Dahulu ketika
kita masih kecil, masih anak-anak yang hidup ditahun enampuluhan, jangankan
melihat Polisi, sedangkan mendengarkan kata “Polisi” saja ada rasa takut
bercampur kagum. Takut karena tegap dan
tegasnya sikap sang polisi, ditambah lagi dengan topi dan senjata yang mengundang
lengkapnya penampilan seorang aparat pemerintah. Kagum karena penampilannya
yang gagah, kesigapannya memburu dan menangkap penjahat. Itu pula yang kita
lihat di layar kaca dan film-film yang tayangannya memperlihatkan keberhasilan
sang polisi merancang strategi untuk menaklukkan musuh negara dan menyelamatkan
orang yang membutuhkan pertolongan, begitu berjasa Pak Polisi dimata semua
orang.
Polisi adalah
sahabat orang yang baik-baik, orang yang tidak terlibat kesalahan walaupun
hanya kesalahan di jalan raya karena tidak membawa SIM ketika mengemudikan
kendaraan atau karena tidak memakai Helm, Polisi adalah sahabat orang yang
tidak tersangkut Korupsi serta kejahatan lainnya.Dan sebaliknya Polisi walaupun
bukan musuh pelaku kejahatan paling tidak Polisi bagi pembuat kesalahan
merupakan sosok yang dibenci.
Menjadi Polisi
dahulu tidaklah mudah, tidak semua orang
bisa mendaftar jadi Polisi karena begitu sulitnya memenuhi persyaratan yang harus
disediakan, selain itu harus ada dekingan dan uang pelicin untuk itu,
sebenarnya ingin jadi apa saja di negeri ini tidak hanya bermodalkan
intelektual dengan jenjang pendidikan semata, selain mengikuti tes, juga harus
menyediakan “tas”. Dari lapangan penulis menemukan informasi bahwa menjadi
Polisi harus menyediakan uang minimal 60 juta.
Satu sisi kita
bangga dengan keberhasilan Polisi untuk mengamankan rakyat dan negara melalui
kinerjanya seperti mengendus kejahatan, mengejar penyelundup dan menyisir teroris
hingga ke pusatnya.
Wajah polisi sebenarnya adalah berupa kinerja dari sebuah lembaga
dengan anggota hampir 450 ribu orang.
Mereka sebagian masyarakat kita yang boleh dikata rela ”menghibahkan”
dirinya untuk negara. Tak soal jika kerelaan itu mengharuskan mereka dinas di
kantor pusatnya di Jalan Trunojoyo Jakarta, hingga pos-pos polisi kecil yang
tersebar di wilayah-wilayah yang mungkin saja tak pernah nampak di peta
Indonesia.
Begitulah, wajah polisi itu terlihat tiap hari di televisi, koran,
media online, media jejaring sosial, dan bahkan di jalan-jalan tertentu yang
kita lewati. Di situ, kita dapat menilai sejauh mana kinerja mereka menjalankan
tugas pokok dan fungsinya sebagai pemelihara ketertiban masyarakat, penegak
hukum, dan pelayan masyarakat.
Melalui media, kita tahu sejumlah keberhasilan mereka dalam operasi
perburuan dan penangkapan teroris, penggerebekan pabrik dan pengedar narkoba,
pengungkapan kasus-kasus kriminal, hingga berita tentang kondisi jalanan, dan
lain-lain.
Di tempat sama, kita juga melihat sisi lain dari wajah polisi.
Tentu, sisi yang ini adalah tentang keburukannya.Hal ini sebenarnya sering
membuat kita ingin memalingkan muka.Data yang ada memang mendukung bahwa masih
dan selalu ada anggota Korps Bhayangkara itu tersangkut berbagai perkara hukum,
baik dalam kapasitas pribadi maupun organisasi.
Perkaranya macam-macam, entah berupa korupsi, suap-menyuap,
pembunuhan, pelanggaran HAM, atau ulah oknum polisi gemar ”ngutip” rezeki sopir
angkutan umum, dan lain-lain. Sesuai hukum besi jurnalistik: bad news is
good news, porsi berita buruk polisi seringkali dominan, bahkan bisa sampai
berhari-hari.
Akhirnya, proses saling-silang berita dan cerita itu membentuk apa
yang dalam teori komunikasi sebagai persepsi. Kemampuan berbeda mencerna dan
memahami berita serta cerita itu, ditambah beda pengalaman ketika berurusan
dengan polisi, maka sangat kecil kemungkinan persepsi seragam tentang polisi di
benak kita masing-masing. Karena itulah, di sini saya tak bermaksud mengajak
pembaca setuju dengan salah satu dari dua penilaian tentang polisi di
atas.Bukan karena apa-apa, tapi hal itu terkait persepsi belaka.
Sederhananya, persoalan polisi itu hanya dua.Pertama, kesungguhan
mereka selalu mampu menunjukkan jati diri melalui kinerja positif sesuai tugas
pokok dan fungsinya. Kedua, kemampuan mereka menjaga kinerja positif itu di
tengah keterbatasan apa pun jua. Bila kedua soal itu teratasi, maka ihwal citra
polisi yang begitu buruk rupa dengan sendirinya akan sirna. Tak perlu ada iklan
dan kampanye rupa-rupa atau ”mencetak” figur-figur seperti Norman Kamaru untuk
keperluan itu.
Soal nampak sederhana itu, praktiknya tak mudah diatasi.Apalagi,
jika Polri dibiarkan sendiri mengatasinya.Haruslah diakui bahwa kehendak dan
tekad seluruh jajaran Polri ke arah itu sebenarnya cukup kuat. Bahkan, jika
kita sempatkan baca Grand Strategy Polri 2005-2025, kentara sekali visi besar
tentang Polri seperti di masa mendatang, plus visi dan target keren di tiap
tahap kegiatannya mulai dari ”trust building”, ”partnership building”, hingga
”strive for excellence”.
Dukungan pencapaian tekad tersebut sangatlah memadai sebenarnya.Di
tingkat legislasi, legitimasi Polri semakin kuat dengan diterbitkannya UU No
2/2002.Roh utama UU tersebut adalah pemosisian Polri yang mandiri sebagai
penegak hukum, terpisah dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).Demikian pula
tuntutan dan harapan di tingkat sosial-masyarakat seiring gerakan reformasi dan
demokratisasi.Bahkan, dukungan reformasi Polri juga datang dari komunitas luar
negeri. Semuanya bermuara pada harapan sama, yakni Polri mampu sejalan dengan
arus persoalan.
Pada sisi lain kita mendengar dan menyaksikan bagaimana citra Polri
buruk dihadapan rakyatnya karena terlibat berbagai kasus diantaranya salah
tembak terhadap teroris dan beberapa petingginya yang terlibat korupsi.
POLISI tampak makin kedodoran untuk menjaga citranya.Kemarin
dilaporkan bahwa ada upaya memborong majalah mingguan Tempo karena majalah itu,
dalam terbitan kemarin, menyoroti rekening miliaran rupiah milik beberapa
Perwira Tinggi Polri.Kenapa mesti memborong majalah?Tanpa memborongnya
masyarakat sudah memiliki persepsi negatif mengenai Polri dan masalah rekening
miliaran rupiah milik beberapa Perwira Tinggi Polri itu sudah lama beredar di
kalangan masyarakat.Tanpa Tempo menuliskan berita itu, masyarakat sudah lama
tidak menghargai polisi.Cara polisi memborong majalah tersebut justru makin
memberi kesan bahwa berita Tempo itu benar dan polisi telah bertindak seperti
burung unta, menyurukkan kepalanya ke dalam lobang jika ada musuh mendatangi
burung itu.
Sungguh tindakan yang naif, sebab yang diharapkan oleh
masyarakat justru adalah pembelaan disertai bukti-bukti yang kuat dari polisi
bahwa berita itu tidak benar, atau jika benar, masyarakat ingin agar polisi
menindak Perwira Tinggi tersebut. Andaikata polisi melakukan dua hal tersebut,
saya yakin masyarakat akan memberikan penghargaan terhadap polisi. Meskipun pandangan
negatif terhadap polisi pasti tidak akan berubah secara drastis, tapi paling
tidak sikap seperti yang dianjurkan tadi bisa menolong sedikit untuk membangun
citra polisi yang telanjur rusak.
Polisi tidak akan bisa mempertahankan, apalagi membangun citra
yang baik di mata masyarakat apabila selalu cenderung membela anggota korpsnya
yang melakukan kesalahan. Polisi juga tidak akan bisa memperbaiki citranya yang
buruk apabila tidak bersedia membela masyarakat miskin dari golongan bawah yang
membutuhkan perlindungan polisi. Bukankah sudah banyak keluhan yang menyatakan
bahwa polisi lebih membela yang kaya?Kasus penculikan siswa SD di Bekasi yang
berakhir dengan tewasnya anak telah dituding sebagai kelalaian polisi untuk
menyelamatkan anak orang biasa, sementara jika yang diculik adalah anak orang
kaya, polisi dengan sigap menyelamatkannya.Sudah lama beredar anekdot bahwa
jika kita kemalingan jangan lapor ke polisi karena pasti jumlah yang hilang
bertambah banyak.Anekdot ini jangan dianggap sepele, itu merupakan wujud
sinisme publik terhadap polisi.
Jadi bagaimana memperbaiki wajah Kepolisian kita?Bahwa
polisi masih dibutuhkan oleh masyarakat sudah tentu jawabannya adalah ya.Tetapi
masyarakat membutuhkan polisi yang bisa dipercayainya.Caranya adalah dengan berani
melakukan pembenahan internal secara sungguh-sungguh dan terbuka yang bisa
diyakini oleh publik bahwa polisi memang sedang berupaya keras untuk
memperbaiki diri.Bukan hanya menindak anggotanya yang menyalahgunakan
wewenangnya melainkan juga memperbaiki sikapnya di lapangan saat menghadapi
publik.Kita tidak ingin lagi mendengar istilah Priiit Jigo, atau kesan
menangkap tersalah jika sedang butuh uang kopi, melanggar rambu-rambu LL
mentang-mentang polisi dan seterusnya. Kita semua menginginkan polisi yang
benar-benar mampu melindungi dan melayani masyarakat[Amir Santoso, Aduh, Polisi,Pelita Hati,harianpelita.com].
Polisi memang alat negara, untuk
melindungi dan melayani rakyat, tapi dikala polisi digerakkan oleh kekuasaan
luar seperti Amerika untuk menghancurkan orang yang diduga sebagai teroris maka
polisi nampaknya siap saja melakukan karena seorang polisi melaksanakan kerja
berdasarkan perintah dari atasannya.
Tekanan akan diterima kalau pesanan untuk menghancurkan teroris tidak
dilaksanakan, beberapa kasus pemburuan terhadap teroris mengungkapkan hal itu,
sebagaimana yang diangkat oleh Cyber dan Majalah Sabili;
Ketidakyakinan
khalayak dengan apa yang disinyalir Mabes Polri, perihal adanya perubahan pola
teror dari peledakan bom menjadi serangan senjata seperti yang terjadi di
Mumbai, India, menunjukkan hilangnya trust (kepercayaan) masyarakat terhadap
polisi dalam menumpas teroris. Banyak pihak tidak yakin, adanya rencana
pembunuhan terhadap kepala negara saat momen perayaan 17 Agustus mendatang, dan
rencana akan ditegakkannya negara Islam di Tanah Air.
Salah
tangkap terhadap sejumlah aktivis pengajian Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) di
Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan adalah salahsatu kejanggalan penanganan
teroris yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88. Dari 16 aktivis
JAT, 13 diantaranya sudah dibebaskan, karena tidak memiliki bukti yang kuat
adanya tindak pidana teroris.
TPM
menilai, penangkapan oleh Densus 88 terhadap mereka yang diduga teroris di
Pejaten hanyalah rekayasa dan didramatisir.Mereka yang bertamu, membaca kitab,
tiba-tiba ditangkap tanpa alasan.UU Terorisme jelas-jelas hendak membidik
aktivis Islam untuk dijadikan tumbal. Media pun disetting sedemikian rupa,
dengan pemberitaan yang tidak seimbang.“Senjata dan peluru itu bisa ditaruh
dimana-mana.Sepertinya, barang bukti ini sudah dipersiapkan untuk menjerat
mereka yang diduga teroris,” ujar Munarman.
Benarkah
Densus 88 dibentuk untuk menangkapi para aktivis Islam? Menurut Achmad Michdan
dari Tim Pengacara Muslim (TPM), dalam banyak Berita Acara Pidana (BAP) kita
pernah cermati, ihwal pertanyaan seputar, apakah Anda pernah ke Poso? Apakah
Anda pernah ke Ambon?Ada stigmatisasi, aktivis Islam yang melakukan pembelaan
umat Islam di Ambon, Poso, Mindanao, dan Afghanistan acapkali dikelompokkan
sebagai teroris.Bekas pejuang Ambon seperti Abdullah Sunata yang kini
dinyatakan buron oleh polisi, sampai diimagekan seolah sosok paling berbahaya.
“Padahal
setahu saya, Sunata lebih berperan pada kegiatan nyata, seperti mengaktifkan
kembali pengajian untuk anak-anak.Yang jelas, dia punya tingkat kehidupan yang
sulit, dan terus berusaha untuk menghidupi keluarganya.Jika AS dan Inggris saja
mengaku keliru dengan tindakan represifnya dalam memerangi terorisme.Sementara
di Indonesia malah ditembaki,” kata Michdan kepada Sabili.
Kontroversi
lain dari tindakan Densus 88 adalah main tembak terhadap mereka yang diduga
teroris. Eksekusi di Cawang misalnya, dari tiga yang tertembak, dua dikenali,
seorang lagi belum dikenali identitasnya.Pertanyaannya, kalau belum dikenal,
mengapa mereka dianggap teroris dan langsung ditembak mati. “Jika cara-cara
seperti diteruskan, maka akan semakin banyak orang tak bersalah yang menjadi
korban. Bisa saja seorang tukang ojek tiba-tiba langsung ditembak mati saat memboncengkan
terduga teroris.Padahal si tukang ojek itu tidak tahu siapa yang diboncengkan,”
kata koordinator TPM Mahendradata menambahkan.
Bicara
kejanggalan, ada yang tak terungkap di media massa, ketika Densus 88 hendak
melakukan penggrebekan rumah yang diduga teroris di Sukoharjo, Solo, Jawa
Tengah. Seorang sumber yang dekat dengan kepolisian menginformasikan, bahwa
sepulang Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dari safari dakwah, akan ada penggerebekan
di Solo. Info itu didapat sebelum kejadian.Mulanya Sabili hanya menanggapi
dengan bercanda saja.Tapi, akhirnya menjadi kenyataan.
Sebelum
penggerebekan, polisi sempat briefing pada wartawan yang hendak meliput di
rumah makan.Sambil briefing, polisi melakukan persiapan untuk penyergapan.
Beberapa warga yang melintas sempat menonton show of force tim Densus 88. Acara
persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka ini, jarang terlihat pada
penggerebegan sebelumnya.Pada penyerbuan sebelumnya, polisi biasanya sudah
mengenakan pakaian tempur lengkap dan masuk ke lokasi pada malam harinya atau
pagi buta.
Setelah
mengepung sekitar lokasi dan memasuki bengkel tersebut, para wartawan yang
mengikuti Densus 88 terkejut, tidak mengira rumah yang dijadikan sasaran, hanya
sekitar 200 meter dari jarak dari rumah makan, dan terlihat jelas dari
kejauhan. Wartawan yang biasa meliput penangkapan teroris, merasakan
kejanggalan, saat melihat bahasa tubuh para anggota Densus 88 yang tampak lebih
santai, jika dibanding menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Tak ada
ketegangan dan adrenalin yang memuncak.
Nah,
ketika kameramen televisi swasta mengambil gambar, mereka sempat disuruh keluar
terlebih dahulu.”Nanti dulu-nanti dulu, belum siap,” kata seorang anggota
Densus 88.Para wartawan sempat bertanya-tanya, apanya yang belum siap.Namun
ketika boleh masuk, wartawan melihat barang bukti sudah tersusun rapi di
lantai.
Kejanggalan
pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui, bahwa sehari sebelumnya
rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah orang bertampang tegap, yang menurut
warga adalah polisi.“Ya mirip mereka-mereka itu, mas,” kata mereka. Lalu, apa
artinya semua ini? Inikah yang disebut drama?Atau dagelan?Peristiwa penggebekan
itu, kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan wartawan.
Kejanggalan
lain, juga diungkapkan Presidium Mer-C Jose Rizal Jurnalis, terkait latihan
militer di Aceh.Awalnya, orang dikumpulkan untuk berjihad ke Palestina.Lalu
datanglah Sofyan Sauri dari Brimob untuk melatih mereka, meski tidak ada
pemberangkatan ke Pelestina.Tak lama kemudian, Sofyan kontak dengan orang-orang
yang sudah dilatihnya untuk datang ke Jakarta.Anehnya, Sofyan Sauri berhasil
membawa orang-orang ini untuk berlatih menembak peluru tajam di Mako Brimob
Kelapa Dua-Depok.“Coba bayangkan, Sofyan Sauri yang dikatakan disersi Brimob
berhasil membawa orang-orang ini berlatih menembak di Mako Brimob.Jadi
peristiwa Aceh ini direkayasa, untuk bargaining position dengan Amerika,
termasuk mengalihkan perhatian dari kasus Century,” kata Jose Rizal.
Kejanggalan dan
hal yang miris juga terlihat dalam persidangan Putri Munawwaroh, istri Adib
Susilo yang tewas ditembak Densus 88. Yang memilukan, suami Putri Munawaroh itu
ditembak mati di depan istri dan anak-anaknya yang masih kecil dalam
penggerebegan di Solo, 17 September 2009. Ibu muda yang beberapa waktu lalu
melahirkan bayinya di dalam tahanan Mako Brimob Kelapa Dua-Depok, tanpa
disaksikan ayahnya, sempat menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI).
Kepada
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, KPAI meminta agar memberikan penangguhan
penahanan terhadap Putri Munawaroh.Putri ditahan bukan karena tindakan teror
yang dilakukannya, melainkan karena dia istri dari suami yang disangka teroris.
Putri pun dituduh menyembunyikan DPO Noordin M Top dan senjata M16.Di dalam
tahanan, ahwat bercadar ini mengalami intimidasi.Haknya untuk menyusui dan
menggendong bayinya dihilangkan, sehingga mentalitasnya menjadi turun.
Bahkan saat
penggerebekan, Putri yang saat itu tengah hamil mengalami kekerasan fisik
berupa tembakan pada pinggul kirinya.Puguh, petugas Gegana yang ikut
menggerebek rumah kontrakan Putri dan suaminya dihadirkan sebagai saksi di
pengadilan.Dalam kesaksiannya, saksi tidak melihat langsung siapa yang memegang
senjata M16 yang diajukan JPU sebagai barang bukti.
Saat menemukan
M16, Puguh mengatakan, senjata itu dalam keadaan rusak. Jadi bagaimana mungkin
diasumsikan, senjata itu akan digunakan seperti yang terjadi di Mumbai, India.
Yang jelas, stamina polisi untuk menuruti pesanan AS belum berakhir.
Pemerintah SBY dan Densus 88 punya kepentingan dengan program war on terror,
mengingat tidak sedikit kucuran dana yang digelontorkan AS untuk memerangi
teroris. Kendati aktivis Islam dikambinghitamkan.[Memancing Jaring Menjerat
Aktivis, Cyber Sabili, Kamis, 21 Oktober 2010 12:33].
Jika seseorang menyebutkan
terorisme di Eropa, maka kemungkinan besar di kepala kita selalu terbayang
siapa yang bertanggung jawab.Media selama ini menyetir bahwa Muslim-lah yang
selalu melakukan tindakan teroris.Atau jika sedikit berhati-hati, maka
menggantinya dengan sebutan “Muslim radikal”, atau "Islamis."
Pada 11 Desember, seorang
naturalisasi Swedia berusia 28 tahun—awalnya dari Irak –melukai dua orang
ketika ia meledakkan dirinya dalam perjalanan ke sebuah distrik perbelanjaan.
Dan pada 29 Desember, polisi Denmark mengatakan mereka menggagalkan lima orang
Muslim yang akan menyerang sebuah kantor surat kabar Denmark dan berencana
membunuh orang sebanyak mungkin.
Jadi bahaya itu semakin besar
dan berkembang, dan Islam adalah sumbernya. Benar begitu?Salah, sebenarnya.
European Union’s Terrorism
Situation and Trend Report 2010 menyatakan bahwa pada tahun 2009 ada “294
serangan yang gagal dan atau digagalkan " di enam negara Eropa. Ini adalah
jumlah sepertiga dari dari jumlah total pada tahun 2008 dan turun hampir
setengah dari total tahun 2007. Garis tren terorisme di Eropa terus
menurun.Sehingga bisa dikatakan sebagian besar di Eropa, tidak ada terorisme.
Adapun siapa yang bertanggung jawab? Coretlah
Islamis dari daftar! 237 dari 294 serangan faktanya dilakukan oleh kelompok
separatis, seperti Basque ETA.40 serangan teroris lainnya dilakukan golongan
kiri dan atau anarkis.Sementara 10 serangan lainnya tidak jelas.
Islamis? Pada tahun 2009,
mereka hanya berada di belakang total satu serangan saja. Ya, satu.Dari 294
serangan.Itu untuk populasi setengah miliar orang. Dengan perspektif tersebut,
jumlah ini sama dengan serangan yang dilakukan oleh Comité d'Action Viticole,
sebuah kelompok dari Prancis yang ingin menghentikan impor anggur asing.
Tahun ini hanya ada empat
serangan terorisme yang dilakukan kaum Islam radikal di Eropa.Hanya empat
serangan Islam.Empat. Dari total 583.Tahun berikutnya ada nol. Pada tahun 2009,
sebagaimana telah kita lihat, hanya ada satu. Jadi siapa yang sebenarnya
teroris?[Siapa Sebenarnya Teroris 2010?, Cyber Sabili, Kamis, 06/01/2011 14:52
WIB].
Mengabdikan diri
sebagai seorang Polisi merupakan profesi mulia dimata publik ataupun dimata
Allah, karena siap untuk mengorbankan dirinya untuk mengamankan negara dan
menyelamatkan rakyat, menguntit, menggerebek dan menangkap penjahat, bila hal
ini dilakukan maka nilai pahala akan diterima dari Alah dengan niat ikhlas
sebagai amal shaleh, pengabdian yang tulis dengan mengharapkan ridha Allah.
Kesan buruk rakyat terhadap Polisi seharus diminimalisir dengan meningkatkan
citra sehingga Polisi memang sahabat rakyat untuk menyelesaikan persoalan
keselamatan dan keamanan, jangan rakyat dipandang sebagai musuh yang harus
diperangi, salah tangkap dan salah tembak mengakibatkan besarnya resiko yang
akan ditanggung pihak korban.
Polisi memang
manusia juga, maka hendaknya kesejahteraannya diperhatikan oleh Pemerintah
sehingga jangan ada lagi Polisi yang hanya menunggu setoran dari anak buahnya
karena melakukan razia atau penangkapan tersangka pelanggar jalan raya yang
selesai dengan sepuluh ribu rupiah, polisi jangan selalu menampakkan wajah
seram dan tampang peperangan terus kepada rakyatnya, santun, senyum dan murah
hati layak juga ditampilkan dalam tugas harian. Semoga tugas yang dilakukan
Polisi tanpa dibonceng oleh kepentingan siapapun, apalagi Amerika yang rela
menggelantorkan dana sekian dolar untuk membunuh pemuda-pemuda muslim Indonesia
dengan dalih pemberantasan teroris, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus
2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar