Jumat, 05 Februari 2016

151. Orde Lama



Siapapun tahu dengan rezim yang berkuasa pada masa ini, yaitu rezim  Soekarno, julukan ini dinamakan dengan orde lama karena setelah itu berkuasa rezim yang dianggap lebih baik yaitu orde baru. Diantara kelebihan dan kekurangannya rezim ini menyimpan derita kezhaliman yang dilakukan terhadap islam dan ummatnya, derita itu berkelanjutan setelah tumbangnya orde lama ke episode orde baru, hanya rezim yang berubah tapi sikap kepada ummat islam tidak.

Sebuah buku berjudul Bencana Umat Islam di Indonesia tahun 1980-2000, Bab 01 Militer dan Organisasi Islam di Indonesia mengungkapkan;

Militer Indonesia, sejak awal mula secara diam-diam menyimpan rasa kurang senang terhadap organisasi-organisasi Islam.Keti-dak-senangan itu muncul semenjak tahun-tahun pertama berdirinya Republik Indonesia, dan mencapai puncaknya hingga ke tingkat permu- suhan setelah pemerintahan militer resmi memegang tampuk kekuasaan tahun 1965.Sebagaimana terlihat dalam perkembangan yang mencapai puncaknya pada tahun 80-an, bahwa kemiliteran itu dibentuk untuk menopang kekuatan negara, dan selalu siap untuk men-jalankan perannya sebagai kekuatan negara mengha-dapi rongrongan ideologi apapun, termasuk ideologi-ideologi agama yang secara resmi diakui, yaitu Islam, Kristen, Budha dan Hindu.Kondisi semacam ini terus berlangsung, sehingga jurang pemisah di antara militer dan organisasi-organisasi (gerakan) politik Islam semakin dalam.

Kira-kira satu bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 telah terjadi perdebatan sengit antara dua kubu, kelompok santri dan abangan yang tergabung di dalam “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai”, yaitu sebuah badan yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang, guna mencari dasar bagi kemerdekaan Indonesia serta mendisku-sikan UUD Republik di masa datang. Pada akhirnya dicapailah suatu kesepakatan yang memuat kerangka undang-undang negara Indonesia sekaligus lima dasar Pancasila yang salah satunya berisi kepercayaan kepada Allah SWT.

Para wakil-wakil muslim di dalam badan ini berhasil mengokohkan prinsip tadi yang memungkinkan untuk memberikan warna ke-Islaman dan menonjolkan kepribadian Islam dengan menambahkan kalimat: “Dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya”. Kese-pakatan ini kemudian diterima sebagai preambule (pembukaan) undang-undang dasar yang dikenal dengan Piagam Jakarta.Akan tetapi ketika UUD ini diumumkan tanggal 18 Agustus 1945, sehari sesudah proklamasi kemerdekaan, kalimat tersebut dihapuskan melalui tangan pemimpin sekuler Soekarno, yang kemudian diangkat menjadi presiden RI yang pertama.Dengan kejadian ini, maka kemenangan yang semula berada di tangan kaum muslimin berubah menjadi serangan dan penistaan.Dihapusnya tujuh kalimat, yang terdapat di dalam Piagam Jakata (The Jakarta Charter) pada akhirnya menimbulkan permusuhan berkelanjutan selama 20 tahun pertama berdirinya Republik Indonesia.

Dalam rentang waktu antara 1945-1949, merupakan masa-masa penuh gejolak dengan terjadinya dua kali peperangan, yang dilancarkan oleh pemerintah kolonial Belanda guna mengembalikan kekuasaannya dan menghancurkan Repubik Indonesia yang baru lahir.Pada masa-masa ini kita menyaksikan berbagai konfrontasi terbuka antara kelompok-kelompok bersenjata Indonesia dan kesatuan-kesatuan pejuang bersenjata Islam.Pembentukan tentara nasional pada tahun 1945, cikal bakalnya diambil dari pasukan yang dilatih oleh Jepang.Dan di antara anggotanya adalah seorang yang kini menjadi kepala negara Indonesia, yaitu Soeharto.Tentara ini dibentuk pada masa pendudukan Jepang, dari tahun 1942-1945 yang disebut dengan PETA (Pembela Tanah Air), yaitu kesatuan-kesatuan Jepang yang dilatih untuk membela ibu pertiwi.

Namun PETA bukanlah satu-satunya tentara yang berjuang membela negara.Di luar kelompok tentara tersebut, terdapat banyak kesatuan milisi diantaranya milisi Hizbullah, kelompok yang dengan gagah berani melawan penjajah Belanda hingga mereka berhasil merebut kekuasaan dan memindahkannya ke tangan putra-putra Indonesia tahun 1949.

Pada awal tahun 1949, sesudah ibukota Republik Indonesia, Yogya-karta jatuh ke tangan Belanda, pasukan Republik kembali ke Jawa Barat dalam keadaan kocar kacir, sementara itu mereka menghadapi perlawa-nan keras dari TII di bawah komando Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Darul Islam menolak tunduk terhadap usaha-usaha tentara untuk me-ngembalikan kekuasaan republik atas daerah Jawa Barat (yang pernah ditinggalkannya).Sebaliknya mereka memproklamasikan berdirinya sebuah negara merdeka yang menikmati hak-hak otonomi secara rasional.

Dan pada awal tahun 1960-an, ketika tentara Indonesia berhasil menumpas gerakan Darul Islam, sejak saat itu nama SM. Kartosuwiryo beserta orang-orang yang bergabung dalam gerakan melawan republik, di dalam sejarah kemudian disebut sebagai kelompok pengkhianat dan pemberontak negara. Dan sampai sekarang gerakan Darul Islam tetap dicap sebagai perusak negara dan penyeleweng ideologi negara.Akibat begitu banyaknya bentrokan-bentrokan yang terjadi dengan kaum musli-min diberbagai daerah Republik Indonesia sehingga menyebabkan pepera-ngan yang panjang. Peristiwa ini sangat membekas di dalam hati perwira-perwira tinggi, dan menumbuhkan rasa permusuhan yang mendalam terhadap para pejuang muslim, sehingga muncul kepercayaan, bahwa mereka harus memperlakukan para pejuang muslim secara otoriter.[ Bencana Umat Islam di Indonesia tahun 1980-2000, Bab 01 Militer dan Organisasi Islam di Indonesia www.pakdenono.com].

Tokoh sentral orde lama adalah Sorkarno yang berkuasa dua puluh tahun lebih, banyak keberhasilan pembangunan yang dilakukannya pada berbagai sector demikian pula tokoh sentral orde baru Soeharto telah menghabiskan waktunya lebih dari tigapuluh tahun memimpin rezim ini.

Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto punya satu kesamaan penting, yaitu, ketika melakukan proses pembunuhan demokrasi dan sentralisasi kekuasaan di Indonesia sama-sama diawali dengan membunuhi kekuatan masyarakat Islam.

Pemerintahan Soekarno mengeksploitasi gerakan-gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan yang pada awalnya hanya merupakan reaksi terhadap dua hal: ketidakadilan pusat terhadap daerah dan dominasi kekuatan-kekuatan Komunis di sekitar Soekarno.

Pemerintahan Soekarno menyempitkan ruang gerak dan membubarkan partai politik Islam Masyumi (bersama dengan PSI) sebagai langkah awal dimulainya "Demokrasi Terpimpin"

Pemerintahan Soekarno merangkul NU bersama PKI (Partai Komunis Indonesia) dan PNI (Partai Nasionalis Indonesia: yang sudah diintervensi Komunis) sebagai pendukung sentralisasi kekuasaan.

Pemerintahan Soekarno menggunakan Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme) sebagai platform sosial-politik nasional, yang menolak dianggap melawan negara.[Wisnu Pramudya, Meniru Soekarno dan Soeharto, Hidayatullah.com Rabu, 30 Oktober 2002].

Masyumi selalu menjadi anggota paling menonjol dalam kabinet pemerintahan pertama yang dibentuk sejak 1948 dan seterusnya.Kemu-dian memperoleh kursi Perdana Menteri berulang kali.Sekalipun kekuatannya semakin bertambah setelah pemilu 1955, tetapi pada periode selanjutnya mengalami kemerosotan.Partai ini terlibat di dalam gerakan daerah melawan pusat yang disponsori oleh Darul Islam.Perlawanan ini ditumpas oleh pemerintah pusat dan militer hingga keakar-akarnya.Masyumi juga beroposisi terhadap presiden Soekarno yang berkolaborasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).Dengan bersikap oposan seperti itu, Masyumi akhirnya ikut serta dalam gerakan-gerakan revolusioner di Sumatera (PRRI) dan Sulawesi Selatan (Per-mesta).Tokoh-tokoh Masyumi yang menonjol bergabung dengan peme-rintahan revolusioner di Sumatera Barat pada awal 1958. Pembelotan inilah yang dijadikan alasan oleh Jendral Abdul Haris Nasution untuk menumpas seluruh cabang Masyumi di daerah-daerah basis pemberontak pada tahun yang sama. Dua tahun kemudian, tahun 1960, Soekarno melarang aktivitas partai ini untuk selamanya.

Soekarno dan Nasution memaksakan didirikannya suatu pemerinta-han koalisi dan secara diktatorial mengharuskan kembali kepada UUD 45, serta menyatukan tiga parpol, yaitu PNI, PKI dan NU dalam koalisi pemerintahan.Masyumi menjauhkan diri dalam koalisi tersebut dan tetap menjadi oposisi tunggal dalam menentang pemerintah yang beralih kepada demokrasi terpimpin.

Besar kemungkinannya bahwa konfrontasi Masyumi dan rezim Soekarno membuat sekutu-sekutunya keheranan.Akan tetapi masalahnya tidak lagi demikian, sebab NU telah lama bergandeng tangan dengan Soekarno dan telah diterima pula oleh Soeharto melebihi penerimaannya terhadap Masyumi, sebuah partai yang telah menjadi penentang Soekarno. Oleh karena itu, pemimpin Masyumi pada akhir dasawarsa 1960-an berusaha untuk membangun partai baru, tetapi dihalangi oleh Soeharto dengan segala macam cara. Soeharto malah menganjurkan untuk membentuk partai lain dengan nama Parmusi (Partai Muslimin Indonesia). Parmusi akhirnya diakui oleh pemerintah, dengan syarat anggota-anggotanya tidak boleh aktif dalam jabatan-jabatan politik. Dengan cara inilah pemerintah berhasil mengganti Masyumi yang baru saja hendak dilahirkan, dengan partai lain yang akhirnya terpuruk.[Bencana Umat Islam di Indonesia tahun 1980-2000, Bab 01-04 Partai Politik Islam.www.pakdenono.com].

Walaupun demikian sikap rezim orde lama memperlakukan ummat islam tapi tidak sedikit masyarakat yang terbius oleh Soekarno, kagum dengan kepemimpinan dan pidato-pidatonya yang membakar semangat untuk memperjuangkan Indonesia, lihatlah bagaimana ketika ada masalah dengan Malaysia, Soekarno tampil membela negeri ini untuk mengganyang Malaysia.

Pada 20 Januari 1963, Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Bangsa ini tidak terima dengan tindakan demonstrasi anti-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda.

Untuk balas dendam, Presiden Soekarno melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato pada 27 Juli 1963.

Berikut isi pidatonya yang menggelora itu:
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh
Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa,
sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-
injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk
melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan
bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki
martabat
.Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
[Inilah Pidato Soekarno, "GANYANG MALAYSIA"Musfi Yendra - Padang
Today | Kamis, 02/09/2010 12:15 WIB]

Bahkan entah karena terlalu cinta atau karena kefanatikan membuta ada yang menjadikan Soekarno orang yang dikultusindividukan, lebih parah lagi dijadikan sebagai nabi sebagaimana yang terjadi berikut ini;

Ada-ada saja keanehan di negara ini.Ada tuhan palsu, kitab suci palsu, agama palsu, dan tak ketinggalan Nabi palsu.Namun dalam jejak sejarah mungkin baru kali ini ada ajaran yang menjadikan Presiden Pertama RI, Soekarno, sebagai Nabi dalam arti sebenarnya dan bukan metafor.
Adalah Ajaran Adari yang memiliki gagasan gila itu. Tidak hanya itu, mereka juga bisa jadi menjadikan para presiden selanjutnya sebagai Nabi, katakanlah Soeharto, Habibie, Megawati bahkan juga tidak mustahil, presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Rahnip dalam bukunya “Aliran Kepercayaan Dan Kebatinan dalam Sorotan” (Pustaka Progresif: 1997), Ajaran Adari menyatakan bahwa Sang Gusti telah bersatu (manunggal) menjadi satu ke dalam diri Bung Karno.Jadi Tuhan menurut ajaran ini setara dengan Bung Karno, dan Bung Karno setara dengan Tuhan.

Ketika manunggal itu terjadi, maka Bung Karno adalah Gusti adanya. Sehingga segala perbuatan Bung Karno maupun perkataannya adalah perbuatan dan ucapan dari sang gusti.Mangun Wijoyo sendiri dikatakan hampir saja menjadi titisan Gusti. Namun Gusti urung masuk ke dalam diri Mangun Wijoyo, karena merasa jijik karena Mangun Wijoyo pernah masuk penjara.

Entah apa yang ada di dalam pikiran sang gusti hingga pilih-pilih kasih kepada umatnya, karena kita tahu Soekarno sendiri pernah masuk penjara, bahkan tidak satu-dua kali.Sejarah mencatat Soekarno pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin pada 1930.Ia divonis empat tahun penjara oleh persidangan Landraat Bandung.

Selain di Sukamiskin, Soekarno juga pernah mendekam di Penjara Bantjeuy (Banceuy) Bandung sekitar delapan bulan setelah ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929 bersama Gatot Mangkupraja, Maskoen dan Soepriadinata dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Kalau sang gusti Adari jijik masuk ke diri Mangun Wijoyo hanya karena Mangun Wijoyo masuk penjara, andai sang gusti tahu Penjara Banceuy sendiri adalah penjara tingkat rendah di zaman Belanda. Penjara ini didirikan pada abad kesembilan belas, keadaannya kotor, bobrok dan tua.

Disana ada dua macam sel. Yang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek — sebangsa ikan yang murah dan menjadi makanan orang yang paling miskin — adalah nama julukan untuk rakyat jelata. Pepetek tidur diatas lantai. Sedangkan para tahanan politik tingkat atas, seperti Soekarno, tidur di atas pelbed besi.[Kisah Aneh dan Unik Ketika Soekarno Dijadikan Nabi, Nahyimungkar.com. Monday, 11/04/2011 14:51 WIB].

Bagaimanapun lama dan kuatnya seseorang berkuasa maka ada masa berakhirnya, sebaiknya seseorang meninggalkan tampuk pimpinan atau lengser dari jabatan dengan husnul khatimah yaitu penghabisan yang baik agar dia tenang dikala mengakhiri kehidupan kelak. Dengan proses yang panjang berbagai tragedi terjadi di tanah air ini, akhirnya Soekarno menyerahkan jabatannya yang disambut baik oleh Soeharto yang dianggap sudah berjasa besar menyelamatkan bangsa dari kekejaman PKI, tapi nasib ummat islam tidaklah berbeda di zaman Soeharto dengan orde barunya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 26 Juli 2011.M/24 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar