Rabu, 09 Desember 2015

27. Islam



Seorang Arab Baduy datang menemui Rasulullah Saw dengan maksud akan masuk Islam, yaitu agama baru yang dia ketahui dari masyarakat Quraisy yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Pemuda itu hidup bergelimang jahiliyah dengan berbagai aktivitas maksit yang ukurannya hal demikian wajar dilakukan, dia berkata, ”Ya Muhammad saya mau masuk Islam”.

            Rasul menyodorkan persyaratan, ”Ucapkanlah kalimat syahadat”, dia protes, ”Mengucapkan dua kalimat syahadat bagi saya sangatlah mudah, saya ingin masuk Islam, tapi untuk saya boleh berjudi, berzina, mabuk-mabukan, mencuri dan kegiatan lainnya yang sudah jadi kebiasaan kami disini...”.

            Mendengar itu para sahabat geram, ”Ya Rasulullah, izinkan aku memukul pemuda ini” kata Umar bin Khattab, tapi Rasul bisa meredam kemarahan para sahabatnya. Sambil mendekati pemuda itu, kembali beliau bertanya, ”Apa yang kamu maksud wahai anak muda?”. Sang pemuda menjawab, ”Ya itu tadi, aku mau masuk Islam tapi kebiasaan buruk saya tidak terhalang untuk dilakukan seperti erjudi, mencuri, berzina dan lainnya”.

            Dengan ketulusan hati Rasulullah memeluk pemuda  itu sambil bertanya, ”Apakah kamu punya ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan punyakah engkau seorang isteri?”. dia mengangguk berarti punya, Rasul bertanya, ”Wahai pemuda, Bagaimana kalau ibumu, anak perempuanmu, isterimu, dan saudara perempuanmu dizinahi oleh orang lain sebagaimana kamu berazina dengan orang lain”.

            Dengan muka merah dan rasa malu mendalam, dia tersinggung dan tidak menyangka kalau ada pertanyaan demikian. Geram sekali dia, sambil mengepalkan tinjunya dia berteriak, ”Tidak ya Muhammad, aku mau masuk Islam tanpa syarat itu”, lalu dia ucapkan kalimat syahadat, ”Asyhadu anla Ilaha Illallah waashadu anna Muhammad Rasulullah”.

            Sebuah realitas sejarah mengungkapkan kepada kita bahwa pemuda yang baru masuk Islam, siap meninggalkan segala perbuatan maksiat dengan meninggalkan syarat itu. Sebuah kesaksian menunjukkan bahwa bila seseorang telah mengucapkan syahadat sebagai kemestian masuk ke dalam Islam harus meninggalkan segala dosa, maksiat dan pelanggaran lainnya.

            Sebenarnya inilah yang dimaksud oleh Islam dengan istilah Inqilabiyah yaitu perombakan secara total dari pribadi fasiq jadi muslim yang baik, dari jahiliyah menjadi islamiyah, atau istilah lain yang disebut dengan shibghah yaitu celupan atau warna. Allah menerangkan dalam surat Al Baqarah 2;138, ”Shibghatullah dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah, dan hanya kepada-Nya kami menyembah”.

            Seharusnya begitu seseorang menyatakan diri sebagai muslim maka harus terjadi pada dirinya celupan atau warna yang sesuai dengan kehendak Allah yaitu  aqidah yang salimah, ibadah yang shahihah, salamatul fikrah dan matiinul khuluq [aqidah yang bersih, ibadah yang sehat, pemikiran yang jernih dan akhlak yang baik].

            Tapi yang kita temukan hari ini adalah ummat Islam yang serba rajin, rajin beribadah tapi rajin pula menimba maksiat, rajin mengikuti pengajian dan rajin pula berjudi sehingga kita sulit untuk membedakannya, muslim atau kafir. Itulah makanya Sayid Qutb menyatakan, ”Masuklah ke dalam Islam keseluruhan atau keluar dari Islam keseluruhan”, Allah berfirman, ”Kemudian kitab itu [Al Qur’an] Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah” [Al Fathir 35;32].
           
            Secarik kain kita masukkan ke dalam wantek berwarna biru, maka kain putih itu wajib berwarna biru semuanya, inilah yang dimaksud dengan shibghah atau celupan. Bila kita muslim berarti seluruh pribadi kita, keluarga kita, masyarakat kita harus mengacu kepada ajaran Islam dengan kriteria ketiga sebagaimana ayat diatas yaitu orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan sebelum yang lainnya berfikir tentang kebaikan.

            Bila ummat Islam masuk ke dalam agama ini tanpa syarat seperti pemuda tadi, tentu tidak kita temukan para pejabat yang memperkaya diri dengan harta haram, korupsi dan manipulasi. Kita juga tidak akan menemukan politisi yang suka dengan suap, sogok atau apapun namanya untuk menghalalkan segala cara, kita juga tidak akan menemukan pedagang yang curang, mempermainkan harga, manipulasi kwitansi dan kebejatan lainnya.

            Bila ummat Islam masuk Islam tanpa syarat tentu tidak akan kita temukan para lelaki yang hidung belang mengganggu wanita lain sebagaimana tidak sukanya dia bila ibunya, isterinya, anak perempuannya dan saudara perempuannya diganggu oleh lelaki lain.

            Bila ummat Islam masuk dienullah tanpa syarat apapun tentu tidak kita temukan para wanitanya yang menjajakan kemolekan dengan mengumbar aurat melalui pakaian minim, ketat, transparan dan menor. Dan tidak kita temukan pornografi dan pornoaksi berkeliaran di media-media cetak maupun elektronik.

            Pemuda yang datang dari daerah Arab pegunungan, desa terpencil yang kita kenal dengan Arab Baduy, dikala masuk Islam tidak lebih dari sepuluh menit dia siap meninggalkan segala bentuk kemaksiatan yang semuanya itu sudah menjadi budaya hidupnya sehari-hari. Sungguh luar biasa, jarang kita temukan orang yang menjadikan sesuatu kebiasaan menjadi budayanya bisa meninggalkan seketika.

            Tidak sedikit kita temukan pendapat yang mengatakan bahwa merokok itu makruh bahkan ulama Pakistan sepakat menjatuhkan vonis haram kepada rokok. Mereka tahu bahwa merokok itu merusak kesehatan, kantong dan kebugaran seseorang, tapi untuk meninggalkannya sangat sulit sekali dengan berbagai alasan.

            Tapi pemuda tadi, sungguh kuat azam [tekad] nya mengubah posisinya dari seorang jahiliyyah menjadi seorang muslim yang punya kepribadian istiqamah. Itulah makanya kalimat tauhid yang harus diucapkan sebagai syarat masuk Islam mengandung arti yang sangat dalam. Bila kita mengucapkan kalimat syahadat itu ”Laa Ilaaha Illallah” bukan hanya berarti ”Tidak ada Tuhan selain Allah”, tapi mengandung arti, bahwa yang disembah, yang ditaati, yang dicintai, yang ditakuti azabnya, yang diharapkan balasan dan rahmatnya, yang diikuti hukumnya, yang diakui kehebatannya, yang menghidupkan dan mematikan, yang menentukan batas kehidupan alam ini, semuanya itu hanyalah Allah semata.

Islam sebagai dienullah adalah agama, aturan dan undang-undang yang diturunkan Allah. Banyak orang memberikan pengertian islam tidak sebagaimana yang diharapkan oleh Islam itu sendiri, ada yang mengartikan dengan Isya, Subuh, Luhur, Ashar dan Maghrib, dan ada pula yang mengartikan dengan kata “selamat” dan “sejahtera”, bahkan yang lebih jauh menyimpang lagi pengertian islam diartikan dengan fanatik, bodoh,  fundamentalis, ekstrimis, teroris dan julukan lain yang bernada sinis serta negatif.

Pengertian islam yang sebenarnya adalah;
Pertama, islam artinya kesejahteraan dan keselamatan, artinya seorang yang masuk islam harus merasakan keselamatan dan memberikan keselamatan kepada orang lain, sebagaimana Rasulullah menyabdakan bahwa muslim itu adalah yang selamat orang lain dari lidah dan tangannya;
 “Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus’ [Al Maidah 5;16].

Kedua, islam artinya adalah jenjang keatas atau tangga untuk naik, artinya status manusia tidak ditentukan oleh sosialnya tapi ditentukan oleh tingkat keimanannya, untuk mencapai tingkat keimanan tersebut melalui tahap, ibarat anak tangga. Seorang yang telah menyatakan diri sebagai muslim maka kedudukannya di hadapan Allah tinggi, apalagi dia mampu mencapai derajat taqwa;
 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”[Ali Imran 3;139]

Ketiga,  islam artinya penyerahan diri secara total kepada Allah. Sebagai muslim harus pasrah atas segala aturan-Nya baik peraturan itu yang berat apalagi yang ringan, baik dalam suka maupun dalam duka;
“ Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang Telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta Alam”[Al An’am 6;71],

Keempat, islam artinya tunduk dan pasrah atau menyerah atas segala aturan dan perintah Allah sebagai konsekwensi iman yang istiqamah;
 “ Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”[An Nur 24;51]

Kelima,  pengertian islam adalah cara hidup yang datang dari Allah, dia bukan buatan Muhammad, bukan ciptaannya dan bukan pula jiplakan dari dien-dien terdahulu;
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.’[Ali Imran 3;19]
 “Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”[Ali Imran 3;85].

Demikian pula halnya islam mempunyai makna; cara hidup yang datang dari Allah yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabat, dia bukanlah teori yang kosong dari aplikasi [8;73], ajarannya mencakup seluruh asfek kehidupan, bukan hanya membicarakan akherat saja tapi semua segi kehidupan manusia; pendidikan, kebudayaan, ekonomi, iptek, politik, negara dan undang-undang [2;208].

Islam itu milik Allah bukan milik yang lain, seseorang untuk masuk ke dalam islam tidak pernah dipaksa-paksa, manusia bebas untuk memilih jalan yang terbaik menurutnya, bahkan bila manusia semuanya menolak ajaran Allah maka tidak akan merendahkan derajat serta posisi Allah, demikian pula bila semua manusia menerima ajaran Islam yang diwahyukan Allah maka tidak akan meninggikan keberadaan-Nya, Allah tidak dipengaruhi oleh manusia, Dia berkuasa dan tidak membutuhkan bantuan orang lain;
 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui’[Al Baqarah 2;256].

Seorang mukmin yang mengakui ajaran islam dan siap untuk mengikutinya maka tidak boleh mengkompromikan konsep Allah ini dengan konsep-konsep bathil lainnya, seluruh ajaran islam telah baku dan berlaku untuk siapa saja, dia harus diterima secara bulat [8;42] sehingga ucapan Sayyid Qutb patut kita cermati,”Masuklah ke dalam islam keseluruhan atau tinggalkan islam keseluruhannya” inilah sikap hidup yang tegas yang harus diambil oleh manusia, mau kafir silahkan dan mau beriman boleh juga.

Itulah pengertian dan makna islam yang dipaparkan oleh Al Qur’an dan Hadis Rasulullah, kewajiban kita untuk mempelajarinya, mengkaji, menghayati, mengamalkan dan menda’wahkan ke tengah masyarakat, jangan kita sebagaimana yang diibaratkan oleh Rasulullah,”Al Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih” artinya islam itu tinggi dan tidak ada yang dapat mencapai ketinggiannya, tapi umatnya tetap rendah karena tidak mau memasuki dirinya ke dalam lautan islam yang luas, tidak mau menaiki ketinggian islam dengan mengamalkannya. Posisi seorang muslim akan meningkat di hadapan Allah tergantung sejauh mana dia mau dan mampu mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari  dalam pribadi, keluarga, masyarakat dan bernegara.

Banyak orang yang salah faham terhadap Islam sehingga memaknai dengan versi negaif; fanatik, fundamentalis, teroris, ekstrimis dan julukan lainnya sehingga membuat imej buruk di tengah kehidupan ini, padahal islam itu adalah agama yang diturunkan Allah untuk menggantikan peran-perang agama-agama yang telah lalu, karena memang agama terdahulu itu diturunkan Allah hanya untuk satu kaum saja, ia ibarat obor yang menerangi satu kamar saja, sedangkan islam untuk seluruh manusia, perannya ibarat seperti matahari menerangi seluruh alam.

            Islam bukanlah agama parsial yang hanya membahas dan membicarakan satu atau sebagian saja tentang hidup ini, tapi agama universal yang mencakup seluruh asfek kehidupan [2;208]. Namun demikian secara garis besar dia dapat disebutkan dalam empat kelompok saja yaitu;
           
            Pertama, aqidah yaitu perbincangan sekitar keimanan dan seluk beluknya. Iman seseorang mukmin harus terhunjam di dada [8;2], terucap melalui lisan [24;51], dan teraplikasi melalui amal perbuatan [2;25, 103;1-3], salah satu saja tidak terpenuhi berarti dipertanyakan iman seseorang.

            Kedua, islam juga membicarakan tentang syari’ah yaitu seluruh aturan hidup yang dilembagakan oleh ajaran Allah, baik masalah ibadah mahdhoh serta aturan muamalah lainnya, yang semua itu terbingkai oleh iman dan ibadah yang termotivasi dihati dengan istilah ikhlas yaitu hanya mencari ridha Allah [98;5].

            Ketiga, yang tidak kalah pentingnya dari dua hal diatas yaitu  akhlak adalah segala prilaku seorang muslim dalam bertindak di  tengah masyarakat, baik terhadap Allah,orangtua, guru bahkan terhadap alam semesta

            Keempat, yaitu ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan tidak melupakan siroh atau sejarah manusia di dunia, khususnya dunia islam dan perkembangannya.

            Dari keempat ruanglingkup tersebut yang sangat penting adalah iman, merupakan fondasi untuk menentukan pilihan seorang sebagai muslim, kafir, munafiq atau fasiq. Itulah makanya Rasulullah menempatkan pembinaan ummat yang prioritas sekali adalah penataan iman dihati ummatnya, rusaknya manusia diabad kapanpun saja juga diawali dari rusaknya iman,demikian pula untuk memperbaiki ummat ini diawali dari pembenahan iman.
 
            Memahami islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama agar menjadi pemeluk yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap hormat bagi pemeluk agama lainnya. Juga untuk menghindari kesalahfahaman yang memungkinkan timbulnya pandangan dan sikap negatif terhadap islam. Maka untuk memahami islam secara benar ialah dengan cara-cara sebagai berikut;

Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Kekeliruan memahami islam karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama-ulama dan pemeluk-pemeluknya yang telah jauh dari pimpinan Al Qur’an dan Sunnah. Atau pengenalan terhadap kitab fiqh dan tasauf yang telah tua ketinggalan zaman yang kebanyakan bercampur dengan bid’ah dan khuraafat. Mempelajari islam dengan jalan demikian itu, menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk islam yang sinkritisme, hidup penuh bid’ah, kurafat, artinya ibadah dan kepercayaannya bercampur aduk dengan hal-hal yang tidak islam, jauh dari ajaran islam yang murni.

Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Apabila islam dipelajari secara sebagian saja dari ajarannya, apalagi yang bukan pokok ajaran dan dalam bidang masalah khilafiah, maka tentulah pengetahuannya tentang islam seperti yang dipelajarinya, yaitu sebagian kecil dari masalah dan bukan pokok.

Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zhu’ama dan sarjana-sarjana islam. Pada umumnya mereka memahami islam secara baik, pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Al Qur’an dan sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.

Kesalahan sementara orang mempelajari islam ialah dengan jalan mempelajari ummat islam an sich, bukan agama islam yang dipelajarinya, setiap konservatif sebagian golongan islam, keterbelakangan dibidang pendidikan, keawaman, kebodohan, disintegrasi dan kemiskinan masyarakat islam itulah yang dinilai sebagai islamnya itu sendiri. Tak ada suatu kesalahan  besar  melainkan dengan cara semacam ini.  

            Islam disebut dengan agama universal atau mendunia karena beberapa hal yaitu;

            Pertama, kehadirannya untuk seluruh manusia di dunia ini, bukan untuk orang Arab saja walaupun beliau Nabi Muhammad bangsa Arab dan tidak terbatas untuk satu bangsa manapun. Dari suku bangsa manapun layak dan berhak untuk memperoleh hidayah iman dan islam dengan cara mempelajarinya;
            “Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”[Al Furqan 25;1]

            Kedua, islam itu untuk seluruh manusia dimanapun dia berada tanpa dibatasi  oleh wilayah sebuah negara;   “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui”[Saba 34;28]

            Ketiga, dalam menjalankan aturan islam tidak ada kesulitan,semua manusia mampu untuk melakukannya sesuai dengan kualitas iman seseorang, menurut situasi dan kondisi;  .
             “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.”[Al Hajj 22;78]

            Keempat, islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu adalah wahyu Allah untuk kepentingan manusia, tentu Allah tahu apa kepentingan dan aturan yang layak untukmanusia sesuai dengan fithrahnya, sebab Dia adalah Khaliq yang menciptakan makhluk;  “ Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”[An Najm 53;3-4].

            Kelima, ajaran islam yang dibawa Nabi Muhammad tersebut, semuanya mengajarkan kepada kebaikan, yang kebaikan itu untuk keselamatan manusia, baik di dunia hingga akherat, tidak ada satu ajaranpun yang mengajak ummat ini untuk celaka. Disamping itu islam adalah agama yang tidak mudah terkontaminasi oleh ajaran dan budaya lain, dia tidak terpengaruh oleh tempat dan waktu, sampai kapanpun dia dijamin oleh Allah keasliannya.

            Itulah islam yang sudah diawali oleh para nabi dan rasul terdahulu dengan risalah tauhidnya yang intinya adalah ajaran keselamatan untuk manusia sehingga layak dinamakan dengan islam, beruntunglah orang yang mampu meraih hidayah iman dan islam kemudian mau dan mampu pula merealisasikan islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari,wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 14 Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010.M ]






1 komentar: