Selasa, 02 Februari 2016

142. Pluralisme



Semua orang yang beragama dengan benar, mengimani atribut keyakinan yang ada pada agama tersebut pasti merasa bangga dengan agamanya dan tidak mau menyamakan apa yang ada pada agamanya dengan agama orang lain walaupun ada persamaan yang terdapat pada agama satu dengan lainnya, sifat kefanatikannya nampak apalagi agamanya disinggung dengan melecehkan keimanan. Begitu pula dengan agama Islam, agama ini tidaklah sama dengan agama manapun dari berbagai asfek sehingga dengan jelas Allah memberikan garisan islam ini dalam firman-Nya;
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”[Ali Imran 3;19]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi”.[Ali Imran 3;85].

Dengan ayat ini jelas bahwa Islam tidak bisa disamakan dengan agama manapun, dia punya ajaran khusus yang dituntunkan Allah kepada  Rasulnya dengan syariat yang benar tanpa dinodai oleh syirik. Namun akhir-akhir ini gerakan Pluralisme yaitu faham yang mengatakan bahwa semua agama sama, sama-sama benar dan sama-sama tujuannya hanya beda cara mengabdiannya saja, tentu ajaran ini tidak sesuai dengan Islam.

Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Paham seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam dan karenanya haram bagi kaum Muslimin untuk menganutnya.
Kedua, banyak hadirin yang terbengong-bengong menyimak profil para penganjur paham Pluralisme Agama.Banyak diantaranya yang lulusan perguruan-perguruan Tinggi Islam, bahkan ada doktor dan prosefor dalam bidang studi Islam.

Di kalangan insinyur, mahasiswa bidang teknologi, dan para profesional yang hadir, sempat muncul pertanyaan, apa yang salah dengan orang-orang yang belajar agama sejak kecil itu?
Mengapa kemudian mereka justru malah merusak keimanan mereka sendiri, dengan menyebarkan paham yang salah, dan malah menyebarkan pemahaman itu kepada masyarakat luas?Apa mereka tidak takut dosa?
Masalah ini sudah pernah kita bahas pada catatan-catatan sebelumnya.Bisa jadi, mereka memang salah berpikir, salah didik, atau “salah asuh”, sehingga merasa benar dalam kekeliruannya.

Mereka kemudian lebih percaya kepada para orientalis dari kalangan non-Muslim dalam memandang ajaran Islam, ketimbang para ulama Islam yang ‘alim dan shalih.Allah sudah mengingatkan adanya fenomena semacam ini, yakni adanya manusia-manusia yang merasa telah bebuat sebaik-baiknya, padahal amal perbuatan mereka sesat. (QS 18:103-104).

Atau, bisa jadi juga, kekeliruan itu disebabkan karena para penyebar paham yang salah ini telah tergoda oleh hawa nafsu, dan dengan sengaja melepaskan pemahamannya terhadap kebenaran.Godaan dunia menjadi sebab utamanya.

Kebetulan, paham Pluralisme Agama merupakan proyek yang sangat mudah menyedot dana dari lembaga-lembaga asing yang bergelimang uang. Para penyebar paham ini seperti tidak peduli dengan kerusakan berpikir dan kerusakan iman yang disebabkan oleh paham Pluralisme Agama. Allah SWT berfirman:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, maka syaitanpun menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah dia daripada orang-orang yang tersesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya maka dia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS 7:175-176)

Ketidakpahaman dan kerancuan tentang makna paham ini ditambah lagi dengan terbitnya tulisan-tulisan, buku-buku, dan ucapan di media elektronik dari banyak orang yang sengaja atau tidak justru mengaburkan makna paham ini sebenarnya. [Adian Husaini“Bedah Pluralisme di Bandung”Hidayatullah.comSenin, 17 Oktober 2005].

Sebenarnya bila dibawa kemana saja, semua agama pasti ada bedanya, sedangkan Tuhan yang  disembah, kitab suci sebagai tuntunan dan bentuk penyembahan yang dilakukan tidaklah sama, kenapa ada upaya untuk menyamakan semuanya ini, tentu ada unsur penyesatan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Pluralisme Agama tampaknya memang sudah menjadi alat penghancur aqidah Islam yang sangat intensif disebarkan ke berbagai pelosok. Kamis (30 November 2006), malam, seseorang yang tinggal di satu kota kecil di propinsi Banten, menelepon saya dan meminta untuk datang ke kota itu karena baru saja diselenggarakan satu seminar yang menyebarkan paham “Pluralisme Agama”. 

Ayat Al-Quran yang dibahas Syafii Maarif memang saat ini sedang  gencar-gencarnya disosialisasikan oleh kalangan pendukung paham Pluralisme Agama untuk menjustifikasi paham Pluralisme Agama, bahwa semua agama adalah merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang satu. Tidak peduli siapa pun nama dan sifat Tuhan itu ; dan tidak peduli bagaimana pun cara menyembah Tuhan itu. 

Dalam bahasa Nurcholish Madjid: ‘’bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama.’’ Dalam bukunya,  The World’s Religions, Huston Smith juga menulis satu sub-bab berjudul “Many Paths to the Same Summit”. Ia menulis: “Truth is one; sages call it by different names.” (Kebenaran memang satu; orang-orang bijak menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda). 

Jadi, dalam pandangan Pluralisme Agama – versi transendentalisme – ini, tidak ada agama yang salah, dan tidak boleh satu pemeluk agama yang mengklaim hanya agamanya sendiri sebagai jalan satu-satunya menuju Tuhan.Kalangan Pluralis kemudian mencari-cari dalil dalam kitab sucinya masing-masing untuk mendukung paham ini.Yang dari kalangan Islam biasanya menjadikan QS 2:62 dan 5:69 untuk menjustifikasi pandangannya. Kalangan Hindu pluralis, misalnya,  biasanya suka mengutip Bagawad Gita IV:11: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”  

Tentu saja, legitimasi paham Pluralisme Agama dengan ayat-ayat tertentu dalam kitab suci masing-masing agama mendapatkan perlawanan keras dari masing-masing agama.Tahun 2000, Vatikan telah menolak Paham Pluralisme dengan mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’.

Tahun 2004, seorang pendeta Kristen di Malang menulis buku serius tentang paham Pluralisme Agama berjudul: “Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini”.  Tahun 2005, MUI juga mengeluarkan fatwa yang menolak paham Pluralisme Agama.Dan tahun 2006, Media Hindu juga menerbitkan satu buku berjudul “Semua Agama Tidak Sama.”  Buku ini juga membantah penggunaan ayat dalam Bhagawat Gita IV:11 untuk mendukung paham penyamaan agama yang disebut juga dalam buku ini sebagai paham Universalisme Radikal’. [Adian Husaini, “Hamka dan Pluralisme Agama”,Hidayatullah .com. Senin, 04 Desember 2006].

Faham ini merupakan karya Barat yang ingin menghilangkan keistimewaan agama satu dengan lainnya sehingga tidak ada lagi pemeluk agama yang fanatic kepada agamanya dan orang bebas untuk menentukan agama yang dikehendakinya, jangan sampai ada yang menganggap agamanya yang paling benar dan menyalahkan agama lain.

Gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara toleran dengan agama lain. Gagasan pluralisme agama adalah salah satu elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama yang dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19.Gerakan ini kemudian dikenal dengan Liberal Protestantism.Pelopornya adalah Friedrich Schleiermacher.

Memasuki abad ke-20, gagasan pluralisme agama semakin kokoh dalam wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat.Muncul tokoh gigih, seperti teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch (1865-1923).Dalam sebuah makalahnya yang berjudul "Posisi Agama Kristen di antara Agama-agama Dunia" yang disampaikan dalam sebuah kuliah di Universitas Oxford (1923), Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama secara argumentatif.Menurutnya, semua agama, termasuk Kristen, selalu mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki kebenaran mutlak.Konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal.

Dalam wacana pemikiran Islam, wacana pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia Islam. 

Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada masa-masa pasca Perang Dunia II.Yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya Barat.

Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad).

Karya-karya mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The Transcendent Unity of Religions, sangat sarat dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama.

Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Muslim Syi'ah moderat, adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan "Islam tradisional". Suatu "prestasi" yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama-nama besar seperti Ninian Smart, John Hick, dan Annemarie Schimmel.

Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat al-khalidah, atau "kebenaran abadi"). Yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia semenjak Adam 'alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi.
Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada sombol-simbol dan kulit luar.Inti dari agama tetap satu.Dari sini dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Suatu hal yang membuat kita bertanya-tanya, apakah tesis Nasr ini mempunyai justifikasi yang solid dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaimnya sebagai basis dari bangunan pemikirannya?[Anis Malik Toha, Phd,Melacak Pluralisme Agama, Hidayatullah.com.Kamis, 12 Agustus 2004].

Semua agama, agama apa pun – tentunya dengan konsep Tuhannya yang sangat beragam dan tata cara ibadah yang beragam pula – adalah menuju Tuhan yang sama. Inilah sebuah konsep Pluralisme yang disebut sebagai “Kesatuan Transenden Agama-agama”.Dalam konsep ini tidak ada agama yang dianggap sesat atau salah. Mau shalat cara Islam, atau sembahyang gaya Lia Eden atau agama Gatholoco, semuanya dipandang sama-sama akan menuju kepada Tuhan yang sama.

Karena itulah, kaum Pluralis ini tidak mempersoalkan nama Tuhan. Padahal, nama Tuhan, bagi kaum Muslim adalah berdasarkan wahyu, bukan berdasar konsensus, tradisi budaya, atau spekulasi akal. Hingga kini, umat Islam tidak berselisih paham soal nama Tuhan. Di mana pun juga dan kapan pun juga, umat Islam mengucapkan nama Tuhan mereka, dengan lafaz yang sama.[Adian Husaini, ”Pluralisme Agama Model ICIP”,Hidayatullah.com.Sabtu, 10 Mei 2008].

Dalam pandangan Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, yakni Islam, adalah kelanjutan dari millah Ibrahim, yang susbtansinya adalah tauhid. Karena itu, Judaisme (agama Yahudi) dan agama Kristen dipandang oleh Islam sebagai agama yang menyimpang dari agama Ibrahim, sebab Yahudi dan Kristen tidak bisa disebut agama Tauhid. Mereka tidak bisa memelihara agama tauhid karena mereka menolak untuk mengakui kenabian Muhammad saw. Karena itu, Al-Quran menegaskan, bahwa
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan buka (pula) Nasrani, tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim, dan sekali-kali dia tidak termasuk golongan musyrik.” (QS 3:67)

Para ulama pengkaji agama-agama dulu membagi agama ke dalam dua golongan: agama yang haq dan agama yang menyimpang. Al-Biruni (973-1051 M), misalnya, selama 9 tahun melakukan penelitian di India dan kemudian menulis satu kitab berjudul ”Kitab al-Hind”. Di sini, al-Biruni – yang juga dikenal sebagai pakar fisika, astronomi, matematika, dan sebagainya – menulis: ”Fainna maa ‘adaa al-haqq zaaigh.” (Bahwa selain agama yang haq (Islam) adalah agama yang menyimpang).

Pluralisme Agama adalah paham racun aqidah Islam yang sangat berbahaya.Bahkan, bagi semua agama, paham ini sudah ditentang habis-habisan.  Kita bisa mengambil contoh, bagaimana Vatikan menyikapi paham ini.Vatikan bersikap tegas terhadap paham Pluralisme Agama. Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University, Roma, pernah mengajarkan paham bahwa agama-agama – termasuk Kristen – masih dalam proses menuju kebenaran final. Ia menulis buku Toward a Christian theology  of Religious Pluralism. Gara-gara itu, akhirnya ia diskors oleh Paus sebagai dosen di Gregorian University. Dan pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II membuat pernyataan: “The Revelation of Jesus Christ is definitive and complete.” (Ajaran Jesus Kristus adalah sudah tetap dan komplit).Paus juga menyatakan, bahwa agama-agama selain Katolik, memiliki kekurangan.Dan hanya Gereja Katolik yang merupakan jalan keselamatan yang sempurna menuju Tuhan. Tahun 2000 itu juga, Paus Yohannes Paulus II mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’ yang secara tegas menolak paham Pluralisme Agama.[Adian Husaini,”Seminar Pluralisme Agama di IAIN Surabaya”, Hidayatullah.com. Senin, 07 Mei 2007].

Sedangkan sekain agama saja menolak paham Pluralisme seharusnya apalagi islam, jelas-jelas agamayang tegak berdasarkan tauhid murni tidak mungkin menerima pendapat paham pluralisme ini. Kalaulah semua agama itu sama baik dan benarnya maka tidak ada yang baik itu. Adanya agama yang benar karena ada agama yang tidak benar atau yang salah, kalaulah semua agama benar maka tidak ada agama yang benar artinya semua agama di dunia ini salah.

Akhirnya bila semua agama dinyatakan salah tentu tidak perlu lagi kita beragama, inilah target akhir dari Pluralisme, menggiring manusia untuk tidak beragama sama sekali yaitu sebagai atheis, sehingga wajar bila semua agama menolak paham ini bahkan MUI pun telah mengharamkan paham ini, karena jelas-jelas merusak dan meracuni islam,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, 31 Juli 2011.M/ 29 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar