Rabu, 10 Februari 2016

186. Khutbah



Menyampaikan pesan-pesan agama, nasehat dan pituah yang bernilai dapat dilakukan dengan diskusi, ceramah, pidato hingga khutbah, ini merupakan media yang selalu digunakan oleh semua agama bahkan dalam islam khutbah merupakan sunnah Rasulullah yang diteladankan sejak dahulu seperti Khutbah Jum’at, Khutbah dua Hari Raya dan khutbah nikah. Orang yang menyampaikan khutbah disebut dengan khatib, apakah mereka itu menyandang gelar ustadz, buya, mubaligh, kiyai atau da’i, semuanya memegang peran untuk menyampaikan dakwahnya melalui mimbar jum’at.

            Sebagai contoh, inilah khutbah Rasulullah ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan.Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwasanya suatu hari Rasulallah saw berkhutbah di hadapan kami ketika menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan: Beliau menyampaikan khutbahnya;
 Wahai Manusia:"Sesungguhnya telah datang kepada kalian "Bulan Allah" yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah, yaitu bulan yang disisi Allah lebih mulia dari bulan-bulan lainnya.Hari-harinya pun lebih utama dari pada hari-hari (di bulan) lainnya.Malam-malamnya lebih mulia dari malam-malam biasa.
Detik-detiknya pun lebih utama dari detik-detik di bulan lainnya. Dimana, pada-masa-masa itu, kalian diundang kedalam sajian dan jamuan Ilahi dan kalian dijadikan tamu istimewa dihadapan-Nya.Nafas-nafas yang kalian hembuskan (di Bulan ini) sama dengan ucapan 'Tasbih', tidur yang kalian lakukan adalah Ibadah, amal-amal kalian akan diterima disisin-Nya, doa-doa yang kalian panjatkan akan di kabulkan oleh-Nya.
Maka, mintalah pada Tuhan kalian dengan penuh ketulusan niat serta kesucian hati agar dianugerahkan 'Kesuksesan dalam menjalankan Ibadah Puasa dibulan ini', dan juga dalam 'Membaca Kitab Suci Al-Quran'.Sungguh hanya orang yang sangat 'Celaka dan Durjana' sajalah (ketika Bulan yang mulia ini berlalu) sedangkan dia tidak mendapat 'Ampunan Tuhannya'.Ingatlah ketika kalian lapar dan dahaga tentang bagaimana lapar dan dahaganya (kelak) di hari Pembalasan. Perbanyaklah kalian bersedekah pada Fakir Miskin di antara kalian.Hormatilah orang-orang Tua diantara kalian. Sayangilah anak-anak yang lebih muda.Sambunglah tali 'Silaturrahmi" .

Jagalah Lidah-lidah kalian dari ketergelinciran.Palingkanlah penglihatan kalian dari apa-apa yang di'Haramkan' untuk di lihat. Juga bagi yang tak patut di dengar oleh Telinga-telinga kalian.Berbelas kasihlah pada anak-anak Yatim orang lain, agar anak-anak yatim kalian (kelak) mendapat perlakuan yang sama dari orang.Bertaubatlah kalian dari dosa yang kalian pernah perbuat. Angkatlah kedua tangan kalian sambil memunajatkan Doa-doa di setiap shalat-shalat kalian.Karena, pada saat-saat seperti itu, Allah SWT akan senantiasa melimpahkan 'Cucuran Rahmat pada hamba-hamba- Nya. Dia Allah akan menjawab ketika di minta, menyambut ketika diseru, dan akan mengkabulkan permohonan ketika hamba-hamba- Nya berdoa.
Wahai Manusia:Sesungguhnya jiwa-jiwa kalian 'Tergadai' oleh amal perbuatan kalian.Maka lepaskanlah belenggu itu dengan 'Istighfar-istighfar' kalian.
Pundak-pundak kalian telah berat menanggung 'Beban' (dosa-dosa).Maka ringankanlah beban tersebut dengan memperlama 'Sujud-sujud' (di setiap salat) kalian.
Ketahuilah Wahai Manusia:'Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah bersumpah 'Demi Keagungan dan Kebesaran-Nya" bahwa Dia tidak akan menyiksa (dihari pembalasan kelak) hamba-hamba- Nya yang senantiasa melaksanakan salat dan bersujud kepada-Nya.Dan pula si hamba, tidak akan dibayang-bayangi rasa ketakutan pada Api Neraka ketika semua manusia menghadap memenuhi panggilan-Nya'
.Wahai Manusia:'Barang siapa diantara kalian memberi makanan (menjamu) seorang Mukmin (yang hendak berbuka puasa) di bulan suci ini, maka pahalanya sama dengan memerdekakan seorang Budak serta akan mendapatkan 'Pemutihan' dari dosa-dosa yang pernah dia lakukan'.
Salah seorang yang hadir kala itu berkata:'Wahai Rasulallah, tidak semua dari kami mampu melakukan hal seperti ini (dalam menjamu bagi yang akan berbuka puasa).Rasulallah menjawab: "Bebaskanlah dirimu dari Api Neraka walaupun dengan 'Seteguk Air', selamatkanlah jiwamu dari Api Neraka walaupun dengan 'Sebiji Kurma'Karena sesungguhnya Allah SWT akan menganugerahkan 'Pahala' ini pada hamba-hamba- Nya yang tidak mampu berbuat banyak lebih dari itu".
Wahai Manusia:'Barang siapa diantara kalian yang 'Berbudi pekerti luhur' di bulan ini, niscaya dia akan sangat mudah melintasi Shiratol Mustaqim, dimana pada saat-saat seperti itu, semua 'Kaki' akan mudah tergelincir di atasnya.Barang siapa yang meringankan tugas seorang hamba (seperti pembantu rumah tangganya-Pent) di bulan ini, niscaya Allah akan meringankan pula dosa-dosa dalam timbangan hitungan amalnya.Barang siapa yang menahan diri dari 'Perbuatan jahat' pada orang lain di bulan ini, niscaya Allah akan menahan 'Amarah Murka-Nya' disaat si hamba berhadapan dengan-Nya.
Barang siapa 'memuliakan' (menyantuni) anak Yatim di bulan ini, maka Allah akan memuliakannya tatkala si hamba berhadapan dengan-Nya.Barang siapa 'Menyambung tali persaudaraan' dengan bersilaturrahmi dibulan ini, niscaya Allah akan mencucurkan Rahmat-Nya pada saat sihamba berhadapan dengan-Nya.
Barang siapa 'Memutuskan tali persaudaraan' di bulan ini, niscaya Allah akan memutuskan 'Limpahan' Rahmat-Nya ketika si hamba berhadapan dengan-Nya.

Barang siapa yang mengisi hari dan malamnya dengan 'Salat-salat Sunnah', maka Allah akan mencegah dia dari 'Jilatan Api Neraka'.
Barang siapa menunaikan satu ibadah fardhu (wajib) di bulan ini, maka pahalanya akan sama dengan dia menunaikan 70 (Tujuh puluh) Ibadah Fardhu di bulan lainnya.Barang siapa yang memperbanyak 'Bersholawat' padaku di bulan ini, niscaya Allah akan memperberat timbangan amal (baik) nya, pada saat dimana neraca-neraca (amal baik) menjadi ringan.
Barang siapa yang membaca 'Satu ayat' dari Al-Quran di bulan ini, maka pahalanya akan sama dengan dia menghatamkan Al-Quran di bulan yang lain',Wahai Manusia:'Sesungguhnya di bulan ini 'Pintu-pintu' Surga di buka, oleh karena itu mintalah kalian pada Allah agar tidak menutupnya untuk kalian kelak.
Pintu-pintu Neraka di bulan ini di tutup, maka mohonlah pada Tuhan kalian agar tidak membukanya untuk kalian kelak.Setan-setan di bulan ini 'Di belenggu', maka mintalah pada Tuhan kalian agar jangan diberikan kesempatan padanya hingga dapat menguasai Jiwa-jiwa kalian.
Lalu, sayyidina Ali kw berdiri dan bertanya:'Wahai Rasulallah, apakah amal yang paling 'Mulia dan Afdhol' di bulan ini?Rasulallah menjawab: 'Menjaga diri dari perkara-perkara yang di haramkan oleh Allah.[Inilah Khutbah Rasulullah di Bulan Ramadhan...Musfi Yendra - Padang Today,Jumat, 13/08/2010 16:10 WIB].
Demikian padatnya khutbah yang disampaikan oleh Rasulullah, sarat dengan nilai-nilai Ilahi dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, tidak semua orang bisa begitu lancar dan indahnya menyampaikan butir-butir khutbah tanpa adanya persiapan fisik, mental dan ruhiyah.
Menjadi seorang mubaligh yang siap tampil di mimbar menyampaikan khutbah jum’at tidak cukup hanya mempersiapkan fisik dan mental saja tapi persiapan materi yang akan disampaikan tidak kalah pentingnya karena tausyiah yang tidak terlalu panjang tapi sarat dengan nilai-nilai dan pesan-pesan taqwa sangat diperlukan. Tidak banyak orang yang bisa dan mau tampil menyampaikannya, padahal shalat jum'at tidak akan terlaksana tanpa khutbah yang disampaikan, kelangkaan mubaligh terasakan sekali ketika kita berada di ujung desa yang sarat dengan beban berat dan sulit kehidupan masyarakatnya.
Sudah dipersiapkanpun jauh-jauh hari  kadangkala tampilnya seorang mubaligh diatas mimbar hanya sebatas penunaian tugas sesuai syariat saja tapi jama’ah yang cuma sekali sepekan ingin disirami oleh pesan-pesan ruhaniyah terkesan tidak mendapatkan apa-apa dari pelaksanaan shalat jum’at waktu itu karena bahan materi yang disampaikan khatib  tidak mengena, tidak menyentuh, tidak memberikan nilai lebih bagi jamaahnya,  apa lagi tidak sama sekali dipersiapkan sehingga ada ungkapan yang mengatakan,”Bila naik mimbar tanpa persiapan maka akan turun  tanpa penghormatan”.[Mukhlis Denros, Kumpulan Khutbah Jum’at, Pustaka Setia Bandung, 2011].
Khusus khutbah jum’at memiliki rukun dan syarat yang perlu diperhatikan agar pelaksanaan shalat jum’at berjalan dengan baik dan sempurna, pada hari jum’at khutbah disampaikan sebelum shalat, sedangkan khutbah pada dua hari raya dilaksanakan setelah melaksanakan shalat Id. Adapun syarat dan rukun khutbah Jum’at adalah.
               Hukum Shalat Jum'at adalah fardhu ain (wajib)  bagi setiap laki-laki dewasa,Islam, merdeka dan tidak musafir.dasarnya: Al Jumu'ah 9.Hadist Rasulullah riwayat Abu Dawud dan Hakim "Shalat jumÄat itu hak yangwajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam dg berjamaah, kecuali emapat macam orang(1) hambya sayaha yang dimiliki (2)perempuan, (3) anak-anak, (4) orang sakit.

Syarat wajib jum'at:
Islam, laki-laki, balig, berakal, sehat, merdeka dan tidak sedang musafir.

Syarat sah jum'at:
1. Diadakan di tempat menetap.
2. Berjamaah (maslah ini ada khilafiah mengenai bilangan jamaah, ada yang
berpendapat harus 40 jamaah, atau lebih 40, atau cukup dua orang)
3. Dikerjakan mada waktzu dhuhur (sebagai pengganti shalat dhuhur)
4. Didahului dg dua khutbah.

Rukun Khutbah :
1. Mengucapkan pujian pada Allah (hamdalah)
2. Membaca shalawat untuk Rasulullah
3. Mengucapkan syahadah
4. Berwashiat (menasehati jamaah) dg taqwa dan mengajarkan tentang Addiin
5. Membaca ayat Alqur'an
6. Berdoa untuk mukmniin dan mukminaat pada khutbah ke dua.

Syarat dua khutbah :
1. Dimulai setelah masuk waktu shalat dhuhur
2. Sewaktu khutbah hendaklah berdiri
3. Khataib duduk diantara dua khutbah
4. Hendaklah dg suara yang jelas dan keras sehingga terdengar oleh jamaah
5. Hendaklah berturut-turut baik rukun maupun kedua khutbah.
6. Khatib suci dari hadas dan najis
7. Khatib hendaklah menutup aurat

               Mengenai azan, cukup hanya sekali saat khatib sudah duduk diatas mimbar.  Azan dua kali mulai dilakukan sejak khalifah ke tiga (Usman r.a) karena jumlah orang yang sudah semakin banyak.[syarat dan rukun khotbah,Dirancang oleh KTPDI, 1999-2005].

Rasulullah bersabda,“Setiap khutbah yang di situ tidak ada tasyahud (pembacaan syahadat,) maka ia seperti tangan yang terputus.”[Abu Dawud, Ibnu Hibban].

Al-Manawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan:“Yang dimaksud dengan “tasyahud” di sini adalah membaca dua kalimat syahadat. Ini termasuk dalam bab mengucapkan sebagian atas keseluruhan seperti dalam “at-tahiyat”. Al-Qadhi berkata: “Asal tasyahud adalah membaca dua kalimah syahadat. Dinamakan tasyahudkarena dalam tahiyyat mengandung dua kalimah syahadat tersebut.Kemudian disitu ditambahkan pujian dan penghormatan kepada Aallah Subhanahu Wata’ala.”

            Dimaksudkan dengan tasyahud dalam hadits ini hanyalah khutbah hajah yang telah diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya:

            “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya.Kita berlindung dari Allah terhadap kejahatan diri kita dan dari keburukan perkataan kita.Barangsiapa yang telah ditunjukkan oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang menunjukkannya.Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

            Alasan saya mengatakan hal ini adalah hadits Jabir dengan lafazh:

            “Adalah Rasulullah berdiri berkhutbah kemudian memuji kepada Allah dan menyangjung-Nya dengan sesuatu yang memang sesuatu yang sepatutnya milik Allah. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa yang ditunjukkan Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa yang Dia sesatkan tidak ada yang menunjukkannya. Sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah…” (Al-Hadits)

            Dalam lain riwayat yang juga dari Jabir dengan lafazh:

“Beliau Rasulullah dalam khutbahnya, setelah membaca tasyahud berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah…”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa apa yang ada pada lafazh awal sebelum “Sesungguhna sebaik-baik pembicaraan…” adalah tasyahud. Dalam hal ini meskipun tidak disebutkan secara jelas, telah diisyaratkan dengan bunyi hadits tersebut: “Kemudian dia memuji Allah dan menyanjug-Nya.”Telah dijelaskan bahwa hadits-hadits lain mengenai mengenai khutbah bahwa sesungguhnya memuji kepada Allah telah memuat syahadatain. Oleh karenanya dapat kita katakan bahwa tasyahud dalam hadits ini adalah mengisyaratkan kepada tasyahud yang terdapat dalam khutbah hajjah tersebut.[Muhammad Nasiruddin Al-Albani, e-Book Silsilah Hadits Shahih Jilid Iterjemahan Drs. H.M. Qodirun Nur diterbitkan oleh Pustaka Mantiq].

Kadangkala khutbah yang disampaikan khatib di mimbar itu untuk menghujat penguasa, menghantam para pejabat sehingga khutbah itu terkesan sebagai ajang balas dendam dan penyampaian sakit hati, padahal khutbah itu juga dakwah yang harus disampaikan dengan hikmah dan bijaksana, intinya mengajak orang untuk taat kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, dakwah atau khutbah itu janganlah memvonis seseorang karena khutbah yang memvonis itu dilakukan oleh hakim di pengadilan. Dan sebaliknya khutbah juga bukan untuk mengumbar puji-pujian kepada penguasa apalagi memberikan gelar-gelar yang tidak sesuai dengan kepribadian seseorang.

Penulis pernah melaksanakan  shalat jum’at di Kuala Lumpur Malaysia tahun 2011, sang khatib bagus menguraikan materi khutbahnya tentang ulang tahun sang Permaisuri, bukan main harapan dan do’a yang disampaikan kepada sang Permaisuri dengan sanjungan yang berlebihan, tak biasa kita mendengarkan khutbah jum’at yang begitu apalagi dialam demokrasi dan reformasi ini, ketika hal itu disampaikan kepada perantau Minang yang ada disana, dinyatakan bahwa khutbah yang demikian itu pada masjid-masjid pemerintah, tapi masjid yang dikuasai oleh oposisi atau pembangkang khutbahnya banyak menghujat pemerintah.

Seharusnya khutbah yang disampaikan oleh khatib di mimbar adalah khutbah yang sejuk, mengajak orang untuk melaksanakan perintah Allah dengan target taqwa, mengajak untuk melaksanakan amaliyah ibadah dan meninggalkan segala angkara mungkar, sebaiknya khutbah itu untuk mendidik ummat islam melalui materi-materi yang bernas sehingga menimbulkan kesadaran dalam kehidupan, bukan menjadikan khutbah jum’at sebagai panggung politik, menjatuhkan orang lain dengan data dan fakta yang tidak jelas kemudian mengangkat kelompok sendiri yang dianggap baik dan benar, kembalikanlah fungsi khutbah sesuai dengan sunnah Rasulullah agar kita hidup dalam suasana harmonis, aman dan damai, wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 17 Agustus 2011.M/ 17 Ramadhan 1432.H]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar