Jumat, 26 Februari 2016

281. Bible



Al Kitab secara bahasa berarti kitab-kitab.Secara Istilah berarti kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Rasul-rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah bagi seluruh ummat manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal-hal yang wajib diimani diantaranya;

1.Beriman bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah Swt. Bukan karangan siapapun dan tidak pula ciptaan para nabi dan rasul, mereka hanya berkewajiban menerima wahyu dan menyampaikan kepada ummatnya.

2.Beriman kepada kitab-kitab yang sudah kita kenal namanya seperti shuhuf Ibrahim dan Musa, Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an.Bahwa kita percaya para nabi sebelumnya sudah menerima kitab-kitab tersebut sebagai panduan dalam hidup di dunia.

3.Membenarkan seluruh berita –berita yang terdapat dalam Al-Qur’an, juga berita-berita dalam kitab terdahulu yang belum diganti atau diselewengkan.Karena berita itu merupakan wahyu dari Allah kecuali kitab-kitab yang sudah diubah dan selewengkan oleh tangan-tangan jahil manusia.

4.Mengerjakan seluruh hukum dalam kitab-kitab tersebut yang belum dinasakh oleh Al-Qur’an serta rela dan tunduk pada hukum tersebut baik memahami hikmahnya maupun tidak, karena kitab tanpa artinya bila hanya diimani dan dibaca saja tanpa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman; “Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.[Al Baqarah 2;97].

Allah berfirman;“dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,’[Al Maidah 5;48].

Allah memerintahkan kepada kita ummat islam untuk mengimani kitab-kitab yang turun sebelumnya yang terdiri dari Shuhuf Ibrahim [QS. 87;14-19, 53;36-42], Shuhuf Musa [QS. 87;14-19, 53;36-42], Taurat [QS. 2;53, 3;3, 5;44, 6;9], Zabur [QS. 4;164, 18;55, 21;105], Injil [QS. 3;3, 5;46.] dan Al-Qur’an [QS. 2;2, 12;2, 18;1, 25;1, 68;51-52].

Allah berfirman;“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.[An Nisa’ 4;136].

Khusus kitab Injil yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa As merupakan Kitab yang diberikan kepada ummat Nasrani yang kita kenal dengan sebutan Kristen, mereka menyebut Injil dengan nama Bible. Allah berfirman; “dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat.dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.’’[Al Maidah 5;46].

Injil atau Bible mempunyai empat kitab yang dinamakan dengan Markus, Matius, Lukas dan Yahya, Dr. Maurice Bucaille pengarang buku BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern menyebutkan hal itu sebagaimana dibawah ini;

               Dalam karangan-karangan  yang  ditulis  pada  permulaansejarah  agama  Kristen,  Injil  baru  disebutkan, lamasesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang  adanyalnjil-Injil  baru  terdapat pada pertengahan abad II M,dan lebih tepat lagi sesudah tahun 140, padahal  banyakpengarang-pengarang  Kristen  dari  permulaan  abad  IIsudah mengetahui adanya surat-surat Paulus.

               Pernyataan-pernyataan yang dimuat dalam  l'Introductiona la Traduction oecumeniq de la Bible Nouveau Testament(Pengantar  kepada   terjemahan   bersama   Protestant,Katolik - Perjanjian Baru) cetakan tahun 1972 tersebut,perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula bahwabuku  Pengantar  tersebut  adalah  hasil karya kolektifyang  mengumpulkan  sarjanae-sarjana   Protestant   danKatholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

               Injil  yang  kemudian  menjadi resmi atau Kanonik, barudiketahui lama sesudah itu, meskipun  redaksinya  sudahselesai  pada  permulaan  abad  II.  Menurut terjemahanekumenik orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat  Injilmulai  pertengahan  abad  II, "akan tetapi selalu sukaruntuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu  disebutkan
menurut    teks    tertulis    atau    hanya    menurutingatan-ingatan fragmen daripada tradisi lisan."

               "Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada  orangyang  mengetahui  tentang  kumpulan  fasal-fasal Injil;begitulah  yang  kita  baca  dalam  komentar   mengenaiterjemahan   Bibel."   Keterangan   tersebut   di  atasbertentangan dengan apa yang  ditulis  oleh  A.  Tricot(tahun 1960) dalam komentar terjemahan Perjanjian Baru."Dari pagi-pagi semenjak permulaan abad II,  telah  adakebiasaan  memakai  perkataan  Injil, untuk menunjukkanfasal-fasal yang disekitar tahun 150  Yustin  menamakanmemoar  para Rasul." Pernyataan yang semacam itu sangatsering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaranyang keliru tentang waktu pengumpulan Injil.

               Injil-Lnjil  menjadi  suatu  kesatuan satu abad setelahYesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. TerjemahanEkumenik  Bibel mengira-ngirakan bahwa Injil yang empatitu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun170.

               Pernyataan  Yustin yang mengatakan bahwa para pengarangInjil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat  lagiditerima  pada  waktu ini, seperti yang akan kita lihatnanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A.  Tricotmenerangkan  bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telahdisusun sebelum tahun  70.  Pernyataan  tersebut  tidakdapat  diterima  kecuali  yang  mengenai  Markus.  Jurutafsir, A. Tricot ini, seperti juru-juru tafsir lainnyamerasa  berbuat  amal  kebajikan untuk melukiskan bahwapara   penulis   Injil    adalah    rasul-rasul    atausahabat-sahabat   Yesus,  dan  dengan  begitu  maka  iamemajukan waktu  penyusunannya  sehingga  dekat  kepadawaktu  hidupnya  Yesus. Adapun Yahya yang oleh A. Tncotdigambarkan sebagai seorang  yang  hidup  sampai  tahun100,   orang-orang   Kristen   biasa   membaca  namanyadisebutkan  dekat   Yesus   dalam   peristiwa-peristiwapenting,  akan  tetapi  sangat  sukar  untuk memastikanbahwa orang itu adalah  pengarang  Injil  yang  membawanama  Injil  Yahya.  Rasul Yahya (sebagai juga Matius),bagi A.Tricot dan beberapa ahli tafsir  lainnya  adalahsaksi   yang   cakap   dan   boleh  dipercaya  mengenaikejadian-kejadian    yang    diriwayatkannya;    tetapikebanyakan  ahli  kritik  tidak  menerima hypotesa yangmengatakan bahwa sahabat  Yahya  itu  adalah  pengarangInjil keempat

               Tetapi jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secaramemuaskan sebagai memoar para rasul atau  para  sahabatYesus, darimanakah asal Injil-Injil itu?

               O.Culmann   dalam   bukunya:  Perjanjian  Baru  (1967),Presses Universitaire de France,  menulis  bahwa  "parapengarang  Injil  adalah  juru  bicara  dari masyarakatKristen asli yang menentukan tradisi lisan;  selama  30tahun  atau  40  tahun,  Injil  hanya  ada dalam bentuktradisi  lisan;  tradisi  meriwayatkan  kata-kata  atauhikayat-hikayat  yang  terpisah-pisah.  Para  pengarangInjil  menghubungkan   hal-hal   yang   terpisah   itu,masing-masing   menurut  caranya  dan  seleranya  sertaperhatian   teolognya   yang   khusus.    Pengelompokankata-kata   Yesus   sebagai  rangkaian  riwayat-riwayatdengan kata-kata penghubung yang kabur seperti: sesudah
itu,  selekasnya,  dan  lain-lain  yang  terdapat dalamInjil-Injil Sinoptik9 hanya merupakan  susunan  litererdan tidak mempunyai dasar sejarah."

               Pengarang  tersebut meneruskan: "Kita harus ingat bahwayang menjadi pedoman  kelompok  primitif  (asli)  dalammenentukan   tradisi  mengenai  kehidupan  Yesus  bukanperhatian terhadap sejarah  hidup  Yesus,  akan  tetapikebutuhan  untuk  berdakwah  untuk pendidikan dan untukberibadah.   Para   rasul    menggambarkan    kebenarankepercayaan   yang   mereka   dakwahkan   dengan   carameriwayatkan kejadian-kejadian dalam  kehidupan  Yesus.Khotbah-khotbah    mereka    itulah   yang   menentukanhikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus  diriwayatkankhususnya dalam pengajaran kateketiknya Gereja asli.

               Para  penyusun  "Terjemahan  Ekumenik  dari pada Bibel"tidak menyebutkan  mengenai  penyusunan  Bibel  kecualiterbentuknya    tradisi   lisan   di   bawah   pengaruhnasehat-nasehat  murid  Yesus  dan   juru-juru   dakwahlainnya.  Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam Injiladalah     dengan      jalan      dakwah,      liturgi,pengajian-pengajian  para  penganut  agama  yang setia.Kemungkinan  tersusunnya   bentuk   tertulis   mengenaikepercayaan,  kata-kata  tertentu danpada Yesus sepertiHikayat  Penyaliban  umpamanya,  para  pengarang  Injilmemakai  bentuk  tertulis  bersama  dengan tradisi oraluntuk menghasilkan teks yang sesuai  dengan  lingkunganyang  bermacam-macam,  untuk memenuhi kebutuhan Gereja,untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab  suci,  untukmembetulkan  yang  salah dan untuk menjawab argumentasilawan.  Dengan  begitu  maka   para   pengarang   Injilmengumpulkan   secara   tertulis  hal-hal  yang  merekadapatkan sebagai tradisi lisan,  masing-masing  menurutpandangan dan seleranya.".

               Begitu ragunya kalangan ilmuwan Kristen terhadap keotentikan Injil atau Bibel yang mereka yakini sebagai kitab suci bagi agama Nasrani, baik dari masa penyusunannya hingga redaksi yang terdapat didalamnya apalagi masing-masing bible tersebut terdapat kontradiksi antara satu dengan lainnya.

               Kehendak Allah SWT adalah bahwa tidak ada satu pun kitab suci yang dijamin akan terus terjaga keabadian dan kesuciannya sepanjang zaman. Tidak ada jaminan bahwa kitab suci itu akan terus ada sepanjang zaman. Dan tidak ada nabi pun yang hidup terus menerus di tengah umatnya sepanjang zaman.Nabi dan kitab suci itu datang silih berganti, sesuai dengan masa hidup umat terkait.Kalau Allah SWT mau, tentu bisa saja.Masalahnya, Allah SWT tidak mau melakukannya, jadi kita tidak bisa paksa tuhan untuk melakukannya.Dan itulah kenyataannya selama ini.

               Setiap kali suatu umat sudah menyimpang dari ajaran agama yang asli, maka Allah SWT akan mengirim lagi nabi baru dan kitab suci baru kepada mereka. Dan begitulah berlangsung sejak Adam hingga masa sebelum Muhammad SAW.

               Namun di bagian akhir dari periode sejarah manusia, Allah SWT berkehendak untuk menghentikan pengiriman nabi dan kitab suci kepada manusia.Untuk itu, Allah SWT menurunkan sebuah kitab suci terakhir yang sifat utamanya adalah terjamin tidak hilang dari muka bumi dan tidak bisa dipalsukan.Dan kitab suci itu mudah dihafal dan memang kenyataannya memang dihafal oleh jutaan manusia sepanjang 15 abad sejak diturunkannya oleh beragam ras manusia.Rasanya, belum pernah ada satu kitab suci pun yang bisa dihafal luar kepala oleh jutaan manusia dalam kurun waktu yang lama.

               Al-Quran itu dijamin keasliannya sepanjang zaman.Dan jaminan itu secara eksplisit disebutkan dengan tegas di dalam ayat-ayatnya serta disepakati oleh seluruh umat Islam sedunia. Adakah satu ayat saja di dalam injil yang menjamin hal itu ?Di negeri Islam, anak usia 10 tahun bisa menghafal luar kepada 6.600-an ayat itu secara terbolak balik. Cukup dibacakan ujung ayatnya, dia dengan lancar bisa meneruskannya dan tidak berhenti kecualidiminta berhenti.

               Pernahkan para uskup bahkan paus sekalipun menghafal injil dalam bahasa aslinya luar kepala ? Bahkan separuhnya saja ? Atau 1/3-nya ?
               Mudah saja untuk membuktikan kepalsuan Injil yang di tangan manusia saat ini.

1) Ada ribuan versi injil sepanjang 20 abad ini dan satu sama lain bukan sekedar berbeda, tetapi bertentangan secara ekstrim. Dengan logika sederhana, tentu injil-injil yang ribuan itu palsu semua kecuali satu saja yang asli. Sebab ketika menurunkan Injil 20 abad yang lalu, Allah tentu tidak menurunkannya dengan ribuan versi, bukan ?

2) Al-Quran telah menegaskan bahwa para rahib dan pendeta nasrani telah melakukan pemutar-balikan kitab suci injil oleh tangan yang tidak bertanggung-jawab. Sehingga kepalsuan injil itu bagian dari aqidah dalam Islam.


3) Silahkan rujuk sejarah penulisan injil dengan hati nurani, bukan sekedar semangat membela diri. Fakta sejarah telah menjelaskan bagaimana injil itu ditulis ulang beberapa abad setelah hilangnya generasi yang pernah hidup bersama nabi Isa. Bandingkan dengan sejarah otentik penulisan Al-Quran yang bahkan ditulis langsung di depan Muhammad SAW.

Sangat sulit diterima sikap bersikeras bahwa tidak ada pemalsuan dalam proses penulisan injil yang sudah jauh terlewat dari masa diturunkannya. [Dari Seorang Nasrani : Mengapa Umat Islam Mengangap Injil Dipalsukan ?Kumpulan Konsultasi & FAQ Swaramuslim.net 2004Konsultasi & FAQOleh : Redaksi 24 Oct 2004 - 6:26 am].

Ketika diteliti lebih dalam tentang kebenaran Injil  atau Bibel yang diimani oleh orang-orang Nasrani ternyata banyak kontradiksi diantaranya sebagaimana halnya tentang hokum berzina.

Dalil 1 : Yesus Melarang Berzina
Yesus bersabda Jangan berzina, yang di-kutip dari sepuluh (10) perintah Tuhan dalam kitab Taurat tepatnya Keluaran 20:14, kemudian Yesus juga memberikan peringatan agar umatnya tidak berbuat zina ;Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu de-ngan utuh dicampakkan ke dalam neraka.Matius 5:28-29

Peringatan Yesus tersebut memberikan arti kuat bahwa betapa sangat dilarangnya perbuatan zina, seseorang yang memandang perempuan dan tertarik maka oleh Yesus dikatakan sudah berbuat zina di dalam hatinya, dan menurut beberapa tafsir Alkitab, berkeinginan untuk berbuat zina sudah sama sifatnya dengan berzina.

Masih menurut sabda Yesus, bahwa mencungkil mata dan membuangnya adalah jauh lebih baik daripada mata kita menyebabkan kita memandang perempuan yang kemudian berkeinginan untuk berbuat zina, karena mata adalah salah satu pintu masuk bagi pikiran jahat.Mencungkil mata adalah simbolik agar kita mencegah untuk memandang perempuan yang bisa mencampakkan seluruh tubuh kita ke neraka.

Saya kira peringatan Yesus tersebut senada dengan peringatan dalam Al-Qur’an agar kita tidak berbuat zina, namun Al-Qur’an lebih realistis agar manusia tidak terjerumus ke dalam perbuatan zina, Allah memperingatkan jangan dekati zina dan bagi perempuan diperintahkan menutup auratnya, agar mata laki-laki tidak tersesat memandangnya, harus diakui bahwa banyak sekali kejahatan seksual bermula dari mata, entah melihat wanita berpakaian minim dan seksi ataupun melihat VCD porno.

Dalil 2 : Yesus Membiarkan Pezina
Suatu ketika ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi datang menemui Yesus untuk menyerahkan seorang wanita yang tertangkap basah berbuat zina :"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia se-dang berbuat zinah. Yohanes 8:4 

Mereka terus mendesak Yesus agar menghukum wanita tersebut sesuai hukum Taurat yaitu dilempari batu sampai mati, namun Yesus menolak dan balik berkata kepada mereka :"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendak-lah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8:7

mendengar perkataan Yesus tersebut, satu-per-satu mereka mulai meninggalkan Yesus dan wanita pelacur tersebut, karena mereka merasa tidak seorangpun yang tidak berdosa. Maka tinggallah berdua Yesus dan wanita pezina itu, lalu Yesus berkata kepadanya :"Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."Yohanes 8:10
Sikap Yesus tidak melaksanakan hukuman sesuai hukum Taurat melahirkan tanda tanya besar, karena Yesus sendiri pernah bersabda :" Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.” Matius 5:17

dan hukum Taurat yang dimaksud adalah :< mati. sampai batu dengan kaulempari harus kemudian…. gerbang, pintu ke luar itu jahat perbuatan melakukan telah yang perem-puan atau laki-laki membawa engkau>Ulangan 17:5

Apakah Yesus tidak konsisten dengan ucapannya sendiri ?tidak mungkin, atau karena Yesus merasa dirinya sebagai orang yang berdosa sehingga ia tidak mau menghukum wanita itu ? tidak mungkin juga, karena hal ini berarti menuduh Yesus mempunyai dosa (karena menurut iman KristenYesus adalah manusia suci tanpa dosa), kalau semua itu tidak mungkin, lalu mana yang mungkin ? apakah kisah tersebut palsu ?? mungkin saja, tetapi sementara ini kita menganggap kisah tersebut asli.

Dalil 3 : Yesus Berduaan Dengan Pezina
Suatu ketika Yesus duduk di sebuah pinggiran sumur dari perjalanan yang meletihkan, dan murid-muridnya pergi ke kota untuk membeli makanan. Kira-kira pukul dua belas siang datanglah seorang wanita untuk mengambil air di sumur itu, lalu berkatalah Yesus kepadanya :"Berilah Aku minum." Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" Yohanes 4:7,9

pembicaraanpun berlanjut cukup lama antara Yesus dan wanita tersebut yang tidak disertai murid-muridnya, mereka hanya berdua di sumur yang jauh dari rumah penduduk. Dan ternnyata wanita tersebut adalah seorang pelacur yang mempunyai lima (5) orang suami dan sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya :Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar. Yohanes 4:17-18

Tentu saja wanita tersebut sangat menarik secara seksual, karena wanita tersebut sampai mempunyai lima (5) orang suami di tambah lagi dia mampu menjalin asmara dengan laki-laki lain yang bukan suaminya. Lalu yang menjadi pertanyaan besar adalah, mungkinkah Yesus berdua-duaan dengan wanita pezina ? Dan apakah mungkin Yesus tidak memandang wanita yang sedang bercakap-cakap dengannya ? Tentu ti-dak mungkin, karena Yesus pernah bersabda :Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu. Matius 5:28-29

Apakah Yesus lupa akan sabdanya ?tentu tidak mungkin, atau Yesus tidak konsisten dengan sabdanya ? tidak mungkin, atau Yesus tidak mau menjaga pandangannya ? tidak mungkin. [Kontradiksi Hukum Zina dalam Al-Kitab
al-islahonline.com tanggal : 26/08/2005]

Dengan kondisi kitab Injil yang demikian memang tidak layak untuk diimani oleh siapa saja apalagi oleh ummat islam, kita hanya boleh mengimani bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Isa yang tertuang pada Kitab Injil yang masih asli dahulu, hanya sebatas itu, bahkan dengan diwahyukannya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw maka semua kitab-kitab sebelumnya tersebut hanya tinggal sejarah saja lagi, semuanya sudah lengkap tertuang hukum-hukum Allah itu dalam Al Qur’an, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar