Setiap
waktu kita selalu mendengar kumandang adzan, apakah melalui corong masjid dan
mushalla, mendengar di televisi dan radio atau adzannya pak Shamad di masjid
sebelah rumah kita yang menandakan masuknya waktu shalat, dalam seruan adzan
itu ada kalimat takbir yaitu ucapan “Allahu Akbar” artinya Allah yang Maha
Besar.
Kalimat
takbir juga terdengar saat orang melaksanakan shalat, apakah shalat sendirian
dirumah atau berjamaah di masjid saat melakukan takbiratul ihram, bahkan nabi
juga menyarankan kepada kita dikala dalam perjalanan memasuki daerah yang
tinggi agar kita membaca takbir, lebih seru lagi takbir kita dengarkan sehari
semalam pada saat masuknya Idul Fihtri, sedangkan pada hari hari Idul Adha
takbir disunnahkan agar tetap dikumandangkan selama empat hari, yaitu hari
pertama Idul Adha dan tiga hari tasyrik hingga tanggal 13 Zulhijjah.
Dalam rangka
menyambut hari raya tanggal 1 Syawal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu;
- Menyempurnakan Ibadah Puasa
Menghitung
kembali hari-hari puasa yang tidak dilakukan karena beberapa hal, kemudian pada
tahun ini juga harus dibayarkan dengan puasa pada hari dan bulan yang lain,
sebagaimana anjuran Allah dalam surat Al Baqarah 2;184,”Hari-hari yang tertentu, jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam
perjalanan [lalu berbuka] maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.
- Membayar Zakat Fithrah
Hikmah dari
membayar zakat fithrah yaitu mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan,
perkataan sia-sia dan keji selama puasa, zakat fithrah itu disalurkan kepada
fakir miskin dengan batas waktu sebelum usai shalat Idul Fithri, dengan kadar
2,5 kilogram beras perjiwa atau sejenis makanan yang menyenangkan. Umar bin Khattab
berkata,”Rasulullah Saw memerintahkan
kami mengeluarkan zakat fithrah sebelum orang pergi shalat”.
- Perhitungan Zakat Mal
Bagi ummat
islam yang selalu memperhitungkan zakat harta pada bulan Ramadhan, hendaklah
sebagian harta yang dimilikinya sebagai ummat yang wajib disampaikan kepada
yang berhak menerimanya. Karena dibalik
harta itu terdapat hak fakir miskin, anak yatim dan lainnya. Allah tidak
membenarkan bila orang yang beriman dan telah cukup nisab hartanya, lalu tidak
memperhitungkan zakat yang harus dikeluarkannya.
- Menyambut Idul Fithri dengan Gembira
Kegembiraan
ini bukan diiringi dengan berbagai pesta meriah dengan mempersiapkan minuman
dan makanan serta pakaian yang menggembirakan. Sambutlah Hari Raya Idul Fithri
dengan kegembiraan, karena kita telah berhasil mengekang dorongan hawa nafsu
selama satu bulan dengan ibadah puasa. Kedatangan Idul Fithri tidak layak
ditakuti karena situasi ekonomi yang kurang menggembirakan, apalagi diiringi
dengan pertengkaran antara suami isteri tidak tersedianya pakaian dan makanan
untuk anak-anak.
- Mengucapkan Takbir
Takbir akan
bergema sejak masuknya Idul Fithri, yaitu setelah berbuka pada hari terakhir
puasa Ramadhan sampai selesai shalat Idul Fithri, baik di rumah, di masjid
maupun perjalanan menuju kelapangan untuk melaksanakan shalat.
Al Qur’an pada
surah Al Baqarah ayat 185 mengisyaratkan,”Supaya
kamu besarkan dan agungkan asma Allah karena rasa syukur nikmat [yang telah
diberikan Allah berupa pedoman hidup yaitu Al Qur’an”.
Rasulullah Saw bersabda,”Hendaklah kamu siarkan hari raya dengan takbir” [HR. Thabrani dari
Anas].[Mukhlis Denros, Menyambut Kedaangan Idul Fihtir, Majalah Serial
Khutbah Jum’at Jakarta no. 118/ April 1991].
Syaikh
Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari menerangkan tentang
takbir yang dilakukan pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, Allah Ta'ala
berfirman "Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah
kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian,
mudah-mudahan kalian mau bersyukur".(QS. 2/185).
Telah
pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :"Beliau keluar
pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah
lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan
shalat, beliau menghentikan takbir".
Berkata
Al-Muhaddits Syaikh Al Albani :"Dalam hadits ini ada dalil
disyari'atkannya melakukan takbir secara jahr (keras/bersuara) di jalanan
menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak
dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini
sekedar menjadi berita ...
Termasuk
yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir
disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara
serempak dengan dipimpin seseorang) sebagaimana dilakukan oleh sebagian
orang.Demikian pula setiap dzikir yang disyariatkan untuk mengeraskan suara
ketika membacanya atau tidak disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak
dibenarkan berkumpul atas satu suara seperti yang telah disebutkan.Hendaknya
kita hati-hati dari perbuatan tersebut dan hendaklah kita selalu meletakkan di
hadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam".
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahullah menjawab :"Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat".
Aku katakan : Ucapan beliau
rahimahullah : '(dilakukan) setelah selesai shalat' -secara khusus tidaklah
dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa pengkhususan.Yang
menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari dalam kitab 'Iedain dari
"Shahih Bukhari" 2/416 : "Bab Takbir pada hari-hari Mina, dan
pada keesokan paginya menuju Arafah".
Umar Radliallahu 'anhu pernah
bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid
mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada
di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara takbir.
Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina
pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di
kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.
Maimunnah pernah bertakbir pada hari
kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin
Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid".
Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul
Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia
tetap bertakbir hingga datang imam.
Sepanjang yang aku ketahui, tidak
ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara takbir. Yang ada hanyalah tata
cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai
mereka semuanya.
Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan
takbir dengan lafadh :Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu
Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu."Allah Maha Besar Allah Maha Besar,
Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha
Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah]
Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir
dengan lafadh.’’Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu,
Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.‘’Allah Maha Besar Allah
Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar
dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada
kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi]
Abdurrazzaq-dan dari jalannya
Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" - meriwayatkan dengan sanad yang
shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata "Agungkanlah Allah dengan mengucapkan :
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".
Banyak orang awam yang menyelisihi
dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan
tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar
rahimahullah berkata :"Pada masa ini telah diada adakan suatu tambahan[4]
dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalanya".[Takbir Pada Idul
Fithri Dan Idul Adha, Almanhaj.or.id,Rabu,
27 Desember 2006 00:38:55 WIB].
Pada akhir Ramadhan, ketika
kumandang takbir bersahutan dimana-mana yang menandakan kegembiraan dengan
datangnya hari raya Idul Fithri, kegembiraannya dilanjutkan dengan mengirim
ucapan selamat hari raya melalui telefon, sms, email atau kartu lebaran, banyak
desain yang diujudkan dalam ucapan hari raya itu bahkan berbagai ucapanpun
dirancang dengan kalimat-kalimat indah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat
pada hari raya maka beliau menjawab : “Ucapan pada hari raya, di mana sebagian
orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id:
Taqabbalallahu minnaa wa minkum (yang artinya): Semoga Allah menerima dari kami
dan dari kalian” Wa ahaalallahu ‘alaika.
Dan ucapan selainnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok
sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk
melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata:
“Aku tidak pernah memulainya mengucapkan selamat kepada seorang pun, namun bila
ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya, karena menjawab
tahiyyah (ucapan selamat) hukumnya wajib. Adapun mendahuluinya, dengan
mengucapkan tahniah (ucapan selamat) bukanlah sunnah yang diperintahkan dan
tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan
siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.”.
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar “Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan
isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya): Para
sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka
berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum
(Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”
Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” menyebutkan bahwa Muhammad
bin Ziyad berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari
kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari
shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minnaa
wa minka.”
Adapun ucapan selamat : (Kullu ‘aamin wa antum bikhair) atau
yang semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak
diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah “Apakah
kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik.?”[Abi
AbduLLAAHKaifiyyat Takbir Hari Raya ,Al-Ikhwan.net
| 15 October 2006 | 22 Ramadhan 1427 H].
Ucapan takbir yang kita kumandangkan pada waktu-waktu
tertentu itu seharusnya bukan hanya sebatas lafadz yang keluar dari lisan dan
lidah kita tapi adalah ucapan mengagungan kepada kebesaran Allah, dengan sepenuh
hati kita menyadari bahwa Allah itu Besar, Dia punya sifat Al Kabir, sedangkan
semuanya yang lain adalah kecil.
Allah Yang Maha Besar, Al Kabiir, yang merupakan salah
satu dari nama-nama baik Allah pada asma
ul husna, pengakuan ini sering kita dengarkan dengan telinga yang nyaring
mendengarkannya, bahkan kita ucapkan
selalu melebihi ucapan lainnya apalagi
dalam shalat dengan takbirarul ihram, ”Allahu Akbar”.”(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah,
Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari
Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi
Maha besar.” [Al hajj 22;62].
Banyak kebesaran Allah yang dapat kita ungkapkan dalam
kehidupan sehari-hari, disekitar kita, kejadian yang kita alami sendiri berupa
kematian ataupun kelak terjadinya kiamat saat hancurkan alam raya ini yang akan
diganti dengan alam lain yang lebih besar dan abadi yaitu akherat.
Kalau manusia mau untuk sejenak merenungi alam yang terbentang dengan segala
makhluk serta peristiwa yang terjadi didalamnya, maka tidak akan ditemui
keingkaran kepada Khaliqnya. Berfikir
sejenak atas peristiwa alam yang terjadi sehari-hari akan membangkitkan
kesadaran yang tinggi, bagaimana langi dan bumi diciptakan serta rintik hujan
sampai ke tanah yang dapat menyuburkan tanaman;”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya
siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air
itu Dia hidupkan bumi sesudah mati dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.
Sesungguhnya adalah tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir” [Al
Baqarah 2;164].
Allah memerintahkan kepada manusia agar mereka
menggunakan fikiran dan mengerti peristiwa yang terjadi untuk diambil maknanya.
Di angkasa raya dengan kebesaran penciptanya berjuta-juta bintang bertaburan
memberi warna indahnya langit, pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang
membawa hujan, sungai yang mengaliri air;”Sesungguhnya
Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang”
[Ash Shaffat 37;6].
Jangankan kita menyaksikan alam raya ini keluar dari
orbit bumi, sedangkan di bumi saja dikala malam langit cerah, bintang-bintang
bertebaran dihiasi bulan dengan cahayanya memantul ke bumi, hati orang mukmin
jadi tunduk, merendah menerima kebesaran Ilahi. Ketika hujan lebat di tengah
malam yang pekat disertai badai yang kuat, dingin pula, gelegar kilat yang
menyambar tak terlintaskan di dalam hati manusia sedikit saja rasa takut, mohon
perlindungan kepada-Nya ?”Dialah Tuhan
yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan
Dia mengadakan awan mendung, dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah,
demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan
halilinar lalu mengenai siapa saja yang
dikehendaki-Nya” [Ar Ra’ad 13; 12-13].
Kebesaran Allah tak ditemui tandingannya dan hal ini
diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang yang beriman yang mau mengetuk
hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari alam ini, sejak dari biji
yang tak berdaya, tumbuh-tumbuhan, hewan
dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan dengan kekuasaan-Nya;”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir-butir
tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang
mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” [Al An’am 6;95]
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah,
lautan dengan segala kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya,
tumbuh-tumbuhan dengan corak warnanya sampai kepada diri manusia iu sendiri;”Dan pada penciptakan kamu dan pada
binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini,’’[Al Jatsiyah 45;4]
Bagaimana awal mula diciptakan manusia yang berasal dari
air mani dengan segala proses kejadiannya;”Allah
yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai pencitaan manusia
dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina
[air mani]” [As Sajadah 32; 7-8].
Alangkah indahnya dunia ini dengan aturannya yang rapi,
susunan tubuh manusia, mata bening laksana kaca menghias wajahnya, otak sebagai
kendali kesadaran manusiapun teraur indah sehingga manusia itu mulia dari
makhluk yang lainnya. Pantaskah manusia berlaku sombong kepada penciptanya,
berlagak angkuh dan takabur sementara begitu banyak nikmat Allah direguknya
dalam hidup ini. Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Desember 2011.M/ 23
Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar