Islam
adalah agama yang benar, diturunkan untuk menyelesaikan persoalan dan
menyelamatkan ummat manusia dari kehancuran kehidupan ini yang bila tanpa
kendali dapat dipastikan kiamat besar akan terjadi. Penyebabnya kecendrungan
manusia kepada jalan yang fasad [rusak] sangat besar dengan mengabaikan ajaran
Khaliq yang telah memberi hidup kepadanya.
Sungguh
ironis memang manusia itu, terhadap Tuhan yang telah memberikan segala
fasilitas hidup kepadanya, dibalas dengan penentangan dan segala bentuk
kekafiran. Bahasa premannya, manusia itu memang tidak tahu diuntung, tidak
pandai berterima kasih dan malah banyak yang ”kurang ajar”.
Di dunia ini
Allah memang telah memprediksi akan tampilnya tiga kelompok manusia. Nyatanya
memang, di panggung sejarah ketiganya saling berebut pengaruh dan berupaya
mencari audiens serta ingin mendominasi. Selanjutnya kelompok itu berkembang
jdi idiologi yang dipertahankan oleh pengikutnya hingga tetesan darah
penghabisan.
Ketiga
kelompok dimaksud pertama “mukmin” yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah
dengan segala konsekwensinya. Kafir yaitu orang yang menentang atau mengingkari
atas segala aturan Allah dengan segala isme yang melingkupinya. Terakhir adalah
orang yang bermuka dua dan dikenal dengan sebutan “munafiq”, keimanannya
sebatas decoration only, dekorasi dan hiasan bibir saja [Al Baqarah 2;1-20].
Allah tidak
memaksa manusia untuk beriman kepada-Nya. Karena itu memang hak azasi dan Allah
memberi kebebasan kepada manusia sampai dimana usahanya untuk mencari dan
berusaha menemui hidayah. Iman itu bukanlah hadiah atau warisan dari seorang
bapak kepada keturunannya, apalagi keimanan yang sebenarnya iman, harus diraih
dengan ikhtiar yang maksimal melalui kajian dan penghayatan terhadap keberadaan
Allah dengan segala asfeknya.
Keimanan
seseorang tidaklah punya pengaruh terhadap eksistensi-Nya, sebagaimana
Rasulullah menyatakan dalam hadits bahwa seandainya seluruh malaikat, jin dan
manusia beriman kepada Allah maka tidak akan meninggikan derajat Allah. Sebaliknya bila seluruh malaikat, jin dan
manusia ingkar, kafir dan menentang Allah, tidak akan merendahkan derajat
Allah. Bahkan lebih tegas dikatakan; mau beriman silahkan daningin kafir tidak
masalah. Sayid Qutb pernah menyatakan kepada orang-orang manafiq yang tidak
terang-terangan memusuhi Islam dan ummatnya,”Masuk Islam keseluruhan atau
tinggalkan Islam keseluruhan”.
Pengingkaran ummat terdahulu kepada
Allahpun menghiasi perjalajan kehidupan para Nabi dan Rasul, lantaran penyampai
da’wah adalah seorang nabi yang bukan dari kalangan mereka, atau nabi itu
mereka pandang rendah status sosialnya bahkan faktor gengsi lainnya membuat
mereka tidak segan-segan menolak kebenaran yang diwahyukan itu. Banyak faktor
memang yang menjadikan seorang kafir dan tidak sedikit pula faktor yang membuat
orang beriman, membela kebenaran Islam dengan seluruh potensi hidupnya.
Suatu ketika kafir Quraisy
menyatakan maksudnya kepada Rasulullah untuk beriman kepada kebenaran ajaran
Islam dengan syarat kalau beliau dapat menggeser bukit-bukit yang menghalangi
mereka sehingga kota Mekkah lapang. Mendengar itu Rasulullah diberikan wahyu
oleh Allah, bahwa sekiranya permintaan itu dikabulkan maka mereka tetap tidak
akan beriman, itu hanya alasan saja untuk meramaikan perdebatan yang akhirnya
merekapun mengolok-olok dan semakin jauh saja kesesatannya.
Demikian pula halnya ummat Nabi Musa
yang meragukan eksitensi Allah sehingga mereka meminta kepada Musa agar
diperlihatkan Allah secara nyata agar keimanan mereka bertambah. Ini alasan
yang mereka lontarkan, apakah dengan mereka dapat melihat Allah secara nyata
lalu keimanan mereka akan bertambah ? belum tentu, ”Dan ingatlah ketika kamu
berkata,”Hai Musa, kami tidak akan beriman kepada kamu sebelum kami melihat Allah
dengan terang” karena itu kamu disambar halilintar, sedangkan kamu
menyaksikan...”[Al Baqarah 2;55].
Suatu argumentasi yang tidak masuk
akal yaitu mengukur keimanan dengan sandaran panca indra. Padahal kemampuan
panca indra manusia itu terbatas. Jangankan tentang wujud Allah, sedangkan
rahasia kejadian manusia saja belum terungkap.
Ketika Musa menyediakan dirinya
untuk mengabulkan permintaan dari pengikutnya itu, mereka ingin melihat Allah
dengan transparan, tetapi karena keterbatasan manusia akhirnya belum mampu
memenuhi keinginan mereka. Justru yang terjadi musibah datang dengan hancurnya
sebuah gunung, karena tidak sanggupnya menyaksikan eksistensi Allah. Walaupun
demikian kekafiran masih kental di hati mereka. Bahkan saat Musa datang menemui
kaumnya yang ditinggalkan bersama Nabi
Harun, bukan main gusarnya sebab ummat yang telah beriman, sepeninggal
Musa mereka kafir kembali. Mereka menyembah anak sapi yang terbuat dari emas
yang dapat mengeluarkan suara.
Orang kafir adalah musuh Allah dan
musuhnya orang-orang beriman. Orang kafir dibungkus oleh berbagai idiologi
seperti komunis, sosialis dan isme-isme lain yang hakekatnya bentuk kekafiran
dengan baju kemodernan atau kepalsuan yang dibungkus adat istiadat dengan
praktek syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul. Segala bentuk ajaran yang tidak
mengacu kepada ajaran Islam yang asholah [asli] adalah kekafiran baik diakui
atau tidak.
Salah satu kelompok yang tidak
dicintai Allah adalah kelompok kafir yang dengan transparan melakukan
penentangan kepada Allah, walaupun bentuk penentangan itu dengan berpaling dari
kebenaran yang diwahyukan Allah, ”Katakanlah, ”Taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
kafir”[Ali Imran 3;32].
Kekafiran dimaksud bukanlah semata-mata karena
tidak beriman kepada Allah, tapi maknanya luas sekali. Kekafiran yang mutlak
adalah berada pada satu agama yang tidak Islam, posisi mereka ini jelas yaitu
non muslim. Tetapi kekafiran juga tampak pada sebagian orang yang masih mengaku
muslim, bukan kafir dari segi i’tiqad atau aqidah. Seorang muslim yang dengan sengaja meninggalkan
shalat dapat dikategorikan dengan kafir karena mereka meninggalkan syariat.
Tidak bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dikaruniakan-Nya juga dapat
dikatakan kufur nikmat, tidak mau memakai hukum Allah juga termasuk
karakteristik kafir, ”Siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”[Al Maidah 5;44].
Orang kafir pada asfek manapun seperti
kufur nikmat, fasiq, nifaq dan zhalim sangat sulit diberi peringatan. Siapapun yang memberikan
peringatan pasti ditolak, karena Allah
memang telah mengunci mati hati, pendengaran dan penglihatan mereka telah
tertutup oleh sebab kekafiran mereka sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam
firman-Nya, ”Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka kamu beri
peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka juga tidak akan
beriman. Allah telah mengunci mati hati
dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” [Al Baqarah
2;6-7].
Kelompok ini adalah orang-orang yang
berprasangka buruk terhadap da’wah Islam sebagaimana yang disampaikan oleh
seorang mujahid da’wah Hasan Al Banna dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul
Muslimin. Mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada kami
dan hatinya diliputi keraguan atas kami. Mereka selalu melihat kami dengan kaca
mata hitam pekat dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan
yang sinis. Kecongkakan telah mendorong mereka terus menerus berada pada
keraguan, kesinisan dan gambarana negatif tentang kami.
Bagi kelompok macam ini, kami
bermohon kepada Allah Swt, agar berkenan memperlihatkan kebthilan sebagai
kebathilan dan memberikan kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami memohon
kepada Allah Swt agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus.
Kami akan selalu menda’wahi mereka
jika mereka mau menerima, dan kami juga berdo’a kepada Allah Swt, agar berkenan
menunjuki mereka. Memang hanya Allah yang dapat menunjuki mereka, kepada
Nabi-Nya Allah berfirman tentang segolongan manusia, ”Sesungguhnya kamu tidak
dapat memberi petunjuk kepada siapa yang
kamu sukai, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia
kehendaki” [Al Qashash;56].
Usahalah yang kita miliki untuk
menyebaran dan sosialisasi nilai-nilai Islam kepada orang-orang kafir tersebut,
untuk senantiasa berda’wah tanpa harus berhenti, karena memang hidayah itu
milik Allah. Ingat Rasulullah pernah mengatakan bahwa kita akan melihat ada
orang yang hari ini beriman tapi kemudian besok sudah kafir dan tidak sedikit
orang yang kafir di siang hari, saat malam tiba dia telah beriman dengan tidak
diragukan komitmen keimanannya.
Di muka bumi kelakuan orang-orang kafir
tiada lain merusak dengan jalan lisan; memfitnah, tangan melalui peperangan
dengan maksud menghancurkan orang-orang yang beriman dengan berbagai cara dan
dimana saja, mereka mengeluarkan dana dan tenaga bahkan nyawa untuk melindungi
teman-temannya lalu mengarahkan perhatian untuk menghancurkan islam. Surat Al
Anfal 8;73, ”Adapun orang-orang yang
kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu,
hai para muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu,
niscaya akan terjadilah kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”.
Manusia
itu tak ubahnya dengan makhluk Allah yang lain yaitu hewan, tapi bila beriman
kepada Allah kedudukan manusia akan terangkat dan dihargai Allah. Keingkaran
yang mereka pertahankan maka kualitasnya tidak lebih sebagai makhluk yang
paling buruk, ”Sesungguhnya binatang
[makhluk] yang paling buruk disisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena
mereka itu tidak beriman”.[Al Anfal 8;55].
Di
dunia ini hanya ada dua jalan yang akan dilalui manusia, terserah mereka yang
akan memilih dan mengikuti jalan tersebut, jalan pertama yaitu keimanan di
bawah pimpinan dan lindungan Allah untuk mencari ridha-Nya, sedangkan jalan
yang lain yaitu jalan kesesatan di bawah komando syaitan, inilah yang akan
dilalui orang-orang kafir, ”Sesungguhnya
Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang
yang tidak beriman” [Al A’raf 7;27].
Segala
yang diajarkan syaithan tiada lain jalan untuk menentang Allah dengan makar
kebathilan. Setiap terjadi kebathilan pasti dikomandoi oleh syaithan lalu
diikuti oleh pasukan pengikut kebathilan yaitu orang-orang kafir, ”Sesungguhnya orang-orang kafir
mengikuti yang bathil dan sesungguhnya
orang-orang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka”.[Muhammad 47;3].
Bila
sudah mengatakan diri kafir kepada Allah maka pada saat itu tercatatlah mereka
sebagai musuh orang yang beriman yang otomatis musuh Allah pula, bila mengenal
musuh maka berhati-hatilah, jangan sampai keliru sehingga musuh dijadikan kawan
atau kawan dijadikan musuh. Musuh Allah dan orang beriman salah satunya yang
mutlak yaitu orang-orang kafir, ”Barangsiapa
yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatnya, rasul-rasulNya, Jibril dan
Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” [Al Baqarah
2;98].
Keimanan
harus dipaterikan sekuat-kuatnya, jangan sampai goyah apalagi ditukar dengan
kekafiran, bila mana ditukar dengan kekafiran maka azab dan murka Allah bagi
mereka, ”Barangsiapa yang kafir kepada
Allah sesudah ia beriman,dia mendapat kemurkaan dari Allah...”[Al An’am
6;106]
Kalau
manusia mengikuti jalan kekafiran dibadah pimpinan syaian maka segala sifat dan
sikapnya kepada orang beriman tidak akan baik, mereka selalu berusaha meredam
kebencian dan menampakkan kebencian itu dengan tindakan merusak apalagi melihat
orang beriman mendapat kebaikan dari Allah, baik lahir maupun batin atau
keutamaan lain, ”Orang-orang kafir dari
ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkankan diturunkannya sesuatu
kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya
untuk diberikan rahmat-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar”.[Al
Baqarah 2;105]
Bukan
hanya sekedar tidak senang saja tapi berusaha agar orang yang beriman tersebut
sama dengan mereka yaitu murtad, meninggalkan keimanan, ”Sebahagian ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan
kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang tumbuh dari diri
mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran...’[Al Baqarah 2;109].
Dengan
memurtadkan orang yang beriman melalui berbagai cara, mau tidak mau, terpaksa
atau suka rela terseret kepada ajakan mereka, inilah sifat busuk orang-orang
kafir yang ditunjukkan Allah, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamju mengikuti agama mereka”.[Al Baqarah 2;120].
Segala
perbuatan yang mereka lakukan demi kehancuran agama Allah, bukan umat beriman
saja yang mereka rusak tapi ajaran Allahpun akan mereka padamkan, agar ajaran
islam tidak laku dipakai dalam praktek kehidupan sehari-hari bagi pemeluknya, ”Mereka berkehendak memadamkan cahaya
agama Allah dengan ucapan mereka dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakannya cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai” [At
Taubah 9;32].
Supaya
apa saja yang mereka lakukan untuk maksud tertentu berhasil mereka akan
melakukan apa saja,bila sulit mempengaruhi ummat islam dengan jalan lembut,
lisan yang manis, ancaman bahkan sampai peperangan fisik, hal ini terlalu
banyak sejarah mencatat atas keganasan umat kafir kepada ummat islam, ”Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu
sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu kepada kekafiran seandainya
mereka sanggup..”[Al Baqarah 2;217].
Ada beberapa hal yang menjadikan manusia
kafir kepada kebenaran, menolak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya diantaranya;
1.Rasa Agama Tidak
dikembangkan
Ketika manusia masih di dalam rahim sang ibunya
sudah ada perjanjian dengan Allah bahwa dia akan menjadi hamba yang taat dan
mengabdi hanya kepada Allah [Al A'raf 7;172]
Bila hal itu
tidak dilatih dan tidak dikembangkan ketika di dunia maka cikal bakal keimanan
tadi akan hilang, demikian pula halnya dalam hadits Rasulullah menyatakan,
”Tidak dilahirkan seseorang anak melainkan dalam keadaan fithrah suci dari
dosa” [HR. Muslim]. Yang dimaksud dengan fithrah adalah kecendrungan untuk
beriman kepada Allah dan mengingkari segala hal yang buruk.
Menurut
Psikolog dinyatakan bahwa dalam diri manusia itru ada enam rasa yang harus
dikembangkan yaitu intelek, susila, seni, harga diri, sosial dan religius.
Keenam rasa tersebut harus dibina dididik dengan baik sehingga akan mencetak
generasi yang punya ilmu, punya susila yang baik, mengerti dengan seni, punya
hanya, rasa sosialnya bagus dan sifat ketuhanannya akan berkembang, tapi bila
dibiarkan saja maka cendrung yang akan terjadi adalah sebaliknya, rasa
religiusnya akan hilang sehingga tidak mau tahu dengan agama, yang akhirnya
hidup dalam kekafiran.
2.Penyelewengan Proses
Sejarah
Sejak
dijadikannya Nabi Adam sebagai khalifah di dunia ini maka nilai-nilai ketuhanan
telah dibekali sehingga pengabdian dan penyembahan hanya tertuju kepada Allah,
tapi karena perjalanan sejarah yang panjang menjadikan ajaran tauhid menjadi
politisme yaitu menjadikan banyak tuhan. Pada masa Yahudipun sudah terjadi
penyelewengan itu, mulanya Uzair dan Isa hanya sebagai nabi yang diutus Allah
untuk menyelematkan manusia, karena perjalanan yang panjang akhirnya kedua orang nabi ini dijadikan sebagai anak tuhan bahkan
tuhan.[At Taubah 9;30]
3.Menutup Kebenaran
Karena Malu
Dimasa jahiliyyah banyak tokoh-tokoh Quraisy yang
tidak mau menerima islam sebagai agama bukan karena mereka tidak mengerti
tentang islam tapi karena mereka malu untuk memeluk agama itu sebab mereka
tokoh yang berpengaruh dan disegani seperti Abu Jahal atau Umar bin Hisyam,
suatu hari dia berkata kepada temannya bahwa seandainya islam itu turun bukan
kepada Muhammad maka dialah orang nomor satu yang memperjuangkannya, faktor
Muhammadlah yang menjadikan dia enggan masuk islam karena Muhammad adalah
kemenakannya, begitu juga dengan Abu Thalib, orang yang berjasa besar untuk
membentengi agama islam dari serangan dan makar kaumnya, dia tampil membela
karena Muhammad adalah kemekanannya, sehingga pada suatu hari saat ajal akan menjemputnya
Nabi Muhammad masih menawarkan agar sang paman masuk ke dalam islam tapi
ditolak dengan ucapan,"Kalau engkau yakin dengan agamamu Muhammad maka
lanjutkanlah dengan keyakinanmu, aku mengakui Islam itu agama yang benar, namun
bila aku masuk ke dalam agamamu apa kata orang nantinya".
Ketika Kaisar Romawi mendapat surat tawaran dari Nabi
Muhammad untuk masuk islam, dia terima
surat itu dan berkata dalam temannya,"Seandai Muhammad datang kemari maka
akan aku cium kakinya dan aku masuk agamanya". Saat dia sampaikan maksud
itu kepada para pendeta, para pendeta terkejut dengan salah seorang dari mereka
mengatakan,"Kalau tuan masuk ke dalam agama Muhammad silahkan tapi
tinggalkan istana", mendengar itu lansung sang Kaisar berkata,"Saya hanya
menguji kalian saja, sampai dimana loyalitas kalian kepada saya', akhirnya sang
Kaisar tidak jadi masuk islam.[Al Ahqaf 46;11]
4.Ragu Dalam Pemikiran
Orang yang hanya memakai fikiran saja untuk mencari
Tuhan maka tidak akan ketemu, karena ada faktor-faktor tertentu yang tidak bisa
ditangkap oleh fikiran manusia. Jiwanya sebenarnya mengakui adanya Tuhan tapi
fikirannya tidak menerima, dalam keraguan itu akhirnya dia menentang Tuhan
dengan ungkapan Tuhan telah mati atau agama itu candu masyarakat.
sebagai contoh seorang pendiri paham
Komunis bernama Karl Marx, ayahnya seorang Yahudi yang kaya, pada usia 6 tahun semua keluarganya pindah agama kepada
Kristen Protestan, perpindahan agama ini yang mempengaruhi jiwanya pertama
kali, lalu dia melihat ketidakbenaran ajaran Protestan yaitu konsep ”satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan”,
disamping buku yang dibacanya banyak mengkritik gereja, dikatakan Protestan
adalah agama orang kaya yang menindas simiskin, gerejapun tidak segan-segan
membunuh orang yang ingkar kepadanya sebagaimana Galileo Galilei yang
mengatakan kalau bumi ini bulat, sedangkan faham gereja mengatakan bumi ini
datar. Inilah yang membuat Karl Marx
membenci semua agama, sayang sekali dia tidak mempelajari islam sehingga
dia menyamakan semua agama.
Keraguan orang kafir terhadap islampun
sudah ada sejak dahulu, tapi Allah memberikan peluang kepada mereka untuk
menunjukkan kehebatan mereka yang tidak akan diragukan oleh siapapun, namun
kompetisi itu sejak hingga zaman kini belum terjawab. [Al Baqarah 2;23-24].
5.Karena Lingkungan
Dalam
sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Setiap
bayi yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”.Artinya orangtua dan lingkungan
memegang peranan penting dalam mencetak anak agar jagi anak yang baik, kalau
hal ini dilalaikan maka kehancuran manusia akan terjadi, dia akan terseret ke
lembah kenistaan dan kemaksiatan karena terjerembab dalam pergaulan lingkungan
yang tidak baik, kalau lingkungannya orang-orang kafir maka cendrung mereka
akan mengarah kepada kekafiran itu,
Rasulullah bersabda’ ”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah
bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi,bila berteman dengan pedagang
minyak wangi akan memperoleh salah satu dari dua kemungkinan, membeli minyak
wangi atau kena percikan harumnya minyak wangi tersebut, dan berteman dengan
tukang besi akan memperoleh dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau
memperoleh bau yang tidak sedap”
6.Belenggu Adat
Untuk menjadikan muslim yang baik yaitu muslim yang kaffah dan muslim yang
dijuluki dengan insan kamil tidaklah mudah karena kita hidup dalam belenggu
adat dan sangat sulit menentangnya kalau tidak ada upaya untuk itu[ Al Baqarah
2;170]
Ummat Nabi Ibrahim menyembah berhala bukan mereka
tidak tahu kalau berhala itu tidak ada apa-apanya, tapi karena ajaran nenek
moyang mereka sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya sampailah kekafiran
tetap dipertahankan, sebagaimana dialoq dengan ayah dan ummatnya [Asy Syu'ara
26;70-76]
7.Karena Ulah Orang
Yang Beragama
Salah
satu yang menyebabkan orang tidak tertarik kepada ajaran agama karena tokoh
agama sendiri yang melakukan kesalahan dan dosa, mereka beranggapan ulama yang
dikatakan manusia suci tidak layak berbuat kesalahan apalagi dosa, nabi
Muhammad bersabda sehubungan bertanyanya seorang sahabat kepada beliau, ”Ada seorang yang bertanya kepada
Rasulullah Saw, ”Ya Rasulullah,siapakah sejelek-jelek manusia ? nabi menjawab,
”Ya Allah ampunilah dosa kami, sejelek-jelek manusia itu adalah ulama apabila
mereka itu rusak moralnya” [Ibnu Bathah].
Rasulullah telah memberikan peringatan
kepada ummatnya sebagaimana hadits ini, ”Jangan
kamu duduk disisi setiap alim [orang pintar]
kecuali orang alim yang mengajak kamu dari yang lima kepada yang lima;
dari keraguan kepada yakin, dari riya’ kepada ikhlas, dari tamak kepada
sederhana, dari sombong kepada tawadhu dan dari permusuhan kepada kejujuran”.
Karena ulah
orang yang beragama menjadikan orang yang antipati dengan agama akhirnya mereka
lari dari agama dan membenci agama sehingga jadilah mereka orang yang kafir,
tidak mengakui sama sekali adanya tuhan.
8.Karena Da'wah Belum
Sampai
Karena berada di pelosok yang jauh terisolir dari
kehidupan manusia dan tidak ada akses menuju ke tempat itu menjadikan orang
tidak mengenal Islam sehingga hanya memeluk kepecayaan apa yang diyakini saja
secara turun temurun. Sebenarnya untuk masa sekarang tidak ada lagi tempat yang
tidak bisa dijangkau, semua daerah di dunia ini telah dirambah oleh da'wah islamiyyah
melalui ulama, ustadz dan da'i yang sengaja didatangkan untuk membina ummat
manusia kejalan yang benar.
Walaupun andaikata memang ada daerah yang belum dijangkau
da'wah sehingga islam tidak sampai kesana, tapi Allah telah memberikan bekal
kepada manusia berupa akal yaitu fikiran dan rasa untuk mengkaji dan meneliti
segala yang terjadi di dunia ini,
sebagaimana Ibrahim dikala muda belum menerima kebenaran dari Allah tentang
agama yang harus dianutnya dan belum ada ajaran tentang Tuhan yang layak disembah,
tapi Ibrahim dengan kekuatan berfikirnya tidak mau menyembah berhala, dia
selalu mencari kebenaran sampai dia menemukannya.
9.Karena Tidak Mendapat
Hidayah
Bila ada
orang yang belum masuk islam walaupun dia sudah faham dengan islam dan diapun
bergaul dengan komunitas islam, maka dia dikatakan belum dapat hidayah. Orang
yang bergelimanmg dengan kejahiliyyahan, kekafiran dan belum mau untuk
melaksanakan tuntutan islam secara total maka disebut juga bahwa dia belum
dapat hidayahh.
Hidayah itu artinya
petunjuk Allah yang berkaitan dengan
keimanan, hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan
ini merupakan hak preogatif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun
demikian hidayah tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang
mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan "[Al
A'raf 7;43]
Jangan sampai kita sibuk membicarakan kekafiran orang, kemurtadannya dan
kefasikan yang dilaksanakan sementara kita lupa untuk menjaga mutiara iman kita
yang senantiasa diincar oleh musuh-musuh Islam. Bahkan mungkin kita
mempraktekkan kehidupan yang tidak
Islami sedangkan orang-orang telah mengimplementasikan nilai-nilai Islam. Dalam
kaitan ini, Muhammad Abduh pernah berkata, ”Saya telah pernah ke Eropa. Disana tidak
ada umma islam, tapi Islam melekat pada pribadi mereka. Sayapun sudah ke Timur
Tengah, disitu mayoritas muslim tapi nilai-nilai Islam tidak terujud dalam
kehidupan mereka”,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Agustus
2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar