Permainan
sepakbola sudah dikenal di masyarakat sejak dahulu, saat kanak-kanak walaupun
hidup di kampung olah raga yang satu ini dilakukan dengan membuat bulatan yang
berbentuk bola, atau menjadikan buah jeruk atau limau besar sebagai bola.Saya
masih ingat bersama teman-teman, melakukan permainan ini di sebidang kebun
kosong disela-sela menggembalakan kerbau. Sorak sorai menghiasi jalannya
permainan ini apalagi ketika bola menyeruak masuk gawang, sebuah kebanggaan
bagi pelakunya dan kemenangan bagi kesebelasan walaupun pamainnya tidak mesti
sebelas-sebelas, siapa yang mau ikut main dipersilahkan bahkan satu regu bisa
mencapai lima belas orang lebih, yang penting olahraga itu berjalan dan suasana
keakraban terjalin, usai sepakbola, kerbaupun sudah kenyang.
Kini permainan
ini sudah menjadi olahraga yang
digandrungi berbagai kalangan, walaupun tidak ikut serta terjun ke lapangan
tapi kesenangan menonton pertandingan sepak bola bukan hanya didominasi
masyarakat awam saja, tokoh penting seperti Menteri dan Presidenpun
menyaksikannya apalagi yang sedang berlaga itu pemain yang di dadanya ada
Burung Garuda dengan sebutan Tim Nasional. Tontonan menjadi lebih penting
apalagi memperebutkan Piala Dunia, maka segala perhatian tersedot kesana.
Sepakbola, ternyata telah menjadi magnit daya tarik yang
luar biasa yang bisa menyita perhatian kita dari keruwetan masalah yang sedang
kita hadapi sehari-hari.Banyak di antara kita, yang lebih hafal dengan
nama-nama pemain sepakbola dunia, dibanding (mungkin) nama-nama menteri yang
belum banyak dikenal.
Kalau kita bisa jujur dengan sepakbola Indonesia, rasanya
kita semakin tertinggal dengan bangsa-bangsa lain itu.Tidak hanya didalam
kualitas sepakbola kita, tetapi juga bagaimana masyarakat kita memberi dukungan
pada olahraga itu.Didalam kompetisi Liga Indonesia, kita semakin banyak melihat
pemain asing dan kita semakin sering menyaksikan terjadinya huru-hara
pascapertandingan sepakbola.Apa artinya?
Mungkin benar, bahwa kehadiran pemain asing itu akan ikut
mendorong kualitas pemain sepakbola kita. Tetapi, sejauh ini, kualitas
permainannya tidak mengesankan istimewa.Mereka belum memiliki reputasi sebagai
pemain sepakbola dunia, meskipun dibanding dengan pemain sepakbola kita sudah berada
di atasnya.Klub-klub sepakbola kita, tampaknya belum mampu menghadirkan pemain
sepakbola dunia dalam kompetisi Liga Indonesia.Permainan yang disajikan, dengan
demikian masih biasa-biasa saja, sehingga daya ungkitnya memajukan
persepakbolaan di Indonesia diragukan.
Ditambah dengan sikap penonton, yang mencerminkan lemahnya
sportivitas masyarakat kita, rasanya sudah harus mendorong kita semua mengkaji
ulang dunia sepakbola kita.Dari pengelolaannya sampai kompetisinya, agar
Indonesia bisa bangkit kembali secara terhormat dalam persepakbolaan ASEAN,
Asia, dan syukur dunia. Sebab, sepakbola sudah menjadi olahraga yang mungkin
paling bergengsi di antara cabang olahraga lainnya.(Disarikan dari; Sulastomo,Bercermin
pada Sepakbola, harianpelita.com).
Setelah menikmati siaran sepakbola
Piala Dunia, kita kembali ke realitas. Bahwa ia semacam klangenan alias tempat
menumpahkan pelarian kolektif, sebuah hiburan dunia yang melibatkan beragam
emosi pendukungnya. Kita juga merasakan usainya kegiatan nonton bareng, suatu
aktivitas yang absurd tapi menarik.Mengapa nonton bareng saja kok harus nunggu
kalau ada Piala Dunia?Mengapa kita baru bisa nonton bareng, dimana yang
ditonton bukan kesebelasan nasional kita?Yang terakhir ini beragam
jawabnya.Tetapi, tentu saja tanpa harus menyindir Persatuan Sepakbola Seluruh
Indonesia (PSSI), kita semua sadar bahwa wajah dunia persepakbolaan kita masih
serba-memprihatinkan.
Kembali ke realitas, berarti bekerja
kembali secara normal, tidak ngantuk-ngantuk, karena lembur nonton pertandingan
bola.Bahwa masalah kita sendiri masih seabrek dan perlu diurus secara
ekstra-serius.Tapi, tak salah pula bila kita coba ambil hikmah dari serentetan
pertandingan sepakbola Piala Dunia.
Kita perlu catat adanya hal-hal
positif olahraga kaitannya dengan hubungan antar-individu, antar-kelompok atau
interaksi sosial kita yang kompleks.Perlu ada sportifitas dalam kompetisi hidup
yang dinamis.Prestasi adalah peluang semua orang.Dan, kalau menyimak suatu
pertandingan yang antiklimaks bagi kesebelasan, maka seolah-olah itu memberikan
pesan bahwa ritme hidup itu perlu diatur, agar klimaksnya pas, tepat.
Sepakbola, sepanjang sejarahnya,
telah memberikan filsafatnya tersendiri.Keterpautan antara takdir yang
digariskan dengan upaya masing-masing kesebelasan untuk bermain baik, lincah,
dan indah (atau sebaliknya) banyak diulas oleh para pengamat sepakbola, dan
ulasan itu disambut antusias oleh para fanatiknya.Tetapi, bolehlah semua orang
jadi pengulas, dan lantas menebak kesebelasan mana yang berpeluang menang.Jarak
antara pemain dan pengulas, menjadi sangat pendek ketika bola dimainkan, juga
sebelum dan setelah pertandingan usai.
Urusan bola bulat yang diperebutkan
sekian pemain itu memang menyihir, dan dimanfaatkan oleh pemanfaatnya baik
secara bisnis, sosio-kultural, bahkan hingga politik.Kita masih berangan-angan,
kapan kita mampu membikin kesebelasan yang kokoh dan andal, setidaknya bisa
mewakili Asia di Piala Dunia. Tiba-tiba, syair lagu Iwan Fals tergiang, anak
kota tak mampu beli sepatu; anak kota tak punya tanah lapang; sepakbola jadi
barang yang mahal; milik mereka yang punya uang saja... Kita perlu tanya
padanya, apakah memang betul sepakbola kita telah dikepung pragmatisme,
sehingga tak bisa berkembang normal?.(Disarikan dari;M Alfan Alfian, Sepakbola,
Barang yang Mahal?,harianpelita.com].
Begitu senang penonton menyaksikan
gol yang dibuat oleh pemain pujaannya sehingga bintang lapangan hijau itu
menjadi idola yang disanjung-sanjung hingga bermalam-malam menyaksikan
pertandingan sepak bola itu dilalui dengan senang hati, padahal tidak pernah
mereka bermalam-malam untuk melaksanakan shalat tahajud dan beribadah kepada
Allah, tapi untuk bola hal itu tidak ada halangan. Satu ketika saya pernah
menyarankan seorang ustadz untuk shalat Subuh di Masjid, yang lokasi tempat
tinggalnya tidak begitu jauh, sang ustadz menjawab, tidak bisa pak karena
pagi-pagi benar bangun tidur sulit menahan kantuk. Kita bisa mempertanyakan
ketika berlansungnya sepak bola hingga malam hari bahkan berakhir dini hari,
walaupun ada yang shalat, tapi jam berapa shalat subuhnya.
Sepak bola bukan hanya digemari oleh
masyarakat awam saja atau oleh tokoh tertentu saja, bahkan kaum agamawanpun
tidak ketinggalan menjadi penggemar sepakbola ini, apalagi terjadinya
pertandingan melibatkan Timnas.
Salah
seorang pemuka agama bahkan mengalungkan syal khas supporter sepak bola di lehernya.
Ini bukan doa yang dikirimkan jarak jauh karena anggota skuad Timnas Indonesia
juga turut hadir di perhelatan akbar itu. Dan itu menambah istimewanya hari.
Kenyataannya memang tim sepak bola Indonesia sedang hangat
dibicarakan di mana-mana dan hampir setiap saat, termasuk tulisan ini. Bahkan
sampai program-program gosip pun (yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan sama
sekali) selalu menyempatkan diri untuk berbicara tentang sepak bola dengan
berbagai alasan. Kadang dengan alasan salah seorang isteri pemain Timnas adalah
seorang selebritas.Atau dengan alasan bahwa salah seorang di antara pemain
Timnas itu mempunyai wajah rupawan sehingga layak dilantik menjadi selebritas.
Ada sebuah analisis tentang masyarakat Inggris yang telah
meninggalkan gereja (agama) lamanya menuju gereja (agama) yang baru, yiatu
stadion dan sepak bola. Dan mereka di sana lebih merasa antusias. Lalu sebuah
analisis mencoba memahami hal ini dan mengatakan bahwa pada dasarnya jiwa
manusia selalu suka kepada upacara-upacara ritual yang pada zaman modern telah
mulai memudar tergerus oleh arus sekularisasi dan rasionalisme. Jika kemudian
orang-orang berbondong-bondong memenuhi stadion sepak bola, maka itu sebenarnya
adalah wujud kerinduan akan hadirnya kembali upacara-upacara ritual yang mampu
menghanyutkan mereka dalam suasana emosional (dan juga spiritual) yang intens.
Karena itu, sepak bola disebut-sebut sebagai agama baru.
Bagaimana dengan rakyat Indonesia?Apakah mereka juga
demikian?Apakah rakyat Indonesia sudah sedemikian modern, rasional dan sekuler
sehingga rindu kembali kapada hal-hal yang berbau ritual?
Atau apakah rakyat Indonesia sedang tidak punya topik lain
untuk dibicarakan selain sepak bola? Banyak, namun hanya topik ini yang bisa
membuat mereka tersenyum dan tertawa karena bahagia. Dibanding dengan topik
politik yang isinya hanya perjuangan untuk nama baik dan pencitraan, atas nama
rakyat; topik hukum yang isinya hanya kabar tentang menangnya sang pemodal dan
kalahnya rakyat kecil serta bebasnya para pencatut uang negara atau tidak
mengakunya para terdakwa dan ketidakmampuan hukum untuk membuat mereka mengaku
pada kasus-kasus yang sebenarnya sangat kasat mata; dan topik-topik lainnya
yang memerihkan hati, topik tentang Timnas memang lebih layak disimak.[Abdul Muid Nawawi, MA, Agama Baru,nuansaislamJumat, 24 Desember 2010 03:53].
Cinta kepada sepakbola bukanlah dominasi mereka yang
mendambakan tuhan baru di Barat saja sehingga mereka meninggalkan Gereja,
biasanya setiap hari Minggu Gereja penuh dengan ummat Nasrani untuk melakukan
ritual ibadah mereka, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, ini merupakan
sebagai ujud seorang penganut Nasrani yang taat. Namun sebaliknya kini, gereja
tidak lagi dikunjungi oleh pemeluknya karena mereka sudah menjadikan Sepakbola
sebagai Tuhan baru menggantikan penyembahan kepada Yesus bahkan keberadaan
Sepakbola menjadikan Tuhan semakin dekat dengan mereka, karena ada ritual
tertentu yang dilakukan dikala gol dapat dicetak ke gawang lawan.
Chad
Gibbs, dalam bukunya God & Football, bercerita bagaimana relasi
antara Tuhan dengan sepak bola di kampungnya, salah satu daerah di negara
bagian Amerika Serikat. Football yang dia maksud tentu adalah football
Amerika,bukan sepak bola yang dipahami di Indonesia, namun dalam kasus ini, ada
kesamaannya.
Gibbs
menyebut kampungnya sebagai tempat di mana sepak bola dan Tuhan berkecamuk
bersamaan di dalam hati dan pikiran penduduk setempat. Boleh dikata, 86 persen
penduduk di sana adalah penganut agama Kristen. Namun sepak bola adalah ritual
tersendiri yang dilakukan oleh hampir semua penduduk. Seperti memasuki sebuah
tempat suci, setiap Sabtu, penduduk kampung Gibbs berbondong-bondong menuju
stadion dengan pakaian yang sama dan nyanyian serta yel-yel yang sama yang
mereka teriakkan dengan serius dan semangat hingga suara mereka serak.
Keeseokan
harinya, hari Minggu, penduduk hadir di gereja untuk beribadah.Namun sepanjang
perjalanan menuju gereja hingga di dalam gereja, pembicaraan para jamaah masih
tentang bola yang kemarin dan semua pristiwa yang menarik ketika pertandingan
berlangsung. Lalu sang pastor naik mimbar dan memulai khotbahnya dengan
puji-pujian jika tim mereka menang di hari sebelumnya atau ungkapan-ungkapan
berduka jika tim mereka kalah. Betapa hubungan antara “tuhan” dan sepak bola berhubungan
erat.
Tentu
kita ingat bagaimana cara banyak pemain sepak bola yang merayakan gol-gol
mereka dengan mengacung-ngacungkan telunjuknya sambil menengadah ke langit.
Banyak di antara mereka yang memaksudkannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada
Sang Maha Pencipta atas gol yang terjadi (juga pencipta gol), walau ada pula
yang tidak bermaksud demikian. Lionel Messi, misalnya, yang menunjuk-nunjuk
langit setelah mencetek gol adalah sebentuk persembahan untuk jasa-jasa
neneknya, bukan Tuhan.
Ricardo
Kaka, pemain Brazil, mantan pemain AC Milan yang kini merumput di Santiago
Bernabeu, selalu melakukan selebrasi menunjuk langit ketika mencetak gol,
bahkan dengan kedua tangan dan telunjuknya. Biasanya dia lalu memperlihatkan
kaos dalamnya yang bertuliskan ‘I Belong to Jesus’ (saya adalah milik Yesus).
Kaka memang terkenal dengan religiusitas, kerendahan hati, dan
kebaikannya.Karena itu, ada Tuhan dalam sepak bola.
Dan
“Tuhan” juga hadir ketika Diego Armando Maradona menciptakan gol ke gawang
Inggris pada Piala Dunia Mexico 1986.Ketika itu, Maradona memenangi perebutan
bola tinggi dengan kiper Inggris Peter Shilton yang jauh lebih menjulang
darinya dan gol terjadi dengan sedikit bantuan tangan Maradona.Di waktu yang
berbeda setelah peristiwa itu, Maradona menamai golnya dengan ‘Gol Tangan
Tuhan’.
Fenomena
teranyar adalah selebrasi Mustafa Habibi Gonzales (Cristian Gonzales), pemain
naturalisasi Indonesia asal Uruguay, ketika menciptakan gol indah ke gawang
Filipina pada leg kedua semi final Piala AFF 2010. Dia lalu berlari ke pinggir
lapangan dan menunjuk-nunjuk ke langit.Mengingat kini dia adalah seorang
Muslim, maka bukan tidak mungkin yang dimaksudkan dengan telunjuknya itu adalah
Tuhan.
Selain
segala macam ekspresi ber-Tuhan yang menjadi bumbu dalam sepak bola, ada juga
ekspresi yang mirip sebagaimana yang dilakukan tim kesebelasan Afrika Selatan
dan umumnya tim-tim asal benua Afrika lainnya. Tidak lupa mereka menyertakan
peran dukun dan kekuatan supranatural agar tim mereka menang. Kenyataannya,
sekalipun mereka akhirnya kalah, peran dukun-dukun itu tidak pernah memudar.
Lain lagi John Barnes, mantan pemain timnas Inggris, Manchester United dan
Liverpool. Konon tabu baginya melakukan pemanasan sebelum pertandingan. David
Beckham lain lagi, nama putranya, Brooklyn yang tertera di sepatu adalah jimat
yang sangat ampuh demi kemenangan. Sebagaimana ekspresi ber-Tuhan,
simbol-simbol lainnya juga tidak pernah hilang walau kekalahan menjelang. [Abdul Muid Nawawi, MATuhan dan Sepak Bola,Senin, 20 Desember 2010 06:37 nuansaislam]
Selain sepakbola sebagai permainan
bagian dari olah raga yang digemari oleh siapapun, sejak dari ujun Desa hingga
Stadion Megah di Kota, orang memainkan dan menyaksikan permainan ini tanpa
memikirkan berapa harga tiket masuk, yang penting suasana fresh dan senang
meliputi jiwa walaupun setumpuk pekerjaan menumpuk, walaupun sekian waktu dan
tenaga terkuras karenanya, tanpa disadari bahwa ini merupakan strategi jitu
dari orang-orang yang benci kepada islam dan ummatnya, mereka mengalihkan ummat
islam kepada hidup hedonism, hanya mengejar kesenangan sesaat dengan melupakan
agenda besar dari ummat ini, gerakan ini disebut dengan ghazwul fikri atau
peperangan urat syaraf.
Ghazwul Fikri berasal dari bahasa Arab
yang artinya secara harfiyah yaitu Perang Pemikiran, sedangkan maksudnya adalah
sebuah upaya umat non muslim untuk menghancurkan ummat islam dengan berbagai
cara, sistim yang tepat mereka gunakan untuk
itu adalah memerangi ummat islam melalui fikiran dan idiologi mereka
dengan tujuan agar seluruh tatanan kehidupan muslim tersebut mengadopsi cara
hidup mereka, hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;120; “Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho
kepadamu sebelum kamu mengikuti millah mereka”, kata “Millah” itu maksudnya
adalah cara cara pandangan hidup, idiologi dan pemikiran, semua dari ajaran
selain islam. Istilah sudah ketinggalan zaman, tidak relevan lagi, perlu
direvisi dan kehendak-kehendak lain untuk meruntuhkan nilai-nilai ajaran islam.
Samuel
Zwemer adalah orang yang paling gencar memusuhi islam dan ummatnya, hanya
dengan empat program S tapi tercapai semuanya, dalam waktu yang relatif singkat
dengan dana yang minim bahkan ummat islam itu sendiri yang membiayai
penghancuran dirinya tanpa disadari. Barat dan
idiologi apa saja sudah kewalahan berhadapan dengan ummat islam bila peperangan
hanya secara “asykari” melalui militer. Ummat islam adalah ummat yang tangguh
berperang di medan jihad walaupun dengan perlengkapan seadanya, sehingga wajar
ketika meletuskan Perang Bosnia, sang Presiden Elija Becovic menyatakan siap bertemput dengan Serbia hingga dua
puluh tahun lagi, sementara Serbia sudah kecapaian.
Dengan ketidakberdayaan musuh-musuh islam berhadapan di
medan jihad secara frontal sehingga mereka merubah strategi perang melalui
pemikiran, perang idiologi dan perang urat syaraf, percaya ataupun tidak ummat
islam dilumpuhkan dengan strategi perang ini sehingga berlutut menghadapi
kehancuran. Program mereka tersebut hanya dengan S saja diantaranya yaitu Sport
atau olahraga;
Mereka melancarkan Sport, yaitu olah raga. Ini adalah
program mendunia, bahkan Eropa telah menukar tuhannya dengan sport, khususnya sepak
bola. Sehingga kegiatan gereja sudah kosong dari ritual ibadah mereka karena
disibukkan oleh agama baru mereka di lapangan hijau. Kita sebagai muslim
dianjurkan pula berolah raga, tapi bukan olah raga yang hari ini diikuti dan
digandrungi oleh ummat ini. Sejak dari pakaian olah raga yang cendrung membuka
aurat, nampaknya ketika berolah raga seorang ustadzpun sah membuka auratnya
dengan celana pendek di lapangan. Bukanlah rasul kita telah menyatakan bahwa
aurat laki-laki itu sejak dari pusat hingga lutut, kenapa ketika berolah raga
kita mengabaikan sunnah Rasul. Apalagi pakaian renang, tennis, volley
pantai sungguh tidak islami.
Sekolah sekolah bila menerima dua buah surat dari
instansi atasannya, pertama untuk mengadakan pesantren kilat dan kedua untuk
mempersiapkan tim olah raga, maka kepala sekolah dan pembina osis akan
mengerahkan segala daya upaya, waktu dan tenaga hingga biaya untuk menanggapi
surat kedua, sementara surat pertama dimasukkan ke dalam laci karena dianggap
tidak begitu penting. Demikian hebatnya bius sport yang dilancarkan oleh
musuh-musuh islam, sehingga olah raga bukan sebatas olahraga lagi bagi ummat
islam apalagi sepakbola tapi sudah
menjadi kebutuhan yang lebih penting dari kegiatan agama, masjid kosong dari
kegiatan tapi lapangan bola selalu penuh dengan pengunjungnya, inilah salah
satu keberhasilan dari musuh-musuh islam untuk menaklukkan ummat islam sehingga
mayoritas jumlah ummat ini tidak ada kekuatan yang dapat dibanggakan, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar