Ketika saya berada di kampung dan
terakhir hal itu juga nampak di kota, saat melaksanakan shalat di masjid
di depan rumah nenek, lansung mereka
menyebut saya orang Muhammadiyah karena masjid itu memang dikelola oleh
pengurus Muhammadiyah, pelaksanaan shalat subuhnya tidak membaca do’a qunut,
tidak ada zikir dan do’a secara bersama-sama, zikir dilakukan dengan
sendiri-sendiri, begitu juga ketika ada
undangan untuk menyampaikan khutbah jum’at, sang panitia menyampaikan pesan
kepada saya bahwa masjid itu bukan Muhammadiyah, artinya dalam menyampaikan
khutbah pada saat shalawat kepada nabi membaca ‘’Sayidina” dan shalatnyapun
menzhaharkan “Basmalah”.
Apalagi acara adat istiadat yang selama ini
sudah dianggap ibadat seperti memperingati hari kematian, berziarah ke makam
tertentu untuk memohon doa dan mencari
berkah, menyanjungkan doa dengan membakar kemenyan dan sekian lagi
ritual yang penuh dengan bid’ah, kurafat, syirik dan tahyul, maka hal itu tidak
ada dilakukan oleh orang-orang yang komit dengan ajaran dan ajakan Muhammadiyah
yang bersumber dari keaslian dakwah nabi Muhammad Saw.
Itulah sekilas pandangan masyarakat
tentang Muhammadiyah yang tidak sama dengan aktivitas islam yang biasa
dilakukan oleh masyarakat islam yang awam lainnya yang dikenal dengan islam
tradisional atau disebut juga dengan orang NU. Kini Muhammadiyah sudah berusia
satu abad, sudah banyak kerja-kerja
positif yang dikerjakan oleh pengurus dan jamaahnya sejak dari Pusat hingga
ranting di pedesaan dan tidak sedikit pula ujian dan fitnah menderanya.
Seratus tahun telah berlalu, ketika
KH Ahmad Dahlan memprakarsai berdirinya Muhammadiyah, salah satu organisasi
Islam terbesar di Indonesia.Dalam perjalanannya, sudah tentu banyak pengabdian
yang diberikan kepada bangsa dan negara, terutama melalui bidang pendidikan.
Muhammadiyah lebih dikenal didalam penyelenggaraan pendidikan modern, dari
taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Jumlahnya, mungkin sudah tidak
terhitung.Selain itu, juga didalam bidang sosial dan kesehatan.Berapa rumah
yatim dan juga rumah sakit telah dibangun, sangat mudah dikenal
masyarakat.Semua itu, tidak hanya harus dipelihara, tetapi juga
dikembangkan.Dan dengan perubahan zaman, tantangannya juga semakin besar dan
kompleks.
Tidak berlebih, kalau disaat usia 100 tahun ini kita
mengenang beberapa kata mutiara yang disampaikan oleh pendiri Muhammadiyah. Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan hidup dari Muhammadiyah, begitu pesan KH Ahmad
Dahlan.Pesan KH Ahmad Dahlan itu, untuk ukuran zaman sekarang, mungkin dianggap
terlalu idealistis.Namun, harus tetap dipegang teguh, tanpa mengabaikan aspek
profesionalisme dalam pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan, sosial, dan
kesehatan Muhammadiyah.Kalau mengabaikan aspek profesionalisme didalam
pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan/sosial/kesehatan yang dimiliki, bisa
saja lembaga-lembaga itu justru sulit mempertahankan keberadaannya.Dalam
batasan itulah (barangkali) kita mempersepsikan pesan KH Ahmad Dahlan di era
glabalisasi ini.
Selain itu, disaat memasuki abad ke
II, tidak ada jeleknya kita melakukan evaluasi, bahkan introspeksi, terhadap
pencapaian Muhammadiyah dalam satu abad ini.Tidak berlebih, terasa ada yang
hilang.Dulu, ada gerakan Kepanduan (Hizbul Wathan dan Nasyiatul Aisiyah), yang
menjadi tempat persemaian generasi muda Muhammadiyah dan bangsa.Sekarang,
keduanya sudah tidak terdengar.Dulu, ada klub sepakbola HW, yang juga telah
menyumbang beberapa pemain nasional.Sekarang, klub sepakbola itu sudah tidak
ada lagi.Dapatkah diartikan dua kegiatan itu dihapuskan saja?Sehingga menjadi
bagian sejarah Muhammadiyah?Atau direvitalisasi, sehingga perlu dihidupkan
kembali dengan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman?Ditengah fenomena
krisis karakter bangsa, masalah ini perlu memperoleh pemikiran kembali.
Terakhir, barangkali perlu disampaikan catatan di sekitar Muhammadiyah dan politik.Bahwa Muhammadiyah sering ditarik-tarik ke politik, rasanya sulit dihindari.Tetapi, politik praktis bukanlah wahana yang cocok bagi Muhammadiyah. Meskipun tarikan ke politik itu akan semakin besar dan semakin menggunakan berbagai cara yang semakin canggih, alhamdulillah masih bisa dicegah. Tugas Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang baru, yang mungkin paling berat adalah mempertahankan khittah Muhammadiyah sebagai organsiasi dakwah dan pembaruan yang nonpraktis politik.Sebab, ketika memasuki dunia politik, Muhammadiyah bisa saja kehilangan jatidirinya yang hakiki. Muhammadiyah akan kehilangan sifat inklusifnya, sifat moderatnya, independensinya yang justru bisa mengganggu perkembangan amal Muhammadiyah.(Sulastomo, Pelita Hati, Harian Pelita).
Di
tengah usianya yang semakin tua, dan merebaknya ribuan amal usaha Muhammadiyah,
sebagai sesama Muslim, kita wajib memberikan taushiyah, saran, dan kritik
terhadap organisasi Islam yang memiliki jutaan pengikut dan simpatisan ini.
Kebesaran Muhammadiyah tidak diragukan lagi.Berbagai prestasi dakwah sudah
dicapainya.Kini, tugas besar Muhammadiyah adalah melakukan introspeksi dan
memperbaiki kondisi internalnya.
Adalah
ironi, jika warga Muhamamdiyah begitu aktif membangun dan merawat amal usaha,
dalam rangka menegakkan dakwah Islam, justru sebagian tokoh Muhammadiyah
mengotori aktivitas dakwah dengan menyebarkan paham-paham yang menyesatkan umat
Islam.
Kondisi
seperti ini tentu saja sangat serius dan tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.
Ibarat virus dan penyakit, jika dibiarkan dan tidak diobati, akan dengan
leluasa menyebar dan menggerogoti sendi-sendi pertahanan tubuh Muhammadiyah.
Sebagai
seorang yang lahir dari Bapak seorang aktivis Muhammadiyah, saya merasakan
betapa pedihnya hati para aktivis Muhammadiyah, jika Muhammadiyah akhirnya
justru menjadi alat penyebaran paham-paham yang destruktif terhadap
Islam.Penyebaran paham-paham sesat adalah bentuk kejahatan dan kemunkaran yang
sangat besar. Semoga pimpinan Muhammadiyah menyadari hal ini dan segera
menjalankan kewajiban “amar ma’ruf nahi munkar” dimulai dari dalam
tubuhnya sendiri.
Selain
aktif dalam ribuan amal usaha (al-amru bil-ma’ruf), para aktivis Muhammadiyah
juga wajib menjalankan aktivitas mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘anil munkar).
Rasulullah saw sudah mengingatkan:“Hendaklah kamu menyuruh yang ma’ruf dan
mencegah yang munkar, atau (jika tidak kamu lakukan), maka Allah akan
memberikan kekuasaan atas kamu kepada orang-orang yang jahat diantara kamu, dan
kemudian orang-orang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka.”(HR
al-Bazzar dan al-Thabrani).
Adalah
sayang, jika hanya karena sebagian aktivisnya yang berbuat munkar, lalu sebuah
organisasi atau komunitas terkena getahnya. Rasulullah saw menjelaskan: “Tidaklah
(sebagian) dari suatu kaum yang berbuat maksiat, dan di kalangan mereka ada
orang yang mampu mengingkarinya kepada mereka, lalu dia tidak berbuat,
melainkan hampir-hampir Allah meratakan dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu
Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).[Adian
Husaini"Menangisi Muhammadiyah", Hidayatullah.com.Sabtu, 25 Juni 2005].
Dalam perjalanan dan perkembangan
Muhammadiyah yang usianya telah mencapai satu abad ini, maksud dan tujuan
Persyarikatan Muhammadiyah telah diselewengkan oleh Para Tokoh dan aktivis
Muhammadiyah yang mengaku dirinya sebagai seorang cendekiawan dan intelektual
muslim, malah mereka ini telah jahil terhadap akidah dan syariat.
Orang-orang yang jahil terhadap
akidah dan syariat ini memeiliki sifat, diantaranya tidak ikhlas dalam berilmu
tapi mengharapkan harta duniawi, kedudukan atau jabatan dengan ilmunya.Ibnu
Qudamah berkata, "Ulama yang jelek adalah yang punya maksud dengan ilmunya
untuk bernikmat-nikmat dengan dunia mencapai kedudukan disisi ahli dunia."
Belakangan, gerak langkah perjuangan
pemurniah Al-Qur'an di tubuh Muhammadiyah itu tercoreng dengan lahirnya
generasi baru yang terjangkiti virus paham sekuleris-liberalisme, yang menjadi
hamba kaum orientalis..Belakangan, muncullah anak-anak muda Muhammadiyah
seperti JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah).Mereka adalah anak-anak
muda Muhammadiyah yang justru punya sikap phopi terhadap syari'at Islam.
Kemunculan gerakan seperti ini di
Muhammadiyah pada dasarnya justru bertentangan dari segi pemikiran dan
cita-cita Muhammadiyah yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan. Mereka mengaku
ingin melakukan reformasi dengan alasan perlunya ijtihad selebar-lebarnya,
namun hanya bersandarkan pada akalnya dan membuang Al-Qur'an dan Hadist. Mereka
mengaku sebagai para pemikir agama yang brilian, ingin membangun ummat Islam
dari tidur mereka dan dari keterbelakangan, namun di sisi lain, mereka
menganggap Islam sama dengan Yahudi dan Nasrani.
Ide campur-aduk yang kerap mereka
sebut dengan istilah 'Pluralisme Agama" itulah yang hari ini menjadi agama
mereka.Mereka menolak klaim Al-Qur'an, bahwa Islam lah agama terakhir untuk
menyempurnakan agama-agama terdahulu.
Tokoh teras Muhammadiyah, Dr. Abdul
Munir Mulkan, bahkan melarang umat Islam mengatakan Islam sebagai satu-satunya
agama yang paling benar.Dia mengistilahkan, surga terdiri dari banyak pintu,
dan semua agama bisa memasukinya.Penyesatan ide dan gagasan inilah yang kini
sedang dikembangkan di Muhammadiyah.
Akibat buruk yang disebar oleh virus
JIL di Muhammadiyah, sekarang ini, mengakibatkan akidah dan syariat
Muhammadiyah semakin tidak jelas.Karena sudah tercampur dengan syubhat dan
syahwat. Akibatnya, di Muhammadiyah, kini, yang haq menjadi samar-samar bahkan
menjadi bathil, dan sebaliknya yang bathil menjadi haq dalam pandangan warga
Muhammadiyah yang terfitnah.
Dengan Syubhatnya pula, tauhid
Muhammadiyah yang benar dan lurus yang selama ini dipegang dan dipahami warga
Muhammadiyah menjadi syirik dan sebaliknya syirik menjadi tauhid. Sunnah yang
selama ini dipegang dan menjadi ciri khas warga Muhammadiyah menjadi luntur
bahkan menjadi bid'ah dan berbalik yang sunnah menjadi bid'ah.
Yang sangat memprihatinkan, justru
pikiran-pikiran sekuler-liberalisme semacam itu justru diusung oleh tokoh-tokoh
Muhammadiyah yang banyak dikenal di masyarakat.
Ada banyak orang selain Abdul Munir
Mulkan yang kini 'bersarang' di tubuh Muhammadiyah.Yang jelas, ciri-ciri umum
mereka bisa dibaca dengan tiga hal.
Pertama, Mereka sengaja meruntuhkan
berbagai keilmuan barometerik yaitu ilmu-ilmu tafsir berdasarkan riwayat dan
kaidah-kaidahnya ilmu ushul fiqih dan ilmu musthalaha hadits.
Kedua, Mereka menolak hadits-hadits
shahih secara parsial atau totalitas
dengan alasan demi menyelaraskan hadits-hadits itu dengan logika (akal),
kepentingan ummat dan kondisi masyarakat modern.
Ketiga, mereka menolak sunnah
kontekstual yang tidak aplikatif yakni yang berkaitan khusus dengan urusan
hukum politik serta masyarakat secara umum.
Keempat, pembaharuan (takdid)
menurut mereka adalah melepaskan diri dari kungkungan syariat menuju keharibaan
undang-undang positif yang dapat merealisasikan mekerdekaan dan kemajuan hidup.
Karena itu, umumnya, mereka sengaja
menyerang ajaran fiqih dan para ulama fiqih tanpa tedeng aling-aling.[Choirul Hisyam, "Pembusukan"
di Tubuh Muhammadiyah, Hidayatullah.com.
Kamis, 09 Juni 2005].
Perjalanan sejarah yang panjang
pasti akan terjadi perubahan dimana-mana, apakah perubahan itu positif ataupun
negatif, perubahan yang positif dinyatakan sebagai kemajuan dan keberhasilan
sebuah lembaga atau organisasi, sedangkan perubahan negative yang mendatangkan
kerusakan dan kehancuran pada organisasi tersebut, jangankan sebuah organisai
sedangkan sebuah agama tauhid saja sebagaimana Yahudi,Nasrani dan Islam
mengalami hal itu, adanya usaha-usaha dari tangan-tangan jahil dan musuh-musuh
kebenaran untuk merusak ketiga agama itu, termasuk islam dimana saja selalu
dirusak dan diracuni oleh virus-virus kesesatan yang menyesatkan ummat dan
merusak islam.
Begitu juga dengan organisasi
sebagaimana Muhammadiyah adanya orang-orang yang gatal untuk mengacak-acaknya
dengan berbagai pemikiran seperti pemikiran liberal dan sekuler.
Sejak berdirinya tahun 1912,
pendiri dan tokoh-tokoh Muhammadiyah mungkin tidak ada yang berpikir, bahwa
suatu ketika, akan muncul dari tubuh organisasi ini berbagai pemikiran
yang meruntuhkan bangunan Islam. Tetapi, kenyataannya, saat ini tidaklah
demikian.Begitu banyak ide-ide yang diluncurkan lembaga dan sebagian tokoh
Muhammadiyah yang “aneh-aneh” dan tidak
masuk akal sehatnya kaum Muslim. Tidak jarang ide itu mengatasnamakan lembaga resmi Muhammadiyah maupun mencatut nama pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, seolah-olah pendiri Muhammadiyah ini adalah tokoh pluralisme.
masuk akal sehatnya kaum Muslim. Tidak jarang ide itu mengatasnamakan lembaga resmi Muhammadiyah maupun mencatut nama pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, seolah-olah pendiri Muhammadiyah ini adalah tokoh pluralisme.
Hari Jumat (3 Juni 2005), seorang
tokoh Muhammadiyah yang juga Ketua Dewan Direktur Center for Moderate Muslim
(CMM), dr. Tarmizi Taher, menulis artikel di Harian Republika dengan judul
“Memetik Nilai-nilai Pluralisme dari KH Ahmad Dahlan”. Penulis artikel ini
tidak bisa membedakan antara “toleransi” dengan “pluralisme”, yang merupakan
paham (isme) tertentu dalam melihat pluralitas agama. Paham ini diakui
oleh kalangan agamawan merupakan paham yang destruktif terhadap semua agama,
sehingga Vatikan secara resmi menolaknya pada tahun 2000. Tetapi, aneh dan
ajaib, dari tubuh Muhammadiyah bisa muncul dukungan terhadap paham pluralisme.
Kekeliruan Tarmizi tampak semakin
jelas, ketika ia mengajak umat Islam untuk membuat tafsir al-Quran dalam
bingkai pluralisme. Misalnya, QS 9:29, “Perangilah orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah”, menurut dia, akan berdampak buruk jika dipahami secara
tekstual. Ayat ini, katanya, tidak berlaku universal, melainkan terikat dengan
ruang dan waktu.Kondisi masyarakat Arab dimana ayat itu diturunkan, berada
dalam suasana yang terpolarisasi dalam (1) kutub kaum beriman dan (2) kutub
kaum tidak beriman.
Jika Tarmizi membaca kitab-kitab
tafsir dan fiqih, maka akan didapati begitu banyak pembahasan tentang masalah
ini, dan tidak perlu dikaitkan dengan paham pluralisme agama. Islam adalah
agama yang sejak awal sadar akan perbedaan dan mengakui perbedaan. Meskipun
demikian, ayat-ayat al-Quran penuh dengan penjelasan tentang kekeliruan agama
kaum Yahudi dan Kristen.Ada kalanya redaksi al-Quran bernada keras adakalanya
bernada lembut.Untuk orang-orang kafir seperti Abu Lahab, al-Quran menggunakan
redaksi “Celakalah kedua tangan Abu Lahab.” Nabi Muhammad saw begitu banyak
mengajarkan, kapan bersikap lembut dan kapan bersikap tegas terhadap kaum
kafir. Terhadap kaum kafir Zimmi, Rasulullah saw berwasiat agar mereka
diperlakukan dengan baik. Tetapi, terhadap kaum Yahudi yang berkhianat terhadap
perjanjian Madinah, Rasulullah bersikap tegas, memerangi dan mengusir mereka.[Adian
Husaini, MA ,“Islam Tanpa Syariat versi Pemuda Muhammadiyah” Hidayatullah.comSelasa, 07 Juni 2005].
Selain
itu, yang selama ini kita melihat dan menjadikan Muhammadiyah itu disegani
karena konsistensinya terhadap nilai-nilai tauhid dan berupaya untuk menjauhkan
ibadahnya dari virus bid’ah, kurafat dan syirik, tapi kenyataannya sekarang
pencemaran tauhid itu ada di Muhammadiyah melalui generasi barunya yang
berupaya merubah keaslian pemikiran Muhammadiyah, begitu juga halnya dalam
amaliyah ibadah yang dilakukan tidak beda dengan orang yang bukan Muhammadiyah,
hal itu berangkat dari tersebarnya virus liberalisme dan pluralisme, untuk
menyelamatkan Muhammadiyah dari segala rongrongan maka solusinya adalah kembali
kepada khittah Muhammadiyah secara konsisten dan konsekwen, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 24 Juli
2011.M/22 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar