Rabu, 09 Desember 2015

36. Kafir



Islam adalah agama yang benar, diturunkan untuk menyelesaikan persoalan dan menyelamatkan ummat manusia dari kehancuran kehidupan ini yang bila tanpa kendali dapat dipastikan kiamat besar akan terjadi. Penyebabnya kecendrungan manusia kepada jalan yang fasad [rusak] sangat besar dengan mengabaikan ajaran Khaliq yang telah memberi hidup kepadanya.

            Sungguh ironis memang manusia itu, terhadap Tuhan yang telah memberikan segala fasilitas hidup kepadanya, dibalas dengan penentangan dan segala bentuk kekafiran. Bahasa premannya, manusia itu memang tidak tahu diuntung, tidak pandai berterima kasih dan malah banyak yang ”kurang ajar”.

            Di dunia ini Allah memang telah memprediksi akan tampilnya tiga kelompok manusia. Nyatanya memang, di panggung sejarah ketiganya saling berebut pengaruh dan berupaya mencari audiens serta ingin mendominasi. Selanjutnya kelompok itu berkembang jdi idiologi yang dipertahankan oleh pengikutnya hingga tetesan darah penghabisan.

            Ketiga kelompok dimaksud pertama “mukmin” yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Kafir yaitu orang yang menentang atau mengingkari atas segala aturan Allah dengan segala isme yang melingkupinya. Terakhir adalah orang yang bermuka dua dan dikenal dengan sebutan “munafiq”, keimanannya sebatas decoration only, dekorasi dan hiasan bibir saja [Al Baqarah 2;1-20].

            Allah tidak memaksa manusia untuk beriman kepada-Nya. Karena itu memang hak azasi dan Allah memberi kebebasan kepada manusia sampai dimana usahanya untuk mencari dan berusaha menemui hidayah. Iman itu bukanlah hadiah atau warisan dari seorang bapak kepada keturunannya, apalagi keimanan yang sebenarnya iman, harus diraih dengan ikhtiar yang maksimal melalui kajian dan penghayatan terhadap keberadaan Allah dengan segala asfeknya.

            Keimanan seseorang tidaklah punya pengaruh terhadap eksistensi-Nya, sebagaimana Rasulullah menyatakan dalam hadits bahwa seandainya seluruh malaikat, jin dan manusia beriman kepada Allah maka tidak akan meninggikan derajat Allah. Sebaliknya bila seluruh malaikat, jin dan manusia ingkar, kafir dan menentang Allah, tidak akan merendahkan derajat Allah. Bahkan lebih tegas dikatakan; mau beriman silahkan daningin kafir tidak masalah. Sayid Qutb pernah menyatakan kepada orang-orang manafiq yang tidak terang-terangan memusuhi Islam dan ummatnya,”Masuk Islam keseluruhan atau tinggalkan Islam keseluruhan”.

            Pengingkaran ummat terdahulu kepada Allahpun menghiasi perjalajan kehidupan para Nabi dan Rasul, lantaran penyampai da’wah adalah seorang nabi yang bukan dari kalangan mereka, atau nabi itu mereka pandang rendah status sosialnya bahkan faktor gengsi lainnya membuat mereka tidak segan-segan menolak kebenaran yang diwahyukan itu. Banyak faktor memang yang menjadikan seorang kafir dan tidak sedikit pula faktor yang membuat orang beriman, membela kebenaran Islam dengan seluruh potensi hidupnya.

            Suatu ketika kafir Quraisy menyatakan maksudnya kepada Rasulullah untuk beriman kepada kebenaran ajaran Islam dengan syarat kalau beliau dapat menggeser bukit-bukit yang menghalangi mereka sehingga kota Mekkah lapang. Mendengar itu Rasulullah diberikan wahyu oleh Allah, bahwa sekiranya permintaan itu dikabulkan maka mereka tetap tidak akan beriman, itu hanya alasan saja untuk meramaikan perdebatan yang akhirnya merekapun mengolok-olok dan semakin jauh saja kesesatannya.

            Demikian pula halnya ummat Nabi Musa yang meragukan eksitensi Allah sehingga mereka meminta kepada Musa agar diperlihatkan Allah secara nyata agar keimanan mereka bertambah. Ini alasan yang mereka lontarkan, apakah dengan mereka dapat melihat Allah secara nyata lalu keimanan mereka akan bertambah ? belum tentu, ”Dan ingatlah ketika kamu berkata,”Hai Musa, kami tidak akan beriman kepada kamu sebelum kami melihat Allah dengan terang” karena itu kamu disambar halilintar, sedangkan kamu menyaksikan...”[Al Baqarah 2;55].

            Suatu argumentasi yang tidak masuk akal yaitu mengukur keimanan dengan sandaran panca indra. Padahal kemampuan panca indra manusia itu terbatas. Jangankan tentang wujud Allah, sedangkan rahasia kejadian manusia saja belum terungkap.

            Ketika Musa menyediakan dirinya untuk mengabulkan permintaan dari pengikutnya itu, mereka ingin melihat Allah dengan transparan, tetapi karena keterbatasan manusia akhirnya belum mampu memenuhi keinginan mereka. Justru yang terjadi musibah datang dengan hancurnya sebuah gunung, karena tidak sanggupnya menyaksikan eksistensi Allah. Walaupun demikian kekafiran masih kental di hati mereka. Bahkan saat Musa datang menemui kaumnya yang ditinggalkan bersama Nabi  Harun, bukan main gusarnya sebab ummat yang telah beriman, sepeninggal Musa mereka kafir kembali. Mereka menyembah anak sapi yang terbuat dari emas yang dapat mengeluarkan suara.

            Orang kafir adalah musuh Allah dan musuhnya orang-orang beriman. Orang kafir dibungkus oleh berbagai idiologi seperti komunis, sosialis dan isme-isme lain yang hakekatnya bentuk kekafiran dengan baju kemodernan atau kepalsuan yang dibungkus adat istiadat dengan praktek syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul. Segala bentuk ajaran yang tidak mengacu kepada ajaran Islam yang asholah [asli] adalah kekafiran baik diakui atau tidak.

            Salah satu kelompok yang tidak dicintai Allah adalah kelompok kafir yang dengan transparan melakukan penentangan kepada Allah, walaupun bentuk penentangan itu dengan berpaling dari kebenaran yang diwahyukan Allah, ”Katakanlah, ”Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”[Ali Imran 3;32].

            Kekafiran dimaksud bukanlah semata-mata karena tidak beriman kepada Allah, tapi maknanya luas sekali. Kekafiran yang mutlak adalah berada pada satu agama yang tidak Islam, posisi mereka ini jelas yaitu non muslim. Tetapi kekafiran juga tampak pada sebagian orang yang masih mengaku muslim, bukan kafir dari segi i’tiqad atau aqidah. Seorang muslim yang dengan sengaja meninggalkan shalat dapat dikategorikan dengan kafir karena mereka meninggalkan syariat. Tidak bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dikaruniakan-Nya juga dapat dikatakan kufur nikmat, tidak mau memakai hukum Allah juga termasuk karakteristik kafir, ”Siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”[Al Maidah 5;44].

            Orang kafir pada asfek manapun seperti kufur nikmat, fasiq, nifaq dan zhalim sangat sulit diberi  peringatan. Siapapun yang memberikan peringatan  pasti ditolak, karena Allah memang telah mengunci mati hati, pendengaran dan penglihatan mereka telah tertutup oleh sebab kekafiran mereka sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya, ”Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka juga tidak akan beriman.  Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi  mereka siksa yang amat berat” [Al Baqarah 2;6-7].

            Kelompok ini adalah orang-orang yang berprasangka buruk terhadap da’wah Islam sebagaimana yang disampaikan oleh seorang mujahid da’wah Hasan Al Banna dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada kami dan hatinya diliputi keraguan atas kami. Mereka selalu melihat kami dengan kaca mata hitam pekat dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan yang sinis. Kecongkakan telah mendorong mereka terus menerus berada pada keraguan, kesinisan dan gambarana negatif tentang kami.
            Bagi kelompok macam ini, kami bermohon kepada Allah Swt, agar berkenan memperlihatkan kebthilan sebagai kebathilan dan memberikan kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami memohon kepada Allah Swt agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus.

            Kami akan selalu menda’wahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami juga berdo’a kepada Allah Swt, agar berkenan menunjuki mereka. Memang hanya Allah yang dapat menunjuki mereka, kepada Nabi-Nya Allah berfirman tentang segolongan manusia, ”Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang  kamu sukai, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki” [Al Qashash;56].

            Usahalah yang kita miliki untuk menyebaran dan sosialisasi nilai-nilai Islam kepada orang-orang kafir tersebut, untuk senantiasa berda’wah tanpa harus berhenti, karena memang hidayah itu milik Allah. Ingat Rasulullah pernah mengatakan bahwa kita akan melihat ada orang yang hari ini beriman tapi kemudian besok sudah kafir dan tidak sedikit orang yang kafir di siang hari, saat malam tiba dia telah beriman dengan tidak diragukan komitmen keimanannya.
Di muka bumi kelakuan orang-orang kafir tiada lain merusak dengan jalan lisan; memfitnah, tangan melalui peperangan dengan maksud menghancurkan orang-orang yang beriman dengan berbagai cara dan dimana saja, mereka mengeluarkan dana dan tenaga bahkan nyawa untuk melindungi teman-temannya lalu mengarahkan perhatian untuk menghancurkan islam. Surat Al Anfal 8;73, ”Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu, hai para muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadilah kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”.

            Manusia itu tak ubahnya dengan makhluk Allah yang lain yaitu hewan, tapi bila beriman kepada Allah kedudukan manusia akan terangkat dan dihargai Allah. Keingkaran yang mereka pertahankan maka kualitasnya tidak lebih sebagai makhluk yang paling buruk, ”Sesungguhnya binatang [makhluk] yang paling buruk disisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman”.[Al Anfal 8;55].

            Di dunia ini hanya ada dua jalan yang akan dilalui manusia, terserah mereka yang akan memilih dan mengikuti jalan tersebut, jalan pertama yaitu keimanan di bawah pimpinan dan lindungan Allah untuk mencari ridha-Nya, sedangkan jalan yang lain yaitu jalan kesesatan di bawah komando syaitan, inilah yang akan dilalui orang-orang kafir, ”Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman” [Al A’raf 7;27].

            Segala yang diajarkan syaithan tiada lain jalan untuk menentang Allah dengan makar kebathilan. Setiap terjadi kebathilan pasti dikomandoi oleh syaithan lalu diikuti oleh pasukan pengikut kebathilan yaitu orang-orang kafir, ”Sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti  yang bathil dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka”.[Muhammad 47;3].

            Bila sudah mengatakan diri kafir kepada Allah maka pada saat itu tercatatlah mereka sebagai musuh orang yang beriman yang otomatis musuh Allah pula, bila mengenal musuh maka berhati-hatilah, jangan sampai keliru sehingga musuh dijadikan kawan atau kawan dijadikan musuh. Musuh Allah dan orang beriman salah satunya yang mutlak yaitu orang-orang kafir, ”Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatnya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” [Al Baqarah 2;98].  

            Keimanan harus dipaterikan sekuat-kuatnya, jangan sampai goyah apalagi ditukar dengan kekafiran, bila mana ditukar dengan kekafiran maka azab dan murka Allah bagi mereka, ”Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman,dia mendapat kemurkaan dari Allah...”[Al An’am 6;106]

            Kalau manusia mengikuti jalan kekafiran dibadah pimpinan syaian maka segala sifat dan sikapnya kepada orang beriman tidak akan baik, mereka selalu berusaha meredam kebencian dan menampakkan kebencian itu dengan tindakan merusak apalagi melihat orang beriman mendapat kebaikan dari Allah, baik lahir maupun batin atau keutamaan lain, ”Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkankan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan rahmat-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar”.[Al Baqarah 2;105]

            Bukan hanya sekedar tidak senang saja tapi berusaha agar orang yang beriman tersebut sama dengan mereka yaitu murtad, meninggalkan keimanan, ”Sebahagian ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang tumbuh dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran...’[Al Baqarah 2;109].

            Dengan memurtadkan orang yang beriman melalui berbagai cara, mau tidak mau, terpaksa atau suka rela terseret kepada ajakan mereka, inilah sifat busuk orang-orang kafir  yang ditunjukkan Allah, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamju mengikuti agama mereka”.[Al Baqarah 2;120].

            Segala perbuatan yang mereka lakukan demi kehancuran agama Allah, bukan umat beriman saja yang mereka rusak tapi ajaran Allahpun akan mereka padamkan, agar ajaran islam tidak laku dipakai dalam praktek kehidupan sehari-hari bagi pemeluknya, ”Mereka berkehendak memadamkan cahaya agama Allah dengan ucapan mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakannya cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai” [At Taubah 9;32].

            Supaya apa saja yang mereka lakukan untuk maksud tertentu berhasil mereka akan melakukan apa saja,bila sulit mempengaruhi ummat islam dengan jalan lembut, lisan yang manis, ancaman bahkan sampai peperangan fisik, hal ini terlalu banyak sejarah mencatat atas keganasan umat kafir kepada ummat islam, ”Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu kepada kekafiran seandainya mereka sanggup..”[Al Baqarah 2;217].

            Ada beberapa hal yang menjadikan manusia kafir kepada kebenaran, menolak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya diantaranya;

1.Rasa Agama Tidak dikembangkan
            Ketika manusia masih di dalam rahim sang ibunya sudah ada perjanjian dengan Allah bahwa dia akan menjadi hamba yang taat dan mengabdi hanya kepada Allah [Al A'raf 7;172]
Bila hal itu tidak dilatih dan tidak dikembangkan ketika di dunia maka cikal bakal keimanan tadi akan hilang, demikian pula halnya dalam hadits Rasulullah menyatakan, ”Tidak dilahirkan seseorang anak melainkan dalam keadaan fithrah suci dari dosa” [HR. Muslim]. Yang dimaksud dengan fithrah adalah kecendrungan untuk beriman kepada Allah dan mengingkari segala hal yang buruk.

Menurut Psikolog dinyatakan bahwa dalam diri manusia itru ada enam rasa yang harus dikembangkan yaitu intelek, susila, seni, harga diri, sosial dan religius. Keenam rasa tersebut harus dibina dididik dengan baik sehingga akan mencetak generasi yang punya ilmu, punya susila yang baik, mengerti dengan seni, punya hanya, rasa sosialnya bagus dan sifat ketuhanannya akan berkembang, tapi bila dibiarkan saja maka cendrung yang akan terjadi adalah sebaliknya, rasa religiusnya akan hilang sehingga tidak mau tahu dengan agama, yang akhirnya hidup dalam kekafiran.

2.Penyelewengan Proses Sejarah
Sejak dijadikannya Nabi Adam sebagai khalifah di dunia ini maka nilai-nilai ketuhanan telah dibekali sehingga pengabdian dan penyembahan hanya tertuju kepada Allah, tapi karena perjalanan sejarah yang panjang menjadikan ajaran tauhid menjadi politisme yaitu menjadikan banyak tuhan. Pada masa Yahudipun sudah terjadi penyelewengan itu, mulanya Uzair dan Isa hanya sebagai nabi yang diutus Allah untuk menyelematkan manusia, karena perjalanan yang panjang  akhirnya kedua orang nabi  ini dijadikan sebagai anak tuhan bahkan tuhan.[At Taubah 9;30]

3.Menutup Kebenaran Karena Malu
            Dimasa jahiliyyah banyak tokoh-tokoh Quraisy yang tidak mau menerima islam sebagai agama bukan karena mereka tidak mengerti tentang islam tapi karena mereka malu untuk memeluk agama itu sebab mereka tokoh yang berpengaruh dan disegani seperti Abu Jahal atau Umar bin Hisyam, suatu hari dia berkata kepada temannya bahwa seandainya islam itu turun bukan kepada Muhammad maka dialah orang nomor satu yang memperjuangkannya, faktor Muhammadlah yang menjadikan dia enggan masuk islam karena Muhammad adalah kemenakannya, begitu juga dengan Abu Thalib, orang yang berjasa besar untuk membentengi agama islam dari serangan dan makar kaumnya, dia tampil membela karena Muhammad adalah kemekanannya, sehingga pada suatu hari saat ajal akan menjemputnya Nabi Muhammad masih menawarkan agar sang paman masuk ke dalam islam tapi ditolak dengan ucapan,"Kalau engkau yakin dengan agamamu Muhammad maka lanjutkanlah dengan keyakinanmu, aku mengakui Islam itu agama yang benar, namun bila aku masuk ke dalam agamamu apa kata orang nantinya".

            Ketika Kaisar Romawi mendapat surat tawaran dari Nabi Muhammad untuk masuk  islam, dia terima surat itu dan berkata dalam temannya,"Seandai Muhammad datang kemari maka akan aku cium kakinya dan aku masuk agamanya". Saat dia sampaikan maksud itu kepada para pendeta, para pendeta terkejut dengan salah seorang dari mereka mengatakan,"Kalau tuan masuk ke dalam agama Muhammad silahkan tapi tinggalkan istana", mendengar itu lansung sang Kaisar berkata,"Saya hanya menguji kalian saja, sampai dimana loyalitas kalian kepada saya', akhirnya sang Kaisar tidak jadi masuk islam.[Al Ahqaf 46;11]

4.Ragu Dalam Pemikiran
            Orang yang hanya memakai fikiran saja untuk mencari Tuhan maka tidak akan ketemu, karena ada faktor-faktor tertentu yang tidak bisa ditangkap oleh fikiran manusia. Jiwanya sebenarnya mengakui adanya Tuhan tapi fikirannya tidak menerima, dalam keraguan itu akhirnya dia menentang Tuhan dengan ungkapan Tuhan telah mati atau agama itu candu masyarakat.

sebagai contoh seorang pendiri paham Komunis bernama Karl Marx, ayahnya seorang Yahudi yang kaya, pada usia  6 tahun semua keluarganya pindah agama kepada Kristen Protestan, perpindahan agama ini yang mempengaruhi jiwanya pertama kali, lalu dia melihat ketidakbenaran ajaran Protestan yaitu konsep ”satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan”, disamping buku yang dibacanya banyak mengkritik gereja, dikatakan Protestan adalah agama orang kaya yang menindas simiskin, gerejapun tidak segan-segan membunuh orang yang ingkar kepadanya sebagaimana Galileo Galilei yang mengatakan kalau bumi ini bulat, sedangkan faham gereja mengatakan bumi ini datar. Inilah yang membuat Karl Marx  membenci semua agama, sayang sekali dia tidak mempelajari islam sehingga dia menyamakan semua agama.

          Keraguan orang kafir terhadap islampun sudah ada sejak dahulu, tapi Allah memberikan peluang kepada mereka untuk menunjukkan kehebatan mereka yang tidak akan diragukan oleh siapapun, namun kompetisi itu sejak hingga zaman kini belum terjawab. [Al Baqarah 2;23-24].

5.Karena Lingkungan
            Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Setiap bayi yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”.Artinya orangtua dan lingkungan memegang peranan penting dalam mencetak anak agar jagi anak yang baik, kalau hal ini dilalaikan maka kehancuran manusia akan terjadi, dia akan terseret ke lembah kenistaan dan kemaksiatan karena terjerembab dalam pergaulan lingkungan yang tidak baik, kalau lingkungannya orang-orang kafir maka cendrung mereka akan mengarah kepada kekafiran itu,

Rasulullah bersabda’ ”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi,bila berteman dengan pedagang minyak wangi akan memperoleh salah satu dari dua kemungkinan, membeli minyak wangi atau kena percikan harumnya minyak wangi tersebut, dan berteman dengan tukang besi akan memperoleh dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang tidak sedap”

6.Belenggu Adat
Untuk menjadikan muslim yang baik yaitu muslim yang kaffah dan muslim yang dijuluki dengan insan kamil tidaklah mudah karena kita hidup dalam belenggu adat dan sangat sulit menentangnya kalau tidak ada upaya untuk itu[ Al Baqarah 2;170]

            Ummat  Nabi Ibrahim menyembah berhala bukan mereka tidak tahu kalau berhala itu tidak ada apa-apanya, tapi karena ajaran nenek moyang mereka sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya sampailah kekafiran tetap dipertahankan, sebagaimana dialoq dengan ayah dan ummatnya [Asy Syu'ara 26;70-76]

7.Karena Ulah Orang Yang Beragama
            Salah satu yang menyebabkan orang tidak tertarik kepada ajaran agama karena tokoh agama sendiri yang melakukan kesalahan dan dosa, mereka beranggapan ulama yang dikatakan manusia suci tidak layak berbuat kesalahan apalagi dosa, nabi Muhammad bersabda sehubungan bertanyanya seorang sahabat kepada beliau, ”Ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Ya Rasulullah,siapakah sejelek-jelek manusia ? nabi menjawab, ”Ya Allah ampunilah dosa kami, sejelek-jelek manusia itu adalah ulama apabila mereka itu rusak moralnya” [Ibnu Bathah].

Rasulullah telah memberikan peringatan kepada ummatnya sebagaimana hadits ini, ”Jangan kamu duduk disisi setiap alim [orang pintar]  kecuali orang alim yang mengajak kamu dari yang lima kepada yang lima; dari keraguan kepada yakin, dari riya’ kepada ikhlas, dari tamak kepada sederhana, dari sombong kepada tawadhu dan dari permusuhan kepada kejujuran”.
Karena ulah orang yang beragama menjadikan orang yang antipati dengan agama akhirnya mereka lari dari agama dan membenci agama sehingga jadilah mereka orang yang kafir, tidak mengakui sama sekali adanya tuhan.

8.Karena Da'wah Belum Sampai
            Karena berada di pelosok yang jauh terisolir dari kehidupan manusia dan tidak ada akses menuju ke tempat itu menjadikan orang tidak mengenal Islam sehingga hanya memeluk kepecayaan apa yang diyakini saja secara turun temurun. Sebenarnya untuk masa sekarang tidak ada lagi tempat yang tidak bisa dijangkau, semua daerah di dunia ini telah dirambah oleh da'wah islamiyyah melalui ulama, ustadz dan da'i yang sengaja didatangkan untuk membina ummat manusia kejalan yang benar.
            Walaupun andaikata memang ada daerah yang belum dijangkau da'wah sehingga islam tidak sampai kesana, tapi Allah telah memberikan bekal kepada manusia berupa akal yaitu fikiran dan rasa untuk mengkaji dan meneliti segala yang terjadi  di dunia ini, sebagaimana Ibrahim dikala muda belum menerima kebenaran dari Allah tentang agama yang harus dianutnya dan belum ada ajaran tentang Tuhan yang layak disembah, tapi Ibrahim dengan kekuatan berfikirnya tidak mau menyembah berhala, dia selalu mencari kebenaran sampai dia menemukannya.

9.Karena Tidak Mendapat Hidayah
Bila  ada orang yang belum masuk islam walaupun dia sudah faham dengan islam dan diapun bergaul dengan komunitas islam, maka dia dikatakan belum dapat hidayah. Orang yang bergelimanmg dengan kejahiliyyahan, kekafiran dan belum mau untuk melaksanakan tuntutan islam secara total maka disebut juga bahwa dia belum dapat hidayahh.

            Hidayah itu artinya petunjuk Allah yang berkaitan dengan  keimanan, hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak preogatif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun demikian hidayah tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan "[Al A'raf 7;43]

Jangan sampai kita sibuk membicarakan kekafiran orang, kemurtadannya dan kefasikan yang dilaksanakan sementara kita lupa untuk menjaga mutiara iman kita yang senantiasa diincar oleh musuh-musuh Islam. Bahkan mungkin kita mempraktekkan kehidupan yang  tidak Islami sedangkan orang-orang telah mengimplementasikan nilai-nilai Islam. Dalam kaitan ini, Muhammad Abduh pernah berkata, ”Saya telah pernah ke Eropa. Disana tidak ada umma islam, tapi Islam melekat pada pribadi mereka. Sayapun sudah ke Timur Tengah, disitu mayoritas muslim tapi nilai-nilai Islam tidak terujud dalam kehidupan mereka”,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Agustus 2010.M]. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar