Menyampaikan pesan-pesan agama, nasehat
dan pituah yang bernilai dapat dilakukan dengan diskusi, ceramah, pidato hingga
khutbah, ini merupakan media yang selalu digunakan oleh semua agama bahkan
dalam islam khutbah merupakan sunnah Rasulullah yang diteladankan sejak dahulu
seperti Khutbah Jum’at, Khutbah dua Hari Raya dan khutbah nikah. Orang yang
menyampaikan khutbah disebut dengan khatib, apakah mereka itu menyandang gelar
ustadz, buya, mubaligh, kiyai atau da’i, semuanya memegang peran untuk
menyampaikan dakwahnya melalui mimbar jum’at.
Sebagai contoh, inilah khutbah Rasulullah ketika
menyambut datangnya bulan Ramadhan.Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi
Thalib, bahwasanya suatu hari Rasulallah saw berkhutbah di hadapan kami ketika
menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan: Beliau menyampaikan khutbahnya;
Wahai Manusia:"Sesungguhnya telah datang
kepada kalian "Bulan Allah" yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah,
yaitu bulan yang disisi Allah lebih mulia dari bulan-bulan lainnya.Hari-harinya
pun lebih utama dari pada hari-hari (di bulan) lainnya.Malam-malamnya lebih
mulia dari malam-malam biasa.
Detik-detiknya
pun lebih utama dari detik-detik di bulan lainnya. Dimana, pada-masa-masa itu,
kalian diundang kedalam sajian dan jamuan Ilahi dan kalian dijadikan tamu
istimewa dihadapan-Nya.Nafas-nafas yang kalian hembuskan (di Bulan ini) sama
dengan ucapan 'Tasbih', tidur yang kalian lakukan adalah Ibadah, amal-amal
kalian akan diterima disisin-Nya, doa-doa yang kalian panjatkan akan di
kabulkan oleh-Nya.
Maka,
mintalah pada Tuhan kalian dengan penuh ketulusan niat serta kesucian hati agar
dianugerahkan 'Kesuksesan dalam menjalankan Ibadah Puasa dibulan ini', dan juga
dalam 'Membaca Kitab Suci Al-Quran'.Sungguh hanya orang yang sangat 'Celaka dan
Durjana' sajalah (ketika Bulan yang mulia ini berlalu) sedangkan dia tidak
mendapat 'Ampunan Tuhannya'.Ingatlah ketika kalian lapar dan dahaga tentang
bagaimana lapar dan dahaganya (kelak) di hari Pembalasan. Perbanyaklah kalian
bersedekah pada Fakir Miskin di antara kalian.Hormatilah orang-orang Tua
diantara kalian. Sayangilah anak-anak yang lebih muda.Sambunglah tali
'Silaturrahmi" .
Jagalah Lidah-lidah kalian dari ketergelinciran.Palingkanlah penglihatan kalian dari apa-apa yang di'Haramkan' untuk di lihat. Juga bagi yang tak patut di dengar oleh Telinga-telinga kalian.Berbelas kasihlah pada anak-anak Yatim orang lain, agar anak-anak yatim kalian (kelak) mendapat perlakuan yang sama dari orang.Bertaubatlah kalian dari dosa yang kalian pernah perbuat. Angkatlah kedua tangan kalian sambil memunajatkan Doa-doa di setiap shalat-shalat kalian.Karena, pada saat-saat seperti itu, Allah SWT akan senantiasa melimpahkan 'Cucuran Rahmat pada hamba-hamba- Nya. Dia Allah akan menjawab ketika di minta, menyambut ketika diseru, dan akan mengkabulkan permohonan ketika hamba-hamba- Nya berdoa.
Jagalah Lidah-lidah kalian dari ketergelinciran.Palingkanlah penglihatan kalian dari apa-apa yang di'Haramkan' untuk di lihat. Juga bagi yang tak patut di dengar oleh Telinga-telinga kalian.Berbelas kasihlah pada anak-anak Yatim orang lain, agar anak-anak yatim kalian (kelak) mendapat perlakuan yang sama dari orang.Bertaubatlah kalian dari dosa yang kalian pernah perbuat. Angkatlah kedua tangan kalian sambil memunajatkan Doa-doa di setiap shalat-shalat kalian.Karena, pada saat-saat seperti itu, Allah SWT akan senantiasa melimpahkan 'Cucuran Rahmat pada hamba-hamba- Nya. Dia Allah akan menjawab ketika di minta, menyambut ketika diseru, dan akan mengkabulkan permohonan ketika hamba-hamba- Nya berdoa.
Wahai
Manusia:Sesungguhnya jiwa-jiwa kalian 'Tergadai' oleh amal perbuatan kalian.Maka
lepaskanlah belenggu itu dengan 'Istighfar-istighfar' kalian.
Pundak-pundak kalian telah berat menanggung 'Beban' (dosa-dosa).Maka ringankanlah beban tersebut dengan memperlama 'Sujud-sujud' (di setiap salat) kalian.
Pundak-pundak kalian telah berat menanggung 'Beban' (dosa-dosa).Maka ringankanlah beban tersebut dengan memperlama 'Sujud-sujud' (di setiap salat) kalian.
Ketahuilah
Wahai Manusia:'Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah bersumpah 'Demi
Keagungan dan Kebesaran-Nya" bahwa Dia tidak akan menyiksa (dihari
pembalasan kelak) hamba-hamba- Nya yang senantiasa melaksanakan salat dan
bersujud kepada-Nya.Dan pula si hamba, tidak akan dibayang-bayangi rasa
ketakutan pada Api Neraka ketika semua manusia menghadap memenuhi
panggilan-Nya'
.Wahai
Manusia:'Barang siapa diantara kalian memberi makanan (menjamu) seorang Mukmin
(yang hendak berbuka puasa) di bulan suci ini, maka pahalanya sama dengan
memerdekakan seorang Budak serta akan mendapatkan 'Pemutihan' dari dosa-dosa
yang pernah dia lakukan'.
Salah
seorang yang hadir kala itu berkata:'Wahai Rasulallah, tidak semua dari kami
mampu melakukan hal seperti ini (dalam menjamu bagi yang akan berbuka puasa).Rasulallah
menjawab: "Bebaskanlah dirimu dari Api Neraka walaupun dengan 'Seteguk
Air', selamatkanlah jiwamu dari Api Neraka walaupun dengan 'Sebiji Kurma'Karena
sesungguhnya Allah SWT akan menganugerahkan 'Pahala' ini pada hamba-hamba- Nya
yang tidak mampu berbuat banyak lebih dari itu".
Wahai
Manusia:'Barang siapa diantara kalian yang 'Berbudi pekerti luhur' di bulan
ini, niscaya dia akan sangat mudah melintasi Shiratol Mustaqim, dimana pada
saat-saat seperti itu, semua 'Kaki' akan mudah tergelincir di atasnya.Barang
siapa yang meringankan tugas seorang hamba (seperti pembantu rumah
tangganya-Pent) di bulan ini, niscaya Allah akan meringankan pula dosa-dosa dalam
timbangan hitungan amalnya.Barang siapa yang menahan diri dari 'Perbuatan
jahat' pada orang lain di bulan ini, niscaya Allah akan menahan 'Amarah
Murka-Nya' disaat si hamba berhadapan dengan-Nya.
Barang
siapa 'memuliakan' (menyantuni) anak Yatim di bulan ini, maka Allah akan
memuliakannya tatkala si hamba berhadapan dengan-Nya.Barang siapa 'Menyambung
tali persaudaraan' dengan bersilaturrahmi dibulan ini, niscaya Allah akan
mencucurkan Rahmat-Nya pada saat sihamba berhadapan dengan-Nya.
Barang
siapa 'Memutuskan tali persaudaraan' di bulan ini, niscaya Allah akan
memutuskan 'Limpahan' Rahmat-Nya ketika si hamba berhadapan dengan-Nya.
Barang siapa yang mengisi hari dan malamnya dengan 'Salat-salat Sunnah', maka Allah akan mencegah dia dari 'Jilatan Api Neraka'.
Barang siapa yang mengisi hari dan malamnya dengan 'Salat-salat Sunnah', maka Allah akan mencegah dia dari 'Jilatan Api Neraka'.
Barang
siapa menunaikan satu ibadah fardhu (wajib) di bulan ini, maka pahalanya akan
sama dengan dia menunaikan 70 (Tujuh puluh) Ibadah Fardhu di bulan lainnya.Barang
siapa yang memperbanyak 'Bersholawat' padaku di bulan ini, niscaya Allah akan
memperberat timbangan amal (baik) nya, pada saat dimana neraca-neraca (amal
baik) menjadi ringan.
Barang
siapa yang membaca 'Satu ayat' dari Al-Quran di bulan ini, maka pahalanya akan
sama dengan dia menghatamkan Al-Quran di bulan yang lain',Wahai
Manusia:'Sesungguhnya di bulan ini 'Pintu-pintu' Surga di buka, oleh karena itu
mintalah kalian pada Allah agar tidak menutupnya untuk kalian kelak.
Pintu-pintu
Neraka di bulan ini di tutup, maka mohonlah pada Tuhan kalian agar tidak
membukanya untuk kalian kelak.Setan-setan di bulan ini 'Di belenggu', maka
mintalah pada Tuhan kalian agar jangan diberikan kesempatan padanya hingga
dapat menguasai Jiwa-jiwa kalian.
Lalu,
sayyidina Ali kw berdiri dan bertanya:'Wahai Rasulallah, apakah amal yang
paling 'Mulia dan Afdhol' di bulan ini?Rasulallah menjawab: 'Menjaga diri dari
perkara-perkara yang di haramkan oleh Allah.[Inilah Khutbah Rasulullah di Bulan
Ramadhan...Musfi Yendra - Padang Today,Jumat,
13/08/2010 16:10 WIB].
Demikian
padatnya khutbah yang disampaikan oleh Rasulullah, sarat dengan nilai-nilai
Ilahi dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, tidak semua orang bisa begitu lancar
dan indahnya menyampaikan butir-butir khutbah tanpa adanya persiapan fisik,
mental dan ruhiyah.
Menjadi seorang mubaligh yang siap tampil
di mimbar menyampaikan khutbah jum’at tidak cukup hanya mempersiapkan fisik dan
mental saja tapi persiapan materi yang akan disampaikan tidak kalah pentingnya
karena tausyiah yang tidak terlalu panjang tapi sarat dengan nilai-nilai dan
pesan-pesan taqwa sangat diperlukan. Tidak banyak orang yang bisa dan mau
tampil menyampaikannya, padahal shalat jum'at tidak akan terlaksana tanpa
khutbah yang disampaikan, kelangkaan mubaligh terasakan sekali ketika kita
berada di ujung desa yang sarat dengan beban berat dan sulit kehidupan
masyarakatnya.
Sudah dipersiapkanpun jauh-jauh hari kadangkala tampilnya seorang mubaligh diatas
mimbar hanya sebatas penunaian tugas sesuai syariat saja tapi jama’ah yang cuma
sekali sepekan ingin disirami oleh pesan-pesan ruhaniyah terkesan tidak
mendapatkan apa-apa dari pelaksanaan shalat jum’at waktu itu karena bahan
materi yang disampaikan khatib tidak
mengena, tidak menyentuh, tidak memberikan nilai lebih bagi jamaahnya, apa lagi tidak sama sekali dipersiapkan
sehingga ada ungkapan yang mengatakan,”Bila naik mimbar tanpa persiapan maka
akan turun tanpa penghormatan”.[Mukhlis
Denros, Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011].
Khusus
khutbah jum’at memiliki rukun dan syarat yang perlu diperhatikan agar
pelaksanaan shalat jum’at berjalan dengan baik dan sempurna, pada hari jum’at khutbah
disampaikan sebelum shalat, sedangkan khutbah pada dua hari raya dilaksanakan
setelah melaksanakan shalat Id. Adapun syarat dan rukun khutbah Jum’at adalah.
Hukum
Shalat Jum'at adalah fardhu ain (wajib)
bagi setiap laki-laki dewasa,Islam, merdeka dan tidak musafir.dasarnya:
Al Jumu'ah 9.Hadist Rasulullah riwayat Abu Dawud dan Hakim "Shalat jumÄat
itu hak yangwajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam dg berjamaah, kecuali
emapat macam orang(1) hambya sayaha yang dimiliki (2)perempuan, (3) anak-anak,
(4) orang sakit.
Syarat wajib jum'at:
Islam, laki-laki, balig, berakal, sehat, merdeka dan tidak
sedang musafir.
Syarat sah jum'at:
1. Diadakan di tempat menetap.
2. Berjamaah (maslah ini ada khilafiah mengenai bilangan
jamaah, ada yang
berpendapat harus 40 jamaah, atau lebih 40, atau cukup dua
orang)
3. Dikerjakan mada waktzu dhuhur (sebagai pengganti shalat
dhuhur)
4. Didahului dg dua khutbah.
Rukun Khutbah :
1. Mengucapkan pujian pada Allah (hamdalah)
2. Membaca shalawat untuk Rasulullah
3. Mengucapkan syahadah
4. Berwashiat (menasehati jamaah) dg taqwa dan mengajarkan
tentang Addiin
5. Membaca ayat Alqur'an
6. Berdoa untuk mukmniin dan mukminaat pada khutbah ke dua.
Syarat dua khutbah :
1. Dimulai setelah masuk waktu shalat dhuhur
2. Sewaktu khutbah hendaklah berdiri
3. Khataib duduk diantara dua khutbah
4. Hendaklah dg suara yang jelas dan keras sehingga
terdengar oleh jamaah
5. Hendaklah berturut-turut baik rukun maupun kedua khutbah.
6. Khatib suci dari hadas dan najis
7. Khatib hendaklah menutup aurat
Mengenai
azan, cukup hanya sekali saat khatib sudah duduk diatas mimbar. Azan dua kali mulai dilakukan sejak khalifah
ke tiga (Usman r.a) karena jumlah orang yang sudah semakin banyak.[syarat dan
rukun khotbah,Dirancang oleh KTPDI, 1999-2005].
Rasulullah bersabda,“Setiap
khutbah yang di situ tidak ada tasyahud (pembacaan syahadat,) maka ia seperti
tangan yang terputus.”[Abu Dawud, Ibnu Hibban].
Al-Manawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan:“Yang
dimaksud dengan “tasyahud” di sini adalah membaca dua kalimat syahadat.
Ini termasuk dalam bab mengucapkan sebagian atas keseluruhan seperti dalam “at-tahiyat”.
Al-Qadhi berkata: “Asal tasyahud adalah membaca dua kalimah syahadat.
Dinamakan tasyahudkarena dalam tahiyyat mengandung dua kalimah
syahadat tersebut.Kemudian disitu ditambahkan pujian dan penghormatan kepada
Aallah Subhanahu Wata’ala.”
Dimaksudkan dengan tasyahud
dalam hadits ini hanyalah khutbah hajah yang telah diajarkan Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya:
“Sesungguhnya segala puji bagi
Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun
kepada-Nya.Kita berlindung dari Allah terhadap kejahatan diri kita dan dari
keburukan perkataan kita.Barangsiapa yang telah ditunjukkan oleh Allah maka
tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak
ada yang menunjukkannya.Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain
Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa
sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Alasan saya mengatakan hal ini
adalah hadits Jabir dengan lafazh:
“Adalah Rasulullah
berdiri berkhutbah kemudian memuji kepada Allah dan menyangjung-Nya dengan
sesuatu yang memang sesuatu yang sepatutnya milik Allah. Dan beliau bersabda:
“Barangsiapa yang ditunjukkan Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan
barangsiapa yang Dia sesatkan tidak ada yang menunjukkannya. Sesungguhnya
sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah…” (Al-Hadits)
Dalam lain riwayat yang juga dari
Jabir dengan lafazh:
“Beliau Rasulullah dalam khutbahnya,
setelah membaca tasyahud berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah
Kitabullah…”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dan lainnya.
Hadits ini mengisyaratkan bahwa apa yang ada pada lafazh
awal sebelum “Sesungguhna sebaik-baik pembicaraan…” adalah tasyahud.
Dalam hal ini meskipun tidak disebutkan secara jelas, telah diisyaratkan dengan
bunyi hadits tersebut: “Kemudian dia memuji Allah dan menyanjug-Nya.”Telah
dijelaskan bahwa hadits-hadits lain mengenai mengenai khutbah bahwa
sesungguhnya memuji kepada Allah telah memuat syahadatain. Oleh karenanya dapat
kita katakan bahwa tasyahud dalam hadits ini adalah mengisyaratkan kepada
tasyahud yang terdapat dalam khutbah hajjah tersebut.[Muhammad Nasiruddin
Al-Albani, e-Book
Silsilah Hadits Shahih Jilid Iterjemahan Drs. H.M. Qodirun Nur diterbitkan oleh
Pustaka Mantiq].
Kadangkala
khutbah yang disampaikan khatib di mimbar itu untuk menghujat penguasa,
menghantam para pejabat sehingga khutbah itu terkesan sebagai ajang balas
dendam dan penyampaian sakit hati, padahal khutbah itu juga dakwah yang harus
disampaikan dengan hikmah dan bijaksana, intinya mengajak orang untuk taat
kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, dakwah atau khutbah itu janganlah
memvonis seseorang karena khutbah yang memvonis itu dilakukan oleh hakim di
pengadilan. Dan sebaliknya khutbah juga bukan untuk mengumbar puji-pujian
kepada penguasa apalagi memberikan gelar-gelar yang tidak sesuai dengan
kepribadian seseorang.
Penulis pernah
melaksanakan shalat jum’at di Kuala
Lumpur Malaysia tahun 2011, sang khatib bagus menguraikan materi khutbahnya
tentang ulang tahun sang Permaisuri, bukan main harapan dan do’a yang
disampaikan kepada sang Permaisuri dengan sanjungan yang berlebihan, tak biasa
kita mendengarkan khutbah jum’at yang begitu apalagi dialam demokrasi dan
reformasi ini, ketika hal itu disampaikan kepada perantau Minang yang ada
disana, dinyatakan bahwa khutbah yang demikian itu pada masjid-masjid
pemerintah, tapi masjid yang dikuasai oleh oposisi atau pembangkang khutbahnya
banyak menghujat pemerintah.
Seharusnya
khutbah yang disampaikan oleh khatib di mimbar adalah khutbah yang sejuk,
mengajak orang untuk melaksanakan perintah Allah dengan target taqwa, mengajak
untuk melaksanakan amaliyah ibadah dan meninggalkan segala angkara mungkar,
sebaiknya khutbah itu untuk mendidik ummat islam melalui materi-materi yang
bernas sehingga menimbulkan kesadaran dalam kehidupan, bukan menjadikan khutbah
jum’at sebagai panggung politik, menjatuhkan orang lain dengan data dan fakta
yang tidak jelas kemudian mengangkat kelompok sendiri yang dianggap baik dan
benar, kembalikanlah fungsi khutbah sesuai dengan sunnah Rasulullah agar kita
hidup dalam suasana harmonis, aman dan damai, wallahu a’lam
[Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 17 Agustus 2011.M/ 17 Ramadhan
1432.H]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar