Banyak jalan yang bisa ditempuh agar kita
dikenal orang dimana-mana, baru saja menyebut namanya, melihat pakaian dan
sosok penampilan yang samar-sama saja sudah dapat diduga kalau orang itu si
Fulan, dia dikenal oleh khalayak ramai karena beberapa hal yang dia miliki.
Kepopuleran seseorang bisa karena kaya, punya harta yang banyak apalagi
bersikap dermawan, bahkan kaya yang kikirpun bisa dikenal orang karena
kekikirannya, orang bisa populer karena kekuasaan yang dimiliki, mungkin
sebagai anggota dewan, menteri dan Presiden, yang membuat dia dikenal karena
jabatan yang disandangnya, apalagi sebelum terpilih sebagai pejabat ada
sosialisasi atau kampanye untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat, ada pula
ketenaran seseorang karena dia seorang artis film layar lebar atau sinetron,
penyanyi, sebagai da'i juga bisa populer ketika dipromosikan melalui media
massa dengan da'wah yang penuh canda dan tawa sehingga yang mendengarkannya
merasa terhibur bak pelawak saja.
Dengan harta saja belum tentu populeritas dapat
diraih sehingga langkah selanjutnya adalah menghabiskan kekayaan untuk
sosialisasi diri melalui berbagai momen penting
seperti mengikuti Pemilihan Umum sebagai calon anggota legislatif pada
sebuah Partai Politik atau mengikuti ajang pertempuran Pilkada, semua itu
dilakukan dengan dalih pengabdian sehingga berapa saja dana akan dikeluarkan
untuk meraihnya meskipun gajinya kelak sebagai anggota dewan atau sebagai
kepala daerah tidak sebanding dengan
penghasilan hari ini sebagai pengusaha, tapi prinsip "Biar tekor asal
kesohor" sudah menjadi motivasi sejak awal.
Kepopuleran seseorang
ada yang positif karena kehebatan dan kecemerlangan fikiran dan karyanya sehingga dapat membantu
kehidupan masyarakat yang lebih baik, seperti pertanian, perkebunan, kerajinan
ataupun terobosan-terobosan ekonomi yang dilakukan untuk memperbaiki nasib
masyarakatnya, wajar bila dia dikenal dan populer bahkan tidak jadi masalah
sekian penghargaan diberikan kepadanya. Namun tidak sedikit pula yang terkenal
karena terjadi hal yang kontraversial dalam kehidupan seseorang, wajar bila ada
pendapat yang mengatakan,"Ingin populer maka kencingi air zam-zam"
artinya kalau ingin dikenal orang maka berbuatlah yang aneh-aneh.
Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Muhammad, sehingga kepopulerannya dikenal banyak orang, baik kawan ataupun lawan, baik mereka yang beragama islam bahkan yang beragama Nasranipun mengenalnya dengan baik, hal itu diungkapkan oleh seorang penulis yang beragama Nasrani bernama Michael H Hart yang mengarang sebuah buku dengan judul; Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, dia menyatakan;
Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad
dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin
mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain.
Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya
manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik
ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Sebagian besar dari orang-orang yang
tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan
dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat
perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota
Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu
merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan,
seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun,
dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber
Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru
mulai membaik di umur dua puluh lima
tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai
mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya
sebagai manusia….
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar
agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki
tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit
punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin
onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah
berjarak 200 mil. Di kota
itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas
Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan
pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat
menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina.
Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara
itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di
Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat
Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan
tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu
habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok
ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan
melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling
mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga,
Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu
sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat
dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua
kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda
tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya.
Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam
ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung
jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas
tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama
teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian
Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung
jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan
moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan
wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian
terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih
hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah
dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan
Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan.
Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran
Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum
Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani,
pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan
pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia
Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh
Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa)
Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta
menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan
bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan
sepanjang waktu.
Jadi, dapatlah kita
saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan
peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah
saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi
duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap
Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam
sejarah.
Ketenaran atau popuritas
memang sifat yang ada pada manusia untuk
mencapai kepuasan hati, siapa yang tidak bangga andaikata seorang ayah punya
anak yang menyandang kedudukan yang baik di tengah masyarakat, siapa yang tidak
senang kalau orang yang dekat dengan keluarga kita ada yang menjabat pada suatu
jawatan pemerintahan atau ada orang kampung kita jadi penyanyi, bintang film,
pemain sepak bola, walaupun ketenarannya hanya pada skala di kampungnya saja,
tapi dapat dijadikan sandaran kebanggaan sehingga mampu menepuk dada dan
membuat hidung kita mendongak ke langit.
Orang yang populer pada
sektor apa saja berawal dari sanjungan dan pujian yang dia terima dari orang
lain karena ada kehebatan yang dia punya. Sanjungan inilah yang akan membuat
orang semakin menjadi-jadi untuk menjadikan dirinya selalu populer. Pujian atau sanjungan pada satu sisi
memang diperlukan sebagai sarana menghargai kerja keras seseorang sekaligus
memotivasi dalam bergerak dan menjaga hubungan yang harmonis, seperti seseorang
pimpinan memberi penghargaan kepada bawahannya dengan ucapan kebanggaan
walaupun karya itu masih harus diperbaiki, ”Bagus sekali hasil kerja anda, tapi
harus dibenahi lagi agar lebih baik”, seorang guru atau orangtua harus memberi
penilaian kepada kerja murid/ anaknya dengan kalimat memperhatikan, ”Nilai enam
cukup bagus, tapi kamu harus menaikan nilai ini tahun depan”.
Dari
segi agama pujian dan sanjungan sangat berbahaya atas diri seseorang yang
dipuji yaitu;
Pertama,
pujian dan sanjungan itu akan menyebabkan seseorang lalai untuk mengoreksi
dirinya, menjadikan lemah daya mawas diri bahkan mengakibatkan timbul rasa
sombong dan angkuh serta kebanggaan terhadap dirinya, yang kesemuanya itu
termasuk moral yang tercela, Rasulullah bersabda,”Hamburkanlah tanah pada muka
orang-orang yang memuji itu”.
Kedua,
apabila dipuji kebaikan dan keshalehannya, maka pasti menjadi senang tapi akan
melemahkan kesungguhannya untuk beramal dan berbakti, bahkan dapat
menghilangkan keikhlasannya, padahal beragama tanpa keikhlasan itu tidak ada
artinya. Allah berfirman dalam surat al Baiyinah; 5, ”Mereka tidak
diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama
bagi-Nya”.
Syekh
Musthafa Al Ghalayani berkomentar tentang orang-orang yang mabuk pujian;
Seringkali kami melihat keadaan pribadi masing-masing manusia itu apabila
mendapatkan pujian dan ancaman. Namun bagian terbesar dari para manusia itu
jikalau tampak sekali kegembiraan hatinya, sekalipun isi pujian itu benarnya
berupa suatu kebathilan yang nyata. Demikian pulalah bagian terbesar dari
mereka itu jikalau dikecam atau dicela jelas sekali kemurungan atau ketidak
senangan hatinya, sekalipun isi kecaman serta apa yang dikecamkan kepadanya betul-betul berupa suatu
kebenaran yang nyata dan dapat dibuktikan.
Orang
yang mengharapkan pujian orang lain atas amal yang dilakukan berarti dia
berbuat tidak ikhlas atau niatnya tidak murni karena Allah tetapi karena riya’.
Mengenai ukuran riya’, pernah dirumuskan oleh seorang ulama terkemuka bernama
Fudhail bin Iyad sebagai berikut, ”Meninggalkan amal karena manusia adalah
riya’, beramal karena manusia adalah syirik, dan yang dinamakan iskhlas ialah
mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari kedua sifat tersebut”.
Maksud
ucapan tersebut ialah, bahwa barangsiapa yang berniat hendak mengerjakan
sesuatu ibadah kemudian ditinggalkannya [dibatalkan] karena takut dilihat
manusia, maka dia telah berbuat riya’, sebab ditinggalkannya itu karena
manusia, adapun kalau ditinggalkannya itu
dengan maksud untuk dikerjakan di tempat sepi, maka perbuatannya itu
terpuji. Dalam hal ini dikecualikan mengenai amal fardhu seperti shalat, puasa,
zakat dan lain-lain.
Tidak
termasuk kategori riya’ bila mengerjakan sesuatu amal secara terang-terangan,
dilihat oleh manusia jika niatnya supaya
dicontoh orang, Rasululah bersabda, ”Orang yang beramal itu mendapat dua
pahala, yaitu pahala karena sembunyi-sembunyi dan pahala karena terbuka
[terang-terangan]”.
Orang
yang mudah larut dengan pujian dari segi Islam berarti hatinya sudah rusak,
dihinggapi penyakit riya’ dan bayangan kehebatan pribadi, akhirnya tidak akan
berbuat kalau tidak menerima pujian. Kelak di Padang Mashar akan di hadapkan
oleh Allah tiga golongan besar manusia yaitu Pahlawan, Ilmuwan dan Dermawan.
Ketiga golongan ini tidak berharga di hadapan Allah karena pahlawan melakukan
perjuangan agar disebut sebagai pahlawan, mendapat penghargaan serupa bintang
jasa serta dimakamkan di makam pahlawan.
Sedangkan
ilmuwan habis waktunya untuk mengajar dan belajar karena ingin disebut orang
cerdik pandai, ulama, cendekiawan dan julukan-julukan lain, demikian pula
hartawan habis dananya untuk membangun masjid, mushalla, membantu fakir miskin,
menyelamatkan ummat dari kesengsaraan agar mendapat nama dengan sebutan sebagai sang dermawan. Ketiga kelompok ini
bukan dimasukkan ke syurga tapi dijerumuskan ke jahanam karena dia berbuat
mengharapkan pujian manusia, sanjungan, popularitas dan tepukan.
Cucu nabi Muhammad yang
bernama Zainal Abidin tidak begitu populer pada masanya karena dia orang yang
sibuk dengan ibadah-ibadah yang sengaja dia sembunyikan, dikala musim paceklik
datang dia ibarat pahlawan yang membantu masyarakat yang sedang mengalami
kesengsaraan, di rumah mana saja yang hidupnya susah dan serba kekurangan
selalu saja ada bantuan yang datang mengantarkan, kadang kala bantuan itu ada
saja di balik pintu, terletak di teras ataupun ada di belakang rumah, yang
orang tidak tahu darimana asal bantuan itu.
Ketika tersiar kabar bahwa
Zainal Abidin wafat, barulah masyarakat merasakan paceklik semakin menjadi-jadi
karena tidak ada lagi bantuan yang datang secara misterius pada setiap rumah
yang kekurangan, masyarakat sudah dapat menduga bahwa orang yang memberikan
bantuan setiap waktu itu adalah cucu Rasulullah yang bernama Zainal Abidin, dia
populer setelah meninggal sehingga lepas dari sifat dan sikap riya' untuk
mendapatkan populeritas dunia yang hanya sementara saja.
Di Negeri Bashrah dahulu
dikabarkan ada seorang ulama yang dikenal oleh masyarakat luas karena ilmu dan
keshalehannya, rasanya tidak ada orang yang tidak kenal dengannya. Pada suatu
perjalanan dia kemalaman pada sebuah masjid, setelah shalat Isya dia tertidur
karena rasa letih yang dirasakan. Tidak begitu lama seorang pengurus masjid
menyuruhnya keluar karena tidak dibolehkan tidur di dalam masjid, teguran dua
sampai tiga kali tidak menyentakkan sang ulama itu sehingga kakinya ditarik
sampai ke pintu masjid, lalu masjid di kunci, sang penguruspun pergi. Sang
ulama terbangun sambil berkata lirih dan bangga,"Alhamdulillah, untung
mereka tidak kenal siapa saya sebenarnya, kalau mereka tahu siapa saya tentu
mereka akan memberikan penghormatan lebih dari itu yang membuat saya merasa
tersanjung dan menghilangkan keikhlasan saya".
Karena mengharapkan
tepukan, sanjungan dan populeritas membuat siapa saja lupa dengan perjalanan
yang sebenarnya hatta dia seorang ulama, kiyai dan da'i sebagaimana yang
diungkapkan oleh Herry Nurdi pada Website Majalah Islam Sabili, pesannya kepada
para da'i
Senantiasa Meluruskan Niat. Awal dari
semua, pangkal dari segala adalah niat mulia yang harus senantiasa terjaga
dalam diri seorang dai. “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat
dan apa yang didapatkan oleh setiap orang itu tergantung pada
niatnya...,”demikian sabda Rasulullah. (HR Abu Dawud-An Nasa’i)
Mengikrarkan niat lurus, insya Allah adalah
sesuatu yang selalu dilakukan seorang dai. Tapi menjaga niat tetap lurus di
tengah jalan dan selama proses, tentu bukan hal mudah. Sebab, syetan tak akan
pernah diam. Dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang, panah-panah godaan
selalu dilesatkan.
Sungguh rugi bagi para dai yang melakukan
amalan-amalan akhirat, tapi di tengah jalan niat menjadi tergelincir untuk
tujuan dunia. Riya’ dan keinginan pada kesenangan dunia, seringkali menyelisip
dengan halus pada hati seorang dai. Tak terasa, begitu halusnya, seolah-olah
wujud sebagai niat baik yang bertujuan mulia.
Muhammad bin Abdul
Wahhab, yang sering disebut sebagai peletak dasar gerakan “Wahabi” membagi
amalan dunia yang menyelisip pada amalan akhirat dalam empat kriteria. Pertama,
seorang hamba yang melakukan amal-amal shalih tetapi tidak dengan tujuan
balasan di akhirat. Dia menginginkan agar Allah menjaga dan menambah harta,
keluarga dan kenikmatan yang dirasakannya. Mereka tidak mementingkan balasan
surga dan dijauhkan dari neraka, mereka hanya berharap balasan dunia. Maka
Allah mengabulkan permintaannya. Kedua, seorang hamba yang berbuat
dengan riya’ pada seluruh amal shalihnya. Perbuatan ini, jauh lebih bahaya dari
perbuatan yang pertama. Ketiga, seorang hamba yang melakukan amal shalih
demi imbalan dunia. Seperti berhijrah demi dunia, berjihad demi ghanimah atau
belajar untuk meraih ijazah. Keempat, seorang hamba yang ikhlas berbuat
demi Allah dan kemuliaan Islam, tapi yang bersangkutan melakukan satu perbuatan
kafir yang membuatnya keluar dari Islam [Titip Pesan untuk Dai di Bulan Suci,Senin, 09 Agustus 2010 02:18 Herry nurdi]
Salah satu
identitas seseorang masuk Islam yaitu mengucapkan kalimat ”Laa Ilaaha
Illallah” selain berarti ”Tidak ada
Tuhan selain Allah” juga bermakna, ”Tidak ada yang layak menerima sanjungan dan
pujian kecuali Allah”. Kalau seorang muslim larut oleh pujian manusia berarti
dia telah keluar dari persaksian padahal dia mengetahui bahwa setiap shalat
selalu membaca Al Fatihah yang intinya memuji Allah, ”Segenap puja dan puji
milik Allah, Tuhan penguasa alam semesta”.
Vitamin
suatu sanjungan penting dalam rangka menggairahkan kerja dan meningkatkan
motivasi kita dalam berbuat dan beramal, tapi jangan larut dengan pujian,
karena dapat melenakan seseorang dan mengantarkannya kepada kerusakan pribadi,
amalnya tidak mendapat pahala, sombongnya semakin menjadi, hidupnyapun habis
begitu saja, wallahu a'lam [[Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar