Jumat, 11 Desember 2015

49. Popularitas



Banyak jalan yang bisa ditempuh agar kita dikenal orang dimana-mana, baru saja menyebut namanya, melihat pakaian dan sosok penampilan yang samar-sama saja sudah dapat diduga kalau orang itu si Fulan, dia dikenal oleh khalayak ramai karena beberapa hal yang dia miliki. Kepopuleran seseorang bisa karena kaya, punya harta yang banyak apalagi bersikap dermawan, bahkan kaya yang kikirpun bisa dikenal orang karena kekikirannya, orang bisa populer karena kekuasaan yang dimiliki, mungkin sebagai anggota dewan, menteri dan Presiden, yang membuat dia dikenal karena jabatan yang disandangnya, apalagi sebelum terpilih sebagai pejabat ada sosialisasi atau kampanye untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat, ada pula ketenaran seseorang karena dia seorang artis film layar lebar atau sinetron, penyanyi, sebagai da'i juga bisa populer ketika dipromosikan melalui media massa dengan da'wah yang penuh canda dan tawa sehingga yang mendengarkannya merasa terhibur bak pelawak saja.

Dengan  harta saja belum tentu populeritas dapat diraih sehingga langkah selanjutnya adalah menghabiskan kekayaan untuk sosialisasi diri melalui berbagai momen penting  seperti mengikuti Pemilihan Umum sebagai calon anggota legislatif pada sebuah Partai Politik atau mengikuti ajang pertempuran Pilkada, semua itu dilakukan dengan dalih pengabdian sehingga berapa saja dana akan dikeluarkan untuk meraihnya meskipun gajinya kelak sebagai anggota dewan atau sebagai kepala daerah tidak sebanding  dengan penghasilan hari ini sebagai pengusaha, tapi prinsip "Biar tekor asal kesohor" sudah menjadi motivasi sejak awal.

Kepopuleran seseorang ada yang positif karena kehebatan dan kecemerlangan  fikiran dan karyanya sehingga dapat membantu kehidupan masyarakat yang lebih baik, seperti pertanian, perkebunan, kerajinan ataupun terobosan-terobosan ekonomi yang dilakukan untuk memperbaiki nasib masyarakatnya, wajar bila dia dikenal dan populer bahkan tidak jadi masalah sekian penghargaan diberikan kepadanya. Namun tidak sedikit pula yang terkenal karena terjadi hal yang kontraversial dalam kehidupan seseorang, wajar bila ada pendapat yang mengatakan,"Ingin populer maka kencingi air zam-zam" artinya kalau ingin dikenal orang maka berbuatlah yang aneh-aneh.

Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Muhammad, sehingga kepopulerannya dikenal banyak orang, baik kawan ataupun lawan, baik mereka yang beragama islam bahkan yang beragama Nasranipun mengenalnya dengan baik, hal itu diungkapkan oleh seorang penulis yang beragama Nasrani bernama Michael H Hart yang mengarang sebuah buku dengan judul; Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, dia menyatakan;

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia….
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.
Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Ketenaran atau popuritas memang sifat yang ada pada manusia  untuk mencapai kepuasan hati, siapa yang tidak bangga andaikata seorang ayah punya anak yang menyandang kedudukan yang baik di tengah masyarakat, siapa yang tidak senang kalau orang yang dekat dengan keluarga kita ada yang menjabat pada suatu jawatan pemerintahan atau ada orang kampung kita jadi penyanyi, bintang film, pemain sepak bola, walaupun ketenarannya hanya pada skala di kampungnya saja, tapi dapat dijadikan sandaran kebanggaan sehingga mampu menepuk dada dan membuat hidung kita mendongak ke langit.

Orang yang populer pada sektor apa saja berawal dari sanjungan dan pujian yang dia terima dari orang lain karena ada kehebatan yang dia punya. Sanjungan inilah yang akan membuat orang semakin menjadi-jadi untuk menjadikan dirinya selalu populer. Pujian atau sanjungan pada satu sisi memang diperlukan sebagai sarana menghargai kerja keras seseorang sekaligus memotivasi dalam bergerak dan menjaga hubungan yang harmonis, seperti seseorang pimpinan memberi penghargaan kepada bawahannya dengan ucapan kebanggaan walaupun karya itu masih harus diperbaiki, ”Bagus sekali hasil kerja anda, tapi harus dibenahi lagi agar lebih baik”, seorang guru atau orangtua harus memberi penilaian kepada kerja murid/ anaknya dengan kalimat memperhatikan, ”Nilai enam cukup bagus, tapi kamu harus menaikan nilai ini tahun depan”.

            Dari segi agama pujian dan sanjungan sangat berbahaya atas diri seseorang yang dipuji yaitu;

            Pertama, pujian dan sanjungan itu akan menyebabkan seseorang lalai untuk mengoreksi dirinya, menjadikan lemah daya mawas diri bahkan mengakibatkan timbul rasa sombong dan angkuh serta kebanggaan terhadap dirinya, yang kesemuanya itu termasuk moral yang tercela, Rasulullah bersabda,”Hamburkanlah tanah pada muka orang-orang yang memuji itu”. 

            Kedua, apabila dipuji kebaikan dan keshalehannya, maka pasti menjadi senang tapi akan melemahkan kesungguhannya untuk beramal dan berbakti, bahkan dapat menghilangkan keikhlasannya, padahal beragama tanpa keikhlasan itu tidak ada artinya. Allah berfirman dalam surat al Baiyinah; 5, ”Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama bagi-Nya”.

            Syekh Musthafa Al Ghalayani berkomentar tentang orang-orang yang mabuk pujian; Seringkali kami melihat keadaan pribadi masing-masing manusia itu apabila mendapatkan pujian dan ancaman. Namun bagian terbesar dari para manusia itu jikalau tampak sekali kegembiraan hatinya, sekalipun isi pujian itu benarnya berupa suatu kebathilan yang nyata. Demikian pulalah bagian terbesar dari mereka itu jikalau dikecam atau dicela jelas sekali kemurungan atau ketidak senangan hatinya, sekalipun isi kecaman serta apa yang  dikecamkan kepadanya betul-betul berupa suatu kebenaran yang nyata dan dapat dibuktikan.

            Orang yang mengharapkan pujian orang lain atas amal yang dilakukan berarti dia berbuat tidak ikhlas atau niatnya tidak murni karena Allah tetapi karena riya’. Mengenai ukuran riya’, pernah dirumuskan oleh seorang ulama terkemuka bernama Fudhail bin Iyad sebagai berikut, ”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, beramal karena manusia adalah syirik, dan yang dinamakan iskhlas ialah mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari kedua sifat tersebut”.

            Maksud ucapan tersebut ialah, bahwa barangsiapa yang berniat hendak mengerjakan sesuatu ibadah kemudian ditinggalkannya [dibatalkan] karena takut dilihat manusia, maka dia telah berbuat riya’, sebab ditinggalkannya itu karena manusia, adapun kalau ditinggalkannya itu  dengan maksud untuk dikerjakan di tempat sepi, maka perbuatannya itu terpuji. Dalam hal ini dikecualikan mengenai amal fardhu seperti shalat, puasa, zakat dan lain-lain.

            Tidak termasuk kategori riya’ bila mengerjakan sesuatu amal secara terang-terangan, dilihat oleh manusia jika niatnya supaya  dicontoh orang, Rasululah bersabda, ”Orang yang beramal itu mendapat dua pahala, yaitu pahala karena sembunyi-sembunyi dan pahala karena terbuka [terang-terangan]”.

            Orang yang mudah larut dengan pujian dari segi Islam berarti hatinya sudah rusak, dihinggapi penyakit riya’ dan bayangan kehebatan pribadi, akhirnya tidak akan berbuat kalau tidak menerima pujian. Kelak di Padang Mashar akan di hadapkan oleh Allah tiga golongan besar manusia yaitu Pahlawan, Ilmuwan dan Dermawan. Ketiga golongan ini tidak berharga di hadapan Allah karena pahlawan melakukan perjuangan agar disebut sebagai pahlawan, mendapat penghargaan serupa bintang jasa serta dimakamkan di makam pahlawan.

            Sedangkan ilmuwan habis waktunya untuk mengajar dan belajar karena ingin disebut orang cerdik pandai, ulama, cendekiawan dan julukan-julukan lain, demikian pula hartawan habis dananya untuk membangun masjid, mushalla, membantu fakir miskin, menyelamatkan ummat dari kesengsaraan agar mendapat nama dengan sebutan  sebagai sang dermawan. Ketiga kelompok ini bukan dimasukkan ke syurga tapi dijerumuskan ke jahanam karena dia berbuat mengharapkan pujian manusia, sanjungan, popularitas dan tepukan.
           
            Cucu nabi Muhammad yang bernama Zainal Abidin tidak begitu populer pada masanya karena dia orang yang sibuk dengan ibadah-ibadah yang sengaja dia sembunyikan, dikala musim paceklik datang dia ibarat pahlawan yang membantu masyarakat yang sedang mengalami kesengsaraan, di rumah mana saja yang hidupnya susah dan serba kekurangan selalu saja ada bantuan yang datang mengantarkan, kadang kala bantuan itu ada saja di balik pintu, terletak di teras ataupun ada di belakang rumah, yang orang tidak tahu darimana asal bantuan itu.

            Ketika tersiar kabar bahwa Zainal Abidin wafat, barulah masyarakat merasakan paceklik semakin menjadi-jadi karena tidak ada lagi bantuan yang datang secara misterius pada setiap rumah yang kekurangan, masyarakat sudah dapat menduga bahwa orang yang memberikan bantuan setiap waktu itu adalah cucu Rasulullah yang bernama Zainal Abidin, dia populer setelah meninggal sehingga lepas dari sifat dan sikap riya' untuk mendapatkan populeritas dunia yang hanya sementara saja.

            Di Negeri Bashrah dahulu dikabarkan ada seorang ulama yang dikenal oleh masyarakat luas karena ilmu dan keshalehannya, rasanya tidak ada orang yang tidak kenal dengannya. Pada suatu perjalanan dia kemalaman pada sebuah masjid, setelah shalat Isya dia tertidur karena rasa letih yang dirasakan. Tidak begitu lama seorang pengurus masjid menyuruhnya keluar karena tidak dibolehkan tidur di dalam masjid, teguran dua sampai tiga kali tidak menyentakkan sang ulama itu sehingga kakinya ditarik sampai ke pintu masjid, lalu masjid di kunci, sang penguruspun pergi. Sang ulama terbangun sambil berkata lirih dan bangga,"Alhamdulillah, untung mereka tidak kenal siapa saya sebenarnya, kalau mereka tahu siapa saya tentu mereka akan memberikan penghormatan lebih dari itu yang membuat saya merasa tersanjung dan menghilangkan keikhlasan saya".

            Karena mengharapkan tepukan, sanjungan dan populeritas membuat siapa saja lupa dengan perjalanan yang sebenarnya hatta dia seorang ulama, kiyai dan da'i sebagaimana yang diungkapkan oleh Herry Nurdi pada Website Majalah Islam Sabili, pesannya kepada para da'i
Senantiasa Meluruskan Niat. Awal dari semua, pangkal dari segala adalah niat mulia yang harus senantiasa terjaga dalam diri seorang dai. “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat dan apa yang didapatkan oleh setiap orang itu tergantung pada niatnya...,”demikian sabda Rasulullah. (HR Abu Dawud-An Nasa’i)
Mengikrarkan niat lurus, insya Allah adalah sesuatu yang selalu dilakukan seorang dai. Tapi menjaga niat tetap lurus di tengah jalan dan selama proses, tentu bukan hal mudah. Sebab, syetan tak akan pernah diam. Dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang, panah-panah godaan selalu dilesatkan.
Sungguh rugi bagi para dai yang melakukan amalan-amalan akhirat, tapi di tengah jalan niat menjadi tergelincir untuk tujuan dunia. Riya’ dan keinginan pada kesenangan dunia, seringkali menyelisip dengan halus pada hati seorang dai. Tak terasa, begitu halusnya, seolah-olah wujud sebagai niat baik yang bertujuan mulia.
Muhammad bin Abdul Wahhab, yang sering disebut sebagai peletak dasar gerakan “Wahabi” membagi amalan dunia yang menyelisip pada amalan akhirat dalam empat kriteria. Pertama, seorang hamba yang melakukan amal-amal shalih tetapi tidak dengan tujuan balasan di akhirat. Dia menginginkan agar Allah menjaga dan menambah harta, keluarga dan kenikmatan yang dirasakannya. Mereka tidak mementingkan balasan surga dan dijauhkan dari neraka, mereka hanya berharap balasan dunia. Maka Allah mengabulkan permintaannya. Kedua, seorang hamba yang berbuat dengan riya’ pada seluruh amal shalihnya. Perbuatan ini, jauh lebih bahaya dari perbuatan yang pertama. Ketiga, seorang hamba yang melakukan amal shalih demi imbalan dunia. Seperti berhijrah demi dunia, berjihad demi ghanimah atau belajar untuk meraih ijazah. Keempat, seorang hamba yang ikhlas berbuat demi Allah dan kemuliaan Islam, tapi yang bersangkutan melakukan satu perbuatan kafir yang membuatnya keluar dari Islam [Titip Pesan untuk Dai di Bulan Suci,Senin, 09 Agustus 2010 02:18 Herry nurdi]
Salah satu identitas seseorang masuk Islam yaitu mengucapkan kalimat ”Laa Ilaaha Illallah”  selain berarti ”Tidak ada Tuhan selain Allah” juga bermakna, ”Tidak ada yang layak menerima sanjungan dan pujian kecuali Allah”. Kalau seorang muslim larut oleh pujian manusia berarti dia telah keluar dari persaksian padahal dia mengetahui bahwa setiap shalat selalu membaca Al Fatihah yang intinya memuji Allah, ”Segenap puja dan puji milik Allah, Tuhan penguasa alam semesta”.

            Vitamin suatu sanjungan penting dalam rangka menggairahkan kerja dan meningkatkan motivasi kita dalam berbuat dan beramal, tapi jangan larut dengan pujian, karena dapat melenakan seseorang dan mengantarkannya kepada kerusakan pribadi, amalnya tidak mendapat pahala, sombongnya semakin menjadi, hidupnyapun habis begitu saja, wallahu a'lam [[Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar