Senin, 01 Februari 2016

137. Sepak Bola



Permainan sepakbola sudah dikenal di masyarakat sejak dahulu, saat kanak-kanak walaupun hidup di kampung olah raga yang satu ini dilakukan dengan membuat bulatan yang berbentuk bola, atau menjadikan buah jeruk atau limau besar sebagai bola.Saya masih ingat bersama teman-teman, melakukan permainan ini di sebidang kebun kosong disela-sela menggembalakan kerbau. Sorak sorai menghiasi jalannya permainan ini apalagi ketika bola menyeruak masuk gawang, sebuah kebanggaan bagi pelakunya dan kemenangan bagi kesebelasan walaupun pamainnya tidak mesti sebelas-sebelas, siapa yang mau ikut main dipersilahkan bahkan satu regu bisa mencapai lima belas orang lebih, yang penting olahraga itu berjalan dan suasana keakraban terjalin, usai sepakbola, kerbaupun sudah kenyang.

Kini permainan ini sudah menjadi olahraga  yang digandrungi berbagai kalangan, walaupun tidak ikut serta terjun ke lapangan tapi kesenangan menonton pertandingan sepak bola bukan hanya didominasi masyarakat awam saja, tokoh penting seperti Menteri dan Presidenpun menyaksikannya apalagi yang sedang berlaga itu pemain yang di dadanya ada Burung Garuda dengan sebutan Tim Nasional. Tontonan menjadi lebih penting apalagi memperebutkan Piala Dunia, maka segala perhatian tersedot kesana.

Sepakbola, ternyata telah menjadi magnit daya tarik yang luar biasa yang bisa menyita perhatian kita dari keruwetan masalah yang sedang kita hadapi sehari-hari.Banyak di antara kita, yang lebih hafal dengan nama-nama pemain sepakbola dunia, dibanding (mungkin) nama-nama menteri yang belum banyak dikenal.

Kalau kita bisa jujur dengan sepakbola Indonesia, rasanya kita semakin tertinggal dengan bangsa-bangsa lain itu.Tidak hanya didalam kualitas sepakbola kita, tetapi juga bagaimana masyarakat kita memberi dukungan pada olahraga itu.Didalam kompetisi Liga Indonesia, kita semakin banyak melihat pemain asing dan kita semakin sering menyaksikan terjadinya huru-hara pascapertandingan sepakbola.Apa artinya?

Mungkin benar, bahwa kehadiran pemain asing itu akan ikut mendorong kualitas pemain sepakbola kita. Tetapi, sejauh ini, kualitas permainannya tidak mengesankan istimewa.Mereka belum memiliki reputasi sebagai pemain sepakbola dunia, meskipun dibanding dengan pemain sepakbola kita sudah berada di atasnya.Klub-klub sepakbola kita, tampaknya belum mampu menghadirkan pemain sepakbola dunia dalam kompetisi Liga Indonesia.Permainan yang disajikan, dengan demikian masih biasa-biasa saja, sehingga daya ungkitnya memajukan persepakbolaan di Indonesia diragukan.

Ditambah dengan sikap penonton, yang mencerminkan lemahnya sportivitas masyarakat kita, rasanya sudah harus mendorong kita semua mengkaji ulang dunia sepakbola kita.Dari pengelolaannya sampai kompetisinya, agar Indonesia bisa bangkit kembali secara terhormat dalam persepakbolaan ASEAN, Asia, dan syukur dunia. Sebab, sepakbola sudah menjadi olahraga yang mungkin paling bergengsi di antara cabang olahraga lainnya.(Disarikan dari; Sulastomo,Bercermin pada Sepakbola, harianpelita.com).

Setelah menikmati siaran sepakbola Piala Dunia, kita kembali ke realitas. Bahwa ia semacam klangenan alias tempat menumpahkan pelarian kolektif, sebuah hiburan dunia yang melibatkan beragam emosi pendukungnya. Kita juga merasakan usainya kegiatan nonton bareng, suatu aktivitas yang absurd tapi menarik.Mengapa nonton bareng saja kok harus nunggu kalau ada Piala Dunia?Mengapa kita baru bisa nonton bareng, dimana yang ditonton bukan kesebelasan nasional kita?Yang terakhir ini beragam jawabnya.Tetapi, tentu saja tanpa harus menyindir Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), kita semua sadar bahwa wajah dunia persepakbolaan kita masih serba-memprihatinkan.

Kembali ke realitas, berarti bekerja kembali secara normal, tidak ngantuk-ngantuk, karena lembur nonton pertandingan bola.Bahwa masalah kita sendiri masih seabrek dan perlu diurus secara ekstra-serius.Tapi, tak salah pula bila kita coba ambil hikmah dari serentetan pertandingan sepakbola Piala Dunia.
Kita perlu catat adanya hal-hal positif olahraga kaitannya dengan hubungan antar-individu, antar-kelompok atau interaksi sosial kita yang kompleks.Perlu ada sportifitas dalam kompetisi hidup yang dinamis.Prestasi adalah peluang semua orang.Dan, kalau menyimak suatu pertandingan yang antiklimaks bagi kesebelasan, maka seolah-olah itu memberikan pesan bahwa ritme hidup itu perlu diatur, agar klimaksnya pas, tepat.
Sepakbola, sepanjang sejarahnya, telah memberikan filsafatnya tersendiri.Keterpautan antara takdir yang digariskan dengan upaya masing-masing kesebelasan untuk bermain baik, lincah, dan indah (atau sebaliknya) banyak diulas oleh para pengamat sepakbola, dan ulasan itu disambut antusias oleh para fanatiknya.Tetapi, bolehlah semua orang jadi pengulas, dan lantas menebak kesebelasan mana yang berpeluang menang.Jarak antara pemain dan pengulas, menjadi sangat pendek ketika bola dimainkan, juga sebelum dan setelah pertandingan usai.

Urusan bola bulat yang diperebutkan sekian pemain itu memang menyihir, dan dimanfaatkan oleh pemanfaatnya baik secara bisnis, sosio-kultural, bahkan hingga politik.Kita masih berangan-angan, kapan kita mampu membikin kesebelasan yang kokoh dan andal, setidaknya bisa mewakili Asia di Piala Dunia. Tiba-tiba, syair lagu Iwan Fals tergiang, anak kota tak mampu beli sepatu; anak kota tak punya tanah lapang; sepakbola jadi barang yang mahal; milik mereka yang punya uang saja... Kita perlu tanya padanya, apakah memang betul sepakbola kita telah dikepung pragmatisme, sehingga tak bisa berkembang normal?.(Disarikan dari;M Alfan Alfian, Sepakbola, Barang yang Mahal?,harianpelita.com].

Begitu senang penonton menyaksikan gol yang dibuat oleh pemain pujaannya sehingga bintang lapangan hijau itu menjadi idola yang disanjung-sanjung hingga bermalam-malam menyaksikan pertandingan sepak bola itu dilalui dengan senang hati, padahal tidak pernah mereka bermalam-malam untuk melaksanakan shalat tahajud dan beribadah kepada Allah, tapi untuk bola hal itu tidak ada halangan. Satu ketika saya pernah menyarankan seorang ustadz untuk shalat Subuh di Masjid, yang lokasi tempat tinggalnya tidak begitu jauh, sang ustadz menjawab, tidak bisa pak karena pagi-pagi benar bangun tidur sulit menahan kantuk. Kita bisa mempertanyakan ketika berlansungnya sepak bola hingga malam hari bahkan berakhir dini hari, walaupun ada yang shalat, tapi jam berapa shalat subuhnya.

Sepak bola bukan hanya digemari oleh masyarakat awam saja atau oleh tokoh tertentu saja, bahkan kaum agamawanpun tidak ketinggalan menjadi penggemar sepakbola ini, apalagi terjadinya pertandingan melibatkan Timnas.
Salah seorang pemuka agama bahkan mengalungkan syal khas supporter sepak bola di lehernya. Ini bukan doa yang dikirimkan jarak jauh karena anggota skuad Timnas Indonesia juga turut hadir di perhelatan akbar itu. Dan itu menambah istimewanya hari.
Kenyataannya memang tim sepak bola Indonesia sedang hangat dibicarakan di mana-mana dan hampir setiap saat, termasuk tulisan ini. Bahkan sampai program-program gosip pun (yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan sama sekali) selalu menyempatkan diri untuk berbicara tentang sepak bola dengan berbagai alasan. Kadang dengan alasan salah seorang isteri pemain Timnas adalah seorang selebritas.Atau dengan alasan bahwa salah seorang di antara pemain Timnas itu mempunyai wajah rupawan sehingga layak dilantik menjadi selebritas.

Ada sebuah analisis tentang masyarakat Inggris yang telah meninggalkan gereja (agama) lamanya menuju gereja (agama) yang baru, yiatu stadion dan sepak bola. Dan mereka di sana lebih merasa antusias. Lalu sebuah analisis mencoba memahami hal ini dan mengatakan bahwa pada dasarnya jiwa manusia selalu suka kepada upacara-upacara ritual yang pada zaman modern telah mulai memudar tergerus oleh arus sekularisasi dan rasionalisme. Jika kemudian orang-orang berbondong-bondong memenuhi stadion sepak bola, maka itu sebenarnya adalah wujud kerinduan akan hadirnya kembali upacara-upacara ritual yang mampu menghanyutkan mereka dalam suasana emosional (dan juga spiritual) yang intens. Karena itu, sepak bola disebut-sebut sebagai agama baru.

Bagaimana dengan rakyat Indonesia?Apakah mereka juga demikian?Apakah rakyat Indonesia sudah sedemikian modern, rasional dan sekuler sehingga rindu kembali kapada hal-hal yang berbau ritual?
Atau apakah rakyat Indonesia sedang tidak punya topik lain untuk dibicarakan selain sepak bola? Banyak, namun hanya topik ini yang bisa membuat mereka tersenyum dan tertawa karena bahagia. Dibanding dengan topik politik yang isinya hanya perjuangan untuk nama baik dan pencitraan, atas nama rakyat; topik hukum yang isinya hanya kabar tentang menangnya sang pemodal dan kalahnya rakyat kecil serta bebasnya para pencatut uang negara atau tidak mengakunya para terdakwa dan ketidakmampuan hukum untuk membuat mereka mengaku pada kasus-kasus yang sebenarnya sangat kasat mata; dan topik-topik lainnya yang memerihkan hati, topik tentang Timnas memang lebih layak disimak.[Abdul Muid Nawawi, MA, Agama Baru,nuansaislamJumat, 24 Desember 2010 03:53].

Cinta kepada sepakbola bukanlah dominasi mereka yang mendambakan tuhan baru di Barat saja sehingga mereka meninggalkan Gereja, biasanya setiap hari Minggu Gereja penuh dengan ummat Nasrani untuk melakukan ritual ibadah mereka, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, ini merupakan sebagai ujud seorang penganut Nasrani yang taat. Namun sebaliknya kini, gereja tidak lagi dikunjungi oleh pemeluknya karena mereka sudah menjadikan Sepakbola sebagai Tuhan baru menggantikan penyembahan kepada Yesus bahkan keberadaan Sepakbola menjadikan Tuhan semakin dekat dengan mereka, karena ada ritual tertentu yang dilakukan dikala gol dapat dicetak ke gawang lawan.

Chad Gibbs, dalam bukunya God & Football, bercerita bagaimana relasi antara Tuhan dengan sepak bola di kampungnya, salah satu daerah di negara bagian Amerika Serikat. Football yang dia maksud tentu adalah football Amerika,bukan sepak bola yang dipahami di Indonesia, namun dalam kasus ini, ada kesamaannya.
Gibbs menyebut kampungnya sebagai tempat di mana sepak bola dan Tuhan berkecamuk bersamaan di dalam hati dan pikiran penduduk setempat. Boleh dikata, 86 persen penduduk di sana adalah penganut agama Kristen. Namun sepak bola adalah ritual tersendiri yang dilakukan oleh hampir semua penduduk. Seperti memasuki sebuah tempat suci, setiap Sabtu, penduduk kampung Gibbs berbondong-bondong menuju stadion dengan pakaian yang sama dan nyanyian serta yel-yel yang sama yang mereka teriakkan dengan serius dan semangat hingga suara mereka serak.
Keeseokan harinya, hari Minggu, penduduk hadir di gereja untuk beribadah.Namun sepanjang perjalanan menuju gereja hingga di dalam gereja, pembicaraan para jamaah masih tentang bola yang kemarin dan semua pristiwa yang menarik ketika pertandingan berlangsung. Lalu sang pastor naik mimbar dan memulai khotbahnya dengan puji-pujian jika tim mereka menang di hari sebelumnya atau ungkapan-ungkapan berduka jika tim mereka kalah. Betapa hubungan antara “tuhan” dan sepak bola berhubungan erat.
Tentu kita ingat bagaimana cara banyak pemain sepak bola yang merayakan gol-gol mereka dengan mengacung-ngacungkan telunjuknya sambil menengadah ke langit. Banyak di antara mereka yang memaksudkannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas gol yang terjadi (juga pencipta gol), walau ada pula yang tidak bermaksud demikian. Lionel Messi, misalnya, yang menunjuk-nunjuk langit setelah mencetek gol adalah sebentuk persembahan untuk jasa-jasa neneknya, bukan Tuhan.
Ricardo Kaka, pemain Brazil, mantan pemain AC Milan yang kini merumput di Santiago Bernabeu, selalu melakukan selebrasi menunjuk langit ketika mencetak gol, bahkan dengan kedua tangan dan telunjuknya. Biasanya dia lalu memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan ‘I Belong to Jesus’ (saya adalah milik Yesus). Kaka memang terkenal dengan religiusitas, kerendahan hati, dan kebaikannya.Karena itu, ada Tuhan dalam sepak bola.
Dan “Tuhan” juga hadir ketika Diego Armando Maradona menciptakan gol ke gawang Inggris pada Piala Dunia Mexico 1986.Ketika itu, Maradona memenangi perebutan bola tinggi dengan kiper Inggris Peter Shilton yang jauh lebih menjulang darinya dan gol terjadi dengan sedikit bantuan tangan Maradona.Di waktu yang berbeda setelah peristiwa itu, Maradona menamai golnya dengan ‘Gol Tangan Tuhan’.
Fenomena teranyar adalah selebrasi Mustafa Habibi Gonzales (Cristian Gonzales), pemain naturalisasi Indonesia asal Uruguay, ketika menciptakan gol indah ke gawang Filipina pada leg kedua semi final Piala AFF 2010. Dia lalu berlari ke pinggir lapangan dan menunjuk-nunjuk ke langit.Mengingat kini dia adalah seorang Muslim, maka bukan tidak mungkin yang dimaksudkan dengan telunjuknya itu adalah Tuhan.
Selain segala macam ekspresi ber-Tuhan yang menjadi bumbu dalam sepak bola, ada juga ekspresi yang mirip sebagaimana yang dilakukan tim kesebelasan Afrika Selatan dan umumnya tim-tim asal benua Afrika lainnya. Tidak lupa mereka menyertakan peran dukun dan kekuatan supranatural agar tim mereka menang. Kenyataannya, sekalipun mereka akhirnya kalah, peran dukun-dukun itu tidak pernah memudar. Lain lagi John Barnes, mantan pemain timnas Inggris, Manchester United dan Liverpool. Konon tabu baginya melakukan pemanasan sebelum pertandingan. David Beckham lain lagi, nama putranya, Brooklyn yang tertera di sepatu adalah jimat yang sangat ampuh demi kemenangan. Sebagaimana ekspresi ber-Tuhan, simbol-simbol lainnya juga tidak pernah hilang walau kekalahan menjelang.                       [Abdul Muid Nawawi, MATuhan dan Sepak Bola,Senin, 20 Desember 2010 06:37 nuansaislam]
Selain sepakbola sebagai permainan bagian dari olah raga yang digemari oleh siapapun, sejak dari ujun Desa hingga Stadion Megah di Kota, orang memainkan dan menyaksikan permainan ini tanpa memikirkan berapa harga tiket masuk, yang penting suasana fresh dan senang meliputi jiwa walaupun setumpuk pekerjaan menumpuk, walaupun sekian waktu dan tenaga terkuras karenanya, tanpa disadari bahwa ini merupakan strategi jitu dari orang-orang yang benci kepada islam dan ummatnya, mereka mengalihkan ummat islam kepada hidup hedonism, hanya mengejar kesenangan sesaat dengan melupakan agenda besar dari ummat ini, gerakan ini disebut dengan ghazwul fikri atau peperangan urat syaraf.

Ghazwul Fikri berasal dari bahasa Arab yang artinya secara harfiyah yaitu Perang Pemikiran, sedangkan maksudnya adalah sebuah upaya umat non muslim untuk menghancurkan ummat islam dengan berbagai cara, sistim yang tepat mereka gunakan untuk  itu adalah memerangi ummat islam melalui fikiran dan idiologi mereka dengan tujuan agar seluruh tatanan kehidupan muslim tersebut mengadopsi cara hidup mereka, hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;120; “Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu sebelum kamu mengikuti millah mereka”, kata “Millah” itu maksudnya adalah cara cara pandangan hidup, idiologi dan pemikiran, semua dari ajaran selain islam. Istilah sudah ketinggalan zaman, tidak relevan lagi, perlu direvisi dan kehendak-kehendak lain untuk meruntuhkan nilai-nilai ajaran islam.

            Samuel Zwemer adalah orang yang paling gencar memusuhi islam dan ummatnya, hanya dengan empat program S tapi tercapai semuanya, dalam waktu yang relatif singkat dengan dana yang minim bahkan ummat islam itu sendiri yang membiayai penghancuran dirinya tanpa disadari. Barat dan idiologi apa saja sudah kewalahan berhadapan dengan ummat islam bila peperangan hanya secara “asykari” melalui militer. Ummat islam adalah ummat yang tangguh berperang di medan jihad walaupun dengan perlengkapan seadanya, sehingga wajar ketika meletuskan Perang Bosnia, sang Presiden Elija Becovic menyatakan siap bertemput dengan Serbia hingga dua puluh tahun lagi, sementara Serbia sudah kecapaian.

            Dengan ketidakberdayaan musuh-musuh islam berhadapan di medan jihad secara frontal sehingga mereka merubah strategi perang melalui pemikiran, perang idiologi dan perang urat syaraf, percaya ataupun tidak ummat islam dilumpuhkan dengan strategi perang ini sehingga berlutut menghadapi kehancuran. Program mereka tersebut hanya dengan S saja diantaranya yaitu Sport atau olahraga;

            Mereka melancarkan Sport, yaitu olah raga. Ini adalah program mendunia, bahkan Eropa telah menukar tuhannya dengan sport, khususnya sepak bola. Sehingga kegiatan gereja sudah kosong dari ritual ibadah mereka karena disibukkan oleh agama baru mereka di lapangan hijau. Kita sebagai muslim dianjurkan pula berolah raga, tapi bukan olah raga yang hari ini diikuti dan digandrungi oleh ummat ini. Sejak dari pakaian olah raga yang cendrung membuka aurat, nampaknya ketika berolah raga seorang ustadzpun sah membuka auratnya dengan celana pendek di lapangan. Bukanlah rasul kita telah menyatakan bahwa aurat laki-laki itu sejak dari pusat hingga lutut, kenapa ketika berolah raga kita mengabaikan sunnah Rasul. Apalagi pakaian renang, tennis, volley pantai  sungguh tidak islami.

            Sekolah sekolah bila menerima dua buah surat dari instansi atasannya, pertama untuk mengadakan pesantren kilat dan kedua untuk mempersiapkan tim olah raga, maka kepala sekolah dan pembina osis akan mengerahkan segala daya upaya, waktu dan tenaga hingga biaya untuk menanggapi surat kedua, sementara surat pertama dimasukkan ke dalam laci karena dianggap tidak begitu penting. Demikian hebatnya bius sport yang dilancarkan oleh musuh-musuh islam, sehingga olah raga bukan sebatas olahraga lagi bagi ummat islam apalagi sepakbola  tapi sudah menjadi kebutuhan yang lebih penting dari kegiatan agama, masjid kosong dari kegiatan tapi lapangan bola selalu penuh dengan pengunjungnya, inilah salah satu keberhasilan dari musuh-musuh islam untuk menaklukkan ummat islam sehingga mayoritas jumlah ummat ini tidak ada kekuatan yang dapat dibanggakan,   wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar