Kita tidak bisa
hidup sendiri di dunia ini, perlu adanya saudara, tetangga, sahabat dan teman,
saling memberi dan menerima bantuan dari orang lain, apalagi hidup dalam
lingkungan masyarakat kita dianjurkan untuk bersikap baik agar dicintai ummat.
Hubungan baik itu terujud karena diikat oleh tali silaturahim yaitu tali kasih
sayang yang dianjurkan oleh islam selain
merupakan fithrah manusia maka silaturahim juga mendapatkan keuntungan yang
tidak dapat disangka-sangka berupa rezeki yang berlimpah dan umur yang panjang.
Abdullah bin Salam berkata:
ketika Nabi Saw tiba di Madinah banyak masyarakat mengerumuninya dan dikatakan:
Rasulullah telah tiba, maka aku pun datang di tengah-tengah mereka untuk
menatap wajahnya.
Setelah terlihat jelas aku
mengetahui bahwa wajahnya bukan wajah pembohong.kalimat yang pertama aku dengan
dari ucapannya adalah: "hai sekalian manusia, sebarkanlah salam
(keselamatan, kedamaian, kerukunan, do'a selamat), berikan makanan, pelihara shilaturrahim
dan lakukanlah shalat pada saat manusia sedang tidur. niscaya kamusekalian
masuk surga dengan salam. (HR. Ibnu Majah)
Banyak pelajaran yang patut kita ambil dari hadis
ini, antara lain:
- Abdullah bin Salam semasa masih dalam akidah
Yahudi berani bersikap
yang berbeda meski sendirian.
yang berbeda meski sendirian.
- Orang yang mencari kebenaran tidak pernah
ikut-ikutan menilai buruk terhadap seseorang tanpa fakta kendatipun golongannya
sepakat menuduh buruk.
- Tuduhan buruk tersebut dipertahankan Yahudi
hanya karena untuk membela nafsu belaka.
- Setelah melaihat dengan jelas tampilan Rasulullah, abdulah bin salam menyatakan hal yang seseuai dengan apa yang dia lihat kendatipun harus menghadapi resiko yang berat.
- Setelah melaihat dengan jelas tampilan Rasulullah, abdulah bin salam menyatakan hal yang seseuai dengan apa yang dia lihat kendatipun harus menghadapi resiko yang berat.
- Rasulullah menyampaikan empat pesan: 3 dari
keempat tersebut sangat berhubungan dengan masalah komunikasi masa.
- Sementara satu dari keempat berhubungan dengan
komunikasi spiritual.
- Hal itu memberi arti bahwa dalam kehidupan kita ini banyak perbuatan yang berhubungan dengan sesama.
- Hal itu memberi arti bahwa dalam kehidupan kita ini banyak perbuatan yang berhubungan dengan sesama.
- Secara urutan juga mengandung makna: upaya
penyebaran kedamaian dengan bersih hati mendoakan orang lain untuk selamat yang
disampaikan dengan wajah simpatik akan membuat orang lain yang sedang mencari
kebenaran akan merasa sejuk, kendatipun pada mulanya memiliki pandangan yang
berbeda karena inlformasi dari pihak lain.
- Memberi makanan adalah salah satu cara yang
sangat baik untuk mejalin komunikasi antar sesama meski hanya dengan makanan
alakadanya.
- Shilaturrahim tidak diragukan wajib hukumnya
baik yang dekat ataupun yang jauh terutama dengan saudara dan karabat. banyak
orang terputus hubungan akibat terganggu oleh kepentigan sesaat.[Saiful Islam
Mubarak, Nilai Silaturrahmi Dalam Kehidupan, Eramuslim.com. Monday, 07/02/2011
15:10 WIB].
Makna 'ar-rahim' adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh
Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk
para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik
berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".
Menurut
pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram
dinikahi) saja.
Pendapat
pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan
anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi,
padahal tidak demikian.(Fathul Bari, 10/414)
Silaturrahim,
sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah
(ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik
menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka
serta menjaga keadaan mereka.(Lihat, Murqatul Mafatih, 8/645)
Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah
Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan
rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya
dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)1)maka
hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul
Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415)
- Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya
dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung
silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir
Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415)
Dalam dua hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal,
kelapangan rizki dan bertambahnya usia. [Dr. Fadhl Ilahi, Makna Silaturrahim.Assunnah ML online].
Indah betul ajaran Islam.Tak
hanya sisi spiritual, banyak hal yang secara ilmiah terbukti kebenarannya.Salah
satunya, adalah ajaran untuk menjalin silaturahim dan menyambungnya kembali
jika terputus.
Penelitian
yang dihajat The Crown Street Resource Centre membuktikan, pertemanan dapat
membantu seseorang hidup lebih lama dan melewatinya dengan penuh rasa bahagia.
Sebaliknya, seseorang yang kesepian akan melewatkan kehidupannya secara
"menyedihkan".
The
Crown Street Resource Centre mengembangkan sebuah komunitas di mana
orang-orang dengan masalah kesehatan mental dapat bertemu dan mengambil bagian
dalam berbagai hobi dari musik untuk budidaya lebah madu. Di dalamnya, setiap
orang yang datang dapat menjalin pertemanan.
Tricia Hagan, Konsultan
Psikolog Klinis di Mersey Care NHS Trust, mengatakan, menjalin pertemanan
memiliki manfaat besar bagi kesehatan fisik dan kesejahteraan rohani. "Hal
ini bisa mendukung Anda hidup lebih lama," ujarnya."Plus, Anda
mungkin bisa membantu orang lain untuk tidak merasa kesepian."Pertemanan,
kata dia, bukan sekadar membuat kontak dengan orang lain, atau mendaftar banyak
orang yang kita kenal."Pertemanan yang dimaksud adalah kita menjalin
silaturahim intens dengan mereka," tambahnya.
Di The Crown Street Resource
Centre, setiap anggota terapi saling berhubungan satu sama lain dan melakukan
kegiatan bersama, yaitu merawat lebah dengan sangat santai dan menyenangkan.
"Kelompok budidaya lebah madu adalah cara untuk mendapatkan orang yang
terlibat dalam sebuah kegiatan, itu semua tentang membuat pertemanan dan
mendorong orang untuk bergabung dengan kelompok atau asosiasi," ujarnya.
Hagan mengatakan bahwa setelah
bergabung dengan kelompok atau melakukan hobi bersama membantu seseorang dengan
problem kesehatan mental menjadi lebih baik. "ia menjadi tidak asosial dan
seolah menemukan hidupnya kembali," tambahnya.
Pertemanan juga merupakan cara
terbaik untuk memerangi kesepian. "Coba lihat baik-baik jaringan sosial
Anda saat ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak orang maka bergabung dengan
aktivitas lokal yang menarik minat Anda - grup buku, sandiwara amatir, klub
olahraga, aneka kursus, dan sebagainya, maka Anda akan menemukan dunia yang
terasa lebih luas," ujarnya.[Hasil Penelitian: Menjalin Silaturahim
Membantu Seseorang Panjang Umur, Republika.co.id.Selasa, 24 Agustus 2010 18:17
WIB].
Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam
masalah harta.Pembatasan ini tidaklah benar.Sebab yang dimaksud silaturrahim
lebih luas dari itu.Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada
kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan
harta atau dengan lainnya.
Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : "Silaturrahim itu bisa
dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari
mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do'a".
Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja
yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang
mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat
dekat). (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30)[Dr. Fadhl Ilahi,
Sarana Untuk Silaturrahim.Assunnah ML
online].
Ketua umum Ikatan Da'i
Indonesia, Satori Ismail, mengatakan tak masalah jika silaturahim dilakukan
melalui perantara teknologi komunikasi.Silaturahmi merupakan kewajiban yang
harus dilaksanakan setiap Muslim."Yang namanya silaturahmi itu salah satu
kewajiban," kata dia kepada Republika.co.id, Kamis (7/7).
Diungkapkan Satori,
silaturahmi merupakan wadah bagi setiap Muslim untuk menjalin tali kekeluargaan
antara satu dengan yang lain. Menurut dia, hal yang fatal bagi setiap Muslim
apabila mengabaikan kewajiban bersilaturahmi."Intinya kembali ke
niat.Kalau bersilaturahmi menggunakan teknologi komunikasi dinilai memudahkan,
maka itu dipersilahkan," kata dia.
Satori mengatakan, ada kondisi
di mana setiap Muslim tidak memungkinkan untuk merajut komunikasi tatap
muka.Dengan demikian, kehadiran teknologi komunikasi bisa menjadi alternatif
bersilaturahmi."Mungkin saja, dengan penggunaan teknologi komunikasi,
silaturhami yang terjalin lebih intensif," kata dia.
Namun, berbeda apabila
pemanfaatan teknologi digunakan untuk menghilangkan niat menjalin
silaturahmi.Maksudnya, lantaran kehadiran teknologi komunikasi, seorang Muslim
jadi enggan bertemu dengan keluarga atau sanak-saudaranya."Itu yang perlu
diperhatikan," kata dia.
Oleh sebab itu, Satori
mengingatkan agar setiap Muslim tidak serta-merta mengabaikan bersilaturahmi
secara tatap muka.“Pengabaian itu pada akhirnya menghadirkan kesia-siaan.”[Dai:
Silaturahim Lewat Teknologi Komunikasi? Tak Masalah, Republika.co.id. Kamis, 07
Juli 2011 15:43 WIB].
Selama hubungan kita baik-baik
saja dengan saudara dan kerabat maka hubungan silaturahim akan berjalan dengan
baik pula, apakah dengan bertatap muka ataupun melalui sarana teknologi
lainnya, tapi kalau saudara dan kerabat kita termasuk ahli maksiat atau
beragama non islam, bagaimanakah caranya,
Dr. Fadhl Ilahi memberikan
penjelasan tentang hal itu, sebagaimana yang dikatakannya dalam ML Online
berikut ini;
Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim
dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka
berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu
majlis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta sikap lembut dengan
mereka.Ini adalah tidak benar.
Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik
kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada
orang-orang kafir.Allah berfirman."Artinya : Allah tiada melarang kamu
untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu
karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil". (Al-Mumtahanah : 8)
Demikian
pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma' binti Abi Bakar Radhiyallahu
'anhuma yang menanyakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
bersilaturrahim kepada ibunya yang musyrik.Dalam hadits itu diantaranya
disebutkan."Artinya : Aku bertanya, 'Sesungguhnya ibuku datang dan ia
sangat berharap, apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku
?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab. 'Ya, sambunglah
(silaturrahim) dengan ibumu".)
Tetapi,
itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu
majlis dengan mereka, bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut
dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut.Allah berfirman."Artinya
: Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun rang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara atau pun keluarga mereka". (Al-Mujadillah : 22)
Makna
ayat yang mulia ini -sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi- adalah
bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh
Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan
mencintai musuh orang tersebut. (At-Tafsirul Kabir, 29/276. Lihat pula,
Fathul Qadir, 5/272)
Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya
memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majlis dengan mereka.(Lihat,
Ahkamul Qur'an oleh Ibnul Arabi, 4/1763; Tafsir Al-Qurthubi, 17/307)
Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik :
"Saya berkata, 'Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang
yang zhalim dan yang suka memusuhi'. (Tafsir Al-Qurthubi, 17/307. Lihat
pula, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 26/80)
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia
tersebut berkata : "Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang
yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk
kerabat dekat". (Tafsir Ibnu Katsir, 4/347)
Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya
untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauh dari
Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut
adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut
-dalam kondisi demikian- dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.
Dalam hal ini, Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : "Jika
mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan
dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi
dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan
mereka masih membandel.Kemudian, hal itu (pemutusan silaturrahim) dilakukan
karena mereka tidak mau menerima kebenaran.Meskipun demikian, mereka masih
tetap berkewajiban mendo'akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka
kembali ke jalan yang lurus.(Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30)[Dr. Fadhl Ilahi,Tata Cara Silaturrahim dengan Para Ahli
Maksiat, MLM Online].
Selain mendapatkan pahala bagi
orang yang menjaga silaturahim, maka
orang yang memutuskannya juga mendapatkan ancaman dari Allah, Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.: Dari
Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan
hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim )
Jangankan memutuskan persaudaraan,
sedangkan melakukan sikap yang dapat memutuskan persaudaraan saja sangat
dilarang, ketika terpaksa juga terjadinya perselisihan, percekcokan dan
persengketaan maka hanya diberikan dispensasi untuk tidak saling sapa selama tiga
hari, setelah itu semuanya harus selesai dan diselesaikan seperti semula
keadaannya, Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim ).
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim ).
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka
karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian
saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain,
janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling
mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling
bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim )
Dengan persaudaraan yang diujudkan
melalui silaturahim maka tidak ada lagi
saling menzhalimi, yang ada hanyalah sikap saling menghargai antara satu dengan
lainnya, janganlah orang menangis karena kita tertawa, janganlah orang
kehilangan ketika kita mendapatkan sesuatu, hiduplah bersampingan dengan damai,
menghormati segala perbedaan yang ada dan bekerja sama dalam hal-hal yang dapat
disepakati, jadilah sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan
lainnya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1
Ramadhan 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar