Ayat pertama
sekali turun kepada Nabi Muhammad Saw berbunyi “Iqra’” artinya bacalah, bukan
perintah untuk shalat, puasa atuapun menunaikan zakat. Ayat itu dituangkan
dalam suratke 96 Al Alaq ayat 1-5 yang menyatakan;
1.
bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Demikian pentingnya perintah membaca
yang diungkapkan Allah dalam firman-Nya sehingga menunda kewajiban lainnya,
dengan membaca akan menambah wawasan, memperluas ilmu dan cakrawala, meneguhkan
iman serta memperbanyak ilmu pengetahuan, bahkan seorang mukmin senantiasa
dituntut untuk mengkaji, meneliti, mengeksplorasi, belajar dan mengajar agar
hidup lebih beradab sesuai dengan tuntunan islam.
“Tidak
wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan
kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata):
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu
mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ [Ali Imran
3;79].
Membaca
merupakan jalan untuk memperoleh ilmu dan meningkatkan iman serta memotivasi
untuk beribadah, prilaku ini akan membuahkan peradaban, suksesnya seseorang dan
jayanya sebuah ummat karena memperhatikan adabnya, kegemaran membaca terhadap anak sebaiknya dimulai sejak dini
sehingga dikala mereka sudah duduk di bangku sekolah sudah menjadi kebutuhan,
orangtua harus memberikan beberapa kiat agar anaknya kelak rajin membaca yang
otomatis akan menjadi sumber berbagai ilmu.
Tak ada kerugian sedikitpun atas
kegemaran membaca.Dengan catatan, buku yang dibaca memberi pencerahan positif.Kenalkan
dengan buku sedini mungkin, sejak anak masih bayi, bahkan ketika masih di dalam
kandungan. Berdasarkan penelitian, bayi yang terbiasa diajak berkomunikasi dan
dibacakan cerita (bahkan sejak di dalam kandungan) akan punya kemampuan bahasa
lebih tinggi dibandingkan bayi yang didiamkan saja. Jadi, jangan tunggu sampai
anak bisa membaca sendiri.
Sediakan buku-buku yang memberikan
inspirasi, motivasi dan mengandung banyak faedah di rumah.Jika anak sudah punya
selera soal buku, belikan yang memang diminatinya. Mungkin ia tertarik membaca
karena pernah pinjam temannya. Buku mahal, tapi tak dibaca anak, tidak ada
gunanya.Jadi, agar wawasan anak berkembang, tidak terpaku pada minat bacanya
terhadap buku-buku tertentu, belilah dua buku, satu buku pilihan anak dan
satunya tambahan pilihan Anda.
Ketika terjadi perang Salib yang
berlansung puluhan tahun antara ummat Islam dan kaum Nasrani, Andalusia yang
merupakan gudang ilmu pengetahuan, ribuan jumlah buku yang ditulis para ulama
yang berkaitan dengan ilmu keislaman dan sain jadi sasaran untuk dihancurkan
oleh kaum Salibis, mereka hancurkan dengan membakar semua buku-buku yang
berkaitan dengan syariat kemudian mereka ambil buku-buku sain untuk mereka
pelajari, dari itu mereka menjadi maju dari segi ilmu dan peradaban dunia
mengalahkan ummat islam.
Padahal untuk punya peradaban yang
baik tidak hanya memiliki ilmu sain saja tapi juga harus diikuti dengan ilmu
syariat, peradaban tanpa wahyu tidak
akan bertahan lama, peradaban tanpa bimbingan Ilahi akan hancur, kehidupan akan
gersang dan tidak terarah.
Begitu
pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam,
tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini
dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham
bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya.
Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada
Allah. Jika dikatakan menyebutkan, manusia yang paling mulia di sisi Allah
adalah yang paling taqwa, maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat
kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Itu
adab kepada manusia.
Adab terkait dengan iman dan ibadah
dalam Islam. Adab bukan sekedar ”sopan santun”. Jika dimaknai sopan
santun, bisa-bisa ada orang yang menuduh Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang
tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, ”Sesungguhnya aku
melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi,
jika hanya berdasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu
’anil munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Padahal,
dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah.Ukuran seorang
beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan-santun menurut
manusia.Seorang yang berjilbab di kolam renang bisa dikatakan berperilaku tidak
sopan, karena semua perenangnya berbikini.
Perkataan adab,
menurut al Attas, memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada
awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan,yang di dalamnya
sudah terkandung ide mengenai hubungan social yang baik dan mulia. Namun adab
kemudian digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang
merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dan kemasyarakatan.
Menurut Wan Daud, filosof terkenal, Al Farabi juga mendefinisikan ta’dib
sebagai aktivitas yang memproduksi suatu karakter yang bersumber dari sikap
moral. Maka, sebenarnya, makna kedua istilah, ta’lim dan tarbiyah telah
tercakup di dalam istilah ta’dib. Ibnul Mubarak menyatakan: “Kita lebih
memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”
Jika adab hilang
pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti
hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia
dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin
bisnis, pemimpin masyarakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang
institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih
parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor: ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan,
pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan
keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan
sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”
Sikap boros dalam menggunakan kekayaan
negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada
pencopotan dari jabatannya.[Diringkas dari
tulisan Adian Husaini, Belajarlah,
Agar Beradab! ,
Hidayatullah.com.Senin, 03 Mei 2010 04:47].
Islam
mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum
lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari.
Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari
ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam
hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi
dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.
Di Cina pada
masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga
layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan
Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai
alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah
untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina
berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun
Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana.
Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin,
sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain
sebagainya, hal itu semua diawali dari aktivitas membaca, dengan membaca
menjadikan orang berilmu dan beradab sehingga memperoleh kemajuan dan peradaban
lebih maju dari orang yang enggan belajar dan tidak mau membaca. Rasulullah
bersabda; "Barangsiapa yang ingin kebahagiaan hidup di dunia maka
raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di akherat maka raihlah
dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan di akherat maka raihlah
dengan ilmu".
Rasulullah bersabda; "Sendi
tegaknya dunia ada empat; ilmunya para ulama, keadilan pemerintah, dermawannya
orang kaya dan do'anya orang fakir.Niscaya kalau bukan karena ilmunya para
ulama maka rusaklah orang-orang yang bodoh, kalau tidak karena kedermawanan
orang kaya niscaya lenyapnya orang fakir, kalau tidak karena keadilan
pemerintah niscaya orang akan saling tindas menindas sebagai Srigala makan
kambing".
Kemajuan peradaban karena membaca dan
belajar akan meningkatkan kualitas suatu bangsa, diantaranya terlihat dari
semakin baiknya sarana belajar yang disediakan, kalaulah dahulu Rasulullah
diperintahkan membaca melalui tuntunan dari Malaikat Jibril yang kemudian oleh
para sahabat ditulis pada pelepah kurma, kulit-kulit binatang yang sudah
dikeringkan dan pada batu-batu yang dapat digunakan untuk menulis, dari
lembaran-lembaran itu dikumpulkan menjadi sebuah kitab atau buku. Hasil bacaan
atau yang kemudian menjadi sumber ilmu itu disebut dengan buku, selayaknya
dijaga dengan baik keutuhannya melalui penjagaan oleh pemiliknya.
Cara menjaga dan menghormati buku
itu adalah menatanya dengan baik sehingga dikala dibutuhkan mudah mencarinya,
membawanya dengan sikap baik tidak sebagaimana membawa barang lain yang
terkesan dilecehkan, begitu juga halnya agar ilmu itu tersimpan rapi dalam buku
yang ditulis oleh murid dari transfer ilmu sang guru maka harus ditulis dengan
tulisan yang jelas sehingga mudah dan enak dibaca.
Al Qur'an adalah Kitab yang
mengandung banyak ilmu di dalamnya, merupakan wahyu Allah yang harus dijaga
oleh ummatnya dengan jalan membacanya, mempelajarinya dan mengamalkannya,
walaupun sebenarnya Allah sendiri menjaga Kitab ini “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan
Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya “ [Al Hijr 15;9].
Secara tersurat atau tertulis Allah telah mewahyukan
kepada Nabi Muhammad Al Qur’an sebagai pelajaran, di dalamnya banyak terdapat
pelajaran berharga bagi ummat untuk diambil hikmahnya sebagai bahan renungan
dalam kehidupan, diantara pelajaran yang dapat dibaca diantaranya adalah
kehancuaran ummat-ummat terdahulu yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya serta
pelajaran tentang terjadinya bencana.
Seperti digambarkan dalam
Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan
petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada
manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah
Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak
risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan
hidupnya.Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang
umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya
dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah
Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)
Tentu, yang pertama dilaknat
oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya
yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih
mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan
Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul.Inilah
yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis,
yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan
ketakwaannya.Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang
sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)
Makhluk yang diciptakan oleh
Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang
terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah
kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan
kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang
diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan
kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).
Selanjutnya, kisah Nabi Nuh
As, mengaja umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan
beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan
Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus
mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa
datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf
: 59, 60, 64).
Kaum Nabi Hud As, yang dikenal
dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola
ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang
kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang
waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan
tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian
dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat,
datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh
tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang
dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).
Kisah berikutnya, kaumnya Nabi
Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti
unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya
Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud
luluh lantak.[Mashadi, Belajarlah
Dari Kehancuran Kaum Terdahulu, Eramuslim.com.Senin, 16/08/2010 14:02 WIB].
Banyak
pelajaran yang dapat dipetik dari membaca, apakah membaca yang tersurat pada
tulisan atau membaca kejadian yang ada di alam ini, sehingga pendapat
mengatakan,”alam terkembang jadi guru’’ artinya banyak hal yang dapat dipetik
dari peristiwa alam bila kita pandai membacanya.
Gejala-gejala
alam seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami diartikan sebagian besar oleh kita
sebagai petaka. Musibah atau petaka diibaratkan sebagai tamu yang kehadirannya
sama sekali tidak pernah diharapkan. Dalam Aquran kita temukan banyak ayat yang
membicarakan fenomena alam seperti itu.
Di
antaranya, ayat-ayat yang bercerita perihal hari kiamat. Seperti firman Allah
dalam QS al-Zalzalah [99]: 1-2, "Apabila bumi itu diguncang dengan
guncangan yang dahsyat, dan bumi juga pada waktu itu mengeluarkan segala apa
yang ada di dalamnya." Ayat tersebut secara umum menceritakan ada dan
betapa dahsyatnya gempa bumi yang terjadi di penghujung hari akhir nanti, di
samping juga mengabarkan kepada kita bahwa gempa ituterjadi karena kuasa-Nya.
Bencana
yang tidak kalah dahsyatnya selain gempa bumi adalah tsunami. Dalam Alquran
telah diceritakan bahwa petaka ini telah menimpa kaum Nabi Nuh AS dengan bentuk
banjir air bah yang sangat besar. Hal itu terjadi tatkala umatnya telah
berperilaku melampaui batas dan tidak mau mengikuti apa yang telah Allah
ajarkan melalui nabi-Nya.
Bila
kita kembalikan kepada kehidupan kita sekarang ini, petaka atau musibah yang
terjadi sering kali membuat kita takut dan menimbulkan kegelisahan yang
berlebihan.Bahkan, melahirkan suatu penyakit yang membuat kita lupa bahwa itu
semua terjadi karena izin dan kehendak Allah SWT.
Musibah,
apa pun bentuknya, itu adalah ujian bagi orang-orang beriman yang datang dari
Allah. Sejauh mana seorang hamba mampu bersabar hidup pascaterjadinya bencana.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah [2]: 155, "Sungguh kami (Allah)
akan benar-benar menguji kamu dengan sesuatu yang berupa ketakutan dan
kelaparan dan kekurangan dari harta benda, kehilangan jiwa (orang yang kamu
sayang), dan buah-buahan dan kabar gembiralah bagi orang-orang yang
sabar."
Namun,
musibah ini tentunya berbeda bagi orang-orang yang ingkar dan kerap melakukan
maksiat kepada Allah.Musibah bagi mereka adalah teguran sekaligus azab sebagai
wujud kezaliman yang telah mereka lakukan.Karena kefasikan itulah Allah
mengazab mereka. Hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT dalam QS al-Isra
[17]: 16, "Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami
perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah),
tetapi bila merajalela dan melakukan kedurhakaan (di negeri itu), maka
berlakulah perkataan (hukuman) kami, kemudian kami benar-benar binasakan negeri
itu."
Cepat
tanggap dalam menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan adalah penting,
apalagi jika itu berkaitan dengan musibah atau bencana yang menelan banyak
korban.Pada saat itulah nurani kita sebagai manusia dipanggil untuk berbagi dan
ikut merasakan penderitaan saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Tidak
sekadar menonton pilunya tangisan mereka, tetapi kita mesti mampu membaca pesan
yang tersirat di balik bencana.[Arsyad Abrar, Hikmah: Membaca
Bencana,
Republika.co.id. Jumat, 18 Maret 2011, 06:31 WIB].
Kalaulah
ummat islam menjadikan perintah pertama yaitu “Iqra” sebagai sebuah kewajiban
mutlak pada diri dan keluarga hingga bangsa dan ummat ini maka banyak
pengetahuan yang akan diraihnya, tidak sedikit ilmu dan keahlian yang dikuasai
dan tidak sulit lagi para da’i mendakwahkan islam ini kepada mereka karena
sebagian besar ummat ini sudah berilmu, prihal ummat islam hari ini adalah
masalah ilmu karena tidak mau membaca dan enggan belajar, lihatlah kenapa
mereka tidak mau menjalan agama, tidak shalat dan puasa, tidak mau meninggalkan
maksiat dan dosa, melakukan syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul, semuanya karena
ummat ini tidak mau membaca, tidak mau belajar sehingga ilmu agama yang
dimiliki sangat minim, sebuah ungkapan ada yang mengatakan,”bila anda membaca
maka menulislah dan bila anda menulis maka membacalah”, wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 24 Juli 2011.M/22 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar