Al Kitab secara
bahasa berarti kitab-kitab.Secara Istilah berarti kitab-kitab yang diturunkan
oleh Allah Swt kepada Rasul-rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah bagi seluruh
ummat manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal-hal yang
wajib diimani diantaranya;
1.Beriman
bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah Swt. Bukan
karangan siapapun dan tidak pula ciptaan para nabi dan rasul, mereka hanya
berkewajiban menerima wahyu dan menyampaikan kepada ummatnya.
2.Beriman
kepada kitab-kitab yang sudah kita kenal namanya seperti shuhuf Ibrahim dan
Musa, Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an.Bahwa kita percaya para nabi
sebelumnya sudah menerima kitab-kitab tersebut sebagai panduan dalam hidup di
dunia.
3.Membenarkan
seluruh berita –berita yang terdapat dalam Al-Qur’an, juga berita-berita dalam
kitab terdahulu yang belum diganti atau diselewengkan.Karena berita itu
merupakan wahyu dari Allah kecuali kitab-kitab yang sudah diubah dan
selewengkan oleh tangan-tangan jahil manusia.
4.Mengerjakan
seluruh hukum dalam kitab-kitab tersebut yang belum dinasakh oleh Al-Qur’an
serta rela dan tunduk pada hukum tersebut baik memahami hikmahnya maupun tidak,
karena kitab tanpa artinya bila hanya diimani dan dibaca saja tanpa diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman; “Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril
itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah;
membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita
gembira bagi orang-orang yang beriman.[Al Baqarah 2;97].
Allah berfirman;“dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya)
dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk
tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja),
tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan.hanya kepada Allah-lah kembali kamu
semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan
itu,’[Al Maidah 5;48].
Allah memerintahkan kepada kita ummat
islam untuk mengimani kitab-kitab yang turun sebelumnya yang terdiri dari Shuhuf
Ibrahim [QS. 87;14-19, 53;36-42], Shuhuf Musa [QS. 87;14-19, 53;36-42], Taurat [QS.
2;53, 3;3, 5;44, 6;9], Zabur [QS. 4;164, 18;55, 21;105], Injil [QS. 3;3, 5;46.]
dan Al-Qur’an [QS. 2;2, 12;2, 18;1, 25;1, 68;51-52].
Allah berfirman;“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab
yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian,
Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.[An Nisa’ 4;136].
Khusus kitab Injil yang diturunkan Allah
kepada Nabi Isa As merupakan Kitab yang diberikan kepada ummat Nasrani yang
kita kenal dengan sebutan Kristen, mereka menyebut Injil dengan nama Bible.
Allah berfirman; “dan Kami iringkan jejak
mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang
sebelumnya, Yaitu: Taurat.dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil
sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan
membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk
serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.’’[Al Maidah 5;46].
Injil atau Bible mempunyai empat kitab
yang dinamakan dengan Markus, Matius, Lukas dan Yahya, Dr. Maurice Bucaille pengarang
buku BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern menyebutkan hal itu sebagaimana dibawah
ini;
Dalam karangan-karangan yang
ditulis pada permulaansejarah agama
Kristen, Injil baru
disebutkan, lamasesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang adanyalnjil-Injil baru
terdapat pada pertengahan abad II M,dan lebih tepat lagi sesudah tahun
140, padahal
banyakpengarang-pengarang
Kristen dari permulaan
abad IIsudah mengetahui adanya
surat-surat Paulus.
Pernyataan-pernyataan
yang dimuat dalam l'Introductiona la
Traduction oecumeniq de la Bible Nouveau Testament(Pengantar kepada
terjemahan bersama Protestant,Katolik - Perjanjian Baru)
cetakan tahun 1972 tersebut,perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula
bahwabuku Pengantar tersebut
adalah hasil karya
kolektifyang mengumpulkan sarjanae-sarjana Protestant
danKatholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.
Injil yang
kemudian menjadi resmi atau
Kanonik, barudiketahui lama sesudah itu, meskipun redaksinya
sudahselesai pada permulaan
abad II. Menurut terjemahanekumenik orang mulai
menyebutkan riwayat-riwayat Injilmulai pertengahan
abad II, "akan tetapi selalu
sukaruntuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu disebutkan
menurut teks tertulis
atau hanya menurutingatan-ingatan fragmen daripada
tradisi lisan."
"Sebelum
tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada
orangyang mengetahui tentang
kumpulan fasal-fasal
Injil;begitulah yang kita
baca dalam komentar
mengenaiterjemahan
Bibel." Keterangan tersebut
di atasbertentangan dengan apa
yang ditulis oleh
A. Tricot(tahun 1960) dalam
komentar terjemahan Perjanjian Baru."Dari pagi-pagi semenjak permulaan
abad II, telah adakebiasaan
memakai perkataan Injil, untuk menunjukkanfasal-fasal yang
disekitar tahun 150 Yustin menamakanmemoar para Rasul." Pernyataan yang semacam itu
sangatsering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaranyang keliru
tentang waktu pengumpulan Injil.
Injil-Lnjil menjadi
suatu kesatuan satu abad
setelahYesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. TerjemahanEkumenik Bibel mengira-ngirakan bahwa Injil yang
empatitu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun170.
Pernyataan Yustin yang mengatakan bahwa para
pengarangInjil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat lagiditerima
pada waktu ini, seperti yang akan
kita lihatnanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A. Tricotmenerangkan bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas
telahdisusun sebelum tahun 70. Pernyataan
tersebut tidakdapat diterima
kecuali yang mengenai
Markus. Jurutafsir, A. Tricot
ini, seperti juru-juru tafsir lainnyamerasa
berbuat amal kebajikan untuk melukiskan bahwapara penulis
Injil adalah rasul-rasul atausahabat-sahabat Yesus,
dan dengan begitu
maka iamemajukan waktu penyusunannya
sehingga dekat kepadawaktu
hidupnya Yesus. Adapun Yahya yang
oleh A. Tncotdigambarkan sebagai seorang
yang hidup sampai
tahun100, orang-orang Kristen
biasa membaca namanyadisebutkan dekat
Yesus dalam peristiwa-peristiwapenting, akan
tetapi sangat sukar
untuk memastikanbahwa orang itu adalah
pengarang Injil yang
membawanama Injil Yahya.
Rasul Yahya (sebagai juga Matius),bagi A.Tricot dan beberapa ahli
tafsir lainnya adalahsaksi
yang cakap dan
boleh dipercaya mengenaikejadian-kejadian yang
diriwayatkannya; tetapikebanyakan ahli
kritik tidak menerima hypotesa yangmengatakan bahwa
sahabat Yahya itu
adalah pengarangInjil keempat
Tetapi
jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secaramemuaskan sebagai memoar para
rasul atau para sahabatYesus, darimanakah asal Injil-Injil
itu?
O.Culmann dalam
bukunya: Perjanjian Baru
(1967),Presses Universitaire de France,
menulis bahwa "parapengarang Injil
adalah juru bicara
dari masyarakatKristen asli yang menentukan tradisi lisan; selama
30tahun atau 40
tahun, Injil hanya
ada dalam bentuktradisi
lisan; tradisi meriwayatkan
kata-kata
atauhikayat-hikayat yang terpisah-pisah. Para
pengarangInjil menghubungkan hal-hal
yang terpisah itu,masing-masing menurut
caranya dan seleranya
sertaperhatian teolognya yang
khusus. Pengelompokankata-kata Yesus
sebagai rangkaian riwayat-riwayatdengan kata-kata penghubung
yang kabur seperti: sesudah
itu, selekasnya, dan
lain-lain yang terdapat dalamInjil-Injil Sinoptik9 hanya merupakan susunan
litererdan tidak mempunyai dasar sejarah."
Pengarang tersebut meneruskan: "Kita harus ingat
bahwayang menjadi pedoman kelompok primitif
(asli) dalammenentukan tradisi
mengenai kehidupan Yesus
bukanperhatian terhadap sejarah
hidup Yesus, akan
tetapikebutuhan untuk berdakwah
untuk pendidikan dan untukberibadah.
Para rasul menggambarkan kebenarankepercayaan yang
mereka dakwahkan dengan
carameriwayatkan kejadian-kejadian dalam
kehidupan
Yesus.Khotbah-khotbah
mereka itulah yang
menentukanhikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus diriwayatkankhususnya dalam pengajaran
kateketiknya Gereja asli.
Para penyusun
"Terjemahan Ekumenik dari pada Bibel"tidak menyebutkan mengenai
penyusunan Bibel kecualiterbentuknya tradisi
lisan di bawah
pengaruhnasehat-nasehat
murid Yesus dan
juru-juru dakwahlainnya. Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam
Injiladalah dengan jalan
dakwah,
liturgi,pengajian-pengajian
para penganut agama
yang setia.Kemungkinan
tersusunnya bentuk tertulis
mengenaikepercayaan,
kata-kata tertentu danpada Yesus
sepertiHikayat Penyaliban umpamanya,
para pengarang Injilmemakai
bentuk tertulis bersama
dengan tradisi oraluntuk menghasilkan teks yang sesuai dengan
lingkunganyang
bermacam-macam, untuk memenuhi
kebutuhan Gereja,untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab suci,
untukmembetulkan yang salah dan untuk menjawab
argumentasilawan. Dengan begitu
maka para pengarang
Injilmengumpulkan secara tertulis
hal-hal yang merekadapatkan sebagai tradisi lisan, masing-masing
menurutpandangan dan seleranya.".
Begitu
ragunya kalangan ilmuwan Kristen terhadap keotentikan Injil atau Bibel yang
mereka yakini sebagai kitab suci bagi agama Nasrani, baik dari masa
penyusunannya hingga redaksi yang terdapat didalamnya apalagi masing-masing
bible tersebut terdapat kontradiksi antara satu dengan lainnya.
Kehendak
Allah SWT adalah bahwa tidak ada satu pun kitab suci yang dijamin akan terus
terjaga keabadian dan kesuciannya sepanjang zaman. Tidak ada jaminan bahwa
kitab suci itu akan terus ada sepanjang zaman. Dan tidak ada nabi pun yang
hidup terus menerus di tengah umatnya sepanjang zaman.Nabi dan kitab suci itu
datang silih berganti, sesuai dengan masa hidup umat terkait.Kalau Allah SWT
mau, tentu bisa saja.Masalahnya, Allah SWT tidak mau melakukannya, jadi kita
tidak bisa paksa tuhan untuk melakukannya.Dan itulah kenyataannya selama ini.
Setiap
kali suatu umat sudah menyimpang dari ajaran agama yang asli, maka Allah SWT
akan mengirim lagi nabi baru dan kitab suci baru kepada mereka. Dan begitulah
berlangsung sejak Adam hingga masa sebelum Muhammad SAW.
Namun di
bagian akhir dari periode sejarah manusia, Allah SWT berkehendak untuk
menghentikan pengiriman nabi dan kitab suci kepada manusia.Untuk itu, Allah SWT
menurunkan sebuah kitab suci terakhir yang sifat utamanya adalah terjamin tidak
hilang dari muka bumi dan tidak bisa dipalsukan.Dan kitab suci itu mudah
dihafal dan memang kenyataannya memang dihafal oleh jutaan manusia sepanjang 15
abad sejak diturunkannya oleh beragam ras manusia.Rasanya, belum pernah ada
satu kitab suci pun yang bisa dihafal luar kepala oleh jutaan manusia dalam
kurun waktu yang lama.
Al-Quran
itu dijamin keasliannya sepanjang zaman.Dan jaminan itu secara eksplisit disebutkan
dengan tegas di dalam ayat-ayatnya serta disepakati oleh seluruh umat Islam
sedunia. Adakah satu ayat saja di dalam injil yang menjamin hal itu ?Di negeri
Islam, anak usia 10 tahun bisa menghafal luar kepada 6.600-an ayat itu secara
terbolak balik. Cukup dibacakan ujung ayatnya, dia dengan lancar bisa
meneruskannya dan tidak berhenti kecualidiminta berhenti.
Pernahkan para uskup bahkan paus sekalipun
menghafal injil dalam bahasa aslinya luar kepala ? Bahkan separuhnya saja ?
Atau 1/3-nya ?
Mudah saja untuk membuktikan kepalsuan Injil yang di tangan
manusia saat ini.
1) Ada ribuan versi injil sepanjang 20 abad ini dan satu sama lain bukan sekedar berbeda, tetapi bertentangan secara ekstrim. Dengan logika sederhana, tentu injil-injil yang ribuan itu palsu semua kecuali satu saja yang asli. Sebab ketika menurunkan Injil 20 abad yang lalu, Allah tentu tidak menurunkannya dengan ribuan versi, bukan ?
2) Al-Quran telah menegaskan bahwa para rahib dan pendeta nasrani telah melakukan pemutar-balikan kitab suci injil oleh tangan yang tidak bertanggung-jawab. Sehingga kepalsuan injil itu bagian dari aqidah dalam Islam.
1) Ada ribuan versi injil sepanjang 20 abad ini dan satu sama lain bukan sekedar berbeda, tetapi bertentangan secara ekstrim. Dengan logika sederhana, tentu injil-injil yang ribuan itu palsu semua kecuali satu saja yang asli. Sebab ketika menurunkan Injil 20 abad yang lalu, Allah tentu tidak menurunkannya dengan ribuan versi, bukan ?
2) Al-Quran telah menegaskan bahwa para rahib dan pendeta nasrani telah melakukan pemutar-balikan kitab suci injil oleh tangan yang tidak bertanggung-jawab. Sehingga kepalsuan injil itu bagian dari aqidah dalam Islam.
3) Silahkan rujuk sejarah penulisan injil dengan hati nurani, bukan sekedar semangat membela diri. Fakta sejarah telah menjelaskan bagaimana injil itu ditulis ulang beberapa abad setelah hilangnya generasi yang pernah hidup bersama nabi Isa. Bandingkan dengan sejarah otentik penulisan Al-Quran yang bahkan ditulis langsung di depan Muhammad SAW.
Sangat
sulit diterima sikap bersikeras bahwa tidak ada pemalsuan dalam proses
penulisan injil yang sudah jauh terlewat dari masa diturunkannya. [Dari Seorang
Nasrani : Mengapa Umat Islam Mengangap Injil Dipalsukan ?Kumpulan Konsultasi & FAQ Swaramuslim.net 2004Konsultasi
& FAQOleh :
Redaksi 24 Oct 2004 - 6:26 am].
Ketika
diteliti lebih dalam tentang kebenaran Injil
atau Bibel yang diimani oleh orang-orang Nasrani ternyata banyak
kontradiksi diantaranya sebagaimana halnya tentang hokum berzina.
Dalil 1 : Yesus Melarang Berzina
Yesus bersabda Jangan berzina, yang di-kutip
dari sepuluh (10) perintah Tuhan dalam kitab Taurat tepatnya Keluaran 20:14,
kemudian Yesus juga memberikan peringatan agar umatnya tidak berbuat zina ;Tetapi
Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta
menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu
yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik
bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu de-ngan utuh
dicampakkan ke dalam neraka.Matius 5:28-29
Peringatan Yesus tersebut memberikan arti kuat
bahwa betapa sangat dilarangnya perbuatan zina, seseorang yang memandang
perempuan dan tertarik maka oleh Yesus dikatakan sudah berbuat zina di dalam hatinya,
dan menurut beberapa tafsir Alkitab, berkeinginan untuk berbuat zina sudah sama
sifatnya dengan berzina.
Masih menurut sabda Yesus, bahwa mencungkil mata
dan membuangnya adalah jauh lebih baik daripada mata kita menyebabkan kita
memandang perempuan yang kemudian berkeinginan untuk berbuat zina, karena mata
adalah salah satu pintu masuk bagi pikiran jahat.Mencungkil mata adalah
simbolik agar kita mencegah untuk memandang perempuan yang bisa mencampakkan
seluruh tubuh kita ke neraka.
Saya kira peringatan Yesus tersebut senada
dengan peringatan dalam Al-Qur’an agar kita tidak berbuat zina, namun Al-Qur’an
lebih realistis agar manusia tidak terjerumus ke dalam perbuatan zina, Allah
memperingatkan jangan dekati zina dan bagi perempuan diperintahkan menutup
auratnya, agar mata laki-laki tidak tersesat memandangnya, harus diakui bahwa
banyak sekali kejahatan seksual bermula dari mata, entah melihat wanita
berpakaian minim dan seksi ataupun melihat VCD porno.
Dalil 2 : Yesus Membiarkan Pezina
Dalil 2 : Yesus Membiarkan Pezina
Suatu ketika ahli-ahli taurat dan orang-orang
Farisi datang menemui Yesus untuk menyerahkan seorang wanita yang tertangkap
basah berbuat zina :"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia
se-dang berbuat zinah. Yohanes 8:4
Mereka terus mendesak Yesus agar menghukum wanita
tersebut sesuai hukum Taurat yaitu dilempari batu sampai mati, namun Yesus
menolak dan balik berkata kepada mereka :"Barangsiapa di antara kamu
tidak berdosa, hendak-lah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan
itu.” Yohanes 8:7
mendengar perkataan Yesus tersebut,
satu-per-satu mereka mulai meninggalkan Yesus dan wanita pelacur tersebut,
karena mereka merasa tidak seorangpun yang tidak berdosa. Maka tinggallah
berdua Yesus dan wanita pezina itu, lalu Yesus berkata kepadanya :"Hai
perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak
menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari
sekarang."Yohanes 8:10
Sikap Yesus tidak melaksanakan hukuman sesuai
hukum Taurat melahirkan tanda tanya besar, karena Yesus sendiri pernah bersabda
:" Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum
Taurat batal.” Matius 5:17
dan hukum Taurat yang dimaksud adalah :<
mati. sampai batu dengan kaulempari harus kemudian…. gerbang, pintu ke luar itu
jahat perbuatan melakukan telah yang perem-puan atau laki-laki membawa
engkau>Ulangan 17:5
Apakah Yesus tidak konsisten dengan ucapannya
sendiri ?tidak mungkin, atau karena Yesus merasa dirinya sebagai orang yang
berdosa sehingga ia tidak mau menghukum wanita itu ? tidak mungkin juga, karena
hal ini berarti menuduh Yesus mempunyai dosa (karena menurut iman KristenYesus
adalah manusia suci tanpa dosa), kalau semua itu tidak mungkin, lalu mana yang
mungkin ? apakah kisah tersebut palsu ?? mungkin saja, tetapi sementara ini
kita menganggap kisah tersebut asli.
Dalil 3 : Yesus Berduaan Dengan Pezina
Dalil 3 : Yesus Berduaan Dengan Pezina
Suatu ketika Yesus duduk di sebuah pinggiran
sumur dari perjalanan yang meletihkan, dan murid-muridnya pergi ke kota untuk
membeli makanan. Kira-kira pukul dua belas siang datanglah seorang wanita untuk
mengambil air di sumur itu, lalu berkatalah Yesus kepadanya :"Berilah
Aku minum." Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan
Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"
Yohanes 4:7,9
pembicaraanpun berlanjut cukup lama antara Yesus
dan wanita tersebut yang tidak disertai murid-muridnya, mereka hanya berdua di
sumur yang jauh dari rumah penduduk. Dan ternnyata wanita tersebut adalah
seorang pelacur yang mempunyai lima (5) orang suami dan sedang menjalin
hubungan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya :Kata perempuan itu:
"Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat
katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima
suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau
berkata benar. Yohanes 4:17-18
Tentu saja wanita tersebut sangat menarik secara
seksual, karena wanita tersebut sampai mempunyai lima (5) orang suami di tambah
lagi dia mampu menjalin asmara dengan laki-laki lain yang bukan suaminya. Lalu
yang menjadi pertanyaan besar adalah, mungkinkah Yesus berdua-duaan dengan
wanita pezina ? Dan apakah mungkin Yesus tidak memandang wanita yang sedang
bercakap-cakap dengannya ? Tentu ti-dak mungkin, karena Yesus pernah bersabda :Tetapi
Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta
menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu
yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu. Matius 5:28-29
Apakah Yesus lupa akan sabdanya ?tentu tidak
mungkin, atau Yesus tidak konsisten dengan sabdanya ? tidak mungkin, atau Yesus
tidak mau menjaga pandangannya ? tidak mungkin. [Kontradiksi
Hukum Zina dalam Al-Kitab
al-islahonline.com tanggal : 26/08/2005]
al-islahonline.com tanggal : 26/08/2005]
Dengan kondisi kitab Injil yang demikian memang tidak layak
untuk diimani oleh siapa saja apalagi oleh ummat islam, kita hanya boleh
mengimani bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Isa yang tertuang pada
Kitab Injil yang masih asli dahulu, hanya sebatas itu, bahkan dengan
diwahyukannya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw maka semua kitab-kitab
sebelumnya tersebut hanya tinggal sejarah saja lagi, semuanya sudah lengkap
tertuang hukum-hukum Allah itu dalam Al Qur’an, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar