Senin, 01 Februari 2016

140. Polisi



Dahulu ketika kita masih kecil, masih anak-anak yang hidup ditahun enampuluhan, jangankan melihat Polisi, sedangkan mendengarkan kata “Polisi” saja ada rasa takut bercampur kagum. Takut karena tegap dan  tegasnya sikap sang polisi, ditambah lagi  dengan topi dan senjata yang mengundang lengkapnya penampilan seorang aparat pemerintah. Kagum karena penampilannya yang gagah, kesigapannya memburu dan menangkap penjahat. Itu pula yang kita lihat di layar kaca dan film-film yang tayangannya memperlihatkan keberhasilan sang polisi merancang strategi untuk menaklukkan musuh negara dan menyelamatkan orang yang membutuhkan pertolongan, begitu berjasa Pak Polisi dimata semua orang.

Polisi adalah sahabat orang yang baik-baik, orang yang tidak terlibat kesalahan walaupun hanya kesalahan di jalan raya karena tidak membawa SIM ketika mengemudikan kendaraan atau karena tidak memakai Helm, Polisi adalah sahabat orang yang tidak tersangkut Korupsi serta kejahatan lainnya.Dan sebaliknya Polisi walaupun bukan musuh pelaku kejahatan paling tidak Polisi bagi pembuat kesalahan merupakan sosok yang dibenci.

Menjadi Polisi dahulu tidaklah mudah, tidak semua  orang bisa mendaftar jadi Polisi karena begitu sulitnya memenuhi persyaratan yang harus disediakan, selain itu harus ada dekingan dan uang pelicin untuk itu, sebenarnya ingin jadi apa saja di negeri ini tidak hanya bermodalkan intelektual dengan jenjang pendidikan semata, selain mengikuti tes, juga harus menyediakan “tas”. Dari lapangan penulis menemukan informasi bahwa menjadi Polisi harus menyediakan uang minimal 60 juta.

Satu sisi kita bangga dengan keberhasilan Polisi untuk mengamankan rakyat dan negara melalui kinerjanya seperti mengendus kejahatan, mengejar penyelundup dan menyisir teroris hingga ke pusatnya.
Wajah polisi sebenarnya adalah berupa kinerja dari sebuah lembaga dengan anggota hampir 450 ribu orang.
Mereka sebagian masyarakat kita yang boleh dikata rela ”menghibahkan” dirinya untuk negara. Tak soal jika kerelaan itu mengharuskan mereka dinas di kantor pusatnya di Jalan Trunojoyo Jakarta, hingga pos-pos polisi kecil yang tersebar di wilayah-wilayah yang mungkin saja tak pernah nampak di peta Indonesia.
Begitulah, wajah polisi itu terlihat tiap hari di televisi, koran, media online, media jejaring sosial, dan bahkan di jalan-jalan tertentu yang kita lewati. Di situ, kita dapat menilai sejauh mana kinerja mereka menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemelihara ketertiban masyarakat, penegak hukum, dan pelayan masyarakat.

Melalui media, kita tahu sejumlah keberhasilan mereka dalam operasi perburuan dan penangkapan teroris, penggerebekan pabrik dan pengedar narkoba, pengungkapan kasus-kasus kriminal, hingga berita tentang kondisi jalanan, dan lain-lain.

Di tempat sama, kita juga melihat sisi lain dari wajah polisi. Tentu, sisi yang ini adalah tentang keburukannya.Hal ini sebenarnya sering membuat kita ingin memalingkan muka.Data yang ada memang mendukung bahwa masih dan selalu ada anggota Korps Bhayangkara itu tersangkut berbagai perkara hukum, baik dalam kapasitas pribadi maupun organisasi.
Perkaranya macam-macam, entah berupa korupsi, suap-menyuap, pembunuhan, pelanggaran HAM, atau ulah oknum polisi gemar ”ngutip” rezeki sopir angkutan umum, dan lain-lain. Sesuai hukum besi jurnalistik: bad news is  good news, porsi berita buruk polisi seringkali dominan, bahkan bisa sampai berhari-hari.

Akhirnya, proses saling-silang berita dan cerita itu membentuk apa yang dalam teori komunikasi sebagai persepsi. Kemampuan berbeda mencerna dan memahami berita serta cerita itu, ditambah beda pengalaman ketika berurusan dengan polisi, maka sangat kecil kemungkinan persepsi seragam tentang polisi di benak kita masing-masing. Karena itulah, di sini saya tak bermaksud mengajak pembaca setuju dengan salah satu dari dua penilaian tentang polisi di atas.Bukan karena apa-apa, tapi hal itu terkait persepsi belaka.

Sederhananya, persoalan polisi itu hanya dua.Pertama, kesungguhan mereka selalu mampu menunjukkan jati diri melalui kinerja positif sesuai tugas pokok dan fungsinya. Kedua, kemampuan mereka menjaga kinerja positif itu di tengah keterbatasan apa pun jua. Bila kedua soal itu teratasi, maka ihwal citra polisi yang begitu buruk rupa dengan sendirinya akan sirna. Tak perlu ada iklan dan kampanye rupa-rupa atau ”mencetak” figur-figur seperti Norman Kamaru untuk keperluan itu.

Soal nampak sederhana itu, praktiknya tak mudah diatasi.Apalagi, jika Polri dibiarkan sendiri mengatasinya.Haruslah diakui bahwa kehendak dan tekad seluruh jajaran Polri ke arah itu sebenarnya cukup kuat. Bahkan, jika kita sempatkan baca Grand Strategy Polri 2005-2025, kentara sekali visi besar tentang Polri seperti di masa mendatang, plus visi dan target keren di tiap tahap kegiatannya mulai dari ”trust building”, ”partnership building”, hingga ”strive for excellence”.

Dukungan pencapaian tekad tersebut sangatlah memadai sebenarnya.Di tingkat legislasi, legitimasi Polri semakin kuat dengan diterbitkannya UU No 2/2002.Roh utama UU tersebut adalah pemosisian Polri yang mandiri sebagai penegak hukum, terpisah dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).Demikian pula tuntutan dan harapan di tingkat sosial-masyarakat seiring gerakan reformasi dan demokratisasi.Bahkan, dukungan reformasi Polri juga datang dari komunitas luar negeri. Semuanya bermuara pada harapan sama, yakni Polri mampu sejalan dengan arus persoalan.

Pada sisi lain kita mendengar dan menyaksikan bagaimana citra Polri buruk dihadapan rakyatnya karena terlibat berbagai kasus diantaranya salah tembak terhadap teroris dan beberapa petingginya yang terlibat korupsi.

POLISI tampak makin kedodoran untuk menjaga citranya.Kemarin dilaporkan bahwa ada upaya memborong majalah mingguan Tempo karena majalah itu, dalam terbitan kemarin, menyoroti rekening miliaran rupiah milik beberapa Perwira Tinggi Polri.Kenapa mesti memborong majalah?Tanpa memborongnya masyarakat sudah memiliki persepsi negatif mengenai Polri dan masalah rekening miliaran rupiah milik beberapa Perwira Tinggi Polri itu sudah lama beredar di kalangan masyarakat.Tanpa Tempo menuliskan berita itu, masyarakat sudah lama tidak menghargai polisi.Cara polisi memborong majalah tersebut justru makin memberi kesan bahwa berita Tempo itu benar dan polisi telah bertindak seperti burung unta, menyurukkan kepalanya ke dalam lobang jika ada musuh mendatangi burung itu.

Sungguh tindakan yang naif, sebab yang diharapkan oleh masyarakat justru adalah pembelaan disertai bukti-bukti yang kuat dari polisi bahwa berita itu tidak benar, atau jika benar, masyarakat ingin agar polisi menindak Perwira Tinggi tersebut. Andaikata polisi melakukan dua hal tersebut, saya yakin masyarakat akan memberikan penghargaan terhadap polisi. Meskipun pandangan negatif terhadap polisi pasti tidak akan berubah secara drastis, tapi paling tidak sikap seperti yang dianjurkan tadi bisa menolong sedikit untuk membangun citra polisi yang telanjur rusak. 

Polisi tidak akan bisa mempertahankan, apalagi membangun citra yang baik di mata masyarakat apabila selalu cenderung membela anggota korpsnya yang melakukan kesalahan. Polisi juga tidak akan bisa memperbaiki citranya yang buruk apabila tidak bersedia membela masyarakat miskin dari golongan bawah yang membutuhkan perlindungan polisi. Bukankah sudah banyak keluhan yang menyatakan bahwa polisi lebih membela yang kaya?Kasus penculikan siswa SD di Bekasi yang berakhir dengan tewasnya anak telah dituding sebagai kelalaian polisi untuk menyelamatkan anak orang biasa, sementara jika yang diculik adalah anak orang kaya, polisi dengan sigap menyelamatkannya.Sudah lama beredar anekdot bahwa jika kita kemalingan jangan lapor ke polisi karena pasti jumlah yang hilang bertambah banyak.Anekdot ini jangan dianggap sepele, itu merupakan wujud sinisme publik terhadap polisi.

Jadi bagaimana memperbaiki wajah Kepolisian kita?Bahwa polisi masih dibutuhkan oleh masyarakat sudah tentu jawabannya adalah ya.Tetapi masyarakat membutuhkan polisi yang bisa dipercayainya.Caranya adalah dengan berani melakukan pembenahan internal secara sungguh-sungguh dan terbuka yang bisa diyakini oleh publik bahwa polisi memang sedang berupaya keras untuk memperbaiki diri.Bukan hanya menindak anggotanya yang menyalahgunakan wewenangnya melainkan juga memperbaiki sikapnya di lapangan saat menghadapi publik.Kita tidak ingin lagi mendengar istilah Priiit Jigo, atau kesan menangkap tersalah jika sedang butuh uang kopi, melanggar rambu-rambu LL mentang-mentang polisi dan seterusnya. Kita semua menginginkan polisi yang benar-benar mampu melindungi dan melayani masyarakat[Amir Santoso, Aduh, Polisi,Pelita Hati,harianpelita.com].

Polisi memang alat negara, untuk melindungi dan melayani rakyat, tapi dikala polisi digerakkan oleh kekuasaan luar seperti Amerika untuk menghancurkan orang yang diduga sebagai teroris maka polisi nampaknya siap saja melakukan karena seorang polisi melaksanakan kerja berdasarkan perintah  dari atasannya. Tekanan akan diterima kalau pesanan untuk menghancurkan teroris tidak dilaksanakan, beberapa kasus pemburuan terhadap teroris mengungkapkan hal itu, sebagaimana yang diangkat oleh Cyber dan Majalah Sabili;

Ketidakyakinan khalayak dengan apa yang disinyalir Mabes Polri, perihal adanya perubahan pola teror dari peledakan bom menjadi serangan senjata seperti yang terjadi di Mumbai, India, menunjukkan hilangnya trust (kepercayaan) masyarakat terhadap polisi dalam menumpas teroris. Banyak pihak tidak yakin, adanya rencana pembunuhan terhadap kepala negara saat momen perayaan 17 Agustus mendatang, dan rencana akan ditegakkannya negara Islam di Tanah Air.

Salah tangkap terhadap sejumlah aktivis pengajian Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan adalah salahsatu kejanggalan penanganan teroris yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88. Dari 16 aktivis JAT, 13 diantaranya sudah dibebaskan, karena tidak memiliki bukti yang kuat adanya tindak pidana teroris.

TPM menilai, penangkapan oleh Densus 88 terhadap mereka yang diduga teroris di Pejaten hanyalah rekayasa dan didramatisir.Mereka yang bertamu, membaca kitab, tiba-tiba ditangkap tanpa alasan.UU Terorisme jelas-jelas hendak membidik aktivis Islam untuk dijadikan tumbal. Media pun disetting sedemikian rupa, dengan pemberitaan yang tidak seimbang.“Senjata dan peluru itu bisa ditaruh dimana-mana.Sepertinya, barang bukti ini sudah dipersiapkan untuk menjerat mereka yang diduga teroris,” ujar Munarman.

Benarkah Densus 88 dibentuk untuk menangkapi para aktivis Islam? Menurut Achmad Michdan dari Tim Pengacara Muslim (TPM), dalam banyak Berita Acara Pidana (BAP) kita pernah cermati, ihwal pertanyaan seputar, apakah Anda pernah ke Poso? Apakah Anda pernah ke Ambon?Ada stigmatisasi, aktivis Islam yang melakukan pembelaan umat Islam di Ambon, Poso, Mindanao, dan Afghanistan acapkali dikelompokkan sebagai teroris.Bekas pejuang Ambon seperti Abdullah Sunata yang kini dinyatakan buron oleh polisi, sampai diimagekan seolah sosok paling berbahaya.

“Padahal setahu saya, Sunata lebih berperan pada kegiatan nyata, seperti mengaktifkan kembali pengajian untuk anak-anak.Yang jelas, dia punya tingkat kehidupan yang sulit, dan terus berusaha untuk menghidupi keluarganya.Jika AS dan Inggris saja mengaku keliru dengan tindakan represifnya dalam memerangi terorisme.Sementara di Indonesia malah ditembaki,” kata Michdan kepada Sabili.

Kontroversi lain dari tindakan Densus 88 adalah main tembak terhadap mereka yang diduga teroris. Eksekusi di Cawang misalnya, dari tiga yang tertembak, dua dikenali, seorang lagi belum dikenali identitasnya.Pertanyaannya, kalau belum dikenal, mengapa mereka dianggap teroris dan langsung ditembak mati. “Jika cara-cara seperti diteruskan, maka akan semakin banyak orang tak bersalah yang menjadi korban. Bisa saja seorang tukang ojek tiba-tiba langsung ditembak mati saat memboncengkan terduga teroris.Padahal si tukang ojek itu tidak tahu siapa yang diboncengkan,” kata koordinator TPM Mahendradata menambahkan.

Bicara kejanggalan, ada yang tak terungkap di media massa, ketika Densus 88 hendak melakukan penggrebekan rumah yang diduga teroris di Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah. Seorang sumber yang dekat dengan kepolisian menginformasikan, bahwa sepulang Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dari safari dakwah, akan ada penggerebekan di Solo. Info itu didapat sebelum kejadian.Mulanya Sabili hanya menanggapi dengan bercanda saja.Tapi, akhirnya menjadi kenyataan.

Sebelum penggerebekan, polisi sempat briefing pada wartawan yang hendak meliput di rumah makan.Sambil briefing, polisi melakukan persiapan untuk penyergapan. Beberapa warga yang melintas sempat menonton show of force tim Densus 88. Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka ini, jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya.Pada penyerbuan sebelumnya, polisi biasanya sudah mengenakan pakaian tempur lengkap dan masuk ke lokasi pada malam harinya atau pagi buta.

Setelah mengepung sekitar lokasi dan memasuki bengkel tersebut, para wartawan yang mengikuti Densus 88 terkejut, tidak mengira rumah yang dijadikan sasaran, hanya sekitar 200 meter dari jarak dari rumah makan, dan terlihat jelas dari kejauhan. Wartawan yang biasa meliput penangkapan teroris, merasakan kejanggalan, saat melihat bahasa tubuh para anggota Densus 88 yang tampak lebih santai, jika dibanding menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Tak ada ketegangan dan adrenalin yang memuncak.

Nah, ketika kameramen televisi swasta mengambil gambar, mereka sempat disuruh keluar terlebih dahulu.”Nanti dulu-nanti dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88.Para wartawan sempat bertanya-tanya, apanya yang belum siap.Namun ketika boleh masuk, wartawan melihat barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.

Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui, bahwa sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi.“Ya mirip mereka-mereka itu, mas,” kata mereka. Lalu, apa artinya semua ini? Inikah yang disebut drama?Atau dagelan?Peristiwa penggebekan itu, kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan wartawan.

Kejanggalan lain, juga diungkapkan Presidium Mer-C Jose Rizal Jurnalis, terkait latihan militer di Aceh.Awalnya, orang dikumpulkan untuk berjihad ke Palestina.Lalu datanglah Sofyan Sauri dari Brimob untuk melatih mereka, meski tidak ada pemberangkatan ke Pelestina.Tak lama kemudian, Sofyan kontak dengan orang-orang yang sudah dilatihnya untuk datang ke Jakarta.Anehnya, Sofyan Sauri berhasil membawa orang-orang ini untuk berlatih menembak peluru tajam di Mako Brimob Kelapa Dua-Depok.“Coba bayangkan, Sofyan Sauri yang dikatakan disersi Brimob berhasil membawa orang-orang ini berlatih menembak di Mako Brimob.Jadi peristiwa Aceh ini direkayasa, untuk bargaining position dengan Amerika, termasuk mengalihkan perhatian dari kasus Century,” kata Jose Rizal.

Kejanggalan dan hal yang miris juga terlihat dalam persidangan Putri Munawwaroh, istri Adib Susilo yang tewas ditembak Densus 88. Yang memilukan, suami Putri Munawaroh itu ditembak mati di depan istri dan anak-anaknya yang masih kecil dalam penggerebegan di Solo, 17 September 2009. Ibu muda yang beberapa waktu lalu melahirkan bayinya di dalam tahanan Mako Brimob Kelapa Dua-Depok, tanpa disaksikan ayahnya, sempat menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, KPAI meminta agar memberikan penangguhan penahanan terhadap Putri Munawaroh.Putri ditahan bukan karena tindakan teror yang dilakukannya, melainkan karena dia istri dari suami yang disangka teroris. Putri pun dituduh menyembunyikan DPO Noordin M Top dan senjata M16.Di dalam tahanan, ahwat bercadar ini mengalami intimidasi.Haknya untuk menyusui dan menggendong bayinya dihilangkan, sehingga mentalitasnya menjadi turun.

Bahkan saat penggerebekan, Putri yang saat itu tengah hamil mengalami kekerasan fisik berupa tembakan pada pinggul kirinya.Puguh, petugas Gegana yang ikut menggerebek rumah kontrakan Putri dan suaminya dihadirkan sebagai saksi di pengadilan.Dalam kesaksiannya, saksi tidak melihat langsung siapa yang memegang senjata M16 yang diajukan JPU sebagai barang bukti.

Saat menemukan M16, Puguh mengatakan, senjata itu dalam keadaan rusak. Jadi bagaimana mungkin diasumsikan, senjata itu akan digunakan seperti yang terjadi di Mumbai, India.  Yang jelas, stamina polisi untuk menuruti pesanan AS belum berakhir. Pemerintah SBY dan Densus 88 punya kepentingan dengan program war on terror, mengingat tidak sedikit kucuran dana yang digelontorkan AS untuk memerangi teroris. Kendati aktivis Islam dikambinghitamkan.[Memancing Jaring Menjerat Aktivis, Cyber Sabili, Kamis, 21 Oktober 2010 12:33].

Jika seseorang menyebutkan terorisme di Eropa, maka kemungkinan besar di kepala kita selalu terbayang siapa yang bertanggung jawab.Media selama ini menyetir bahwa Muslim-lah yang selalu melakukan tindakan teroris.Atau jika sedikit berhati-hati, maka menggantinya dengan sebutan “Muslim radikal”, atau "Islamis."

Pada 11 Desember, seorang naturalisasi Swedia berusia 28 tahun—awalnya dari Irak –melukai dua orang ketika ia meledakkan dirinya dalam perjalanan ke sebuah distrik perbelanjaan. Dan pada 29 Desember, polisi Denmark mengatakan mereka menggagalkan lima orang Muslim yang akan menyerang sebuah kantor surat kabar Denmark dan berencana membunuh orang sebanyak mungkin.

Jadi bahaya itu semakin besar dan berkembang, dan Islam adalah sumbernya. Benar begitu?Salah, sebenarnya.

European Union’s Terrorism Situation and Trend Report 2010 menyatakan bahwa pada tahun 2009 ada “294 serangan yang gagal dan atau digagalkan " di enam negara Eropa. Ini adalah jumlah sepertiga dari dari jumlah total pada tahun 2008 dan turun hampir setengah dari total tahun 2007. Garis tren terorisme di Eropa terus menurun.Sehingga bisa dikatakan sebagian besar di Eropa, tidak ada terorisme.
Adapun siapa yang bertanggung jawab? Coretlah Islamis dari daftar! 237 dari 294 serangan faktanya dilakukan oleh kelompok separatis, seperti Basque ETA.40 serangan teroris lainnya dilakukan golongan kiri dan atau anarkis.Sementara 10 serangan lainnya tidak jelas.

Islamis? Pada tahun 2009, mereka hanya berada di belakang total satu serangan saja. Ya, satu.Dari 294 serangan.Itu untuk populasi setengah miliar orang. Dengan perspektif tersebut, jumlah ini sama dengan serangan yang dilakukan oleh Comité d'Action Viticole, sebuah kelompok dari Prancis yang ingin menghentikan impor anggur asing.

Tahun ini hanya ada empat serangan terorisme yang dilakukan kaum Islam radikal di Eropa.Hanya empat serangan Islam.Empat. Dari total 583.Tahun berikutnya ada nol. Pada tahun 2009, sebagaimana telah kita lihat, hanya ada satu. Jadi siapa yang sebenarnya teroris?[Siapa Sebenarnya Teroris 2010?, Cyber Sabili, Kamis, 06/01/2011 14:52 WIB].

Mengabdikan diri sebagai seorang Polisi merupakan profesi mulia dimata publik ataupun dimata Allah, karena siap untuk mengorbankan dirinya untuk mengamankan negara dan menyelamatkan rakyat, menguntit, menggerebek dan menangkap penjahat, bila hal ini dilakukan maka nilai pahala akan diterima dari Alah dengan niat ikhlas sebagai amal shaleh, pengabdian yang tulis dengan mengharapkan ridha Allah. Kesan buruk rakyat terhadap Polisi seharus diminimalisir dengan meningkatkan citra sehingga Polisi memang sahabat rakyat untuk menyelesaikan persoalan keselamatan dan keamanan, jangan rakyat dipandang sebagai musuh yang harus diperangi, salah tangkap dan salah tembak mengakibatkan besarnya resiko yang akan ditanggung pihak korban.

Polisi memang manusia juga, maka hendaknya kesejahteraannya diperhatikan oleh Pemerintah sehingga jangan ada lagi Polisi yang hanya menunggu setoran dari anak buahnya karena melakukan razia atau penangkapan tersangka pelanggar jalan raya yang selesai dengan sepuluh ribu rupiah, polisi jangan selalu menampakkan wajah seram dan tampang peperangan terus kepada rakyatnya, santun, senyum dan murah hati layak juga ditampilkan dalam tugas harian. Semoga tugas yang dilakukan Polisi tanpa dibonceng oleh kepentingan siapapun, apalagi Amerika yang rela menggelantorkan dana sekian dolar untuk membunuh pemuda-pemuda muslim Indonesia dengan dalih pemberantasan teroris, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar