Jumat, 26 Februari 2016

282. Bunuh Diri



Allah memberikan karunia yang banyak kepada hamba-Nya  dalam kehidupan ini setelah melalui proses yang panjang pada awal terciptanya janin. Dikala terpancarnya sperma lelaki menuju pintu Rahim seorang wanita, milyaran jumlahnya sperma itu berpacu menuju pintu Rahim tersebut, hanya satu yang ditakdirkan Allah jadi bakal calon bayi, semuanya kalah bersaing sehingga mati dalam perjalanannya. Kita yang hari ini ada, adalah pemenang dari sekian milyar yang kita kalahkan, kita yang hari ini masih hidup adalah pemenang dari sekian teman kita yang sudah kalah bersaing dengan kita dari berbagai musibah dan penyakit sehingga menyebabkan mereka meninggal terlebih dahulu, semua itu adalah ajal yang menentukan, karena memang kematian bukanlah karena sakit dan tidak pula karena musibah tapi karena ajal yang sudah menentukan.

Bersyukurlah kita masih menikmati hidup sehingga banyak peluang yang dapat dilakukan untuk amal ibadah hingga ajal sampai.

Hidup diberikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi diberikan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang diperlengkapi dengan berbagai alat kehidupan seperti udara, air dan cahaya matahari. Kesemuanya itu dapat diperoleh dengan gratis, tanpa harus membayar kepada yang memberi hidup ini.

Hidup adalah kurnia Ilahi kepada setiap makhluk, terutama manusia, tidak seorangpun boleh merampasnya, kecuali dengan ketentuan-ketentuan yang lain, Allah berfirman dalam surat Al Hijr 15;23, "Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan kami (pulalah) yang mewarisi".

Kehidupan yang diberikan kepada seorang muslim nampak dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap ketundukan atas perintah Allah,;"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. ” [An Nur 24;51].

            Dalam setiap gerak dan gerik muslim tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepada Khaliqnya, ini bertanda kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan baik;”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].

            Dari sikap diatas akan membawa seseorang muslim menghadapi kehidupan ini tanpa harus mengeluh dan takut karena semua itu uji coba dari Allah. Ujian itu adakalanya sengsara, ada  dengan penderitaan atau ujian yang berbentuk kesenangan, kemewahan dan keberhasilan. Nampak prilaku seorang muslim yang selalu bertaubat dikala melakukan kesalahan atau sebaliknya merasa diri suci, selalu taat beribadah dan bersyukur kepada Allah atau malah mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah.

            Buya Hamka mengatakan bahwa kualitas hidup itu tidak tergantung dari berapa lama dia hidup tapi apa yang dia buat selama hidup itu karena sehari Harimau di rimba sama dengan setahun bagi seekor rusa, Rasulullah juga mengajarkan kepada kita bahwa orang yang baik dan beruntung dalam hidup itu adalah orang yang lama hidupnya tapi bagus amalnya, sedangkan orang yang rugi adalah orang yang sebentar hidup di dunia tapi buruk amalnya.

            Namun demikian, walaupun hidup yang dilalui belum maksimal digunakan untuk beribadah kepada Allah bahkan selalu bergelimang dengan dosa dan maksiat maka kita tidak boleh mengakhiri kehidupan ini. Begitu juga halnya, apakah hidup ini penuh dengan bahagia atau banyak mengalami ujian, cobaan dan fitnah, harus dijalani dengan baik, tidak boleh mengakhiri hidup apapun alasannya. 

Dalam hidup ini Tidak satu waktu pun kita lewati tanpa masalah.  Tapi, apa ini lantas dapat menjadi pembenaran untuk kita mengangankan kematian karena keputus-asaan ? Banyak terjadi... karena tidak sabar menghadapi ujian hidup, seseorang mampu membunuh dirinya sendiri.Semoga kita tidak termasuk yang demikian, karena agama kita memang melarang pemeluknya untuk melakukan tindakan keji, bunuh diri. Allah swt berfirman ;”...dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ”  (QS. An Nisa’ : 29)

           Rasulullah saw bersabda ;” Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga membunuh dirinya, maka ia akan menjatuhkan dirinya selama-lamanya di neraka jahannam kelak. Siapa yang meminum racun hingga membunuh dirinya, maka ia akan meminum racun tersebut untuk selama-lamanya di neraka jahannam kelak,  Siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan besi (benda tajam), maka besi tersebut akan berada di tangannya, lalu ditikamkan ke perutnya untuk selama-lamanya di neraka jahannam kelak."(HR. Bukhori-Muslim-Abu Dawud) 

Sungguh, perkara ini bukanlah hal yang sepele.  Bahkan para ahli fiqih berpendapat bahwa orang yang bunuh diri itu tidak boleh dimandikan, tidak boleh disholatkan, serta tidak boleh dimakamkan di pemakaman kaum muslimin, karena ia mati dalam keadaan berputus asa dari rahmat Allah. ”Ibrahim berkata, ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya, kecuali orang-orang yang sesat’.”  (QS. Al Hijr : 56)

Ujian memang sering kali membuat manusia bertindak melampaui batas.  Namun sesungguhnya manusia harus berhati-hati, karena bukan hanya ujian berupa kesusahan saja yang dapat menjerumuskan manusia, tapi ujian berupa kenikmatan pun mampu menjerumuskan manusia kepada keburukan.”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).  Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”  (QS. Al Anbiya’ : 35).[ Saat Mubarak, LcJangan Bunuh Diri, Harapan Itu Masih Ada,Kamis, 24 Juni 2010 08:1www.nuansaislam,com].

Banyak factor yang menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri walaupun ancamannya begitu besar terhadap keselamatan dirinya di akherat, sebagaimana yang diungkapkan oleh situr nahi mungkar tentang hal ini menyatakan.

Dalam perspektif sosiologi, bunuh diri (suicide) yang terjadi di masyarakat dikategorikan ke dalam tiga hal.Pertama, egoistic suicide yaitu bunuh diri karena urusan pribadi. Kedua, altruistic suicide yaitu bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain. Ketiga, anomic suicide yaitu bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan. Pada berbagai kasus bunuh diri yang terjadi pada masyarakat Indonesia, hampir seluruhnya tergolong egostic suicide, dengan berbagai latar belakang seperti tekanan ekonomi atau kemiskinan, putus asa, depresi, gangguan jiwa, dan sebagainya.

Lebih jauh nahi mungkar yang mengungkapkan penyebabnya dari beberapa kasus yang terjadi sebagai berikut;

Bunuh Diri dan Munggah Haji
Tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan keinginan munggah haji terjadi pada Srining (46 tahun), warga Dusun Recoputhul, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.Menurut keterangan yang diperoleh polisi, Srining melakukan bunuh diri (10 Juni 2009) karena depresi, sebagai akibat dari sikap keluarganya yang tidak segera mengizinkan Srining munggah haji.Bahkan, seminggu sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Srining pernah mencoba terjun dari tebing sungai setinggi tiga meter.Upaya bunuh diri kala itu sempat digagalkan warga.

Namun, tekad Srining untuk bunuh diri sudah bulat, ‘hanya’ karena keinginannya munggah haji tertunda-tunda padahal sudah setor ONH sebesar Rp 24 juta.Sekitar jam 05:30 WIB pagi, tubuh Srining ditemukan mbah Sugianto (70 tahun), tetangganya. Sugianto menemukan tubuh Srining tewas bergelantung di atas pohon sawo di pekarangan belakang rumahnya sendiri. Maka, Sugianto pun memberitahu temuannya itu kepada Salbi (50 tahun), suami Srining.

Menurut Syaiful Bahri (Kepala Dusun Recoputhul), kenekatan Srining bunuh diri dipicu oleh sikap suaminya (Salbi) yang tidak mendukung keinginan Srining untuk munggah haji, meski keinginan itu sudah disampaikan sejak setahun lalu. Pihak keluarga Srining, dalam rangka meringankan tekanan batin Srining akhirnya mendaftarkan Srining untuk menjadi calon jamaah haji, namun untuk dua atau tiga tahun berikutnya karena kuota tahun ini dan dua tahun berikutnya sudah terpenuhi.

Karena tidak sabar menunggu waktu yang terlalu lama untuk naik haji, Srining pun memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Peristiwa Srining yang ingin munggah haji tapi bunuh diri karena depresi dan tidak sabar menuggu giliran, merupakan fenomena yang menarik untuk ditelaah.Bagaimana mungkin hal positif (keinginan munggah haji) datang bersamaan dengan keinginan bunuh diri.

Himpitan Ekonomi
Bunuh diri juga dapat terjadi akibat himpitan ekonomi. Misalnya, sebagaimana terjadi pada Lian Tjian (39 tahun) warga Jalan Jelambar Barat 2 A RT 2 RW 12, Tambora, Jakarta Barat. Ia ditemukan tewas tergantung di dalam rumahnya, pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 2008). Diduga, Lian Tjian nekat mengakhiri hidupnya dengan menggunakan tali plastik karena faktor himpitan ekonomi, usahanya bangkrut.Menurut Wati (29 tahun), isteri Lian Tjian, saat ditemukan, korban dalam kondisi hidup.Namun, akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS Sumber Waras, Jakarta Barat.

Di Slawi, gara-gara terlilit hutang, Kasidah (55 tahun) nekat bunuh diri dengan cara gantung diri, melilitkan kain ke kusen pintu kamar rumah anaknya untuk menjerat lehernya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu pagi, tangal 21 Oktober 2009.Sebelumnya, Kasidah pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak empat kali, korban mencoba bunuh diri, namun tidak berhasil karena aksi nekatnya itu selalu diketahui anggota keluarga. Kali ini ia berhasil melakukan hal yang sama saat kondisi rumah anaknya sepi. Menurut dugaan aparat keamanan, Kasidah nekat bunuh diri akibat persoalan hutang-piutang.Menurut catatan, Kasidah pernah melakukan pinjaman kepada lembaga keuangan untuk keperluan nikah salah seorang anaknya.Ia merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi kewajiban membayar utang. Suaminya, Wadi (60 tahun) berprofesi sebagai tukang becak.

Putus Asa
Berputus asa dari rahmat Allah bukanlah sikap yang Islami.Namun demikian tidak semua orang bisa terus bersikap positif meski didera penyakit menahun.Sebagian orang tak kuat menanggung derita, putus asa, lalu bunuh diri.Misalnya, sebagaimana terjadi pada Semi Hartono. Nenek berusia 60 tahun warga Dusun Klisat, Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, DIY ini, pada hari Kamis tanggal 5 November 2009, nekat bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sumur akibat sakitnya yang tak kunjung sembuh.

Di Medan, seorang santri berusia 15 tahun nekat gantung diri di toilet asrama Pesantren Al-Manar, Jalan Karya Bhakti Medan Johor. Peristiwa nahas itu terjadi pada hari Jumat tanggal 13 November 2009 siang.Siswa Tsanawiyah (setara SMP) ini nekat bunuh diri karena dikeluarkan dari asrama sebagai akibat dari perbuatannya yang melanggar disiplin seperti merokok, ngelem (menghirup lem) dan keluar asrama tanpa izin.

Di Bandung, kasus bunuh diri yang dilakukan pelajar SMP terjadi tiga hari berselang setelah kasus serupa yang terjadi di Medan. Kali ini terjadi pada Hadi Purnomo (14 tahun) siswa kelas 1 SMP YPU, Bandung. Hadi ditemukan dalam keadaan tergantung di kuda-kuda kamarnya oleh adik perempuannya, Ayu Lestari (10 tahun), sebelum maghrib. Kematian Hadi dengan cara gantung diri ini terjadi bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-14 yang jatuh pada tanggal 16 November 2009.

Stress dan Bank Century
Kasus Bank Century tidak hanya menghasilkan stress berat bagi nasabah yang dananya tidak bisa cair, tetapi lebih jauh dari itu menghasilkan kasus bunuh diri. Salah satu korbannya adalah Prof. Dibyo Prabowo, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada yang juga senior Boediono (mantan Gubernur BI yang kemudian menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY).

Dibyo Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century.Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 24 November 2009.

Menurut Siput, sebelum meninggal Profesor Dibyo Prabowo menjabat sebagai Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta. Beliau meninggal di bulan Ramadhan lalu.Bahkan, Boediono ikut menghadiri persemayaman terakhir Dibyo di rumahnya yang terletak di Sawitsari, Sleman, berdekatan dengan rumah Boediono.Profesor Dibyo bukan satu-satunya korban Century yang berakhir dengan bunuh diri.Masih terdapat tiga korban lainnya, salah satunya adalah Sayuti, pejabat Bank Century yang berdomisili di Jambi.
Salah satu ciri pelaku bunuh diri, biasanya berwatak tertutup dan pendiam.Ciri-ciri ini bisa ditemui pada sosok Darto Albinus Dartolius, yang berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri, dan baru berhasil pada Sabtu 28 November 2009. Darto warga RT 017 RW 4 Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, tewas setelah gantung diri menggunakan tali berwarna biru di kamar keluarganya.

Aksi nekat bunuh diri yang dilakukan Darto kali itu, bukan kali pertama yang dilakukannya.Darto sudah berulang kali melakukan aksi percobaan bunuh diri dengan meminum obat serangga dan menelan obat-obatan dosis tinggi.Namun, saat itu masih bisa diselamatkan oleh warga sekitar dan keluarganya.Menurut beberapa warga, Darto adalah seorang yang pendiam dan jarang mengungkapkan isi hatinya kepada mereka.

Ketidak mampuan mengatasi masalah keluarga juga dapat menjadi faktor pendorong tindakan bunuh diri.Sebagaimana terjadi pada diri Winarto (47 tahun), anggota TNI AD yang bertugas di Koramil Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Winarto yang berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) ini pada hari Selasa tanggal 1 Desember 2009, melakukan upaya bunuh diri dengan cara melindaskan tubuhnya di kolong bus.

Menurut saksi mata, Winarto datang dari arah timur dengan mengendarai sepeda motor dinas. Saat sampai di depan pintu terminal Tulungagung, ia berhenti lalu memarkir kendaraannya dan bergegas mendekati bus yang saat itu hendak keluar dari terminal dan merangkak masuk ke dalam kolong bus Harapan Jaya dengan Nomor Polisi AG 7678 UR jurusan Tulungagung-Jakarta yang akan berangkat, sehingga tubuh dan anggota badan lainnya terlindas bus.

Dari beberapa data di atas, terlihat bahwa kasus bunuh diri dapat dilakukan oleh kelompok usia mulai remaja hingga orang dewasa bahkan lansia. Pencetusnya bukan saja masalah himpitan ekonomi, stress, putus asa dan sebagainya tetapi juga disebabkan oleh hal-hal sepele. Kasus bunuh diri tidak saja terjadi di perkotaan tetapi juga di kawasan yang relatif jauh dari pusat kota.

Sepanjang tahun 2009, di bulan November banyak ditemukan kasus bunuh diri dengan berbagai motif, dan dari berbagai daerah.Data-data ini sudah sepatutnya dijadikan masukan bagi kita semua, tetutama para ulama, untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang kedudukan upaya bunuh diri di dalam Islam, yaitu sebagai perbuatan keji dan dilarang agama.(Macam-macam Bunuh Diri dan Penyebabnya, nahimunkar.com14 December 2009).

            Dalam pandangan Islam, bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang agama, tergolong dosa besar, dan termasuk perbuatan keji, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan cara yang bathil, kecuali perniagaan yang terjadi dengan suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”(Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ [4] ayat 29).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.” (Shahih Muslim).

Factor penting yang tidak dimiliki oleh orang yang melakukan bunuh diri adalah hidayah iman, walaupun beriman tapi tidak istiqamah dengan keimanannya itu, panic, stress dan putus asa terjadi pada diri seseorang karena jauh dari nilai-nilai islam sehingga menganggap hidupnya tidak berharga lagi, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar