Allah memberikan karunia yang banyak
kepada hamba-Nya dalam kehidupan ini setelah
melalui proses yang panjang pada awal terciptanya janin. Dikala terpancarnya
sperma lelaki menuju pintu Rahim seorang wanita, milyaran jumlahnya sperma itu
berpacu menuju pintu Rahim tersebut, hanya satu yang ditakdirkan Allah jadi
bakal calon bayi, semuanya kalah bersaing sehingga mati dalam perjalanannya.
Kita yang hari ini ada, adalah pemenang dari sekian milyar yang kita kalahkan,
kita yang hari ini masih hidup adalah pemenang dari sekian teman kita yang
sudah kalah bersaing dengan kita dari berbagai musibah dan penyakit sehingga
menyebabkan mereka meninggal terlebih dahulu, semua itu adalah ajal yang
menentukan, karena memang kematian bukanlah karena sakit dan tidak pula karena
musibah tapi karena ajal yang sudah menentukan.
Bersyukurlah
kita masih menikmati hidup sehingga banyak peluang yang dapat dilakukan untuk
amal ibadah hingga ajal sampai.
Hidup diberikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi
diberikan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang diperlengkapi dengan
berbagai alat kehidupan seperti udara, air dan cahaya matahari. Kesemuanya itu
dapat diperoleh dengan gratis, tanpa harus membayar kepada yang memberi hidup
ini.
Hidup adalah kurnia Ilahi kepada setiap makhluk, terutama
manusia, tidak seorangpun boleh merampasnya, kecuali dengan ketentuan-ketentuan
yang lain, Allah berfirman dalam surat Al Hijr 15;23, "Dan Sesungguhnya
benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan kami (pulalah) yang
mewarisi".
Kehidupan yang diberikan kepada seorang muslim nampak
dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap
ketundukan atas perintah Allah,;"Sesungguhnya jawaban oran-orang
mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum
(mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami
patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. ” [An Nur
24;51].
Dalam setiap gerak dan
gerik muslim tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepada Khaliqnya, ini
bertanda kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan
baik;”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu,
dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al
Baqarah 2;152].
Dari sikap diatas akan
membawa seseorang muslim menghadapi kehidupan ini tanpa harus mengeluh dan
takut karena semua itu uji coba dari Allah. Ujian itu adakalanya sengsara,
ada dengan penderitaan atau ujian yang
berbentuk kesenangan, kemewahan dan keberhasilan. Nampak prilaku seorang muslim
yang selalu bertaubat dikala melakukan kesalahan atau sebaliknya merasa diri
suci, selalu taat beribadah dan bersyukur kepada Allah atau malah mengingkari
nikmat yang telah diberikan Allah.
Buya Hamka mengatakan
bahwa kualitas hidup itu tidak tergantung dari berapa lama dia hidup tapi apa
yang dia buat selama hidup itu karena sehari Harimau di rimba sama dengan
setahun bagi seekor rusa, Rasulullah juga mengajarkan kepada kita bahwa orang
yang baik dan beruntung dalam hidup itu adalah orang yang lama hidupnya tapi
bagus amalnya, sedangkan orang yang rugi adalah orang yang sebentar hidup di
dunia tapi buruk amalnya.
Namun demikian, walaupun
hidup yang dilalui belum maksimal digunakan untuk beribadah kepada Allah bahkan
selalu bergelimang dengan dosa dan maksiat maka kita tidak boleh mengakhiri
kehidupan ini. Begitu juga halnya, apakah hidup ini penuh dengan bahagia atau
banyak mengalami ujian, cobaan dan fitnah, harus dijalani dengan baik, tidak
boleh mengakhiri hidup apapun alasannya.
Dalam hidup ini
Tidak satu waktu pun kita lewati tanpa masalah. Tapi, apa ini lantas
dapat menjadi pembenaran untuk kita mengangankan kematian karena keputus-asaan
? Banyak terjadi... karena tidak sabar menghadapi ujian hidup, seseorang
mampu membunuh dirinya sendiri.Semoga kita tidak termasuk yang demikian, karena
agama kita memang melarang pemeluknya untuk melakukan tindakan keji, bunuh
diri. Allah swt berfirman ;”...dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu. ” (QS. An Nisa’ : 29)
Rasulullah saw
bersabda ;” Barangsiapa yang menjatuhkan
dirinya dari gunung hingga membunuh dirinya, maka ia akan menjatuhkan dirinya
selama-lamanya di neraka jahannam kelak. Siapa yang meminum racun hingga
membunuh dirinya, maka ia akan meminum racun tersebut untuk selama-lamanya di
neraka jahannam kelak, Siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan besi
(benda tajam), maka besi tersebut akan berada di tangannya, lalu ditikamkan ke
perutnya untuk selama-lamanya di neraka jahannam kelak."(HR.
Bukhori-Muslim-Abu Dawud)
Sungguh, perkara
ini bukanlah hal yang sepele. Bahkan para ahli fiqih berpendapat bahwa
orang yang bunuh diri itu tidak boleh dimandikan, tidak boleh disholatkan, serta
tidak boleh dimakamkan di pemakaman kaum muslimin, karena ia mati dalam keadaan
berputus asa dari rahmat Allah. ”Ibrahim
berkata, ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya, kecuali
orang-orang yang sesat’.” (QS. Al Hijr : 56)
Ujian memang
sering kali membuat manusia bertindak melampaui batas. Namun sesungguhnya
manusia harus berhati-hati, karena bukan hanya ujian berupa kesusahan saja yang
dapat menjerumuskan manusia, tapi ujian berupa kenikmatan pun mampu
menjerumuskan manusia kepada keburukan.”Kami
akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”
(QS. Al Anbiya’ : 35).[ Saat Mubarak, LcKamis, 24 Juni 2010 08:1www.nuansaislam,com].
Banyak factor yang menyebabkan
seseorang melakukan bunuh diri walaupun ancamannya begitu besar terhadap
keselamatan dirinya di akherat, sebagaimana yang diungkapkan oleh situr nahi
mungkar tentang hal ini menyatakan.
Dalam perspektif sosiologi, bunuh diri (suicide) yang
terjadi di masyarakat dikategorikan ke dalam tiga hal.Pertama, egoistic
suicide yaitu bunuh diri karena urusan pribadi. Kedua, altruistic
suicide yaitu bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain. Ketiga, anomic
suicide yaitu bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan.
Pada berbagai kasus bunuh diri yang terjadi pada masyarakat Indonesia, hampir
seluruhnya tergolong egostic suicide, dengan berbagai latar belakang seperti tekanan
ekonomi atau kemiskinan, putus asa, depresi, gangguan jiwa, dan sebagainya.
Lebih jauh nahi mungkar yang mengungkapkan penyebabnya dari
beberapa kasus yang terjadi sebagai berikut;
Bunuh Diri dan Munggah Haji
Tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan keinginan munggah
haji terjadi pada Srining (46 tahun), warga Dusun Recoputhul, Desa Gayam,
Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.Menurut keterangan yang diperoleh
polisi, Srining melakukan bunuh diri (10 Juni 2009) karena depresi, sebagai
akibat dari sikap keluarganya yang tidak segera mengizinkan Srining munggah
haji.Bahkan, seminggu sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Srining pernah
mencoba terjun dari tebing sungai setinggi tiga meter.Upaya bunuh diri kala itu
sempat digagalkan warga.
Namun, tekad Srining untuk bunuh diri sudah bulat, ‘hanya’
karena keinginannya munggah haji tertunda-tunda padahal sudah setor ONH
sebesar Rp 24 juta.Sekitar jam 05:30 WIB pagi, tubuh Srining ditemukan mbah
Sugianto (70 tahun), tetangganya. Sugianto menemukan tubuh Srining tewas
bergelantung di atas pohon sawo di pekarangan belakang rumahnya sendiri. Maka,
Sugianto pun memberitahu temuannya itu kepada Salbi (50 tahun), suami Srining.
Menurut Syaiful Bahri (Kepala Dusun Recoputhul), kenekatan
Srining bunuh diri dipicu oleh sikap suaminya (Salbi) yang tidak mendukung
keinginan Srining untuk munggah haji, meski keinginan itu sudah
disampaikan sejak setahun lalu. Pihak keluarga Srining, dalam rangka
meringankan tekanan batin Srining akhirnya mendaftarkan Srining untuk menjadi
calon jamaah haji, namun untuk dua atau tiga tahun berikutnya karena kuota
tahun ini dan dua tahun berikutnya sudah terpenuhi.
Karena
tidak sabar menunggu waktu yang terlalu lama untuk naik haji, Srining pun
memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Peristiwa
Srining yang ingin munggah haji tapi bunuh diri karena depresi dan tidak
sabar menuggu giliran, merupakan fenomena yang menarik untuk ditelaah.Bagaimana
mungkin hal positif (keinginan munggah haji) datang bersamaan dengan
keinginan bunuh diri.
Himpitan
Ekonomi
Bunuh
diri juga dapat terjadi akibat himpitan ekonomi. Misalnya, sebagaimana terjadi
pada Lian Tjian (39 tahun) warga Jalan Jelambar Barat 2 A RT 2 RW 12, Tambora,
Jakarta Barat. Ia ditemukan tewas tergantung di dalam rumahnya, pada hari Jumat
tanggal 15 Agustus 2008). Diduga, Lian Tjian nekat mengakhiri hidupnya dengan
menggunakan tali plastik karena faktor himpitan ekonomi, usahanya
bangkrut.Menurut Wati (29 tahun), isteri Lian Tjian, saat ditemukan, korban
dalam kondisi hidup.Namun, akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS
Sumber Waras, Jakarta Barat.
Di
Slawi, gara-gara terlilit hutang, Kasidah (55 tahun) nekat bunuh diri dengan
cara gantung diri, melilitkan kain ke kusen pintu kamar rumah anaknya untuk
menjerat lehernya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu pagi, tangal 21
Oktober 2009.Sebelumnya, Kasidah pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak
empat kali, korban mencoba bunuh diri, namun tidak berhasil karena aksi
nekatnya itu selalu diketahui anggota keluarga. Kali ini ia berhasil melakukan
hal yang sama saat kondisi rumah anaknya sepi. Menurut dugaan aparat keamanan,
Kasidah nekat bunuh diri akibat persoalan hutang-piutang.Menurut catatan,
Kasidah pernah melakukan pinjaman kepada lembaga keuangan untuk keperluan nikah
salah seorang anaknya.Ia merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi kewajiban
membayar utang. Suaminya, Wadi (60 tahun) berprofesi sebagai tukang becak.
Putus
Asa
Berputus
asa dari rahmat Allah bukanlah sikap yang Islami.Namun demikian tidak semua
orang bisa terus bersikap positif meski didera penyakit menahun.Sebagian orang
tak kuat menanggung derita, putus asa, lalu bunuh diri.Misalnya, sebagaimana
terjadi pada Semi Hartono. Nenek berusia 60 tahun warga Dusun Klisat, Desa
Caturharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, DIY ini, pada hari Kamis tanggal 5
November 2009, nekat bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sumur akibat
sakitnya yang tak kunjung sembuh.
Di
Medan, seorang santri berusia 15 tahun nekat gantung diri di toilet asrama
Pesantren Al-Manar, Jalan Karya Bhakti Medan Johor. Peristiwa nahas itu terjadi
pada hari Jumat tanggal 13 November 2009 siang.Siswa Tsanawiyah (setara SMP)
ini nekat bunuh diri karena dikeluarkan dari asrama sebagai akibat dari
perbuatannya yang melanggar disiplin seperti merokok, ngelem (menghirup
lem) dan keluar asrama tanpa izin.
Di
Bandung, kasus bunuh diri yang dilakukan pelajar SMP terjadi tiga hari
berselang setelah kasus serupa yang terjadi di Medan. Kali ini terjadi pada
Hadi Purnomo (14 tahun) siswa kelas 1 SMP YPU, Bandung. Hadi ditemukan dalam
keadaan tergantung di kuda-kuda kamarnya oleh adik perempuannya, Ayu Lestari
(10 tahun), sebelum maghrib. Kematian Hadi dengan cara gantung diri ini terjadi
bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-14 yang jatuh pada tanggal 16 November
2009.
Stress
dan Bank Century
Kasus
Bank Century tidak hanya menghasilkan stress berat bagi nasabah yang dananya
tidak bisa cair, tetapi lebih jauh dari itu menghasilkan kasus bunuh diri. Salah
satu korbannya adalah Prof. Dibyo Prabowo, Guru Besar Ekonomi Universitas
Gadjah Mada yang juga senior Boediono (mantan Gubernur BI yang kemudian menjadi
Wakil Presiden mendampingi SBY).
Dibyo
Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank
Century.Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam
Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa
tanggal 24 November 2009.
Menurut
Siput, sebelum meninggal Profesor Dibyo Prabowo menjabat sebagai Rektor
Universitas Atmajaya Yogyakarta. Beliau meninggal di bulan Ramadhan
lalu.Bahkan, Boediono ikut menghadiri persemayaman terakhir Dibyo di rumahnya
yang terletak di Sawitsari, Sleman, berdekatan dengan rumah Boediono.Profesor
Dibyo bukan satu-satunya korban Century yang berakhir dengan bunuh diri.Masih
terdapat tiga korban lainnya, salah satunya adalah Sayuti, pejabat Bank Century
yang berdomisili di Jambi.
Salah
satu ciri pelaku bunuh diri, biasanya berwatak tertutup dan pendiam.Ciri-ciri
ini bisa ditemui pada sosok Darto Albinus Dartolius, yang berkali-kali
melakukan percobaan bunuh diri, dan baru berhasil pada Sabtu 28 November 2009.
Darto warga RT 017 RW 4 Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten
Sikka, tewas setelah gantung diri menggunakan tali berwarna biru di kamar
keluarganya.
Aksi
nekat bunuh diri yang dilakukan Darto kali itu, bukan kali pertama yang
dilakukannya.Darto sudah berulang kali melakukan aksi percobaan bunuh diri
dengan meminum obat serangga dan menelan obat-obatan dosis tinggi.Namun, saat
itu masih bisa diselamatkan oleh warga sekitar dan keluarganya.Menurut beberapa
warga, Darto adalah seorang yang pendiam dan jarang mengungkapkan isi hatinya
kepada mereka.
Ketidak
mampuan mengatasi masalah keluarga juga dapat menjadi faktor pendorong tindakan
bunuh diri.Sebagaimana terjadi pada diri Winarto (47 tahun), anggota TNI AD
yang bertugas di Koramil Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Winarto
yang berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) ini pada hari Selasa tanggal 1
Desember 2009, melakukan upaya bunuh diri dengan cara melindaskan tubuhnya di
kolong bus.
Menurut
saksi mata, Winarto datang dari arah timur dengan mengendarai sepeda motor
dinas. Saat sampai di depan pintu terminal Tulungagung, ia berhenti lalu memarkir
kendaraannya dan bergegas mendekati bus yang saat itu hendak keluar dari
terminal dan merangkak masuk ke dalam kolong bus Harapan Jaya dengan Nomor
Polisi AG 7678 UR jurusan Tulungagung-Jakarta yang akan berangkat, sehingga
tubuh dan anggota badan lainnya terlindas bus.
Dari
beberapa data di atas, terlihat bahwa kasus bunuh diri dapat dilakukan oleh
kelompok usia mulai remaja hingga orang dewasa bahkan lansia. Pencetusnya bukan
saja masalah himpitan ekonomi, stress, putus asa dan sebagainya tetapi juga disebabkan
oleh hal-hal sepele. Kasus bunuh diri tidak saja terjadi di perkotaan tetapi
juga di kawasan yang relatif jauh dari pusat kota.
Sepanjang
tahun 2009, di bulan November banyak ditemukan kasus bunuh diri dengan berbagai
motif, dan dari berbagai daerah.Data-data ini sudah sepatutnya dijadikan
masukan bagi kita semua, tetutama para ulama, untuk memberikan pencerahan
kepada masyarakat tentang kedudukan upaya bunuh diri di dalam Islam, yaitu
sebagai perbuatan keji dan dilarang agama.(Macam-macam Bunuh Diri dan Penyebabnya, nahimunkar.com14 December
2009).
Dalam pandangan Islam, bunuh diri
merupakan perbuatan yang dilarang agama, tergolong dosa besar, dan termasuk
perbuatan keji, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta
di antara kamu dengan cara yang bathil, kecuali perniagaan yang terjadi dengan
suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri,
sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”(Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ [4]
ayat 29).
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
bersabda: “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan
ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk
selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan
meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan
siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan
menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk
selama-lamanya.” (Shahih Muslim).
Factor penting yang tidak dimiliki oleh orang yang melakukan
bunuh diri adalah hidayah iman, walaupun beriman tapi tidak istiqamah dengan
keimanannya itu, panic, stress dan putus asa terjadi pada diri seseorang karena
jauh dari nilai-nilai islam sehingga menganggap hidupnya tidak berharga lagi, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar