Sebagai bangsa
kita kenal betul bagaimana Indonesia sebelum 17 Agustus 1945 berada dalam
dekapan penjajahan, Belanda berkuasa lebih kurang selama 350 tahun dan Jepang
selama 3,5 tahun. Menurut penuturan orang-orang dahulu yang pernah hidup
dizaman penjajahan, mereka mengalami kehidupan penuh dengan penderitaan dan
kezhaliman dari penjajahan, dipekerjakan secara paksa, hasil panen dirampas,
para wanita diperkosa, hidup penuh dengan suasana mencekam.
Sepanjang
sejarah manusia maka sepanjang itu pula saling jajah terjadi sejak dari belahan
Barat hingga Timur, banyak motiv yang melatarbelakangi penjajahan itu,
diantaranya untuk memperluas kekuasaan, menguji kekuatan dan kemampuan pasukan,
mencari bahan tambang dan menyebarkan suatu misi agama.
Periode
penjajahan Barat di Asia Tenggara praktis bersamaan waktunya dengan penjajahan
Barat di benua yang kita kenal dengan Amerika serta Australia, yaitu abad
ke-16. Sedangkan Afrika Utara, Asia Barat dan Asia Tengah telah mengalaminya
sejak sebelum Masehi.
Abad ke-16
adalah periode penting dalam sejarah manusia. Setelah sekitar 1000 tahun
mengalami zaman kegelapan, Barat mengalami proses kebangkitan besar yang lazim
disebut Renaissance (Kelahiran Kembali) sebagai akibat pengaruh Timur yang
sejak sekitar 5000 sebelum Masehi mengalami masa jaya yaitu capaian prestasi
kemanusiaan praktis tanpa putus hingga awal abad ke-19. Perang Salib
(1095-1291) yang dilaksanakan Barat ke wilayah kekuasaan Timur yang terbentang
dari Iberia hingga Mesopotamia meningkatkan minat Barat untuk mengenal
Timur.Ketika itu Timur tampil menjanjikan atau menggiurkan nyaris dalam segala
hal.
Kebangkitan
Barat antara lain dalam bidang teknologi (setelah belajar dari Timur) mendorong
mereka keluar dari dunianya mencari “dunia lain” untuk ditaklukan. Kemenangan
yang diraih Portugis tahun 1267 dan Spanyol terhadap kaum Muslim Arab pada 1492
sungguh memabukkan mereka. Rasa percaya diri sebagai manusia unggul bangkit,
tetapi pada saat bersamaan dunia Barat – waktu itu masih sebatas benua Eropa–
sedang terancam oleh gerak maju bangsa Timur lain yaitu Muslim Turki ke bagian
timur dan tenggara Eropa. Dengan demikian penjajahan ke seberang lautan masuk
pula dalam agenda Renaissance.Adapun semboyan imperialisme Barat adalah gold
(mencari kekayaan), gospel (menyebar pengaruh berupa nilai-nilai yang dianut
Barat) dan glory (mencari kehormatan).
Proyek penaklukan pertama Barat –dalam
hal ini Portugis– adalah Kesultanan Malaka (1400-1511), yang mungkin adalah
negeri yang paling makmur di Asia Tenggara saat itu. Konon kerajaan tersebut
dibentuk oleh seorang pangeran dari Majapahit, setelah menganut Islam dia
mengubah namanya dengan Megat Iskandar Syah. Ketika tiba di wilayah tersebut
dia menilai bahwa dia berada pada tempat yang strategis terutama dari segi
ekonomi: Selat Malaka! Selat yang sejak awal Masehi telah menjadi jalur ramai
antara dunia Barat dengan dunia Timur.Dia bersekutu dengan penduduk lokal dan
membangun fasilitas untuk berlabuh.Benar saja, dalam waktu relatif singkat
banyak kapal-kapal asing yang singgah atau mukim, Malaka yang berawal dari
kampung nelayan berubah menjadi pelabuhan bertaraf internasional.
Seiring dengan
kemasyhuran di bidang ekonomi, Malaka juga dikenal sebagai pusat da’wah Islam
di Asia Tenggara.
Kemasyhuran
Malaka tiba juga ke telinga bangsa Portugis.Ketika itu Portugis telah memiliki
beberapa wilayah taklukan dari pesisir Afrika hingga sejauh Goa di India. Vasco
de Gama, seorang laksamana ulung dilantik sebagai raja muda untuk India. Dia
mengirim utusan ke Malaka dan diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad
(1488-1511), Portugis mendapat izin berdagang sebagaimana halnya bangsa-bangsa
lain.
Utusan Portugis
tiba ketika Malaka konon sedang dirundung perpecahan antara sultan di satu
fihak dengan bendahara dan putranya, suatu hal yang berbahaya mengingat
di mana-mana perpecahan adalah menyenangkan imperialis. Jika tidak ada
perpecahan ya diada-adakan.
Komunitas Muslim
internasional di Malaka tahu watak Portugis karena mereka ada yang berasal dari
negeri-negeri yang telah direbut Portugis semisal Hurmuz di Teluk Persia,
Suquthrah di Teluk ‘Adan dan Zanzibar di lepas pantai timur Afrika. Mereka
mempengaruhi sultan untuk memusuhi Portugis, sultan terpengaruh dan dalam suatu
serangan mendadak beberapa anggota utusan tewas dan selebihnya lolos.
Segera
pemerintah Portugis melihat peluang atau dalih untuk menaklukan
Malaka.Sekelompok armada Portugis dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque menuju
Malaka dan dapat menaklukannya setelah bertempur sengit.
Peristiwa
tersebut boleh dinilai sebagai awal zaman gelap bagi Asia Tenggara. Setelah
kehadiran Portugis, berbondong-bondong bangsa-bangsa Barat lain datang ke Asia
Tenggara meraih tanah jajahan. Kelak ketika Perang Pasifik dimulai, Inggris
bercokol di Birma (kini Myanmar), Brunei, Malaya (kini Malaysia) dan Singapura;
Belanda bercokol di Indonesia; Portugis bercokol di Timor Timur (kini Timor
Leste); Perancis di Vietnam, Laos dan Kamboja; serta Amerika Serikat (AS)
bercokol di Filipina.
Apa yang kini disebut Negara Kesatuan
Republik Indonesia telah memiliki beberapa nama selain Hindia Belanda semisal
Hindia Timur, Nusantara, Jawi dan Aqsha al-Hindiy (India Jauh). Orang Barat
tempo doeloe menyebut Hindia Timur sebagai pasangan gugusan pulau di Laut
Karibia dengan nama Hindia Barat.
Sebagaimana telah disebutkan di atas,
Asia Tenggara terletak pada jalur laut yang menghubungkan Barat dan Timur sejak
awal Masehi, dengan demikian wilayah Indonesia terbuka hingga mau tak mau
terlibat dalam pergaulan internasional sebagai akibat perdagangan tersebut.
Perdagangan dengan bangsa-bangsa asing
semisal Cina, Arab, India dan Persia memperkenalkan bangsa Indonesia yang
ketika itu masih primitif kepada arus besar peradaban Timur.Agama Hindu dan
Budha dari India, Kong Hu-cu dari Cina serta Islam dari Arabia berangsur-angsur
masuk ke Indonesia.Hubungan dengan sesama bangsa Timur boleh dibilang nyaman
dalam arti saling menguntungkan, berbeda dengan bangsa-bangsa Barat yang banyak
merugikan bangsa Indonesia.
Walaupun kita mengenal mayoritas bangsa
Indonesia beragama Islam, tetapi pengaruh yang pertama masuk dan bertahan
hingga sekitar 1500 tahun adalah dari India. Sejak abad ke-5 telah ada kerajaan
yang berbasis Hindu dan Budha, adapun kerajaan berbasis Islam sejauh yang
diketahui, tampil pada abad ke-13 walaupun Islam dipastikan masuk ke Indonesia
sejak abad ke-7.
Di antara
beberapa kerajaan pra kolonial terdapat dua kerajaan yang sering dinilai paling
menonjol yaitu Sriwijaya dan Majapahit.Dua kerajaan tersebut sering dinilai sebagai
puncak capaian prestasi kemanusiaan yang pernah diraih bangsa Indonesia.Sriwijaya
diperkirakan lenyap sekitar abad ke-13 dan Majapahit memudar pada abad ke-16.
Pudarnya Majapahit bertepatan dengan kehadiran imperialisme Barat, beberapa
wilayahnya melepaskan diri dan membentuk negara sendiri antara lain Aceh,
Demak, Malaka, Ternate dan Makassar.
Walaupun Malaka
adalah bandar internasional tetapi pusat rempah-rempah yang sangat dicari
bangsa-bangsa Barat adalah Kepulauan Maluku.Pada 1512 rombongan Portugis
dipimpin Francisco de Serrao menjangkau pulau Ambon. Ketika itu Kepulauan
Maluku terdapat beberapa kerajaan antara lain Ternate, Tidore, Bacan dan Hitu.
Runtuhnya Majapahit tidak memutuskan hubungan antara Maluku dengan Jawa.Selain
karena kehadiran para pedagang Arab, Persia dan India, Islam tersebar ke
kepulauan tersebut juga dari Jawa.Setelah terjadi perlawanan berat dari
pribumi, kekuasaan Portugis dibatasi hanya di Ambon.Kehadiran Belanda menghalau
Portugis dari Maluku ke pulau Timor dan kehadiran Belanda menggusur Portugis
pula ke belahan timur pulau tersebut hingga tahun 1976 dengan selingan
pendudukan Jepang (1942-1945).
Usaha Portugis
menguasai Jawa dapat digagalkan Demak, sengketa tersebut menampilkan desa
nelayan bernama Sunda Kelapa berkembang menjadi kota Jakarta setelah sempat
berganti-ganti nama.
Orang Spanyol
sempat pula hadir di Indonesia namun berlangsung singkat karena agaknya telah
merasa puas memiliki Filipina, lagi pula menurut perjanjian Spanyol-Portugal
yang direstui oleh paus di Roma, Indonesia untuk Portugal dan Filipina untuk
Spanyol. Perjanjian yang membagi dua kolong langit antara kedua negara
imperialis tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Thordesilas (1494). Filipina
dijajah Spanyol hingga 1898.
masih ada
beberapa bangsa Barat yang hadir tetapi kelak seakan ditakdirkan bahwa Belanda
yang akan tampil dominan mengenggam Indonesia untuk sekian lama. Orang Inggris
sempat memiliki Bengkulu antara 1685-1825 dan secuil wilayah lain.
Dalam riwayat
imperialisme Barat di Indonesia, bangsa Indonesia selama pra Proklamasi 1945
melaksanakan perlawanan berbentuk militer dan politik.Perlawanan militer
mendominasi perioda 1511 hingga awal abad ke-20 berakhir gagal. Barat
mengandalkan apa yang disebut sistek (sistem senjata teknologi) yaitu penggunaan
teknologi militer yang makin canggih sejak abad ke-19. Juga ada yang disebut
sissos (sistem senjata sosial) yaitu menggunakan taktik divide et impera
(pecah-belah dan jajah) akibat belum terdapat rasa persatuan kebangsaan di
Nusantara. Pribumi gagal mewujudkan gerakan perlawanan terpadu, perlawanan
terpencar sukses ditumpas oleh kolonial Barat. Perlawanan militer besar
terakhir pra 1945 adalah Perang Aceh yang berawal tahun 1873 dan dinyatakan
resmi berakhir tahun 1904, walaupun perlawanan kecil-kecilan masih ada hingga
1942.
Belajar dari kegagalan,
pribumi mengubah cara perlawanan dari militer ke politik. Beberapa pribumi yang
terpelajar ingin membawa bangsa ini mendapat pendidikan layak dan dihimpun
dalam organisasi yang rapi. Teknologi harus diraih, ekonomi harus ditata dan
konsep kebangsaan yang sama sekali baru harus terwujud. Tujuannya, membuat
bangsa ini canggih dan kompak![Disarikan dari ebook; Dekolonisasi Indonesia, Oleh INDRAGANIE, kompilasi chm: pakdenono nov 2007].
Begitu panjangnya perjalanan
sejarah bangsa Indonesia, sejak belum bernama Indonesia hingga mempejuangkan
kemerdekaan, selama itu kita berada dalam penjajahan dari berbagai bangsa
Barat, dengan segala suka dan dukanya, sehingga wajar bila watak-watak dan
temperamen serta mental terjajah masih mendarah daging pada diri kita, padahal
kemerdekaan sudah kita raih sejak tahun 1945.
Ketika berhadapan dengan
negara lain kita belum mampu untuk
berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain, apakah
dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi dan budaya. Kita lebih suka meniru
segala sesuatu yang berbau negara lain, belum mampu dan tidak bangga dengan
produk sendiri, lebih-lebih masih senangnya negara kita ini untuk mengalihkan
kekayaan di negara ini ke negara lain dengan dalih apapun, nampaknya penjajahan
masih berlansung hingga kini.
"Kita ini dijajah sangat
sistematis dan ilmiah.Kita dijajah memakai ilmu!"Ungkapan almarhum WS
Rendra terus berdenging di gendang telinga. Bahkan, hingga kini pun, saat elite
politik sibuk memperingati kelahiran Pancasila, kalimat ini kembali bergema
meski dengan nada dan suara lain. Yang mengutarakannya adalah mantan presiden
BJ Habibie pada 1 Juni lalu, di gedung Parlemen Senayan, Jakarta,Habibie memang
bukan Rendra.
Namun, dalam soal keprihatinannya
akan nasib bangsa keduanya sejalan. Mereka tak rela bila negara ini limbung dan
tak percaya diri lantaran semakin hari semakin jauh dari cita-cita falsafah
pendiriannya.Habibie secara terbuka menyoroti fenomena pemindahan kekayaan alam
secara gila-gilaan ke luar negeri seolah tanpa ada pencegahan.
Menurut Habibie, salah satu
manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, pengalihan kekayaan
alam suatu negara ke negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang
tinggi, kemudian menjual produk-produk ke negara asal, sedemikian rupa sehingga
rakyat harus 'membeli jam kerja' bangsa lain. "Ini adalah penjajahan dalam
bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu 'VOC
(Verenigde Oost-Indische Compagnie) dengan baju baru," kata Habibie ketika
berpidato mengenai reaktualisasi nilai Pancasila.
Bila dikaji, kekhawatiran
bahwa negara ini bisa sejahtera memang masih ada. Data bank dunia menyatakan
jumlah kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 131 juta jiwa. Anggaran negara
yang dikumpulkan dalam APBN sudah lebih dari 1.000 triliun.Bukan hanya itu,
angka pertumbuhan ekonomi negara masih tetap memukau berkisar di antara enam
persen per tahun.Indonesia pun kini sudah bisa masuk menjadi anggota forum
negara G20.
Tapi, mengapa begitu banyak
yang tetap merasa resah? Pengamat politik Universitas Indonesia, Andrianov
Chaniago, menyatakan tanda-tanda kegagalan nation state (negara bangsa) yang
bernama Indonesia malah sudah semakin jelas. Bila ada data, yang muncul
adalah fenomena yang mengatakan betapa lebar kesenjangan sosial itu. Jumlah
dana APBD memang banyak, tetapi 80 persen dana tersedot untuk membiayai gaji
dan keperluan pegawai pemerintah. Celakanya, sisa yang sudah kecil akan semakin
kecil karena digerogoti wabah korupsi yang sangat akut.
"Negara akhirnya tampak
hanya melindungi atau menyejahterakan mereka yang punya modal.Penguasa tetap
tidak berpihak pada rakyat kecil. Bayangkan saja Rp 182 triliun dana APBN hanya
dihabiskan untuk membiayai belanja aparat. Ini kan tak masuk akal," kata
Andrinov.
Dalam babak baru, lanjut
Andrinov, ancaman krisis bisa saja terjadi bila kemudian masyarakat desa
berbondong-bondong pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Akibatnya, mau tidak
mau nantinya akan timbul masalah baru, yakni konflik horizontal
antarkelas. Masyarakat miskin pedesaan yang kini sudah pindah ke kota kemudian
bersatu dengan masyarakat miskin kota melawan kelompok masyarakat elite yang
kaya.[Muhammad Subarkah, Penjajahan yang Berlanjut, Korandigital.com. Rabu,
15 Juni 2011 pukul 17:09:00].
Pada tahun 1946 Jepang kembali ke Tokio karena kalah
perang melawan sekutu, dengan rasa malu mereka tinggalkan Indonesia setelah
tiga setengah tahun dijajah, ketika meninggalkan negara jajahannya ini salah
seorang pimpinannya berkata,"Sekarang kami kembali ke Tokio, tetapi dalam
waktu duapuluh tahun kami akan kembali ke Indonesia".
Tahun 1956 Jepang kembali
menjajah Indonesia dalam bentuk lain yaitu melalui kebudayaannya seperti
Karate, Sumo, Yudo dan lain-lain. Melalui produksi modernnya seperti Kawasaki,
Suzuki, Yamaha, Honda dan lain-lain. Hal itu berangkat dari sifat malunya
terusir dari Indonesia sehingga orang Jepang datang kembali dengan melakukan
penjajahan yang lebih menggurita. Penjajah punya rasa malu ketika kekuasaan dan
wilayah jajahannya kembali kepada kaum yang dijajah, tapi yang dijajah tidak
ada rasa malu dikala penjajah datang lagi ke negara kita untuk menguasai
kembali dengan cara lain.
Dalam khazanah hubungan
internasional, salah satu unsur penting dari negara merdeka adalah sovereignty,
atau kedaulatan, yang oleh Grotius didefinisikan sebagai "that power
whose acts are not subject to control of another, so that they may be made void
by act of any other human will" (Encyclopedia of Social Sciences, 52).
Jadi, sovereignty atau
kedaulatan adalah suatu kemampuan, keupayaan, atau kekuatan untuk melakukan
tindakan atas kemauan sendiri, bukan di bawah kontrol atau telunjuk orang lain.
Dengan kata lain, suatu negara dikatakan merdeka dan berdaulatan secara hakiki,
jika kemauan dan kebijakan negara itu, tidak lagi berada di bawah telunjuk
penjajah. Pembukaan UUD 1945 menyatakan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala
bangsa, dan oleh sebab itu, maka harus dihapuskan dari muka bumi, karena tidak
sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Secara fisik, saat ini hampir
tidak ditemukan adanya bentuk penjajahan militer, kecuali di Palestina dan
Iraq. Tetapi, kolonialisme klasik yang hilang, kini digantikan oleh
imperialisme modern, yang oleh Dieter Nohlen (1994), didefinisikan sebagai
politik yang bertujuan menguasai dan mengendalikan bangsa-bangsa lain di luar
batas negaranya, baik secara langsung (melalui perluasan wilayah) atau secara
tidak langsung (mendominasi politik, ekonomi, militer, budaya). Bangsa yang
dikuasai itu sebenarnya tidak suka dan menolak tekanan serta pengaruh negara
imperialis.
Dari segi pengertian
imperialisme modern ini, dengan mudah kita mengatakan, bahwa Indonesia memang
belum merdeka. Sebagaimana penjajahan klasik, imperialis modern yang menguasai
dan menghegemoni negara lain, juga melakukan berbagai usaha untuk
mempertahankan kekuasaannya atas negara lain. Sebab, kekuasaan telah memberi
keuntungan besar kepada mereka, terutama secara ekonomi. Di masa penjajahan
Belanda, kita mengenal teori ?Islam Politiek?-nya Snouck Hurgronje, yang
membagi masalah Islam ke dalam tiga ketegori: (1) bidang agama murni dan
ibadah, (2) bidang sosial kemasyarakatan, (3) bidang politik. Masing-masing
bidang mendapat perlakuan yang berbeda.Resep Snouck Hurgronje ini diberikan
kepada pemerintak kolonial Belanda untuk menangani masalah Islam di Indonesia.
Dalam bidang agama murni atau
ibadah, pemerintah kolonial pada dasarnya memberikan kemerdekaan kepada umat
Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan
pemerintah Belanda. Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat
kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati Belanda,
dan bahkan membantu rakyat menempuh jalan tersebut. Dan dalam bidang politik,
pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada
fanatisme dan Pan-Islam.
Di zaman itu, salah satu yang
dianggap ancaman oleh pemerintah kolonial adalah ibadah haji, sehingga
mendapatkan pembatasan yang sangat ketat.Karena itu, tahun 1908, anggota
parlemen Belanda bernama Bogardt, menyatakan, bahwa pemerintah kolonial harus
mengambil tindakan terhadap ibadah haji ke Mekkah.Para haji secara politis
dinilainya berbahaya, dan karena itu ditegaskannya bahwa melarang perjalanan
ibadah haji adalah lebih daripada kemudian terpaksa harus menambak mati mereka.
(Lihat, buku Aqib Suminto yang berjudul Politik Islam Hindia Belanda,
1985:12,21).
Di zaman imperialisme modern, cara untuk mempertahankan penjajahan agak berbeda dengan dulu, meskipun tujuannya sama, yaitu mempertahankan kekuasaan dan hegemoni atas negara lain. Banyak calon Presiden yang sudah menyadari akanhal ini. Mereka ingin agar Indonesia mandiri dalam berbagai hal, tidak tergantung atau didekte oleh negara atau kekuatan lain. Bagi Indonesia, masalah ini tentulah merupakan masalah yang sangat besar dan berat.Secara ekonomi, jelas Indonesia tidak mandiri.Selain utang yang sangat besar, juga dari waktu ke waktu, semakin banyak aset strategis yang dijual ke luar. Dengan dikuasainya BCA dan Indosat oleh asing saja, maka bisa dibayangkan, begitu mudah ekonomi dan situasi negara ini digoyang ?jika diperlukan. Meskipun merupakan salah satu negara produsen minyak, perusahaan minyak negara -- Pertamina-- kalah jauh dibandingkan dengan Petronas Malaysia, yang tahun ini mencatat keuntungan sebesar RM 37,4 milyar (sekitar Rp 89 trilyun).
Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat?Jawabnya, tentu karena kita lemah.Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia.Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial.Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar.Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah.Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia.Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.[Adian Husaini, MA, Memerdekakan Kembali Indonesia, Hidayatullah.com.Kamis, 08 Juli 2004].
Di zaman imperialisme modern, cara untuk mempertahankan penjajahan agak berbeda dengan dulu, meskipun tujuannya sama, yaitu mempertahankan kekuasaan dan hegemoni atas negara lain. Banyak calon Presiden yang sudah menyadari akanhal ini. Mereka ingin agar Indonesia mandiri dalam berbagai hal, tidak tergantung atau didekte oleh negara atau kekuatan lain. Bagi Indonesia, masalah ini tentulah merupakan masalah yang sangat besar dan berat.Secara ekonomi, jelas Indonesia tidak mandiri.Selain utang yang sangat besar, juga dari waktu ke waktu, semakin banyak aset strategis yang dijual ke luar. Dengan dikuasainya BCA dan Indosat oleh asing saja, maka bisa dibayangkan, begitu mudah ekonomi dan situasi negara ini digoyang ?jika diperlukan. Meskipun merupakan salah satu negara produsen minyak, perusahaan minyak negara -- Pertamina-- kalah jauh dibandingkan dengan Petronas Malaysia, yang tahun ini mencatat keuntungan sebesar RM 37,4 milyar (sekitar Rp 89 trilyun).
Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat?Jawabnya, tentu karena kita lemah.Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia.Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial.Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar.Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah.Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia.Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.[Adian Husaini, MA, Memerdekakan Kembali Indonesia, Hidayatullah.com.Kamis, 08 Juli 2004].
Tauhid yang bersih dari
syirik, tanpa belenggu dari kekuasaan manapun tidak akan mau hidup dalam
jajahan orang lain, dia akan berontak untuk keluar dari belenggu penjajahan
yang mengungkungnya dari kebebasan dan kemerdekaan sebagaimana perjuangan yang
dilakukan oleh Bilal bin Rabah, sang budak tidak mau lagi hidup dalam
penjajahan perbudakan yang dialaminya, setelah mengetahui ada agama yang
mengajarkan kemerdekaan, mengajarkan tentang hidup bebas dalam pengabdian
kepada Allah. Perbudakan dan penjajahan dari bangsa lain sudah kita merdekakan
lebih dari enampuluh tahun yang lalu sehingga semuanya berupaya menyingsingkan
lengan tangan, mengangkat senjata, bersatu mengusir penjajah agar hidup bebas
di alam kemerdekaan, tapi kini kita berada dalam penjajahan bangsa sendiri,
terkungkung dalam kerangkeng rezim demi rezim yang berkuasa, nampaknya usaha
untuk meraih kemerdekaan belumlah selesai, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28
Juli 2011.M/ 26 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar