Buya
Hamka mengartikan bahagia adalah tercapai apa yang dikehendaki seseorang, kalau
ia ingin jadi seorang sarjana maka dia akan serius belajar hingga gelar itu
dapat peroleh, saat itulah rasa bahagai menggelayut di hatinya. Aristoteles mengatakan bahwa bahagia itu adalah
kesenangan masing-masing, apapun yang dirasakan oleh seseorang dan dia merasa
senang dengan kondisi itu, maka itulah makna bahagia. Sedangkan Imam Al Gazali
mengatakan bahagia itu dengan kedekatan seseorang dengan Allah, dalam kondisi
apapun dia bila merasa dekat dengan melakukan ibadah maka itulah yang dikatakan
dengan bahagia.
Sifat manusia yang digambarkan Allah dalam
firman-Nya adalah yang berusaha menghilangkan kesusahan, bahaya dan penderitaan
yang dialaminya melalui pertolongan Allah, tapi dikala kesusahan, bahaya dan
penderitaan itu dijauhkan dari mereka, dengan pongahnya dia melupakan Allah; "Dan apabila manusia ditimpa
bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri,
tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui
(jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk
(menghilangkan) bahaya yang Telah menimpanya. begitulah orang-orang yang
melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.' [Yunus 10;12]
Pada suatu hari ada seorang musafir yang sedang
melakukan perjalanan, karena panas yang terik, lelah yang dirasakannya,
akhirnya sang musafir beristirahat pada sebuah kebun. Dalam suasana hening saat
itu lamunannya tertuju pada dua pohon, pohon beringin dan pohon semangka. Dia
bergumam dalam hati,"Sungguh Allah tidak adil" ketika dia melihat
pohon beringin dengan buah kecil-kecil padahal pohonnya besar, sedangkan pohon
semangka yang kecil tapi buahnya besar.
Belum
lagi usai dari lamunannya, tiba-tiba jatuhlah buah beringin mengenai matanya,
rasa pedih pada matanya mengeluarkan air membuat perasaannya tidak enak lansung
sang musafir berkata,"Memang Allah itu adil, kalaulah pohon beringin itu
buahnya besar tentu akan hancur mata saya".
Sepanjang sejarah hidup manusia sepanjang
itu pula manusia berupaya untuk meraih bahagia dengan berbagai cara hingga
harus mengorbankan kebahagiaan orang lain, ada empat bentuk bahagia bagi
manusia;
1.Hidup Untuk Makan
Orang
yang menjadikan hidupnya hanya untuk makan saja maka dikala makanan belum dia
peroleh maka rasa resah dan gelisah selalu menyelimuti dirinya, hidupnya hanya
penuh dengan kegiatan bekerja dan bekerja untuk memperoleh makanan setelah makan
dia akan bekerja lagi, bila makan telah dia penuhi maka dia merasa bahagia.
Bila hidup hanya untuk makan saja maka tidak ubahnya sebagainama hewan;
Sebuah ungkapan mengatakan, dikala
seseorang punya jabatan yang paling rendah, dia hanya mampu berkata, ”Apa makan kita sekarang?”, sudah bisa
memilih lauk pauk dan pangan untuk setiap makan, statusnya mulai diperhitungkan
orang dengan posisi dan fasilitas yang dimiliki, diapun bertanya lain, ”Makan dimana kita sekarang ?”, tidak
puas hanya menikmati masakan isteri tersayang, tapi rumah makan dan restoran
silih berganti jadi langganannya, dia sudah bisa memilih rumah makan model apa
yang harus dikunjungi untuk pejabat seperti dia.
Bukan itu saja, saat posisi itu
betul-betul kuat, titelnya membuat orang takut, jabatannya membuat orang salud,
diapun bertindah sewenang-wenang dengan mengatakan, ”Makan siapa kita
sekarang?”, tidak masalah walaupun rakyat kecil yang didera oleh kesusahan
dan kepedihan hidup jadi sasaran tembaknya. Itulah gambarannya arogansi kekuasaan
yang tidak dikendalikan oleh iman, bangsa sendiri dimakan, bila perlu anak
kemenakan sendiri ditelan demi kekuasaan.
2.Hidup Untuk
Kepentingan Dirinya
Bagi orang ini dia akan merasa bahagia manakala
segala kepentingan pribadinya dapat terpenuhi sebanyak mungkin sehingga
menumpuk-numpuk harta dengan berbagai bentuk menjadi hobynya sehingga dia
disebut sebagai hartawan, dia juga mencari dan mengejar nama, pangkat serta
kehormatan dengan ambisius.
Ada pendapat yang mengatakan,"Biar Tekor asal
Kesohor" artinya untuk meraih kepopuleran dan jabatan tidak masalah kalau
harta habis untuk itu, jabatan dan wewenang
yang tidak diiringi dengan iman yang kuat cendrung berlaku sombong, ujud
kesombongannya nampak pada menyelewengkan jabatan, meremehkan orang lain,
menekan bawahan dan menjilat atasan.
3.Hidup Bahagia Dalam Batin dan Rohani
Bentuk
kebahagiaan yang lain adalah kebahagiaan
hanya dirasakan oleh batin seseorang sehingga tidak memperdulikan bentuk
fisiknya, bahkan dunia bagi mereka sama dengan penjara, rasa tersiksa, terhina,
pedih dan perihnya dunia ini sehingga berupaya untuk melepaskan diri dari dunia
dengan cara bunuh diri. Ada
pula yang merasa bahagia bila mendapati dirinya dalam keadaan tersiksa sehingga
dia berupaya menyakiti dirinya dengan segala cara.
Penampilan
bagi mereka tidak jadi masalah, penilaian orang terhadap dirinya bukan jadi
soal, pakaiannya yang terindah adalah
penuh dengan koyak dan tambalan, makanan yang terlezat adalah makanan seadanya
bahkan dedauan sebagai makanan pokoknya, hidupnya sebagaimana gaya seorang
sufi, tidak mengurus dunia bahkan membelakangi dunia dengan tenggelam dan sibuk
membenahi batin dan rohaninya. Ajaran ini percaya bahwa alam diciptakan oleh Tuhan Yang
Maha Esa, tapi bukan untuk kesenangan.
a. Alam ini sebagai penjara dan penyiksaan
terhadap diri manusia, dengan pendapat segala penderitaan yang dialami di dunia
ini sebagai balasan dosa yang telah dilakukan sedangkan segala kebahagiaan
adalah balasan kebaikan yang telah dilakukan,
b. Untuk menyelamatkan diri dari dunia
harus berkontemplasi atau bertapa, baik pertapaan fisik seperti tidak melakukan
aktivitas, berdiam diri dengan duduk pada satu tempat, tidak makan dan tidak
minum serta berpakaian yang serba jelek, atau mereka mengekang keinginan
terhadap dunia, karena dunia hanya menjanjikan kesengsaraan, kenikmatan dunia
adalah semu, akhiratlah atau hidup setelah kematian itulah kehidupan yang layak
dikejar.
c.
Doktrin ini melahirkan anti sosial, tidak peduli dengan lingkungannya bahkan
mereka cendrung mengasingkan diri melalui hidup di goa-goa atau dalam
pengembaraan sepanjang hidupnya, salah satunya membentuk pendetaisme sebagai
pendeta yang mengharamkan perkawinan, membunuh fithrah dan naluri manusia
dengan mengekang diri tanpa menikah sebagaimana layaknya manusia, tak ubahnya
dengan biaraisme.
4.Agama Perlu
Amal Tidak Perlu
Agama yang dipeluk ummat manusia sebenarnya untuk
menyelamatkan hidupnya di dunia hingga di akherat, di dunia hidup manusia akan
tertata dengan aturan yang rapi dibawah tuntunan nilai-nilai agama yang
berangkat dari hidaah dan keimanan, tuntutan iman adalah harus teraplikasi dengan amal shaleh, tidak
sekedar cerita apalagi bertentangan dengan tuntutan iman, bahkan orang yang
demikian termasuk orang-orang yang merugi hidupnya;
‘’Demi masaSesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran”[ Al Ashr 103;1-3]
Agama hanya sebatas diimani saja
tanpa diamalkan maka sia-sialah iman itu apalagi hanya sebatas diingat saja,
apakah mungkin agama hanya diingat saja tanpa diamalkan, kalau kita ingin makan
karena terasa lapar apakah cukup mengikat lapar lalu perut akan kenyang ? begitu
juga kalau seseorang sedang rindu dengan kekasihnya, apakah cukup ingat saja?,
tidak, tapi harus ada aktivitas yang dilakukan yaitu mencari makanan bagi yang
lapar dan mendatangi kekasihnya kalau sedang rindu, iman perlu amal sebagaimana
yang difirmankan Allah;
"Dan
sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa
bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan
: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi
buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang
Suci dan mereka kekal di dalamnya"[Al Baqarah 2;25].
5.Bahagia Sesuai
Dengan Ajaran Islam
Kebahagiaan yang disediakanAllah bukan hanya di
dunia saja dan bukan pula di akherat saja, bukanlah bahagia kalau hanya
semata-mata memenuhi hidup dengan materi lalu melupakan ukhrawi, nilai bahagia
itu semu bila hanya untuk batin saja lalu melupakan lahir.
"Dan carilah pada apa yang Telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan" [Al Qashash 28;77]
Seorang mukmin bila ingin hidup bahagia
dalam dekapan islam maka carilah bekal untuk kampung akherat melalui ibadah
kepada Allah, jangan lupakan dunia yang terbentang ini dengan kerja dan usaha
maksimal, hidup bersosial dengan berbuat baik kepada manusia dan menjaga
lingkungan dengan tidak membuat kerusakan padanya.
Kebahagiaan dunia bagaimanapun gemelapnya
paling lama dirasakan oleh manusiaenam puluh tahun, begitu juga kesengsaraan di
dunia walaupun penuh dengan derita yang bertubi-tubi juga paling lama dirasakan
hanya enampuluh tahun. Kita harus menghadapi dunia dengan penuh tatapan
optimis, masa depan bisa diraih dengan cita-cita dan harapan, jauhkan diri dari
sikap membenci dunia karena dunia adalah ladang untuk beramal, bagaimanapun
kondisi yang alami, seburuk apapun yang dirasakan jangan sampai diselimuti
perasaan putus asa apalagi melakukan bunuh diri, Rasulullah bersabda; "Janganlah
seseorang mengharap mati karena suatu bencana yang menimpa dirinya, dan
seandainya ia terpaksa, hendaklah dia berdo'a,"Ya Allah hidupkanlah aku
selama hidup itu baik untukku dan wafatkanlah aku jika wafat itu lebih baik
bagiku".
Itulah
berbagai konsep bahagia yang diversikan oleh berbagai pendapat manusia, tapi
itu semua berdasarkan selera dan nafsu manusia saja, Allah menuntun nafsu
manusia itu ke jalan kebenaran melalui wahyunya dengan islam. Islam adalah
agama yang lengkap, sempurna dan pasti membawa manusia kepada kebahagiaan,
sampai Rasululah menyatakan,"Barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan di
dunia maka raihlah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin menginginkan kehidupan
bahagia di akherat maka carilah dengan ilmu dan barangsiapa yang ingin bahagia kedua-duanya juga harus
mempunyai ilmu. Ada
beberapa ilmu yang harus dimiliki untuk mencapai kebahagiaan di dunia yaitu;
1.Memberi makna dalam hidup
Tujuan hidup manusia bukan hanya sekedar untuk
makan, minum dan berumah tangga lalu mati, dikubur dan habis perkara, bila
hanya sekedar itu saja maka sia-sialah tujuan hidup itu, tapi Allah punya
rencana bagus untuk kehidupan manusia sehingga hidupnya bermakna, tujuan hidup
itu adalah untuk beribadah, mengabdikan diri, tunduk dan patuh menjalankan
amanah Allah di dunia ini. Bila manusia tidak mau menerima tujuan hidup maka
percuma dia diciptakan karena salah satu unsur penciptaan manusia adalah
beribadah, orang yang mengerti tentang tujuan hidup maka dia akan menggunakan waktunya sebaik mungkin,
sebagaimana firman Allah;
"Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" [Adz Dzariyat 51'56]
Dunia adalah
tempat persinggahan manusia sementara saja setelah melalui alam ruh dan alam
rahim, sedangkan setelah alam dunia di lalui maka manusia akan masuk ke alam
barzakh dan alam akherat yang merupakan akhir dari segala urusan. Kehidupan di
dunia hanya sebentar saja ibarat persinggahan seorang musafir di sebuah pulau,
bila terlena dengan keindahan pulau maka akan ditinggalkan oleh kapal yang akan
mengantarkan ke pulau tujuan.
Hidup yang bermakna akan
mendatangkan kebahagiaan kepada pribadi masing-masing karena keberadaan
hidupnya berarti di tengah-tengah kehidupan manusia lainnya.
2.Badan yang
sehat
Unsur
kebahagiaan manusia yaitu badan yang sehat
yang kita sebut dengan jasmani terbuat dari materi yang berasal dari
saripati tanah yang dihasilkan dari protein nabati dan hewani. Melalui suatu
proses perkawinan, bertemunya sel
perempuan dengan sperma laki-laki, akhirnya jadilah zigot. Dari zigot ini
kemudian diproses lagi dalam satu tahapan hingga menghasilkan wujud manusia
kecil. Allah berfirman dalam surat Ash Shad 38;71
”Maka ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat.
Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah, maka apabila Aku sempurnakan
kejadiannya akan Aku tiupkan kepadanya ruh ciptaan-Ku. Maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepada-Nya”.
Jasmani
atau tubuh kasar menerima makanan berupa materi. Jasmani manusia yang berada
dalam kandungan bisa hidup setelah ditiupkan ruh dari Allah. Ruh sebagaimana yang dikatakan M.
Natsir Abdullah diibaratkan sebagai mesin. Sedang jasmani manusia diibaratkan
sebagai kerangka mobil. Tanpa rohani, jasmani tak akan berfungsi atau tak akan
memberi kekuatan kehidupan sebagaimana mesin yang telah diberi baterai.
Penyakit
yang akan diderita jasmani bila tidak terpelihara dengan baik diantaranya
koreng, paru-paru, jantung, influensa dan lain-lain. Sedang obat dan dokternya
mudah ditemukan sejak dari umum sampai kepada spesialis. Penyakit ini tidak
berbahaya bagi orang lain kecuali pada
dirinya sendiri. Umumnya, dalam usia muda manusia sering melupakan penyakit
jasmani karena baru ada gejala sebagaimana ungkapan yang mengatakan, ”Waktu muda orang tidak peduli kesehatan
untuk mengejar kekayaan, waktu tua tidak peduli kekayaan untuk mengejar
kesehatan”.
3.Jiwa yang
sehat
Kesehatan jiwa menjadikan unsur
pembawa kebahagiaan bagi manusia sehingga mampu menikmati hidup ini dengan
baik, jiwa manusia dilengkapi oleh tiga unsur yaitu; Syahwat dengan sifat pemalas, serakah dan lain-lain. Ghadab atau amarah dengan sifat
egoisme, kejam, senang dipuji dan lain-lain. Sedang yang ketiga yaitu Natiqah atau Mutmainnah dengan sifat bijaksana,
penimbang, tenang dan lain-lain. Nafsu inilah nanti yang pertama masuk syurga
sebagaimana firman Allah dalam surat Al Fajr 89;27-30,; ”Hai
jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan
diridhai-Nya. Maka masuklah dalam jamaah-jamaah-Ku dan masuklah ke dalam
syurga-Ku”.
Jiwa manusia adalah unsur yang
mempertanggungjawabkan segala sepak terjang yang pernah dilakukan yang tidak
pernah lepas dari pengawasan malaikat; ”Dan
disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa balasan apa-apa yang telah dikerjakannya dan
Dia lebih tahu apa yang telah mereka kerjakan” [Az Zumar 39;70],
Jenis
penyakit rohani yaitu sombong, kufur nikmat, mementingkan diri sendiri dan
lain-lain. Obatnya sangat sulit didapat, berbahaya bukan hanya bagi diri
sendiri tapi juga bagi orang lain. Orang masuk neraka bukan karena penyakit
jasmani tapi karena penyakit rohani,
sebagaimana sabda Nabi, ”Sesungguhnya
dalam jasmani itu ada segumpal daging, jika daging itu sehat maka sehatlah
jasmanimu. Jika daging itu rusak maka rusaklah seluruh jasmanimu, itulah dia
hati, wadah dari jiwa”
Berbahagialah
orang yang selalu menjaga jiwanya dengan baik sehingga hidupnya tentram di
dunia dan aman di akherat.
4.Hubungan pribadi yang harmonis
Kehidupan manusia tidak lepas dari interaksi antara satu dengan lainnya,
kadangkala karena pengaruh lidah menjadikan kehidupan menjadi konflik yang
berkepanjangan, untuk itu orang yang pandai menjaga lidahnya maka akan baiklah
hubungannya dengan orang lain, Rasululah memberi nasehat kepada sahabatnya
Muadz bin Jabbal, bahwa kunci yang paling pokok dalam akhlak adalah memelihara
lidah, ”Maukah kuberitahukan tentang tiang penyangga semua itu ?” kata
Rasulullah kepada Muadz ,”Tentu wahai Rasulullah” jawab Muadz, maka beliau
berkata, ”Peliharalah ini olehmu”, sambil menunjukkan lidahnya. Muadz bertanya
<”Wahai Rasulullah, apakah kami akan disiksa dengan sebab perkataan kami?”
Rasul menjawab,”Ibumu kehilangan kamu wahai Muadz, adalah orang yang tersungkur
dalam neraka di atas wajah-wajah mereka tidak lain karena akibat lisan mereka”
[HR. Turmuzi].
Karena peringatan ini, para shalafus
shaleh sangat berhati-hati ketika berbicara. Umar bin Khattab menjelaskan makna
nasehat Rasulullah kepada Muadz ini dengan ungkapan yang tepat, ”Barangsiapa
yang banyak bicara, banyaklah terpelesetnya, dan barangsiapa banyak terpelesetnya,
banyaklah dosanya,dan barangsiapa yang banyak dosanya nerakalah yang paling patut baginya”.
Dengan lidah orang mampu
menyampaikan informasi, dengan lidah pula penyanyi akan dikagumi karena elknya suara yang digemakan, karena lidah
pula akan timbul fitnah apalagi suatu yang keluar dari mulut seseorang wanita
yang dengan nada lembut, itulah makanya sejak jauh Rasul telah menyampaikan
pesan bahwa aurat wanita itu termasuk
lisannya, sebab perlengkapan wanita jauh berbeda dengan lelaki.
5.Mampu menangkap keindahan
Kalau
manusia mau untuk sejenak merenungi alam yang terbentang dengan segala makhluk
serta peristiwa yang terjadi didalamnya, maka tidak akan ditemui keingkaran
kepada Khaliqnya. Berfikir sejenak atas
peristiwa alam yang terjadi sehari-hari akan membangkitkan kesadaran yang
tinggi, bagaimana langi dan bumi diciptakan serta rintik hujan sampai ke tanah
yang dapat menyuburkan tanaman;
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa
apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati dan Dia sebarkan di
bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi. Sesungguhnya adalah tanda kebesaran Allah bagi kaum
yang berfikir” [Al Baqarah 2;164].
Jangankan kita menyaksikan alam raya
ini keluar dari orbit bumi, sedangkan di bumi saja dikala malam langit cerah,
bintang-bintang bertebaran dihiasi bulan dengan cahayanya memantul ke bumi,
hati orang mukmin jadi tunduk, merendah menerima kebesaran Ilahi. Ketika hujan
lebat di tengah malam yang pekat disertai badai yang kuat, dingin pula, gelegar
kilat yang menyambar tak terlintaskan di dalam hati manusia sedikit saja rasa
takut, mohon perlindungan kepada-Nya ? [Ar Ra’ad; 12-13].
Alangkah indahnya dunia ini dengan
aturannya yang rapi, susunan tubuh manusia, mata bening laksana kaca menghias
wajahnya, otak sebagai kendali kesadaran manusiapun teraur indah sehingga
manusia itu mulia dari makhluk yang lainnya. Pantaskah manusia berlaku sombong
kepada penciptanya, berlagak angkuh dan takabur sementara begitu banyak nikmat
Allah direguknya dalam hidup ini, orang
yang mampu menangkap keindahan dimana saja berada, ini merupakan unsur
kebahagiaan baginya karena dalam keindahan itu ada kenikmatan yang dapat
dirasakan.
6.Hidup yang layak
Hidup yang layak dengan standard normat sangat dibutuhkan oleh manusia dan
mereka akan merasa bahagia bila mampu memenuhi kehidupannya dengan cara yang
halal, bila sebuah keluarga hidupnya
miskin, maka banyak putra-putrinya terbengkalai pendidikannya, tidak
terbina dengan baik dalam rumah tangga. Banyaknya orang Islam yang
meninggalkan aqidah karena dorongan materi, karena segantang beras, sepotong
baju kaos atau seteguk dahaga dunia. Kesempatan ini digunakan oleh pihak-pihak
tertentu untuk mencari massa
bagi kepentingan misi mereka dengan dalih menolong, toleransi dan istilah lain
yang maksudnya sudah kita ketahui dengan jelas.
"Dan carilah pada apa yang
Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan. ". [Al Qashahs 28;77]
Allah tidak membenarkan bila harta hanya beredar pada satu golongan atau
satu bangsa saja, untuk itulah makanya ketika penghasilan layak sudah diperoleh
maka jangan melupakan untuk kepentingan orang lain melalui sedekah, infaq dan
zakat, dan Allah pun tidak memuji orang yang mengeluarkan biaya untuk
kepentingan yang tidak baik
7.Pekerjaan
yang menyenangkan
Dalam pandangan Islam, harta adalah sumber dan tenaga hidup, urat nadi
dalam kehidupan ini, diantara petunjuk Rasulullah, ”Carilah rezeki dari
celah-celah perut bumi”, ”Siapa yang menghidupkan atau menyuburkan tanah yang
gersang, maka tanah itu adalah miliknya”. Allah juga berfirman dalam surat Al
Jumuah 62; 10,; ”Jika kamu telah
selesai shalat maka bertebaranlah dimuka bumi ini untuk mencari karunia Allah”.
Islam membuka kesempatan untuk
mencari harta sebanyak-banyaknya demi kehidupan di dunia ini, Islam tidak
melarang untuk menikmati kemilaunya dunia ini, Islam tidak menghambat manusia
untuk makan yang lezat-lezat, silahkan. Akan tetapi dari mana harta serta
kenikmatan itu, apakah dari jalan halal atau haram. Perlu pula diingat, harta
serta kenikmatan yang diperoleh itu bukanlah milikmu mutlak, Islam mengaturnya
dengan baik, melalui zakat, sedekah, infaq dan derma lainnya. Dalam ajaran
Islam kaum muslimin diutamakan memberi dari pada menerima, dan segala sesuatu
itu dijalankan secara baik menurut ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu harta dalam Islam berfungsi sosial, hak individu dijamin, tapi
kewajiban terhadap kepentingan masyarakat tidak boleh diabaikan. Penumpukan
harta, manipulasi, kecurangan dalam bentuk apapun, penipuan, mementingkan diri
sendiri dan golongan dianggap pelanggaran apabila harta benda semakin menumpuk
pada seseorang atau sekelompok orang sementara masyarakat banyak sangat
memerlukan tidak mendapat perhatian.
Untuk mencari bahagia bagi
pencarinya diantaranya harus punya pekerjaan yang menyenangkan, dengan suasana
yang harmonis, walaupun kecil tapi penghasilan ada, biarlah tidak pekerjaan
tetap tapi tetap bekerja bagi keperluan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
8.Punya
falsafah hidup
Hidup agar menemukan bahagia harus memaknai hidup sesuai dengan kehendak
pemberi hidup yaitu Allah SWT yang akhirnya menjadi falsafah bagi ummatnya
yaitu hidup adalah rentetan dari ujian.
Kepercayaan kepada ketentuan Allah menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak
putus asa bertemu suatu kegagalan, hidupnya selalu optimis dan tidak pula
membanggakan diri karena sebuah kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil
usahanya sendiri. Juga akan membawa manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan
segala keberuntungan maupun kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah;
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami
telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji lagi ?”[Al Ankabut 29;2].
Manusia akan ditempa oleh waktu,
lingkungan dan pendidikan yang diperolehnya selama mengontrak sebidang
kehidupan di dunia ini, seorang Nabi lebih dahsyat tempaannya daripada manusia
biasa, cobaan yang diterimanya akan menentukan sampai dimana mutu manusia itu.
Dalam menghadapi segala tempaan ini,
tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan, tidak
sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa
butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta
banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada
juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.
Karena hidup
adalah ujian maka orang yang ingin bahagia hidup di dunia dan di akherat
berupaya menjadi orang yang lulus dari ujian disamping itu berhati-hati dalam
menempuh ujian tersebut.
9.Iman diiringi dengan amal shaleh.
Iman hanya diberikan kepada orang-orang yang
dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak preogratif Allah tanpa bisa dicampuri
oleh siapapun. Walaupun demikian iman tersebut akan diberikan memang kepada
orang-orang yang mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan
kepada keimanan, Allah berfirman; "Segala
puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami
sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami
petunjuk. "[Al A'raf 7;43]
"Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa
yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi" [Al A'raf 7;178]
Iman
harus dibuktikan dengan amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan yang
diajarkan oleh Rasullullah, barulah iman itu bermakna karena iman tanpa amal
ibarat otupia atau mimpi, iman yang diiringi dengan amal shaleh, baik yang
wajib dan yang sunnah maupun muamalah yang terpuji dengan manusia akan
mendatangkan perasaan bahagia dalam hidup ini, karena dengan potensi yang
dimiliki seperti harta dan jabatan dapat digunakan untuk kesejahteraan
masyarakat dan itupun amal shaleh, karena amal shaleh itu luas cakupannya;
"Dan
sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa
bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan
: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi
buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang
Suci dan mereka kekal di dalamnya"[Al Baqarah 2;25].
Itulah
unsur bahagia yang dapat diraih manusia di dunia ini, bila ingin bahagia maka
harus diraih bahagia itu dengan segala daya dan upaya, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar