Semua
orang yang beragama dengan benar, mengimani atribut keyakinan yang ada pada
agama tersebut pasti merasa bangga dengan agamanya dan tidak mau menyamakan apa
yang ada pada agamanya dengan agama orang lain walaupun ada persamaan yang
terdapat pada agama satu dengan lainnya, sifat kefanatikannya nampak apalagi
agamanya disinggung dengan melecehkan keimanan. Begitu pula dengan agama Islam,
agama ini tidaklah sama dengan agama manapun dari berbagai asfek sehingga
dengan jelas Allah memberikan garisan islam ini dalam firman-Nya;
“Sesungguhnya agama (yang diridhai)
disisi Allah hanyalah Islam.tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al
Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang
ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka
Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”[Ali Imran 3;19]
“Barangsiapa mencari agama selain
agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya,
dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi”.[Ali
Imran 3;85].
Dengan
ayat ini jelas bahwa Islam tidak bisa disamakan dengan agama manapun, dia punya
ajaran khusus yang dituntunkan Allah kepada
Rasulnya dengan syariat yang benar tanpa dinodai oleh syirik. Namun
akhir-akhir ini gerakan Pluralisme yaitu faham yang mengatakan bahwa semua
agama sama, sama-sama benar dan sama-sama tujuannya hanya beda cara
mengabdiannya saja, tentu ajaran ini tidak sesuai dengan Islam.
Pluralisme Agama adalah suatu paham
yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap
agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh
mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.
Pluralisme juga mengajarkan bahwa
semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Paham seperti
ini bertentangan dengan ajaran Islam dan karenanya haram bagi kaum Muslimin
untuk menganutnya.
Kedua, banyak hadirin yang terbengong-bengong
menyimak profil para penganjur paham Pluralisme Agama.Banyak diantaranya yang
lulusan perguruan-perguruan Tinggi Islam, bahkan ada doktor dan prosefor dalam
bidang studi Islam.
Di kalangan insinyur, mahasiswa bidang teknologi, dan para profesional yang hadir, sempat muncul pertanyaan, apa yang salah dengan orang-orang yang belajar agama sejak kecil itu?
Di kalangan insinyur, mahasiswa bidang teknologi, dan para profesional yang hadir, sempat muncul pertanyaan, apa yang salah dengan orang-orang yang belajar agama sejak kecil itu?
Mengapa kemudian mereka justru malah
merusak keimanan mereka sendiri, dengan menyebarkan paham yang salah, dan malah
menyebarkan pemahaman itu kepada masyarakat luas?Apa mereka tidak takut dosa?
Masalah ini sudah pernah kita bahas
pada catatan-catatan sebelumnya.Bisa jadi, mereka memang salah berpikir, salah
didik, atau “salah asuh”, sehingga merasa benar dalam kekeliruannya.
Mereka kemudian lebih percaya kepada
para orientalis dari kalangan non-Muslim dalam memandang ajaran Islam,
ketimbang para ulama Islam yang ‘alim dan shalih.Allah sudah
mengingatkan adanya fenomena semacam ini, yakni adanya manusia-manusia yang
merasa telah bebuat sebaik-baiknya, padahal amal perbuatan mereka sesat. (QS
18:103-104).
Atau, bisa jadi juga, kekeliruan itu
disebabkan karena para penyebar paham yang salah ini telah tergoda oleh hawa
nafsu, dan dengan sengaja melepaskan pemahamannya terhadap kebenaran.Godaan dunia
menjadi sebab utamanya.
Kebetulan, paham Pluralisme Agama
merupakan proyek yang sangat mudah menyedot dana dari lembaga-lembaga asing
yang bergelimang uang. Para penyebar paham ini seperti tidak peduli dengan
kerusakan berpikir dan kerusakan iman yang disebabkan oleh paham Pluralisme
Agama. Allah SWT berfirman:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan
diri dari ayat-ayat itu, maka syaitanpun menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah
dia daripada orang-orang yang tersesat. Dan kalau Kami menghendaki,
sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia
cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya maka dia menjulurkan
lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian
itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.Maka
ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS 7:175-176)
Ketidakpahaman dan kerancuan tentang
makna paham ini ditambah lagi dengan terbitnya tulisan-tulisan, buku-buku, dan
ucapan di media elektronik dari banyak orang yang sengaja atau tidak justru
mengaburkan makna paham ini sebenarnya. [Adian Husaini“Bedah Pluralisme di
Bandung”Hidayatullah.comSenin, 17
Oktober 2005].
Sebenarnya
bila dibawa kemana saja, semua agama pasti ada bedanya, sedangkan Tuhan
yang disembah, kitab suci sebagai
tuntunan dan bentuk penyembahan yang dilakukan tidaklah sama, kenapa ada upaya
untuk menyamakan semuanya ini, tentu ada unsur penyesatan dari orang-orang yang
tidak bertanggungjawab.
Pluralisme Agama tampaknya memang
sudah menjadi alat penghancur aqidah Islam yang sangat intensif disebarkan ke
berbagai pelosok. Kamis (30 November 2006), malam, seseorang yang tinggal di
satu kota kecil di propinsi Banten, menelepon saya dan meminta untuk datang ke
kota itu karena baru saja diselenggarakan satu seminar yang menyebarkan paham
“Pluralisme Agama”.
Ayat Al-Quran yang dibahas Syafii
Maarif memang saat ini sedang gencar-gencarnya disosialisasikan oleh
kalangan pendukung paham Pluralisme Agama untuk menjustifikasi paham Pluralisme
Agama, bahwa semua agama adalah merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan
yang satu. Tidak peduli siapa pun nama dan sifat Tuhan itu ; dan tidak peduli
bagaimana pun cara menyembah Tuhan itu.
Dalam bahasa Nurcholish Madjid:
‘’bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang
sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan
dari berbagai Agama.’’ Dalam bukunya, The World’s Religions,
Huston Smith juga menulis satu sub-bab berjudul “Many Paths to the Same
Summit”. Ia menulis: “Truth is one; sages call it by different names.” (Kebenaran
memang satu; orang-orang bijak menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda).
Jadi, dalam pandangan Pluralisme
Agama – versi transendentalisme – ini, tidak ada agama yang salah, dan tidak
boleh satu pemeluk agama yang mengklaim hanya agamanya sendiri sebagai jalan
satu-satunya menuju Tuhan.Kalangan Pluralis kemudian mencari-cari dalil dalam
kitab sucinya masing-masing untuk mendukung paham ini.Yang dari kalangan Islam
biasanya menjadikan QS 2:62 dan 5:69 untuk menjustifikasi pandangannya.
Kalangan Hindu pluralis, misalnya, biasanya suka mengutip Bagawad Gita
IV:11: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku
terima.”
Tentu saja, legitimasi paham
Pluralisme Agama dengan ayat-ayat tertentu dalam kitab suci masing-masing agama
mendapatkan perlawanan keras dari masing-masing agama.Tahun 2000, Vatikan telah
menolak Paham Pluralisme dengan mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’.
Tahun 2004, seorang pendeta Kristen
di Malang menulis buku serius tentang paham Pluralisme Agama berjudul: “Theologia Abu-Abu: Tantangan dan
Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini”. Tahun
2005, MUI juga mengeluarkan fatwa yang menolak paham Pluralisme Agama.Dan tahun
2006, Media Hindu juga menerbitkan satu buku berjudul “Semua Agama Tidak
Sama.” Buku ini juga membantah penggunaan ayat dalam Bhagawat Gita
IV:11 untuk mendukung paham penyamaan agama yang disebut juga dalam buku ini
sebagai paham Universalisme Radikal’. [Adian
Husaini, “Hamka dan Pluralisme Agama”,Hidayatullah .com. Senin, 04
Desember 2006].
Faham ini
merupakan karya Barat yang ingin menghilangkan keistimewaan agama satu dengan
lainnya sehingga tidak ada lagi pemeluk agama yang fanatic kepada agamanya dan
orang bebas untuk menentukan agama yang dikehendakinya, jangan sampai ada yang menganggap
agamanya yang paling benar dan menyalahkan agama lain.
Gagasan pluralisme agama sebenarnya
merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk
berinteraksi secara toleran dengan agama lain. Gagasan pluralisme agama adalah
salah satu elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama
yang dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19.Gerakan ini kemudian
dikenal dengan Liberal Protestantism.Pelopornya adalah Friedrich
Schleiermacher.
Memasuki abad ke-20, gagasan
pluralisme agama semakin kokoh dalam wacana pemikiran filsafat dan teologi
Barat.Muncul tokoh gigih, seperti teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch
(1865-1923).Dalam sebuah makalahnya yang berjudul "Posisi Agama Kristen
di antara Agama-agama Dunia" yang disampaikan dalam sebuah kuliah di
Universitas Oxford (1923), Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama
secara argumentatif.Menurutnya, semua agama, termasuk Kristen, selalu
mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki kebenaran mutlak.Konsep
ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal.
Dalam wacana pemikiran Islam, wacana
pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis
atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif
baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia
Islam.
Pendapat ini diperkuat oleh realitas
bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada
masa-masa pasca Perang Dunia II.Yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar
bagi generasi-generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di
universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan
langsung dengan budaya Barat.
Dalam waktu yang sama, gagasan
pluralisme agama menembus dan menyusup ke wacana pemikiran Islam. Antara lain
melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon
(Abdul Wahid Yahya) dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad).
Karya-karya mereka ini, khususnya
Schuon dengan bukunya The Transcendent Unity of Religions, sangat sarat
dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi
inspirasi dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama.
Barangkali Seyyed Hossein Nasr,
seorang tokoh Muslim Syi'ah moderat, adalah tokoh yang paling bertanggung jawab
dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan "Islam
tradisional". Suatu "prestasi" yang kemudian mengantarkannya
pada sebuah posisi ilmiah kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama-nama
besar seperti Ninian Smart, John Hick, dan Annemarie Schimmel.
Nasr mencoba menuangkan tesisnya
tentang pluralisme agama dalam kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat
al-khalidah, atau "kebenaran abadi"). Yaitu sebuah wacana
menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi
di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia
semenjak Adam 'alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama
dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga
memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu
kebenaran hakiki yang abadi.
Perbedaan antar agama dan keyakinan,
menurut Nasr, hanyalah pada sombol-simbol dan kulit luar.Inti dari agama tetap
satu.Dari sini dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh
berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Suatu hal yang
membuat kita bertanya-tanya, apakah tesis Nasr ini mempunyai justifikasi yang
solid dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaimnya sebagai basis dari bangunan
pemikirannya?[Anis Malik Toha, Phd,Melacak Pluralisme Agama, Hidayatullah.com.Kamis, 12 Agustus 2004].
Semua agama, agama apa pun –
tentunya dengan konsep Tuhannya yang sangat beragam dan tata cara ibadah yang
beragam pula – adalah menuju Tuhan yang sama. Inilah sebuah konsep Pluralisme
yang disebut sebagai “Kesatuan Transenden Agama-agama”.Dalam konsep ini tidak
ada agama yang dianggap sesat atau salah. Mau shalat cara Islam, atau
sembahyang gaya Lia Eden atau agama Gatholoco, semuanya dipandang sama-sama
akan menuju kepada Tuhan yang sama.
Karena itulah, kaum Pluralis ini
tidak mempersoalkan nama Tuhan. Padahal, nama Tuhan, bagi kaum Muslim adalah
berdasarkan wahyu, bukan berdasar konsensus, tradisi budaya, atau spekulasi
akal. Hingga kini, umat Islam tidak berselisih paham soal nama Tuhan. Di mana
pun juga dan kapan pun juga, umat Islam mengucapkan nama Tuhan mereka, dengan
lafaz yang sama.[Adian Husaini, ”Pluralisme
Agama Model ICIP”,Hidayatullah.com.Sabtu,
10 Mei 2008].
Dalam pandangan Islam, agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad saw, yakni Islam, adalah kelanjutan dari millah
Ibrahim, yang susbtansinya adalah tauhid. Karena itu, Judaisme (agama Yahudi)
dan agama Kristen dipandang oleh Islam sebagai agama yang menyimpang dari agama
Ibrahim, sebab Yahudi dan Kristen tidak bisa disebut agama Tauhid. Mereka tidak
bisa memelihara agama tauhid karena mereka menolak untuk mengakui kenabian
Muhammad saw. Karena itu, Al-Quran menegaskan, bahwa
”Ibrahim bukanlah seorang Yahudi
dan buka (pula) Nasrani, tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim, dan
sekali-kali dia tidak termasuk golongan musyrik.” (QS 3:67).
Para ulama pengkaji agama-agama dulu
membagi agama ke dalam dua golongan: agama yang haq dan agama yang menyimpang.
Al-Biruni (973-1051 M), misalnya, selama 9 tahun melakukan penelitian di India
dan kemudian menulis satu kitab berjudul ”Kitab al-Hind”. Di sini, al-Biruni –
yang juga dikenal sebagai pakar fisika, astronomi, matematika, dan sebagainya –
menulis: ”Fainna maa ‘adaa al-haqq zaaigh.” (Bahwa selain agama yang haq
(Islam) adalah agama yang menyimpang).
Pluralisme Agama adalah paham racun
aqidah Islam yang sangat berbahaya.Bahkan, bagi semua agama, paham ini sudah
ditentang habis-habisan. Kita bisa mengambil contoh, bagaimana Vatikan
menyikapi paham ini.Vatikan bersikap tegas terhadap paham Pluralisme Agama.
Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University, Roma, pernah
mengajarkan paham bahwa agama-agama – termasuk Kristen – masih dalam proses
menuju kebenaran final. Ia menulis buku Toward a Christian theology of
Religious Pluralism. Gara-gara itu, akhirnya ia diskors oleh Paus sebagai
dosen di Gregorian University. Dan pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II
membuat pernyataan: “The Revelation of Jesus Christ is definitive and
complete.” (Ajaran Jesus Kristus adalah sudah tetap dan komplit).Paus juga
menyatakan, bahwa agama-agama selain Katolik, memiliki kekurangan.Dan hanya
Gereja Katolik yang merupakan jalan keselamatan yang sempurna menuju Tuhan.
Tahun 2000 itu juga, Paus Yohannes Paulus II mengeluarkan dekrit ‘Dominus
Jesus’ yang secara tegas menolak paham Pluralisme Agama.[Adian Husaini,”Seminar Pluralisme
Agama di IAIN Surabaya”, Hidayatullah.com.
Senin, 07 Mei 2007].
Sedangkan sekain agama saja menolak
paham Pluralisme seharusnya apalagi islam, jelas-jelas agamayang tegak
berdasarkan tauhid murni tidak mungkin menerima pendapat paham pluralisme ini.
Kalaulah semua agama itu sama baik dan benarnya maka tidak ada yang baik itu.
Adanya agama yang benar karena ada agama yang tidak benar atau yang salah,
kalaulah semua agama benar maka tidak ada agama yang benar artinya semua agama
di dunia ini salah.
Akhirnya bila semua agama dinyatakan
salah tentu tidak perlu lagi kita beragama, inilah target akhir dari
Pluralisme, menggiring manusia untuk tidak beragama sama sekali yaitu sebagai
atheis, sehingga wajar bila semua agama menolak paham ini bahkan MUI pun telah
mengharamkan paham ini, karena jelas-jelas merusak dan meracuni islam, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 31 Juli 2011.M/ 29 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar