Dimana-mana di dunia ini, sejak dahulu
sampai sekarang wanita yang jadi korban, dijadikan budak belian atau alat
pemuas nafsu syahwat. Islamlah yang selalu mengajarkan supaya wanita itu
dihormati, diantaranya dengan sabda Nabi Muhammad Saw, ”Syurga itu berada di bawah telapak kaki kaum wanita”.
Hadits
ini mempunyai pengertian yang sangat luas sekali dan dapat diartikan
berdasarkan salah satu segi kehidupan. Syorga itu adalah kata yang memberikan
pengertian abstrak, sesuatu yang dihayati, yang
tidak cukup dengan kata-kata untuk melukiskan penghayatan dan perasaan
yang terkandung di dalamnya.
Secara
kasar dapat kita rumuskan, bahwa syurga adalah sesuatu keadaan kejiwaan, yang
dapat digambarkan dengan kata-kata ketenangan, kebahagiaan, kesenangan dan
keberuntungan. Secara fisiologis [ilmu fungsi tubuh manusia], ciri khas dari
ketenangan adalah denyut nadi tenang, nafas teratur dengan frekuensi normal dan
tekanan darah tidak tinggi. Apapun yang dapat memberikan ketenangan, maka orang
tersebut akan mengalami syurga, jiw tidak gelisah.
Nabi
Besar Muhammad Saw memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada wanita yang
dapat memberikan ketenangan kepada suaminya, perhatikanlah hadits berikut; ”Sesungguhnya nabi ketika ditanya tentang
perempuan manakah yang terbaik, beliau menjawab, ialah yang menyenangkan bila
dilihat suaminya, diikutinya suruhan suaminya dan tidak diselewengkannya
dirinya dan harta suaminya ke jalan yang tidak disukainya”.
Hadits
ini menggambarkan seorang wanita yang tahu harga diri dan tahu fungsi dirinya
terhadap suaminya. Pakaian bersih, dandanan teratur dan rapi, tentu akan
menyenangkan suami, dapat menimbulkan nafsu syahwat suami sewaktu-waktu yang
akan membawa hubungan yang lebih rapat dan dapat pula memberikan ketenangan
yang lebih sempurna.
Isteri
yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya
dan terhadap suaminya, sehingga si suami betul-betul merasa yakin bahwa
isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja. Segala yang dilakukannya adalah
untuk memberikan kesenangan dan ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang
kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah
tangga yang rapi, makan yang teratur dan sesuai dengan selera. Si isteri tahu
bahwa sebagai perangsang seksual. Ia tidak akan berpakaian yang mencolok di hadapan laki-laki lain yang bukan
suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah lakunya, cara ia
berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain.
Apabila
wanita berantakan, maka rumah tangga akan berantakan dan negara juga akan
berantakan. Karena rumah tangga adalah kesatuan kecil dari masyarakat dan
negara. Presiden mempunyai rumah tangga dan isteri, menteri-menteri mempunyai
rumah tangga, rakyatpun mempunyai rumah tangga, disana wanita memainkan peranan
utama. Itulah sebabnya nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila
ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa
memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini.
Suatu
kisah sederhana dibawah ini menggambarkan sebuah tipe kedudukan wanita sebagai
ibu rumah tangga karena ia dituntut suatu kesiapan dan persiapan diri dengan
berbagai ilmu yang dapat dijangkaunya. Didalam problem rumah dibutuhkan
dasar-dasar ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, keuangan, pendidikan, pengajaran,
masak memasak, keterampilan serta seni mengurus rumah tangga.
Sekelumit
kisah Asma binti Abu Bakar As Siddiq, isteri Az Zubair bin Awwam. Asma saudara
kandung Aisyah mendapat gelar ”Zatun
Nitaqain” dari Rasulullah. Ia menyatakan tentang dirinya, ”Saya melayani Zubair dalam segala urusan
rumah tangga saya yang melatih kudanya, memberikannya makan dan minum, menjahit
timba yang bocor, menyiram tanaman serta memanggulnya sendiri kacang-kacangan”.
Itulah Asma yang terkenal peranannya dalam sejarah Hijrah Nabi Saw sebagai
Dzatun Nitaqain yang merobek stagennya menjadikan dua bagian, satu bagian
sebagai pengikat bekal makanan untuk nabi dan ayahnya yang sedang singgah
hijrah di gua Tsur, dan stagen satu lagi untuk dirinya.
Tidak
diragukan lagi bahwa rumah tangga muslim adalah inti dari masyarakat yang baik,
maka wajiblah diperhatikan dengan memelihara ikatan perkawinan islam dengan
ikatan yang benar jauh dari kesan sia-siaan untuk mewujudkan tujuan-tujuan
luhur yang penuh kasih sayang dan ketenangan jiwa yang sekaligus merupakan
salah satu kebesaran Allah yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya
sebagaimana gambaran firman Allah, ”Dan
diantara tanda-tanda-Nya bahwa ia menjadikan isteri bagimu yang sebangsa
denganmu , supaya boleh kamu diam bersama dia serta saling mengasihi dan
mencintai” [Ar Rum;21].
Prinsip-prinsip
pengaturan rumah tangga dan segenap peraturannya bersumber dari syariat Islam,
maka oleh karenanya tidaklah ia tunduk pada masa permulaan kepada suatu
perubahan asing dan pengaruh pemerintah disaat rumah tangga islam terjaga oleh
aqoid keimanan pada setiap muslim. Telah nampak sekarang bahwa tidaklah rumah
tangga bisa terjaga kecuali bila dipersenjatai dengan senjata ilmu agama dan
aqoid keimanan yang menyangku syariat sehingga dengan demikian ia tetap
terlindung dari gelombang-gelombang atheisme dan penyelewengan-penyelewengan
yang dilakukan orang-orang yang berusaha menyebarkan kerusakan di bumi, ”Pastilah Allah menolong barangsiapa yang
menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Gagah Perkasa”.
Hendaknya
kita kaum muslimin memperhatikan pendidikan kepada rumah tangga tentang aqoid
keimanan agama yang benar dan mempersenjatainya dengan senjata taqwa supaya berpegang
teguh pada sebab yang kuat dari akhlak yaitu rasa malu, kesucian diri
dan harga diri sehingga terbentuklah masyarakat yang baik.
Walaupun wanita tampil di luar
sebagai anggota masyarakat dengan jabatan lain yang cukup penting, maka
kedudukannya sebagai pengatur rumah tangga tempat berteduhnya anggota keluarga
tidak dapat ditinggalkan.
Nabi Besar Muhammad Saw memberikan
penghargaan yang sangat tinggi kepada wanita yang dapat memberikan ketenangan
kepada suaminya, perhatikanlah hadits berikut; ”Sesungguhnya nabi ketika ditanya tentang perempuan manakah yang
terbaik, beliau menjawab, ialah yang menyenangkan bila dilihat suaminya,
diikutinya suruhan suaminya dan tidak diselewengkannya dirinya dan harta
suaminya ke jalan yang tidak disukainya”.
Isteri
yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya
dan terhadap suaminya, sehingga si suami betul-betul merasa yakin bahwa
isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja. Segala yang dilakukannya adalah
untuk memberikan kesenangan dan ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang
kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah
tangga yang rapi, makan yang teratur dan sesuai dengan selera. Ia tidak akan
berpakaian yang mencolok di hadapan
laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah
lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain. Muhammad Saw
bersabda, ” Wanita adalah tiang negara,
bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”.
Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi
Muhammad Saw ini.
"Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" [Ar
Ruum 30;21]
Itulah keadaan muslimah seharusnya, tapi
bila wanitanya telah menjadi orang yang durhaka kepada Allah dan suaminya maka
dapat dibayangkan apa yang akan terjadi ketika itu, murka Allah akan datang
dengan berbagai bencana yang mengerikan.
Nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila
ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa
memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini. Selain itu beliaupun
menyatakan dengan sabdanya, ”Syurga itu berada di bawah telapak kaki
kaum wanita”.
Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,
"Ya Nabi Allah, apakah sebabnya hanya laki-laki yang banyak disebut dalam
Al Qur'an, sedang wanita tidak disebut". Sesudah pertanyaan tersebut
karena hanya merasa laki-laki saja yang disebut berjihad, berperan dan beramal
luas, maka Rasulullah Saw membacakan firman Allah pada surat Al Ahzab 33;35
''Sesungguhnya
laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin,
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan
yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang
khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar''
Dari ayat diatas ada sepuluh peran
wanita dalam kehidupannya bersama lelaki sehingga kedudukannya tidak berbeda
untuk meraih kebaikan dari Allah, dengan peran itu wanitapun akan mendapatkan
ampunan dan pahala yang besar dari Allah adalah;
1.Yakin dengan
agama Islam
''Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim
Muslim laki-laki dan wanita yang menyadari
dirinya untuk masuk islam yakin dengan ajaran islam dan menolak yang lain,
semua isme apa saja yang tampil di dunia ini, maka sikap seorang muslim adalah
barra’ yaitu mengingkarinya,memusuhi, membuat jarak dan menyingkirkannya.
Di dunia ini hanya ada dua yaitu jalan
Allah dan jalan syaitan, kafir atau muslim, islam atau selain islam. Seorang muslim
dan muslimah bila telah menyatakan wala’ yaitu hanya loyalitas dan patuh hanya
kepada Allah maka wajib untuk bara’ yaitu menolak, membenci, memusuhi,
membatasi diri dan menjauhkan segala tuhan selain Allah;
“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah
jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
(yang lain)[152], Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya.
yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [Al An’am 6;153]
2.Beriman kepada
Allah
laki-laki dan perempuan yang mukmin
Iman menuntut seseorang baik pria ataupun
wanita untuk mengakui bahwa Allahlah yang menciptakan [40;62] yang memberi
rezeki [35;3] yang mengangkat dan merendahkan [3;26] sehingga mereka tidak mau
diintervensi oleh siapapun yang dapat merusak keimanannya.
”Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari
orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[Ali Imran 3;26]
3.Taat kepada
Allah
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam
ketaatannya
Orang-orang sebelum islam, dibawah
bimbingan wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi-nabi sebelumnya, karakter
ummat mereka bila diperintahkan untuk melaksanakan hukum Allah mereka
menjawab,”Sami’na wa ashoina” artinya kami mendengar tapi kami lalai. Sedangkan
jawaban orang-orang yang benar imannya adalah sebagaimana yang tergambar dalam
surat An Nur 24;51
‘’
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan
rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami
patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.’’
Untuk menjadi ummat yang taat kepada Allah
bukanlah hak lelaki saja tapi wanitapun punya hak yang sama sehingga ampunan
dan pahala yang besar akan diterima dari Allah SWT.
4.Jujur dalam janji
dan perbuatan
laki-laki dan perempuan yang benar
Laki-laki dan wanita yang
mengharapkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah mempunyai sikap hidup
jujur dalam janji dan perbuatan, artinya mereka adalah orang-orang yang
amanah, Firman Allah dalam surat An Nisa 4;58
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat"
5.Shabar dalam
menghadapi hidup
laki-laki dan perempuan yang sabar
Umumnya kehidupan manusia ini dihiasi oleh
dinamika ujian dan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan,
keberhasilan ataupun kegagalan,bahkan Allah menjadikan musibah ini sebagai
sunnatullah dalam kehidupan;
’’Dan sungguh akan kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[Al Baqarah 2;155-156].
Bagi
seorang mukmin baik lelaki maupun wanita, musibah itu adalah ujian untuk meningkatkan
kualitas iman, sedangkan bagi orang-orang yang lalai fungsi musibah sebagai
peringatan, bagi orang yang durhaka, maka musibah itu adalah azab dan murka
Allah. Tidak layak kiranya seorang fasiq, zhalim dan munafiq saat mendapat
musibah dia mengatakan,”Allah menguji iman saya”, namun yang pantas
adalah,”Allah menimpakan azab kepada saya”.
6.Khusyu' dikala
Beribadah
laki-laki dan perempuan yang khusyuk,
Khusyu'
artinya konsentrasi dan terfokus, terutama dalam mengerjakan shalat haruslah
dengan khusyu', bila tidak maka nilai ibadah shalatnya tidak dapat
dipertanggungjawabkan;
"Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,
dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya'' [Al Baqarah
2;45-46].
Siapapun
orangnya selama dia masih beriman kepada Allah baik lelaki ataupun wanita bisa
khushu' dalam melaksanakan ibadah.
7.Senantiasa
bersedekah
laki-laki dan perempuan yang bersedekah
Dua ayat dibawah ini merupakan pijakan untuk mengeluarkan sedekah yang kita miliki kepada yang berhak menerimanya yaitu;
”Perumpamaan
orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti
sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas
pemberian-Nya dan Dia amat Mengetahui”. [Al Baqarah 2;261]
”Kamu
belum lagi mencapai kebajikan sebelum kamu
menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan
[dermakan] itu Allah Mengetahui”. [Ali Imran 3;92]
Harta
yang dikeluarkan di jalan Allah seperti membantu kelancaran suatu pendidikan,
membebaskan fakir miskin dari kesengsaraan, membantu anak yatim, maka itu
bukanlah pengeluaran yang sia-sia, akan tetapi Allah akan menghitung dan
memperhitungkan pahalanya yang sangat banyak, yang diibaratkan sebutir biji
yang menghasilkan tujuh ratus kebaikan. Allah sendiri mengatakan bukanlah atau
belum mencapai suatu kebajikan seandainya orang yang beriman belum menafkahkan dari sebagian harta yang
paling dicintainya dan masih disukainya.
8.Menunaikan
Puasa
laki-laki dan perempuan yang berpuasa
Kedatangan
bulan Ramadhan bagi orang yang beriman ibarat menanti kedatangan tamu yang
sudah lama tidak berjumpa, sebelas bulan sudah berlalu dengan suka dan duka
yang diiringi dengan naik turunnya kualitas iman. Dengan datangnya bulan
Ramadhan maka ummat Islam teransang
kembali untuk meningkatkan kualitas iman dan amalnya kepada Allah SWT dengan
menyemarakkan Ramadhan melalui berbagai aktivitas ibadah.
Perintah
shoum atau puasa diwajibkan Allah SWT kepada orang yang beriman dengan salah
satu surat
yaitu dalam Al Baqarah 2;183
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas
engkau berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertaqwa”.
Dalam
sebuah hadits dari Ubaidilah diriwayatkan;
“Hai
Rasulullah, katakanlah kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah kepadaku”, jawab
Nabi,”Puasa pada bulan Ramadhan”, lelaki itu bertanya lagi, “Apakah masih ada
puasa wajib atasku?” Jawab Nabi, “Tidak ada, kecuali kalau engkau berpuasa
sunnah”.
Ibadah
puasa bagi seorang mukmin dan mukminat sudah dilakukan dengan latihan diwaktu
masih anak-anak untuk membiasakan pengamalan ajaran rukun Islam ketiga,
disamping bermanfaat bagi kesehatan rohani juga mendatangkan kesehatan jasmani.
9.Menjaga
kehormatan diri
laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya
”Dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka
atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
terceIa [23;5-6]
Orang yang menjaga sikap ini nampak dalam
segala sikapnya, sebagai pribadi dia tidak akan berbuat merusak, melakukan
penyelewengan, dan perbuatan maksiat lainnya.
10.Berzikir
kepada Allah
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut
(nama) Allah,
Zikir atau mengingat Allah merupakan sarana untuk tazkiatunnafs atau
pembersihan jiwa, Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;190-191
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka.”
Tazkiatunnafs dapat terujud bila seorang
mukmin siap menerima Al Qur’an selain sebagai Al Kitab juga sebagai
undang-undang yang wajib ditegakkan. Jiwa akan bersih bila kita sebagai hamba
Allah selalu memprogram diri untuk membaca, menghafal, mentadabburi, memahami,
tetap berdiri pada makna-maknanya dan mengambil i’tibar dari kisah-kisahnhya.
Orang yang melecehkan Al Qur’an dengan cara tidak mau membaca, enggan mengkaji
dan ogah mengamalkannya maka jiwanya gersang,
”Berkatalah
Rasul ,”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang
tidak diacuhkan” [Al
Furqan 25;30].
Itulah jawaban Allah
terhadap pertanyaan kaum ibu tentang perannya dalam kehidupan ini, walaupun
dari segi kodrat dan tabiat mereka tidaklah sama dengan laki-laki tapi dalam
hal keimanan dan keislaman, untuk meraih ampunan dan pahala yang besar kaum
wanita juga mempunya hak dan kewajiban yang sama, wallahu a'lam.[Cubadak Solok,
15 Ramadhan 1431.H/ 25Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar