Selasa, 02 Februari 2016

149. Pahlawan



Pahlawan adalah orang yang dianggap berjasa terhadap seseorang, terhadap ummat, bangsa dan negara, dengan jasanya itu mendatangkan kebaikan, semangat patriotic dan kemuliaan. Semua orang bisa tampil sebagai pahlawan sehingga ada yang disebut sebagai pahlawan keluarga, pahlawan pendidikan, pahlawan  pembangunan. Guru dinamakan dengan pahlawan tanpa tanda jasa apalagi sang guru siap tampil mengajar di pedalaman, luar biasa pengabdian dan pengorbanan yang diberikan kepada bangsa ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Anis Baswedan;
            Sebagai Pengajar Muda, Anda adalah role model dan sumber inspirasi di tempat yang baru itu. Menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme; hal-hal yang selama ini terlihat defisit.

Bukan hanya itu, selama setahun menghadapi tantangan, mulai sekolah yang minim fasilitas, masyarakat yang jauh dari informasi, sampai dengan kemiskinan yang merata; itu semua adalah wahana tempaan untuk pengembangan diri.Ini juga tantangan untuk mengeluarkan seluruh potensi guna mendorong kemajuan.
Satu tahun di pedalaman itu akan menjadi semacam leadership training yang betul-betul bermutu. Melampaui tantangan dan berbagai kesulitan adalah bekal diri dan resep untuk sukses di kemudian hari. Apalagi, kita semua tahu bahwa: You are a leader only if you have follower. Keberhasilan sebagai leader bagi anak-anak SD di daerah terpencil itu adalah pengalaman leadership yang konkret. Anak-anak akan memiliki, mencintai, menyerap ilmu, mengambil inspirasi dari gurunya. Anda sebagai guru dalam setahun akan terus hadir dalam hidup mereka seumur hidup.

Indonesia butuh garda depan di berbagai sektor. Para Pengajar Muda akan menjadi insan yang tangguh dengan modal pemahaman mendalam tentang bangsa sendiri. Pada saatnya, Anda adalah seorang CEO, guru besar, pejabat tinggi, atau yang lainnya. Saat itu, di posisi apa pun, Anda selalu bisa mengatakan bahwa "Saya pernah mengajar di desa terpencil, sebagai guru yang mengabdi untuk bangsa ini". Sekarang ini, sedikit sekali figur pemimpin yang sanggup mengatakan kalimat pengabdian seperti itu [Guru Sebagai Garda Depan Indonesia, Anies Baswedan, padangtoday].

Bahkan Tenaga Kerja Indonesia [TKI] yang meninggalkan kampungnya menuju negara lain dalam rangka mencari nafkah bagi kepentingan keluarga juga dinamakan sebagai pahlawan, yaitu pahlawan devisa yang mendatangkan keuntungan bagi negara ini, kepahlawanan itu semakin kental dan diakui  dikala terjadinya berbagai tragedy yang terjadi di negara orang seperti kasus pemancungan TKI di Arab Saudi dan kasus-kasus lainnya yang membuat pemerintah berfikir dua tiga kali untuk mengirimkan lagi TKI ke negara orang.
Karena besarnya jasa pahlawan, heroiknya perjuangan yang dilalui sehingga ummat dan bangsa ini layak untuk menghormati jasa-jasanya, bahkan Bung Karno menyatakan,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawannya”, salah satu bentuk mengenang jasa pahlawan itu melalui upacara bendera  yang dilakukan di sekolah-sekolah hingga Perguruan Tinggi, sebenarnya upacara bendera tidak masalah yang sedang dalam polemik hari ini adalah hormat bendera, apakah ritual itu dibenarkan dalam islam ?
Terlepas dari berbagai argumen yang terkait ketiadaan pelaksanaan upacara bendera, yang pasti, dunia pendidikan, mulai dari jenjang yang paling rendah, yaitu playgroup, sampai yang paling tinggi strata sarjana, haruslah memasukkan kurikulum yang berbasis nasionalisme. Adapun bentuk kurikulum itu sendiri bisa disesuaikan kepentingan pelaksanaan pendidikannya.

Khusus untuk tingkat sekolah dasar, sudah sewajarnya jika pelaksanaan upacara bendera menjadi nilai utama untuk menanamkan jiwa nasionalisme, selain pelajaran PKN, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran berbasis kurikulum.
Artinya, semua bentuk pendidikan yang dilakukan, baik berbasis agama maupun umum, tentu tidak dapat meninggalkan pelaksanaan upacara bendera.Bahkan, di beberapa sekolah yang tidak ada halaman luas di mana terdapat lebih dari satu sekolah, maka pelaksanaan upacara bendera bisa dilakukan secara bergiliran.Bahkan, jika tidak memungkinkan, pelaksanaannya bisa dilakukan secara bergiliran per kelas setiap Senin sehingga semua siswa tetap dapat melakukan upacara bendera.

Di jenjang strata sarjana juga tetap ada agenda upacara bendera, utamanya tiap peringatan Hari Pendidikan Nasional.Bahkan, instansi swasta pun juga melaksanakannya ketika peringatan Hari Kemerdekaan.Intinya, upacara bendera menjadi salah satu dasar untuk memupuk jiwa nasionalisme, sebab jika tidak jiwa nasionalisme bisa terkikis, dan jika ini terjadi, sangat fatal bagi arti perjuangan pencapaian kemerdekaan yang telah diraih oleh para pahlawan.Dengan kata lain, melakukan upacara bendera bisa juga menjadi kegiatan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan para pahlawan. Bukankah tidak ada agama satu pun yang mengharamkan mengenang jasa perjuangan para pahlawannya?

Mengapa upacara bendera menjadi sangat penting dilakukan oleh siswa di tingkat SD?Alasan yang mendasari lebih mengacu pada penciptaan karakter sedari dini.Terkait hal ini, teoretis MSDM menjelaskan bahwa penciptaan karakter sedari dini bisa dilakukan di tingkat pendidikan dasar dan terus berlanjut. Pembangunan karakter sedari dini, termasuk karakter nasionalisme di tingkat pendidikan dasar yaitu SD, tentunya akan lebih mudah untuk diteruskan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Di satu sisi, tentu penekanan dari setiap tingkatan itu sendiri berbeda. Artinya, untuk tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan atas yaitu SMA, perlu pelaksanaan upacara bendera, sedangkan untuk tingkat strata sarjana bisa insidentil pada peringatan hari-hari nasional, misalnya, Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kemerdekaan.[Membangun Nasionalisme dari Sekolah, Edy Purwo SaputroDosen di Univ MuhammadiyahSolo].

Selain bentuk menghargai pahlawan tadi dengan mengadakan upacara bendera, yang sebenarnya ritual hormat bendera itu tidak dibenarkan menurut aqidah  tauhid,  juga dibangun berbagai monument untuk mengenang jasa para pahlawan sehingga pada setiap daerah pasti saja ada monument yang berdiri berupa patung yang bergaya heroik seperti patung pahlawan yang sedang memanggung bambu runcing, patung pahlawan sedang berlaga dengan musuh diatas kudanya,patung-patung itu menunjukkan ekspresi para pahlawan yang sedang berjuang, padahal dalam islam patung tidak boleh dibuat apapun alasannya, sekalipun untuk menghargai pahlawan.

Monument tidak mesti berbentuk patung manusia atau hewan, intinya patung dengan bentuk makhluk hidup tidak dibenarkan, maka selayaknya untuk membuat monument dalam bentuk lain, apalagi dalam waktu dekat ini bangsa Indonesia akan membangun Monumen Bela Negara.

Pemerintah berencana membangun Monumen Bela Negara.Tujuannya mengenang nilai-nilai yang diajarkan pendiri Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Sebelum rencana itu menjadi nyata, Kamis (16/12/2010) siang, pemerintah menggelar seminar bertema "Gerakan Nasional Bela Negara dan Monumen Bela Negara" di gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Seminar dibuka Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.Sejumlah tokoh didaulat sebagai pembicara. Mereka adalah Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim, Wakil Walikota Bukittinggi Harma Zaldi, mantan Danpuspom ABRI Mayjen TNI (Purn) Djasri Marin, dan Dirjen   Potensi Pertahanan Keamanan Budi Susilo Soepandji.Waktu itu, Jogyakarta yang merupakan Ibu Kota Republik Indonesia, baru tiga hari dibombardir Belanda. Dua founding father Republik, yakni Soekarno-Hatta ditangkap, lalu dibuang ke Brastagi dan Pulau Bangka.Sebelum ditangkap, Soekarno-Hatta,  sempat memberi mandat kepada Mr Syafrudin Prawiranegara yang berada di Sumatera.

Dalam mandatnya, Soekarno-Hatta meminta Mr Syafrudin Prawiranegara membentuk Pemerintahan Drurat  Republik Indonesia. Jika mandat tersebut tak dapat dijalankan, maka kepada Soedarsono, Palar, dan Mr Maramis diminta membentuk Exile Government di India.Meski mandat tersebut, tak pernah sampai kepada Mr Syafrudin Prawiranegara.Namun, dengan keyakinan yang besar (bisa jadi juga karena sudah mendapat rambu-rambu dari Bung Hatta), Syafrudin berhasil membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

PDRI berhasil dideklarasikan Mr Syafrudin  bersama para pejuang lainnya, di dangau Yaya, kawasan Tadah, Nagari Halaban. Namun sayangnya, tidak adalagi tanda-tanda, kalau tempat nan sejuk dan jauh dari keramaian tersebut, pernah menjadi ibukota republik.Menteri Kemakmuran Republik Indonesia Mr Syafrudin Prawiranegara, bersama dengan sejumlah pejuang tanah air, memproklamirkan lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), tanggal 22 Desember 1948.[Menimbang-Nimbang Monumen Bela Negara, Fajar Rillah Vesk, korandigital.com].

Pahlawan adalah orang yang berjuang dengan sepenuh hati untuk membela kebenaran, menegakkan keadilan dan menumbangkan kezhaliman, pada level yang lebih tinggi maka pahlawan adalah orang yang siap mengorbankan seluruh potensi hidupnya untuk kepentingan islam demi mengharapkan keridhaan Allah, semua pahlawan adalah pejuang tapi tidak semua pejuang itu pahlawan, karena makna pahlawan menurut Buya Hamka adalah orang yang banyak pahalanya, karakter inilah yang ditanamkan islam kepada pejuang-pejuangnya sepanjang sejarah kehidupan sebagaimana yang dialami oleh salah seorang sahabat Rasulullah yang tidak mau ketinggalan dalam meraih pahala dalam setiap perjuangan.

Beberapa hari  telah berlalu. Rasulullah saw berangkat meninggalkan Madinah menuju Tabuk. Di tengah hari yang sangat panas, Abu Khaitsamah pulang ke rumahnya.Ia tidak ikut berangkat ke Tabuk bersama dengan Rasulullah ketika itu. 
Sesampainya di rumah ia disambut dua orang istrinya yang duduk di pelaminan di rumahnya yang indah. Di hadapan istrinya itu telah dihamparkan sajian makanan kesukaannya.Tidak ketinggalan pula air penyejuk ruangan hingga mereka tidak kepanasan. 
Melihat panorama yang sangat menggoda itu, Abu Khaitsamah tertegun di depan pintu rumahnya. Udara yang sejuk di dalam rumah, dua istri yang cantik di atas pelaminan, dan makanan kesukaan yang terhampar menyentakkan kesadarannya dalam titik klimak kemewahan. 
Ia berkata dalam hati, menegur dirinya sendiri: “Rasulullah saw sedang  disengat terik matahari, menahan terpaan angin gurun, sementara Abu Khaitsamah duduk manis di ruangan berpendingin, dengan makanan lezat tersaji, bersama istri cantik yang mendampingi, ini tidak adil”. 
Kemudian ia membalikkan badan dan berkata: “Demi Allah saya tidak akan menyentuh seorangpun dari kalian, sebelum saya berjumpa dengan Rasulullah. Ayo kalian berdua siapkan perbekalan, saya hendak menyusul Rasulullah”. 
Kedua istrinya melaksanakan perintah suaminya itu dengan cepat. Segera ia menuju ke tempat ontanya ditambat dan bergegas berangkat menyusul Rasulullah. 
Setelah berhari-hari melintasi bukit batu, jalan terjal, dan gurun pasir seperti umumnya daratan Jazirah Arab, Abu Khaitsamah berhasil menemukan Rasulullah yang sudah sampai di Tabuk. 
Begitulah kepekaan hati sahabat Rasulullah saw. Rasa cinta yang ada dalam hati mereka tidak memberi ruang baginya untuk berbeda situasi dengan Rasulullah dalam suka dan duka. Hati Abu Khaitsamah tidak bisa menerima kesenangan dunia yang diterimanya pada saat Rasulullah dan para sahabatnya berada dalam kesulitan situasi dan beratnya medan jihad di jazirah Arab.
Dalam perjalanan ini pula Abu Khaitsamah berjumpa dengan Umair ibn Wahb al-Jumahi yang juga dalam perjalanan menyusul Rasulullah karena ketinggalan.Keduanya kemudian bersama-sama melintasi jalan panjang menuju Tabuk. 
Ketika sudah mendekati Tabuk, Abu Khaitsamah meminta kepada Umair bin Wahb al-Jumahi: “Sesungguhnya saya punya dosa, maka silahkan engkau meninggalkan saya, sehingga nanti saya bertemu dengan Rasulullah SAW sendirian”. 
Umair bin Wahb al-Jumahi setuju dengan permintaan itu, meskipun keduanya telah berhari-hari suka dan duka bersama dalam perjalanan, namun di ujung perjalan itu keduanya harus berpisah karena ada hal pribadi yang harus saling dihormati. 
Umair bin Wahb al-Jumahi memahami privasi Abu Khaitsamah, dan Abu Khaitsamah juga tidak ingin melibatkan Umair bin Wahb dalam masalah pribadi yang dihadapinya. Salah satu bentuk ta’awun sesama sahabat yang sangat unik. Tidak masuk dalam masalah pribadi orang lain yang tidak ingin diintervensi, dan tidak ingin melibatkan orang lain dalam kesalahan pribadi. 
Abu Khaitsamah berjalan agak lambat di belakang Umair bin Wahb. Ketika jarak semakin dekat ke Tabuk tempat Rasulullah dan para sahabat beristirahat, beberapa orang pasukan kaum Muslimin berkata: “Ada pengendara yang sedang mendekat”. Rasulullah menjawab, “Semoga dia itu adalah Abu Khaitsamah”.
Jarak Abu Khaitsamah dengan tempat Rasulullah beristirahat semakin dekat dan kaum Muslimin yang mengamatinya itupun kemudian berkata: “Betul, Wahai Rasulullah, dia Abu Khaitsamah”. 
Perkenalan dan pergaulan Rasulullah yang sangat intensif dengan para sahabatnya sehingga bisa menebak dari jauh, sosok sahabatnya itu, ketika kaum Muslimin lain belum mengenalinya. Rasulullah mengenali dengan baik cara jalan para sahabatnya. 
Jarak semakin dekat, wajah letih Abu Khaitsamah bisa dengan jelas terlihat, Rasulullah menyambutnya. Abu Khaitsamah menghadap dan memberikan salam kepada Rasulullah. Setelah menjawab salam, Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja, kecelakaanlah bagimu dan kecelakaanlah bagimu”. 
Abu Khaitsamah menceritakan pengalamannya sejak ketinggalan di Madinah tidak ikut berangkat ke Tabuk bersama Rasulullah, sambutan dua orang istri, dan kemewahan rumah tinggalnya sehingga ia menyusul Rasulullah ke Tabuk dengan lengkap.
Rasulullah mendengarkan dengan seksama cerita Abu Khaitsamah. Setelah selesai cerita Rasulullah mendoakan Abu Khaitsamah dengan doa kebaikan, dan semoga Abu Khaitsamah senantiasa dalam kebaikan. 

Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Selama masih ada kemauan kuat, maka kebaikan itu insyallah akan didapat. Pertolongan Allah biasanya diberikan kepada hamba-Nya yang beramal di jalannya, kemudian ada kesulitan yang menghadangnya. Tidak ada perjuangan  tidak ada pertolongan.[Muhith Muhammad Ishaq, Perjuangan Mendatangkan Pertolongan Cybersabili. Selasa, 25 Januari 2011 15:40 Dwi Hardianto].

Pertolongan yang diberikan Allah hanya kepada para pahlawan yang ikhlas dalam berjuang, walaupun banyak kebaikan yang dilakukan di dunia ini tapi tidak ikhlas, mengharapkan sesuatu yang dianggap berharga sebagai imbalannya maka jasa-jasa pahlawan itu hanya sebagai sebutan dan monument yang tidak berarti. Ketika di pengadilan kelak para pejuang akan dihadapkan segala amal perbuatannya, untuk mengukur benar dan tidaknya jasa pahlawan itu hanya Allah saja yang tahu dan balasannya sesuai dengan niat masing-masing.

Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas dan membuka segala kepalsuan yang dilakukan manusia dikatakan bahwa pada hari kiamat akan diadili terlebih dahulu tiga golongan manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar dan golongan hartawan. Ketiga golongan ini diperiksa satu persatu.

            Kaum pejuang ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan di dunia ?” mereka menjawab, ”Saya berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan juang”, Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu tewas bukanlah karena mempertahankan  agama Allah tapi hanhya karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai pahlawan, tempatmu di neraka”.

            Kaum terpelajar ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan ?” mereka menjawab, ”Saya menuntut ilmu, kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu senantiasa saya membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan mengajar agar digelari  orang ulama, kamu senantiasa membaca Al Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.

            Kaum dermawan ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu dan mengaruniakan rezeki yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu kerjakan dengan nikmat itu?” mereka menjawab,”Saya nafkahkan harta itu hanya supaya engkau disebut orang dermawan, tempatmupun di neraka”.

Intinya jadilah kita sebagai pejuang pada level apa saja tapi harus berbuat karena Allah, ikhlas dalam perjuangan bukan karena motiv yang lain, karena setiap pejuang belum tentu disebut sebagai pahlawan walaupun orang menyebutnya pahlawan dan ketika meninggal dimakamkan di makam pahlawan, bahkan ada pahlawan tapi tidak sedikit orang yang  melupakannya, jasanya tidak pernah terbaca, tiadk ada monument untuknya, diapun tidak dimakamkan di makam pahlawan tapi dihadapan Allah dia adalah pahlawan yaitu orang yang mendapat pahala dengan nilai syahid, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 27 Juli 2011.M/ 25 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar