Satu ketika seorang Guru Agama pada
sebuah Sekolah Dasar menceritakan kepada muridnya tentang kehidupan di syurga
dengan segala kenikmatan dan keindahannya sehingga membuat murid terkagum
mendengarkan ceramah dari sang guru, diakhir cerita sang guru bertanya kepada
muridnya,”Siapa yang akan masuk syurga?”, semua murid menunjuk dengan antusias
menandakan siap untuk masuk syurga yang indah itu, tapi ada seorang murid yang
tidak gembira mendengarkan ajakan itu, dia diam saja, lalu guru
bertanya,”Kenapa kamu tidak menunjuk, apa tidak mau masuk syurga?”, dengan
lugunya sang murid menjawab,”Saya mau masuk syurga pak, tapi tadi ibu menyuruh saya pulang sekolah cepat
lansung ke rumah dan tidak boleh
kemana-mana”.
Sejak kecil kita sudah mengenal
bahwa syurga itu adalah tempat yang indah dan kenikmatan yang luar biasa yang
tidak ada tandingannya dengan segala kenikmatan yang ada di dunia ini, semua
kita ingin masuk syurga itu dan merindukannya dengan syarat memperkuat iman dan
memperbanyak amal shaleh.
‘‘Sesungguhnya
Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang
beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw.(
Al-Ahzab : 56)
Iman kepada Allah sebagai
Pencipta manusia dan alam semesta mendorong kita untuk mudah memahami dan
meyakini semua janji-Nya; janji buruk maupun janji baik. Di antara janji baik
Allah pada hamba-Nya yang taat pada-Nya dan Rasul-Nya ialah bahwa di akhirat
nanti mereka akan mendapatkan surga sebagai kompensasi dan imbalan keimanan dan
amal shaleh yang mereka lakukan saat mereka hidup di dunia. Allah berfirman :
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (yang banyak), bagi mereka (kelak)
surga yang mengalir di bawahnya berbagai macam sungai.Itulah kesuksesan yang
maha besar (tanpa batas). (Q.S. Al-Buruj : 11).
Surga yang dijanjikan Allah
adalah nikmat spektakuler yang tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan semua
kenikmatan dunia dengan segala isinya.Bahkan dalam banyak ayat Al-Qur’an Allah
menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan yang sedikit dan
menipu. Di antaranya seperti yang tercantum dalam surat Ali imran ayat 185,
Arra’du ayat 26 dan Al-Hadid ayat 20. Bahkan dalam surat Al-An’am ayat 32 Allah
menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini hanya permainan dan sendagurau belaka.
Oleh sebab itu, janganlah kita
tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia ini, sebanyak apapun ia, karena tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan kehidupan akhirat, yakni surga yang Allah
janjikan pada kita.
Orang-orang beriman dan banyak
beramal shaleh atau disebut juga dengan orang-orang bertaqwa pasti akan
merasakan semua kenikmatan yang dijanjikan Allah pada mereka di dalam surga.
Nikmat yang mereka peroleh sungguh tidak terhitung jumlahnya, bersifat abadi
(selama-lamanya) dan tidak ada henti-hentinya.[Ustadz Fathuddin Jakfar, Nikmat Spektakuler Surga, Eramuslim.com,
Kamis, 25/03/2010 15:52 WIB].
Kita dihadapkan diantara dua
pilihan, iman atau kafir, masuk syurga
atau masuk neraka, kadangkala keinginan kita tidak sesuai dengan kerja-kerja
yang kita lakukan, kita ingin masuk syurga tapi perbuatan yang membuat kita
masuk neraka menjadi amal harian, ironi memang.
Jika seseorang ditanya: mau masuk surga atau neraka; mau
pahala atau siksa? Tentu semuanya mau masuk surga dan meraih pahala.Mungkin
hanya orang bodoh yang ingin masuk neraka dan mendapatkan siksa.
Namun, sadarkah kita, keinginan masuk surga dan meraih
pahala sering hanya dusta belaka?Bukankah sering keinginan itu hanya ada di
lisan kita, tidak benar-benar berasal dari lubuk hati kita dan
termanifestasikan dalam amal-amal kita?Buktinya, tak sedikit orang justru
melakukan amal-amal yang menjauhkan diri mereka dari kemungkinan masuk surga
dan meraih pahala.Mereka malah makin mendekatkan dirinya ke neraka dan
'memilih' siksa.Di mulut mereka sangat ingin masuk surga dan enggan masuk
neraka.Namun kenyataannya, mereka enggan menunaikan shalat, tak mau
melaksanakan kewajiban menuntut ilmu, tidak berbakti kepada orang tua, malas
berdakwah, cuek terhadap kemungkaran, dll. Semua itu pasti akan menjaukan diri
mereka dari surga dan malah bisa menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Di
lisan, mereka ingin pahala dan tak mau disiksa.Namun kenyataannya, mereka suka
berbohong, berakhlak buruk, berlaku sombong dan merendahkan orang lain,
memamerkan aurat, berzina, korupsi, memakan riba, mendzalimi orang lain,
dll.Semua itu pasti mengundang siksa dan menjauhkan mereka dari pahala.
Maka dari itu, tentu benar sabda Baginda Nabi SAW,
sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., "Seluruh umatku akan masuk surga,
kecuali yang enggan." Para Sahabat heran, bagaimana mungkin ada orang yang
enggan masuk surga? Tentu tidak masuk akal! Karena itu, mereka kemudian
bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah yang enggan masuk surga?"Baginda
menjawab, "Mereka yang menaatiku pasti bakal masuk surga.Sebaliknya,
mereka yang tidak mau mengikutiku, itulah yang enggan masuk surga."(HR
Bukhari dan Ahmad).
Pertanyaannya: Lebih banyak mana, yang mengikuti Rasulullah
SAW atau yang menyimpang bahkan meninggalkan jalan beliau? Tentu lebih banyak
yang terakhir. Artinya, sadar atau tidak, kebanyakan manusia ternyata 'memilih'
neraka ketimbang surga.[Di Antara Dua Pilihan, Media Ummat; Tuesday, 23 March
2010 13:53].
Padahal sudah sama-sama diketahui bahwa neraka bukanlah
tempat yang menyenangkan, neraka merupakan tempat yang penuh dengan penyiksaan
bagi orang-orang yang berdosa, sedangkan syurga tempat yang menyenangkan, semua
orang yang beriman mendambakan hidup disyurga dengan segala kenikmatannya
karena iman dan amal shaleh yang dilakukan serta rahmat yang telah diberikan
Allah kepadanya, sebagai muslim kita sudah punya tiket untuk masuk syurga tapi
mau tidak kita menggunakan tiket itu, semua tinggal kepada kita, mau masuk
syurga atau masuk neraka.
Bila semua
ibadah kita seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji, berjalan bagus, maka,
kelak di akhirat akan diberikan semacam tiket atau kunci untuk masuk surga.
Tatkala banyak orang masuk surga, ternyata kita tidak dapat memasukinya,
padahal sudah mempunyai tiket untuk memasukinya.
Apakah
sebabnya?Padahal, amal kebaikan yang telah kita kumpulkan, bila dihitung
jumlahnya sangat banyak.Namun, kenapa bukan surga yang didapatkan, dan
sebaliknya malah neraka yang menjadi tempat kita?Itulah kunci surga yang
terbuang.Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga, orang yang
memutuskan tali persaudaraan." Karena itu, walaupun amal kebaikannya
banyak, jika memutuskan hubungan silaturahim dengan sesama Muslim, dia akan
ditempatkan di neraka.
Mengapa demikian?Karena manusia punya penyakit hati atau sok.Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ali Ridla dikatakan bahwa ketika sedang berkumpul dalam suatu majelis bersama murid-muridnya (hawariyyun), Nabi Isa AS menceritakan kelebihan yang diberikan Allah SWT padanya.Seperti menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Namun demikian, kata Isa AS, ada satu jenis penyakit yang ia tak mampu menyembuhkannya. Murid-muridnya bertanya jenis penyakit tersebut.Isa menjawab, penyakit itu adalah penyakit hati (sok).
Mengapa demikian?Karena manusia punya penyakit hati atau sok.Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ali Ridla dikatakan bahwa ketika sedang berkumpul dalam suatu majelis bersama murid-muridnya (hawariyyun), Nabi Isa AS menceritakan kelebihan yang diberikan Allah SWT padanya.Seperti menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Namun demikian, kata Isa AS, ada satu jenis penyakit yang ia tak mampu menyembuhkannya. Murid-muridnya bertanya jenis penyakit tersebut.Isa menjawab, penyakit itu adalah penyakit hati (sok).
Nabi Isa AS
menjelaskan, penyakit sok memiliki ciri khas, yaitu merasa lebih dari yang
lain. Merasa lebih cantik, ganteng, hebat, kaya, kuasa, dan benar. Selain itu,
orang yang sok itu juga suka membantah (ngeyel), dan ngotot (tak mau kalah) Imam
Al-Ghazalie mengategorikan orang tersebut sebagai Laa Yadri wa Laa Yadri
'Annahu Laa Yadri (orang bodoh tidak menyadari bahwa dirinya bodoh). Inilah
orang bodoh yang merasa pintar. Dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dirinya
bodoh, namun ia tidak mau belajar agar menjadi lebih pintar.
Jika manusia
sudah mengidap penyakit sok ini, dia tidak akan pernah menyadari kesalahannya.
Ia selalu merasa benar, padahal nyata-nyata salah dan ia tidak mau meminta maaf
atas kesalahannya.
Jika
masing-masing pihak merasa paling benar, maka akan mulai terputuslah tali
silaturahim, dan ia tidak berhak mendapatkan surga kendati sudah memiliki
kuncinya. Laa yadkhulu al-Jannata Qaththi'un al-Rahim (Tidak akan masuk surga
orang yang memutuskan silaturahim).[Ustaz Kusen MA, Kunci Surga yang Terbuang,
Republika.online, Sabtu, 17 April 2010, 08:57 WIB].
Ternyata walaupun sudah punya tiket masuk syurga tapi
hal-hal yang menghalangi melewati masuk pintu syurga tidak disingkirkan maka
tidak akan jadi masuk syurga, maka percuma dan sia-sialah tiket yang sudah
dipunyai itu, padahal masih banyak orang lain yang pantas untuk memasukinya.
Syurga tetap berada pada posisinya yaitu tempat untuk orang-orang yang sudah
mengorbankan seluruh potensi hidupnya untuk pengabdian kepada Allah, ujud
pengabdian itulah yang akan mendekatkannya kepada syurga dengan segala atributnya
yaitu tiket dan pintu syurga.
“Dan di dekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tiada jauh (dari mereka)(Qs. Qaaf [50]: 31)
Bagi yang pernah menaiki
pesawat terbang, mungkin Anda merasakan bahwa awan-awan yang ada di angkasa
yang dilewati pesawat itu seolah-olah menghampiri Anda.Padahal nyatanya,
Andalah yang menghampiri awan tersebut.Teorinya sederhana, karena pesawat yang
Anda tumpangi melesat dengan cepat sekali.Sehingga seolah-olah kumpulan awan
yang ada di angkasalah yang mendekati pesawat.Padahal sebaliknya.
Begitu pun dengan ayat di
atas.Pada kalimat, “dan di dekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang
bertakwa”, jumhur (kebanyakan) mufassirin berpendapat bahwa bukan surga yang
mendekat kepada calon penghuninya, yaitu Kaum Mukminin.Namun, Kaum Mukminin-lah
yang mendekati kepada pintu surga.Seolah-olah ada magnet yang menariknya. Hal
ini disebabkan karena amalan mereka (Kaum Mukminin) yang banyak, diridhai Allah
sehingga ia mendekati pintu surganya dengan begitu cepat dengan amalan-amalan
mereka.
Mari mencoba bersama untuk
mengulang-ulang membaca ayat yang di atas, renungkan.Tundukkan kepala
dalam-dalam, carilah dan bayangkan keindahan surga-Nya. Bacalah dan rasakanlah
seolah-olah Allah Ar-Rahman secara langsung sedang menasehati kita; saya dan
Anda..
Dikisahkah suatu hari,
Abdurrahman bin Auf dikabari oleh Rasulullah saw. Bahwa ia akan masuk surga
dengan merangkak. Seketika itu Abdurrahman bin Auf merasa takut dan khawatir
mendengar kata “merangkak”. Setelah diberitahu seperti itu, ia lebih banyak
mengeluarkan hartanya untuk bersedekah dan berinfak di jalan Allah swt. Seperti
yang kita ketahui, beliau adalah salah satu Sahabat Nabi yang kaya raya dan
paling banyak bersedekah.Ia menyuplai kuda-kuda gagah nan kuat dalam setiap
peperangan.
Sepatutnya kita juga seperti
itu. Seorang Abdurrahman bin Auf saja yang sudah dijanjikan masuk surga karena
sedekah, pengorbanannya terhadap Islam dan ibadahnya yang banyak sekali masih
merasa khawatir. Bagaimana dengan kita??Sebuah pertanyaan yang tidak usah
dijawab, namun cukup untuk direnungkan bersama untuk perubahan yang lebih baik
dalam ibadah dan kehidupan kita di dunia fana ini untuk menyongsong kehidupan
yang lebih kekal-akhirat.
Sungguh, Allah menciptakan makhluk-makhluk salah satunya untuk taat beribadah kepada-Nya (lihat QS. 51: 56).Disadari atau tidak, ternyata waktu yang Allah berikan kepada kita sudah lebih dari cukup kita gunakan untuk banyak beribadah kepada-Nya.
Tahukah kita bila dalam satu
tahun kita dapat melakukan shalat wajib lebih dari 1700 kali?Lalu beberapa
banyak shalat-shalat itu, yang kita lakukan dengan khusyuk?Berapa banyak dari
shalat-shalat itu yang kita tunaikan di awal waktu, sesuai anjuran Rasulullah
SAW?Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita lakukan dengan berjama’ah di
masjid?
Dalam rentang satu tahun, kita
dapat melewati lebih dari 50 hari Senin, 50 hari Kamis, 30 kali hari-hari
ayyamul bidh atau hari-hari putih selama tiga hari dipertengahan bulan
(hijriyyah) yang kita disunnahkan untuk berpuasa. Berapa jauh jarak yang telah
kita buat yang bisa menjauhkan antara wajah kita dari api neraka? Karena
sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah
seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali karena puasanya itu
Allah akan menjauhkan antara wajahnya dengan api neraka sepanjang 70 tahun.”
(HR. Muslim).[gust kemal prihadi,Mendekatlah kepada Surga-Nya,dakwatuna.com, 31/3/2011
| 27 Rabiuts Tsani 1432 H].
Selama seseorang ingat Allah, selama di hatinya
terdapat deringan dzikir, dan selama di dalam ruhnya terdapat percikan
istighfar, maka akan terbit kembali cahaya yang memancarkan sinar terangnya ke
seluruh relung jiwa. Sehingga menyemangati pemiliknya untuk membuka lembaran-lembaran
hidup baru dalam naungan ridha llahi. Jika proses di atas dilalui, maka berapa
kali pun seseorang berdosa tidak termasuk dalam katagori "meneruskan
perbuatan keji" seperti disinggung dalam ayat tersebut. Rasulullah SAW
bersabda: "Tidak termasuk ishraar (meneruskan perbuatan keji) orang yang
beristighfar, meskipun ia mengulang (dosanya) dalam sehari 70 (tujuh puluh)
kali" HR Abu dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh lbnu Katsir. ia berkata:
"Hadits hasan" (Tafsir lbnu Katsir l/439)
. Merekalah
orang-orang yang bertakwa yang sejati. Lalu apa balasan bagi mereka? "Mereka
itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya
mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik
pahala orang-orang yang beramal" Mereka dibalas dengan maghfirah (ampunan)
dan surga karena selama di dunia mereka bersegera kepada ampunan Allah dan
bersegera merespon panggilan-Nya yang mengajak kepada surga. Sebab, "Tidak
ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula" (QS Ar Rahmaan (55): 60).
Maka, agar seluruh anggota keluarga kita menjadi penghuni surga, kita harus mengerahkan seluruh waktu, tenaga, kemampuan dan harta kita untuk mengkondisikan, mendidik dan membina mereka sehingga mereka memiliki kriteria-kriteria tersebut di atas. Namun, semua itu perlu waktu dan harus kontinyu. Tidak semudah membalik telapak tangan.[Sulami,Agar Keluarga Kita Menjadi Penghuni Surga, internet].
Rasulullah SAW
bersabda, "Jaminlah untukku enam hal
darimu, aku jaminkan surga untukmu; benar dalam bicara, tepat janji kepada
Allah dan manusia, tunaikan amanah, tutup aurat dan jaga kemaluanmu, tahan
matamu dari yang haram, dan jaga tangan."(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan
Baihaki).
Sekaitan dengan
hadits diatas, Ustadz Arifin Ilham menjelaskan dalam tulisan di Republika
Online,
Subhanallah,
Rasulullah ternyata akan menjaminkan surga kepada setiap umatnya jika mampu
menghadirkan dalam keseharian akhlaknya enam amalan. Pertama, benar dalam
setiap pembicaraannya.Setiap kata yang keluar selalu berorientasi hikmah dan
tidak ada yang sia-sia.Seseorang yang benar dalam bertutur kata biasanya
memiliki kejernihan hati. Sedapat mungkin jejeran kata selalu ada ruhiyahnya
dan karenanya tak akan mengecewakan siapa pun (QS an-Nisa [4]: 9).
Kedua, menepati
janji, baik kepada Allah ataupun manusia. Kepada Allah, sama sekali tidak
tebersit untuk mengkhianti-Nya. Pun demikian kepada sesama ciptaan-Nya, tidak
ada kezaliman yang diperbuat olehnya. Perwujudan janji yang ditepati adalah
dengan menunaikan totalitas penghambaan kepada Allah dan Rasul-Nya Saat taat
kepada Allah dan Rasul-Nya, saat itulah kita telah menepati janji.Kita semua
sesungguhnya terikat dengan janji kepada Allah waktu di alam roh. Seperti ada
ikatan primordial yang lekat antara kita sewaktu masih menjadi makhluk ruh
dengan Sang Pencipta, Rabbul Izzah (QS al-A'raf [7]: 172).
Ketiga,
tunaikan amanah.Orang yang amanah adalah orang yang diberi rasa aman, yaitu
sebagai buah dari keimanannya kepada Allah. "Sesungguhnya Allah menyuruh
kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil ..." (QS
an-Nisa [4]: 58).
Keempat, tutup
aurat dan jaga kemaluan. Orang yang menjaga aurat akan terjaga dan meningkat
kehormatannya. ".... Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya
dan janganlah mereka menampakkan perhiasan nya kecuali yang tampak dari padanya
... (QS an-Nuur [24]: 31).
Kelima, tahan
mata dari perkara yang haram.Pada diri sea tiap mata ada hak. Dan di antara hak
mata adalah menghindarkan nya dari tontonan yang diharam kan. Alquran surah
an-Nuur di atas sudah cukup untuk mengingatkan kita supaya menjaga pandangan
mata.
Karena itu,
akan dijaminkan surga jika seseorang mampu menahan matanya dari hal-hal yang
diharamkan seperti tontonan yang mengumbar aurat, film-film atau situs-situs
porno. "Tatapan pertama hadiah bagimu, sementara tatapan berikutnya bukan
milikmu," ujar Ali bin Abi Thalib.
Keenam, jaga
tangan.Menjaga tangan berarti menempatkan tangan sesuai fungsinya.Dan fungsi
tangan di antaranya menolong siapa pun yang membutuhkan uluran tangannya.Baik
diminta ataupun tidak. Menurut Nabi SAW cukuplah keimanan seseorang kepada
Allah dan hari Kiamat jika mampu menahan tangannya dari menyakiti saudara atau
tetangganya.[Hikmah dari Ustadz Muhammad Arifin Ilham: Menjaminkan
Surga, Republika online, Sabtu,
15 Januari 2011, 11:57 WIB].
Satu ketika Rasulullah menceritakan bahwa nanti di
akherat Allah memerintahkan kepada seorang ‘abid [ahli ibadah] untuk masuk
syurga karena rahmat [kasih sayang] Allah, tapi sang abid menolak, dia ingin
masuk syurga karena pahala-pahala dari amal yang dilakukan selama di dunia
dahulu, tapi ketika ditimbang maka amalan selama hidup yang dia lakukan tidak
bisa memasukkannya ke syurga, sehingga diperintahkan kepada malaikat agar abid
itu dimasukkan ke neraka, dia menghiba kepada Allah agar dimasukkan ke syurga
bukan karena pahala ibadah yang dilakukan itu tapi karena rahmat Allah.
Dari hadits diatas dapat diambil pelajaran bahwa pahala
yang kita kumpulkan belum tentu bisa memasukkan kita ke syurganya karena syurga
itu tidak sebanding dengan semua ibadah yang kita lakukan, tapi yang akan
memasukkan kita ke syurga itu adalah kasih sayang dan simpati Allah, salah satu
simpati Allah itu bisa kita raih dengan ibadah yang ikhlas, bertaubat dari
segala dosa dan maksiat yang dilakukan serta mengarahkan hidup ini agar menjadi
orang yang bertaqwa. Wallahu a’lam, [Cubadak
Solok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar