Kamis, 10 Desember 2015

42. Muhammad



Manusia adalah makhluk yang dhaif dalam berbagai hal sehingga tidak sedikit mereka yang tergelincir dalam pengabdian kepada selain Allah, mereka tidak mendapat hidayah dan petunjuk-Nya, jadilah sebagian manusia itu kafir kepada kebenaran karena mereka mendapat kebathilan dengan doktrin-doktrin yang keras, membuat mata hatinya terkunci oleh kemungkarannya, sulit untuk menyibak kebenaran walaupun berada di depan mata [2;6-7].

            Untuk menyelamatkan manusia dari idiologi yang sesat maka Allah mengutus para nabi dan Rasul-Nya sebagai mediator wahyu yang berisi jalan hidup manusia. Untuk menerima kebenaran wahyu tersebut diawali dari keimanan kepada Rasulullah, tanpa dengan itu maka kesempurnaan menerima syariat sangat tidak mungkin. Keimanan kepada rasul  merupakan bagian dari syariat yaitu rukun iman, siapa saja mengakui Allah dan syariat-Nya wajib beriman kepada orang yang diamanahi syariat itu yaitu para nabi dan rasul.

            Iman kepada Rasul adalah salah satu rukun iman [2;177,3;84] tidak dianggap muslim seseorang kecuali dia beriman bahwa Allah mengutus Rasul yang menginterpretasikan hakekat yang sebenarnya dari dienul islam. Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali ia beriman kepada seluruh rasul dan tidak membedakan antara satu dengan lainnhya, Allah berfirman dalam surat An Nisa’ 4;150-151
            “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

            Dari enam rukun iman tersebut salah satu saja kita mengingkarinya berarti kafir kepada semuanya, sebab kesemuanya itu  tidak dapat dipisahkan.

Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Berpengaruh di dunia”, dia mencatat Nabi Muhammad pada rangking pertama dan utama, padahal dia sebagai orang yang beragama Nasrani, orientalis dan bangsa barat. Bila buku itu dikarang oleh Buya Hamka atau tokoh  lain yang beragama islam tentu kita tidak begitu kagum, walaupun sebenarnya Michael Hart meletakkan Muhammad nomor pertama dari deretan  tokoh dunia tidaklah tepat, sebab Muhammad hanya pantas diletakkan pada deretan para nabi dan memang beliau adalah penghulu para nabi.
            Kekagumannya dengan Muhammad adalah keberhasilannya dalam menyebarkan misi dan risalah islam ke tengah masyarakat dunia sehingga pada detik ini ummat Muhammad terbesar di dunia ini.

            Muhammad adalah pribadi yang serba sempurna dalam berbagai asfek kehidupan, ibadahnya tidak ada yang dapat menandingi, kezuhudannya sehingga tidak pernah kenyang ketika makan, taqwanya tidak ada yang bisa mengalahkan. Beliaupun seorang yang pemalu bila hidupnya punya cela, bahkan auratnyapun ketika nampak oleh seorang sahabat yaitu betisnya saat memperbaiki masjid,bukan main malu beliau dengan muka merah lari dan menjauh dari mereka.

            Beliau  adalah orang yang berani, setiap peperangan yang dilakukan beliau adalah orang yang  terdepan dan banyak sekali perang yang beliau lakukan dipimpin lansung. Demikian pula halnya Nabi Muhammad siap bertahan 13 tahun di Mekkah dalam rangka menyampaikan risalah islam ini, yang dihadapi adalah  gembong-gembong Quraisy yang terkenal garang dan ganasnya.
            Dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukannya tidaklah kaku sebagaimana yang digambarkan orang; canda, humor dan hiburanpun beliau nikmati tapi tidak lepas dari bingkai syariat sehingga terarah kepada kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakatnya.

            Rasulullah Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir, beliau mempunyai tugas yang tidak ringan karena harus merubah watak manusia yang kafir kepada taat, sifat jahiliyyah kepada islami, karakter maksiat kepada ummat yang militansinya tidak diragukan, untuk semua itu beliau bertugas;

            Pertama, menyampaikan [tabligh] tentang islam secara informatif [5;67, 33;39] dengan target menuntun manusia kepada mengetahui pencipta alam semesta alam ini dengan segala sifat-sifatnya [6;102, 13;16]. Beliau juga mengajak manusia dengan target untuk mentauhidkan Allah [21;25] meninggalkan segala bentuk syirik sebagai pencemaran terhadap keimanan.

            Dengan tabligh pula, beliau sampaikan kabar gembira kepada siapa saja yang mau menerima kebenaran dengan berbagai janji dan kemenangan baik di dunia maupun di akherat serta memberikan ancaman kepada siapa saja yang mengingkari kebenaran dan kebesaran Allah [6;48, 2;213].
            Hadirnya Rasulullah menyampaikan risalah ini adalah sebagai hujjah manusia sehingga nanti tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menyatakan tidak tahu, tidak mendengar informasi tentang kehadiran rasul dengan segala tugasnya, Allah menjelaskan dalam surat An Nisa 4;165; “(mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

            Rasulullah mengajak manusia kepada jalan yang lurus dengan tabligh yang beliau gelar melalui penyampaian informasi di pasar-pasar, di lokasi perkampungan atau dimana saja beliau bertmu dengan manusia, tidak pernah beliau lupa mengajak manusia agar meninggalkan bentuk-bentuk sembahan selain Allah [40;38, 19;43]

            Kedua, selain menyampaikan informasi islam melalui tabligh maka langkah kedua yang beliau lakukan adalah membimbing dan mendidik  beberapa orang yang sudah direkrut. Inilah penempaan kader yang berkelanjutan yang dikenal dengan tarbiyyah islamiyah.
            Melalui pendidikan dan bimbingan ini, rasul hendak memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskan dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela [62;2]. Merubah mental manusia dari jahiliyah kepada islam bukanlah pekerjaan enteng dan tidak bisa membutuhkan  waktu singkat tapi karena piawainya rasul, berkat keuletan dan kesungguhan beliau lahirlah tokoh-tokoh yang militansinya tidak diragukan lagi, semua itu melalui kamar-kamar tarbiyah dan lembaga pengkaderan.
           
            Dengan pembinaan pula, rasul meluruskan aqidah serta fikrah yang menyimpang dari islam, semua itu membutuhkan tangan-tangan halus dan kesabaran yang tinggi, itu semua dimiliki oleh  beliau [2;213]. Selain itu melalui lembaga ini pula beliau membimbing umat dengan menjalankan metode Ilahi dan sistim Rabbani pada berbagai sektor kehidupan sehingga hidup yang mereka jalani hanya satu semboyannya,”Allah ghayatuna” Allah sebagai tujuan hidup kami [38;26].

            Inilah tugas rasul yang sangat berat, sebab jiwa tidak akan lurus berjalan diatas sistim/manhaj yang benar hanya dengan mengajaknya ke sistim tersebut semata tanpa arahan, bimbingan dan pengayoman yang dilakukan secara berkesinambungan.

            Setiap rasul dari manusia yang terpilih harus memiliki sifat-sifat yang tinggi bahkan melebihi malaikat pada satu sisi sebab mereka akan menjadi teladan dalam setiap yang diserukan. Muhammad adalah pribadi, yang tidak akan menyuruh orang berbuat sesuatu sebelum dia mengerjakan terlebih dahulu, dan dia pasti melarang suatu perbuatan, karena beliau telah meninggalkan perbuatan itu, ini yang disebut dengan uswah hasanah yaitu contoh teladan yang baik [33;21]

            Selain itu beliau wajib memiliki sifat-sifat terpuji seperti sabar, pemaaf dan lapang dada [18;158], selalu mengadakan hubungan vertikal dengan Allah dengan tidak melupakan untuk bercampur dan bergaul dengan manusia, bukan mengasingkan diri, semua itu supaya bisa memberikan tuntunan [25;20]. Tuntunan yang diberikanpun sesuai dengan psikologis seseorang artinya mengetahui tabiat jiwa untuk memberikan tuntunan dengan metode dan cara yang relevan dengan tabiat jiwa manusia.

            Sebagai Nabi terakhir yang diturunkan Allah Swt ke bumi ini dalam rangka memperbaiki kehidupan manusia dari jahiliyah kepada kehidupan yang islami, penuh cahaya kebenaran dan dinaungi oleh wahyu suci yaitu Kalam Ilahi Al Qur’an. Beliau hadir memang untuk itu, sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shaf ayat 6, ”Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata, ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad [Muhammad]”.

            Banyak sudah Nabi dan Rasul yang diutus Allah dalam rangka menyelamatkan manusia seluruhnya hingga beliaulah Rasul pamungkas itu yang dilengkapi oleh mu’jizat terbesar yaitu Al Qur’an, yang dijamin kebenarannya hingga akhir zaman oleh Allah sebagaimana yang ditegaskan dalam surat Al Hijr; 9, ”Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

            Sudah lama Allah membuka peluang kepada orang-orang yang ragu tentang Al Qur’an ini untuk membuat tandingan semisal satu surat saja, tapi hingga kini konpetisi itu belum berhasil . Hal ini disampaikan-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 23, ”Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami [Muhammad], maka buatlah satu surat saja yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.
Dimasa awal kerasulan  beliau, Muhammad sering berada di gua Hira memikirkan kerusakan dan kehancuran ummat ketika itu, dia ingin menemukan jalan yang pas untuk memperbaiki sikap dan watak jahiliyah, akhirnya dalam waktu dua puluh tiga tahun lebih kurang dia mampu mengembalikan ummat jahiliyah ke alam yang penuh dengan nur islam. Sebagai pemimpin yang dia fikirkan ialah bagaimana rakyat bisa baik akhlak dan kepribadiannya, jauh sekali Muhammad memikirkan kepentingan keluarga dan pribadinya. Suatu ketika saat ummat Islam mampu menaklukkan suatu negeri, banyak ghanimah [harta rampasan perang] yang diperoleh, semua ghanimah itu selesai dia bagikan untuk kaum muslimin yang memerlukan, sedangkan anaknya,  Fatimah ketika itu sangat membutuhkan seorang pembantu mengerjakan pekerjaan rumah, dengan pinta yang penuh pilu Fatimah mengajukan permohonannya, tapi Rasulullah menjawab bahwa semua telah dibagikan, tidak ada lagi untuk kita.

            Diwaktu terjadi banjir, Hajar Aswad yang ada di Ka’bah jatuh dari tempatnya, semua kabilah beranggapan merekalah yang berhak meletakkan batu hitam itu, hampir terjadi pertempuran, maka datanglah Muhammad yang ketika itu masih muda sekali untuk  menyelesaikannya, sehingga detik itu juga beliau dapat julukan Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya.

            Dari kisah diatas dapat ditarik pelajaran bahwa Rasulullah sebagai calon pemimpin siap bergaul dengan masyarakat, ikut terlibat dengan kegiatan ummat, dia tidak hidup dengan sikap individualis, keterlibatan Rasulpun terlihat ketika beliau ikut mendirikan masjid Quba dan Masjid Nabawi di Madinah, beliau ikut memanggul batu, ikut bergelimang debu bersama sahabatnya. Walaupun dia seorang pimpinan tapi tidak mau diistimewakan oleh rakyatnya, hal ini terlihat ketika dalam suatu perjalanan bersama sahabatnya, saat beristirahat seluruh sahabat bekerja menyiapkan makanan, ada yang mencari kayu bakar, ada yang menghidupkan api, ada yang memasak, maka Rasululah ikut mencari kayu bakar, sebagian sahabat berkata, “Ya Rasulullah, biarlah kami saja yang bekerja, tuan duduk sajalah, sebab tenaga kami sudah cukup untuk menyiapkan makanan”, lalu beliau berkata, “Aku tidak suka dengan kalian yang mengistimewakan aku”.

            Melalui perjuangan yang panjang, dihina, diusir bahkan nyaris dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy beliau berhasil mengadakan tujuh agenda reformasi atau perubahan terhadap ummat yang masih dibelenggu oleh jahiliyyah. Perubahan itulah yang sebagai corak pribadi muslim, masyarakat Islam dan keluarga yang Islami yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari;

1.Reformasi Bidang Aqidah
      Masyarakat kafir Quraisy tenggelam kepada menuhankan berhala sejenis Latta, Uzza, Manatta dan Hubal yang terbuat dari batu. Itulah yang mereka anggap sebagai Tuhan, mereka sembah, sujud kepadanya tanpa meneliti lebih lanjut. Bahkan kecintaan mereka kepada berhala itu sama dengan kecintaan kita kepada Allah yang membuat mereka berprilaku syirik, ”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” [Al Baqarah ;165].

      Melalui da’wah yang bertahap dan berkelanjutan akhirnya beberapa orang dapat meninggalkan tuhan berhalanya, menyembah dan menuhankan Allah semata, jauh dari nilai-nilai syirik sebagaimana tauhidullah itu terucap dalam pengakuan kita dalam surat Al Fatihah ayat 5, ”Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”. Atau tuntunan Allah dalam surat Al Ikhlas ayat 1-4, ”Katakanlah ; Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada seorangpun yang setara dengan Dia”.

      Dengan penanaman aqidah yang mantap, Rasulullah berhasil melepaskan mereak dari perbuatan maksiat semacam judi, zina, minum khamar dan perbuatan nista lainnya sehingga wajar beliau menegaskan, ”Tidak beriman orang yang berjudi, tidak beriman orang yang berzina dan tidak beriman orang yang minum khamar”.

2.Reformasi Bidang Persatuan Ummat
      Suatu kebanggaan bagi bangsa Quraisy bila mereka hidup dalam permusuhan, masing-masing suku dan kabilah membanggakan kabilah-kabilahnya, utang darah dibayar dengan darah, utang nyawa dibayar dengan nyawa, tidak ada kata maaf ketika itu, yang ada hanyalah bunuh, hancurkan, hantam dan binasakan.

      Melalui Islam akhirnya mereka bersatu tanpa merasa lebih unggul dari yang lain, permusuhan dihilangkan dengan ukhuwah Islamiyyah, pertengkaran diganti dengan persaudaaan sehingga menjadi tauhidul ummat yaitu ummat yang satu, Allah berfirman dalam surat Ali Imran; 103, ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa jahiliyah] bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya...”

3.Reformasi Bidang Gender
      Dahulu kedudukan wanita nyaris tidak berharga selain untuk memuaskan laki-laki, layaknya sebagai budak. Bahkan kelahiran anak wanita pada sebuah keluarga dianggap hina sehingga harus dibunuh hidup-hidup. Ketika Islam datang yang dibawa Rasululah Saw maka kedudukannya diletakkan sesuai dengan posi sinya, harkat dan martabatnya dihargai setara dengan lelaki. Dalam beribadah, berilmu dan berpolitik serta profesi lainnya dia tidak berbeda dengan kaum lelaki, disinilah kesempatan yang diberikan kepada wanita dengan tidak mengabaikan kodratnya sebagai wanita yang harus pula mengelola rumah tangga, melahirkan, menyusukan dan membesarkan anaknya.

      Suatu ketika Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Ya Nabi Allah, apakah sebabnya hanya laki-laki yang banyak disebut di dalam Al Qur’an, sedang wanita tidak disebut ?” Sesudah pertanyaan tersebut, karena hanya merasa laki-laki saja yang disebut untuk berjihad, berperang dan beramal luas, maka Rasulullah membacakan firman Allah dalam surat Al Ahzab; 35, ”Sesungguhnya laki-laki dan wanita muslim, laki-laki dan wanita yang beriman, lelaki dan wanita yang taat, lelaki dan wanita yang jujur, lelaki dan wanita yang sabar, lelaki dan wanita yang khusyu’, lelaki dan wanita yang bersedekah, lelaki dan wanita  yang berpuasa, lelaki dan wanita yang memelihara kehormatannya, lelaki dan wanita yang berzikir, maka Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan syurga”.

4.Reformasi Bidang Ekonomi  
      Ekonomi adalah tulang punggung kelanjutan hidup manusia, tanpa ini kehidupan kita agak terganggu, bahkan dengan ekonomi tidak jarang satu bangsa ditaklukkan oleh bangsa lain, lilitan hutang yang tidak tahu kapan selesainya. Dalam Islam, masalah iqtishadi [ekonomi] dan ma’isyah [mata pencaharian] banyak dibicarakan bahkan Umar bin Khattab pernah mengusih seorang pemuda dari masjid, karena matahari sudah tinggi, dia masih berzikir juga, tidak mau mencari rezeki.

      Antara  ibadah dan ma’isyah diseimbangkan oleh Allah bahkan menghidupkan ekonomi bagian dari ibadah, sebagaimana ketegasan Allah dalam surat Jumu’ah ayat 9-10, ”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.

      Islam sangat santun dalam berdagang, itulah ajaran yang telah disampaikan oleh Rasulullah, sang reformis dalam bidang ekonomi. Kita tidak boleh menipu, mengurangi takaran dan timbangan, memanipulasi, tindakan zhalim dan terjerat oleh riba. Selama ummat islam belum melepaskan diri dari riba maka harta yang diperoleh tidaklah berkah serta selama itu pula ekonomi ummat islam dibawah jajahan bankir-bankir Yahudi dan Nasrani.
 
5.Reformasi Bidang Sosial
      Masyarakat Quraisy ketika hidup dalam bentuk tatanan kehidupan sosial yang mirip dengan kasta sebagaimana agama Hindu, bahkan mereka menjadikan manusia lainnya sebagai budak, yang boleh diperjual belikan serta diapakanpun terserah majikan merupakan hak majikannya. Kita lihat bagaimana  seorang sahabat Nabi bernama Bilil, seorang bekas budak hitam yang nyaris dibunuh oleh majikannya bernama Muawiyah lantaran Bilal memeluk agama baru yang dibawa oleh Muhammad, yaitu agama yang tidak mengukur manusia berdasarkan suku, bangsa dan kabilah, tidak mamandang manusia karena wajah dan warna kulitnya, tapi meletakkan kemuliaan pada pengabdian dan ketaqwaan kepada Alllah, ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang bertaqwa diantara kamu...”[Al Hujurat ;13].

6.Reformasi Bidang Akhlak
      Tiada yang lebih hancur suatu bangsa di dunia ini ketika melihat akhlak bangsa jahiliyah, bangsa Quraisy, perjudian dan zina adalah perbuatan biasa, mabuk dan memakan riba budaya hariannya, saling baku hantam, perpecahan dan bunuh-bunuhan berita setiap hari yang mereka dengarkan. Karena biadapnya kehidupan meteka ketika itu dicap sebagai ummat jahiliyah, yang hidup dalam kegelapan dan kebodohan.

      Pada bangsa yang demikian seorang reformis bernama Muhammad diberi gelar Al Amin, karena akhlak mulia yang dimilikinya agar ditularkan kepada bangsa manusia seluruhnya sehingga menjadi umat yang beradab, inilah pengakuan beliau ketika wahyu diberikan, ”Innama Bu’istu liutamimma makarimal akhlak” [sesungguhnya aku dibangkitkan di dunia ini untuk memperbaiki akhlak manusia].

      Jadilah ummatnya yang punya akhlakul karimah karena mencontoh langsung kepada figur yang menyampaikan yaitu Rasulullah. Beliau standard akhlak yang disebutkan Allah, untuk kita teladani dalam kehidupan sehari-hari, ”Sesungguhnya engkau Muhammad mempunyai budi pekerti yang luhur” [Al Qalam], ”Sesungguhnya dalam pribadi Rasulullah itu ada contoh teladan yang baik bagimu” [Al Ahzab;21].

7.Reformasi Bidang Islamiyyah
      Kehidupan jahiliyah adalah kehidupan yang kelam, bodoh, jauh dari cahaya iman dan menyengsarakan sehingga sulit untuk menerima kebenaran. Corak jahiliyah yang diterapkan oleh bangsa Quraisy terhadap Islam adalah; mereka tidak mau menerima kebenaran Islam karena pengikut agama ini orang-orang yang rendah status sosialnya, mereka menolak Islam karena sedikit sekali orang yang mendukung Islam ketika itu. Islam tidak cocok dengan mereka sebab tenggelam dengan sikap dan sifat yang bertentangan dengan fithrah manusia sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya, ”Watak jahiliyah itu adalah membanggakan keturunan, bangga dengan kedudukan sosial, meratapi orang yang mati dan minta hujan kepada bintang”.

      Kinipun kita sedang tenggelam pada bentuk baru jahiliyah diantaranya dalam politik menghalalkan segala cara, pada bidang moral kita cendrung permisive yaitu faham serba boleh walaupun bertentangan dengan ajaran agama Islam, pada bidang adat kita tidak beda dengan kehidupan primitif dan pada pendidikan kita berwatak sekuler yaitu mengabaikan agama dan nilai-nilai Islam.

      Sejak kehadiran Rasulullah beliau telah mengajak ummatnya untuk hijrah minal jahiliyah ilal islam yaitu pindah dari kehidupan yang jahiliyah kepada kehidupan yang Islami, sehingga Islam bagi ummatnya menjadi Minhajul Hayah yaitu sistim kehidupan.

      Dalam waktu yang relatif singkat nabi Muhammad berhasil menyelesaikan tujuh agenda reformasi dalam rangka memperbaiki ummat ini. Beliaulah bapak reformasi dalam rangka memperbaiki ummat ini, beliaulah bapak reformasi sejati yang ucapannya dibuktikan oleh amal-amal perbuatannya. Dia tidak akan menyuruh seseorang sebelum dia melaksanakan lebih dahulu dan beliau berpantang melarang orang dari satu perbuatan sebelum beliau sendiri telah meninggalkannya.

      Beliau adalah orang yang dijamin Allah masuk syurga, dosa-dosa yang lalu dan akan datang telah diampuni Allah tapi beliaulah orang yang paling banyak ibadahnya. Beliau adalah orang yang maksum artinya terjaga dari berbuat salah tapi  beliau sangat berhati-hati dalam bertindak, berucap  dan bercanda, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14 Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010].





Tidak ada komentar:

Posting Komentar