Selasa, 02 Februari 2016

145. Penjajahan



Sebagai bangsa kita kenal betul bagaimana Indonesia sebelum 17 Agustus 1945 berada dalam dekapan penjajahan, Belanda berkuasa lebih kurang selama 350 tahun dan Jepang selama 3,5 tahun. Menurut penuturan orang-orang dahulu yang pernah hidup dizaman penjajahan, mereka mengalami kehidupan penuh dengan penderitaan dan kezhaliman dari penjajahan, dipekerjakan secara paksa, hasil panen dirampas, para wanita diperkosa, hidup penuh dengan suasana mencekam.

Sepanjang sejarah manusia maka sepanjang itu pula saling jajah terjadi sejak dari belahan Barat hingga Timur, banyak motiv yang melatarbelakangi penjajahan itu, diantaranya untuk memperluas kekuasaan, menguji kekuatan dan kemampuan pasukan, mencari bahan tambang dan menyebarkan suatu misi agama.

Periode penjajahan Barat di Asia Tenggara praktis bersamaan waktunya dengan penjajahan Barat di benua yang kita kenal dengan Amerika serta Australia, yaitu abad ke-16. Sedangkan Afrika Utara, Asia Barat dan Asia Tengah telah mengalaminya sejak sebelum Masehi.

Abad ke-16 adalah periode penting dalam sejarah manusia. Setelah sekitar 1000 tahun mengalami zaman kegelapan, Barat mengalami proses kebangkitan besar yang lazim disebut Renaissance (Kelahiran Kembali) sebagai akibat pengaruh Timur yang sejak sekitar 5000 sebelum Masehi mengalami masa jaya yaitu capaian prestasi kemanusiaan praktis tanpa putus hingga awal abad ke-19. Perang Salib (1095-1291) yang dilaksanakan Barat ke wilayah kekuasaan Timur yang terbentang dari Iberia hingga Mesopotamia meningkatkan minat Barat untuk mengenal Timur.Ketika itu Timur tampil menjanjikan atau menggiurkan nyaris dalam segala hal.

Kebangkitan Barat antara lain dalam bidang teknologi (setelah belajar dari Timur) mendorong mereka keluar dari dunianya mencari “dunia lain” untuk ditaklukan. Kemenangan yang diraih Portugis tahun 1267 dan Spanyol terhadap kaum Muslim Arab pada 1492 sungguh memabukkan mereka. Rasa percaya diri sebagai manusia unggul bangkit, tetapi pada saat bersamaan dunia Barat – waktu itu masih sebatas benua Eropa– sedang terancam oleh gerak maju bangsa Timur lain yaitu Muslim Turki ke bagian timur dan tenggara Eropa. Dengan demikian penjajahan ke seberang lautan masuk pula dalam agenda Renaissance.Adapun semboyan imperialisme Barat adalah gold (mencari kekayaan), gospel (menyebar pengaruh berupa nilai-nilai yang dianut Barat) dan glory (mencari kehormatan).

Proyek penaklukan pertama Barat –dalam hal ini Portugis– adalah Kesultanan Malaka (1400-1511), yang mungkin adalah negeri yang paling makmur di Asia Tenggara saat itu. Konon kerajaan tersebut dibentuk oleh seorang pangeran dari Majapahit, setelah menganut Islam dia mengubah namanya dengan Megat Iskandar Syah. Ketika tiba di wilayah tersebut dia menilai bahwa dia berada pada tempat yang strategis terutama dari segi ekonomi: Selat Malaka! Selat yang sejak awal Masehi telah menjadi jalur ramai antara dunia Barat dengan dunia Timur.Dia bersekutu dengan penduduk lokal dan membangun fasilitas untuk berlabuh.Benar saja, dalam waktu relatif singkat banyak kapal-kapal asing yang singgah atau mukim, Malaka yang berawal dari kampung nelayan berubah menjadi pelabuhan bertaraf internasional.

Seiring dengan kemasyhuran di bidang ekonomi, Malaka juga dikenal sebagai pusat da’wah Islam di Asia Tenggara.
Kemasyhuran Malaka tiba juga ke telinga bangsa Portugis.Ketika itu Portugis telah memiliki beberapa wilayah taklukan dari pesisir Afrika hingga sejauh Goa di India. Vasco de Gama, seorang laksamana ulung dilantik sebagai raja muda untuk India. Dia mengirim utusan ke Malaka dan diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad (1488-1511), Portugis mendapat izin berdagang sebagaimana halnya bangsa-bangsa lain.

Utusan Portugis tiba ketika Malaka konon sedang dirundung perpecahan antara sultan di satu fihak  dengan bendahara dan putranya, suatu hal yang berbahaya mengingat di mana-mana perpecahan adalah menyenangkan imperialis. Jika tidak ada perpecahan ya diada-adakan.

Komunitas Muslim internasional di Malaka tahu watak Portugis karena mereka ada yang berasal dari negeri-negeri yang telah direbut Portugis semisal Hurmuz di Teluk Persia, Suquthrah di Teluk ‘Adan dan Zanzibar di lepas pantai timur Afrika. Mereka mempengaruhi sultan untuk memusuhi Portugis, sultan terpengaruh dan dalam suatu serangan mendadak beberapa anggota utusan tewas dan selebihnya lolos.

Segera pemerintah Portugis melihat peluang atau dalih untuk menaklukan Malaka.Sekelompok armada Portugis dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque menuju Malaka dan dapat menaklukannya setelah bertempur sengit.

Peristiwa tersebut boleh dinilai sebagai awal zaman gelap bagi Asia Tenggara. Setelah kehadiran Portugis, berbondong-bondong bangsa-bangsa Barat lain datang ke Asia Tenggara meraih tanah jajahan. Kelak ketika Perang Pasifik dimulai, Inggris bercokol di Birma (kini Myanmar), Brunei, Malaya (kini Malaysia) dan Singapura; Belanda bercokol di Indonesia; Portugis bercokol di Timor Timur (kini Timor Leste); Perancis di Vietnam, Laos dan Kamboja; serta Amerika Serikat (AS) bercokol di Filipina.

Apa yang kini disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia telah memiliki beberapa nama selain Hindia Belanda semisal Hindia Timur, Nusantara, Jawi dan Aqsha al-Hindiy (India Jauh). Orang Barat tempo doeloe menyebut Hindia Timur sebagai pasangan gugusan pulau di Laut Karibia dengan nama Hindia Barat.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, Asia Tenggara terletak pada jalur laut yang menghubungkan Barat dan Timur sejak awal Masehi, dengan demikian wilayah Indonesia terbuka hingga mau tak mau terlibat dalam pergaulan internasional sebagai akibat perdagangan tersebut.

Perdagangan dengan bangsa-bangsa asing semisal Cina, Arab, India dan Persia memperkenalkan bangsa Indonesia yang ketika itu masih primitif kepada arus besar peradaban Timur.Agama Hindu dan Budha dari India, Kong Hu-cu dari Cina serta Islam dari Arabia berangsur-angsur masuk ke Indonesia.Hubungan dengan sesama bangsa Timur boleh dibilang nyaman dalam arti saling menguntungkan, berbeda dengan bangsa-bangsa Barat yang banyak merugikan bangsa Indonesia.

Walaupun kita mengenal mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, tetapi pengaruh yang pertama masuk dan bertahan hingga sekitar 1500 tahun adalah dari India. Sejak abad ke-5 telah ada kerajaan yang berbasis Hindu dan Budha, adapun kerajaan berbasis Islam sejauh yang diketahui, tampil pada abad ke-13 walaupun Islam dipastikan masuk ke Indonesia sejak abad ke-7.

Di antara beberapa kerajaan pra kolonial terdapat dua kerajaan yang sering dinilai paling menonjol yaitu Sriwijaya dan Majapahit.Dua kerajaan tersebut sering dinilai sebagai puncak capaian prestasi kemanusiaan yang pernah diraih bangsa Indonesia.Sriwijaya diperkirakan lenyap sekitar abad ke-13 dan Majapahit memudar pada abad ke-16. Pudarnya Majapahit bertepatan dengan kehadiran imperialisme Barat, beberapa wilayahnya melepaskan diri dan membentuk negara sendiri antara lain Aceh, Demak, Malaka, Ternate dan Makassar.

Walaupun Malaka adalah bandar internasional tetapi pusat rempah-rempah yang sangat dicari bangsa-bangsa Barat adalah Kepulauan Maluku.Pada 1512 rombongan Portugis dipimpin Francisco de Serrao menjangkau pulau Ambon. Ketika itu Kepulauan Maluku terdapat beberapa kerajaan antara lain Ternate, Tidore, Bacan dan Hitu. Runtuhnya Majapahit tidak memutuskan hubungan antara Maluku dengan Jawa.Selain karena kehadiran para pedagang Arab, Persia dan India, Islam tersebar ke kepulauan tersebut juga dari Jawa.Setelah terjadi perlawanan berat dari pribumi, kekuasaan Portugis dibatasi hanya di Ambon.Kehadiran Belanda menghalau Portugis dari Maluku ke pulau Timor dan kehadiran Belanda menggusur Portugis pula ke belahan timur pulau tersebut hingga tahun 1976 dengan selingan pendudukan Jepang (1942-1945).

Usaha Portugis menguasai Jawa dapat digagalkan Demak, sengketa tersebut menampilkan desa nelayan bernama Sunda Kelapa berkembang menjadi kota Jakarta setelah sempat berganti-ganti nama.

Orang Spanyol sempat pula hadir di Indonesia namun berlangsung singkat karena agaknya telah merasa puas memiliki Filipina, lagi pula menurut perjanjian Spanyol-Portugal yang direstui oleh paus di Roma, Indonesia untuk Portugal dan Filipina untuk Spanyol. Perjanjian yang membagi dua kolong langit antara kedua negara imperialis tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Thordesilas (1494). Filipina dijajah Spanyol hingga 1898.

masih ada beberapa bangsa Barat yang hadir tetapi kelak seakan ditakdirkan bahwa Belanda yang akan tampil dominan mengenggam Indonesia untuk sekian lama. Orang Inggris sempat memiliki Bengkulu antara 1685-1825 dan secuil wilayah lain.

Dalam riwayat imperialisme Barat di Indonesia, bangsa Indonesia selama pra Proklamasi 1945 melaksanakan perlawanan berbentuk militer dan politik.Perlawanan militer mendominasi perioda 1511 hingga awal abad ke-20 berakhir gagal. Barat mengandalkan apa yang disebut sistek (sistem senjata teknologi) yaitu penggunaan teknologi militer yang makin canggih sejak abad ke-19. Juga ada yang disebut sissos (sistem senjata sosial) yaitu menggunakan taktik divide et impera (pecah-belah dan jajah) akibat belum terdapat rasa persatuan kebangsaan di Nusantara. Pribumi gagal mewujudkan gerakan perlawanan terpadu, perlawanan terpencar sukses ditumpas oleh kolonial Barat. Perlawanan militer besar terakhir pra 1945 adalah Perang Aceh yang berawal tahun 1873 dan dinyatakan resmi berakhir tahun 1904, walaupun perlawanan kecil-kecilan masih ada hingga 1942.

Belajar dari kegagalan, pribumi mengubah cara perlawanan dari militer ke politik. Beberapa pribumi yang terpelajar ingin membawa bangsa ini mendapat pendidikan layak dan dihimpun dalam organisasi yang rapi. Teknologi harus diraih, ekonomi harus ditata dan konsep kebangsaan yang sama sekali baru harus terwujud. Tujuannya, membuat bangsa ini canggih dan kompak![Disarikan dari ebook; Dekolonisasi Indonesia, Oleh INDRAGANIE, kompilasi chm: pakdenono nov 2007].

Begitu panjangnya perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sejak belum bernama Indonesia hingga mempejuangkan kemerdekaan, selama itu kita berada dalam penjajahan dari berbagai bangsa Barat, dengan segala suka dan dukanya, sehingga wajar bila watak-watak dan temperamen serta mental terjajah masih mendarah daging pada diri kita, padahal kemerdekaan sudah kita raih sejak tahun 1945.

Ketika berhadapan dengan negara lain kita belum mampu untuk  berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain, apakah dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi dan budaya. Kita lebih suka meniru segala sesuatu yang berbau negara lain, belum mampu dan tidak bangga dengan produk sendiri, lebih-lebih masih senangnya negara kita ini untuk mengalihkan kekayaan di negara ini ke negara lain dengan dalih apapun, nampaknya penjajahan masih berlansung hingga kini.

"Kita ini dijajah sangat sistematis dan ilmiah.Kita dijajah memakai ilmu!"Ungkapan almarhum WS Rendra terus berdenging di gendang telinga. Bahkan, hingga kini pun, saat elite politik sibuk memperingati kelahiran Pancasila, kalimat ini kembali bergema meski dengan nada dan suara lain. Yang mengutarakannya adalah mantan presiden BJ Habibie pada 1 Juni lalu, di gedung Parlemen Senayan, Jakarta,Habibie memang bukan Rendra.

Namun, dalam soal keprihatinannya akan nasib bangsa keduanya sejalan. Mereka tak rela bila negara ini limbung dan tak percaya diri lantaran semakin hari semakin jauh dari cita-cita falsafah pendiriannya.Habibie secara terbuka menyoroti fenomena pemindahan kekayaan alam secara gila-gilaan ke luar negeri seolah tanpa ada pencegahan.

Menurut Habibie, salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus 'membeli jam kerja' bangsa lain. "Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu 'VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) dengan baju baru," kata Habibie ketika berpidato mengenai reaktualisasi nilai Pancasila.

Bila dikaji, kekhawatiran bahwa negara ini bisa sejahtera memang masih ada. Data bank dunia menyatakan jumlah kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 131 juta jiwa.  Anggaran negara yang dikumpulkan dalam APBN sudah lebih dari 1.000 triliun.Bukan hanya itu, angka pertumbuhan ekonomi negara masih tetap memukau berkisar di antara enam persen per tahun.Indonesia pun kini sudah bisa masuk menjadi anggota forum negara G20.

Tapi, mengapa begitu banyak yang tetap merasa resah? Pengamat politik Universitas Indonesia, Andrianov Chaniago, menyatakan tanda-tanda kegagalan nation state (negara bangsa) yang bernama Indonesia malah sudah semakin  jelas. Bila ada data, yang muncul adalah fenomena yang mengatakan betapa lebar kesenjangan sosial itu. Jumlah dana APBD memang banyak, tetapi 80 persen dana tersedot untuk membiayai gaji dan keperluan pegawai pemerintah. Celakanya, sisa yang sudah kecil akan semakin kecil karena digerogoti wabah korupsi yang sangat akut.

"Negara akhirnya tampak hanya melindungi atau menyejahterakan mereka yang punya modal.Penguasa tetap tidak berpihak pada rakyat kecil. Bayangkan saja Rp 182 triliun dana APBN hanya dihabiskan untuk membiayai belanja aparat. Ini kan tak masuk akal," kata Andrinov.

Dalam babak baru, lanjut Andrinov, ancaman krisis bisa saja terjadi bila kemudian masyarakat desa berbondong-bondong pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Akibatnya, mau tidak mau nantinya akan timbul masalah  baru, yakni konflik horizontal antarkelas. Masyarakat miskin pedesaan yang kini sudah pindah ke kota kemudian bersatu dengan masyarakat miskin kota melawan kelompok masyarakat elite yang kaya.[Muhammad Subarkah, Penjajahan yang Berlanjut, Korandigital.com. Rabu, 15 Juni 2011 pukul 17:09:00].

Pada tahun 1946 Jepang kembali ke Tokio karena kalah perang melawan sekutu, dengan rasa malu mereka tinggalkan Indonesia setelah tiga setengah tahun dijajah, ketika meninggalkan negara jajahannya ini salah seorang pimpinannya berkata,"Sekarang kami kembali ke Tokio, tetapi dalam waktu duapuluh tahun kami akan kembali ke Indonesia".

            Tahun 1956 Jepang kembali menjajah Indonesia dalam bentuk lain yaitu melalui kebudayaannya seperti Karate, Sumo, Yudo dan lain-lain. Melalui produksi modernnya seperti Kawasaki, Suzuki, Yamaha, Honda dan lain-lain. Hal itu berangkat dari sifat malunya terusir dari Indonesia sehingga orang Jepang datang kembali dengan melakukan penjajahan yang lebih menggurita. Penjajah punya rasa malu ketika kekuasaan dan wilayah jajahannya kembali kepada kaum yang dijajah, tapi yang dijajah tidak ada rasa malu dikala penjajah datang lagi ke negara kita untuk menguasai kembali dengan cara lain.

Dalam khazanah hubungan internasional, salah satu unsur penting dari negara merdeka adalah sovereignty, atau kedaulatan, yang oleh Grotius didefinisikan sebagai "that power whose acts are not subject to control of another, so that they may be made void by act of any other human will" (Encyclopedia of Social Sciences, 52).

Jadi, sovereignty atau kedaulatan adalah suatu kemampuan, keupayaan, atau kekuatan untuk melakukan tindakan atas kemauan sendiri, bukan di bawah kontrol atau telunjuk orang lain. Dengan kata lain, suatu negara dikatakan merdeka dan berdaulatan secara hakiki, jika kemauan dan kebijakan negara itu, tidak lagi berada di bawah telunjuk penjajah. Pembukaan UUD 1945 menyatakan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka harus dihapuskan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Secara fisik, saat ini hampir tidak ditemukan adanya bentuk penjajahan militer, kecuali di Palestina dan Iraq. Tetapi, kolonialisme klasik yang hilang, kini digantikan oleh imperialisme modern, yang oleh Dieter Nohlen (1994), didefinisikan sebagai politik yang bertujuan menguasai dan mengendalikan bangsa-bangsa lain di luar batas negaranya, baik secara langsung (melalui perluasan wilayah) atau secara tidak langsung (mendominasi politik, ekonomi, militer, budaya). Bangsa yang dikuasai itu sebenarnya tidak suka dan menolak tekanan serta pengaruh negara imperialis.

Dari segi pengertian imperialisme modern ini, dengan mudah kita mengatakan, bahwa Indonesia memang belum merdeka. Sebagaimana penjajahan klasik, imperialis modern yang menguasai dan menghegemoni negara lain, juga melakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kekuasaannya atas negara lain. Sebab, kekuasaan telah memberi keuntungan besar kepada mereka, terutama secara ekonomi. Di masa penjajahan Belanda, kita mengenal teori ?Islam Politiek?-nya Snouck Hurgronje, yang membagi masalah Islam ke dalam tiga ketegori: (1) bidang agama murni dan ibadah, (2) bidang sosial kemasyarakatan, (3) bidang politik. Masing-masing bidang mendapat perlakuan yang berbeda.Resep Snouck Hurgronje ini diberikan kepada pemerintak kolonial Belanda untuk menangani masalah Islam di Indonesia.

Dalam bidang agama murni atau ibadah, pemerintah kolonial pada dasarnya memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda. Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati Belanda, dan bahkan membantu rakyat menempuh jalan tersebut. Dan dalam bidang politik, pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan-Islam.

Di zaman itu, salah satu yang dianggap ancaman oleh pemerintah kolonial adalah ibadah haji, sehingga mendapatkan pembatasan yang sangat ketat.Karena itu, tahun 1908, anggota parlemen Belanda bernama Bogardt, menyatakan, bahwa pemerintah kolonial harus mengambil tindakan terhadap ibadah haji ke Mekkah.Para haji secara politis dinilainya berbahaya, dan karena itu ditegaskannya bahwa melarang perjalanan ibadah haji adalah lebih daripada kemudian terpaksa harus menambak mati mereka. (Lihat, buku Aqib Suminto yang berjudul Politik Islam Hindia Belanda, 1985:12,21).

Di zaman imperialisme modern, cara untuk mempertahankan penjajahan agak berbeda dengan dulu, meskipun tujuannya sama, yaitu mempertahankan kekuasaan dan hegemoni atas negara lain. Banyak calon Presiden yang sudah menyadari akanhal ini. Mereka ingin agar Indonesia mandiri dalam berbagai hal, tidak tergantung atau didekte oleh negara atau kekuatan lain. Bagi Indonesia, masalah ini tentulah merupakan masalah yang sangat besar dan berat.Secara ekonomi, jelas Indonesia tidak mandiri.Selain utang yang sangat besar, juga dari waktu ke waktu, semakin banyak aset strategis yang dijual ke luar. Dengan dikuasainya BCA dan Indosat oleh asing saja, maka bisa dibayangkan, begitu mudah ekonomi dan situasi negara ini digoyang ?jika diperlukan. Meskipun merupakan salah satu negara produsen minyak, perusahaan minyak negara -- Pertamina-- kalah jauh dibandingkan dengan Petronas Malaysia, yang tahun ini mencatat keuntungan sebesar RM 37,4 milyar (sekitar Rp 89 trilyun).

Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat?Jawabnya, tentu karena kita lemah.Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia.Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial.Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar.Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah.Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia.Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.[Adian Husaini, MA, Memerdekakan Kembali Indonesia, Hidayatullah.com.Kamis, 08 Juli 2004].

Tauhid yang bersih dari syirik, tanpa belenggu dari kekuasaan manapun tidak akan mau hidup dalam jajahan orang lain, dia akan berontak untuk keluar dari belenggu penjajahan yang mengungkungnya dari kebebasan dan kemerdekaan sebagaimana perjuangan yang dilakukan oleh Bilal bin Rabah, sang budak tidak mau lagi hidup dalam penjajahan perbudakan yang dialaminya, setelah mengetahui ada agama yang mengajarkan kemerdekaan, mengajarkan tentang hidup bebas dalam pengabdian kepada Allah. Perbudakan dan penjajahan dari bangsa lain sudah kita merdekakan lebih dari enampuluh tahun yang lalu sehingga semuanya berupaya menyingsingkan lengan tangan, mengangkat senjata, bersatu mengusir penjajah agar hidup bebas di alam kemerdekaan, tapi kini kita berada dalam penjajahan bangsa sendiri, terkungkung dalam kerangkeng rezim demi rezim yang berkuasa, nampaknya usaha untuk meraih kemerdekaan belumlah selesai, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28 Juli 2011.M/ 26 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar