Pahlawan adalah orang yang dianggap
berjasa terhadap seseorang, terhadap ummat, bangsa dan negara, dengan jasanya
itu mendatangkan kebaikan, semangat patriotic dan kemuliaan. Semua orang bisa
tampil sebagai pahlawan sehingga ada yang disebut sebagai pahlawan keluarga,
pahlawan pendidikan, pahlawan
pembangunan. Guru dinamakan dengan pahlawan tanpa tanda jasa apalagi
sang guru siap tampil mengajar di pedalaman, luar biasa pengabdian dan
pengorbanan yang diberikan kepada bangsa ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh
Anis Baswedan;
Sebagai Pengajar Muda, Anda adalah
role model dan sumber inspirasi di tempat yang baru itu. Menggandakan semangat,
menyebarkan harapan dan optimisme; hal-hal yang selama ini terlihat defisit.
Bukan
hanya itu, selama setahun menghadapi tantangan, mulai sekolah yang minim
fasilitas, masyarakat yang jauh dari informasi, sampai dengan kemiskinan yang
merata; itu semua adalah wahana tempaan untuk pengembangan diri.Ini juga
tantangan untuk mengeluarkan seluruh potensi guna mendorong kemajuan.
Satu
tahun di pedalaman itu akan menjadi semacam leadership training yang
betul-betul bermutu. Melampaui tantangan dan berbagai kesulitan adalah bekal
diri dan resep untuk sukses di kemudian hari. Apalagi, kita semua tahu bahwa:
You are a leader only if you have follower. Keberhasilan sebagai leader bagi
anak-anak SD di daerah terpencil itu adalah pengalaman leadership yang konkret.
Anak-anak akan memiliki, mencintai, menyerap ilmu, mengambil inspirasi dari
gurunya. Anda sebagai guru dalam setahun akan terus hadir dalam hidup mereka
seumur hidup.
Indonesia butuh garda depan di berbagai sektor. Para Pengajar Muda akan menjadi insan yang tangguh dengan modal pemahaman mendalam tentang bangsa sendiri. Pada saatnya, Anda adalah seorang CEO, guru besar, pejabat tinggi, atau yang lainnya. Saat itu, di posisi apa pun, Anda selalu bisa mengatakan bahwa "Saya pernah mengajar di desa terpencil, sebagai guru yang mengabdi untuk bangsa ini". Sekarang ini, sedikit sekali figur pemimpin yang sanggup mengatakan kalimat pengabdian seperti itu [Guru Sebagai Garda Depan Indonesia, Anies Baswedan, padangtoday].
Bahkan
Tenaga Kerja Indonesia [TKI] yang meninggalkan kampungnya menuju negara lain dalam
rangka mencari nafkah bagi kepentingan keluarga juga dinamakan sebagai
pahlawan, yaitu pahlawan devisa yang mendatangkan keuntungan bagi negara ini,
kepahlawanan itu semakin kental dan diakui
dikala terjadinya berbagai tragedy yang terjadi di negara orang seperti
kasus pemancungan TKI di Arab Saudi dan kasus-kasus lainnya yang membuat
pemerintah berfikir dua tiga kali untuk mengirimkan lagi TKI ke negara orang.
Karena
besarnya jasa pahlawan, heroiknya perjuangan yang dilalui sehingga ummat dan
bangsa ini layak untuk menghormati jasa-jasanya, bahkan Bung Karno
menyatakan,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa
pahlawannya”, salah satu bentuk mengenang jasa pahlawan itu melalui upacara
bendera yang dilakukan di
sekolah-sekolah hingga Perguruan Tinggi, sebenarnya upacara bendera tidak
masalah yang sedang dalam polemik hari ini adalah hormat bendera, apakah ritual
itu dibenarkan dalam islam ?
Terlepas
dari berbagai argumen yang terkait ketiadaan pelaksanaan upacara bendera, yang
pasti, dunia pendidikan, mulai dari jenjang yang paling rendah, yaitu
playgroup, sampai yang paling tinggi strata sarjana, haruslah memasukkan
kurikulum yang berbasis nasionalisme. Adapun bentuk kurikulum itu sendiri bisa
disesuaikan kepentingan pelaksanaan pendidikannya.
Khusus
untuk tingkat sekolah dasar, sudah sewajarnya jika pelaksanaan upacara bendera
menjadi nilai utama untuk menanamkan jiwa nasionalisme, selain pelajaran PKN,
yaitu Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran berbasis kurikulum.
Artinya,
semua bentuk pendidikan yang dilakukan, baik berbasis agama maupun umum, tentu
tidak dapat meninggalkan pelaksanaan upacara bendera.Bahkan, di beberapa
sekolah yang tidak ada halaman luas di mana terdapat lebih dari satu sekolah,
maka pelaksanaan upacara bendera bisa dilakukan secara bergiliran.Bahkan, jika
tidak memungkinkan, pelaksanaannya bisa dilakukan secara bergiliran per kelas
setiap Senin sehingga semua siswa tetap dapat melakukan upacara bendera.
Di
jenjang strata sarjana juga tetap ada agenda upacara bendera, utamanya tiap
peringatan Hari Pendidikan Nasional.Bahkan, instansi swasta pun juga
melaksanakannya ketika peringatan Hari Kemerdekaan.Intinya, upacara bendera
menjadi salah satu dasar untuk memupuk jiwa nasionalisme, sebab jika tidak jiwa
nasionalisme bisa terkikis, dan jika ini terjadi, sangat fatal bagi arti
perjuangan pencapaian kemerdekaan yang telah diraih oleh para pahlawan.Dengan
kata lain, melakukan upacara bendera bisa juga menjadi kegiatan untuk mengenang
jasa-jasa perjuangan para pahlawan. Bukankah tidak ada agama satu pun yang
mengharamkan mengenang jasa perjuangan para pahlawannya?
Mengapa
upacara bendera menjadi sangat penting dilakukan oleh siswa di tingkat
SD?Alasan yang mendasari lebih mengacu pada penciptaan karakter sedari
dini.Terkait hal ini, teoretis MSDM menjelaskan bahwa penciptaan karakter
sedari dini bisa dilakukan di tingkat pendidikan dasar dan terus berlanjut.
Pembangunan karakter sedari dini, termasuk karakter nasionalisme di tingkat
pendidikan dasar yaitu SD, tentunya akan lebih mudah untuk diteruskan pada
tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Di satu sisi, tentu penekanan dari setiap
tingkatan itu sendiri berbeda. Artinya, untuk tingkat pendidikan dasar sampai
pendidikan atas yaitu SMA, perlu pelaksanaan upacara bendera, sedangkan untuk
tingkat strata sarjana bisa insidentil pada peringatan hari-hari nasional,
misalnya, Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kemerdekaan.[Membangun Nasionalisme dari Sekolah,
Edy Purwo SaputroDosen
di Univ MuhammadiyahSolo].
Selain
bentuk menghargai pahlawan tadi dengan mengadakan upacara bendera, yang
sebenarnya ritual hormat bendera itu tidak dibenarkan menurut aqidah tauhid,
juga dibangun berbagai monument untuk mengenang jasa para pahlawan
sehingga pada setiap daerah pasti saja ada monument yang berdiri berupa patung
yang bergaya heroik seperti patung pahlawan yang sedang memanggung bambu
runcing, patung pahlawan sedang berlaga dengan musuh diatas
kudanya,patung-patung itu menunjukkan ekspresi para pahlawan yang sedang berjuang,
padahal dalam islam patung tidak boleh dibuat apapun alasannya, sekalipun untuk
menghargai pahlawan.
Monument
tidak mesti berbentuk patung manusia atau hewan, intinya patung dengan bentuk
makhluk hidup tidak dibenarkan, maka selayaknya untuk membuat monument dalam
bentuk lain, apalagi dalam waktu dekat ini bangsa Indonesia akan membangun
Monumen Bela Negara.
Pemerintah
berencana membangun Monumen Bela Negara.Tujuannya mengenang nilai-nilai yang
diajarkan pendiri Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Sebelum rencana
itu menjadi nyata, Kamis (16/12/2010) siang, pemerintah menggelar seminar
bertema "Gerakan Nasional Bela Negara dan Monumen Bela Negara" di
gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Seminar
dibuka Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.Sejumlah tokoh didaulat sebagai
pembicara. Mereka adalah Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim, Wakil Walikota
Bukittinggi Harma Zaldi, mantan Danpuspom ABRI Mayjen TNI (Purn) Djasri Marin,
dan Dirjen Potensi Pertahanan Keamanan Budi Susilo Soepandji.Waktu
itu, Jogyakarta yang merupakan Ibu Kota Republik Indonesia, baru tiga hari
dibombardir Belanda. Dua founding father Republik, yakni Soekarno-Hatta
ditangkap, lalu dibuang ke Brastagi dan Pulau Bangka.Sebelum ditangkap,
Soekarno-Hatta, sempat memberi mandat kepada Mr Syafrudin Prawiranegara
yang berada di Sumatera.
Dalam
mandatnya, Soekarno-Hatta meminta Mr Syafrudin Prawiranegara membentuk
Pemerintahan Drurat Republik Indonesia. Jika mandat tersebut tak dapat
dijalankan, maka kepada Soedarsono, Palar, dan Mr Maramis diminta membentuk
Exile Government di India.Meski mandat tersebut, tak pernah sampai kepada Mr
Syafrudin Prawiranegara.Namun, dengan keyakinan yang besar (bisa jadi juga
karena sudah mendapat rambu-rambu dari Bung Hatta), Syafrudin berhasil
membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
PDRI
berhasil dideklarasikan Mr Syafrudin bersama para pejuang lainnya, di
dangau Yaya, kawasan Tadah, Nagari Halaban. Namun sayangnya, tidak adalagi
tanda-tanda, kalau tempat nan sejuk dan jauh dari keramaian tersebut, pernah
menjadi ibukota republik.Menteri Kemakmuran Republik Indonesia Mr Syafrudin Prawiranegara,
bersama dengan sejumlah pejuang tanah air, memproklamirkan lahirnya
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), tanggal 22 Desember 1948.[Menimbang-Nimbang
Monumen Bela Negara, Fajar Rillah Vesk, korandigital.com].
Pahlawan adalah orang yang
berjuang dengan sepenuh hati untuk membela kebenaran, menegakkan keadilan dan
menumbangkan kezhaliman, pada level yang lebih tinggi maka pahlawan adalah
orang yang siap mengorbankan seluruh potensi hidupnya untuk kepentingan islam
demi mengharapkan keridhaan Allah, semua pahlawan adalah pejuang tapi tidak
semua pejuang itu pahlawan, karena makna pahlawan menurut Buya Hamka adalah
orang yang banyak pahalanya, karakter inilah yang ditanamkan islam kepada
pejuang-pejuangnya sepanjang sejarah kehidupan sebagaimana yang dialami oleh
salah seorang sahabat Rasulullah yang tidak mau ketinggalan dalam meraih pahala
dalam setiap perjuangan.
Beberapa hari
telah berlalu. Rasulullah saw berangkat meninggalkan Madinah menuju
Tabuk. Di tengah hari yang sangat panas, Abu Khaitsamah pulang ke rumahnya.Ia
tidak ikut berangkat ke Tabuk bersama dengan Rasulullah ketika itu.
Sesampainya di
rumah ia disambut dua orang istrinya yang duduk di pelaminan di rumahnya yang
indah. Di hadapan istrinya itu telah dihamparkan sajian makanan
kesukaannya.Tidak ketinggalan pula air penyejuk ruangan hingga mereka tidak
kepanasan.
Melihat panorama
yang sangat menggoda itu, Abu Khaitsamah tertegun di depan pintu rumahnya.
Udara yang sejuk di dalam rumah, dua istri yang cantik di atas pelaminan, dan
makanan kesukaan yang terhampar menyentakkan kesadarannya dalam titik klimak
kemewahan.
Ia berkata dalam
hati, menegur dirinya sendiri: “Rasulullah saw sedang disengat terik
matahari, menahan terpaan angin gurun, sementara Abu Khaitsamah duduk manis di
ruangan berpendingin, dengan makanan lezat tersaji, bersama istri cantik yang
mendampingi, ini tidak adil”.
Kemudian ia
membalikkan badan dan berkata: “Demi Allah saya tidak akan menyentuh seorangpun
dari kalian, sebelum saya berjumpa dengan Rasulullah. Ayo kalian berdua siapkan
perbekalan, saya hendak menyusul Rasulullah”.
Kedua istrinya
melaksanakan perintah suaminya itu dengan cepat. Segera ia menuju ke tempat
ontanya ditambat dan bergegas berangkat menyusul Rasulullah.
Setelah
berhari-hari melintasi bukit batu, jalan terjal, dan gurun pasir seperti
umumnya daratan Jazirah Arab, Abu Khaitsamah berhasil menemukan Rasulullah yang
sudah sampai di Tabuk.
Begitulah
kepekaan hati sahabat Rasulullah saw. Rasa cinta yang ada dalam hati mereka
tidak memberi ruang baginya untuk berbeda situasi dengan Rasulullah dalam suka
dan duka. Hati Abu Khaitsamah tidak bisa menerima kesenangan dunia yang
diterimanya pada saat Rasulullah dan para sahabatnya berada dalam kesulitan
situasi dan beratnya medan jihad di jazirah Arab.
Dalam perjalanan
ini pula Abu Khaitsamah berjumpa dengan Umair ibn Wahb al-Jumahi yang juga
dalam perjalanan menyusul Rasulullah karena ketinggalan.Keduanya kemudian
bersama-sama melintasi jalan panjang menuju Tabuk.
Ketika sudah
mendekati Tabuk, Abu Khaitsamah meminta kepada Umair bin Wahb al-Jumahi:
“Sesungguhnya saya punya dosa, maka silahkan engkau meninggalkan saya, sehingga
nanti saya bertemu dengan Rasulullah SAW sendirian”.
Umair bin Wahb
al-Jumahi setuju dengan permintaan itu, meskipun keduanya telah berhari-hari
suka dan duka bersama dalam perjalanan, namun di ujung perjalan itu keduanya
harus berpisah karena ada hal pribadi yang harus saling dihormati.
Umair bin Wahb
al-Jumahi memahami privasi Abu Khaitsamah, dan Abu Khaitsamah juga tidak ingin
melibatkan Umair bin Wahb dalam masalah pribadi yang dihadapinya. Salah satu
bentuk ta’awun sesama sahabat yang sangat unik. Tidak masuk dalam masalah
pribadi orang lain yang tidak ingin diintervensi, dan tidak ingin melibatkan
orang lain dalam kesalahan pribadi.
Abu Khaitsamah
berjalan agak lambat di belakang Umair bin Wahb. Ketika jarak semakin dekat ke
Tabuk tempat Rasulullah dan para sahabat beristirahat, beberapa orang pasukan
kaum Muslimin berkata: “Ada
pengendara yang sedang mendekat”. Rasulullah menjawab, “Semoga dia itu adalah
Abu Khaitsamah”.
Jarak Abu
Khaitsamah dengan tempat Rasulullah beristirahat semakin dekat dan kaum
Muslimin yang mengamatinya itupun kemudian berkata: “Betul, Wahai Rasulullah,
dia Abu Khaitsamah”.
Perkenalan dan
pergaulan Rasulullah yang sangat intensif dengan para sahabatnya sehingga bisa
menebak dari jauh, sosok sahabatnya itu, ketika kaum Muslimin lain belum
mengenalinya. Rasulullah mengenali dengan baik cara jalan para
sahabatnya.
Jarak semakin
dekat, wajah letih Abu Khaitsamah bisa dengan jelas terlihat, Rasulullah
menyambutnya. Abu Khaitsamah menghadap dan memberikan salam kepada Rasulullah.
Setelah menjawab salam, Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja, kecelakaanlah
bagimu dan kecelakaanlah bagimu”.
Abu Khaitsamah
menceritakan pengalamannya sejak ketinggalan di Madinah tidak ikut berangkat ke
Tabuk bersama Rasulullah, sambutan dua orang istri, dan kemewahan rumah
tinggalnya sehingga ia menyusul Rasulullah ke Tabuk dengan lengkap.
Rasulullah
mendengarkan dengan seksama cerita Abu Khaitsamah. Setelah selesai cerita
Rasulullah mendoakan Abu Khaitsamah dengan doa kebaikan, dan semoga Abu
Khaitsamah senantiasa dalam kebaikan.
Tidak ada kata
terlambat untuk berbuat baik. Selama masih ada kemauan kuat, maka kebaikan itu
insyallah akan didapat. Pertolongan Allah biasanya diberikan kepada hamba-Nya
yang beramal di jalannya, kemudian ada kesulitan yang menghadangnya. Tidak ada
perjuangan tidak ada pertolongan.[Muhith
Muhammad Ishaq, Perjuangan Mendatangkan Pertolongan Cybersabili. Selasa,
25 Januari 2011 15:40 Dwi Hardianto].
Pertolongan yang
diberikan Allah hanya kepada para pahlawan yang ikhlas dalam berjuang, walaupun
banyak kebaikan yang dilakukan di dunia ini tapi tidak ikhlas, mengharapkan
sesuatu yang dianggap berharga sebagai imbalannya maka jasa-jasa pahlawan itu
hanya sebagai sebutan dan monument yang tidak berarti. Ketika di pengadilan
kelak para pejuang akan dihadapkan segala amal perbuatannya, untuk mengukur benar
dan tidaknya jasa pahlawan itu hanya Allah saja yang tahu dan balasannya sesuai
dengan niat masing-masing.
Dalam hadits
yang diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas dan membuka
segala kepalsuan yang dilakukan manusia dikatakan bahwa pada hari kiamat akan
diadili terlebih dahulu tiga golongan manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar
dan golongan hartawan. Ketiga golongan ini diperiksa satu persatu.
Kaum pejuang
ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan
di dunia ?” mereka menjawab, ”Saya
berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan juang”,
Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu
tewas bukanlah karena mempertahankan
agama Allah tapi hanhya karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai
pahlawan, tempatmu di neraka”.
Kaum terpelajar
ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan
?” mereka menjawab, ”Saya menuntut ilmu,
kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu senantiasa saya
membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan
mengajar agar digelari orang ulama, kamu
senantiasa membaca Al Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.
Kaum dermawan
ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu
dan mengaruniakan rezeki yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu
kerjakan dengan nikmat itu?” mereka menjawab,”Saya nafkahkan harta itu hanya supaya engkau disebut orang dermawan,
tempatmupun di neraka”.
Intinya jadilah kita sebagai pejuang
pada level apa saja tapi harus berbuat karena Allah, ikhlas dalam perjuangan
bukan karena motiv yang lain, karena setiap pejuang belum tentu disebut sebagai
pahlawan walaupun orang menyebutnya pahlawan dan ketika meninggal dimakamkan di
makam pahlawan, bahkan ada pahlawan tapi tidak sedikit orang yang melupakannya, jasanya tidak pernah terbaca,
tiadk ada monument untuknya, diapun tidak dimakamkan di makam pahlawan tapi
dihadapan Allah dia adalah pahlawan yaitu orang yang mendapat pahala dengan
nilai syahid, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 27 Juli 2011.M/ 25 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar