Manusia adalah makhluk yang dhaif dalam
berbagai hal sehingga tidak sedikit mereka yang tergelincir dalam pengabdian
kepada selain Allah, mereka tidak mendapat hidayah dan petunjuk-Nya, jadilah
sebagian manusia itu kafir kepada kebenaran karena mereka mendapat kebathilan
dengan doktrin-doktrin yang keras, membuat mata hatinya terkunci oleh
kemungkarannya, sulit untuk menyibak kebenaran walaupun berada di depan mata
[2;6-7].
Untuk
menyelamatkan manusia dari idiologi yang sesat maka Allah mengutus para nabi
dan Rasul-Nya sebagai mediator wahyu yang berisi jalan hidup manusia. Untuk
menerima kebenaran wahyu tersebut diawali dari keimanan kepada Rasulullah,
tanpa dengan itu maka kesempurnaan menerima syariat sangat tidak mungkin.
Keimanan kepada rasul merupakan bagian
dari syariat yaitu rukun iman, siapa saja mengakui Allah dan syariat-Nya wajib
beriman kepada orang yang diamanahi syariat itu yaitu para nabi dan rasul.
Iman
kepada Rasul adalah salah satu rukun iman [2;177,3;84] tidak dianggap muslim
seseorang kecuali dia beriman bahwa Allah mengutus Rasul yang
menginterpretasikan hakekat yang sebenarnya dari dienul islam. Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali ia
beriman kepada seluruh rasul dan tidak membedakan antara satu dengan lainnhya,
Allah berfirman dalam surat An Nisa’ 4;150-151
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir
terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),
Dari enam rukun iman
tersebut salah satu saja kita mengingkarinya berarti kafir kepada semuanya,
sebab kesemuanya itu tidak dapat
dipisahkan.
Michael Hart dalam bukunya yang
berjudul “Seratus Tokoh Yang Berpengaruh di dunia”, dia mencatat Nabi Muhammad
pada rangking pertama dan utama, padahal dia sebagai orang yang beragama
Nasrani, orientalis dan bangsa barat. Bila buku itu dikarang oleh Buya Hamka
atau tokoh lain yang beragama islam
tentu kita tidak begitu kagum, walaupun sebenarnya Michael Hart meletakkan
Muhammad nomor pertama dari deretan
tokoh dunia tidaklah tepat, sebab Muhammad hanya pantas diletakkan pada
deretan para nabi dan memang beliau adalah penghulu para nabi.
Kekagumannya
dengan Muhammad adalah keberhasilannya dalam menyebarkan misi dan risalah islam
ke tengah masyarakat dunia sehingga pada detik ini ummat Muhammad terbesar di
dunia ini.
Muhammad
adalah pribadi yang serba sempurna dalam berbagai asfek kehidupan, ibadahnya
tidak ada yang dapat menandingi, kezuhudannya sehingga tidak pernah kenyang
ketika makan, taqwanya tidak ada yang bisa mengalahkan. Beliaupun seorang yang
pemalu bila hidupnya punya cela, bahkan auratnyapun ketika nampak oleh seorang
sahabat yaitu betisnya saat memperbaiki masjid,bukan main malu beliau dengan
muka merah lari dan menjauh dari mereka.
Beliau adalah orang yang berani, setiap peperangan
yang dilakukan beliau adalah orang yang
terdepan dan banyak sekali perang yang beliau lakukan dipimpin lansung.
Demikian pula halnya Nabi Muhammad siap bertahan 13 tahun di Mekkah dalam
rangka menyampaikan risalah islam ini, yang dihadapi adalah gembong-gembong Quraisy yang terkenal garang
dan ganasnya.
Dalam
kehidupan sehari-hari yang dilakukannya tidaklah kaku sebagaimana yang
digambarkan orang; canda, humor dan hiburanpun beliau nikmati tapi tidak lepas
dari bingkai syariat sehingga terarah kepada kemaslahatan pribadi, keluarga dan
masyarakatnya.
Rasulullah Muhammad adalah
nabi dan rasul terakhir, beliau mempunyai tugas yang tidak ringan karena harus
merubah watak manusia yang kafir kepada taat, sifat jahiliyyah kepada islami,
karakter maksiat kepada ummat yang militansinya tidak diragukan, untuk semua
itu beliau bertugas;
Pertama, menyampaikan [tabligh] tentang islam secara informatif
[5;67, 33;39] dengan target menuntun manusia kepada mengetahui pencipta alam
semesta alam ini dengan segala sifat-sifatnya [6;102, 13;16]. Beliau juga
mengajak manusia dengan target untuk mentauhidkan Allah [21;25] meninggalkan
segala bentuk syirik sebagai pencemaran terhadap keimanan.
Dengan tabligh pula,
beliau sampaikan kabar gembira kepada siapa saja yang mau menerima kebenaran
dengan berbagai janji dan kemenangan baik di dunia maupun di akherat serta
memberikan ancaman kepada siapa saja yang mengingkari kebenaran dan kebesaran
Allah [6;48, 2;213].
Hadirnya Rasulullah
menyampaikan risalah ini adalah sebagai hujjah manusia sehingga nanti tidak ada
alasan lagi bagi mereka untuk menyatakan tidak tahu, tidak mendengar informasi
tentang kehadiran rasul dengan segala tugasnya, Allah menjelaskan dalam surat
An Nisa 4;165; “(mereka kami utus) selaku
rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada
alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan
adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Rasulullah mengajak
manusia kepada jalan yang lurus dengan tabligh yang beliau gelar melalui
penyampaian informasi di pasar-pasar, di lokasi perkampungan atau dimana saja
beliau bertmu dengan manusia, tidak pernah beliau lupa mengajak manusia agar
meninggalkan bentuk-bentuk sembahan selain Allah [40;38, 19;43]
Kedua, selain menyampaikan informasi islam melalui tabligh maka
langkah kedua yang beliau lakukan adalah membimbing dan mendidik beberapa orang yang sudah direkrut. Inilah
penempaan kader yang berkelanjutan yang dikenal dengan tarbiyyah islamiyah.
Melalui pendidikan dan
bimbingan ini, rasul hendak memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskan
dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela [62;2]. Merubah mental manusia dari
jahiliyah kepada islam bukanlah pekerjaan enteng dan tidak bisa membutuhkan waktu singkat tapi karena piawainya rasul,
berkat keuletan dan kesungguhan beliau lahirlah tokoh-tokoh yang militansinya
tidak diragukan lagi, semua itu melalui kamar-kamar tarbiyah dan lembaga
pengkaderan.
Dengan pembinaan pula,
rasul meluruskan aqidah serta fikrah yang menyimpang dari islam, semua itu
membutuhkan tangan-tangan halus dan kesabaran yang tinggi, itu semua dimiliki
oleh beliau [2;213]. Selain itu melalui
lembaga ini pula beliau membimbing umat dengan menjalankan metode Ilahi dan
sistim Rabbani pada berbagai sektor kehidupan sehingga hidup yang mereka jalani
hanya satu semboyannya,”Allah ghayatuna” Allah sebagai tujuan hidup kami
[38;26].
Inilah tugas rasul yang
sangat berat, sebab jiwa tidak akan lurus berjalan diatas sistim/manhaj yang benar
hanya dengan mengajaknya ke sistim tersebut semata tanpa arahan, bimbingan dan
pengayoman yang dilakukan secara berkesinambungan.
Setiap rasul dari manusia
yang terpilih harus memiliki sifat-sifat yang tinggi bahkan melebihi malaikat
pada satu sisi sebab mereka akan menjadi teladan dalam setiap yang diserukan.
Muhammad adalah pribadi, yang tidak akan menyuruh orang berbuat sesuatu sebelum
dia mengerjakan terlebih dahulu, dan dia pasti melarang suatu perbuatan, karena
beliau telah meninggalkan perbuatan itu, ini yang disebut dengan uswah hasanah
yaitu contoh teladan yang baik [33;21]
Selain itu beliau wajib
memiliki sifat-sifat terpuji seperti sabar, pemaaf dan lapang dada [18;158],
selalu mengadakan hubungan vertikal dengan Allah dengan tidak melupakan untuk
bercampur dan bergaul dengan manusia, bukan mengasingkan diri, semua itu supaya
bisa memberikan tuntunan [25;20]. Tuntunan yang diberikanpun sesuai dengan
psikologis seseorang artinya mengetahui tabiat jiwa untuk memberikan tuntunan
dengan metode dan cara yang relevan dengan tabiat jiwa manusia.
Sebagai Nabi terakhir
yang diturunkan Allah Swt ke bumi ini dalam rangka memperbaiki kehidupan
manusia dari jahiliyah kepada kehidupan yang islami, penuh cahaya kebenaran dan
dinaungi oleh wahyu suci yaitu Kalam Ilahi Al Qur’an. Beliau hadir memang untuk
itu, sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shaf ayat 6, ”Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata, ”Hai Bani Israil,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun
sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang Rasul
yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad [Muhammad]”.
Banyak sudah Nabi dan
Rasul yang diutus Allah dalam rangka menyelamatkan manusia seluruhnya hingga
beliaulah Rasul pamungkas itu yang dilengkapi oleh mu’jizat terbesar yaitu Al
Qur’an, yang dijamin kebenarannya hingga akhir zaman oleh Allah sebagaimana
yang ditegaskan dalam surat Al Hijr; 9,
”Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya”.
Sudah lama Allah membuka
peluang kepada orang-orang yang ragu tentang Al Qur’an ini untuk membuat
tandingan semisal satu surat saja, tapi hingga kini konpetisi itu belum
berhasil . Hal ini disampaikan-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 23, ”Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang
Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami [Muhammad], maka buatlah satu
surat saja yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain
Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.
Dimasa awal kerasulan beliau,
Muhammad sering berada di gua Hira memikirkan kerusakan dan kehancuran ummat
ketika itu, dia ingin menemukan jalan yang pas untuk memperbaiki sikap dan
watak jahiliyah, akhirnya dalam waktu dua puluh tiga tahun lebih kurang dia
mampu mengembalikan ummat jahiliyah ke alam yang penuh dengan nur islam.
Sebagai pemimpin yang dia fikirkan ialah bagaimana rakyat bisa baik akhlak dan
kepribadiannya, jauh sekali Muhammad memikirkan kepentingan keluarga dan
pribadinya. Suatu ketika saat ummat Islam mampu menaklukkan suatu negeri,
banyak ghanimah [harta rampasan perang] yang diperoleh, semua ghanimah itu
selesai dia bagikan untuk kaum muslimin yang memerlukan, sedangkan
anaknya, Fatimah ketika itu sangat
membutuhkan seorang pembantu mengerjakan pekerjaan rumah, dengan pinta yang
penuh pilu Fatimah mengajukan permohonannya, tapi Rasulullah menjawab bahwa
semua telah dibagikan, tidak ada lagi untuk kita.
Diwaktu terjadi banjir,
Hajar Aswad yang ada di Ka’bah jatuh dari tempatnya, semua kabilah beranggapan
merekalah yang berhak meletakkan batu hitam itu, hampir terjadi pertempuran,
maka datanglah Muhammad yang ketika itu masih muda sekali untuk menyelesaikannya, sehingga detik itu juga
beliau dapat julukan Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya.
Dari kisah diatas dapat
ditarik pelajaran bahwa Rasulullah sebagai calon pemimpin siap bergaul dengan
masyarakat, ikut terlibat dengan kegiatan ummat, dia tidak hidup dengan sikap
individualis, keterlibatan Rasulpun terlihat ketika beliau ikut mendirikan masjid
Quba dan Masjid Nabawi di Madinah, beliau ikut memanggul batu, ikut bergelimang
debu bersama sahabatnya. Walaupun dia seorang pimpinan tapi tidak mau
diistimewakan oleh rakyatnya, hal ini terlihat ketika dalam suatu perjalanan
bersama sahabatnya, saat beristirahat seluruh sahabat bekerja menyiapkan
makanan, ada yang mencari kayu bakar, ada yang menghidupkan api, ada yang
memasak, maka Rasululah ikut mencari kayu bakar, sebagian sahabat berkata, “Ya Rasulullah, biarlah kami saja yang
bekerja, tuan duduk sajalah, sebab tenaga kami sudah cukup untuk menyiapkan
makanan”, lalu beliau berkata, “Aku
tidak suka dengan kalian yang mengistimewakan aku”.
Melalui perjuangan yang
panjang, dihina, diusir bahkan nyaris dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy
beliau berhasil mengadakan tujuh agenda reformasi atau perubahan terhadap ummat
yang masih dibelenggu oleh jahiliyyah. Perubahan itulah yang sebagai corak
pribadi muslim, masyarakat Islam dan keluarga yang Islami yang harus kita
teladani dalam kehidupan sehari-hari;
1.Reformasi Bidang Aqidah
Masyarakat
kafir Quraisy tenggelam kepada menuhankan berhala sejenis Latta, Uzza, Manatta
dan Hubal yang terbuat dari batu. Itulah yang mereka anggap sebagai Tuhan,
mereka sembah, sujud kepadanya tanpa meneliti lebih lanjut. Bahkan kecintaan
mereka kepada berhala itu sama dengan kecintaan kita kepada Allah yang membuat
mereka berprilaku syirik, ”Dan diantara
manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah” [Al Baqarah ;165].
Melalui
da’wah yang bertahap dan berkelanjutan akhirnya beberapa orang dapat
meninggalkan tuhan berhalanya, menyembah dan menuhankan Allah semata, jauh dari
nilai-nilai syirik sebagaimana tauhidullah itu terucap dalam pengakuan kita
dalam surat Al Fatihah ayat 5, ”Hanya
kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”.
Atau tuntunan Allah dalam surat Al Ikhlas ayat 1-4, ”Katakanlah ; Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula
diperanakkan, dan tiada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Dengan
penanaman aqidah yang mantap, Rasulullah berhasil melepaskan mereak dari
perbuatan maksiat semacam judi, zina, minum khamar dan perbuatan nista lainnya
sehingga wajar beliau menegaskan, ”Tidak
beriman orang yang berjudi, tidak beriman orang yang berzina dan tidak beriman
orang yang minum khamar”.
2.Reformasi Bidang Persatuan Ummat
Suatu
kebanggaan bagi bangsa Quraisy bila mereka hidup dalam permusuhan,
masing-masing suku dan kabilah membanggakan kabilah-kabilahnya, utang darah
dibayar dengan darah, utang nyawa dibayar dengan nyawa, tidak ada kata maaf
ketika itu, yang ada hanyalah bunuh, hancurkan, hantam dan binasakan.
Melalui
Islam akhirnya mereka bersatu tanpa merasa lebih unggul dari yang lain,
permusuhan dihilangkan dengan ukhuwah Islamiyyah, pertengkaran diganti dengan
persaudaaan sehingga menjadi tauhidul ummat yaitu ummat yang satu, Allah
berfirman dalam surat Ali Imran; 103, ”Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa
jahiliyah] bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu
menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah
berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya...”
3.Reformasi Bidang Gender
Dahulu
kedudukan wanita nyaris tidak berharga selain untuk memuaskan laki-laki,
layaknya sebagai budak. Bahkan kelahiran anak wanita pada sebuah keluarga
dianggap hina sehingga harus dibunuh hidup-hidup. Ketika Islam datang yang
dibawa Rasululah Saw maka kedudukannya diletakkan sesuai dengan posi sinya,
harkat dan martabatnya dihargai setara dengan lelaki. Dalam beribadah, berilmu
dan berpolitik serta profesi lainnya dia tidak berbeda dengan kaum lelaki,
disinilah kesempatan yang diberikan kepada wanita dengan tidak mengabaikan kodratnya
sebagai wanita yang harus pula mengelola rumah tangga, melahirkan, menyusukan
dan membesarkan anaknya.
Suatu
ketika Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Ya Nabi Allah, apakah sebabnya hanya laki-laki yang banyak disebut di
dalam Al Qur’an, sedang wanita tidak disebut ?” Sesudah pertanyaan
tersebut, karena hanya merasa laki-laki saja yang disebut untuk berjihad,
berperang dan beramal luas, maka Rasulullah membacakan firman Allah dalam surat
Al Ahzab; 35, ”Sesungguhnya laki-laki dan
wanita muslim, laki-laki dan wanita yang beriman, lelaki dan wanita yang taat,
lelaki dan wanita yang jujur, lelaki dan wanita yang sabar, lelaki dan wanita
yang khusyu’, lelaki dan wanita yang bersedekah, lelaki dan wanita yang berpuasa, lelaki dan wanita yang memelihara
kehormatannya, lelaki dan wanita yang berzikir, maka Allah menyediakan bagi
mereka ampunan dan syurga”.
4.Reformasi Bidang Ekonomi
Ekonomi
adalah tulang punggung kelanjutan hidup manusia, tanpa ini kehidupan kita agak
terganggu, bahkan dengan ekonomi tidak jarang satu bangsa ditaklukkan oleh
bangsa lain, lilitan hutang yang tidak tahu kapan selesainya. Dalam Islam,
masalah iqtishadi [ekonomi] dan ma’isyah [mata pencaharian] banyak dibicarakan
bahkan Umar bin Khattab pernah mengusih seorang pemuda dari masjid, karena
matahari sudah tinggi, dia masih berzikir juga, tidak mau mencari rezeki.
Antara ibadah dan ma’isyah diseimbangkan oleh Allah
bahkan menghidupkan ekonomi bagian dari ibadah, sebagaimana ketegasan Allah
dalam surat Jumu’ah ayat 9-10, ”Hai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari
jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual
beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah
ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah
dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.
Islam
sangat santun dalam berdagang, itulah ajaran yang telah disampaikan oleh
Rasulullah, sang reformis dalam bidang ekonomi. Kita tidak boleh menipu,
mengurangi takaran dan timbangan, memanipulasi, tindakan zhalim dan terjerat
oleh riba. Selama ummat islam belum melepaskan diri dari riba maka harta yang
diperoleh tidaklah berkah serta selama itu pula ekonomi ummat islam dibawah jajahan
bankir-bankir Yahudi dan Nasrani.
5.Reformasi Bidang Sosial
Masyarakat
Quraisy ketika hidup dalam bentuk tatanan kehidupan sosial yang mirip dengan
kasta sebagaimana agama Hindu, bahkan mereka menjadikan manusia lainnya sebagai
budak, yang boleh diperjual belikan serta diapakanpun terserah majikan
merupakan hak majikannya. Kita lihat bagaimana
seorang sahabat Nabi bernama Bilil, seorang bekas budak hitam yang
nyaris dibunuh oleh majikannya bernama Muawiyah lantaran Bilal memeluk agama
baru yang dibawa oleh Muhammad, yaitu agama yang tidak mengukur manusia
berdasarkan suku, bangsa dan kabilah, tidak mamandang manusia karena wajah dan
warna kulitnya, tapi meletakkan kemuliaan pada pengabdian dan ketaqwaan kepada
Alllah, ”Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang bertaqwa diantara kamu...”[Al Hujurat ;13].
6.Reformasi Bidang Akhlak
Tiada
yang lebih hancur suatu bangsa di dunia ini ketika melihat akhlak bangsa
jahiliyah, bangsa Quraisy, perjudian dan zina adalah perbuatan biasa, mabuk dan
memakan riba budaya hariannya, saling baku hantam, perpecahan dan bunuh-bunuhan
berita setiap hari yang mereka dengarkan. Karena biadapnya kehidupan meteka
ketika itu dicap sebagai ummat jahiliyah, yang hidup dalam kegelapan dan
kebodohan.
Pada
bangsa yang demikian seorang reformis bernama Muhammad diberi gelar Al Amin,
karena akhlak mulia yang dimilikinya agar ditularkan kepada bangsa manusia
seluruhnya sehingga menjadi umat yang beradab, inilah pengakuan beliau ketika
wahyu diberikan, ”Innama Bu’istu
liutamimma makarimal akhlak” [sesungguhnya aku dibangkitkan di dunia ini untuk
memperbaiki akhlak manusia].
Jadilah
ummatnya yang punya akhlakul karimah karena mencontoh langsung kepada figur
yang menyampaikan yaitu Rasulullah. Beliau standard akhlak yang disebutkan
Allah, untuk kita teladani dalam kehidupan sehari-hari, ”Sesungguhnya engkau Muhammad mempunyai budi pekerti yang luhur”
[Al Qalam], ”Sesungguhnya dalam pribadi
Rasulullah itu ada contoh teladan yang baik bagimu” [Al Ahzab;21].
7.Reformasi Bidang Islamiyyah
Kehidupan
jahiliyah adalah kehidupan yang kelam, bodoh, jauh dari cahaya iman dan
menyengsarakan sehingga sulit untuk menerima kebenaran. Corak jahiliyah yang
diterapkan oleh bangsa Quraisy terhadap Islam adalah; mereka tidak mau menerima
kebenaran Islam karena pengikut agama ini orang-orang yang rendah status
sosialnya, mereka menolak Islam karena sedikit sekali orang yang mendukung
Islam ketika itu. Islam tidak cocok dengan mereka sebab tenggelam dengan sikap
dan sifat yang bertentangan dengan fithrah manusia sebagaimana sabda Rasulullah
yang artinya, ”Watak jahiliyah itu adalah
membanggakan keturunan, bangga dengan kedudukan sosial, meratapi orang yang
mati dan minta hujan kepada bintang”.
Kinipun
kita sedang tenggelam pada bentuk baru jahiliyah diantaranya dalam politik
menghalalkan segala cara, pada bidang moral kita cendrung permisive yaitu faham
serba boleh walaupun bertentangan dengan ajaran agama Islam, pada bidang adat
kita tidak beda dengan kehidupan primitif dan pada pendidikan kita berwatak
sekuler yaitu mengabaikan agama dan nilai-nilai Islam.
Sejak
kehadiran Rasulullah beliau telah mengajak ummatnya untuk hijrah minal jahiliyah ilal islam yaitu pindah dari kehidupan yang
jahiliyah kepada kehidupan yang Islami, sehingga Islam bagi ummatnya menjadi Minhajul Hayah yaitu sistim kehidupan.
Dalam
waktu yang relatif singkat nabi Muhammad berhasil menyelesaikan tujuh agenda
reformasi dalam rangka memperbaiki ummat ini. Beliaulah bapak reformasi dalam
rangka memperbaiki ummat ini, beliaulah bapak reformasi sejati yang ucapannya
dibuktikan oleh amal-amal perbuatannya. Dia tidak akan menyuruh seseorang
sebelum dia melaksanakan lebih dahulu dan beliau berpantang melarang orang dari
satu perbuatan sebelum beliau sendiri telah meninggalkannya.
Beliau
adalah orang yang dijamin Allah masuk syurga, dosa-dosa yang lalu dan akan
datang telah diampuni Allah tapi beliaulah orang yang paling banyak ibadahnya.
Beliau adalah orang yang maksum artinya terjaga dari berbuat salah tapi beliau sangat berhati-hati dalam bertindak,
berucap dan bercanda, wallahu a’lam [Cubadak
Solok, 14 Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar