Selama
masih hidup selama itu pula manusia diberi kesempatan untuk beramal
denganberbagai jenisnya berupa infaq, shadaqah, zakat maupun santunan, kebaikan
itu menjadi pahala disisi Allah dengan pahala yang berlipatganda sebagaimana
firman Allah berikut;
1.Surat Al Baqarah 2;261
”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan
harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan
kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia
amat Mengetahui”.
2.Surat Ali Imran 3;92
”Kamu belum lagi mencapai kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa
yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan [dermakan] itu Allah
Mengetahui”.
Harta yang dikeluarkan di jalan Allah seperti membantu
kelancaran suatu pendidikan, membebaskan fakir miskin dari kesengsaraan,
membantu anak yatim, maka itu bukanlah pengeluaran yang sia-sia, akan tetapi
Allah akan menghitung dan memperhitungkan pahalanya yang sangat banyak, yang
diibaratkan sebutir biji yang menghasilkan tujuh ratus kebaikan. Allah sendiri
mengatakan bukanlah atau belum mencapai suatu kebajikan seandainya orang yang
beriman belum menafkahkan dari sebagian
harta yang paling dicintainya dan masih disukainya.
Di muka bumi
ini, di belahan mana pun, setiap haRi, setiap saat bahkan setiap detik selalu
saja ada ORang yang peRlu dikasihi kaRena tak mendapatkan bagian yang cukup
buat menyambung kehidupannya.Jalan sudah buntu,
bumi teRasa begitu sempit, pakaian hanya sekedaR yang melekat di badan, itupun
sudah lusuh, dan teRkadang sehaRian atau lebih, peRut keROncOngan dideRa lapaR
kaRena tak beRtemu nasi walaupun hanya sesuap. Bahkan di antaRanya ada yang hingga
kejang, sekaRat lalu mati. Jika dunia ini tak peRnah sepi daRi fenOmena tRagis
di atas –dan semua ORang yang meRenungkan pasti yakin demikian- tidakkah
teRketuk ORang-ORang yang masih punya hati di antaRa meReka yang beRkecukupan,
lalu menguluRkan deRma? Atau masihkah tetap tega menyaksikan kematian demi
kematian akibat kelapaRan atau minimal ketidaklayakan hidup, sementaRa diRinya
tetap teRus menimbun haRta? Tidakkah kita ikut meRenungkan senandung syaiR
Mahmud Hasan Al WaRRaq yang beRkata: ٍ“KuRenungkan tentang haRta dan penimbunannya, teRnyata
apa yang teRsisa itulah yang yang bakal binasa. Sedang yang kunafkahkan di
jalan kebaikan, baik secaRa ma’Ruf atau ihsan maka dialah yang kekal dan
kaRenanya aku dibalas (kebaikan), saat semua ORang dibeRi balasan.”
Al Hasan Al BashRi beRkata: َ“Sejahat-jahat teman adalah uang dan haRta-benda. Keduanya tidak akan beRmanfaat untukmu kecuali ketika keduanya beRpisah denganmu.”
HaRta adalah ni’mat. BaRangsiapa takut kepada Allah dalam masalah haRta,
lalu membelanjakannya sesuai dengan yang diRidhai-Nya, membeRi makan fakiR
miskin, seRta mengeluaRkannya untuk menOlOng agama Allah dan meninggikan
kalimatNya, niscaya Allah akan membeRinya Rizki daRi aRah yang tiada
disangka-sangkanya. Allah akan menjaganya dan membeRkahi keluaRga dan
anak-anaknya. Duhai alangkah bahagianya hamba ini, bahagia di dunia, juga
bahagia di akhiRat. Dan, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dipeRjualbelikan. Ia
adalah anugeRah Allah bagi hambaNya yang taat dan memenuhi peRintahNya.[Sedekah Membawa BeRkah,Khalid bin
NashiR Al Assaf, Anfiq Yunfiqillahu alaik:: Compiled by oRiDo™
::].
Rasulullah
bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan amal-amal buruk
(dosa) kemudian mengerjakan amal-amal baik (saleh), bagaikan seorang yang
memakai perisai perang sempit sehingga membuatnya terimpit.Ketika dia
mengerjakan satu amal baik, maka perisai itu terasa agak longgar
sedikit.Selanjutnya ketika dia mengerjakan satu amal baik lainnya, maka perisai
tersebut terasa semakin longgar, hingga orang itu meninggal dunia." (HR
Ahmad dari Uqbah bin Amir).
Kewajiban
manusia di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan menjauhi
amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di dunia dan di
akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan keburukan di
dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah amal yang baik
(saleh).Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS
al-Mu'minun [23] m: 51).
Amal
buruk harus dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus
meninggalkannya. Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini.Bahwa
melakukan amal buruk (dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam
perang yang makin mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering
melakukan amal buruk, maka baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya.
Apabila orang itu melakukan amal baik setelah melakukan amal buruk, maka ia
ibarat orang yang mengendurkan impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik
dilakukan, semakin longgar baju besi itu.
Apa
maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan
kesengsaraan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat.Kedua, buah dari
amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan
hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk
melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu
sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di manapun;
dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.[Fajar Kurnianto,Perumpamaan Amal,,Republika.co.id.Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 09:44:0].
DR.Saad Riyadh dalam tulisannya yang berjudul
Gemar Berinfak menyatakan;
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kedermawanan maupun
kebakhilan itu bertingkat-tingkat. Derajat kedermawanannya yang tertinggi
adalah sikap iitsar, yaitu tidk segan-segan berinfak kepada orang lain meski
diri sendiri sebetulnya memerlukannya. Sikap iisar dikatakan sebagai puncak
kedermawanan karena biasanya yang disebut dengan kedermawanan sebetulnya adalah
menafkahkan harta yang dibutuhkan. Hal ini sesungguhnya tidak begitu berat
dibandingkan seikap menafkahkan sesuatu kepada orang lain disaat diri sendiri
sesungguhnya membutuhkannya.
Adapun bentuk kebakhilan tertinggi adalah
bakhil terhadap diri sendiri padahal sedang berada dalam kebutuhan.Coba
perhatikan, betapa buruknya sikap seseorang yang tetap enggan mengeluarkan
hartanya untuk membeli obat padahal dirinya sedang sakit.Artinya, dia lebih suka
tetap dalam sakitnya ketimbang harus membeli oba. Contoh lain adalah seseorang
yang sebenarnya sangat menginginkan sesuatu- namun karena untuk mendapatkannya
harus mengeluarkan biaya-maka dia mengurungkan niatnya.
Dapat dikatakan bahwa berinfak sebetulnya merupakan
salah satu sarana untuk menyucikan badan maupun jiwa.Itulah sebabnya banyak
nasehat Rasulullah Saw dalam hal tersebut.Diantaranya sabda beliau, “Berusaha
keraslah menghindari api neraka meski hanya dengan [menyedekahkan] sebutir
kurma” [HR. Bukhari].
Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ketika
berada diatas mimbar dan menjelaskan tentang sedekah, sikap ta’affuf [menahan
diri dari meminta-minta sedekah] dan sikap meminta sedekah secara
terang-terangan, Rasulullah saw, bersabda,”Tangan diatas lebih baik dari tangan
di bawah.Tangan diatas adalah lambang dari orang yang memberi sedekah,
sementara tangan di bawah merupakan lambang bagi peminta-minta”.[HR.Bukhari].
Dalam hadits lain Rasulullah Saw,
bersabda,”Tidaklah seorang hamba bersedekah dari harta yang baik yang dia
miliki, karena Allah Swt tidak menerima kecuali yang baik-baik, melainkan Allah
Swt akan menyambutnya lansung dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekahnya itu
berupa sebutir kurma, misalnya, maka ia akan tumbuh subur di telapak tangan-Nya
sampai menjadi lebih besar dari gunung. Perumpamaannya adalah seperti jika sang
hamba tersebut memelihara anak sapi atau unta [yang tentu setiap waktu semakin
bertambah besar]’[HR. Tirmizi].
Beliau juga bersabda, “Tidak ada hasil usaha
yang lebih mulia bagi seorang hamba melebihi hasil kerjanya secara lansung
dengan tangannya sendiri. Apa saja yang dinafkahkan seorang suami, baik
terhadap dirinya, isteri, anak maupun pembantunya, maka nafkahnya tersebut
adalah sedekah baginya” [HR. Ibnu Majah].[Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah Saw,
Gema Insani, 2007].
Begitu
banyaknya peluang kebaikan yang disediakan oleh Allah, tapi hanya orang-orang
yang beriman saja yang mau dan mampu melakukannya, begitu juga begitu luasnya
peluang keburukan, tapi hanya orang-orang yang lalai saja melakukannya. Selain
amal wajib Allah juga menerima amal-amal sunnah yang telah dicontohkan oleh
Rasulullah,walaupun sunnah tapi bernilai pahala yang tinggi dan ganjaran luar
biasa;
Baginda Nabi SAW pernah bersabda
kepada Muadz bin Jabal ra., “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu
keba-jikan? (Yaitu) Shaum yang merupakan perisai; sedekah yang bisa menghapus
dosa/kesalahan sebagaimana air bisa mematikan api; dan shalat di penghujung
malam…” (HR at-Tirmidzi).
Hadits ini memang terkait dengan keutamaan ibadah-ibadah sunnah: shaum sunnah, infak sunnah dan shalat sunnah (shalat tahajud).
Hadits ini memang terkait dengan keutamaan ibadah-ibadah sunnah: shaum sunnah, infak sunnah dan shalat sunnah (shalat tahajud).
Pertama: shaum. Oleh Baginda Nabi
SAW, shaum dinyatakan sebagai perisai; maknanya adalah perisai dari perilaku
maksiat di dunia dan dari azab api neraka di akhirat (Ibn Rajab al-Hanbali,
30/1). Ini berlaku baik bagi shaum wajib pada bulan Ramadhan maupun shaum-shaum
sunnah di luar bulan Ramadhan. Di luar Ramadhan seorang Muslim bisa melakukan
shaum sunnah seperti: shaum enam hari di bulan Syawal, shaum Senin-Kamis, shaum
Dawud (sehari shaum-sehari tidak) dan shaum abyad (hari-hari 'putih'; tanggal
13, 14 dan 15 setiap bulan Qamariah). Karena itu, idealnya seorang
Muslim, meski Rama-dhan nanti telah usai, dianjurkan untuk banyak melakukan
shaum sunnah seperti di atas. Sebab, meski statusnya sunnah dan karenanya tidak
lebih utama dari shaum Ramadhan, shaum sunnah tetap merupakan salah satu pintu
kebajikan. Karena itulah, Baginda Rasul SAW pun banyak melakukan shaum sunnah.
Kedua: sedekah. Sedekah dinyatakan
oleh Baginda Nabi SAW dapat menghapus dosa/kesalahan, tentu jika dilakukan
dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.Namun demikian, hal ini tidak
berarti tidak mengharuskan seseorang untuk tidak perlu bertobat dari dosa dan
kesalahan.Sebab, tobat tetap wajib atas setiap dosa, besar ataupun kecil, bagi
setiap pendosa.Hadits ini hanya menjelas-kan salah satu dari keutamaan
bersede-kah. Lebih dari itu, di luar Ramadhan saja amal sedekah Allah SWT balas
dengan berlipat ganda (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 261), apalagi di
bulan Ramadhan. Karena itu, alangkah baiknya jika selama bulan Ramadhan ini
aktivitas bersedekah semakin ditingkatkan, baik jumlah maupun fre-kuensinya,
karena pahalanya pasti Allah SWT lipat gandakan berlipat-lipat.Pada bulan
Ramadhan ini, idealnya sedekah menjadi pintu kebajikan yang sering “dimasuki”
setiap Muslim.
Ketiga: shalat malam. Shalat malam
sesungguhnya telah menjadi ciri khas yang melekat pada generasi shalafush
shalih dan para ulama dulu maupun sekarang, juga ciri utama yang melekat pada para
mujahid dan pengemban dakwah.Karenanya, idealnya shalat malam pun menjadi ciri
yang menonjol bagi setiap Muslim yang bertakwa.Pada bulan Ramadhan ini, shalat
malam menjadi salah satu pintu kebajikan yang juga sering “dimasuki” setiap
Muslim. Selama Ramadhan, shalat tarawih paling tidak menjadi 'medium pelatihan'
untuk membiasakan diri melakukan shalat malam pada malam-malam selanjutnya di
luar Ramadhan. Sejatinya, di luar Rama-dhan, shalat malam (shalat tahajud) juga
biasa dilakukan oleh setiap Muslim, apala-gi aktivis dakwah. Betapa pentingnya
shalat malam bagi seorang Muslim, Allah secara langsung memerintahkannya da-lam
Alquran (QS al-Isra' [17]: 79).[Pintu-pintu Kebajikan Media Ummat; Thursday, 23
December 2010 10:47 arief b Iskandar].
Ada
sedekah yang akan tetap mengalir kepada pelakunya walaupun orang yang
melakukannya itu sudah meninggal bertahun atau berpuluh tahun, selama hasil
perbutannya itu masih dinikmati orang maka selama itu pula pahalanya akan
mengalir kepadanya, ini yang disebut dengan amal jariyah sebagaimana Rasulullah
bersabda, “Jika mati anak Adam maka putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu
anak yang shaleh yang mendoakan orangtuanya, ilmu yang bermanfaat dan sedekah
jariyah”, Allahpun menjelaskan dalam firman-Nya,"Sesungguhnya Kami
menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka
kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami
kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lawh
Mahfudz)."
(QS Yaasin [36]: 12).
Amal
seorang manusia setelah wafatnya terbagi beberapa bagian.Pertama, seseorang
yang meninggal dunia, maka kebaikan dan kejahatannya telah terputus.Dia tidak
mendapatkan apa-apa kecuali yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.
Kedua,
orang yang meninggal dunia, tetapi kebaikan dan keburukannya terus
berlangsung.Kelompok ini terbagi tiga, yakni seseorang yang meninggal, tetapi
kebaikan serta dosanya berlangsung terus.Maka, nasib orang ini di akhirat nanti
tergantung dari timbangan amal kebaikan dan keburukannya.Bila banyak kebaikannya,
surga tempatnya, dan bila banyak kejahatannya, neraka yang menjadi tempat
tinggalnya.
Kemudian,
orang yang meninggal dunia, tetapi kebaikannya terus mengalir. Dia akan
senantiasa mendapatkan pahala sesuai kadar dan kualitas keikhlasannya kepada
Allah. Beruntunglah orang yang demikian ini.Selanjutnya, orang yang meninggal
dunia dan timbangan kejahatannya terus membengkak.Alangkah buruknya nasib orang
yang seperti ini, alangkah malangnya ujung kehidupannya di sisi Allah.
Imam
al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin menyatakan, "Sungguh beruntung
orang yang meninggal dunia, maka putuslah dosa-dosanya.Dan sungguh celaka
seseorang yang meninggal dunia, tetapi dia meninggalkan dosa yang ganjaran
kejahatan terus berjalan tiada hentinya."Alangkah bahagianya mereka yang
memiliki amal jariyah dan alangkah sengsaranya seseorang yang menanam dosa
jariyah.[Samson Rahman,Dosa Jariyah
yang Terlupakan,Republika
co.id.Ahad, 10 Oktober 2010, 19:27 WIB].
Sedekah jariah adalah
sedekah yang mampu bertahan lama, pahalanya akan terus mengalir kepada orang
yang melakukannya walaupun sang pelaku sudah terkubur, seperti orang yang
membangun irigasi untuk kepentingan pengairan air sawah dan ladang, tanpa
irigasi tersebut sawah yang dikelola biasanya hanya sekali dua kali panennya dalam setahun, tapi setelah
pengairannya bagus, bisa panen sampai empat kali setahun, air yang mengalir
melalui irigasi itu menyuburkan tanaman di sekitarnya, juga untuk keperluan
kehidupan manusia, ini merupakan amal jariyah yang akan bertahan lama
pahalanya, selama irigasi itu masih bagus dan bermanfaat bagi orang lain maka
selama itu pula pahalanya disuplay Allah kepada hamba yang membangunnya, yang
sudah mengorbankan waktu, tenaga dan dananya untuk pembangunan itu.
Begitu juga orang yang
membangun jembatan sebagai sarana transportasi yang menghubungkan satu daerah
ke daerah lain, tanpa jembatan itu terlalu jauh dan lama perjalanan yang harus
ditempuh, jembatan itu akan mendatangkan pahala bagi orang yang membangunnya,
apakah yang menafkahkan semen atau material bangunanlainnya, atau yang telah
menyediakan waktu dan tenaganya untuk pembangunan jembatan itu,semua akan
mendapat pahala dari Allah sesuai dengan niat dan besar kecilnya pengorbanan
yang sudah diinfakkan.
Intinya sedekah jariah
adalah amal yang nampak, yang dapat dimanfaatkan manusia lainnya untuk
kepentingan umum sehingga dengan sedekahnya itu orang tertolong olehnya, masyarakat
terbantu dengannya. Apakah sedekah itu dikerjakan sendiri atau secara kolektif
yang penting manfaatnya besar bagi kemaslahatan ummat..Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 18 Desember
2011.M/ 22 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar