Selasa, 15 Desember 2015

74. Sayang



Sulit kita untuk membedakan antara sayang dan cinta, kadangkala sayang itu cinta bahkan cinta itu tidak lepas dari sayang, ada yang mengatakan cinta itu berkaitan dengan fisik, seperti .lelaki mencintai wanita sebagai isterinya karena fisiknya menarik dan  cantik, tapi dikala cantik itu sudah memudar maka yang datang adalah sayang, atau kita menyaksikan ada wanita yang mau hidup berumah tangga  dengan lelaki yang cacat fisiknya tapi hidup mereka bahagia, maka itu adalah ujud dari sayang. Yang jelas pada cinta ada perasaan sayang dan pada sayang ada perasaan cinta.

Rasa cinta dan sayang ada pada setiap insan karena hal itu merupakan fithrah manusia sejak zaman dahulu, sejak zaman nabi Adam sudah tumbuh dan berkembang perasaan itu, tidak ada yang dicontoh oleh Adam sikap saling mencintai sehingga dia menyayangi Hawa, ini menunjukkan bahwa cinta itu insting atau gharizhah dari  makhluk hidup. Karena perasaan cinta dan sayang itulah maka terujud rumah tangga dalam sebuah pernikahan, dengan pernikahanlah maka cinta dan sayang akan terjaga dengan baik, cinta dan sayang yang tidak dibingkai oleh penikahan maka ini adalah cinta yang liar, membahayakan pribadi siapapun.
“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.”

Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.
“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.”Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang.Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.

Mari kita belajar tentang pinangan lelaki shalih dari kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi, lelaki Persia yang baru bebas dari perbudakan fisik dan perbudakan konsepsi hidup itu ternyata mencintai salah seorang muslimah shalihah dari Madinah. Ditemuinya saudara seimannya dari Madinah, Abud Darda’, untuk melamarkan sang perempuan untuknya.
“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”
“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.”Yang diperkenalkan tetap membisu.Jantungnya berdebar.
“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya.Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya.Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abu Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama.Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.”Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu.Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya. ”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”
Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu.Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.
Salman ditolak.Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya, “Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang.Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri.Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga.Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak.Alasannya ternyata sederhana saja.Dengarlah. “Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain.Ia mencintai si pengantar, Abu Darda’.Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.”Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai.“Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.”Ya, tidak ada yang lebih indah.Ini adalah perkataan Rasulullah.Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran.Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan.Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.[Shabra Syatila, Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta, Dakwatuna.com, 30/9/2010 | 21 Syawal 1431 H].

Ternyata cinta bukan sebatas antara makhluk saja tapi cinta kepada Khaliq juga Nampak dalam praktek kehidupan seorang hamba melalui pengabdian, bahkan hubungan hamba dengan Allah juga mengandung hubungan cinta selain hubungan pengabdian dan hubungan bisnis.
Hubungan hamba dengan Khaliqnya, yaitu sebagai pengabdian yang mencurahkan seluruh potensi hidupnya hanya untuk menyembah Allah semata [51;56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Hubungan bisnis, yaitu hubungan antara penjual dan pembeli, Allah berperan sebagai pembelinya sedangkan manusia sebagai pedagang, sebagaimana yang tergambar dalam surat At Taubah 9;111“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin itu diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau dibunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah  kamu lakukan itu, itulah kemenangan yang besar”
            Hubungan cinta; yaitu hubungan kasih sayang antara hamba dengan Khaliqnya. Hubungan ini terujud karena nilai iman yang tinggi dan pemahaman tauhid yang benar, sehingga seorang mukmin meletakkan posisi cintanya sesuai dengan prioritas [9;24], bahkan Allah menggambarkan bagaimana seorang mukmin meletakkan dasar cintanya kepada Allah selain mencintai yang lain [2;165] ”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
Cinta yang paling tinggi dan paling wajib serta yang paling bermanfaat mutlak adalah cinta kepada Allah Ta’ala semata, diiringi terbentuknya jiwa oleh sikap hanya menuhankan Allah Ta’ala saja. Karena yang namanya Tuhan adalah sesuatu yang hati manusia condong kepadanya dengan penuh rasa cinta dengan meng-agungkan dan membesarkannya, tunduk dan pasrah secara total serta menghamba kepadaNya. Allah Ta’ala wajib dicintai karena DzatNya sendiri,sedangkan yang selain Allah Ta’ala dicintai hanya sebagai konsekuensi dari rasa cinta kepada Allah Ta’ala.
Dalam Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)
Dalam riwayatlain, Rasulullah juga bersabda“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)

Dari dua hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia diberi.
.           Dalam pengertian menurut syariat, dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang –orang yang beriman dan taat kepada Allah ta’ala karena keimanan dan ketaatan yang mereka lakukan.Sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan dengan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)

Jadi, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta pengikut mereka di seluruh penjuru dunia adalah orang-orang yang lebih berhak untuk kita cintai (meskipun kita tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka), dari pada orang-orang yang dekat dengan kita seperti tetangga kita, orang tua kita, anak-anak kita sendiri, saudara-saudara kita, ataupun saudara kita yang lain, apabila mereka itu membenci, memusuhi dan menentang Allah dan RasulNya dan tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan RasulNya maka kita tidak berhak untuk mencintai melebihi orang-orang yang berjalan di atas al-haq dan orang yang selalu taat kepada Allah dan rasulNya. Demikian juga kecintaan dan kebencian yang tidak disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Dan hal ini bermacam-macam jenisnya di antaranya adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh harta kekayaan, derajat dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran, kekeluargaan dan lain-lain, tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala[Ramaisha Ummu Hafidz, Khutbah Jum’at; Cinta Dan Benci Karena Allah,
Sumber:www.alsofwah.or.id/khutbah].

Rabiah binti Ismail Al-Adawiyah adalah wanita sufi ternama dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai pengagum cinta (mahabbatullah) dan dikenang sebagai ibu para sufi besar (The Mother of The Grand Master). Lahir sekitar tahun 713 Masehi--masa awal kurun kedua tahun Hijriah--di Kota Basrah Irak.

Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang hidup sezaman dengan Rabiah, mengajukan pinangan kepadanya. Tapi pinangan itu ditolak. Rabiah mengatakan, ''Wahai saudaraku, carilah perempuan lain. Apakah engkau melihat adanya satu tanda-tanda sensualitas dalam diriku?''

Di lain waktu, datanglah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah (w 172 H) juga pernah mengajukan pinangannya. Untuk menarik hati Rabiah, ia memberi iming-iming mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan menjanjikan 10 ribu dinar tiap bulan dari pendapatannya.

Tapi Rabiah menjawab, ''Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.''Dan terakhir, tawaran itu datang dari sahabatnya sendiri, Hasan Al-Bashri.Rabiah setuju tapi dengan empat syarat.

Pertama, Rabiah bertanya, ''Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?''Hasan menjawab, ''Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.''

Kedua, ''Pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?''Hasan menjawab, ''Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.'
Ketiga, ''Pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab), semua orang akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?''Hasan kembali menjawab, ''Hanya Allah Yang Mahatahu.''

Keempat, ''Pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?'' Hasan lagi-lagi menjawab dengan jawaban yang sama. Karena memang hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi. Rabiah lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya daripada makhluk-makhluk-Nya.[Wiyanto Suud,
Berkasih-kasihan dengan Allah SWT, Republika OnLine ,Ahad, 02 Mei 2010, 06:06 WIB].

            Pada sebuah munajadnya Rabi’ah pernah mengucapkan doa yang menunjukkan kualitas cintanya kepada Allah, “Ya Allah seandainya aku beribadah kepada-Mu karena takut dengan neraka maka masukkanlah aku ke jahanam, bila aku beribadah karena mengharapkan syurga maka jauhkanlah syurga itu dariku, tapi bila aku beribadah kepada karena cinta dan sayangku maka janganlah Engkau sia-siakan aku”. [Catatan: Rabi'ah adalah tokoh sufi dan tarekat, pada kontek aqidah dan syariah, ajaran sufi dan tarekat banyak yg menyimpang dari islam...pandangan Rabi'ah ini tidak dapat dijadikan sbg hujjah]

Atau ucapan Ulama besar bernama Ibnu Taimiyyah yang mendekam dalam penjara oleh rezim zhalim dizamannya, dia bermunajad,”Ya Allah seandainya mereka mencampakkanku maka itulah saatnya aku bertamasya kepadamu, bila mereka mengurungku maka ini adalah saatnya aku bersunyi diri bersama-Mu, bila mereka menggantungku maka itu mempercepat pertemuanku dengan-Mu”.

Cinta hamba kepada Allah merupakan prioritas cinta yang harus diletakkan pada peringkat pertama, sedangkan yang lainnya perlu dicintai pada peringkat berikutnya, tidak boleh kita meletakkan cinta kepada Allah pada posisi rendah, maka berarti terjadi penyelewengan.Bila cinta hamba kepada Khaliqnya telah terjadi penyelewengan maka Allah akan menjatuhkan vonis kepadanya dengan cap fasiq serta akan diberikan siksa yang pedih, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah 9;24

“Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu sukai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya”, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”.

Untuk itulah  kita harus menempatkan prioritas cinta itu pada posisi yang benar yaitu Allah, Rasul dan Jihad, setelah itu boleh yang lainnya agar cinta tadi tidak ternoda oleh kekafiran dan kemusyrikan, wallahu a’lam.[Kubu Dalam Parak Karakah Padang, 13 Rajab 1432.H/ 14 Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar