kepada  orang-orang Mukmin.  Mereka  diperintahkan[i]ttaqûl-Lâh (bertakwa  kepada Allah). 

Kemudian  diiringi  dengan diperintahkan: wa qûlû qawl[an] sadîd[an](dan  katakanlah  perkataan yang benar). Kata al-sadîdmerupakan  bentuk  shifah  musyabbahah dari  kata  al-sadâd. Dalam Mukhtâr al-Shihhah dijelaskan bahwa al-sadâd berarti al-shawâb wa al-qashd min al-qawl wa  al-'amal (ucapan  dan  perbuatan yang benar dan lurus). Al-Raghib mengatakan, pengertian al-sadâd adalah  istiqâmah.  Sedangkan  menurut  al-Syaukani, kata  al-sadîd diambil  dari  kata tasdîd  al-sahm (membetulkan anak  panah)  agar  tepat  sasarannya.

Menurut zhahir-nya ayat ini, perintah berkata benar tersebut berlaku  umum  untuk  semua perkara.Tidak  hanya  dikhususkan  untuk  satu  jenis  perkara. Oleh  karena  itu,  sebagaimana dijelaskan  al-Sa'di,  membaca (Quran), dzikir, amar ma'ruf, nahi munkar,  belajar  dan  mengajarkan  ilmu,  dll  termasuk  dalam cakupan  qawl[an]  sadîd[an]. Demikian juga berdakwah, mendamaikan  perselisihan  antar Mukmin, dan lain-lain.

Dengan demikian, berkata benar, jujur, adil, dan lurus merupakan  karakter  setiap  Mukmin. Sikap  tersebut  diambil  bukan didasarkan  pada  nilai  manfaat yang  akan  diperoleh,  namun didasarkan  kepada  ketakwaan. Sehingga, apa pun hasilnya, sikap  itu  harus  dilakukan  secara konsisten.  Rasulullah  SAW  bersabda:  Katakanlah  kebenaran walaupun  pahit  (HR  al-Baihaqi dari Anas).

Selain  sebagai  perintah berkata benar, ayat ini juga bisa dipahami  sebagai  larangan berlaku  sebaliknya.  Sebagaimana perkataan benar dapat mengantarkan pelakunya ke surga, perkataan batil juga bisa menjerumuskan  pelakunya  ke  dalam neraka. Sebut saja misalnya syahâdat  al-szûr (kesaksian  palsu) yang  terkategori  sebagai  dosa besar. Demikian juga dosa besar lainnya,  seperti  kemusyrikan, menghalangi manusia dari jalan Allah, durhaka kepada orang tua dll, bisa dilakukan oleh lisan. Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang  penyebab  terbesar  yang membawa masuk  surga.  Beliau menjawab, “Taqwa kepada Allah dan  akhlak  yang  baik.”  Dan  ditanya  penyebab  terbesar  yang membawa manusia masuk neraka, maka beliau  menjawab, “Dua rongga  badan  yaitu  mulut  dan kemaluan.” (HR al-Tirmidzi).[Rokhmat S. Labib, M.E.I.Bertakwa dan Berkata BenarMediaummat; Sunday, 18 September 2011 10:08].

Pernah suatu ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati yang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, sepertinya ini nasihat terakhir oleh karena itu nasihatilah kami”. Lalu Nabi bersabda:“Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa di antara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini erat-erat). Dan berwaspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Ahmad,Abu Dawud, Tarmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi Al-Baghawi].

Tentang sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam: “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati”, tersebut di atas, Ibnu Rajab berkata, bahwa kedua kata itu yaitu mendengar dan mentaati, mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Di samping itu taqwa juga merupakan sebaik-baiknya pakaian dan bekal orang mu’min, hal ini seperti yang digambarkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam firmanNya surat Al-A’raaf ayat 26 dan Al-Baqarah ayat 197. Allah berfirman:
Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. (Al-A’raaf: 26).

Allah Ta'ala menganugerahkan kepada hamba-hambaNya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah (ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar-risy sebagai tambahan dan penyempurna, artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan sekaligus memper-indahnya, yaitu pakaian at-taqwa.

Qasim bin Malik meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al-Juhani berkata, maksud pakaian taqwa adalah al-hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.Adapun taqwa sebagai sebaik-baiknya bekal sebagaimana tertuang dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu, hai orang-orang yang berakal”

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, dengan menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat (yaitu taqwa).

Seandainya kita mampu mengaplikasikan atau merealisasikan, kedua ayat di atas bukanlah suatu hal yang mustahil, dan itu merupakan modal utama bagi kita untuk bersua kepada Sang Pencipta.[Agus Salim Khan, Dengan Takwa Kita Gapai Masadepan Yang Gemilang Serta Kehidupan Yang Hakiki, www.alsofwah.or.id/khutbah].

Untuk mencapai derajat taqwa tidaklah mudah, memerlukan training fisik dan rohani yang dilakukan secara kontinyu, semua muslim mampu untuk mencapainya bila mau dengan sungguh-sungguh karena peluang itu selalu terbuka, apalagi di bulan Ramadhan Allah memberikan hanya dengan satu bulan saja bisa mencapai taqwa, untuk meraih taqwa itu memang sulit tapi lebih sulit lagi memeliharanya karena perjalanan waktu bisa mempengaruhi iman seseorang, taqwa harus diraih dan harus dijaga selama hidup ini, bahkan kalau bisa kematian harus ditunda dahulu sebelum derajat taqwa kita raih, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Desember 2011.M/ 19 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar