Selasa, 15 Desember 2015

66. Wanita



Dimana-mana di dunia ini, sejak dahulu sampai sekarang wanita yang jadi korban, dijadikan budak belian atau alat pemuas nafsu syahwat. Islamlah yang selalu mengajarkan supaya wanita itu dihormati, diantaranya dengan sabda Nabi Muhammad Saw, ”Syurga itu berada di bawah telapak kaki kaum wanita”.

            Hadits ini mempunyai pengertian yang sangat luas sekali dan dapat diartikan berdasarkan salah satu segi kehidupan. Syorga itu adalah kata yang memberikan pengertian abstrak, sesuatu yang dihayati, yang  tidak cukup dengan kata-kata untuk melukiskan penghayatan dan perasaan yang terkandung di dalamnya.
                                                                                                             
            Secara kasar dapat kita rumuskan, bahwa syurga adalah sesuatu keadaan kejiwaan, yang dapat digambarkan dengan kata-kata ketenangan, kebahagiaan, kesenangan dan keberuntungan. Secara fisiologis [ilmu fungsi tubuh manusia], ciri khas dari ketenangan adalah denyut nadi tenang, nafas teratur dengan frekuensi normal dan tekanan darah tidak tinggi. Apapun yang dapat memberikan ketenangan, maka orang tersebut akan mengalami syurga, jiw tidak gelisah.

            Nabi Besar Muhammad Saw memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada wanita yang dapat memberikan ketenangan kepada suaminya, perhatikanlah hadits berikut; ”Sesungguhnya nabi ketika ditanya tentang perempuan manakah yang terbaik, beliau menjawab, ialah yang menyenangkan bila dilihat suaminya, diikutinya suruhan suaminya dan tidak diselewengkannya dirinya dan harta suaminya ke jalan yang tidak disukainya”.

            Hadits ini menggambarkan seorang wanita yang tahu harga diri dan tahu fungsi dirinya terhadap suaminya. Pakaian bersih, dandanan teratur dan rapi, tentu akan menyenangkan suami, dapat menimbulkan nafsu syahwat suami sewaktu-waktu yang akan membawa hubungan yang lebih rapat dan dapat pula memberikan ketenangan yang lebih sempurna.

            Isteri yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya dan terhadap suaminya, sehingga si suami betul-betul merasa yakin bahwa isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja. Segala yang dilakukannya adalah untuk memberikan kesenangan dan ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah tangga yang rapi, makan yang teratur dan sesuai dengan selera. Si isteri tahu bahwa sebagai perangsang seksual. Ia tidak akan berpakaian yang  mencolok di hadapan laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain.

            Apabila wanita berantakan, maka rumah tangga akan berantakan dan negara juga akan berantakan. Karena rumah tangga adalah kesatuan kecil dari masyarakat dan negara. Presiden mempunyai rumah tangga dan isteri, menteri-menteri mempunyai rumah tangga, rakyatpun mempunyai rumah tangga, disana wanita memainkan peranan utama. Itulah sebabnya nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini.

            Suatu kisah sederhana dibawah ini menggambarkan sebuah tipe kedudukan wanita sebagai ibu rumah tangga karena ia dituntut suatu kesiapan dan persiapan diri dengan berbagai ilmu yang dapat dijangkaunya. Didalam problem rumah dibutuhkan dasar-dasar ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, keuangan, pendidikan, pengajaran, masak memasak, keterampilan serta seni mengurus rumah tangga.

            Sekelumit kisah Asma binti Abu Bakar As Siddiq, isteri Az Zubair bin Awwam. Asma saudara kandung Aisyah mendapat gelar ”Zatun Nitaqain” dari Rasulullah. Ia menyatakan tentang dirinya, ”Saya melayani Zubair dalam segala urusan rumah tangga saya yang melatih kudanya, memberikannya makan dan minum, menjahit timba yang bocor, menyiram tanaman serta memanggulnya sendiri kacang-kacangan”. Itulah Asma yang terkenal peranannya dalam sejarah Hijrah Nabi Saw sebagai Dzatun Nitaqain yang merobek stagennya menjadikan dua bagian, satu bagian sebagai pengikat bekal makanan untuk nabi dan ayahnya yang sedang singgah hijrah di gua Tsur, dan stagen satu lagi untuk dirinya.

            Tidak diragukan lagi bahwa rumah tangga muslim adalah inti dari masyarakat yang baik, maka wajiblah diperhatikan dengan memelihara ikatan perkawinan islam dengan ikatan yang benar jauh dari kesan sia-siaan untuk mewujudkan tujuan-tujuan luhur yang penuh kasih sayang dan ketenangan jiwa yang sekaligus merupakan salah satu kebesaran Allah yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya sebagaimana gambaran firman Allah, ”Dan diantara tanda-tanda-Nya bahwa ia menjadikan isteri bagimu yang sebangsa denganmu , supaya boleh kamu diam bersama dia serta saling mengasihi dan mencintai” [Ar Rum;21].

            Prinsip-prinsip pengaturan rumah tangga dan segenap peraturannya bersumber dari syariat Islam, maka oleh karenanya tidaklah ia tunduk pada masa permulaan kepada suatu perubahan asing dan pengaruh pemerintah disaat rumah tangga islam terjaga oleh aqoid keimanan pada setiap muslim. Telah nampak sekarang bahwa tidaklah rumah tangga bisa terjaga kecuali bila dipersenjatai dengan senjata ilmu agama dan aqoid keimanan yang menyangku syariat sehingga dengan demikian ia tetap terlindung dari gelombang-gelombang atheisme dan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan orang-orang yang berusaha menyebarkan kerusakan di bumi, ”Pastilah Allah menolong barangsiapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Gagah Perkasa”.

            Hendaknya kita kaum muslimin memperhatikan pendidikan kepada rumah tangga tentang aqoid keimanan agama yang benar dan mempersenjatainya dengan senjata taqwa supaya berpegang teguh pada sebab  yang kuat  dari akhlak yaitu rasa malu, kesucian diri dan harga diri sehingga terbentuklah masyarakat yang baik.

            Walaupun wanita tampil di luar sebagai anggota masyarakat dengan jabatan lain yang cukup penting, maka kedudukannya sebagai pengatur rumah tangga tempat berteduhnya anggota keluarga tidak dapat ditinggalkan.
Nabi Besar Muhammad Saw memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada wanita yang dapat memberikan ketenangan kepada suaminya, perhatikanlah hadits berikut; ”Sesungguhnya nabi ketika ditanya tentang perempuan manakah yang terbaik, beliau menjawab, ialah yang menyenangkan bila dilihat suaminya, diikutinya suruhan suaminya dan tidak diselewengkannya dirinya dan harta suaminya ke jalan yang tidak disukainya”.

            Isteri yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya dan terhadap suaminya, sehingga si suami betul-betul merasa yakin bahwa isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja. Segala yang dilakukannya adalah untuk memberikan kesenangan dan ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah tangga yang rapi, makan yang teratur dan sesuai dengan selera. Ia tidak akan berpakaian yang  mencolok di hadapan laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain. Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" [Ar Ruum 30;21]

Itulah keadaan muslimah seharusnya, tapi bila wanitanya telah menjadi orang yang durhaka kepada Allah dan suaminya maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi ketika itu, murka Allah akan datang dengan berbagai bencana yang mengerikan.

Nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini. Selain itu beliaupun menyatakan  dengan sabdanya, ”Syurga itu berada di bawah telapak kaki kaum wanita”.
           
            Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Nabi Allah, apakah sebabnya hanya laki-laki yang banyak disebut dalam Al Qur'an, sedang wanita tidak disebut". Sesudah pertanyaan tersebut karena hanya merasa laki-laki saja yang disebut berjihad, berperan dan beramal luas, maka Rasulullah Saw membacakan firman Allah pada surat Al Ahzab 33;35
''Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar''

            Dari ayat diatas ada sepuluh peran wanita dalam kehidupannya bersama lelaki sehingga kedudukannya tidak berbeda untuk meraih kebaikan dari Allah, dengan peran itu wanitapun akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah adalah;

1.Yakin dengan agama Islam

''Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim
Muslim laki-laki dan wanita yang menyadari dirinya untuk masuk islam yakin dengan ajaran islam dan menolak yang lain, semua isme apa saja yang tampil di dunia ini, maka sikap seorang muslim adalah barra’ yaitu mengingkarinya,memusuhi, membuat jarak dan menyingkirkannya.
Di dunia ini hanya ada dua yaitu jalan Allah dan jalan syaitan, kafir atau muslim, islam atau selain islam. Seorang muslim dan muslimah bila telah menyatakan wala’ yaitu hanya loyalitas dan patuh hanya kepada Allah maka wajib untuk bara’ yaitu menolak, membenci, memusuhi, membatasi diri dan menjauhkan segala tuhan selain Allah;

            “Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [Al An’am 6;153]

2.Beriman kepada Allah
laki-laki dan perempuan yang mukmin
Iman menuntut seseorang baik pria ataupun wanita untuk mengakui bahwa Allahlah yang menciptakan [40;62] yang memberi rezeki [35;3] yang mengangkat dan merendahkan [3;26] sehingga mereka tidak mau diintervensi oleh siapapun yang dapat merusak keimanannya.

”Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[Ali Imran 3;26]

3.Taat kepada Allah
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya

Orang-orang sebelum islam, dibawah bimbingan wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi-nabi sebelumnya, karakter ummat mereka bila diperintahkan untuk melaksanakan hukum Allah mereka menjawab,”Sami’na wa ashoina” artinya kami mendengar tapi kami lalai. Sedangkan jawaban orang-orang yang benar imannya adalah sebagaimana yang tergambar dalam surat An Nur 24;51
‘’ Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka  ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.’’

            Untuk menjadi ummat yang taat kepada Allah bukanlah hak lelaki saja tapi wanitapun punya hak yang sama sehingga ampunan dan pahala yang besar akan diterima dari Allah SWT.

4.Jujur dalam janji dan perbuatan
laki-laki dan perempuan yang benar
Laki-laki dan wanita yang mengharapkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah mempunyai sikap hidup jujur dalam janji dan perbuatan, artinya mereka adalah  orang-orang yang amanah, Firman Allah dalam surat An Nisa 4;58

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat"

5.Shabar dalam menghadapi hidup
laki-laki dan perempuan yang sabar

Umumnya kehidupan manusia ini dihiasi oleh dinamika ujian dan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan, keberhasilan ataupun kegagalan,bahkan Allah menjadikan musibah ini sebagai sunnatullah dalam kehidupan;

            ’’Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[Al Baqarah 2;155-156].

            Bagi seorang mukmin baik lelaki maupun wanita, musibah itu adalah ujian untuk meningkatkan kualitas iman, sedangkan bagi orang-orang yang lalai fungsi musibah sebagai peringatan, bagi orang yang durhaka, maka musibah itu adalah azab dan murka Allah. Tidak layak kiranya seorang fasiq, zhalim dan munafiq saat mendapat musibah dia mengatakan,”Allah menguji iman saya”, namun yang pantas adalah,”Allah menimpakan azab kepada saya”.

6.Khusyu' dikala Beribadah
laki-laki dan perempuan yang khusyuk,

Khusyu' artinya konsentrasi dan terfokus, terutama dalam mengerjakan shalat haruslah dengan khusyu', bila tidak maka nilai ibadah shalatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan;

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',  (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya'' [Al Baqarah 2;45-46].
Siapapun orangnya selama dia masih beriman kepada Allah baik lelaki ataupun wanita bisa khushu' dalam melaksanakan ibadah.

7.Senantiasa bersedekah
laki-laki dan perempuan yang bersedekah

Dua ayat dibawah ini merupakan pijakan  untuk mengeluarkan sedekah  yang kita miliki  kepada yang berhak menerimanya yaitu;
”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia amat Mengetahui”.  [Al Baqarah 2;261]

           
”Kamu belum lagi mencapai kebajikan  sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan [dermakan] itu Allah Mengetahui”.  [Ali Imran 3;92] 

            Harta yang dikeluarkan di jalan Allah seperti membantu kelancaran suatu pendidikan, membebaskan fakir miskin dari kesengsaraan, membantu anak yatim, maka itu bukanlah pengeluaran yang sia-sia, akan tetapi Allah akan menghitung dan memperhitungkan pahalanya yang sangat banyak, yang diibaratkan sebutir biji yang menghasilkan tujuh ratus kebaikan. Allah sendiri mengatakan bukanlah atau belum mencapai suatu kebajikan seandainya orang yang beriman  belum menafkahkan dari sebagian harta yang paling dicintainya dan masih disukainya.

8.Menunaikan Puasa
laki-laki dan perempuan yang berpuasa

Kedatangan bulan Ramadhan bagi orang yang beriman ibarat menanti kedatangan tamu yang sudah lama tidak berjumpa, sebelas bulan sudah berlalu dengan suka dan duka yang diiringi dengan naik turunnya kualitas iman. Dengan datangnya bulan Ramadhan maka ummat  Islam teransang kembali untuk meningkatkan kualitas iman dan amalnya kepada Allah SWT dengan menyemarakkan Ramadhan melalui berbagai aktivitas ibadah.

Perintah shoum atau puasa diwajibkan Allah SWT kepada orang yang beriman dengan salah satu surat yaitu dalam Al Baqarah 2;183

 “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas engkau berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Dalam sebuah hadits dari Ubaidilah diriwayatkan;
“Hai Rasulullah, katakanlah kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah kepadaku”, jawab Nabi,”Puasa pada bulan Ramadhan”, lelaki itu bertanya lagi, “Apakah masih ada puasa wajib atasku?” Jawab Nabi, “Tidak ada, kecuali kalau engkau berpuasa sunnah”.

Ibadah puasa bagi seorang mukmin dan mukminat sudah dilakukan dengan latihan diwaktu masih anak-anak untuk membiasakan pengamalan ajaran rukun Islam ketiga, disamping bermanfaat bagi kesehatan rohani juga mendatangkan kesehatan jasmani.

9.Menjaga kehormatan diri
laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya

”Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa [23;5-6]

Orang yang menjaga sikap ini nampak dalam segala sikapnya, sebagai pribadi dia tidak akan berbuat merusak, melakukan penyelewengan, dan perbuatan maksiat lainnya.

10.Berzikir kepada Allah
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,

Zikir atau mengingat Allah  merupakan sarana untuk tazkiatunnafs atau pembersihan jiwa, Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;190-191

            ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Tazkiatunnafs dapat terujud bila seorang mukmin siap menerima Al Qur’an selain sebagai Al Kitab juga sebagai undang-undang yang wajib ditegakkan. Jiwa akan bersih bila kita sebagai hamba Allah selalu memprogram diri untuk membaca, menghafal, mentadabburi, memahami, tetap berdiri pada makna-maknanya dan mengambil i’tibar dari kisah-kisahnhya. Orang yang melecehkan Al Qur’an dengan cara tidak mau membaca, enggan mengkaji dan ogah mengamalkannya maka jiwanya gersang,

”Berkatalah Rasul ,”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” [Al Furqan 25;30].

            Itulah jawaban Allah terhadap pertanyaan kaum ibu tentang perannya dalam kehidupan ini, walaupun dari segi kodrat dan tabiat mereka tidaklah sama dengan laki-laki tapi dalam hal keimanan dan keislaman, untuk meraih ampunan dan pahala yang besar kaum wanita juga mempunya hak dan kewajiban yang sama, wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/ 25Agustus 2010.M]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar