Selayaknya agama islam itu dipelajari
oleh ummatnya dalam rangka untuk meningkatkan kualitas iman, wawasan dan
memberi gambaran yang benar terhadap ibadah yang dilakukannya serta seluk beluknya,
karena islam bukanlah agama untuk kalangan elit saja tapi juga untuk seluruh
ummatnya yang mau untuk mengkaji dan mempelajarinya bahkan ini merupakan
anjuran dari Allah yang mengawali wahyu-Nya kepada nabi Muhammad melalui surat
Al Alaq yang memerintahkan untuk membaca, mengkaji dan meneliti segala
sesuatunya bahkan islam melarang ummatnya untuk taqlid yaitu mengikuti pendapat
seseorang dengan fanati.
Tapi, ketika islam dan budaya kektimuran dipelajari oleh bangsa
Barat yang tidak beragama islam dari kalangan Nasrani dan Yahudi maka mereka
disebut dengan orientalis, hal itu dilakukan karena berbagai motivasi, lebih
banyak untuk mencari kelemahan islam kemudian merusak pemikiran islam di
kalangan pelajar.
Sebuah buku yang ditulis oleh Doktor
Abdul Mun’im Moh. Hasanain
Guru Besar pada Islamic University Medinah dengan judul ORIENTALISME pada muqadimahnya menyatakan;
Guru Besar pada Islamic University Medinah dengan judul ORIENTALISME pada muqadimahnya menyatakan;
Orientalisme
adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat
ilmiyah, yang meneliti dan memperdalam masalah ketimuran.Tetapi di balik
penelitian masalah ketimuran itu mereka berusaha memalingkan masyarakat Timur
dari Kebudayaan Timurnya, berpindah mengikuti keinginan aliran Kebudayaan Barat
yang sesat dan menyesatkan.
Orientalis,
adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat, Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain,
yang mendalami bahasa-bahasa Timur (bahasa Arab, Persi, Ibrani, Suryani dan
lain-lain), temtama mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Studi ini mereka
gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham-faham yang bathil ke dalam ajaran
Islam, agar aqidah, ajaran dan da’wah Islam merosot, berkurang pengaruhnya
terhadap masyarakat, tak berbekas dalam kehidupan, tidak mampu mengangkat
derajat kemanusiaan, tidak berperan lagi untuk melepaskan manusia dari
perhambaan pada makhluk, dan tujuan Islam tak kunjung tercapai dalam
mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan (Zhulumaat: kufur, syirik, fasik,
lemah, bodoh, tertindas, miskin, dijajah, dianiaya, dan dalam keadaan
terbelakang dalam segala bidang) menuju An Nur (kebalikan dari Zhulumaat, yaitu
bertauhid, iman, kuat, pintar, cerdas, adil, aman, makmur, maju dan lain
sebagainya).
Seperti
kita ketahui, bahwa segala tipu daya dan kebatilan yang mereka resapkan sedikit
demi sedikit telah masuk ke dalam kebudayaan Islam dan berakibat mengurangi
peranan Islam dalam penyiaran ilmu pengetahuan yang telah membawa Eropa dari
zaman pertengahan (masa kebodohan dan kegelapan) ke masa kejayaan masa modern
(yang sekarang telah menjadi kebanggaan para Sarjana Barat)
.Pihak
Orientalisme berusaha keras menyerang Islam, dan menggerogoti da’wahnya, sebab
mereka tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh nafsu hendak memusuhi Islam
yang mereka warisi. Usaha mereka itu tidak saja secara sembunyi-sembunyi dan
menaburkan benih-benih keragu-raguan terhadap sumber Islam, memasukkan
kebatilan-kebatilan ke dalam ajaran syari’at, menggiring ummat Islam ke dalam
aliran fikiran yang sesat, dan menyerang bahasa Arab (bahasa al Qur’an), tapi
juga terang-terangan membantu propaganda gerakan yang berselubung di bawah nama
Islam yang menyesatkan.
Juga
para Orientalis memonopoli semua mass media, yang digunakan untuk membinasakan
dan menjauhkan ummat Islam dari agamanya, bahkan merusakkan putera-puteri
Muslim yang belajar di sekolah-sekolah dan di negeri mereka.[Swaramuslim.com].
Usaha
orientalis untuk mempejari dan mengkaji islam bukanlah secara obyektif tapi
unsur subyektifnya adalah untuk kepentingan Barat dalam rangka menghancurkan
islam dengan menyebarkan beberapa faham yang bertentangan dengan islam
diantaranya faham materialisme, leberalisme dan sekulerisme.
Sebenarnya,
Sekularisme adalah apa yang dipropagandakan oleh Orientalisme untuk merusak
Da’wah Islam. Mereka membiayai dan memperlengkapi dengan segala fasilitas agar
ilmu dapat terpisah dari agama.Gerakan ini mulai bangkit di Eropa setelah
terjadinya persaingan antara Ilmuwan dengan pemuka-pemuka Gereja yang berkuasa
di zaman Pertengahan dan menguasai otak orang-orang Eropa, yang tidak menerima
fikiran atau pendapat di luar yang bersumber pada Gereja / Kristen. Di waktu
itu kekuasaan Gereja mempunyai hak pengampunan terhadap orang-orang yang
bersalah dan berdosa besar, begitu juga punya hak mengutuk dan mengusir sebagai
mewakili Tuhan dan lain sebagainya.
Persengketaan
ini berakhir dengan berpisahnya antara ilmu pengetahuan dengan Gereja dan
masing-masing punya tokoh utama. Para ahli pengetahuan boleh berkata sesukanya
tanpa protes dari pihak Gereja dan sebaliknya pihak Gereja punya hak mengatakan
apa yang mereka sukai dalam urusan agamanya.
Ketika
terjadi persaingan antara ilmu dan agama Kristen akibat dari perbuatan pihak
Gereja yang menjalankan apa-apa yang diprotes oleh aliran ilmu maka Agama
(Kristen) harus memisahkan diri dari urusan dunia, dan urusannya
diganti/diambilalih oleh aliran ilmu tanpa agama.Berbeda dengan Islam, Islam
selamanya tidak memisahkan dan tidak mempertentangkan ilmu dengan agama sebab
ilmu adalah alat untuk memperkuat agama, dan agama itu sendiri pun adalah ilmu,
dan ilmu adalah pembimbing kepada Agama.Di dalam Al-Qur’an, kata-kata “ilmu”
dan yang berhubungan dengan ilmu punya hubungan/peranan penting sekali, yang
lebih dari 820 kali disebutkan.
Pengembangan
ilmu adalah sebagian dari risalah Islam, dengan ilmu manusia bisa mengenal
Tuhannya, mengamalkan Syari’at Islam, dan Islam mewajibkan menuntut ilmu, lihat
surat Az-Zumar ayat 9, Al-Mujadalah ayat 11, dan Thaha ayat 114.
“Katakanlah
(ya Muhammad)! Apakah sama orang berilmu dengan yang tidak berilmu? Hanya yang
bisa menganalisa ialah ahli-ahli fikir.”(Az-Zumar ayat 9).
“Allah
meninggikan derajat orang-orang berilmu dan yang diberi ilmu.”(Al-Mujaadalah
ayat 11).
“Katakanlah,
ya Muhammad: O, Tuhan! Tambahlah aku dengan ilmu.”(Thaha ayat 114).
Adapun
sekularisme yang dilahirkan oleh Orientalis, membawa pada pemisahan ilmu dengan
agama, hal ini tidak ada dalam Islam dan tidak pantas ada dalam masyarakat
Islam, karena Islam menghimpun ilmu dan pengetahuan.Siapa yang menerima
sekularisme berarti tidak akan tahu hakekat Islam dan tidaklah sempurna Islam
seseorang tanpa ilmu!
Kita
harus membendung pemuda-pemuda terpelajar dari taktik buta sekularisme yang
menyesatkan, siapa yang tenggelam dalam aliran pemikiran yang dibawa
Orientalis, berarti akan mengkaramkan ummat Islam sendiri, sebab hal demikian
akan merusak aqidah dan menjauhkan mereka dari agama yang membawa kesentausaan
mereka (Islam). Allah-lah yang punya kemuliaan, kekuasaan yang menentukan,
begitu Rasul-Nya dan orang beriman.[Abdul Mun’im Moh. Hasanain, ORIENTALISME, CARA ORIENTALISME MENGGEROGOTI
DA’WAH ISLAM.Swaramuslim.com].
Orientalisme sejak semula telah
memberikan perhatian kepada penyelidikan Hadis. Motivasi perhatian itu dapat
dicari pada beberapa factor, antara lain dan yang mungkin terkuat adalah bahwa
usaha untuk memburuk-burukkan Islam melalui penelitian Hadis lebih mudah dari pada
melalui penelitian al-Qur'an. Adanya keinginan untuk mendiskreditkan Islam ini
telah mengakibatkan banyak kekeliruan dalam penyelidikan Hadis hingga saat ini.
Gambaran yang sangat negatif dan
prasangka yang berlebihan telah menyesatkan hampir semua kaum orientalis,
kecuali beberapa sarjana yang berpikiran jernih dan bersifat obyektif dalam
melakukan penyelidikan Hadis.Dan
tampaknya baik Ignaz Goldziher maupun Joseph Schacht memiliki sasaran yang
sama, yaitu ingin melecehkan Hadis agar ia tidak dapat dipakai sebagai rujukan
umat Islam .Keduanya memiliki tesis yang menyatakan bahwa Hadis bukan
sesuatu yang otentik dari Rasulullah, melainkan sesuatu yang lahir pada abad I
dan II hijri, yang kesemuanya merupakan bikinan ulama.
Kiat-kiat Orientalis Dalam rangka
mencapai sasarannya, yaitu melecehkan dan menggusur eksistensi Hadis, kaum
orientalis melakukan kiat-kiat antara lain sebagai berikut:
1.Mengubah Teks-teks Sejarah Di
antara tokoh-tokoh ulama Hadis yang menjadi incaran pelecehan Goldziher adalah
Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H). disamping dituduhnya sebagai pemalsu Hadis,
Goldziher juga mengubah teks-teks sejarah yang berkaitan dengan Ibnu Syihab
al-Zuhri, sehingga timbul kesan bahwa al-Zuhri mengakui bahwa dirinya memang
pemalsu Hadis.
2.Membuat Teori Rekayasa Untuk memperkuat tuduhannya bahwa
apa yang dikenal sebagai Hadis adalah bukan berasal dari Rasulullah, tetapi
bikinan ulama abad I dan II hijri, Schacht membuat teori tentang rekonstruksi
terjadinya sanad Hadis. Teorinya kemudian dikenal dengan nama teori
"Projecting Back" (Proyeksi belakang).
Menurut Schacht, hukum Islam belum eksis pada masa al-Sya'bi (w. 110 H). Ini artinya bahwa apabila bahwa apabila terdapat Hadis yang berkaitan dengan hukum Islam, maka Hadis-hadis itu adalah buatan orang-orang yang hidup sesudah al-Sya'bi.Schacht berpendapat bahwa hukum Islam baru dikenal semenjak masa pengangkatan para qadhi (hakim agama).[Disarikan dari Waspada Kajian Hadits Dikalangan Orientalis, Prof. DR. Ali Mustafa Yaqub, MA, Forum swaramuslim].
Perguruan Islam seperti IAIN
merupakan Perguruan Tinggi Islam yang diharapkan kelak akan melahirkan sarjana
dan cendikiwan muslim yang baik wawasan
keislamannya, tidak terkontaminasi oleh faham dan pemikiran-pemikiran yang
dapat merusak agama tauhid ini, tapi kenyataannya IAIN dan kampus pada
Perguruan Tinggi Islam sudah menjadi Lembaga resmi bagi orienalis untuk
menyebarkan pemikiran mereka karena Mahasiswa diwajibkan mengkaji dan meneliti buku-buku karya orientalis,
otomatis pemikiran yang munculpun tidak jauh beda dengan penulisnya.
Melalui riset yang cukup mendalam
terhadap sejumlah kurikulum kajian filsafat Islam di Perguruan
Tinggi Islam di Indonesia –baik yang negeri maupun swasta, membuktikan
bahwa kajian filsafat Islam di Indonesia tampak jelas terpengaruh oleh kajian
para orientalis. Pengaruh itu tidak hanya pada cara atau metodologi pengkajian,
tetapi lebih mendasar lagi, sampai pada framework (kerangka) dan cara
pandangnya terhadap filsafat Islam.
Cara pandang ini tentu bukan tanpa
maksud. Secara sistematis, mereka akan menunjukkan bahwa filsafatIslam hanyalah
kertas copi dari Yunani; tanpa Yunani, Islam tidak memiliki pemikiran rasional.
Padahal, sekalipun konsepsi falsafah juga dikenal dalam pemikiran Islam, namun
tetap disertai kritik dan seleksi yang ketat.Itulah yang dilakukan oleh
Al-Ghazali dan Ibn Taymiyah.
Jauh sebelumnya, 30 tahun lalu,
Prof. HM Rasjidi telah menunjukkan kuatnya pengaruh metode orientalis terhadap
buku wajib dalam studi Islam di Indonesia, yakni buku “Islam Ditinjau Dari Berbagai
Aspeknya”, karya Prof. Harun Nasution. Rasjidi kemudian memberikan
kritik-kritik yang tajam terhadap buku tersebut, bahwa buku itu merusak
dan membahayakan aqidah Islam.
Tetapi, kritik-kritiknya tidak
pernah didengar. Buku ini tetap dijadikan sebagai rujukan dalam studi Islam
di Perguruan Tinggi, tanpa didampingi oleh buku Prof. Rasjidi: Koreksi
terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”.
Buku Harun Nasution ini memuat
begitu banyak kesalahan fatal dan mendasar tentang Islam. Dalam aspek filsafat,
Harun Nasution juga menulis: “Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui
falsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia,
Persia, dan Mesir…Filosof kenamaan yang pertama adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn
Ishaq al-Kindi.”
Dalam pemaparannya, Harun mengungkap
berbagai perdebatan seputar isu-isu dalam kajian filsafat, tetapi tidak
melakukan ‘tarjih’ terhadap pendapat yang benar.Bahkan ketika membahas pendapat
seorang filosof yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam, Harun tidak
memberikan kritik terhadapnya.Seperti ketika menjelaskan tentang filosof Abu
Bakr Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (864-925), Harun bahkan menulis, “Tetapi
sungguhpun ia menentang agama-agama, al-Razi bukanlah seorang ateis.Ia tetap
percaya kepada Tuhan sebagai pengatur alam ini.”
Padahal, ditulis oleh Harun:
“Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya pada akal dan
tidakpercaya pada wahyu. Menurut keyakinannya akal manusia cukup kuat untuk
mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan apa yang buruk, dan untuk mengatur
hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu Nabi dan Rasul tak perlu, bahkan
ajaran-ajaran yang mereka bawa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat manusia.
Semua agama dia kritik. Al-Quran baik dalam bahasa maupun isinya bukanlah
mu’jizat.”
Sebagai buku panduan untuk mahasiswa
Muslim, harusnya Prof. Harun menjelaskan, bahwa pendapat Abu Bakr Muhammad Ibn
Zakaria al-Razi (bukan Fakhruddin al-Razi) adalah keliru dan bertentangan
dengan prinsip ajaran Islam.
Metode studi agama cara Islam ini
tentu berbeda dengan metode para studi agama ‘gaya Barat’ yang lebih diarahkan
untuk menjadi ‘ilmuwan dan pengamat keagamaan’. Karena itu, dalam model studi
seperti ini, para dosen tidak mempersoalkan apakah mahasiswa itu sesat atau
benar.Suatu skripsi atau tesis tetap diluluskan jika dianggap sudah memenuhi
syarat metode penulisan ilmiah, tanpa peduli apakah karya ilmiah itu benar atau
salah dari segi isinya dalam pandangan Islam. Bahkan, banyak yang sudah
bersifat skeptis dan agnostik terhadap kebenaran, dengan menyatakan, bahwa
manusia tidak akan tahu kebenaran sejati, yang tahu kebenaran hanya Allah.
Tentu saja ini sangat keliru, sebab Allah telah menurunkan wahyu-Nya
kepada manusia melalui Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk bisa membedakan
mana yang benar dan mana yang salah.
Kita berharap para dosen di
perguruan tinggi Islam dan para pejabat Departemen Agama sadar akan
amanah berat yang mereka pikul saat ini, sehingga mereka tidak
bersantai-santai atau bermain-main dalam hal ilmu agama.
Mereka perlu sadar, bahwa upaya
untuk meruntuhkan Islam yang sangat strategis adalah dengan cara merusak
konsep-konsep keilmuan Islam. Itulah yang sejak berabad-abad lalu dilakukan
oleh para orientalis.[Disarikan dari tulisan yang berjudul“Ketika Kampus Islam
Dibajak Orientalis” Adian husaini,
hidayatullah.com Senin, 28 Agustus
2006].
Seharusnya
ummat islam tidak bisa tinggal diam dengan peperangan yang digencarkan Barat
melalui berbagai virus yang merusak islam diantaranya yaitu Orientalisme, ini
sebuah peperangan urat saraf, perang pemikiran yang tidak membutuhkan senjata
dan tentara, paling tidak ada dua usaha ummat islam untuk menangkis dari
serangan itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Abdul Mu’nim Muhammad
Hasanain, dari Majalah ISLAMIC UNIVERSITY MADINA, Nomor 2 Tahun ke-X, Ramadhan
1397/Agustus 1977, halaman 79-105. Diterjemahkan dan diringkaskan oleh Anhar
Burhanuddin, M.A.; Jakarta, 10 Mei 1978 - (LPPA)
Sekalipun
kaum penjajah sudah angkat kaki, tapi ajaran-ajaran dan sistemnya terus
dijalankan oleh mereka yang telah keracunan oleh ajaran-ajarannya itu dan
diteruskan oleh pengikut-pengikut yang mereka tinggalkan.
1.
Defensif
Agar
Ulama-ulama, Juru Da’wah, Muballigh serta pemimpin-pemimpin Islam aktif
menangkis tuduhan-tuduhan, pemalsuan dan propaganda berbisa yang sengaja
dilontarkan oleh Orientalis, supaya ummat Islam sadar, insaf dan lebih aktif
membahas dan mempelajari ajaran agama Islam dan mengamalkannya.
Usaha
ini memerlukan alat-alat dan mass media pula, memerlukan Juru Da’wah yang
khusus dan berilmu tinggi, berakhlak mulia, berjiwa jihad dan beramal karena
Allah, dalam ilmunya mengenai Islam, juga memahami taktik dan strategi serta
tulisan dan karangan musuh-musuh Islam, dan mengerti bahasa-bahasa asing:
Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan terutama sekali bahasa Arab.
Di
samping ilmu dan kesungguhannya itu PERLU ADANYA IKATAN (ORGANISASI) Juru-juru
Da’wah dan Organisasi Da’wah untuk menghimpun dan.mengatur kerjasama dan
mengatur taktik dan strategi Islam.
2.
Tabligh
Agar
ummat Islam aktif menyiarkan dan menyebar luaskan ajaran Islam ke seluruh
negeri yang belum beragama dan ke negeri-negeri yang belum sampai padanya
ajaran Islam. Ini pun memerlukan adanya juru da’wah yang militan dan ulet,
berilmu dan mengerti betul tentang Islam, cerdas, dan tergabung dalam kelompok
mubaligh guna menghadapi lawan-lawan Islam dalam segala bentuk, nama dan
tindakan serta serangannya seperti dijelaskan di atas.
Ingatlah
firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104, yang artinya: “Hendaklah di antara
kamu ada ummat yang menyeru kepada kebaikan, melakukan yang ma’ruf dan mencegah
yang munkar mereka itulah orang yang menang.”
Surat
As-Shaf ayat 14, yang artinya: “Wahai orang-orang beriman! Hendaklah kamu
menjadi Pembela agama Allah, seperti yang dikatakan oleh Isa bin Maryam kepada
pengikutnya: Siapa yang akan menolongku untuk menegakkan agama Allah? Dijawab
oleh pengikutnya spontan (langsung): ‘Kami ansharullah’ (Pembela Agama Allah).”
Karena
itu, wajib bagi semua ummat Islam berjuang dan aktif berda’wah menyiarkan dan
membela Islam dengan semua kemampuan, harta, tenaga, ilmu dan semua yang dimiliki,
baik kedudukan, jabatan, kekuasaan, ilmu dan segalanya, agar dimanfaatkan untuk
mengeluarkan ummat manusia dari Zhulumat (musyrik, kafir, munafiq, fasiq,
bodoh, melarat, miskin, lemah, dianiaya, pecah-belah, dan lain-lain), kepada an
NUUR (bertauhid, beriman, istiqamah, beramal shaleh, pintar, makmur, kuat,
adil, bersatu, dan lain-lain) sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam yang
meliputi Tauhid, Hukum sanksi, warisan, akhlak, jihad, dan semua mu’malat,
politik, ekonomi, dan lain-lain, tanpa menambah atau mengurangi.[Abdul Mun’im
Moh. Hasanain, ORIENTALISME, USAHA
UMMAT ISLAM MENANGKIS SERANGAN ORIENTALISME, Swaramuslim.com].
Kita boleh bangga dengan anak-anak kita yang sekolah
di Perguruan Tinggi Islam seperti IAIN tapi juga harus prihatin dikala mereka
tidak bisa menyaring informasi yang shahih dari para orientalis apalagi
literature yang dibaca sebagai rujukan dari buku-buku yang ditulis oleh mereka,
walaupun mereka pakar hadits, pakar tafsir dan pakar pada bidang keislaman
lainnya tapi mereka tidaklah muslim sehingga dapat dipastikan terjadinya
penggiringan substansial islam sesuai dengan versi mereka, sesat dan
menyesatkan.
Bahkan jauh sebelum adanya kata “Orientalis” itu,
Allah sudah memperingatkan ummat ini melalui firman-Nya dalam surat Al Baqarah 2’120;
“Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho
kepadamu sebelum kamu mengikuti millah mereka”, kata “Millah” itu maksudnya
adalah cara cara pandangan hidup, idiologi dan pemikiran, semua dari ajaran
selain islam. Istilah sudah ketinggalan zaman, tidak relevan lagi, perlu
direvisi dan kehendak-kehendak lain untuk meruntuhkan nilai-nilai ajaran islam
mereka upayakan melalui lembaga pendidikan islam, wallahu a’lam [Cubadak Solok,
27 Juli 2011.M/ 25 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar