Jumat, 18 Desember 2015

104. Syurga



Satu ketika seorang Guru Agama pada sebuah Sekolah Dasar menceritakan kepada muridnya tentang kehidupan di syurga dengan segala kenikmatan dan keindahannya sehingga membuat murid terkagum mendengarkan ceramah dari sang guru, diakhir cerita sang guru bertanya kepada muridnya,”Siapa yang akan masuk syurga?”, semua murid menunjuk dengan antusias menandakan siap untuk masuk syurga yang indah itu, tapi ada seorang murid yang tidak gembira mendengarkan ajakan itu, dia diam saja, lalu guru bertanya,”Kenapa kamu tidak menunjuk, apa tidak mau masuk syurga?”, dengan lugunya sang murid menjawab,”Saya mau masuk syurga pak, tapi tadi  ibu menyuruh saya pulang sekolah cepat lansung ke rumah dan tidak  boleh kemana-mana”.

            Sejak kecil kita sudah mengenal bahwa syurga itu adalah tempat yang indah dan kenikmatan yang luar biasa yang tidak ada tandingannya dengan segala kenikmatan yang ada di dunia ini, semua kita ingin masuk syurga itu dan merindukannya dengan syarat memperkuat iman dan memperbanyak amal shaleh.
            ‘‘Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw.( Al-Ahzab : 56)

Iman kepada Allah sebagai Pencipta manusia dan alam semesta mendorong kita untuk mudah memahami dan meyakini semua janji-Nya; janji buruk maupun janji baik. Di antara janji baik Allah pada hamba-Nya yang taat pada-Nya dan Rasul-Nya ialah bahwa di akhirat nanti mereka akan mendapatkan surga sebagai kompensasi dan imbalan keimanan dan amal shaleh yang mereka lakukan saat mereka hidup di dunia. Allah berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (yang banyak), bagi mereka (kelak) surga yang mengalir di bawahnya berbagai macam sungai.Itulah kesuksesan yang maha besar (tanpa batas). (Q.S. Al-Buruj : 11).

Surga yang dijanjikan Allah adalah nikmat spektakuler yang tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan semua kenikmatan dunia dengan segala isinya.Bahkan dalam banyak ayat Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan yang sedikit dan menipu. Di antaranya seperti yang tercantum dalam surat Ali imran ayat 185, Arra’du ayat 26 dan Al-Hadid ayat 20. Bahkan dalam surat Al-An’am ayat 32 Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini hanya permainan dan sendagurau belaka.
Oleh sebab itu, janganlah kita tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia ini, sebanyak apapun ia, karena tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehidupan akhirat, yakni surga yang Allah janjikan pada kita.
Orang-orang beriman dan banyak beramal shaleh atau disebut juga dengan orang-orang bertaqwa pasti akan merasakan semua kenikmatan yang dijanjikan Allah pada mereka di dalam surga. Nikmat yang mereka peroleh sungguh tidak terhitung jumlahnya, bersifat abadi (selama-lamanya) dan tidak ada henti-hentinya.[Ustadz Fathuddin Jakfar, Nikmat Spektakuler Surga, Eramuslim.com, Kamis, 25/03/2010 15:52 WIB].
Kita dihadapkan diantara dua pilihan,  iman atau kafir, masuk syurga atau masuk neraka, kadangkala keinginan kita tidak sesuai dengan kerja-kerja yang kita lakukan, kita ingin masuk syurga tapi perbuatan yang membuat kita masuk neraka menjadi amal harian, ironi memang.
Jika seseorang ditanya: mau masuk surga atau neraka; mau pahala atau siksa? Tentu semuanya mau masuk surga dan meraih pahala.Mungkin hanya orang bodoh yang ingin masuk neraka dan mendapatkan siksa.
Namun, sadarkah kita, keinginan masuk surga dan meraih pahala sering hanya dusta belaka?Bukankah sering keinginan itu hanya ada di lisan kita, tidak benar-benar berasal dari lubuk hati kita dan termanifestasikan dalam amal-amal kita?Buktinya, tak sedikit orang justru melakukan amal-amal yang menjauhkan diri mereka dari kemungkinan masuk surga dan meraih pahala.Mereka malah makin mendekatkan dirinya ke neraka dan 'memilih' siksa.Di mulut mereka sangat ingin masuk surga dan enggan masuk neraka.Namun kenyataannya, mereka enggan menunaikan shalat, tak mau melaksanakan kewajiban menuntut ilmu, tidak berbakti kepada orang tua, malas berdakwah, cuek terhadap kemungkaran, dll. Semua itu pasti akan menjaukan diri mereka dari surga dan malah bisa menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Di lisan, mereka ingin pahala dan tak mau disiksa.Namun kenyataannya, mereka suka berbohong, berakhlak buruk, berlaku sombong dan merendahkan orang lain, memamerkan aurat, berzina, korupsi, memakan riba, mendzalimi orang lain, dll.Semua itu pasti mengundang siksa dan menjauhkan mereka dari pahala.

Maka dari itu, tentu benar sabda Baginda Nabi SAW, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., "Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan." Para Sahabat heran, bagaimana mungkin ada orang yang enggan masuk surga? Tentu tidak masuk akal! Karena itu, mereka kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah yang enggan masuk surga?"Baginda menjawab, "Mereka yang menaatiku pasti bakal masuk surga.Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengikutiku, itulah yang enggan masuk surga."(HR Bukhari dan Ahmad).
Pertanyaannya: Lebih banyak mana, yang mengikuti Rasulullah SAW atau yang menyimpang bahkan meninggalkan jalan beliau? Tentu lebih banyak yang terakhir. Artinya, sadar atau tidak, kebanyakan manusia ternyata 'memilih' neraka ketimbang surga.[Di Antara Dua Pilihan, Media Ummat; Tuesday, 23 March 2010 13:53].
Padahal sudah sama-sama diketahui bahwa neraka bukanlah tempat yang menyenangkan, neraka merupakan tempat yang penuh dengan penyiksaan bagi orang-orang yang berdosa, sedangkan syurga tempat yang menyenangkan, semua orang yang beriman mendambakan hidup disyurga dengan segala kenikmatannya karena iman dan amal shaleh yang dilakukan serta rahmat yang telah diberikan Allah kepadanya, sebagai muslim kita sudah punya tiket untuk masuk syurga tapi mau tidak kita menggunakan tiket itu, semua tinggal kepada kita, mau masuk syurga atau masuk neraka.
Bila semua ibadah kita seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji, berjalan bagus, maka, kelak di akhirat akan diberikan semacam tiket atau kunci untuk masuk surga. Tatkala banyak orang masuk surga, ternyata kita tidak dapat memasukinya, padahal sudah mempunyai tiket untuk memasukinya.
Apakah sebabnya?Padahal, amal kebaikan yang telah kita kumpulkan, bila dihitung jumlahnya sangat banyak.Namun, kenapa bukan surga yang didapatkan, dan sebaliknya malah neraka yang menjadi tempat kita?Itulah kunci surga yang terbuang.Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali persaudaraan." Karena itu, walaupun amal kebaikannya banyak, jika memutuskan hubungan silaturahim dengan sesama Muslim, dia akan ditempatkan di neraka.

Mengapa demikian?Karena manusia punya penyakit hati atau sok.Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ali Ridla dikatakan bahwa ketika sedang berkumpul dalam suatu majelis bersama murid-muridnya (hawariyyun), Nabi Isa AS menceritakan kelebihan yang diberikan Allah SWT padanya.Seperti menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Namun demikian, kata Isa AS, ada satu jenis penyakit yang ia tak mampu menyembuhkannya. Murid-muridnya bertanya jenis penyakit tersebut.Isa menjawab, penyakit itu adalah penyakit hati (sok).
Nabi Isa AS menjelaskan, penyakit sok memiliki ciri khas, yaitu merasa lebih dari yang lain. Merasa lebih cantik, ganteng, hebat, kaya, kuasa, dan benar. Selain itu, orang yang sok itu juga suka membantah (ngeyel), dan ngotot (tak mau kalah) Imam Al-Ghazalie mengategorikan orang tersebut sebagai Laa Yadri wa Laa Yadri 'Annahu Laa Yadri (orang bodoh tidak menyadari bahwa dirinya bodoh). Inilah orang bodoh yang merasa pintar. Dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dirinya bodoh, namun ia tidak mau belajar agar menjadi lebih pintar.
Jika manusia sudah mengidap penyakit sok ini, dia tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Ia selalu merasa benar, padahal nyata-nyata salah dan ia tidak mau meminta maaf atas kesalahannya.
Jika masing-masing pihak merasa paling benar, maka akan mulai terputuslah tali silaturahim, dan ia tidak berhak mendapatkan surga kendati sudah memiliki kuncinya. Laa yadkhulu al-Jannata Qaththi'un al-Rahim (Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim).[Ustaz Kusen MA, Kunci Surga yang Terbuang, Republika.online, Sabtu, 17 April 2010, 08:57 WIB].

Ternyata walaupun sudah punya tiket masuk syurga tapi hal-hal yang menghalangi melewati masuk pintu syurga tidak disingkirkan maka tidak akan jadi masuk syurga, maka percuma dan sia-sialah tiket yang sudah dipunyai itu, padahal masih banyak orang lain yang pantas untuk memasukinya. Syurga tetap berada pada posisinya yaitu tempat untuk orang-orang yang sudah mengorbankan seluruh potensi hidupnya untuk pengabdian kepada Allah, ujud pengabdian itulah yang akan mendekatkannya kepada syurga dengan segala atributnya yaitu tiket dan pintu syurga.
“Dan di dekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka)(Qs. Qaaf [50]: 31)

Bagi yang pernah menaiki pesawat terbang, mungkin Anda merasakan bahwa awan-awan yang ada di angkasa yang dilewati pesawat itu seolah-olah menghampiri Anda.Padahal nyatanya, Andalah yang menghampiri awan tersebut.Teorinya sederhana, karena pesawat yang Anda tumpangi melesat dengan cepat sekali.Sehingga seolah-olah kumpulan awan yang ada di angkasalah yang mendekati pesawat.Padahal sebaliknya.
Begitu pun dengan ayat di atas.Pada kalimat, “dan di dekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa”, jumhur (kebanyakan) mufassirin berpendapat bahwa bukan surga yang mendekat kepada calon penghuninya, yaitu Kaum Mukminin.Namun, Kaum Mukminin-lah yang mendekati kepada pintu surga.Seolah-olah ada magnet yang menariknya. Hal ini disebabkan karena amalan mereka (Kaum Mukminin) yang banyak, diridhai Allah sehingga ia mendekati pintu surganya dengan begitu cepat dengan amalan-amalan mereka.
Mari mencoba bersama untuk mengulang-ulang membaca ayat yang di atas, renungkan.Tundukkan kepala dalam-dalam, carilah dan bayangkan keindahan surga-Nya. Bacalah dan rasakanlah seolah-olah Allah Ar-Rahman secara langsung sedang menasehati kita; saya dan Anda..

Dikisahkah suatu hari, Abdurrahman bin Auf dikabari oleh Rasulullah saw. Bahwa ia akan masuk surga dengan merangkak. Seketika itu Abdurrahman bin Auf merasa takut dan khawatir mendengar kata “merangkak”. Setelah diberitahu seperti itu, ia lebih banyak mengeluarkan hartanya untuk bersedekah dan berinfak di jalan Allah swt. Seperti yang kita ketahui, beliau adalah salah satu Sahabat Nabi yang kaya raya dan paling banyak bersedekah.Ia menyuplai kuda-kuda gagah nan kuat dalam setiap peperangan.
Sepatutnya kita juga seperti itu. Seorang Abdurrahman bin Auf saja yang sudah dijanjikan masuk surga karena sedekah, pengorbanannya terhadap Islam dan ibadahnya yang banyak sekali masih merasa khawatir. Bagaimana dengan kita??Sebuah pertanyaan yang tidak usah dijawab, namun cukup untuk direnungkan bersama untuk perubahan yang lebih baik dalam ibadah dan kehidupan kita di dunia fana ini untuk menyongsong kehidupan yang lebih kekal-akhirat.

Sungguh, Allah menciptakan makhluk-makhluk salah satunya untuk taat beribadah kepada-Nya (lihat QS. 51: 56).Disadari atau tidak, ternyata waktu yang Allah berikan kepada kita sudah lebih dari cukup kita gunakan untuk banyak beribadah kepada-Nya.
Tahukah kita bila dalam satu tahun kita dapat melakukan shalat wajib lebih dari 1700 kali?Lalu beberapa banyak shalat-shalat itu, yang kita lakukan dengan khusyuk?Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita tunaikan di awal waktu, sesuai anjuran Rasulullah SAW?Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita lakukan dengan berjama’ah di masjid?
Dalam rentang satu tahun, kita dapat melewati lebih dari 50 hari Senin, 50 hari Kamis, 30 kali hari-hari ayyamul bidh atau hari-hari putih selama tiga hari dipertengahan bulan (hijriyyah) yang kita disunnahkan untuk berpuasa. Berapa jauh jarak yang telah kita buat yang bisa menjauhkan antara wajah kita dari api neraka? Karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali karena puasanya itu Allah akan menjauhkan antara wajahnya dengan api neraka sepanjang 70 tahun.” (HR. Muslim).[gust kemal prihadi,Mendekatlah kepada Surga-Nya,dakwatuna.com, 31/3/2011 | 27 Rabiuts Tsani 1432 H].


Selama seseorang ingat Allah, selama di hatinya terdapat deringan dzikir, dan selama di dalam ruhnya terdapat percikan istighfar, maka akan terbit kembali cahaya yang memancarkan sinar terangnya ke seluruh relung jiwa. Sehingga menyemangati pemiliknya untuk membuka lembaran-lembaran hidup baru dalam naungan ridha llahi. Jika proses di atas dilalui, maka berapa kali pun seseorang berdosa tidak termasuk dalam katagori "meneruskan perbuatan keji" seperti disinggung dalam ayat tersebut. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak termasuk ishraar (meneruskan perbuatan keji) orang yang beristighfar, meskipun ia mengulang (dosanya) dalam sehari 70 (tujuh puluh) kali" HR Abu dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh lbnu Katsir. ia berkata: "Hadits hasan" (Tafsir lbnu Katsir l/439)

.           Merekalah orang-orang yang bertakwa yang sejati. Lalu apa balasan bagi mereka? "Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal" Mereka dibalas dengan maghfirah (ampunan) dan surga karena selama di dunia mereka bersegera kepada ampunan Allah dan bersegera merespon panggilan-Nya yang mengajak kepada surga. Sebab, "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula" (QS Ar Rahmaan (55): 60).

Maka, agar seluruh anggota keluarga kita menjadi penghuni surga, kita harus mengerahkan seluruh waktu, tenaga, kemampuan dan harta kita untuk mengkondisikan, mendidik dan membina mereka sehingga mereka memiliki kriteria-kriteria tersebut di atas. Namun, semua itu perlu waktu dan harus kontinyu. Tidak semudah membalik telapak tangan.[Sulami,Agar Keluarga Kita Menjadi Penghuni Surga, internet].

Rasulullah SAW bersabda, "Jaminlah untukku enam hal darimu, aku jaminkan surga untukmu; benar dalam bicara, tepat janji kepada Allah dan manusia, tunaikan amanah, tutup aurat dan jaga kemaluanmu, tahan matamu dari yang haram, dan jaga tangan."(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaki).
Sekaitan dengan hadits diatas, Ustadz Arifin Ilham menjelaskan dalam tulisan di Republika Online,
Subhanallah, Rasulullah ternyata akan menjaminkan surga kepada setiap umatnya jika mampu menghadirkan dalam keseharian akhlaknya enam amalan. Pertama, benar dalam setiap pembicaraannya.Setiap kata yang keluar selalu berorientasi hikmah dan tidak ada yang sia-sia.Seseorang yang benar dalam bertutur kata biasanya memiliki kejernihan hati. Sedapat mungkin jejeran kata selalu ada ruhiyahnya dan karenanya tak akan mengecewakan siapa pun (QS an-Nisa [4]: 9).

Kedua, menepati janji, baik kepada Allah ataupun manusia. Kepada Allah, sama sekali tidak tebersit untuk mengkhianti-Nya. Pun demikian kepada sesama ciptaan-Nya, tidak ada kezaliman yang diperbuat olehnya. Perwujudan janji yang ditepati adalah dengan menunaikan totalitas penghambaan kepada Allah dan Rasul-Nya Saat taat kepada Allah dan Rasul-Nya, saat itulah kita telah menepati janji.Kita semua sesungguhnya terikat dengan janji kepada Allah waktu di alam roh. Seperti ada ikatan primordial yang lekat antara kita sewaktu masih menjadi makhluk ruh dengan Sang Pencipta, Rabbul Izzah (QS al-A'raf [7]: 172).
Ketiga, tunaikan amanah.Orang yang amanah adalah orang yang diberi rasa aman, yaitu sebagai buah dari keimanannya kepada Allah. "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil ..." (QS an-Nisa [4]: 58).

Keempat, tutup aurat dan jaga kemaluan. Orang yang menjaga aurat akan terjaga dan meningkat kehormatannya. ".... Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan nya kecuali yang tampak dari padanya ... (QS an-Nuur [24]: 31).

Kelima, tahan mata dari perkara yang haram.Pada diri sea tiap mata ada hak. Dan di antara hak mata adalah menghindarkan nya dari tontonan yang diharam kan. Alquran surah an-Nuur di atas sudah cukup untuk mengingatkan kita supaya menjaga pandangan mata.
Karena itu, akan dijaminkan surga jika seseorang mampu menahan matanya dari hal-hal yang diharamkan seperti tontonan yang mengumbar aurat, film-film atau situs-situs porno. "Tatapan pertama hadiah bagimu, sementara tatapan berikutnya bukan milikmu," ujar Ali bin Abi Thalib.
Keenam, jaga tangan.Menjaga tangan berarti menempatkan tangan sesuai fungsinya.Dan fungsi tangan di antaranya menolong siapa pun yang membutuhkan uluran tangannya.Baik diminta ataupun tidak. Menurut Nabi SAW cukuplah keimanan seseorang kepada Allah dan hari Kiamat jika mampu menahan tangannya dari menyakiti saudara atau tetangganya.[Hikmah dari Ustadz Muhammad Arifin Ilham: Menjaminkan Surga, Republika online, Sabtu, 15 Januari 2011, 11:57 WIB].

Satu ketika Rasulullah menceritakan bahwa nanti di akherat Allah memerintahkan kepada seorang ‘abid [ahli ibadah] untuk masuk syurga karena rahmat [kasih sayang] Allah, tapi sang abid menolak, dia ingin masuk syurga karena pahala-pahala dari amal yang dilakukan selama di dunia dahulu, tapi ketika ditimbang maka amalan selama hidup yang dia lakukan tidak bisa memasukkannya ke syurga, sehingga diperintahkan kepada malaikat agar abid itu dimasukkan ke neraka, dia menghiba kepada Allah agar dimasukkan ke syurga bukan karena pahala ibadah yang dilakukan itu tapi karena rahmat Allah.

Dari hadits diatas dapat diambil pelajaran bahwa pahala yang kita kumpulkan belum tentu bisa memasukkan kita ke syurganya karena syurga itu tidak sebanding dengan semua ibadah yang kita lakukan, tapi yang akan memasukkan kita ke syurga itu adalah kasih sayang dan simpati Allah, salah satu simpati Allah itu bisa kita raih dengan ibadah yang ikhlas, bertaubat dari segala dosa dan maksiat yang dilakukan serta mengarahkan hidup ini agar menjadi orang yang bertaqwa. Wallahu a’lam,  [Cubadak Solok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar