Kamis, 18 Februari 2016

243. Takbir



Setiap waktu kita selalu mendengar kumandang adzan, apakah melalui corong masjid dan mushalla, mendengar di televisi dan radio atau adzannya pak Shamad di masjid sebelah rumah kita yang menandakan masuknya waktu shalat, dalam seruan adzan itu ada kalimat takbir yaitu ucapan “Allahu Akbar” artinya Allah yang Maha Besar.

Kalimat takbir juga terdengar saat orang melaksanakan shalat, apakah shalat sendirian dirumah atau berjamaah di masjid saat melakukan takbiratul ihram, bahkan nabi juga menyarankan kepada kita dikala dalam perjalanan memasuki daerah yang tinggi agar kita membaca takbir, lebih seru lagi takbir kita dengarkan sehari semalam pada saat masuknya Idul Fihtri, sedangkan pada hari hari Idul Adha takbir disunnahkan agar tetap dikumandangkan selama empat hari, yaitu hari pertama Idul Adha dan tiga hari tasyrik hingga tanggal 13 Zulhijjah.

Dalam rangka menyambut hari raya tanggal 1 Syawal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu;

  1. Menyempurnakan Ibadah Puasa
      Menghitung kembali hari-hari puasa yang tidak dilakukan karena beberapa hal, kemudian pada tahun ini juga harus dibayarkan dengan puasa pada hari dan bulan yang lain, sebagaimana anjuran Allah dalam surat Al Baqarah 2;184,”Hari-hari yang tertentu, jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan [lalu berbuka] maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.

  1. Membayar Zakat Fithrah
      Hikmah dari membayar zakat fithrah yaitu mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan, perkataan sia-sia dan keji selama puasa, zakat fithrah itu disalurkan kepada fakir miskin dengan batas waktu sebelum usai shalat Idul Fithri, dengan kadar 2,5 kilogram beras perjiwa atau sejenis makanan yang menyenangkan. Umar bin Khattab berkata,”Rasulullah Saw memerintahkan kami mengeluarkan zakat fithrah sebelum orang pergi shalat”.

  1. Perhitungan Zakat Mal
      Bagi ummat islam yang selalu memperhitungkan zakat harta pada bulan Ramadhan, hendaklah sebagian harta yang dimilikinya sebagai ummat yang wajib disampaikan kepada yang berhak menerimanya.  Karena dibalik harta itu terdapat hak fakir miskin, anak yatim dan lainnya. Allah tidak membenarkan bila orang yang beriman dan telah cukup nisab hartanya, lalu tidak memperhitungkan zakat yang harus dikeluarkannya.

  1. Menyambut Idul Fithri dengan Gembira
      Kegembiraan ini bukan diiringi dengan berbagai pesta meriah dengan mempersiapkan minuman dan makanan serta pakaian yang menggembirakan. Sambutlah Hari Raya Idul Fithri dengan kegembiraan, karena kita telah berhasil mengekang dorongan hawa nafsu selama satu bulan dengan ibadah puasa. Kedatangan Idul Fithri tidak layak ditakuti karena situasi ekonomi yang kurang menggembirakan, apalagi diiringi dengan pertengkaran antara suami isteri tidak tersedianya pakaian dan makanan untuk anak-anak.

  1. Mengucapkan Takbir
      Takbir akan bergema sejak masuknya Idul Fithri, yaitu setelah berbuka pada hari terakhir puasa Ramadhan sampai selesai shalat Idul Fithri, baik di rumah, di masjid maupun perjalanan menuju kelapangan untuk melaksanakan shalat.

      Al Qur’an pada surah Al Baqarah ayat 185 mengisyaratkan,”Supaya kamu besarkan dan agungkan asma Allah karena rasa syukur nikmat [yang telah diberikan Allah berupa pedoman hidup yaitu Al Qur’an”.

       Rasulullah Saw bersabda,”Hendaklah kamu siarkan hari raya dengan takbir” [HR. Thabrani dari Anas].[Mukhlis Denros, Menyambut Kedaangan Idul Fihtir, Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta no. 118/ April 1991].

Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari menerangkan tentang takbir yang dilakukan pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, Allah Ta'ala berfirman "Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur".(QS. 2/185).

Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :"Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir".

Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani :"Dalam hadits ini ada dalil disyari'atkannya melakukan takbir secara jahr (keras/bersuara) di jalanan menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini sekedar menjadi berita ...

Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.Demikian pula setiap dzikir yang disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas satu suara seperti yang telah disebutkan.Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan tersebut dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahullah menjawab :"Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat". 

Aku katakan : Ucapan beliau rahimahullah : '(dilakukan) setelah selesai shalat' -secara khusus tidaklah dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa pengkhususan.Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari dalam kitab 'Iedain dari "Shahih Bukhari" 2/416 : "Bab Takbir pada hari-hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah".

Umar Radliallahu 'anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara takbir.

Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.

Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid".

Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. 

Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu."Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh.’’Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.‘’Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi]

Abdurrazzaq-dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" - meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata  "Agungkanlah Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".

Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :"Pada masa ini telah diada adakan suatu tambahan[4] dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalanya".[Takbir Pada Idul Fithri Dan Idul Adha, Almanhaj.or.id,Rabu, 27 Desember 2006 00:38:55 WIB].

Pada akhir Ramadhan, ketika kumandang takbir bersahutan dimana-mana yang menandakan kegembiraan dengan datangnya hari raya Idul Fithri, kegembiraannya dilanjutkan dengan mengirim ucapan selamat hari raya melalui telefon, sms, email atau kartu lebaran, banyak desain yang diujudkan dalam ucapan hari raya itu bahkan berbagai ucapanpun dirancang dengan kalimat-kalimat indah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab : “Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id: Taqabbalallahu minnaa wa minkum (yang artinya): Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian” Wa ahaalallahu ‘alaika.

Dan ucapan selainnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata: “Aku tidak pernah memulainya mengucapkan selamat kepada seorang pun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya, karena menjawab tahiyyah (ucapan selamat) hukumnya wajib. Adapun mendahuluinya, dengan mengucapkan tahniah (ucapan selamat) bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.”.

Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar “Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya): Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”

Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minnaa wa minka.”

Adapun ucapan selamat : (Kullu ‘aamin wa antum bikhair) atau yang semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah “Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik.?”[Abi AbduLLAAHKaifiyyat Takbir Hari Raya ,Al-Ikhwan.net | 15 October 2006 | 22 Ramadhan 1427 H].

Ucapan takbir yang kita kumandangkan pada waktu-waktu tertentu itu seharusnya bukan hanya sebatas lafadz yang keluar dari lisan dan lidah kita tapi adalah ucapan mengagungan kepada kebesaran Allah, dengan sepenuh hati kita menyadari bahwa Allah itu Besar, Dia punya sifat Al Kabir, sedangkan semuanya yang lain adalah kecil.

Allah Yang Maha Besar, Al Kabiir, yang merupakan salah satu dari nama-nama baik  Allah pada asma ul husna, pengakuan ini sering kita dengarkan dengan telinga yang nyaring mendengarkannya,  bahkan kita ucapkan selalu  melebihi ucapan lainnya apalagi dalam shalat dengan takbirarul ihram, ”Allahu Akbar”.”(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” [Al hajj 22;62].

Banyak kebesaran Allah yang dapat kita ungkapkan dalam kehidupan sehari-hari, disekitar kita, kejadian yang kita alami sendiri berupa kematian ataupun kelak terjadinya kiamat saat hancurkan alam raya ini yang akan diganti dengan alam lain yang lebih besar dan abadi yaitu akherat.

Kalau manusia mau untuk sejenak merenungi alam yang terbentang dengan segala makhluk serta peristiwa yang terjadi didalamnya, maka tidak akan ditemui keingkaran kepada Khaliqnya.  Berfikir sejenak atas peristiwa alam yang terjadi sehari-hari akan membangkitkan kesadaran yang tinggi, bagaimana langi dan bumi diciptakan serta rintik hujan sampai ke tanah yang dapat menyuburkan tanaman;”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya adalah tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir” [Al Baqarah 2;164].

Allah memerintahkan kepada manusia agar mereka menggunakan fikiran dan mengerti peristiwa yang terjadi untuk diambil maknanya. Di angkasa raya dengan kebesaran penciptanya berjuta-juta bintang bertaburan memberi warna indahnya langit, pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang membawa hujan, sungai yang mengaliri air;”Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang” [Ash Shaffat 37;6].

Jangankan kita menyaksikan alam raya ini keluar dari orbit bumi, sedangkan di bumi saja dikala malam langit cerah, bintang-bintang bertebaran dihiasi bulan dengan cahayanya memantul ke bumi, hati orang mukmin jadi tunduk, merendah menerima kebesaran Ilahi. Ketika hujan lebat di tengah malam yang pekat disertai badai yang kuat, dingin pula, gelegar kilat yang menyambar tak terlintaskan di dalam hati manusia sedikit saja rasa takut, mohon perlindungan kepada-Nya ?”Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung, dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilinar lalu mengenai  siapa saja yang dikehendaki-Nya” [Ar Ra’ad 13; 12-13].

Kebesaran Allah tak ditemui tandingannya dan hal ini diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang yang beriman yang mau mengetuk hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari alam ini, sejak dari biji yang  tak berdaya, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan dengan kekuasaan-Nya;”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir-butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” [Al An’am 6;95]

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah, lautan dengan segala kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan dengan corak warnanya sampai kepada diri manusia iu sendiri;”Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini,’’[Al Jatsiyah 45;4]

Bagaimana awal mula diciptakan manusia yang berasal dari air mani dengan segala proses kejadiannya;”Allah yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai pencitaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina [air mani]” [As Sajadah 32; 7-8].

Alangkah indahnya dunia ini dengan aturannya yang rapi, susunan tubuh manusia, mata bening laksana kaca menghias wajahnya, otak sebagai kendali kesadaran manusiapun teraur indah sehingga manusia itu mulia dari makhluk yang lainnya. Pantaskah manusia berlaku sombong kepada penciptanya, berlagak angkuh dan takabur sementara begitu banyak nikmat Allah direguknya dalam  hidup ini. Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Desember 2011.M/ 23 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar