Jumat, 12 Februari 2016

195. Islam Liberal



Tidak ada embel-embel apapun ketika kita membicarakan tentang islam, ini adalah agama yang sudah lengkap dan sempurna, risalahnya dapat dipertanggungjawabkan hingga hari akhir kelak. Untuk kesempurnaan hidup dalam islam pemeluknya dituntut untuk jadi generasi yang Rabbany yaitu generasi yang dekat dengan Khaliq melalui pengabdiannya, islampun mengajak ummatnya untuk tershibghah dengan nilai-nilai Ilahi sehingga tidak ada peluang bagi faham dan aliran manapun untuk masuk ke dalam fikiran dan hatinya selain islam yang tauhid, begitu juga halnya dengan syahadat yang diucapkan, seorang muslm harus menyadari konsep inqilabiyyah artinya, saat masuk islam atau saat menyadari bahwa islam sebagai jalan hidup maka terjdi penjungkirbalikan terhadap ajaran apapun, hanya islam yang dijadikan sebagai jalan kebenaran.

Khalif Mu'ammar daalm tulisannya menyatakan tentang penggagas Islam Liberal, katanya;

Leornard Binder, diantara sarjana Barat keturunan Yahudi yang bertanggungjawab mencetuskan pergerakan Islam liberal dan mengorbitkannnya pada era 80-an, telah memerinci agenda-agenda penting Islam Liberal dalam bukunya Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies. Dalam buku tersebut ia menjelaskan premis dan titik tolak perlunya pergerakan Islam Liberal didukung dan di sebar luaskan. Selain rational discourse yang merupakan tonggak utamaya, gerakan ternyata tidak lebih daripada alat untuk mencapai tujuan politik yaitu menciptakan pemerintahan liberal. Binder menjelaskan: ? Liberal government is the product of a continuous process of rational discourse?. Political Liberalism in this sense, is indivisible. It will either prevail worldwide, or it will have to be defended by nondiscursive action .? (Leonard Binder, 1988) Fakta ini didukung oleh seorang lagi penulis dan pendukung Islam Liberal, Greg Barton, dalam bukunya Gagasan Islam Liberal di Indonesia. Barton menggariskan prinsip dasar yang dipegang oleh kelompok Islam liberal yaitu: (a) Pentingnya kontekstualisasi ijtihad; (b) Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaharuan (agama); (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama; (d) Pemisahan agama dari parti politik dan kedudukan negara yang nonsektarian. (Greg Barton, 1999)[Khalif Mu'ammar, Liberalisasi Islam dan Agenda Global Barat, Hidayatullah.com. Jumat, 24 Oktober 2003].

Bagaimanapun juga konsistensinya seorang muslim dengan islamnya maka akan tetap diserang dari berbagai arah dan berbagai cara, penyesatan itu akan dibumbui dengan aroma semerbak, indah dan menarik tapi merusak segala-galanya, diantaranya digencarkannya sekulerisasi, pluralisasi dan liberalisasi. Bahkan untuk membungkus kebusukan itu dikemas sebaik mungkin, disebut dengan sematan islam yaitu Islam Liberal yang intinya faham ini menyatakan semua agama sama saja.

Dalam tulisan Akmaltentang Islam Liberal: Islam Liberal ?Posted byadmin on Thursday, January 04 @ 10:10:35 WIT Contributed by adminwww,mualaf.com, diungkapkan beberapa pendapat dari pengusung faham Islam Liberal, yang demikian ngototnya mereka untuk mengeruhkan pemikiran masyarakat islam terhadap konsep islam yang sudah sempurna dari Ilahi ini dengan konsep kotor mereka.
Berikut ini adalah petikan dari ucapan beberapa tokoh Islam Liberal di Indonesia disertai referensi yang cukup jelas untuk menjamin otentisitasnya.  Saya berusaha memberikan jawaban seobjektif dan sesederhana mungkin dengan cara yang dapat dipahami setiap orang.  Hanya kepada Allah-lah kami berlindung dari godaan syetan dari golongan jin dan manusia yang terkutuk.“Semua agama sama.  Semuanya menuju jalan kebenaran.  Jadi, Islam bukan yang paling benar.”  (Ulil Abshar Abdalla, dari majalah GATRA, 21 Desember 2002).

Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah : apakah Ulil sudah pernah melakukan studi perbandingan agama sebelumnya?  Jika ya, agama-agama apa sajakah yang sudah diperbandingkannya?  Selain itu, sebagai manusia yang intelek, seharusnya ia tidak membuat klaim begitu saja, melainkan memberikan bukti-bukti yang konkrit.

Alangkah lebih baik jika ia membuat sebuah buku yang membuktikan bahwa semua agama itu sama, atau menyelenggarakan sebuah seminar tentang itu, kemudian menjadikannya sebagai rujukan dalam wawancara, agar para pembaca tidak menelan bulat-bulat apa yang dikatakannya.  Kecuali, barangkali, ia memang ingin ucapannya ditelan bulat-bulat. 
Jika ini yang terjadi, maka Ulil dan Islam Liberal sebenarnya adalah sebuah gerakan ekstremis yang dilandasi oleh pemahaman yang fanatik.  Terakhir, jika memang ia menganggap semua agama itu benar, mengapa ia mencatut nama Islam dalam organisasinya?  Alangkah lebih baiknya ia menyatakan diri sebagai penganut agama liberal dan mengubah nama JIL menjadi JAL (Jaringan Agama Liberal).  Menganut paham ‘semua agama benar’ sekaligus menggunakan nama ‘Islam’ adalah suatu kontradiksi yang amat mengherankan.“Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.”  (Ulil Abshar Abdalla, dari koran Jawa Pos, 11 Januari 2004).

Sekali lagi, perlu dipertanyakan (atas nama keilmiahan) sejauh mana Ulil telah melakukan penelitian dan memperbandingkan semua kitab suci dari berbagai agama.  Samakah Al-Qur’an dengan Bible?  Bagaimana Ulil bisa berpendapat bahwa semua kitab suci adalah mukjizat?  Di manakah bukti-bukti kongkritnya?  Jika ia tidak bisa menjawab, maka sekali lagi, jelaslah bahwa JIL adalah organisasi ekstremis yang anggotanya fanatik dan taqlid buta pada pemimpinnya.“Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antaragama, yakni pandangan bahwa siapa pun yang beriman – tanpa harus melihat Agamanya apa – adalah sama di hadapan Allah.  Karena, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.”  (Budhy Munawar Rahman, dari buku Wajah Liberal Islam di Indonesia terbitan JIL).

Tentu saja Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu, Yang Maha Esa.  Apa pun agamanya, hanya ada satu ilah yang memegang kuasa penuh dan tak tertandingi.  Namun masing-masing agama memiliki definisi yang berbeda tentang ilah ini. 

Umat Islam percaya pada Allah, umat Kristiani percaya pada konsep trinitasnya.  Samakah Allah dalam pemahaman agama Islam dengan konsep trinitas yang dipegang teguh oleh umat Kristiani?  Rasanya saya belum pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa kedua konsep ketuhanan ini sama. 

Selain itu, nampaknya Budhy Munawar Rahman ini khawatir bahwa memberikan predikat ‘kafir’ pada umat agama lain akan memicu kekerasan antarumat beragama.  Padahal, secara bahasa, ‘kafir’ berasal dari kata yang sama dalam bahasa Arab yang artinya ‘ingkar’.  Orang yang kafir adalah orang yang ingkar terhadap sesuatu (dalam hal ini ingkar terhadap ajaran Islam).  Tidak ada konsekuensi yang buruk sama sekali atas keingkarannya itu, karena Islam tidak merasa perlu memaksa orang lain untuk memeluk agama Islam
.

Lebih jauh  Akmal dalam www,mualaf.com menyatakan;

Kekhawatiran kaum liberalis ini nampaknya mereka warisi dari para mentornya yang berasal dari Eropa yang masih trauma dengan peristiwa inkuisisi, yaitu pembantaian besar-besaran terhadap siapa saja yang dikategorikan ‘kafir’ oleh pihak Gereja.

“Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar.  Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya.  Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya.  Inilah jalan universal surga bagi semua agama.  Dari sini, kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.”  (Abdul Munir Mulkhan, dari buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar).

Pertama, ia mengawali pernyataan ini dengan kata “jika”.  “Jika semua agama memang benar sendiri…..” artinya adalah “belum tentu semua agama memang benar sendiri…..”.  Dengan sendirinya, semua pernyataan setelah itu adalah sebuah hipotesa belaka dan tidak perlu dianggap sebagai sebuah fakta, karena ia juga tidak pernah mengajukan secuil bukti dalam bentuk apa pun. 

Kedua, ia melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu dengan menganggap dirinya sudah sama dengan Tuhan atau mampu berpikir layaknya Tuhan.  Dari mana datangnya teori bahwa semua agama pasti diridhai oleh Allah?  Entahlah!  Saya rasa tidak perlu dijawab, karena ia sendiri tidak mengajukan alasan apa pun.
 
Kesalahan fatal ketiga adalah dengan mengatakan bahwa teorinya (yaitu dengan menganggap semua agama sama) adalah pembuka jalan bagi kerja sama dan dialog antarumat beragama.  Kenyataannya, kerja sama dan dialog dapat terjadi tanpa harus mengakui teori Abdul Munir Mulkhan tersebut.  Saya menganggap kalimat terakhirnya itu adalah sebentuk megalomania yang menganggap bahwa teorinya adalah teori sapu jagat yang bisa menyelesaikan masalah.

“Jadi, pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.”  (Nurcholis Madjid, dari buku Islam Doktrin dan Peradaban).

Perlu dipahami bahwa pluralitas dan pluralisme adalah dua hal yang berbeda.  Pluralitas adalah fakta bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda, sedangkan pluralisme (menurut definisi Nurcholis Madjid sendiri, namun tidak disetujui oleh Frans Magnis Suseno) adalah paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, yaitu sama-sama benar.
 
Apakah paham ini adalah sunnatullah?  Apakah ia tak dapat dilawan?  Sebaiknya Nurcholis Madjid bersikap bijak dan menunggu hingga akhir jaman untuk melihat bukti apakah paham ini bisa dilawan atau tidak.  Kenyataannya, banyak orang yang sedang berjuang untuk melawannya.  Salah satunya adalah saya sendiri.  Jadi, kalau Cak Nur bilang bahwa pluralisme tidak mungkin dilawan, maka saya akan menjawab : “We’ll see.

“Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan.  Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai pluralisme keagamaan dan menolak eksklusifisme.  Dalam pengertian lain, eksklusifisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur’an.  Sebab Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya.”  (Alwi Shihab, dari buku Islam Inklusif ; Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama).

Agaknya Alwi Shihab terlalu bersikap curiga pada umat Islam sampai-sampai perlu diinklusifkan.  Padahal sudah sejak dahulu umat Islam tidak pernah bersikap eksklusif, bahkan berhubungan baik dengan agama mana pun.

Jika memang ada sebagian Muslim yang bersikap ofensif terhadap umat agama lain, maka yang perlu dilakukan adalah menasihatinya untuk kembali pada ajaran Rasulullah saw., bukan mengarang-ngarang ajaran baru yang disebut sebagai ‘Islam Inklusif’ atau ‘Islam Pluralis’.  Embel-embel apa pun yang disandingkan dengan nama Islam menunjukkan bahwa ia bukanlah Islam murni.  Apakah Alwi Shihab hendak berkata bahwa Islam ini kekurangan sehingga perlu dilengkapi?  Sungguh sebuah gugatan yang amat tidak pantas terhadap Allah SWT!!! [akmal seperti yang tertulis di blogs http://akmal.multiply.com/journal/item/206].

Orientalis yaitu orang Barat yang berupaya untuk mengkaji ajaran islam dengan dalih apapun, intinya untuk mengobrak-abrik ajaran islam agar ajaran islam itu tidak lagi sesuai dengan sumber aslinya yaitu Al Qur’an dan Sunnah, mereka melakukan aksinya tidak hanya mempropagandakan pemikirannya tapi berupaya mengkader generasi yang lebih tangguh dan efektif untuk membantu usaha mereka itu yaitu dengan jalan mencetak pemikir-pemikir islam sekuler, dari mereka inilah serangan yang bertubi-tubi ditujukan kepada keshahihan islam, usaha, gerakan dan tokoh Liberalisasi Islam itu ditampung dalam satu wadah yang mereka sebut dengan Jaringan Islam Liberal,   Drs. Hartono Ahmad Jaiz membongkar siapa mereka sebenarnya;

Islam Liberal atau JIL (Jaringan Islam Liberal) adalah kemasan baru dari kelompok lama yang orang-orangnya dikenal nyeleneh. Kelompok nyeleneh itu setelah berhasil memposisikan orang-orangnya dalam jajaran yang mereka sebut pembaharu atau modernis, kini melangkah lagi dengan kemasan barunya, JIL
.
Mula-mula yang mereka tempuh adalah mengacaukan istilah. Mendiang Dr Harun Nasution direktur Pasca Sarjana IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta berhasil mengelabui para mahasiswa perguruan tinggi Islam di Indonesia, dengan cara mengacaukan istilah. Yaitu memposisikan orang-orang yang nyeleneh sebagai pembaharu.Di antaranya Rifa'at At-Thahthawi (orang Mesir alumni Paris yang menghalalkan dansa-dansi laki perempuan campur aduk) oleh Harun Nasution diangkat-angkat sebagai pembaharu dan bahkan dibilang sebagai pembuka pintu ijtihad.

Hingga posisi penyebar faham menyeleweng itu justru didudukkan sebagai pembaharu atau modernis (padahal penyeleweng agama).Akibatnya, dikesankanlah bahwa posisi Rifa'at At-Thahthawi itu sejajar dengan Muhammad bin Abdul Wahab pemurni ajaran Islam di Saudi Arabia. Padahal hakekatnya adalah dua sosok yang berlawanan.Yang satu mengotori pemahaman Islam, yang satunya memurnikan pemahaman Islam. Pemutar balikan fakta dan istilah itu disebarkan Harun Nasution secara resmi di IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia lewat buku-bukunya, di antaranya yang berjudud Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, terbit sejak 1975.

Pengacauan istilah itu dilanjutkan pula oleh tokoh utama JIL yakni Nurcholish Madjid. Dia menggunakan cara-cara Darmogandul dan Gatoloco, yaitu sosok penentang dan penolak syari'at Islam di Jawa yang memakai cara: Mengembalikan istilah kepada bahasa, lalu diselewengkan pengertiannya. Darmogandul dan Gatoloco itu menempuh jalan: Mengembalikan istilah kepada bahasa, kemudian bahasa itu diberi makna semaunya, lalu dari makna bikinannya itu dijadikan hujjah/ argument untuk menolak syari'at Islam.

Coba kita bandingkan dengan yang ditempuh oleh Nurcholish Madjid: Islam dikembalikan kepada al-Din, kemudian dia beri makna semau dia yaitu hanyalah agama (tidak punya urusan dengan kehidupan dunia, bernegara), lalu dari pemaknaan yang semaunya itu untuk menolak diterapkannya syari'at Islam dalam kehidupan.

Kalau dicari bedanya, maka Darmogandul dan Gatoloco menolak syari'at Islam itu untuk mempertahankan Kebatinannya, sedang Nurcholish Madjid menolak syari'at Islam itu untuk mempertahankan dan memasarkan Islam Liberal dan faham Pluralismenya. Dan perbedaan lainnya, Darmogandul dan Gatoloco adalah orang bukan Islam, sedang Nurcholish Madjid adalah orang Islam yang belajar Islam di antaranya di perguruan tinggi Amerika, Chicago, kemudian mengajar pula di perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia. Hanya saja cara-cara menolak Syari'at Islam adalah sama, hanya beda ungkapan-ungkapannya, tapi caranya sama.

Secara mudahnya, JIL itu menyebarkan faham yang menjurus kepada pemurtadan.Yaitu sekulerisme, inklusifisme, dan pluralisme agama.

Sekulerisme adalah faham yang menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia, negara dan sebagainya. Inklusifisme adalah faham yang menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar, jadi saling mengisi. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar.(Ini saja sudah merupakan faham pemurtadan). Lebih-lebih lagi faham pluralisme, yaitu menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis. Dan kita tidak boleh memandang agama orang lain dengan memakai agama yang kita peluk. (Ini sudah lebih jauh lagi pemurtadannya).Jadi faham yang disebarkan oleh JIL itu adalah agama syetan, yaitu menyamakan agama yang syirik dengan yang Tauhid.

Tampaknya orang-orang yang pikirannya kacau dan membuat kekacauan agama seperti itu adalah yang telah merasakan celupan dari pendeta, atau Yahudi, atau Barat, atau yang dari awalnya bergaul di lingkungan faham sesat Ahmadiyah dan sebagainya atau di lingkungan ahli bid'ah.

Berikut ini contoh nyata, Ahmad Wahib yang mengaku sekian tahun diasuh oleh pendeta dan Romo. Kemudian fahamnya yang memurtadkan pun disebarkan oleh Johan Effendi, tokoh JIL yang jelas-jelas anggota resmi aliran sesat Ahmadiyah[Dari Aldakwah.com, Oleh: Drs. Hartono Ahmad Jaiz, Islam Liberal, Pemurtadan Berlebel Islam, Counter Liberalisme Oleh : Fakta 22 Feb 2004].

Untuk itu harus ada upaya dari umat islam selain untuk mengkounter pemikiran mereka juga menggerakkan dakwah secara baik untuk menyelamatkan ummat islam ini keseluruhannya sebelum terpuruk ke dalam kesesatan dan pemurtadan, semoga dengan bimbingan Allah makar yang mereka gencarkan akan dibalas dengan makar yang lebih baik lagi dari Allah,   wallahu a’lam wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 15 Agustus 2011.M/ 15 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar