Level iman tertinggi dalam islam adalah Taqwa setelah melalui perjalanan
panjang sebagai muslim, mukmin dan muhsin.Taqwa tidak bisa dibiarkan saja
karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat
gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan
sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih
bertaqwa;”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan
sungguh-sungguh bertaqwa dan janganlah mati kecuali dalam tetap beriman” [Ali Imran
3;102 ].
Agar taqwa
itu tetap bertahan di dada kita bahkan akan mengalami kondisi yang baik terus ada lima sikap yang harus kita tanamkan dalam diri
kita sebagaimana yang dikupas oleh Dr. Muhammad Nasih Ulwan dalam bukunya,
Tarbiyyah Ruhiyyah/ Pendidikan Ruhani,
salah satunya yaitu Muhasabah.
Mengoreksi
kesalahan diri sendiri tidaklah semudah bila kita mengoreksi kesalahan orang
lain, padahal sikap ini mendatangkan keuntungan bagi kesucian jiwa. Kalau kita bisa
melihat kesalahan dan dosa orang lain sebenarnya kesalahan dan dosa kitapun
terlalu banyak untuk dinilai. Taubatpun mengajak kita untuk mengakui kesalahan
kita kepada Allah agar taubat itu betul-betul dikabulkan yaitu penyesalan
atas semua kejahatan yang telah dikerjakan dimasa lampau, dan berusaha
meninggalkannya, kemudian berjanji untuk tidak mengulanginya dihari yang akan
datang. Tidaklah taubat seseorang dikatakan benar sehingga dia merasa sedih dan
menyesali semua kejahatan yang telah dikerjakannya, yaitu penyesalan yang
disertai dengan perasaan sedih di hadapan Allah SWT.
Umar bin
Khattab menyatakan,"Hasibu Anfusakum Qabla an Tuhasabu"
hisablah dirimu sebelum kamu dihisab artinya seorang muslim itu harus selalu
memeriksa dirinya sebelum kelak diperiksa oleh Allah. Manfaat dari introsfeksi
adalah untuk memperbaiki kekhilafan masa lalu, untuk menyempurnakan kekurangan,
menjauhkan sifat angkuh dan menatap masa depan yang lebih baik. Dalam surat Al
Qiyamah 75; 2-3 Allah berfirman;"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang
amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya"
Orang yang selalu melakukan muhasabah
juga menyesal: bila ia berbuat kebaikan ia menyesal Kenapa ia tidak berbuat
lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan tentu penyesalannya membuat
dia sangat takut dengan balasan dari Allah yang tidak bisa dikompromikan."Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan" [Al Hasr 59;18].
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad, suatu siang para sahabat sedang bersama Rasulullah SAW.Lalu,
datanglah suatu kaum yang keadaannya sangat memprihatinkan.Wajah Rasulullah
berubah ketika melihat mereka.Rasul masuk, kemudian keluar, dan lalu menyuruh
Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah.
Rasul pun shalat
dan kemudian berkhutbah: “Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kalian semua
kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu …” (QS.
An-Nisaa’ [4]: 1). Dan, beliau membaca ayat: “… dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),…”
(QS. Al-Hasyr [59] : 18).
Seketika itu,
seorang sahabat langsung menyedekahkan dinar, dirham, baju, dan
kurmanya.Kemudian, secara berturut-turut diikuti oleh para sahabat yang lain,
hingga sedekah berupa makanan dan baju itu menumpuk seperti dua anak bukit.
Melihat pemandangan
yang menyenangkan itu, wajah Rasulullah berbinar-binar. Lalu, beliau bersabda
bahwa siapa yang berbuat baik dia akan mendapat pahala dari perbuatannya dan
juga pahala dari orang yang mengikuti kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikit
pun pahala orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu. Demikian sebaliknya
ketika seseorang berbuat jelek (HR. Muslim).
Dari riwayat
yang amat inspiratif tersebut, Ibnu Katsir lalu menafsirkan, ayat "…
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat),…” tersebut mengandung pengertian: “perhitungkanlah diri
kalian sebelum kalian diperhitungkan oleh Allah SWT di hari kiamat kelak, dan
perhatikanlah amal shalih apa yang sudah kalian simpan untuk akhirat dan untuk
menghadap Tuhan”.
Jadi, muhasabah
adalah menghitung diri atau bertanya kepada diri sendiri tentang amal shalih
yang akan menjadi bekal dalam perhitungan (hisab) Allah SWT di hari kiamat
nanti.
Sebagaimana
dialami para sahabat dalam kisah inspiratif di atas, muhasabah akan langsung
menggerakkan kita untuk bersegera mengukir amal shalih ataupun prestasi. Sebab,
dengan muhasabah, kita akan menyadari kebutuhan kita terhadap amal shalih.
Bahwa kita sangat membutuhkan amal shalih untuk bekal kita di akhirat kelak.[
Achmad Sjamsudin, Muhasabah,
Republika.co.id. Rabu, 22 Desember 2010, 05:00 WIB].
Kita introsfeksi
diri ini, selama Allah memberikan kehidupan dan kewajiban untuk beribadah
kepadanya, ketika kita menyandang pribadi muslim apakah kita betul-betul sudah
menjadi mukmin sejati, yaitu mukmin yang tidak diragukan lagi komitmennya
terhadap Allah dan agama-Nya.
Mukmin ialah
orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT.Mematuhi segala perintah dan
menjauhi seluruh larangan-Nya.Itulah mukmin sejati. Mukmin sejati kelak akan
mendapatkan surga dan keridaan Allah SWT.
Tentu kita ingin
menjadi mukmin sejati yang nantinya mendapat rida Allah SWT dan kekal dalam
kebahagiaan."Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang
menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS
al-Mu'minun [23]: 1-5).
Ayat tersebut
menghendaki kita untuk khusyuk dalam shalat, menjauhi perkataan dan perbuatan
yang sia-sia, menunaikan zakat dan tidak mendekati zina.Pertanyaannya kemudian,
bagaimana caranya kita bisa khusyuk dalam shalat?Mengapa harus menjauhi hal-hal
yang tak berguna, wajib zakat, dan dilarang zina?
Untuk shalat
khusyuk ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.Pertama, memahami bacaan-bacaan
shalat. Kedua, berusaha untuk bisa konsentrasi dan tulus ikhlas dalam
mengerjakannya (QS al-A'raf [7]: 29). Ketiga, mengerjakannya dengan
thuma'ninah, tenang, dan tidak terburu-buru.Bahkan, kalau ingin sempurna lagi
lakukanlah shalat secara berjamaah di masjid.
Berikutnya kita
mesti menjauhi perkataan dan perbuatan yang sia-sia.Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
berkata yang baik atau diam." (Muttafaqun Alaih).
Selanjutnya
menunaikan zakat. Zakat hakikatnya menyucikan diri dan menjaga diri dari sifat
kikir (bakhil) (QS at-Taubah [9]: 103). Dengan demikian, solidaritas sesama
Muslim dapat dipelihara dan terus-menerus ditingkatkan.Mengapa kita perlu
menjaga diri dari sifat kikir yang dalam Alquran disebut bakhil?
Allah membenci
orang kikir (bakhil).“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan
harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa
kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya,
kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan
dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan, kepunyaan Allahlah segala
warisan (yang ada) di langit dan di bumi.Dan, Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS Ali Imran [3]: 180).
Selanjutnya,
tidak mendekati zina.Allah SWT sangat membenci perbuatan zina.Oleh karena itu,
pelakunya diberi hukuman dan tercatat sebagai pelaku dosa besar. (QS al-Isra’
[17]: 32).
Dari sini jelas
bahwa kalau kita ingin bahagia selamanya baik di dunia maupun di akhirat kita
mesti menjadi mukmin sejati.Sebagaimana yang terkandung dalam surah
al-Mu’minun.
Tetapi hari ini,
bagi sebagian umat Islam, iman tidak lagi penting.Tidak shalat sudah biasa,
demikian juga dusta dan kesiasiaan. Kikir menjadi budaya dan zina jadi gaya
hidup.[Dr Abdul Mannan, Ciri Mukmin
Sejati, Republika.co.id. Senin, 13 Juni 2011 08:11 WIB].
Muhasabah akan
bermanfaat bagi pribadi muslim dalam rangka menjaga taqwa yang sudah diraih
melalui pengkajian dan pengamalan agama selama ini dengan zikir dan fikir,
melalui tafakkur dan tazakkur, melalui perenungan secara mendalam sehingga
takwa itu tetap dapat dipertahankan hingga akhir hayatnya, sebagaimana
Rasulullah pernah menyatakan bahwa iman itu mengalami fluktuasi, ada keadaan
naik dan kondisi turun, maka jagalah iman dengan muhasabah dan perenungan dalam
kehidupan ini.
Allah SWT
memerintahkan kepada hamba-hambanya baik melalui kalimat secara langsung maupun
tidak langsung, agar memperbanyak tafakkur/merenung. Termasuklah salah satu
bahan renungan adalah tentang makna sebuah kehidupan; darimana asal kejadian,
bagaimana proses penciptaan manusia, mengapa dan untuk apa diciptakan, kemudian
kemana akhir kehidupan, serta apa kejadian sesudah dimatikan. Demikian isi
kandungan dari ayat di atas.
Yang dapat diketahui bahwa manusia
diciptakan dari saripati tanah, menjadi mani, menjadi segumpal darah, segumpal
darah kemudian menjadi segumpal daging, daging dikuatkan dengan tulang jadilah
manusia seperti kita yang kemudian berproses dalam kehidupan dari masa
anak-anak, remaja, tua, hingga mengakhirinya dengan kematian, kemudian
dibangkitkan untuk mempertanggung-jawabkan masa kehidupan di dunia. Ini adalah
proses alamiah yang tidak hanya manusia yang akan melewatinya, tetapi seluruh
makhluk yang bernyawa."Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan
dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya." (QS
Ali Imran :145
Apabila disadari betul-betul hidup di
dunia sungguh-sungguh singkat, sangat-sangat sebentar/sesa’at, menurut WHO
salah satu badan kesehatan dunia, rata-rata harapan manusia untuk hidup maksimal
adalah antara 50-79 tahun.Hal ini apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat
yang kekal abadi. Allah SWT menggambarkannya: "Pada hari mereka melihat
hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan
(sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (QS 79: 46)
Dari pemahaman yang mendalam inilah,
diharapkan timbul kesadaran, dan dari kesadaran diharapkan muncul akhlak yang
mulia selama menjalani hidup di dunia. Dengan prinsip untuk apa melalaikan
perintah Allah dalam kehidupan yang singkat dan terbatas, dan untuk apa berbuat
jahat kepada sesama manusia, semua itu akan sia-sia dan menjadikan rugi bahkan
menyesal ketika di hari pertanggungjawaban.
Sebaliknya, hidup yang serba singkat ini
hendaknya banyak berbekal dengan keshalehan, ketakwaan, mengisi waktu tersisa
dengan hal-hal yang bermanfaat dan banyak membahagiakan orang lain tentunya
dapat mengantarkan manusia kepada ketenangan menjalani kehidupan dunia dan
akhirat.[Madri SPdI’,Renungan Hidup, Republika.co.id.Selasa, 19 April 2011 07:17 WIB].
Banyak hal yang
dapat kita renungi dalam muhasabah sebagai koreksi diri agar dimasa-masa yang
akan datang kita berhati-hati menjalani kehidupan ini , sebab segala musibah,
bencana dan ujian yang datang adakalanya karena kesalahan, dosa dan maksiat
yang kita lakukan.
Sungguh, musibah demi musibah di negeri ini sudah sering
terjadi; mulai dari tsunami, gunung meletus, banjir bandang, kebakaran hutan
hingga gempa bumi yang beruntun terjadi.Namun, sepertinya musibah demi musibah
itu datang sekadar menimbulkan duka-lara seketika, kemudian setelah itu tak
berbekas apa-apa.Banyak orang kemudian bermaksiat seper-ti biasa, melakukan
banyak dosa seperti sedia kala.Penguasa dan wakil rakyat tetap menerapkan
hukum-hukum kufur. Para ulama pun seolah tetap merasa 'nyaman' dengan tidak
diberlakukannya hukum-hukum Allah. Kaum Muslim secara umum juga sepertinya
tetap merasa 'enjoy' dengan berbagai kemaksiatan dan kezaliman yang ada.
Padahal Allah SWT berfirman (yang artinya): “Apakah kalian merasa aman terhadap
Allah yang (ber-kuasa) di langit bahwa Dia akan menjung-kirbalikkan bumi
bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian
merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan
badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan)
peringatan-Ku? Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan
(rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (QS al-Mulk [67]: 16-18).
Allah SWT juga berfirman (yang artinya): Apakah mereka tidak
melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu Kami mengurangi bumi itu
(sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah menetapkan hukum (menurut
kehendak-Nya); tidak ada yang dapat menolak kete-tapan-Nya (QS ar-Ra'd [13]:
41).
Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari
"Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya"
adalah dengan tenggelamnya sebagian bumi, gempa dan berbagai macam bencana.
Semua ini, sebagaimana terungkap dalam ayat di atas, adalah semata-mata atas
kehendak Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 51).
Harus disadari, segala bentuk ben-cana alam merupakan bukti
kemahakua-saan Allah. Dengan itulah, kita seharusnya menyadari betapa manusia
ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan kemahakuasaan Allah (Lihat: QS
ar-Ra'd [13]: 41 di atas). Harus disadari pula, dengan bencana alam itu Allah
sebetulnya hendak menguji kesabaran manusia (QS al-Baqarah [2]: 155-157).
Lebih dari itu, harus disadari bahwa berbagai bencana dan
musibah yang terjadi merupakan teguran sekaligus peringatan agar kita terdorong
untuk rajin melakukan muhâsabah (introspeksi diri).Muhâsabah tentu sangat
penting. Dengan itu, setiap Muslim bisa mengukur sejauh mana ia telah
betul-betul menaati seluruh perintah Allah SWT, dan sejauh mana ia benar-benar
telah menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan itu pula, setiap saat ia akan
terdorong untuk terus berupaya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah SWT
serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya. Tentu, muhâsabah wajib dilakukan
setiap saat, bukan sekadar saat-saat terjadi musibah, seperti gempa yang
terjadi saat ini.[Musibah dan Muhâsabah, Media
Ummat; Thursday, 12 November 2009 07:50].
Apalagi di akhir tahun, apakah tahun miladiyah atau tahun
hijriyah sangat perlu untuk melakukan muhasabah, perenungan dan introsfeksi
diri dalam rangka evaluasi kerja-kerja selama ini, selama sebelas bulan yang
lalu hidup ini kita lalui, segala suka dan duka dijadikan sebagai cermin untuk
mengaca diri, selama lebih kurang 365 hari dilalui apa yang sudah dilakukan
untuk perbaikan diri, amal-amal shaleh apa saja yang sudah dilakukan agar
semakin giat untuk masa-masa yang akan datang, sedangkan segala kesalahan dan
dosa yang terukir dalam sebelas bulan yang lalu diupayakan untuk bertaubat
kepada Allah dengan tidak mengulanginya lagi ketika menapaki tahun baru.wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 24 Juli 2011.M/22 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar