Kamis, 18 Februari 2016

245. Sedekah Jariyah



Selama masih hidup selama itu pula manusia diberi kesempatan untuk beramal denganberbagai jenisnya berupa infaq, shadaqah, zakat maupun santunan, kebaikan itu menjadi pahala disisi Allah dengan pahala yang berlipatganda sebagaimana firman Allah berikut;

1.Surat Al Baqarah 2;261
      ”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia amat Mengetahui”.

2.Surat Ali Imran 3;92  
      ”Kamu belum lagi mencapai kebajikan  sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan [dermakan] itu Allah Mengetahui”.

Harta yang dikeluarkan di jalan Allah seperti membantu kelancaran suatu pendidikan, membebaskan fakir miskin dari kesengsaraan, membantu anak yatim, maka itu bukanlah pengeluaran yang sia-sia, akan tetapi Allah akan menghitung dan memperhitungkan pahalanya yang sangat banyak, yang diibaratkan sebutir biji yang menghasilkan tujuh ratus kebaikan. Allah sendiri mengatakan bukanlah atau belum mencapai suatu kebajikan seandainya orang yang beriman  belum menafkahkan dari sebagian harta yang paling dicintainya dan masih disukainya.

Di muka bumi ini, di belahan mana pun, setiap haRi, setiap saat bahkan setiap detik selalu saja ada ORang yang peRlu dikasihi kaRena tak mendapatkan bagian yang cukup buat menyambung kehidupannya.Jalan sudah buntu, bumi teRasa begitu sempit, pakaian hanya sekedaR yang melekat di badan, itupun sudah lusuh, dan teRkadang sehaRian atau lebih, peRut keROncOngan dideRa lapaR kaRena tak beRtemu nasi walaupun hanya sesuap. Bahkan di antaRanya ada yang hingga kejang, sekaRat lalu mati. Jika dunia ini tak peRnah sepi daRi fenOmena tRagis di atas –dan semua ORang yang meRenungkan pasti yakin demikian- tidakkah teRketuk ORang-ORang yang masih punya hati di antaRa meReka yang beRkecukupan, lalu menguluRkan deRma? Atau masihkah tetap tega menyaksikan kematian demi kematian akibat kelapaRan atau minimal ketidaklayakan hidup, sementaRa diRinya tetap teRus menimbun haRta? Tidakkah kita ikut meRenungkan senandung syaiR Mahmud Hasan Al WaRRaq yang beRkata: ٍ“KuRenungkan tentang haRta dan penimbunannya, teRnyata apa yang teRsisa itulah yang yang bakal binasa. Sedang yang kunafkahkan di jalan kebaikan, baik secaRa ma’Ruf atau ihsan maka dialah yang kekal dan kaRenanya aku dibalas (kebaikan), saat semua ORang dibeRi balasan.” 

Al Hasan Al BashRi beRkata: َ“Sejahat-jahat teman adalah uang dan haRta-benda. Keduanya tidak akan beRmanfaat untukmu kecuali ketika keduanya beRpisah denganmu.”
HaRta adalah ni’mat. BaRangsiapa takut kepada Allah dalam masalah haRta, lalu membelanjakannya sesuai dengan yang diRidhai-Nya, membeRi makan fakiR miskin, seRta mengeluaRkannya untuk menOlOng agama Allah dan meninggikan kalimatNya, niscaya Allah akan membeRinya Rizki daRi aRah yang tiada disangka-sangkanya. Allah akan menjaganya dan membeRkahi keluaRga dan anak-anaknya. Duhai alangkah bahagianya hamba ini, bahagia di dunia, juga bahagia di akhiRat. Dan, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dipeRjualbelikan. Ia adalah anugeRah Allah bagi hambaNya yang taat dan memenuhi peRintahNya.[Sedekah Membawa BeRkah,Khalid bin NashiR Al Assaf, Anfiq Yunfiqillahu alaik:: Compiled by oRiDo™ ::].
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan amal-amal buruk (dosa) kemudian mengerjakan amal-amal baik (saleh), bagaikan seorang yang memakai perisai perang sempit sehingga membuatnya terimpit.Ketika dia mengerjakan satu amal baik, maka perisai itu terasa agak longgar sedikit.Selanjutnya ketika dia mengerjakan satu amal baik lainnya, maka perisai tersebut terasa semakin longgar, hingga orang itu meninggal dunia." (HR Ahmad dari Uqbah bin Amir).

Kewajiban manusia di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan menjauhi amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan keburukan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah amal yang baik (saleh).Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-Mu'minun [23] m: 51).

Amal buruk harus dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus meninggalkannya. Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini.Bahwa melakukan amal buruk (dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam perang yang makin mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering melakukan amal buruk, maka baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya. Apabila orang itu melakukan amal baik setelah melakukan amal buruk, maka ia ibarat orang yang mengendurkan impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik dilakukan, semakin longgar baju besi itu.

Apa maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan kesengsaraan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat.Kedua, buah dari amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di manapun; dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.[Fajar Kurnianto,Perumpamaan Amal,,Republika.co.id.Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 09:44:0].

DR.Saad Riyadh dalam tulisannya yang berjudul Gemar Berinfak menyatakan;
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kedermawanan maupun kebakhilan itu bertingkat-tingkat. Derajat kedermawanannya yang tertinggi adalah sikap iitsar, yaitu tidk segan-segan berinfak kepada orang lain meski diri sendiri sebetulnya memerlukannya. Sikap iisar dikatakan sebagai puncak kedermawanan karena biasanya yang disebut dengan kedermawanan sebetulnya adalah menafkahkan harta yang dibutuhkan. Hal ini sesungguhnya tidak begitu berat dibandingkan seikap menafkahkan sesuatu kepada orang lain disaat diri sendiri sesungguhnya membutuhkannya.

Adapun bentuk kebakhilan tertinggi adalah bakhil terhadap diri sendiri padahal sedang berada dalam kebutuhan.Coba perhatikan, betapa buruknya sikap seseorang yang tetap enggan mengeluarkan hartanya untuk membeli obat padahal dirinya sedang sakit.Artinya, dia lebih suka tetap dalam sakitnya ketimbang harus membeli oba. Contoh lain adalah seseorang yang sebenarnya sangat menginginkan sesuatu- namun karena untuk mendapatkannya harus mengeluarkan biaya-maka dia mengurungkan niatnya.

Dapat dikatakan bahwa berinfak sebetulnya merupakan salah satu sarana untuk menyucikan badan maupun jiwa.Itulah sebabnya banyak nasehat Rasulullah Saw dalam hal tersebut.Diantaranya sabda beliau, “Berusaha keraslah menghindari api neraka meski hanya dengan [menyedekahkan] sebutir kurma” [HR. Bukhari].

Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ketika berada diatas mimbar dan menjelaskan tentang sedekah, sikap ta’affuf [menahan diri dari meminta-minta sedekah] dan sikap meminta sedekah secara terang-terangan, Rasulullah saw, bersabda,”Tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah.Tangan diatas adalah lambang dari orang yang memberi sedekah, sementara tangan di bawah merupakan lambang bagi peminta-minta”.[HR.Bukhari].

Dalam hadits lain Rasulullah Saw, bersabda,”Tidaklah seorang hamba bersedekah dari harta yang baik yang dia miliki, karena Allah Swt tidak menerima kecuali yang baik-baik, melainkan Allah Swt akan menyambutnya lansung dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekahnya itu berupa sebutir kurma, misalnya, maka ia akan tumbuh subur di telapak tangan-Nya sampai menjadi lebih besar dari gunung. Perumpamaannya adalah seperti jika sang hamba tersebut memelihara anak sapi atau unta [yang tentu setiap waktu semakin bertambah besar]’[HR. Tirmizi].

Beliau juga bersabda, “Tidak ada hasil usaha yang lebih mulia bagi seorang hamba melebihi hasil kerjanya secara lansung dengan tangannya sendiri. Apa saja yang dinafkahkan seorang suami, baik terhadap dirinya, isteri, anak maupun pembantunya, maka nafkahnya tersebut adalah sedekah baginya” [HR. Ibnu Majah].[Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah Saw, Gema Insani, 2007].

Begitu banyaknya peluang kebaikan yang disediakan oleh Allah, tapi hanya orang-orang yang beriman saja yang mau dan mampu melakukannya, begitu juga begitu luasnya peluang keburukan, tapi hanya orang-orang yang lalai saja melakukannya. Selain amal wajib Allah juga menerima amal-amal sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah,walaupun sunnah tapi bernilai pahala yang tinggi dan ganjaran luar biasa;

Baginda Nabi SAW pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra., “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu keba-jikan? (Yaitu) Shaum yang merupakan perisai; sedekah yang bisa menghapus dosa/kesalahan sebagaimana air bisa mematikan api; dan shalat di penghujung malam…” (HR at-Tirmidzi).
Hadits ini memang terkait dengan keutamaan ibadah-ibadah sunnah: shaum sunnah, infak sunnah dan shalat sunnah (shalat tahajud). 

Pertama: shaum. Oleh Baginda Nabi SAW, shaum dinyatakan sebagai perisai; maknanya adalah perisai dari perilaku maksiat di dunia dan dari azab api neraka di akhirat (Ibn Rajab al-Hanbali, 30/1). Ini berlaku baik bagi shaum wajib pada bulan Ramadhan maupun shaum-shaum sunnah di luar bulan Ramadhan. Di luar Ramadhan seorang Muslim bisa melakukan shaum sunnah seperti: shaum enam hari di bulan Syawal, shaum Senin-Kamis, shaum Dawud (sehari shaum-sehari tidak) dan shaum abyad (hari-hari 'putih'; tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan Qamariah).  Karena itu, idealnya seorang Muslim, meski Rama-dhan nanti telah usai, dianjurkan untuk banyak melakukan shaum sunnah seperti di atas. Sebab, meski statusnya sunnah dan karenanya tidak lebih utama dari shaum Ramadhan, shaum sunnah tetap merupakan salah satu pintu kebajikan. Karena itulah, Baginda Rasul SAW pun banyak melakukan shaum sunnah.

Kedua: sedekah. Sedekah dinyatakan oleh Baginda Nabi SAW dapat menghapus dosa/kesalahan, tentu jika dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.Namun demikian, hal ini tidak berarti tidak mengharuskan seseorang untuk tidak perlu bertobat dari dosa dan kesalahan.Sebab, tobat tetap wajib atas setiap dosa, besar ataupun kecil, bagi setiap pendosa.Hadits ini hanya menjelas-kan salah satu dari keutamaan bersede-kah. Lebih dari itu, di luar Ramadhan saja amal sedekah Allah SWT balas dengan berlipat ganda (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 261), apalagi di bulan Ramadhan. Karena itu, alangkah baiknya jika selama bulan Ramadhan ini aktivitas bersedekah semakin ditingkatkan, baik jumlah maupun fre-kuensinya, karena pahalanya pasti Allah SWT lipat gandakan berlipat-lipat.Pada bulan Ramadhan ini, idealnya sedekah menjadi pintu kebajikan yang sering “dimasuki” setiap Muslim.

Ketiga: shalat malam. Shalat malam sesungguhnya telah menjadi ciri khas yang melekat pada generasi shalafush shalih dan para ulama dulu maupun sekarang, juga ciri utama yang melekat pada para mujahid dan pengemban dakwah.Karenanya, idealnya shalat malam pun menjadi ciri yang menonjol bagi setiap Muslim yang bertakwa.Pada bulan Ramadhan ini, shalat malam menjadi salah satu pintu kebajikan yang juga sering “dimasuki” setiap Muslim. Selama Ramadhan, shalat tarawih paling tidak menjadi 'medium pelatihan' untuk membiasakan diri melakukan shalat malam pada malam-malam selanjutnya di luar Ramadhan. Sejatinya, di luar Rama-dhan, shalat malam (shalat tahajud) juga biasa dilakukan oleh setiap Muslim, apala-gi aktivis dakwah. Betapa pentingnya shalat malam bagi seorang Muslim, Allah secara langsung memerintahkannya da-lam Alquran (QS al-Isra' [17]: 79).[Pintu-pintu Kebajikan Media Ummat; Thursday, 23 December 2010 10:47 arief b Iskandar].

Ada sedekah yang akan tetap mengalir kepada pelakunya walaupun orang yang melakukannya itu sudah meninggal bertahun atau berpuluh tahun, selama hasil perbutannya itu masih dinikmati orang maka selama itu pula pahalanya akan mengalir kepadanya, ini yang disebut dengan amal jariyah sebagaimana Rasulullah bersabda, “Jika mati anak Adam maka putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu anak yang shaleh yang mendoakan orangtuanya, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah”, Allahpun menjelaskan dalam firman-Nya,"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lawh Mahfudz)." (QS Yaasin [36]: 12).

Amal seorang manusia setelah wafatnya terbagi beberapa bagian.Pertama, seseorang yang meninggal dunia, maka kebaikan dan kejahatannya telah terputus.Dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.

Kedua, orang yang meninggal dunia, tetapi kebaikan dan keburukannya terus berlangsung.Kelompok ini terbagi tiga, yakni seseorang yang meninggal, tetapi kebaikan serta dosanya berlangsung terus.Maka, nasib orang ini di akhirat nanti tergantung dari timbangan amal kebaikan dan keburukannya.Bila banyak kebaikannya, surga tempatnya, dan bila banyak kejahatannya, neraka yang menjadi tempat tinggalnya.

Kemudian, orang yang meninggal dunia, tetapi kebaikannya terus mengalir. Dia akan senantiasa mendapatkan pahala sesuai kadar dan kualitas keikhlasannya kepada Allah. Beruntunglah orang yang demikian ini.Selanjutnya, orang yang meninggal dunia dan timbangan kejahatannya terus membengkak.Alangkah buruknya nasib orang yang seperti ini, alangkah malangnya ujung kehidupannya di sisi Allah.

Imam al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin menyatakan, "Sungguh beruntung orang yang meninggal dunia, maka putuslah dosa-dosanya.Dan sungguh celaka seseorang yang meninggal dunia, tetapi dia meninggalkan dosa yang ganjaran kejahatan terus berjalan tiada hentinya."Alangkah bahagianya mereka yang memiliki amal jariyah dan alangkah sengsaranya seseorang yang menanam dosa jariyah.[Samson Rahman,Dosa Jariyah yang Terlupakan,Republika co.id.Ahad, 10 Oktober 2010, 19:27 WIB].

Sedekah jariah adalah sedekah yang mampu bertahan lama, pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang melakukannya walaupun sang pelaku sudah terkubur, seperti orang yang membangun irigasi untuk kepentingan pengairan air sawah dan ladang, tanpa irigasi tersebut sawah yang dikelola biasanya hanya sekali  dua kali panennya dalam setahun, tapi setelah pengairannya bagus, bisa panen sampai empat kali setahun, air yang mengalir melalui irigasi itu menyuburkan tanaman di sekitarnya, juga untuk keperluan kehidupan manusia, ini merupakan amal jariyah yang akan bertahan lama pahalanya, selama irigasi itu masih bagus dan bermanfaat bagi orang lain maka selama itu pula pahalanya disuplay Allah kepada hamba yang membangunnya, yang sudah mengorbankan waktu, tenaga dan dananya untuk pembangunan itu.

Begitu juga orang yang membangun jembatan sebagai sarana transportasi yang menghubungkan satu daerah ke daerah lain, tanpa jembatan itu terlalu jauh dan lama perjalanan yang harus ditempuh, jembatan itu akan mendatangkan pahala bagi orang yang membangunnya, apakah yang menafkahkan semen atau material bangunanlainnya, atau yang telah menyediakan waktu dan tenaganya untuk pembangunan jembatan itu,semua akan mendapat pahala dari Allah sesuai dengan niat dan besar kecilnya pengorbanan yang sudah diinfakkan.

Intinya sedekah jariah adalah amal yang nampak, yang dapat dimanfaatkan manusia lainnya untuk kepentingan umum sehingga dengan sedekahnya itu orang tertolong olehnya, masyarakat terbantu dengannya. Apakah sedekah itu dikerjakan sendiri atau secara kolektif yang penting manfaatnya besar bagi kemaslahatan ummat..Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 18 Desember 2011.M/ 22 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar