Selasa, 26 Januari 2016

136. Silaturahim



Kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini, perlu adanya saudara, tetangga, sahabat dan teman, saling memberi dan menerima bantuan dari orang lain, apalagi hidup dalam lingkungan masyarakat kita dianjurkan untuk bersikap baik agar dicintai ummat. Hubungan baik itu terujud karena diikat oleh tali silaturahim yaitu tali kasih sayang yang  dianjurkan oleh islam selain merupakan fithrah manusia maka silaturahim juga mendapatkan keuntungan yang tidak dapat disangka-sangka berupa rezeki yang berlimpah dan umur yang panjang.
Abdullah bin Salam berkata: ketika Nabi Saw tiba di Madinah banyak masyarakat mengerumuninya dan dikatakan: Rasulullah telah tiba, maka aku pun datang di tengah-tengah mereka untuk menatap wajahnya.
Setelah terlihat jelas aku mengetahui bahwa wajahnya bukan wajah pembohong.kalimat yang pertama aku dengan dari ucapannya adalah: "hai sekalian manusia, sebarkanlah salam (keselamatan, kedamaian, kerukunan, do'a selamat), berikan makanan, pelihara shilaturrahim dan lakukanlah shalat pada saat manusia sedang tidur. niscaya kamusekalian masuk surga dengan salam. (HR. Ibnu Majah)
Banyak pelajaran yang patut kita ambil dari hadis ini, antara lain:
- Abdullah bin Salam semasa masih dalam akidah Yahudi berani bersikap
yang berbeda meski sendirian.
- Orang yang mencari kebenaran tidak pernah ikut-ikutan menilai buruk terhadap seseorang tanpa fakta kendatipun golongannya sepakat menuduh buruk.
- Tuduhan buruk tersebut dipertahankan Yahudi hanya karena untuk membela nafsu belaka.
- Setelah melaihat dengan jelas tampilan Rasulullah, abdulah bin salam menyatakan hal yang seseuai dengan apa yang dia lihat kendatipun harus menghadapi resiko yang berat.
- Rasulullah menyampaikan empat pesan: 3 dari keempat tersebut sangat berhubungan dengan masalah komunikasi masa.
- Sementara satu dari keempat berhubungan dengan komunikasi spiritual.
- Hal itu memberi arti bahwa dalam kehidupan kita ini banyak perbuatan yang berhubungan dengan sesama.
- Secara urutan juga mengandung makna: upaya penyebaran kedamaian dengan bersih hati mendoakan orang lain untuk selamat yang disampaikan dengan wajah simpatik akan membuat orang lain yang sedang mencari kebenaran akan merasa sejuk, kendatipun pada mulanya memiliki pandangan yang berbeda karena inlformasi dari pihak lain.
- Memberi makanan adalah salah satu cara yang sangat baik untuk mejalin komunikasi antar sesama meski hanya dengan makanan alakadanya.
- Shilaturrahim tidak diragukan wajib hukumnya baik yang dekat ataupun yang jauh terutama dengan saudara dan karabat. banyak orang terputus hubungan akibat terganggu oleh kepentigan sesaat.[Saiful Islam Mubarak, Nilai Silaturrahmi Dalam Kehidupan, Eramuslim.com. Monday, 07/02/2011 15:10 WIB].
Makna 'ar-rahim' adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".
Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.
Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.(Fathul Bari, 10/414)
Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.(Lihat, Murqatul Mafatih, 8/645)
Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:
  1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)1)maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415)
  1. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415)
Dalam dua hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia. [Dr. Fadhl Ilahi, Makna Silaturrahim.Assunnah ML online].
Indah betul ajaran Islam.Tak hanya sisi spiritual, banyak hal yang secara ilmiah terbukti kebenarannya.Salah satunya, adalah ajaran untuk menjalin silaturahim dan menyambungnya kembali jika terputus.
            Penelitian yang dihajat The Crown Street Resource Centre membuktikan, pertemanan dapat membantu seseorang hidup lebih lama dan melewatinya dengan penuh rasa bahagia. Sebaliknya, seseorang yang kesepian akan melewatkan kehidupannya secara "menyedihkan".
            The Crown Street Resource Centre mengembangkan sebuah komunitas  di mana orang-orang dengan masalah kesehatan mental dapat bertemu dan mengambil bagian dalam berbagai hobi dari musik untuk budidaya lebah madu. Di dalamnya, setiap orang yang datang dapat menjalin pertemanan.
Tricia Hagan, Konsultan Psikolog Klinis di Mersey Care NHS Trust, mengatakan, menjalin pertemanan  memiliki manfaat besar bagi kesehatan fisik dan kesejahteraan rohani. "Hal ini bisa mendukung  Anda hidup lebih lama," ujarnya."Plus, Anda mungkin bisa membantu orang lain untuk tidak merasa kesepian."Pertemanan, kata dia, bukan sekadar membuat kontak dengan orang lain, atau mendaftar banyak orang yang kita kenal."Pertemanan yang dimaksud adalah kita menjalin silaturahim intens dengan mereka," tambahnya.
Di The Crown Street Resource Centre, setiap anggota terapi saling berhubungan satu sama lain dan melakukan kegiatan bersama, yaitu merawat lebah dengan sangat santai dan menyenangkan. "Kelompok budidaya lebah madu adalah cara untuk mendapatkan orang yang terlibat dalam sebuah kegiatan, itu semua tentang membuat pertemanan dan mendorong orang untuk bergabung dengan kelompok atau asosiasi," ujarnya.
Hagan mengatakan bahwa setelah bergabung dengan kelompok atau melakukan hobi bersama membantu seseorang dengan problem kesehatan mental menjadi lebih baik. "ia menjadi tidak asosial dan seolah menemukan hidupnya kembali," tambahnya.
Pertemanan juga merupakan cara terbaik untuk memerangi kesepian. "Coba lihat baik-baik jaringan sosial Anda saat ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak orang maka bergabung dengan aktivitas lokal yang menarik minat Anda - grup buku, sandiwara amatir, klub olahraga, aneka kursus, dan sebagainya, maka Anda akan menemukan dunia yang terasa lebih luas," ujarnya.[Hasil Penelitian: Menjalin Silaturahim Membantu Seseorang Panjang Umur, Republika.co.id.Selasa, 24 Agustus 2010 18:17 WIB].
Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam masalah harta.Pembatasan ini tidaklah benar.Sebab yang dimaksud silaturrahim lebih luas dari itu.Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.
Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : "Silaturrahim itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do'a".
Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat). (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30)[Dr. Fadhl Ilahi, Sarana Untuk Silaturrahim.Assunnah ML online].
Ketua umum Ikatan Da'i Indonesia, Satori Ismail, mengatakan tak masalah jika silaturahim dilakukan melalui perantara teknologi komunikasi.Silaturahmi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap Muslim."Yang namanya silaturahmi itu salah satu kewajiban," kata dia kepada Republika.co.id, Kamis (7/7).
Diungkapkan Satori, silaturahmi merupakan wadah bagi setiap Muslim untuk menjalin tali kekeluargaan antara satu dengan yang lain. Menurut dia, hal yang fatal bagi setiap Muslim apabila mengabaikan kewajiban bersilaturahmi."Intinya kembali ke niat.Kalau bersilaturahmi menggunakan teknologi komunikasi dinilai memudahkan, maka itu dipersilahkan," kata dia.
Satori mengatakan, ada kondisi di mana setiap Muslim tidak memungkinkan untuk merajut komunikasi tatap muka.Dengan demikian, kehadiran teknologi komunikasi bisa menjadi alternatif bersilaturahmi."Mungkin saja, dengan penggunaan teknologi komunikasi, silaturhami yang terjalin lebih intensif," kata dia.
Namun, berbeda apabila pemanfaatan teknologi digunakan untuk menghilangkan niat menjalin silaturahmi.Maksudnya, lantaran kehadiran teknologi komunikasi, seorang Muslim jadi enggan bertemu dengan keluarga atau sanak-saudaranya."Itu yang perlu diperhatikan," kata dia.
Oleh sebab itu, Satori mengingatkan agar setiap Muslim tidak serta-merta mengabaikan bersilaturahmi secara tatap muka.“Pengabaian itu pada akhirnya menghadirkan kesia-siaan.”[Dai: Silaturahim Lewat Teknologi Komunikasi? Tak Masalah, Republika.co.id. Kamis, 07 Juli 2011 15:43 WIB].
Selama hubungan kita baik-baik saja dengan saudara dan kerabat maka hubungan silaturahim akan berjalan dengan baik pula, apakah dengan bertatap muka ataupun melalui sarana teknologi lainnya, tapi kalau saudara dan kerabat kita termasuk ahli maksiat atau beragama non islam, bagaimanakah caranya,  Dr. Fadhl Ilahi memberikan penjelasan tentang hal itu, sebagaimana yang dikatakannya dalam ML Online berikut ini;
Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majlis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta sikap lembut dengan mereka.Ini adalah tidak benar.
Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir.Allah berfirman."Artinya : Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". (Al-Mumtahanah : 8)
Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma' binti Abi Bakar Radhiyallahu 'anhuma yang menanyakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersilaturrahim kepada ibunya yang musyrik.Dalam hadits itu diantaranya disebutkan."Artinya : Aku bertanya, 'Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku ?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab. 'Ya, sambunglah (silaturrahim) dengan ibumu".)

Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majlis dengan mereka, bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut.Allah berfirman."Artinya : Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun rang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka". (Al-Mujadillah : 22)

Makna ayat yang mulia ini -sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi- adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut. (At-Tafsirul Kabir, 29/276. Lihat pula, Fathul Qadir, 5/272)
Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majlis dengan mereka.(Lihat, Ahkamul Qur'an oleh Ibnul Arabi, 4/1763; Tafsir Al-Qurthubi, 17/307)
Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik : "Saya berkata, 'Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi'. (Tafsir Al-Qurthubi, 17/307. Lihat pula, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 26/80)
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata : "Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat". (Tafsir Ibnu Katsir, 4/347)
Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauh dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut -dalam kondisi demikian- dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.
Dalam hal ini, Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : "Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih membandel.Kemudian, hal itu (pemutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran.Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo'akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.(Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30)[Dr. Fadhl Ilahi,Tata Cara Silaturrahim dengan Para Ahli Maksiat, MLM Online].
Selain mendapatkan pahala bagi orang yang menjaga silaturahim,  maka orang yang memutuskannya juga mendapatkan ancaman dari Allah,  Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim )

Jangankan memutuskan persaudaraan, sedangkan melakukan sikap yang dapat memutuskan persaudaraan saja sangat dilarang, ketika terpaksa juga terjadinya perselisihan, percekcokan dan persengketaan maka hanya diberikan dispensasi untuk tidak saling sapa selama tiga hari, setelah itu semuanya harus selesai dan diselesaikan seperti semula keadaannya, Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim ).

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim )

Dengan persaudaraan yang diujudkan melalui  silaturahim maka tidak ada lagi saling menzhalimi, yang ada hanyalah sikap saling menghargai antara satu dengan lainnya, janganlah orang menangis karena kita tertawa, janganlah orang kehilangan ketika kita mendapatkan sesuatu, hiduplah bersampingan dengan damai, menghormati segala perbedaan yang ada dan bekerja sama dalam hal-hal yang dapat disepakati, jadilah sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar