Jumat, 05 Februari 2016

157. Muhammadiyah



Ketika saya berada di kampung dan terakhir hal itu juga nampak di kota, saat melaksanakan shalat di masjid di  depan rumah nenek, lansung mereka menyebut saya orang Muhammadiyah karena masjid itu memang dikelola oleh pengurus Muhammadiyah, pelaksanaan shalat subuhnya tidak membaca do’a qunut, tidak ada zikir dan do’a secara bersama-sama, zikir dilakukan dengan sendiri-sendiri, begitu juga  ketika ada undangan untuk menyampaikan khutbah jum’at, sang panitia menyampaikan pesan kepada saya bahwa masjid itu bukan Muhammadiyah, artinya dalam menyampaikan khutbah pada saat shalawat kepada nabi membaca ‘’Sayidina” dan shalatnyapun menzhaharkan “Basmalah”.

 Apalagi acara adat istiadat yang selama ini sudah dianggap ibadat seperti memperingati hari kematian, berziarah ke makam tertentu untuk memohon doa dan mencari  berkah, menyanjungkan doa dengan membakar kemenyan dan sekian lagi ritual yang penuh dengan bid’ah, kurafat, syirik dan tahyul, maka hal itu tidak ada dilakukan oleh orang-orang yang komit dengan ajaran dan ajakan Muhammadiyah yang bersumber dari keaslian dakwah nabi Muhammad Saw. 

            Itulah sekilas pandangan masyarakat tentang Muhammadiyah yang tidak sama dengan aktivitas islam yang biasa dilakukan oleh masyarakat islam yang awam lainnya yang dikenal dengan islam tradisional atau disebut juga dengan orang NU. Kini Muhammadiyah sudah berusia satu  abad, sudah banyak kerja-kerja positif yang dikerjakan oleh pengurus dan jamaahnya sejak dari Pusat hingga ranting di pedesaan dan tidak sedikit pula ujian dan fitnah menderanya.

Seratus tahun telah berlalu, ketika KH Ahmad Dahlan memprakarsai berdirinya Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.Dalam perjalanannya, sudah tentu banyak pengabdian yang diberikan kepada bangsa dan negara, terutama melalui bidang pendidikan. Muhammadiyah lebih dikenal didalam penyelenggaraan pendidikan modern, dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Jumlahnya, mungkin sudah tidak terhitung.Selain itu, juga didalam bidang sosial dan kesehatan.Berapa rumah yatim dan juga rumah sakit telah dibangun, sangat mudah dikenal masyarakat.Semua itu, tidak hanya harus dipelihara, tetapi juga dikembangkan.Dan dengan perubahan zaman, tantangannya juga semakin besar dan kompleks.
Tidak berlebih, kalau disaat usia 100 tahun ini kita mengenang beberapa kata mutiara yang disampaikan oleh pendiri Muhammadiyah. Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan hidup dari Muhammadiyah, begitu pesan KH Ahmad Dahlan.Pesan KH Ahmad Dahlan itu, untuk ukuran zaman sekarang, mungkin dianggap terlalu idealistis.Namun, harus tetap dipegang teguh, tanpa mengabaikan aspek profesionalisme dalam pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan, sosial, dan kesehatan Muhammadiyah.Kalau mengabaikan aspek profesionalisme didalam pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan/sosial/kesehatan yang dimiliki, bisa saja lembaga-lembaga itu justru sulit mempertahankan keberadaannya.Dalam batasan itulah (barangkali) kita mempersepsikan pesan KH Ahmad Dahlan di era glabalisasi ini.

Selain itu, disaat memasuki abad ke II, tidak ada jeleknya kita melakukan evaluasi, bahkan introspeksi, terhadap pencapaian Muhammadiyah dalam satu abad ini.Tidak berlebih, terasa ada yang hilang.Dulu, ada gerakan Kepanduan (Hizbul Wathan dan Nasyiatul Aisiyah), yang menjadi tempat persemaian generasi muda Muhammadiyah dan bangsa.Sekarang, keduanya sudah tidak terdengar.Dulu, ada klub sepakbola HW, yang juga telah menyumbang beberapa pemain nasional.Sekarang, klub sepakbola itu sudah tidak ada lagi.Dapatkah diartikan dua kegiatan itu dihapuskan saja?Sehingga menjadi bagian sejarah Muhammadiyah?Atau direvitalisasi, sehingga perlu dihidupkan kembali dengan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman?Ditengah fenomena krisis karakter bangsa, masalah ini perlu memperoleh pemikiran kembali.

Terakhir, barangkali perlu disampaikan catatan di sekitar Muhammadiyah dan politik.Bahwa Muhammadiyah sering ditarik-tarik ke politik, rasanya sulit dihindari.Tetapi, politik praktis bukanlah wahana yang cocok bagi Muhammadiyah. Meskipun tarikan ke politik itu akan semakin besar dan semakin menggunakan berbagai cara yang semakin canggih, alhamdulillah masih bisa dicegah. Tugas Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang baru, yang mungkin paling berat adalah mempertahankan khittah Muhammadiyah sebagai organsiasi dakwah dan pembaruan yang nonpraktis politik.Sebab, ketika memasuki dunia politik, Muhammadiyah bisa saja kehilangan jatidirinya yang hakiki. Muhammadiyah akan kehilangan sifat inklusifnya, sifat moderatnya, independensinya yang justru bisa mengganggu perkembangan amal Muhammadiyah.(Sulastomo, Pelita Hati, Harian Pelita).

Di tengah usianya yang semakin tua, dan merebaknya ribuan amal usaha Muhammadiyah, sebagai sesama Muslim, kita wajib memberikan taushiyah, saran, dan kritik terhadap organisasi Islam yang memiliki jutaan pengikut dan simpatisan ini. Kebesaran Muhammadiyah tidak diragukan lagi.Berbagai prestasi dakwah sudah dicapainya.Kini, tugas besar Muhammadiyah adalah melakukan introspeksi dan memperbaiki kondisi internalnya.

Adalah ironi, jika warga Muhamamdiyah begitu aktif membangun dan merawat amal usaha, dalam rangka menegakkan dakwah Islam, justru sebagian tokoh Muhammadiyah mengotori aktivitas dakwah dengan menyebarkan paham-paham yang menyesatkan umat Islam.

Kondisi seperti ini tentu saja sangat serius dan tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Ibarat virus dan penyakit, jika dibiarkan dan tidak diobati, akan dengan leluasa menyebar dan menggerogoti sendi-sendi pertahanan tubuh Muhammadiyah. 

Sebagai seorang yang lahir dari Bapak seorang aktivis Muhammadiyah, saya merasakan betapa pedihnya hati para aktivis Muhammadiyah, jika Muhammadiyah akhirnya justru menjadi alat penyebaran paham-paham yang destruktif terhadap Islam.Penyebaran paham-paham sesat adalah bentuk kejahatan dan kemunkaran yang sangat besar. Semoga pimpinan Muhammadiyah menyadari hal ini dan segera menjalankan kewajiban “amar ma’ruf nahi munkar”  dimulai dari dalam tubuhnya sendiri. 

Selain aktif dalam ribuan amal usaha (al-amru bil-ma’ruf), para aktivis Muhammadiyah juga wajib menjalankan aktivitas mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘anil munkar). Rasulullah saw sudah mengingatkan:“Hendaklah kamu menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, atau (jika tidak kamu lakukan), maka Allah akan memberikan kekuasaan atas kamu kepada orang-orang yang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka.”(HR al-Bazzar dan al-Thabrani).

Adalah sayang, jika hanya karena sebagian aktivisnya yang berbuat munkar, lalu sebuah organisasi atau komunitas terkena getahnya. Rasulullah saw menjelaskan: “Tidaklah (sebagian) dari suatu kaum yang berbuat maksiat, dan di kalangan mereka ada orang yang mampu mengingkarinya kepada mereka, lalu dia tidak berbuat, melainkan hampir-hampir Allah meratakan dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).[Adian Husaini"Menangisi Muhammadiyah", Hidayatullah.com.Sabtu, 25 Juni 2005].

Dalam perjalanan dan perkembangan Muhammadiyah yang usianya telah mencapai satu abad ini, maksud dan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah telah diselewengkan oleh Para Tokoh dan aktivis Muhammadiyah yang mengaku dirinya sebagai seorang cendekiawan dan intelektual muslim, malah mereka ini telah jahil terhadap akidah dan syariat.

Orang-orang yang jahil terhadap akidah dan syariat ini memeiliki sifat, diantaranya tidak ikhlas dalam berilmu tapi mengharapkan harta duniawi, kedudukan atau jabatan dengan ilmunya.Ibnu Qudamah berkata, "Ulama yang jelek adalah yang punya maksud dengan ilmunya untuk bernikmat-nikmat dengan dunia mencapai kedudukan disisi ahli dunia."

Belakangan, gerak langkah perjuangan pemurniah Al-Qur'an di tubuh Muhammadiyah itu tercoreng dengan lahirnya generasi baru yang terjangkiti virus paham sekuleris-liberalisme, yang menjadi hamba kaum orientalis..Belakangan, muncullah anak-anak muda Muhammadiyah seperti JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah).Mereka adalah anak-anak muda Muhammadiyah yang justru punya sikap phopi terhadap syari'at Islam.

Kemunculan gerakan seperti ini di Muhammadiyah pada dasarnya justru bertentangan dari segi pemikiran dan cita-cita Muhammadiyah yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan. Mereka mengaku ingin melakukan reformasi dengan alasan perlunya ijtihad selebar-lebarnya, namun hanya bersandarkan pada akalnya dan membuang Al-Qur'an dan Hadist. Mereka mengaku sebagai para pemikir agama yang brilian, ingin membangun ummat Islam dari tidur mereka dan dari keterbelakangan, namun di sisi lain, mereka menganggap Islam sama dengan Yahudi dan Nasrani. 

Ide campur-aduk yang kerap mereka sebut dengan istilah 'Pluralisme Agama" itulah yang hari ini menjadi agama mereka.Mereka menolak klaim Al-Qur'an, bahwa Islam lah agama terakhir untuk menyempurnakan agama-agama terdahulu.

Tokoh teras Muhammadiyah, Dr. Abdul Munir Mulkan, bahkan melarang umat Islam mengatakan Islam sebagai satu-satunya agama yang paling benar.Dia mengistilahkan, surga terdiri dari banyak pintu, dan semua agama bisa memasukinya.Penyesatan ide dan gagasan inilah yang kini sedang dikembangkan di Muhammadiyah.

Akibat buruk yang disebar oleh virus JIL di Muhammadiyah, sekarang ini, mengakibatkan akidah dan syariat Muhammadiyah semakin tidak jelas.Karena sudah tercampur dengan syubhat dan syahwat. Akibatnya, di Muhammadiyah, kini, yang haq menjadi samar-samar bahkan menjadi bathil, dan sebaliknya yang bathil menjadi haq dalam pandangan warga Muhammadiyah yang terfitnah. 

Dengan Syubhatnya pula, tauhid Muhammadiyah yang benar dan lurus yang selama ini dipegang dan dipahami warga Muhammadiyah menjadi syirik dan sebaliknya syirik menjadi tauhid. Sunnah yang selama ini dipegang dan menjadi ciri khas warga Muhammadiyah menjadi luntur bahkan menjadi bid'ah dan berbalik yang sunnah menjadi bid'ah.

Yang sangat memprihatinkan, justru pikiran-pikiran sekuler-liberalisme semacam itu justru diusung oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang banyak dikenal di masyarakat.

Ada banyak orang selain Abdul Munir Mulkan yang kini 'bersarang' di tubuh Muhammadiyah.Yang jelas, ciri-ciri umum mereka bisa dibaca dengan tiga hal.

Pertama, Mereka sengaja meruntuhkan berbagai keilmuan barometerik yaitu ilmu-ilmu tafsir berdasarkan riwayat dan kaidah-kaidahnya ilmu ushul fiqih dan ilmu musthalaha hadits.

Kedua, Mereka menolak hadits-hadits shahih  secara parsial atau totalitas dengan alasan demi menyelaraskan hadits-hadits itu dengan logika (akal), kepentingan ummat dan kondisi masyarakat modern. 

Ketiga, mereka menolak sunnah kontekstual yang tidak aplikatif yakni yang berkaitan khusus dengan urusan hukum politik serta masyarakat secara umum.

Keempat, pembaharuan (takdid) menurut mereka adalah melepaskan diri dari kungkungan syariat menuju keharibaan undang-undang positif yang dapat merealisasikan mekerdekaan dan kemajuan hidup.

Karena itu, umumnya, mereka sengaja menyerang ajaran fiqih dan para ulama fiqih tanpa tedeng aling-aling.[Choirul Hisyam, "Pembusukan" di Tubuh Muhammadiyah, Hidayatullah.com. Kamis, 09 Juni 2005].

Perjalanan sejarah yang panjang pasti akan terjadi perubahan dimana-mana, apakah perubahan itu positif ataupun negatif, perubahan yang positif dinyatakan sebagai kemajuan dan keberhasilan sebuah lembaga atau organisasi, sedangkan perubahan negative yang mendatangkan kerusakan dan kehancuran pada organisasi tersebut, jangankan sebuah organisai sedangkan sebuah agama tauhid saja sebagaimana Yahudi,Nasrani dan Islam mengalami hal itu, adanya usaha-usaha dari tangan-tangan jahil dan musuh-musuh kebenaran untuk merusak ketiga agama itu, termasuk islam dimana saja selalu dirusak dan diracuni oleh virus-virus kesesatan yang menyesatkan ummat dan merusak islam.

Begitu juga dengan organisasi sebagaimana Muhammadiyah adanya orang-orang yang gatal untuk mengacak-acaknya dengan berbagai pemikiran seperti pemikiran liberal dan sekuler.

Sejak berdirinya tahun  1912, pendiri dan tokoh-tokoh Muhammadiyah mungkin tidak ada yang berpikir, bahwa suatu ketika, akan muncul dari  tubuh organisasi ini berbagai pemikiran yang meruntuhkan bangunan Islam. Tetapi, kenyataannya, saat ini tidaklah demikian.Begitu banyak ide-ide yang diluncurkan lembaga dan sebagian tokoh Muhammadiyah yang “aneh-aneh” dan tidak
masuk akal sehatnya kaum Muslim. Tidak jarang ide itu mengatasnamakan lembaga resmi Muhammadiyah maupun mencatut nama pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, seolah-olah pendiri Muhammadiyah ini adalah tokoh pluralisme.

Hari Jumat (3 Juni 2005), seorang tokoh Muhammadiyah yang juga Ketua Dewan Direktur Center for Moderate Muslim (CMM), dr. Tarmizi Taher, menulis artikel di Harian Republika dengan judul “Memetik Nilai-nilai Pluralisme dari KH Ahmad Dahlan”. Penulis artikel ini tidak bisa membedakan antara “toleransi” dengan “pluralisme”, yang merupakan paham (isme) tertentu dalam melihat pluralitas agama. Paham ini diakui oleh kalangan agamawan merupakan paham yang destruktif terhadap semua agama, sehingga Vatikan secara resmi menolaknya pada tahun 2000. Tetapi, aneh dan ajaib, dari tubuh Muhammadiyah bisa muncul  dukungan terhadap paham pluralisme.

Kekeliruan Tarmizi tampak semakin jelas, ketika ia mengajak umat Islam untuk membuat tafsir al-Quran dalam bingkai pluralisme. Misalnya, QS 9:29, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah”, menurut dia, akan berdampak buruk jika dipahami secara tekstual. Ayat ini, katanya, tidak berlaku universal, melainkan terikat dengan ruang dan waktu.Kondisi masyarakat Arab dimana ayat itu diturunkan, berada dalam suasana yang terpolarisasi dalam (1) kutub kaum beriman dan (2) kutub kaum tidak beriman.

Jika Tarmizi membaca kitab-kitab tafsir dan fiqih, maka akan didapati begitu banyak pembahasan tentang masalah ini, dan tidak perlu dikaitkan dengan paham pluralisme agama. Islam adalah agama yang sejak awal sadar akan perbedaan dan mengakui perbedaan. Meskipun demikian, ayat-ayat al-Quran penuh dengan penjelasan tentang kekeliruan agama kaum Yahudi dan Kristen.Ada kalanya redaksi al-Quran bernada keras adakalanya bernada lembut.Untuk orang-orang kafir seperti Abu Lahab, al-Quran menggunakan redaksi “Celakalah kedua tangan Abu Lahab.” Nabi Muhammad saw begitu banyak mengajarkan, kapan bersikap lembut dan kapan bersikap tegas terhadap kaum kafir. Terhadap kaum kafir Zimmi, Rasulullah saw berwasiat agar mereka diperlakukan dengan baik. Tetapi, terhadap kaum Yahudi yang berkhianat terhadap perjanjian Madinah, Rasulullah bersikap tegas, memerangi dan mengusir mereka.[Adian Husaini, MA ,“Islam Tanpa Syariat versi Pemuda Muhammadiyah” Hidayatullah.comSelasa, 07 Juni 2005].

Selain itu, yang selama ini kita melihat dan menjadikan Muhammadiyah itu disegani karena konsistensinya terhadap nilai-nilai tauhid dan berupaya untuk menjauhkan ibadahnya dari virus bid’ah, kurafat dan syirik, tapi kenyataannya sekarang pencemaran tauhid itu ada di Muhammadiyah melalui generasi barunya yang berupaya merubah keaslian pemikiran Muhammadiyah, begitu juga halnya dalam amaliyah ibadah yang dilakukan tidak beda dengan orang yang bukan Muhammadiyah, hal itu berangkat dari tersebarnya virus liberalisme dan pluralisme, untuk menyelamatkan Muhammadiyah dari segala rongrongan maka solusinya adalah kembali kepada khittah Muhammadiyah secara konsisten dan konsekwen,   wallahu a’lam [Cubadak Solok, 24 Juli 2011.M/22 Sya’ban 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar